• Tidak ada hasil yang ditemukan

KENCONG KABUPATEN JEMBER)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KENCONG KABUPATEN JEMBER) "

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2018 TENTANG PENGENDALIAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS DI DESA

KENCONG KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah Jurusan Hukum Islam

Program Studi Hukum Pidana Islam

Disusun Oleh:

Siti Musdalifah NIM: S20164019

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KYAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS SYARIAH

JANUARI 2023

(2)

TAHUN 2018 TENTANG PENGENDALIAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS DI DESA

KENCONG KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah Jurusan Hukum Islam

Program Studi Hukum Pidana Islam

Disusun Oleh:

Siti Musdalifah NIM: S20164019

Disetujui Pembimbing:

Dr. Sri Lumatus Sa’adah, S.Ag, M.H.I NIP. 19741008 199803 2 002

(3)

TAHUN 2018 TENTANG PENGENDALIAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS DI DESA

KENCONG KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H)

Fakultas Syariah Jurusan Hukum Islam

Program Studi Hukum Pidana Islam Hari : Selasa

Tanggal : 20 Desember 2022 Tim Penguji

Ketua

Dr. Abdul Wahab, M.HI NIP. 198401122015031003

Sekretaris

Freddy Hidayat, S.H, M.H NIP. 198808262019031003

Anggota:

1. Dr. Busriyanti, M.Ag ( )

2. Dr. Sri Lumatus Sa’adah, M.HI ( )

Menyetujui Dekan Fakultas Syariah

Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin, M.Fil.I NIP. 19780925 200501 1 002

(4)





















Artinya: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Qs. Al-Maidah Ayat 91).*

* Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta Timur:

Pustaka Al-Mubin, 2013), 111.

(5)

1. Alm. Bapak Katiyo dan Ibu Sundari yang selalu tulus dan ikhlas memberikan kasih sayang, dorongan, semangat, kesabaran dan doa terbaiknya sehingga saya bisa mencapai sesuatu yang lebih baik.

2. Kakakku M. Khoirul Anam lelaki yang menggantikan posisi sebagai bapak, seusai meninggalkan kami, pasca pendaftaran kuliah di IAIN Tahun 2016.

3. Kakakku Nur Wahid dan Mbak Rosidatul Husna yang memberikan motivasi untuk terus semangat menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi.

4. Iqbal Fatoni teman hidup yang selalu menemani dan memberikan support sistem dan selalu mendukung saya menjadi diri sendiri.

5. Bapak dan Ibu mertua yang mengajarkan hal-hal baru untuk kehidupan saya.

6. Sahabat-sahabatku yang berpengaruh khususnya Ely Muawanah, S.H, Siti Rofiqotul Jannah, S.H, Santi Parwati, S.H, afivani hilda dinuria S.H.,M.H., Miftahul Jannah, yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini hingga akhir.

7. Sahabat-sahabatku dari : 1) Angkatan 2016 Prodi Hukum Pidana Islam 2) Pergerakan mahasiswa islam indonesia 3) Komunitas peradilan semu 4) Angkatan 12 GMD (Gerindra Masa Depan) Pendidikan DPP di Hambalang 5) Komunitas gembel ellite, juvenile, dan kos bunga warna. yang pernah seperjuangan dan sudah seperti saudara sendiri, terimakasih karna mereka semua bangkitkan semangat dalam hidup saya.

(6)

telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, beserta keluarga, sahabat-sahabat, yang berkat kegigihan dan keikhlasan beliaulah kita dapat menikmati indahnya iman dan islam.

Selanjutnya sebagai makhluk yang diciptakan dengan keterbatasan oleh sang maha sempurna Allah SWT, maka begitu pula dalam penulisan skripsi ini tentu masih banyak kesalahan-kesalahan yang disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang ada dalam diri penulis.

Ucapan terimakasih ini penulis sampaikan sedalam-dalamnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E. MM., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan fasilitas dan pelayanan kepada penulis.

2. Bapak Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin, M.Fil. I., selaku Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang memberikan persetujuan pada skripsi ini.

3. Dr. Abdul Wahab, M.H.I selaku Koordinator prodi Hukum Pidana Islam.

4. Ibunda Dr. Sri Lumatus Sa’adah, S.Ag., M.H.I selaku dosen pembimbing yang telah sabar membimbing dengan sepenuh hati hingga skripsi ini terselesaikan dengan baik.

(7)

memudahkan segala kebutuhan administrasi.

7. Almamaterku tercinta UIN KHAS Jember.

Kemudian penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengkritik dan memberikan saran atas karya ini sehingga bisa menjadi motivasi untuk lebih baik lagi kedepannya. Akhir kata penulis memasrahkan diri kepada Allah SWT dan berdoa supaya karya yang penuh keterbatasan ini bisa memberikan manfaat kepada pembaca. Aamiin.

Jember, 20 Desember 2022

Siti Musdalifah NIM. S20164019

(8)

(Perda) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus Kencong Kabupaten Jember).

Kata Kunci: Tindak Pidana, Minuman Keras

Perkembangan budaya dan teknologi memberikan dampak positif dan negatif terhadap pola kehidupan di lingkungan masyarakat Indonesia. Dampak negatifnya yakni tidak sesuainya dengan peraturan yang ada. Adapun perkembangan budaya dan ilmu teknologi yang memerlukan perhatian lebih terhadap pola perkembangan kehidupan masyarakat yang menyalahi aturan yaitu remaja mengkonsumsi minuman keras, karena selain berbahaya bagi kesehatan, bisa menimbulkan tindak kejahatan di lingkungan masyarakat. Maka dari itu untuk menjaga dan merawat generasi emas ini, langkah utamanya yakni harus mengetahui faktor yang menjadi penyebabnya sehingga bisa dilakukan sebuah upaya pencegahan terhadap pengkonsumsi minuman keras.

Fokus penelitian: (1) Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana minuman keras dikalangan remaja di Desa Kencong? (2) Bagaimana upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras di Desa Kencong Kabupaten Jember menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember nomor 3 tahun 2018 tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol?.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang dilakukan di Desa Kencong Kabupaten Jember. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive dengan sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi non partisipan, wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi serta melalkukan analisis data.

Adapun hasil dari penelitian ini adalah: (1) Faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana minuman keras dikalangan remaja di Desa Kencong Kabupaten Jember adalah: faktor diri sendiri, teman sebaya, lingkungan masyarakat yang kurang menghiraukanya, dan penjual minuman keras yang bebas. (2) Upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras meliputi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, memberikan arahan, bimbingan, memberikan teguran secara lisan maupun tulisan, mengembalikan kepada kedua orang tua, guru dan masyarakat, memperketat pergaulan dan ibadahnya, serta mengirim anaknya ke pondok pesantren terakhir memberikan efek jera sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku yaitu di denda atau di kurung selama 6 bulan. Sedangkan upaya pencegahan berdasarkan Peraturan Daerah Jember Nomor 3 Tahun 2018 yaitu sanksi administrasi, pembinaan spiritual, psikologis, dan medis serta memberikan batasan pada penjualan minuman keras.

(9)

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 12

B. Kajian Teori ... 17

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 43

(10)

E. Analisis Data ... 48 F. Keabsahan Data ... 49 G. Tahap-tahap Penelitian ... 50 BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 52 B. Penyajian Data dan Analisis... 55 C. Pembahasan Temuan ... 64 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 74 B. Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA ... 76 Pernyataan Keaslian Tulisan

Lampiran-lampiran

(11)

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin ... 54

(12)
(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Kehidupan di lingkungan masyarakat semakin kompleks, ditambah lagi dengan adanya dampak dari perkembangan dari budaya dan teknologi membuat perilaku masyarakat semakin beragam seperti kesesuaian dengan norma yang ada bahkan yang menyalahi norma di lingkungan tersebut.

Tingkah laku yang demikian menjadi salah satu hal yang sangat memerlukan perhatian sebab tingkah laku yang menyalahi aturan bisa berakibat fatal bagi lingkungan itu sendiri.2

Dampak dari budaya dan ilmu teknologi yang memerlukan perhatian lebih terhadap pola kehidupan masyarakat yang menyalahi aturan yaitu remaja mengkonsumsi minuman keras. Hal tersebut harus dijadikan prioritas utama karena minuman keras tidak hanya membahayakan pemakainya, namun bisa memberikan efek buruk terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Tindakan ini disebabkan oleh pola konsumsi yang melebihi anjuran pakai hingga menjadikan hilangnya kesadaran yang pada akhirnya bisa menimbulkan sebuah tindakan kejahatan dan mengancam keselamatan serta ketentraman masyarakat sekitar. Bahkan tindakan tersebut juga bisa mengancam kesehatan baik secara fisik maupun psikisnya seperti kerusakan pada organ ginjal dan kerusakan pada mental atau kejiwaannya.3

2 Bambang Waluyo, Pidana Dan Pemidanaan (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), 1.

3 Diskominfo Jepara, “Minuman Beralkohol Banyak Picu Aksi Tindak Kriminal”, jepara.go.id, di akses 24 Juli 2022, https://jepara.go.id/2021/11/29/minuman-beralkohol-banyak- picu-aksi-tindak-kriminal/

(14)

Kandungan yang tercantum dalam minuman keras yaitu alkohol.

Kandungan tersebut bisa memberikan daya kontrol menjadi tidak stabil jika dikonsumsi melebihi batas aturan pakainya. Apabila daya kontrol sudah tidak stabil maka bisa diindikasikan akan menimbulkan perilaku yang mengganggu kenyamanan seseorang bahkan masyarakat secara nasional sekalipun.4

Berdasarkan perintah agama Islam, hal yang mabuk dan tidak diperbolehkan bukan hanya dari alkohol saja, namun semua makanan atau minuman yang bisa memabukkan menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Hal tersebut menjadi tidak boleh atau haram dilakukan karena bisa memberikan dan menimbulkan kejahatan serta kerusakan di lingkungan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 90-91 yang berbunyi:











































































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat

4 Muhammad Yusuf Qardhawi, Halal Dan Haram Dalam Islam (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1980), 91.

(15)

keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang;

maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Qs.

Al-Maidah Ayat 90-91).5

Peredaran minuman keras di lingkungan masyarakat sangatlah beragam dari segi bentuk hingga jenisnya. Bahkan terdapat miras yang beredar tanpa mendapatkan izin operasionalnya atau illegal. Minuman oplosan yang illegal ini seringkali ditemukan memiliki kandungan yang bermacam-macam seperti zat kimia (etanol, methanol, dan aseton). Adanya kandungan zat kimia dalam minuman keras jika dikonsumsi akan menimbulkan tidak berfungsinya organ tubuh dan akhirnya meninggal.6 Hal tersebut telah terjadi beberapa waktu lalu di sebuah daerah, dimana terdapat tiga orang remaja mengkonsumsi miras oplosan yang di campur dengan minuman energi, akibatnya satu warga meninggal dunia dan dua warga lainnya harus dilakukan upaya penyelamatan ke rumah sakit setempat.7 Dengan demikian pihak yang berwajib baik dari masyarakat itu sendiri maupun pihak kepolisian harus menindak lanjuti dan menegakkan peraturan yang sudah ditetapkan, jika diabaikan hingga terdapat beberapa korban lagi maka akan merusak generasi emas bangsa Indonesia.

Minuman beralkohol menurut pasal 7 ayat (4) Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol (selanjutnya disebut PP 74/2013) adalah minuman yang

5 Kemenag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 90-91.

6 Taufikin, “Hukum Islam Tentang Minuman Keras Pencegahan Dan Penanggulangan Perilaku Minuman Keras Di Desa Sidomulyo Kecamatan Dempet Kabupaten Demak” Jurnal:

Pemikiran Hukum Dan Hukum Islam, No.2, (Desember, 2015): 482.

7 Agus Setyadi, “Teguk Miras Oplosan Warga Jabar Tewas di Pidie Aceh”, detik.com, di akses pada 24 Juli 2022, https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-6166202/teguk- miras-oplosan-warga-jabar-tewas-di-pidie-aceh

(16)

mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi, atau fermentasi tanpa destilasi, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol (C2H5OH).8 Minuman keras berdasarkan kadar alkohol dibagi tiga golongan, diantaranya adalah:

1. Minuman beralkohol golongan A adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 1 % sampai dengan 5%, contohnya berbagai macam jenis bir.

2. Minuman beralkohol golongan B adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 5% sampai dengan 20%, contohnya Martini, Port, Anggur.

3. Minuman beralkohol golongan C adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 20% sampai dengan 55%, contohnya Wishky, Vodka, Brendy.9

Regulasi mengenai minuman beralkohol sering kali menimbulkan perdebatan, bahkan ditingkat pusat sampai saat ini belum ada undang-undang yang mengatur secara khusus mengenai minuman beralkohol. Di tingkat Undang-undang dan peraturan pemerintah minuman beralkohol tidak disebutkan secara spesifik hanya dikategorikan sebagai minuman atau pangan olahan, misalnya dalam Pasal 111 dan Pasal 112 Undang-undang No.36 Tahun 2009 Tentang kesehatan (selanjutnya disebut UU No. 36/2009) selain

8 Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol

9 Mardani, Penyalahgunaan Narkoba dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Pidana Nasional (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), 75.

(17)

itu Pasal 86, Pasal 89, Pasal 90, Pasal 91, Pasal 97, Pasal 99 dan Pasal 104 UU No. 18/2012 Tentang pangan serta peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 Tentang keamanan (selanjutnya disebut PP No.28/2004), Mutu dan Gizi Pangan.10

Peraturan Perundang-undangan dibawah Undang-undang yang mengatur mengenai minuman beralkohol tersebar dalam Peraturan Presiden, Peraturan Menteri Perdagangan, Peraturan Menteri perindustrian dan sebagian besar daerah sudah melakukan Peraturan Daerah. Salah satunya yaitu Kabupaten Jember yang telah membuat sebuah Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 3 Tahun 2018 guna mengatur pengendalian peredaran minuman beralkohol di wilayah Kabupaten Jember. Dasar dibuatnya PERDA tersebut yakni Peraturan Presiden Pasal 7 ayat (4) dan Permendagri pada Pasal 20 ayat (4).11 PERDA tersebut mengatur tentang para pelaku usaha minuman harus lebih selektif dalam menjual minuman beralkohol, seperti pembeli harus berusia di atas 21 tahun dan ada tiga jenis pembagian minuman beralkohol berdasarkan kadar alkoholnya yaitu golongan A dengan kadar alkohol 5%, golongan B dengan kadar alkohol 20-55%. Selain itu terdapat beberapa tempat usaha yang diberikan izin untuk menjualnya seperti Hotel, Bar dan Restoran, namun hal tersebut harus mendapatkan izin dari bidang kepariwisataan sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan.12

10 Badan Legislasi DPR RI, Naskah Akademi Rancangan Undang-undang Tentang Larangan Minuman Beralkohol (2016).

11 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 Tentang Pengendalian Dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran Dan Penjualan Minuman Beralkohol.

12 Peraturan Daerah Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol.

(18)

PERDA tersebut disahkan oleh pemerintah Kabupaten Jember dikarenakan semakin banyaknya para remaja yang mengkonsumsi minuman keras dan terdapat pula tempat yang menjual minuman keras oplosan yang secara illegal dalam jumlah yang banyak. Banyaknya para penjual minuman beralkohol atau miras oplosan tersebut menyebabkan meluasnya konsumen minuman beralkohol atau miras yang di mana para masyarakat ataupun remaja untuk mendapatkan minuman keras tersebut menjadi hal yang sangat mudah dan gampang seperti di daerah Kencong. Berdasarkan hasil observasi dengan masyarakat sekitar didapatkan informasi bahwa dikalangan remaja daerah Kencong Kabupaten Jember, mengkonsumsi miras sudah menjadi hal yang biasa, bahkan ditempat umum sekalipun. Miras bukan hanya sebagai minuman yang sangat berdampak negatif bagi masyarakat, namun juga menimbulkan keresahan seperti yang telah terjadi di Kencong Kabupaten Jember, puluhan muda mudi bukan melakukan kegiatan yang bermanfaat pada saat bulan ramadhan namun justru menggelar pesta miras oplosan ramai-ramai dimasa pandemi Covid-19. Akibatnya puluhan remaja dan anak- anak muda terjaring dalam operasi yang dilakukan anggota Kapolsek Kencong pada hari sabtu 16 Mei 2020 malam. Mereka tertangkap menggelar pesta miras oplosan dibelakang KUD Desa Wonorejo Kecamatan Kencong, barang bukti yang disita diantaranya, dua botol ukuran satu setengah liter miras oplosan dan botol alkohol berukuran kecil. Dalam penggerebekan itu juga ada anak perempuan yang ikut diamankan.13

13 Observasi di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember, 20 Januari 2021.

(19)

Dengan demikian perlu melakukan penelitian lebih dalam guna mendapatkan data dan informasi faktor-faktor yang mendorong remaja Kencong Kabupaten Jember yang mengonsumsi minum-minuman keras.

Sehingga diangkat dalam bentuk judul “Analisis Faktor Tindak Pidana dan Upaya Pencegahan Sosial Terhadap Remaja Pengonsumsi Minuman Keras Menurut Peraturan Daerah (Perda) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus Kencong Kabupaten Jember)”.

B. Fokus Penelitian

Melalui latar belakang yang telah peneliti paparkan tersebut di atas, terdapat beberapa problema dalam pembahasan ini yang dapat peneliti rumuskan, yaitu:

1. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana minuman keras di kalangan remaja di Desa Kencong?

2. Bagaimana upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras di Desa Kencong Kabupaten Jember menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini, yaitu:

1. Untuk Mendeskripsikan faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana minuman keras di kalangan remaja di Desa Kencong?

2. Untuk Mendeskripsikan upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras di Desa Kencong Kabupaten Jember

(20)

menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol?

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan ilmu hukum terkait dengan tindak pidana minuman keras, serta mengetahui faktor serta upaya pencegahan terhadap remaja pengonsumsi minuman keras perspektif Hukum Pidana Islam dan Peraturan Daerah Jember.

2. Manfaat praktis a. Bagi Peneliti

Semoga bisa menjadi tambahan pengalaman dalam hal penulisan karya ilmiah dan bisa memenuhi tugas akhir perkuliahan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) dari Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

b. Bagi Masyarakat

Semoga bisa memberikan edukasi dan pemahaman yang baru bahwa remaja yang mengkonsumsi miras disebabkan oleh banyak hal baik dari segi sosial, budaya maupun teknologi.

c. Bagi UIN KHAS Jember

(21)

Semoga dengan adanya penelitian ini lembaga pendidikan tinggi termasuk UIN KHAS Jember mampu memberikan kontribusinya dalam mencegah perilaku remaja yang menyalahi aturan, baik dalam pendidikan ataupun dalam upaya lainnya.

E. Definisi Istilah

Dalam judul penelitian ini terdapat kata yang harus di perjelas agar tidak terjadinya kesalahpahaman antara pembaca dengan penulis, adapun istilah yang dimaksud:

1. Faktor Tindak Pidana

Faktor tindak pidana adalah keadaan peristiwa yang ikut menyebabkan (memengaruhi) terjadinya suatu perbuatan manusia yang bertentangan dengan hukum, diancam dengan pidana oleh Undang- undang “perbuatan mana dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipertanggung jawabkan dan dapat di persalahkan pada si pebuat”.

2. Upaya Pencegahan (Recovery) Sosial

Upaya pencegahan (recovery) sosial adalah memperbaiki ataupun mengembalikan suatu keadaan setelah terjadinya sebuah konflik. Konflik dapat mengakibatkan kekerasan dan tentu saja sangat merugikan berbagai pihak, baik dari segi material maupun spikis. Oleh karena itu dibutuhkan recovery atau pemulian pasca konflik dan berkenaan dengan orang lain/masyarakat.

3. Remaja

(22)

Remaja adalah usia transisi. Seorang individu, telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh kebergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap diriya maupun terhadap masyarakat. Yang menurut Stanley Hall masa remaja itu berkisar dari umur 15-23 tahun.14

4. Pengonsumsi Minuman Keras

Pengonsumsi minuman keras adalah mengonkumsi atau menggunakan (meminum) minuman yang mengandung ethanol atau etil alcohol (C2H5OH) yang di proses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fregmentasi dan destilasi atau fregmentasi tanpa destilasi.

5. Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol.

Peraturan Daerah (PERDA) adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah (Gubernur atau Bupati/walikota).

Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol adalah peraturan daerah dengan persetujuan bersama antara DPRD Kabupaten Jember Dan Bupati Jember yang memuat tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol.

F. Sistematika Pembahasan

14 Sofyan S. Willis, Remaja & Masalahnya (Bandung: 2017), 23.

(23)

Untuk memperoleh gambaran yang jelas serta mempermudah dalam pembahasan, maka secara keseluruhan dalam penelitian skripsi ini terbagi menjadi lima bab, diantaranya :

BAB I pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian, serta sistematika pembahasan. Adapun fungsi dari bab ini adalah untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai pembahasan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam skripsi.

BAB II kajian kepustakaan, yang berisi tentang ringkasan penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini serta memuat tentang kajian teori.

BAB III metode penelitian, yang berisi tentang metode yang digunakan peneliti yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, keabsahan data dan yang terakhir tahapan-tahapan penelitian.

BAB IV hasil penelitian, yang berisi tentang inti atau hasil penelitian, objek penelitian, penyajian data, analisis data dan pembahasan temuan.

BAB V kesimpulan dan saran, yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang dilengkapi dengan saran dan peneliti.

(24)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Penelitian Terdahulu

Agar tidak terjadi pengulangan pembahasan maupun penelitian, maka diperlukan wacana atau pengetahuan tentang penelitian-penelitian sejenis yang membahas tentang tindak pidana pengonsumsi minuman beralkohol antara lain:

1. Rika Ratna Sari15, “Problem Sosial Remaja Pengguna Minuman Keras Di Desa Adiraja Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap”, (Skripsi: IAIN Purwokerto, 2016).

Dengan rumusan masalah a) apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi remaja pengguna minuman keras di Desa Adiraja? b) Bagaimana problem sosial remaja pengguna minuman keras di Desa Adiraja kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap?.

Penelitian berupa penelitian kulitatif yang dilakukan di Kabupaten Cilacap. Peneliti melihat Problem Sosial Remaja Pengguna Minuman Keras di Desa Adiraja Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap.

Disimpulkan bahwa faktor penyebab remaja meminum-minuman keras khususnya dikalangan remaja di Desa Adiraja kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap dengan problem sosialnya remaja yang mengonsumsi minuman keras dimana perilaku ataupun tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dimasyarakat dan lingkunganya

15 Rika Ratna Sari, “Problem Sosial Remaja Pengguna Minuman Keras Di Desa Adiraja Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap” (Skripsi, IAIN Purwokerto, 2016), 46.

(25)

baik itu lembaga pendidikan ataupun keluarga selain itu juga dari dua faktor yaitu faktor Internal dan eksternal. Perbedaan hasil penelitian terdahulu yang menjadi penelitian kualitatif yang dilakukan di Kabupaten Cilacap, dengan judul “Problem Sosial Remaja Pengguna Minuman Keras di Desa Adiraja Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap”

sedangkan jenis penelitian yang dilakukan menggunakan kualitatif di kecamatan kencong kabupaten jember, dengan judul “ Faktor Tindak Pidana Dan Upaya Pencegahan Sosial Terhadap Remaja Pengonsumsi Minuman Keras Perspektif Hukum Pidana Islam Dan Peraturan Daerah (Perda) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus Kencong Jember)”. Sedangkan letak persamaanya ialah sama-sama membahas tentang pengonsumsi minuman keras.

2. Fadlullah16, “Tinjauan Yuridis Dan Sosiologis Terhadap Peredaran Minuman Keras Di Kabupaten Luwu”, (Skripsi: UIN Alauddin Makasar, 2012).

Dengan rumusan masalah a) apa saja faktor penyebab peredaran minuman keras? b) bagaimana dampak/pengaruh yang ditimbulkan oleh peredaran minuman keras? c) bagaimana penegakkan hukumnya terhadap peredaran miuman keras dikabupaten Luwu?.

Penelitian tersebut berupa penelitian kualitatif yang dilakukan di Kabupaten Luwu. Peneliti melihat tinjauan yuridis dan sosiologis

16 Fadlullah, “Tinjauan Yuridis Dan Sosiologis Terhadap Peredaran Minuman Keras di Kabupaten Luwu” (Skripsi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2012), 36.

(26)

terhadap peredaran minuman keras di Kabupaten Luwu. Disimpulkan, bahwa faktor penyebab peredaran minuman keras di Kabupaten Luwu disebabkan oleh 1) faktor sosial budaya 2) kurang tegasnya aparat penegak hukum 3) minuman keras merupakan salah satu dari mata pecaharian masyarakat Kabupaten Luwu 4) faktor kebijakan Pemerintah Daerah. Perbedaan hasil penelitian terdahulu yang menjadi penelitian kualitatif yang dilakukan di Kabupaten Luwu, dengan judul “tinjauan yuridis dan sosiologis terhadap peredaran minuman keras di Kabupaten Luwu” sedangkan jenis penelitian yang dilakukan menggunakan kualitatif di kecamatan Kencong Kabupaten Jember, dengan judul “ Faktor Tindak Pidana Dan Upaya Pencegahan Sosial Terhadap Remaja Pengonsumsi Minuman Keras Perspektif Hukum Pidana Islam Dan Peraturan Daerah (Perda) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus Kencong Jember)”. Sedangkan letak persamaanya ialah sama-sama membahas tentang minuman keras.

3. Zainal17, “Tinjauan Kriminologis Terhadap Penyalahgunaan Minuman Keras Oleh Remaja (Studi Kasus Di Kabupaten Pinrang Tahun 2015 S/D 2017)”, (Skripsi :Universitas Hasanuddin, 2017).

Dengan rumusan masalah a) faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan minuman keras dikaupaten

17 Zainal, “Tinjauan Kriminologis Terhadap Penyalahgunaan Minuman Keras Oleh Remaja (Studi Kasus di Kabupaten Pinrang Tahun 2015-2017)” (Skripsi, Universitas Hasanuddin, 2017), 50.

(27)

Pinrang? b) bagaimana upaya penanggulangan oleh aparat hukum penyalahgunaan minuman keras oleh remaja dikabupaten Pinrang?.

Penelitian tersebut berupa penelitian kualitatif yang dilakukan di Kabupaten Pinrang. Peneliti melihat pengaruh tinjauan kriminologis terhadap penyalahgunaan minuman keras oleh remaja di Kabupaten Pinrang. Disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan penyalahgunaan minuman keras disebabkan oleh faktor lingkungan sosial dan kepribadian. Perbedaan hasil penelitian terdahulu yang menjadi jenis penelitian berupa penelitian kualitatif di Kabupaten Pinrang dengan judul

“tinjauan kriminologis terhadap penyalahgunaan minuman keras oleh remaja dikabupaten Pinrang” sedangkan penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian kualitatif dikecamatan Kencong kabupaten Jember , dengan judul “Faktor Tindak Pidana dan Upaya Pencegahan Sosial Terhadap Remaja Pengonsumsi Minuman Keras Perspektif Hukum Pidana Islam dan Peraturan Daerah (Perda) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus Kencong Kabupaten Jember)”. Sedangkan letak persamaanya ialah sama-sama membahas tentang minuman keras.

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu

No. Nama Judul

Penelitian Skripsi Tahun Persamaan Perbedaan

1.

Rika ratna sari,

“problem sosial remaja pengguna minuman keras di

Skripsi : IAIN purwokerto,

2016

Sama-sama penelitian kualitatif

Penelitian terdahulu membahas problem sosial remaja pengguna miras

(28)

No. Nama Judul

Penelitian Skripsi Tahun Persamaan Perbedaan desa adiraja

kecamatan

adipala kabupaten cilacap”

sedangkan penelitian sekarang membahas faktor dan upaya tindak pidana miras

2.

Fadlullah

,Tinjauan Yuridis Dan Sosiologis Terhadap Peredaran Minuman Keras Di Kabupaten Luwu

Skripsi: UIN Alauddin Makasar, 2012

Sama-sama penelitian kualitatif

Penelitian terdahulu membahas sosiologis terhadap peredaran miras sedangkan penelitian sekarang membahas faktor dan upaya tindak pidana miras.

3.

Zainal , “Tinjauan Kriminologis Terhadap Penyalahgunaan Minuman Keras Oleh Remaja (Studi Kasus di Kabupaten Pinrang Tahun 2015 s/d 2017)”

Skripsi :Universitas Hasanuddin, 2017

Sama-sama penelitian kualitatif

Penelitian terdahulu membahas tinjauan kriminologis terhadap

penyalahgunaan miras,sedangkan penelitian sekarang membahas faktor dan upaya tindak pidana miras

Dengan demikian, penyusun belum menemukan karya ilmiah yang menelaah “faktor tindak pidana dan upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengonsumsi minuman keras menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol (Studi Kasus Kencong Kabupaten Jember)”. Oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan dan diharapkan dengan adanya penelitian ini, akan mampu membuka wacana baru dalam mencegah faktor tindak pidana pengonsumsi minuman keras.

(29)

B. Kajian Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana a. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar dalam ilmu hukum, sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwap yang konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat.18 Tindak pidana juga diartikan sebagai perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana, dimana pengertian perbuatan disini selain perbuatan yang bersifat aktif maupun pasif.19

Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada sifat perbuatan saja, yaitu sifat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar.

Selanjutnya, perumusan tindak pidana hanya memuat tiga hal, yaitu subjek delik yang dituju oleh norma hukum (norm addressaat), perbuatan yang dilarang (strafbaar). Ketiga hal ini merupakan masalah kriminalisasi yang termasuk dalam lingkup tindak pidana.

18 Fitri Wahyuni, Dasar-dasar Hukum Pidana di Indonesia (Tangerang Selatan: PT Nusantara Persada Utama, 2017), 36.

19 Rodliyah & Salim HS, Hukum Pidana Khusus: Unsur dan Sanksi Pidananya (Depok:

Rajawali Pers, 2019), 13. .

(30)

Sebaliknya pertanggung jawaban pidana hanya mempersoalkan segi- segi subjektif dari pembuat tindak pidana. Dalam tahap ini, persoalan tidak lagi berkisar pada masalah perbuatan dan sifat melawan hukumnya, melainkan berkaitan dengan dalam keadaan bagaimanakah pembuat dapat dipertanggung jawabkan atas tindak pidana.20 Dan tindakan pidana juga didefinisikan sebagai suatu perbuatan subjek hukum (manusia dan badan hukum) yang melanggar ketentuan hukum disertai dengan ancaman (sanksi) bagi perbuatannya.21

Maka dari itu tindak pidana diartikan sebagai tindakan seseorang yang melakukan pelanggaran hukum dan atas tindakan tersebut maka diancam dengan pidana sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

b. Jenis-jenis Tindak Pidana

Jika dilihat dari jenis-jenisnya, maka tindak pidana atau delik itu dibagi dalam beberapa jenis, yaitu:

1) Kejahatan dan pelanggaran.

2) Delik formal dan delik materil

a) Delik formal adalah delik yang perumusanya dititikberatkan kepada perbuatan yang dilarang. Delik tersebut telah selesai

20 Lukman Hakim, Asas-Asas Hukum Pidana (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2020), 4-5.

21 Joko Sriwidodo, Kajian Hukum Pidana Indonesia: Teori dan Praktek (Jakarta: Kepel Press, 2019), 122.

(31)

dengan dilakukanya perbuatan seperti tercantum dalam rumusan delik.

b) Delik materiil adalah delik yang perumusanya dititik beratkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang).

Delik ini baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Kalau belum, maka paling banyak hanya ada percobaan.22

3) Delik commisionis, delik omissionis dan delik commissionis per omissionem commissa.

a) Delik commisionis yaitu tindakan yang berupa pelanggaran terhadap larangan.

b) Delik omissionis yaitu tindakan yang melanggar perintah.

c) Delik commissionis per omissionem commissa yaitu tindakan yang melanggar larangan akan tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat.

4) Delik Dolus dan Delik culpa (doleuse en culpose delicten) a) Delik Dolus yaitu delik yang memuat unsur kesengajaan.

b) Delik culpa (doleuse en culpose delicten) yaitu delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur.

5) Delik tunggal dan Delik berganda (enkelvoudige en samengestelde delicten)

22 Sriwidodo, Kajian Hukum Pidana, 142.

(32)

a) Delik tunggal yaitu delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali.

b) Delik berganda (enkelvoudige en samengestelde delicten) yaitu delik yang baru merupakan delik jika dilakukan berkali-kali.

6) Delik selesai dan delik berlanjut (voortdurende en niet voortdurende/ aflopende delicten).

a) Deli selesai yaitu delik yang memiliki ciri bahwa keadaan terlarang masih berlangsung terus.

b) Delik berlanjut (voortdurende en niet voortdurende/

aflopende delicten) yaitu delik yang terjadi karena meneruskan suatu keadaan yang dilarang.

7) Delik aduan (klachtdelicten en niet klachtdelicten).

Yaitu delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij).

8) Delik sederhana dan delik yang ada pemberatanya.

9) Delik Ekonomi (Tindak pidana ekonomi).

10) Delik politik dan delik komun atau umum.

Yaitu suatu kejahatan yang menyerang baik organisasi maupun fungsi-fungsi Negara dan juga hak-hak warga Negara yang bersumber dari situ.

(33)

11) Delik bersahaja dan delik berkualifikasi.23

Yaitu bentuk khusus mempunyai semua unsur bentuk dasar, tetapi satu atau lebih keadaan yang memperberat pidana (tidak menjadi soal apakah itu merupakan unsur atau tidak).

12) Delik propria dan delik komun atau umum.

Yaitu delik yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kualitas tertentu.

13) Delik kejahatan ringan.24 c. Pengategorian Tindak Pidana

Sementara dalam Naskah Akademi RKUHP dijelaskan bahwa kategori tindak pidana (delik) dikualifikasikan ke dalam 3 (tiga) bobot yaitu :

1) Delik yang dipandang “sangat rendah” yaitu yang diancam dengan pidana denda paling ringan (kategori 1 atau II) secara tunggal. Delik-delik yang dikelompokkan disisni ialah delik- delik yang dulunya diancam dengan pidana penjara/kurungan dibawah 1 (satu) tahun atau denda ringan atau delik-delik baru yang menurut penilaian bobotnya dibawah 1 (satu) tahun penjara.

2) Delik yang dipandang “berat”, yaitu delik-delik yang pada dasarnya patut diancam dengan pidana penjara diatas 1 (satu) tahun s/d 7 (tujuh) tahun. Delik yang dikelompokkan disini akan

23 Sriwidodo, Kajian Hukum Pidana, 143-145.

24 Sriwidodo, Kajian Hukum Pidana, 146.

(34)

selalu dialternatif kan dengan pidana denda lebih berat dari kelompok pertama, yaitu denda kategori III atau IV. Delik dalam kelompok ini ada juga yang ancamanya minimal khusus.

3) Delik yang dipandang “sangat berat/sangat serius” yaitu delik yang diancam dengan pidana penjara diatas 7 (tujuh) tahun atau diancam dengan pidana lebih berat (yaitu pidana mati atau penjara seumur hidup) untuk menunjukkan sifat berat, pidana penjara untuk delik dalam kelompok ini hanya diacam secara tunggal atau untuk delik-delik tertentu dapat diakumulasi dengan pidana denda kategori V atau diberi ancaman minimal khusus.25

2. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Minuman Keras a. Pengertian Tindak Pidana Minuman Keras

Tindak Pidana Minuman Keras ialah tindakan yang dilakukan dengan sengaja menjual atau memberikan minuman yang memabukkan kepada seseorang agar terlihat mabuk dan secara sengaja membuat mabuk seorang anak yang umurnya belum cukup enam belas tahun. Pada pasal 492 KUHP dijelaskan barang siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas atau mengganggu ketertiban atau mengancam keamanan orang lain atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih dahulu agar

25 Hakim, Asas-Asas Hukum, 16.

(35)

jangan membahayakan nyawa tau kesehatan orang lain, diancam dengan pidana kurungan enam hari atau pidana denda tiga ratus tujuh puluh lima rupiah.

b. Pengaturan Tindak Minuman Keras Dalam Undang-Undang

Dalam peredarannya minuman keras dapat dikenakan hukuman berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai masalah penyalahgunaan alkohol atau tindak pidana minuman keras yang tersebar dalam beberapa pasal, antara lain Pasal 300; Pasal 492; Pasal 536; Pasal 537; Pasal 538;

Pasal 539 KUHP, hal tersebut dikarenakan miras dapat berakibat fatal yakni menyebabkan kematian bagi penggunanya. Adapun bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:26

1) Pasal 300 KUHP:

a) Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahum atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4500 dihukum:

(1) Siapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minuman-minuman yang memabukkan kepada seeorang yang telah kelihatan mabuk.

(2) Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seseorang anak yang umumnya dibawah 18 tahun.

26 Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan Perundang-undangan KUHAP & KUHP (Bandung:

Fokus Media, 2017), 354.

(36)

(3) Barang siapa dengan sengaja dengan kekerasan atau ancaman dengan sengaja memaksa orang akan minum- minuman yang memabukkan

b) Kalau perbuatan itu menyebabkan luka-luka pada tubuh, sitersalah dikukum selama-lamanya tujuh tahun.

c) Kalau perbuatan itu menyebabkan orang mati, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun.

d) Kalau sitersalah itu menyebabkan kejahatan itu dalam jabatan ia dapat dipecat dari pekerjaan itu.

2) Pasal 492 KUHP:27

a) Barang siapa yang sedang mabuk, baik ditempat umum jalanan atu mengganggu ketertiban, baik mengancam keamanan orang lain maupun suatu perbuatan yang harus dijalankan dengan hati-hati dan benar supaya tidak terjadi bahaya bagi jiwa atau kesehatan orang lain dihukum kurungan selama-lamanya enam hari atau denda sebanyak- banyaknya Rp 375.

b) Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lagi lewat satu tahun sejak putusan hukuman yang dahulu bagi si tersalah karena pelanggaran serupa itu juga atau lantara pelanggaran diterapkan dalam pasal 536 maka ia dihukum kurungan selama-lamanya dua minggu.

27 Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan, 427.

(37)

3) Pasal 536 KUHP:28

a) Barang siapa nyata mabuk ada dijalan umum, dihukum denda sebanyak-banyaknya Rp 225.

b) Jika pada waktu melakukan pelanggaraan itu belum satu tahun, sejak ketetapan hukum yang dahulu bagi si tersalah lantara pelanggaran serupa itu juga atau pelanggaran yang diterangkan dalam pasal 492, maka hukuman denda itu dapat diganti dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari.

c) Bila terjadi pengulangan kedua kalinya dalam satu tahun setelah pemidanaan pertama berakhir dan menjadi tetap, maka dikenakan pidana kurungan paling lama dua minggu.

d) Pada pengulangan ketiga atau lebih dalam satu tahun, setelah pemidanaan yang kemudian karena pengulangan kedua atau lebih menjadi tetap, dikarenakan pidana kurungan paling lama tiga bulan.

4) Pasal 537 KUHP:

“Barang siapa menjual atau memberikan minuan keras atau arak diluar kantin tentara kepada anggota Angkatan Bersenjata di bawah pengkat letnan atau kepada istrinya, anak atau pelayan, diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga

28 Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan, 442.

(38)

minggu atau pidana denda paling tinggi seribu lima ratus rupiah”.

5) Pasal 538 KUHP:

“Penjual minuman keras atu wakilnya yang pada waktu menjalankan pekerjaanyaitu memberikan atau menjual minuman keras atau arak kepada seorang anak dibawah umur 16 tahun, diancam denganpidana kurungan paling lama tiga minggu atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah”.

6) Pasal 539 KUHP:29

“Barang siapa menyediakan semacam cuma-cuma minuman keras atau arak atau menjanjikan sebagai hadiah pada waktu diadakan pesta keramaian untuk diselenggarakan pawai untuk umum, diancam dengan pidana kurungan paling lama dua belas hari atau pidana denda paling tinggi tiga ratus tujuh puluh lima rupiah”.

Dengan adanya peraturan KUHP diatas, sanksi yang dianggap terlalu ringan dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkan maka dari itu Pemerintah Kabupaten Jember mengeluarkan Peraturan Daerah yakni PERDA Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol yang dijelaskan dalam pasal 2, pasal 13, pasal 20, pasal 32 dan pasal 39.

29 Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan, 443.

(39)

c. Tindak pidana minuman keras menurut Islam

Al-khamr secara etimologi berarti menutupi, yang dimaksud dengan khamr itu adalah sesuatu yang menutupi kepala seperti sorban atau kerudung. Dinamakan kahmar karena menutupi atau mengacaukan akal30.

Khamr diharamkan berdasarkan Q.S. Al-Maidah ayat 90 yang berbunyi:

































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Qs. Al-Maidah:

90).31

Pengharaman bahan tersebut tidak dilihat dari sedikit maupun banyaknya bahan tersebut berada dalam suatu produk, melainkan ada tidaknya bahan tersebut dalam suatu produk. Sedikit atau banyaknya bahan berbahaya yang terkandung, maka tetap saja potensi membahayakan. Misalkan minuman yang mengandung unsur memabukkan, meskipun peminumnya tidak mabuk karenanya, maka tetap saja dikenakan had sesuai yang telah ditetapkan dalam Hadist

30 Acep Saefulloh, “Narkoba Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Hukum Positif: (Sebuah Studi Perbandingan”) Jurnal Al-‘Adalah, Vol. XI, No. 1 (Januari 2013): 47-48.

31 Kemenag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 123.

(40)

Muslim yang berbunyi:

ماَرَح ٍرِكْسُم ُّلُك

yang artinya: setiap hal yang memabukkan adalah haram”.32

Tujuan dirumuskannya hukum Islam adalah untuk mewujudkan dan memelihara lima sasaran pokok, yaitu agama, jiwa, akal, kehormatan dan keturunan, serta harta. Lima hal pokok ini wajib diwujudkan dan dipelihara jika seseorang menghendaki kehidupan yang berbahagia di dunia dan di hari kemudian. Segala upaya untuk mewujudkan dan memelihara lima pokok tadi merupakan amalan saleh yang harus dilakukan oleh umat Islam.33

Menurut Hanafiyah dan Malik dalam had bagi peminum adalah 80 kali dera, seperti yang telah dipraktekkan oleh Umar bin Khattab. Sedang menurut al-Syafi'i hadnya 40 kali dera, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Saw., Abu Bakar, dan 'Ali. Mengingat Nabi sendiri dan Abu Bakar hanya mendera 40 kali dera, sementara perbuatan Nabi tersebut merupakan hujjah yang tidak boleh ditinggalkan, dan tidak boleh ada ijma' atas sesuatu yang menyalahi Nabi. Maka dapat dipahami bahwa tambahan yang dilakukan Umar bin Khattab adalah hukuman ta'zir dimana pelaksanaanya tergantung kebijaksanaan Hakim.34

Terdapat beberapa alasan rasional terhadap pelarangan khamr, yaitu: dalam pandangan Islam, khamr dianggap dapat mencegah

32 S. Hartini, “Studi Komparatif Hukum Pidana Islam Dan Hukum Positif Terhadap Sanksi Pidana Bagi Pelaku Makanan Dan Minuman Yang Mengandung Kadar Alkohol Yang Tidak Sesuai Dengan Standar Kesehatan” (Skripsi, UIN Raden Fatah Palembang, 2017). 20.

33 Saefulloh, Narkoba Dalam Perspektif Hukum Islam, 48.

34 Hamid Farihi, “Zina, Qadzaf, dan Minuman Keras Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam”

Jurnal Ilmu Syariah, Vol. 2, No. 1, (Juni 2014): 95.

(41)

tercapainya salah satu tujuan disyariatkannya hukum Islam, yaitu memelihara kesucian akal. Meminum khamr secara potensial menimbulkan lahirnya kejahatan-kejahatan baru seperti, pemerkosaan, penganiayaan, dan gangguan ketertiban lainnya.

Meminum khamr dipandang sebagai cermin dari sikap mengabaikan tanggung jawab baik kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun kepada Tuhan.35

d. Macam-macam Hukuman Atau Sanksi Dalam Hukum Pidana Islam Dalam hukum pidana Islam ditinjau dari hukumannya terbagi pada tiga bagian yaitu: jarimah hudud, qishas, diyat dan ta’zir.

1) Jarimah Hudud

Jarimah hudud adalah jarimah yang paling berat dalam hukum pidana Islam karena diancam dengan hukuman Had. Hukuman had adalah hukuman yang etlah ditentukan oleh syara’ dan merupakan hak Allah SWT. Hukuman ini telah ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batasan minimal atau maksimal, hukunan ini tidak lepas oleh perseorangan atau masyarakat yang diwakili oleh Negara.

Yang tergolong jarimah hudud ada tujuh macam yaitu:

a) Zina b) Murtad

c) Pemberontakan

35 Amran Suadi & Mardi Candra, Politik Hukum: Perspektif Hukum Perdata dan Pidana Islam Serta Ekonomi Syariah (Jakarta: Kencana, 2016), 319.

(42)

d) Tuduhan palsu telah berbuat zina e) Pencurian

f) Perampokan

g) Minum-minuman keras

Dengan demikian yang termasuk hak Allah ialah setiap hukuman yang dikehendaki oleh kepentingan umum, seperti untuk memelihara ketentraman dan keamanan masyarakat dan manfaat dari hukuman tersebut akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.

2) Jarimah Qishas Dan Diyat

Jarimah qishas dan diyat adalah jarimah ya g diancam dengan hukuman qishas dan diyat keduanya adalah hukuman yang sudah ditentukan oleh syara’. Hukuman qishas dan diyat merupakan hak manusia maka hukuman tersebut bisa dimaafkan atau digugurkan oleh korban bahkan keluarga. Yang termasuk jarimah qishas dan diyat diantaranya adalah:

a) Pembunuhan sengaja

b) Pembunuhan seperti sengaja c) Pembunuhan tidak disengaja d) Penganiayaan sengaja e) Penganiayaan tidak sengaja

(43)

3) Jarimah Ta’zir

Jarimah ta’zir merupakan tindakan yang berupa pengajaran atau pendidikan terhadap pelaku perbuatan dosa yang tidak ada sanksi had dan kifaratnya. Ta’zir adalah istilah hukuman atas jarimah-jarimah yang hukumannya belum ditentukan oleh syara’

yang bersifat diserahkan kepada hakim yang berwenang. Sanksi- sanksi yang dijatuhkan terhadap suatu perbuatan melanggar hukum diterapkan dengan tahapan yang telah ditentukan, dimana larangan tersebut berupa peringatan.

Adapun ruang lingkup jarimah ta’zir antara lain:

1) Jarimah hudud, qishas dan diyat yang terdapat syubhat yaitu jarimah yang tidak memenuhi syarat-syarat atau unsur- unsurnya.

2) Percobaan pada jarimah

3) Jarimah yang ditentukan dalam Al-Qur’an dan Hadis tetapi tidak disertai dengan ketentuan mengenai sanksi hukumannya.

e. Upaya Pencegahan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Minuman Keras Mencegah terjadinya tindakan yang melanggar aturan baik dalam norma maupun undang-undang menjadi suatu kewajiban bagi warga Indonesia untuk melakukannya. Apalagi terkait dengan minuman keras yang secara agama dan Negara telah dilarang, maka

(44)

dari itu upaya untuk mencegah para remaja mengonsumsi minuman tersebut dapat dilakukan dengan beberapa hal seperti:

1) Pencegahan dengan mediasi religius menjadi langkah yang efektif dalam menyentuh kesadaran umat manusia terutama apabila dikaitkan dengan ajaran agama. Dalam hal ini yang perlu konsentrasi adalah pembinaan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan menjelaskan berbagai dalil yang berhubungan dengan dampak minuman keras dan sanksi hukuman yang diterimanya. Untuk itu, perlu kesadaran yang mapan bahwa di dalam hidup ini setiap insan hendaknya memiliki rasa cinta terhadap Tuhan yang Maha Esa sehingga di dalam langkah dan perilakunya senantiasa berpedoman pada ajaran agama.

2) Penyebaran informasi baik melalui media cetak maupun media elektronikyang berisi pesan-pesan mengenai masalah minuman keras dan obat-obatanterlarang lainnya, di samping memperlihatkan kasus-kasus penyalahgunaanserta sanksi hukuman yang dikenakannya.

3) Penayangan informasi dalam bentuk spanduk dan poster lalu ditempelkan dipertokoan, jalan raya, dan lainnya yang berisikan hal-hal yang menakutkan, seperti kata-kata awas serta waspada terhadap minuman keras dan obat-obatan terlarang lainnya.36

36 Paisol Burlian, Patologi Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), 186-187.

(45)

Selain itu ada yang berpendapat bahwa upaya yang bisa dilakukan guna mencegah terjadi tindakan mengkonsumsi minuman keras yaitu:

1) Pencekalan dan penangkapan terhadap pemasok dan pedagang barang terlarang, serta mengajukan ke pengadilan untuk diambil tindakan hukum.

2) Penangkapan terhadap pemakai obat-obatan terlarang dan penyalahgunaan minuman keras dan menjatuhkan sanksi yang berat.

3) Segera bertindak setelah menerima informasi yang disampaikan masyarakat berkaitan dengan penyalahgunaan, penyelundupan, dan peredaran barang-barang terlarang.

4) Mengadakan pengawasan ketat terhadap tempat-tempat yang ditengarai sebagai terminal peredaran barang-barang terlarang serta membongkar sindikat pemasok.

5) Mengadakan bimbingan agama (rohani), sebagai media yang paling ampuh dalam pembinaan umat melalui bimbingan kerja sama dari berbagai bidang seperti sosiologi, psikologi, kedokteran, dan bidang lainnya. Untuk itu, peran ulama sangat diharapkan dalam pembinaan umat untuk membawa umatnya ke jalan yang benar dan jalan yang baik.37

37 Shalih Ghanim, Bahaya Narkotika Mengancam Umat (Jakarta: Darul Haq, 2000), 106.

(46)

Pencegahan/rehabilitasi disini ditujukan untuk melindungi generasi penerus bangsa dari efek negatif minuman beralkohol. ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan upaya pencegahan yaitu:

1) Rehabilitas harus berkesimbangan untuk meningkatkan dan menjaga tinggi untuk pasien

2) Membantu pasien untuk menyesuaikan ulang terhadap gaya hidup bebas dari mengonsumsi alkohol

3) Melalui rehabilitas dapat mencegah terjadinya kekambuhan.

Ketiga komponen tersebut dilakukan melalui konseling, motivasi, intervensi perubahan perilaku, dan intervensi psikososial.

Untuk itu, upaya pencegahan/ rehabilitasi perlu diatur secara tegas dan rinci termasuk diantaranya men cakup lembaga atau badan yang melakukan tugas tersebut. Keberadaan lembaga rehabilitasi perlu ada minimal satu disetiap kabupaten. Selain itu perlu juga ada pengaturan terkait sumber dana untuk mengadakan dan pengelolahan upaya rehabilitasi hendaknya berasal dari hasil pajak/cukai minuman beralkohol tersebut.38

Dalam PERDA Kabupaten Jember upaya yang dapat diterapkan yaitu:

1) Pemerintah dapat melakukan pembinaan terhadap orang yang memiliki ketergantungan terhadap minuman beralkohol, MBT,

38 Tri Rini Puji Lestari, “Menyoal Pengaturan Konsumsi Minuman Beralkohol di Indonesia”, Jurnal Masalah-Masalah Sosial, Vol. 7 No. 2, (Desember 2016): 139.

(47)

dan/atau minuman oplosan dengan menyediakan tempat rehabilitasi.

2) Penyediaan tempat rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan:

a) Untuk memulihkan kondisi kesehatan fisik dan psikis orang yang memiliki ketergantungan terhadap minuman beralkohol, MBT, dan/atau minuman oplosan, dan/atau b) Memberikan pendidikan tentang bahaya dan akibat dari

minuman beralkohol, minuman beralkohol tradisional dan minuman oplosan.

3) Seseorang dan/atau keluarganya yang memiliki ketergantungan terhadap minuman beralkohol, MBT, dan/atau minuman oplosan dapat meminta untuk direhabilitasi di tempat rehabilitasi.

4) Bentuk pelayanan yang disediakan di tempat rehabilitasi dapa berupa:

a) Pelayanan medis.

b) Pelayanan psikologis.

c) Pelayanan spiritual, dan/atau

d) Pelayanan pendidikan tentang bahaya dan akibat dari minuman beralkohol, MBT dan minuman oplosan.39

39 Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol

(48)

f. Faktor Kebijakan Peraturan Daerah Tentang Minuman Keras

Era otonomi daerah merupakan salah satu moment penting dalam membangun daerah sehingga kesejahteraan dalam lingkup sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat semakin terjamin.

Untuk kelancaran usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan pembangunan dalam segala sektor, maka perlu menggali sumber- sumber pendapatan daerah, salah satunya pemasukan anggaran melalui minuman keras. Dalam hal ini pemerintah Kabupaten Jember mengeluarkan Perda Nomor 3 tahun 2018 tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol (minuman keras).

Adapun penjelasan secara rinci persoalan peraturan daerah daerah yang mengatur tentang pengendalian peredaran minuman keras di Kabupaten Jember, bahwa dalam perda tersebut diatur beberapa ketentuan tentang minuman keras/minuman beralkohol, yaitu:

1) Kriteria Alkohol.

Alkohol mempumyai beberapa jenis kriteria yiatu peratama, alkohol absolut yang hampir murni kadar dihitung sebagai C2H5OH sebesar 99,8% dan air 0,2%, kedua etanol (ethyl alcohol) adalah alkohol kadar 95-96,8%, ketiga, metanol (metyl alcohol) adalah alkohol yang mempunyai struktur paling sederhana, keempat, isopanol (isoprophyl acohol). Diantaranya

(49)

minuman beralkohol yang dilarang diklasifikasi berdasarkan golongan dan kadarnya adalah sebagai berikut:

a) Minuman keras golongan A, kadar etanol dari 1-15%

b) Minuman keras golongan B, kadar ethanol dari 5-20%

c) Minuman keras golongan C, kadar ethanol lebih dari 20- 55%.40

Selain minuman beralkohol berdasarkan golongan sebagaimana ayat (1), dilarang minuman beralkohol yang meliputi:

a) Minuman beralkohol tradisional; dan b) Minuman beralkohol campuran tau racikan.

Berdasarkan peraturan daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2018 yang telah dibuat melalui bagian hukum. Guna mengatur pengendalian peredaran minuman beralkohol diwilayah kabupaten Jember. Perda yang dilandaskan pada pasal 7 ayat (4) Perpres No. 74 tahun 2013 tentang pengendalian dan pengawasan minum-minuman beralkohol dan Pasal 20 ayat (4) Permendagri nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjual minuman beralkohol.41 Pada pasal 2 larangan minuman beralkohol berasaskan:

40 Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Minuman Beralkohol.

41 Peraturan Meteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

(50)

a) Perlindungan

b) Ketertiban dan kepastian Hukum c) Keberlanjutan; dan

d) Keterpaduan.

Pasal 3 larangan minuman beralkohol bertujuan :

a) Melindungi masyarakat dri dampak negatif yang ditimbulkan oleh Minuman Beralkohol

b) Menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya Minuman Beralkohol; dan

c) Menciptakan ketertiban dan ketentraman dimasyarakat dari gangguan yang ditimbulkan oleh peminum Minuman Beralkohol.

2) Syarat dan Prosedur pengonsumsi minuman beralkohol.

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Jember, dijelaskkan bahwa penjual minuman beralkohol tersebut hanya harus lebih selektif menjual minuman diantaranya harus berusia diatas 21 tahun, selain itu juga beberapa tempat yang hanya diperbolehkan menjual alkohol diantaranya seperti hotel, bar, restoran sesuai peraturan perundang-undangan dibidang kepariwisataan dan tempat tertentu lainya yang ditetapkan bupati Jember.

Dan penjual langsung minuman beralkohol, menjual untuk diminum ditempatnya langsung, yang disebut penjual langsung adalah perusahaan yang menjual minuman beralkohol kepada

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian sekarang dilakukan oleh Wisnu Aditya Nurkamal untuk menguji ulang pengaruh dimensi gaya hidup terhadap keputusan pembelian dengan menggunakan objek yang berbeda dengan

perancangan mesin pengurai sabut kelapa dan yang menjadi perioritas utama pada perancangan ini adalah desain yang ergonomis, dengan nilai total bobot tingkat

Menurut Pasal 1 angka 28 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) berbunyi bahwa: “Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seoang yang

(2) Dalam hal pelamar yang telah dinyatakan lulus tahap akhir seleksi dan telah mendapat persetujuan Nomor Induk Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengundurkan

Dalam memperhitungkan unsur-unsur ke dalam produksi terdapat dua pendekatan yaitu full costing dan variabel costing.Full costing merupakan metode pententuan (HPP) yang

Evaluasi kebijakan adalah tahapan yang paling penting dalam sebuah proses kebijakan, tanpa ada evaluasi suatu kebijakan itu tidak akan ada nilainya karena di

1. Gaji dan upah. Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang karyawan yang memberikan sumbangan tenaga

Berdasarkan pada penjelasan diatas dapat diasumsikan bahwa teori gender merupakan proses untuk mengeneralisasi anatar laki-laki dengan perempuan yang bukan berdasar atas