BAB I PENDAHULUAN
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Untuk menghindari proses repetisi, plagiasi, dan duplikasi maka diperlukan adanya telaah pustaka yaitu penulusuran karya-karya terdahulu yang memiliki kedekatan judul dengan penelitian yang dilakukan. Telaah pustaka adalah penelitian untuk memperkuat kajian teoritis, mempertajam metodologi, dan memperoleh informasi mengenai penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Peneliti menggali informasi dan melakukan penelusuran buku dan tulisan ilmiah lainya yang berkaitan dengan pembahasan Tesis ini untuk dijadikan sebagai sumber acuan dalam penelitian ini.
Adapun penelitian-penelitian tersebut di antaranya adalah penelitian tesis yang dilakukan Sabarudin, Program Studi Hukum Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, dalam tesis yang berjudul “Pelaksanaan Sengketa Waris yang Diselesaikan Melalui Mediasi di Mahkamah Syariah
Lhoksukhon (Studi Kasus atas Putusan Nomor
493/Pdt.G/2015/MS/MLSK)”.13
Hasil penelitian ini menunjukkan Mahkamah Syar‟iyah Lhoksukon berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan pada tingkat sengketa waris antara orang-orang yang beragama Islam. Selain itu berwenang pula
13 Sabarudin, “Pelaksanaan putusan sengketa waris yang diselesaikan melalui mediasi di Mahkamah Syariah”, (Tesis, Universitas Islam Sumatera Utara, 2016), 1. diakses 3 desember 2019, http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/attafahum/article/view/664
11
melakukan penetapan mengenai siapa yang menjadi ahli waris dan penentuan bagian masing-masing ahli waris.14
Persamaan yang terdapat pada penelitian terdahulu dengan saat ini sama-sama mengkaji masalah waris. Sedangkan perbedaan dengan penelitian ini dimana penelitian terdahulu meneliti mengenai pembagian harta waris, peneliti sendiri mengkaji khusus mengenai konflik keluarga dalam sengketa kewarisan beserta alternatif penyelesaiannya.
Selanjutnya Muhammad Idris, Program Studi Magister Studi Islam, Universitas Muhamadiyah Jakarta, dalam tesis yang berjudul “Implementasi Hukum Waris dan Pengajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana (Perbandingan Antara Hukum Adat, Hukum Islam dan Hukum Perdata).15
Hasil penelitian Muhamad Idris menjelaskan bahwa Pemahaman masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana terhadap implementasi hukum waris baik hukum waris Adat, hukum waris Islam maupun hukum waris Perdata adalah tingkat pemahamannya masih rendah disebabkan karena masih banyak masyarakat yang belum pernah membaca sekaligus mempelajari ketiga sistem hukum tersebut, sehingga berpengaruh
14 Sabarudin, “Pelaksanaan Putusan Sengketa Waris yang Diselesaikan Melalui Mediasi di Mahkamah Syariah”, 132
15 Muhammad Idris, “Implementasi Hukum Waris Dan Pengajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana: Perbandingan Antara Hukum Adat Hukum Islam dan Hukum Perdata”, (tesis, Universitas Muhamadiyah Jakarta, 2015), 1.diakses 3 Desember 2019, http://repository.umj.ac.id/bitstream/123456789/603/1/ TesisImplementasi HukumWaris_2.pdf.pdf
12
pada tingkat pengetahuan dan pemehaman mereka. Kecenderungan masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana dalam implementasi hukum waris, baik hukum waris Adat, hukum waris Islam maupun hukum waris Perdata adalah lebih cenderung memilih hukum Islam dan menggabungkan antara hukum waris Adat dan hukum waris Islam karena dianggap sebagai suatu hukum yang mengandung petunjuk dan perintah agama, serta diyakini dapat memberi kemaslahatan dan keadilan ketimbang hukum waris Perdata.16
Persamaan yang terdapat pada penelitian terdahulu dengan saat ini sama-sama mengkaji masalah waris. Sedangkan perbedaan dengan penelitian ini dimana penelitian terdahulu meneliti membandingkan hukum waris islam dengan hukum waris adat untuk peneliti sendiri membahas mengenai konflik akibat sengketa waris.
Tri Prastyo, Program Studi Hukum, Universitas Muhamadiyah, dalam tesis yang berjudul “Proses Penyelesaian Sengketa Pembagian Harta Waris (Study Kasus Pengadilan Negeri Surakarta)”.17 Hasil penelitian Tri Prasyo mengenai pembagian harta warisan menurut hukum islam, hukum adat dan KUHPerdata/BW. Sistem hukum Indonesia masih terjadi kemajuemukan
16 Muhammad Idris, “Implementasi Hukum Waris Dan Pengajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana: Perbandingan Antara Hukum Adat Hukum Islam dan Hukum Perdata”, 153.
17 Tri Prastyo, “proses penyelesaian sengketa pembagian harta waris: study kasus Pengadilan Negeri Surakarta”, (tesis, Universitas Muhamadyah, 2016), 1. diakses 3 Desember 2019, http://eprints.ums.ac.id/47355/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
13
tatanan hukum. Masalah pembagian warisan ada tiga system hukum waris yang berlaku dan diterima oleh masyarakat Indonesia.
Berdasarkan pada putusan Nomor 17/Pdt.G/2013/ PN.Ska mengenai sengketa pembagian harta warisan milik orang tua yang bernama Hioe hoy jan dan Lie joe moy yang keduanya sudah meninggal dunia, meninggalkan 4 (empat) orang anak laki-laki. Berdasarkan pembagian harta warisan menurut hukum Islam, adat maupun perdata harta warisan tersebut harus dibagi sama rata kepada 4 (empat) orang anaknya dengan bagian yang sama besarnya.18
Hakim dalam menentukan pembuktian atas perkara pembagian harta warisan. Berdasarkan pada pemeriksaan perseidangan tersebut telah diperoleh fakta-fakta hukum bahwa pada intinya Penggugat mampu membuktikan dalil- dalil gugatannya dan para Tergugat tidak mampu membuktikan dalil-dalil gugatannya. Dengan demikian dari fakta-fakta hukum tersebut, Majelis Hakim dapat mengambil kesimpulan tentang hasil pembuktian yaitu terbukti telah terjadi peristiwa perbuatan melawan hukum sebagaimana sesuai dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang dilakukan oleh para Tergugat yaitu dengan menghilangkan hak dari Penggugat sebagai ahli waris.19
Persamaan yang terletak dipenelitian terdahulu dengan saat ini sama- sama mengkaji mengenai waris. Sedangkan perbedaan dengan penelitian ini dimana penelitian terdahulu meneliti mengenai perbuatan melawan hukum
18 Tri Prastyo, “proses penyelesaian sengketa pembagian harta waris: study kasus Pengadilan Negeri Surakarta”, 16.
19 Tri Prastyo, “proses penyelesaian sengketa pembagian harta waris: study kasus Pengadilan Negeri Surakarta”, 17.
14
pada kasus kepemilikan sedangkan untuk peneliti saat ini mengkaji tentang pola konflik kewarisan masyarakat Lombok Tengah beserta alternatif penyelesaiannya.
Jurnal tentang Kewenangan Pengadilan Agama dalam Menyelesaikan Sengketa Perkara Waris oleh Rahmatullah.20 Isi penelitian ini mengenai Pengadilan Agama memiliki kewenangan menyelesaikan perkara sengketa waris sesuai dengan yang tertuang dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006: Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam.
Penelitian ini hanya memfokuskan terhadap kewenangan Pengadilan Agama dalam sengketa waris. Sedangkan fokus dalam peneliti ini adalah mengkaji mengenai pola konflik dalam sengketa kewarisan.21
Penelitian yang dilakukan oleh Junaidi, Penerapan Pasal 86 (1) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama dalam Penyelesaian Perkara di Peradilan Agama (Study Kasus Pengadilan Agama Palangkaraya 80/Pdt.G/2012/PA.Plk).22
20 Rahmatullah, “Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Menyelesaikan Sengketa Perkara Waris”, Jurisprudentie 3, no 1, (Juni 2016), 1. diakses 3 Desember 2019, http://jurnal.ubl.ac.id/index.php/KP/article/download/1015/1068
21 Rahmatullah, “Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Menyelesaikan Sengketa Perkara Waris”, 7.
22 Junaidi, “Penerapan Pasal 86 (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dalam Penyelesaian Perkara di Peradilan Agama: Study Kasus Pengadilan Agama Palangkaraya 80/Pdt.G/2012/PA.Plk”, Lex Librum (Vol. V, no 1, Desember 2018), 1, diakses 3 Desember 2019, https://zenodo.org/record/1684983/files
15
Hasil penelitian ini menyatakan diterapkannya kumulasi gugatan adalah untuk menyederhanakan proses pemeriksaan di persidangan dan menghindarkan putusan yang saling bertentangan, bahwa dengan penggabungan gugatan ini, maka asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dapat terlaksana. Melalui penggabungan gugatan, maka beberapa gugatan dapat diperiksa, diputus dan diselesaikan secara sekaligus sehingga prosesnya menjadi sederhana, biayanya menjadi lebih ringan, tidak banyak waktu dan tenaga yang dibutuhkan dan dapat menghindari putusan yang saling bertentangan.
Lain halnya jika masing-masing perkara diajukan secara sendiri- sendiri, sudah pasti prosesnya menjadi lama sehingga memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang lebih banyak dan yang lebih dikhawatirkan dapat terjadi putusan yang bertentangan karena hakim yang mengadili tidak sama.
Bisa jadi terhadap satu tanah yang menjadi objek sengketa oleh hakim A dinyatakan milik B, sedang oleh hakim C dinyatakan milik D. Putusan demikian tidak akan terjadi apabila diputus oleh satu majelis hakim melalui kumulasi gugat.23
Menurut Peneliti, penelitian yang dilakukan tersebut di atas lebih terfokus pada persoalan upaya yang ditempuh para pihak agar dalam mengajukan perkaranya di pengadilan lebih mudah dan biayanya menjadi ringan. Berbeda dengan penelitian tesis ini, peneliti memfokuskan kajian pada
23 Junaidi, “Penerapan Pasal 86 (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dalam Penyelesaian Perkara di Peradilan Agama: Study Kasus Pengadilan Agama Palangkaraya 80/Pdt.G/2012/PA.Plk”, 18, diakses 3 Desember 2019.
16
pola atau tipe konflik keluarga dalam sengketa kewarisan, penyebab dan bagaimana alternatif solusinya.