BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.9. Penelitian Terdahulu
3. Rekayasa peralatan (engineering control).
Menurut Nugroho (2018), tanaman hias yang paling efektif menurunkan tingkat kebisingan adalah Imodia, Furing Telor, Soka, Furing Tissue, Walisongo dan Pucuk Merah. Masing-masing jenis tanaman ini memiliki luas permukaan daun mulai dari yang paling kecil hingga yang lebih lebar.
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 3 tahun 2009. Tingkat kebisingan di ruang belajar SD Negeri yang berada di Kecamatan Medan Baru dan MedanPetisah tidak ada yang memenuhi
syarat kesehatan sesuai Baku Tingkat Kebisingan untuk tempat pendidikan maksimum yang diperbolehkan (55 dBA), rata- rata tingkat kebisingan ruang belajar SD Negeri
di Kecamatan Medan Baru dan Medan Petisah masing-masing yakni 66,5 dBA dan 63,2 dBA.
Tingkat kebisingan di ruang perpustakaan SD Negeri yang berada di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Petisah tidak ada yang memenuhi syarat kesehatan sesuai Baku Tingkat
Kebisingan untuk tempat pendidikan maksimum yang diperbolehkan (55 dBA), rata-
rata tingkat kebisingan rang perpustakaan SD Negeri di Kecamatan Medan Baru dan Medan Petisah masing-masing yakni 61,6 dBA dan 59,0 dBA. Tingkat kebisingan pada jalan raya
dekat SD Negeri di Kecamatan Medan Baru adalah: 89,5-98,1 dBA, sedangkan tingkat kebisingan pada jalan raya dekat SD Negeri di
Kecamatan Medan Petisah adalah: 82,9-90,2 dBA. Jarak sekolah dengan jalan raya di SD Negeri yang ada di Kecamatan Medan Baru dan
Medan Petisah: ada 7 sekolah dekat dengan jalan raya yakni 10-50 meter. Dari persamaan
taraf intensitas bunyi, jarak ideal agar tidak terjadi kebisingan antara sekolah dengan jalan
raya yaitu 100,3-112,2 meter. Hasil observasi kondisi fisik bangunan SD Negeri di Kecamatan
Medan Baru dan Kecamatan Medan Petisah yaitu: semua sekolah memenuhi standar teknis
pembangunan sekolah dasardari segi material, ketebalan dan kekuatan dari dinding, atap, plafond, pintu, jendela, ventilasi, dan lantai.
Dan untuk pengendalian kebisingan belum ada diterapkan di sekolah.
Arlik Sarinda, Sudarti, dan Subiki,(2017)
Analisis Perubahan
Suhu Ruangan Terhadap Kenyamanan
Termal di Gedung 3
FKIP Universitas
Jember
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.
Penelitian ini dilakukan untuk menganailisis perubahan suhu ruang kuliah (kelas) terhadap
perubahan waktu dankenyamanan termal di FKIP Universitas Jember. Penelitian ini dilakukan di ruang kuliah 35C 201, 35B 203,
35B 101, dan 35E 105 gedung 3 FKIP Universitas Jember. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan November 2016. Perubahan suhu yang diukur adalah selisih suhu dalam selang waktu tertentu. Perubahan suhu ruangan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah suhu dalam ruang di Gedung 3 FKIP Universitas Jember yang diukur perubahan suhunya per satu
jam di mulai dari pukul 06.00 s/d 17.00. Pola perubahan suhu ruangan ditampilkan dalam bentuk grafik hubungan antara perubahan suhu
ruang terhadap waktu. Grafik yang digunakan adalah grafik batang. Kenyamanan termal adalah suatu kondisi termal yang dirasakan oleh manusia yang dikondisikan oleh lingkungan dan
bendabenda di sekitarnya. Penelitian yang dilakukan pada populasi jelas akan mengunakan
statistik deskriptif dalam analisisnya, tetapi bila penelitian dilakukan pada sampel maka analisisnya dapat menggunakan statistik dekriptif. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data
sampel dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel
diambil (Sugiyono, 2010:209). Hasil pengukuran diperoleh dengan mengamati suhu
di masing-masing ruang. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan One-Way Anova dengan bantuan SPSS 22 untuk menguji adanya
perbedaan yang signifikan dari hasil pengukuran. Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 1) Suhu ruang berubah setiap waktu. Hasil pengukuran suhu rata-rata
ruang yang tertinggi di ruang 35C 201 (28,445℃) dan suhu rata-rata ruang terendah di
ruang 35E 105 (27,8℃). Suhu rata-rata dari empat ruang bernilai di atas skala nyaman optimal bahkan melebihi skala hangat nyaman
yaitu sekitar 28,1 ℃, karena SNI (2001) menyatakan bahwa kenyamanan termal tropis
untuk skala nyaman optimal dapat diperoleh pada rentang suhu ruang 22,8℃ - 25℃; 2) Grafik yang dihasilkan mengikuti pola tertentu
dan menunjukkan bahwa suhu ruang yang terukur dalam empat ruang di gedung 3 FKIP Universitas Jembermengalami peningkatan dan penurunan pada tiap jam dan berbeda pada tiap
ruangan. Suhu rata-rata ruangan terendah diperoleh pada pukul 06.00 WIB yaitu sebesar
26oC dan suhu rata-rata ruangan tertinggi diperoleh pada pukul 13.00 WIB yaitu mencapai 29,525℃; 3) Sebagian besar mahasiswa merasa nyaman belajar dan mudah menerima pelajaran di jam (05.30 - 10.30) WIB,
sedangkan di jam (10.40 - 17.30) WIB mahasiswa merasa kurang nyaman belajar serta kurang mudah menerima pelajaran. Saran yang
dapat diberikan dari penelitian ini yaitu: 1) Menambahkan minimal 2 kipas angin di ruangan dapat membantu peningkatan sirkulasi
udara dalam ruangan, 2) Menambahkan ventilasi di setiap sisi ruangan, 3) Penanaman pepohonan disekitar pekarangan gedung 3 FKIP
Universitas Jember, 4) Mengganti warna cat dinding di ruangan dengan warna yang lebih terang, 5) Penelitian ini juga dapat dijadikan dasar untuk rekomendasi perbaikan ruangan
kelas atau pengkondisian udara di dalam ruangan untuk memberikan ruangan yang nyaman bagi para mahasiswa, sehingga kinerja
belajar mereka pun semakin meningkat, 6) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian lanjutan tentang kenyamanan termal
dengan melakukan evaluasi kenyamanan termal ruang belajar di ruangan dan ditempat lainnya
seperti kantor, tempat olahraga dan tempat- tempat lainnya, serta penelitian dapat dilanjutkan deengan melakukan evaluasi mengenai hubungan antara kenyamanan termal
dengan kualitas performansi belajar siswa.
Wisnu dan Muji Indarwanto,(2017)
Evaluasi Sistem Pencahayaan
Alami dan Buatan Pada Ruang Kerja
Kantor Kelurahan Paninggilan
Utara, Ciledug, Tanggerang
Metode penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pada penelitian
ini data yang diperoleh bersumber dari hasil pengukuran dan pengamatan secara langsung pada objek penelitian. Data hasil pengukuran yang didapat akan disesuaikan dengan standar
pencahayaan yang direkomendasikan SNI.
Penelitian ini juga menggunakan simulasi komputer dengan menggunaan software Relux yang bertujuan untuk melakukan perbandingan antara hasil pengukuran langsung dengan hasil simulasi yang dilakukan dengan menggunakan
software. Selain itu, penggunaan software Relux terkait dengan simulasi optimasi yang
dilakukan dalam upaya mendapatkan sistem pencahayaan yang optimal. Pengukuran dilakukan dengan Menentukan titik ukur terlebih dahulu pada setiap ruang yang akan dijadikan penelitian berdasarkan kondisi ruang yang ada. Titik ukur terbagi menjadi dua zona.
Zona 1 merupakan zona baca dan zona 2 merupakan zona penyimpanan buku. Pada zona
ruang 1 terdapat 9 titik ukur. Sedangkan pada zona ruang 2 jumlah titik ukur sebanyak 9 titik.
Pengukuran dilakukan dengan dua kondisi.
Kondisi pertama pengukuran dilakukan dengan hanya memasukan intensitas cahaya alami saja melalui bukaan yang ada, dan kondisi kedua
pengukuran dilakukan dengan menyalakan semua lampu dan juga memasukan cahaya
alami melalui bukaan.
Keseluruhan hasil pengukuran cahaya alami yang dilakukan selama 3 hari pada zona ruang 1
yang merupakan zona kegiatan kerja. Tidak didapatkan tingkat intensitas cahaya alami yang
sesuai dengan standar SNI. Tingkat rata - rata intensitas cahaya alami yang terdapat zona 1 dan zona 2 hanya sekitar 100 – 150 lux saja.
Dengan tingkat intensitas cahaya alami tertinggi terjadi pada zona 2 pada waktu pengukuran pukul 12.00 – 13.00. Penggunaan kaca bewarna
gelap menyebabkan tingkat intensitas cahaya alami yang masuk kedalam ruang menjadi
rendah. Usaha optimasi sederhana yang dilakukan dengan meningkatkan transparansi
kaca menjadi 90 % dinilai efektif dan menambah daya lampu yang digunakan,karena
didapatkan hasil yang cukup baik. Terjadi peningkatan intensitas cahaya alami pada zona
ruang 1 dan zona uang 2 yang mencapai 350 lux.
Roberth Hutagalung
(2017)
Pengaruh Kebisingan
Terhadap Aktivitas Masyarakat di Terminal Mardika
Ambon
Penelitian ini adalah penelitian Eksperimental semu(Psedo Experimental Research), dimana seluruh variabel dalam penelitian ini diukur satu
kali pada saat yang sama. Penelitian ini dilakukan di Terminal Mardika Ambon.
Pengambilan data dilakukan selama dua minggu dengan pembagian tiga hari per minggu yaitu pada hari Sabtu, Minggu dan Senin pada bulan Oktober-November 2016. Dalam penelitian ini
digunakan alat pengukur kebisinganSound Level Meter tipe SL-4001 dan tipe SL-320 series center serta kuesioner penelitian.Populasi
target penelitian ini adalah seluruh pedagang yang aktivitas perdagangannya rutin atau yang
memiliki rukodan lapak tetap di terminal mardika Ambon.Sampelnya adalah pedagang dengan kriteria inklusinya adalah umur berkisar
antara 20 sampai 35 tahun, berjenis kelamin wanita dan laki-laki, berat badan ideal,
pendidikan minimal lulus sekolah dasar, pengalaman kerja sebagai pedagang minimal
satu tahun, bekerja sebagai pedagang dan memiliki ruko atau lapakdagangan yang tetap,
bekerja minimal 5 jam sehari, dan bersedia terlibat sebagai sampel dalam penelitian ini yang dibuktikan dengan pengisian informed consent. Variabel-variabel dalam penelitian ini
adalah: a) variabel bebas adalah peningkatan kebisingan yang diakibatkan dari suara angkutan penumpang, suara musik yang berasal
dari para pedagang kaset, maupun suara para pejalan kai atau calon penumpang yang berkeliaran di terminal mardika ambon; b)
variabel tergantung adalah kinerja yang mengacu pada aspek: keluhan, gangguan
fisiologis, pendengaran, psikologis dan komunikasi; c) variabel kendali (kontrol) adalah: kondisi subjek (umur, jenis kelamin,
berat badan, pengalaman kerja, tingkat pendidikan,) dan kondisi lingkungan (suhu
basah, suhu kering).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1.
Kebisingan yang terjadi di terminal Mardika Ambon termasuk cukup bising. Rerata tingkat kebisingan tertinggi yang dihasilkan oleh suara
baik itu suara angkutan umum, musik maupun aktivitas masyarakat yang berdagang dan berlalu lalang di terminal telah melebihi NAB yang dianjurkan untuk daerah perdagangan dan jasa. Hasil kebisingan yang diperoleh yaitu77,8 dB (hari Sabtu) ; 73,1 dB (Hari Minggu) dan
76,3 dB (Hari Senin). 2. Gangguan tertinggi yang dirasakan masyarakat di terminal adalah
gangguan psikologis yaitu 8,6. Gangguan ini menimbulkan kurangnya konsentrasi, cepat
marah, jengkel, dan mudah tersinggung.
Gangguan ini berpotensi dapat menganggu
kenyamanan berbelanja di terminal Mardika Ambon.