• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK KELUARGA DALAM SENGKETA KEWARISAN DI LOMBOK TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KONFLIK KELUARGA DALAM SENGKETA KEWARISAN DI LOMBOK TENGAH "

Copied!
165
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Murniatun (Panitera Muda Pengadilan Agama Praya) mengatakan, setiap tahun jumlah sengketa waris yang diterima di Pengadilan Agama Praya semakin meningkat. Banyaknya sengketa waris di Lombok Tengah terlihat dari banyaknya sengketa waris di Pengadilan Agama Praya. 9 Data jumlah perkara waris di Pengadilan Agama Praya tahun 2018 dapat dilihat pada buku register perkara elektronik Pengadilan Agama Praya tahun 2018 dan laporan tahunan Pengadilan Agama tahun 2018, hal.

10 Data jumlah perkara waris Pengadilan Agama Praya Tahun 2019 dapat dilihat pada Buku Daftar Perkara Elektronik Pengadilan Agama Praya Tahun 2019 dan Laporan Tahunan Pengadilan Agama Praya Tahun 2019, hal. 11 Data Jumlah Perkara Warisan Pengadilan Agama Praya Tahun 2017 diperoleh dari Buku Daftar Litigasi Pengadilan Agama Praya Tahun 2017.

Rumusan Masalah

Namun secara normatif, pengadilan agama dilarang menolak menerima, memeriksa, dan memutus suatu perkara (sengketa/gugatan) yang diajukan dengan alasan undang-undangnya tidak ada atau tidak jelas. Melalui penelitian hukum empiris yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, peneliti berupaya memperoleh kajian komprehensif mengenai permasalahan hukum sengketa keluarga dalam sengketa waris yang terjadi di wilayah Lombok Tengah. Bagaimana pola sengketa keluarga dalam sengketa waris masyarakat Lombok Tengah yang diajukan ke Pengadilan Agama Praja.

Apa penyebab konflik keluarga dalam Sengketa Warisan Masyarakat Lombok Tengah yang diajukan ke Pengadilan Agama Praya? Bentuk penyelesaian apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan konflik keluarga dalam sengketa waris di masyarakat Lombok Tengah?

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini juga diharapkan dapat memadukan dan mengembangkan teori konflik sosial dengan konsep sengketa warisan Islam khususnya yang terjadi di masyarakat Lombok Tengah. Melalui hasil penelitian ini diharapkan pihak-pihak terkait dapat mengetahui bagaimana sistem konflik warisan masyarakat Lombok Tengah diajukan ke Pengadilan Agama Praya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi masyarakat Lombok Tengah, khususnya pihak-pihak yang terlibat.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pihak-pihak yang mempunyai peran dalam penyelesaian konflik waris untuk melakukan upaya penyelesaian sengketa waris yang terjadi di masyarakat khususnya Lombok Tengah. Memberikan gambaran umum dan pemahaman Aparatur Pengadilan terkait dengan berbagai bentuk konflik waris yang terjadi di masyarakat, sehingga dapat dijadikan pedoman dalam menerima, menyelidiki, dan memutus sengketa waris yang diajukan ke Pengadilan Agama.

Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Penelitian Terdahulu yang Relevan

Berikutnya Muhammad Idris, Program Studi Magister Agama Islam, Universitas Muhamadiyah Jakarta, dalam skripsi yang berjudul “Penerapan Hukum Waris dan Pengajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana (Perbandingan Hukum Adat, Hukum Islam dan Hukum Perdata) 15. 15 Muhammad Idris, “Penerapan Hukum Waris dan Ajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana: Perbandingan Hukum Adat, Hukum Islam dan Hukum Perdata”, (disertasi, Universitas Muhamadiyah Jakarta, 2015), 1 . diambil pada tanggal 3 Desember 2019, http://repository.umj.ac.id/bitstream TesisImplementasi HukumWaris_2.pdf.pdf Sedangkan perbedaannya dengan penelitian ini adalah penelitian terdahulu telah melakukan penelitian untuk membandingkan hukum waris Islam dengan hukum waris adat, karena peneliti sendiri telah membahas mengenai konflik yang timbul akibat sengketa waris.

16 Muhammed Idris, “Penerapan Hukum Waris dan Pembelajarannya pada Masyarakat Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana: Perbandingan Hukum Adat, Hukum Islam dan Hukum Perdata”, 153. Dalam permasalahan pembagian harta warisan, terdapat tiga sistem yaitu hukum waris yang diterapkan dan diterima oleh masyarakat Indonesia.

Kerangka Teori

Hukum waris Islam mengatur besarnya bagian ahli waris atas harta warisan yang ditinggalkan oleh pewaris. Selain itu, Kompendium Hukum Islam juga menyebutkan besarnya bagian warisan para ahli waris. Al-Qur’an menyebutkan secara pasti besarnya bagian ahli waris dengan istilah al-furudhul mukaddarah, yaitu 1/2 (setengah), 1/4 (seperempat), 1/8 (satu perdelapan) 2/3 (dua) ). pertiga), 1/3 (sepertiga), dan 1/6 (satu perenam).

82 Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia memperbolehkan pembagian warisan melalui perjanjian damai antar ahli waris. Bentuk pembagian secara damai antara ahli waris anak laki-laki dan perempuan berbeda-beda.

Metode Penelitian

Karena perselisihan tersebut, pihak yang merasa dirugikan akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama Praya. Banyak model dan faktor terjadinya sengketa waris pada masyarakat Lombok Tengah yang telah diajukan ke Pengadilan Agama Praya khususnya pada tahun 2019. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti berupaya untuk mengetahui pola konflik keluarga dalam sengketa waris masyarakat Lombok Tengah yang diajukan ke Pengadilan Agama Praya, khususnya yang diajukan dan diproses pada tahun 2019.

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengolah dan mendeskripsikan (mendeskripsikan) fakta (realitas) yang ada di lapangan. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai kunci utama penelitian dan secara aktif mengikuti fenomena yang terjadi. Sebab dengan hadirnya peneliti di lokasi, maka peneliti dapat langsung melakukan observasi secara intensif dan mendalam terhadap fenomena konflik keluarga dalam sengketa waris di Pengadilan Agama Praya.

Lokasi ini dipilih dan ditentukan karena Pengadilan Agama Praya merupakan salah satu pengadilan agama di Indonesia khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat yang menerima, menyelidiki dan memutus perkara waris setiap tahunnya khususnya pada tahun 2019. Informan dalam penelitian ini terdiri dari dari 2 (dua) narasumber yaitu informan dari (internal) Pengadilan Agama Praya dan informan dari luar (eksternal) Pengadilan Agama Praya. Informan internal terdiri dari hakim, panitera muda, panitera muda, dan pegawai negeri sipil di meja registrasi perkara Pengadilan Agama Praya.

Sedangkan informan eksternal adalah para pihak yang bersengketa (konflik) atau kuasa hukumnya yang mengalami konflik waris di Pengadilan Agama Praya. Pengumpulan data dapat dilakukan berdasarkan pengalaman.94 Berdasarkan jenis penelitian dan jenis datanya, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan kepada beberapa pihak yang berperkara, hakim dan panitera di Pengadilan Agama Praya.

Sistematika Pembahasan

Keabsahan data merupakan salah satu upaya untuk memperoleh data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah namun tidak berhasil. Mengenai keabsahan data tersebut dijelaskan bahwa untuk memperoleh keabsahan data dan informasi atau temuan dapat dilakukan melalui perluasan partisipasi, observasi teliti, triangulasi, peer review, kecukupan referensi, studi kasus negatif dan anggota. . pembuktian 103. Guna melengkapi penelitian ini dan juga untuk memperjelas karya ilmiah ini, maka diakhiri dengan daftar pustaka sebagai acuan dalam mengkaji persoalan perselisihan keluarga dalam sengketa waris di Pengadilan Agama Praja Tahun 2019.

Pembahasan bab ini fokus pada penyajian data dan analisis mengenai state of play dalam sengketa warisan masyarakat Lombok Tengah yang telah diajukan ke Pengadilan Agama Praya pada tahun 2019. Data dan analisis tersebut penting disajikan sebagai titik tolak pembahasan rumusan masalah selanjutnya yaitu terkait analisis pola, sebab dan alternatif, penyelesaian konflik keluarga dalam sengketa waris di Pengadilan Agama Praya. Sub pembahasan ini meliputi uraian tentang gambaran umum penduduk Lombok Tengah, gambaran umum tentang Pengadilan Agama Praya, serta gambaran tentang situasi sengketa waris di Pengadilan Agama Praya, pihak-pihak yang berkonflik di sengketa waris dan sebab-sebab yang mendasarinya.

Gambaran Umum Masyarakat Kabupaten Lombok Tengah 55

  • Sejarah Berdirinya Pengadilan Agama Praya
  • Letak Geografis Pengadilan Agama Praya
  • Visi dan Misi
  • Struktur Organisasi
  • Tugas Pokok dan Fungsi
  • Keadaan Perkara di Pengadilan Agama Praya Tahun 2019

Berdasarkan data di atas terlihat persentase sengketa waris di Pengadilan Agama Praya pada tahun 2019 sebesar 3,85. Oleh karena itu, sebagian besar sengketa waris di Pengadilan Agama Praya dinyatakan tidak dapat diterima.131. Sedangkan dari 51 (lima puluh satu) perkara yang telah diselesaikan, terdapat 2 (dua) sengketa waris pada tahun 2019 yang diputus oleh Pengadilan Agama Praya.

Berdasarkan data pada tabel diatas dapat digolongkan 5 (lima) penyebab utama konflik keluarga dalam sengketa waris masyarakat Lombok Tengah di Pengadilan Agama Praya Tahun 2019. Inilah penyebab utama konflik keluarga terkait dengan sengketa waris masyarakat Lombok Tengah di Pengadilan Agama Praya. Sejalan dengan hal tersebut, dari 53 (lima puluh tiga) perkara sengketa waris yang terjadi di Pengadilan Agama Praya, terdapat 6 (enam) perkara.

Pada tabel 3.5 diketahui penyebab tersebut terjadi pada 6 (enam) perkara atau 17,14% (tujuh belas koma empat belas persen) dari 53 (lima puluh tiga) perkara sengketa waris di Pengadilan Agama Praya pada tahun 2019. Sengketa waris masyarakat Lombok Tengah pada tahun 2019, Pengadilan Agama Praya sebanyak 53 (lima puluh tiga) kasus. Pengadilan Agama Praya, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Pengadilan Agama Praya Tahun 2019, (Praya: Pengadilan Agama Praya, 2020).

Keadaan Perkara Sengketa Kewarisan Masyarakat

KONFLIK KELUARGA DALAM SENGKETA

Pola Konflik Keluarga dalam Sengketa Kewarisan

  • Pola Konflik Horizontal
  • Pola Konflik Vertikal
  • Pola Konflik Multidimensi (Campuran Horizontal-

Pola, penyebab dan alternatif penyelesaian konflik keluarga dalam sengketa waris pada masyarakat Lombok Tengah di Pengadilan Agama Praya merupakan 3 (tiga) rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian ini. Dari hasil pengklasifikasian tersebut diketahui terdapat 3 (tiga) pola/bentuk konflik keluarga yang terjadi dalam sengketa waris masyarakat Lombok Tengah di Pengadilan Agama Praya.

Penyebab Konflik Keluarga dalam Sengketa Kewarisan

Bentuk Penyelesaian Konflik Keluarga dalam Sengketa

  • Penyelesaian Konflik di Luar Pengadilan (Non Litigasi)
  • Penyelesaian Konflik melalui Pengadilan Agama (Litigasi)

PENUTUP

Kesimpulan

Selain dikabulkan, tidak diterima dan dicabut, terdapat 4 sengketa waris di Pengadilan Agama Praya pada tahun 2019 yang diselesaikan melalui tindakan damai (perdamaian).

Saran

Bila upaya non-yudisial ini berhasil mencapai kesepakatan (perdamaian), maka harus dituangkan dalam bentuk perjanjian damai atau ditulis dalam bentuk surat notaris dan bahkan lebih kuat lagi diajukan ke pengadilan agama untuk dikukuhkan sebagai Perdamaian. Keputusan akta. Namun apabila upaya penyelesaian konflik non-yudisial telah dilakukan secara maksimal namun tidak berhasil (gagal), maka akan dilakukan upaya penyelesaian konflik secepatnya melalui pengadilan (sengketa) dengan mengajukan perkara waris ke pengadilan agama. Hal ini bertujuan untuk menghindari konflik keluarga multidimensi terkait konflik warisan yang semakin rumit penyelesaiannya.

Masyarakat dan tokoh masyarakat khususnya yang berada di wilayah Lombok Tengah agar lebih mengoptimalkan pelaksanaan konsultasi di luar pengadilan (non-litigasi) apabila timbul perselisihan keluarga mengenai sengketa waris. Apabila upaya musyawarah di luar pengadilan berhasil mencapai kesepakatan, maka segera diumumkan paling sedikit dalam bentuk surat perjanjian damai atau lebih baik lagi dalam bentuk akta notaris dan lebih kuat lagi pengadilan agama wajib dikukuhkan dalam bentuk akta notaris. keputusan akta perdamaian. Kepada aparatur Pengadilan Agama Praya khususnya majelis hakim yang menangani perkara sengketa waris agar memberikan klarifikasi kepada klien khususnya masyarakat awam yang tidak menggunakan jasa pengacara/pengacara mengenai terpenuhinya syarat formal pengajuan sengketa waris. di pengadilan agama.

Hal ini bertujuan untuk menghindari banyaknya kasus sengketa waris yang tidak dapat diterima (N.O.) karena gugatannya cacat formil, dan juga untuk menghindari tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh para pihak dalam menyelesaikan konflik/sengketa warisnya di hadapan pengadilan agama yang menyelesaikannya. . Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehakiman, diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 dan selanjutnya diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman, dan diubah lagi dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. . Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan diubah kembali dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 7 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Panitera Pengadilan dan Sekretariat. Junaidi, Implementasi Pasal 86 (1) UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dalam Penyelesaian Perkara di Peradilan Agama: Studi Kasus Peradilan Agama. Nasikhin, S.HI., M.H., Soal Keberadaan Turut Tergugat dalam Gugatan Warisan di Pengadilan Agama, Makalah Diunduh dari: http://pa-girimenang.go.id/wp-.

Referensi

Dokumen terkait

Owner/Manager Characteristics Perceived benefits Computer literacy Assertiveness Perceived control Subjective norm teturn on Investment Firm Characteristics Organisational readiness

35 Universitas Kristen Indonesia 3 Yusuf Candra Negara 2019 Resolusi Konflik Lahan Di Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen’ Kualitatif Konflik Pertanahan Penyebab konflik