• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Pertunjukan Luambek Bagi Masyarakat

Dalam dokumen eksistensi seni pertunjukan luambek (Halaman 116-159)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

C. Pembahasan

2. Makna Pertunjukan Luambek Bagi Masyarakat

Makna yang terkandung dalam pertunjukan Luambek, dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu makna denotatif dan makna

Makna Denotatif dan Konotatif” menjelaskan bahwa:

Makna denotatif dan konotatif berkaitan dengan makna kata dan pemakaiannya dalam kehidupan berbahasa, baik lisan maupun tulisan. … Denotatif adalah makna kata sebenarnya, makna secara wajar, secara apa adanya atau disebut juga makna leksikal. … Konotatif adalah makna asosiasi yaitu makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, serta kriteria tambahan yang diberikan pada sebuah makna leksikal. … Jadi makna konotatif adalah makna tambahan, yaitu makna di luar makna sebenarnya atau makna kiasan. Dengan kata lain makna konotasi adalah makna kata yang bertautan dengan nilai rasa (Purwiati, 1995: 10).

Dengan demikian denotatif dimengerti sebagai makna harfiah yang

“sesungguhnya,” sementara itu konotasi mengacu pada makna yang menempel pada makna leksikal tersebut. Atau bisa juga dianalogikan bahwa makna yang sesungguhnya itu berada di dalam lapis denotasi, dan makna yang mendalam terletak di dalam lapis konotasi.

Luambek sebagai seni pertunjukan tradisi menjadi bagian yang integral dari kehidupan sosio-kultural masyarakat nagari Kepala Hilalang.

Dalam hal ini, helat nagari yang dimeriahkan dengen seni pertunjukan Luambek atau yang disebut Alek Pauleh berfungsi sebagai wahana atau wadah untuk msenciptakan kekuatan sosial masyarakat di nagari, sehingga kesenian ini menjadi bahagian kehidupan berbudaya yang memiliki keterkaitan langsung dengan struktur sosial masyarakat nagari.

Dalam Alek Pauleh terkandung nilai-nilai kemasyarakatan yang memberi makna sosial, antara lain menambah semaraknya suatu pelaksanaan upacara adat, meningkatkan hubungan silaturahmi antar masyarakat dalam satu nagari, meningkatkan hubungan silaturahmi

pemuka adat dan masyarakat yang bertetangga, meningkatkan hubungan silaturahmi antara mamak dengan kemenakan, memupuk rasa kebanggaan bagi masyarakat nagari yang melaksanakan alek pauleh.

Berdasarkan uraian di atas, makna yang terkandung dalam tradisi seni pertunjukan Luambek ditinjau dari dua sudut pandang “makna denotatif dan makna konotatif.” Berikut ini, untuk dapat melihat makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Luambek menurut kedua sudut pandang makna tersebut dapat dilihat dari dua aspek utama, yaitu syarat- syarat pelaksanaan Alek Pauleh, dan prosedur pelaksanaan Alek Pauleh yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan Alek Pauleh, sebagai berikut:

a. Makna Denotatif dan Konotatif Syarat-syarat Pelaksanaan Alek Pauleh

Proses Alek Pauleh memiliki konsep spesifik yang lebih rumit bila dibandingkan dengan resepsi upacara yang dimeriahkan dengan genre kesenian tradisi lainnya. Melaksanakan Alek Pauleh diharuskan untuk memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh penghulu- penghulu nagari. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan Alek Pauleh tdrsebut adalah 1) manggatok pinang, 2) managakkan pauleh, 3) mamasang pakaian laga-laga/pauleh (Wawancara dengan Nazaruddin Majolelo [57 tahun] pada tanggal 28 April 2010 di nagari Kepala Hilalang).

1) Manggatok Pinang

Manggatok pinang yaitu semacam musyawarah yang melibatkan lembaga adat meliputi para Penghulu nagari beserta Panungkek, Urang Tuo, Kapalo Mudo, termasuk Kerapatan Adat Nagari dan Wali Nagari. Musyawarah ini pertama-tama disampaikan oleh Kapalo Mudo kepada niniak mamak atau Penghulu tentang latar-belakang proses munculnya gagasan untuk mengadakan alek (helat) nagari.

Dalam kaitan ini, ada dua bentuk gagasan yang melatarbelakangi dikabulkannya pertunjukan Luambek oleh ninik- mamak yaitu: (1) gagasan yang bermula dari pembicaraan masyarakat di warung-warung kopi yang berkeinginan untuk mengadakan alek nagari (alek pauleh); (2) gagasan dari para niniak mamak untuk mengadakan alek nagari (alek pauleh).

Biasanya rencana ini disampaikan oleh penggagas di atas kepada Kapalo Mudo, dan Kapalo Mudo memusyawarahkan kepada Penghulu, Panungkek dan Urang Tuo dalam suatu musyawarah yang disebut ‘mamakan bungo pinang’. Musyawarah ini dimulai oleh Kapalo Mudo memohon izin pada ninik-mamak atau penghulu untuk mengadakan alek nagari (alek pauleh).

Setelah mendapat izin dari Niniak Mamak, musyawarah dilanjutkan pada tingkat nagari yang melibatkan seluruh unsur

Kerapatan Adat Nagari, Wali nagari, pemuka masyarakat, Kapalo Mudo, Urang Tuo, Anak Mudo, Bundo Kanduang, dan masyarakat banyak. Musyawarah ini bertujuan untuk menentukan jadwal pelaksanaan alek, bagaimana bentuk alek, kapan gotong royong pembenahan laga-laga, kapan menjalankan undangan, kelompok- kelompok Luambek nagari mana yang akan diundang, siapa yang akan menjalankan undangan dan dengan berpakain apa, siapa yang akan menyediakan makanan waktu alek, dan sebagainya. Di sini jelas bahwa nilai musyawarah dan mufakat sangat dominan sebagai simbol sosio-budaya.

Makna denotatif atau makna leksikal dari kata ‘manggatok pinang’ atau disebut juga ‘mamakan bungo pinang’ adalah memakan atau mengunyah-gunyah sejenis bahan makanan khusus yang terdiri dari buah pinang muda, daun sirih, sadah dan gambir.

Semua bahan ini diramu menjadi satu dengan porsi ukuran secukupnya dalam bungkusan daun sirih, lalu dimakan atau dikunyah-kunyah sampai berupa serat sehingga menghasil air merah.

Air itu ditelan yang memberikan dampak terhadap kesehatan gigi dan penetralisir gula darah. Kegiatan seperti inilah yang disebut dengan manggatok pinang yang selalu terjadi pada setiap melaksanakan panggilan (mengundang secara adat) untuk berbagai ragam upacara adat dalam kehidupan masyarakat nagari.

mamakan bungo pinang dalam konteks Luambek adalah suatu jenis musyawarah yang dilakukan oleh para pemuka adat di nagari Kelapa Hilalang dengan topik pembahasan tentang masalah usulan atau permohonan masyarakat untuk mengadakan Alek Nagari yang menampilkan kesenian Luambek yang dibawa Kapalo Mudo kepada ninik-mamak.

2) Managakkan Laga-laga atau Pauleh

Sesuai dengan ketentuan adat, Luambek tidak boleh ditampilkan di sembarang tempat, akan tetapi harus ditampilkan di tempat khusus yang disebut laga-laga atau pauleh. Bujang (75 tahun) menjelaskan bahwa laga-laga atau pauleh dapat diartikan sama, karena peuleh itu sesungguhnya adalah laga-laga. Namun apabila dipahami secara konseptual, pauleh mengandung dua pengertian yaitu secara harfiah dan secara makna. Secara harfiah kata pauleh berasal dari kata ulas atau sambungan, dan dalam konteks makna, bangunan pauleh adalah sambungan dari bangunan laga-laga.

Dengan demikian, Laga-laga/pauleh adalah sebuah bangunan berupa pondok yang mirip seperti pandopo tanpa dinding, mempunyai tonggak 8 buah, berukuran sekitar 9 m x 8 m.

Lantainya terbuat dari anyaman bambu yang pemasangannya

ditinggikan lebih kurang 40 cm dari tanah, sedangkan atapnya terbuat daun rumbia atau seng.

Lantai laga-laga/pauleh yang terbuat dari bambu anyaman seperti krai rotan dan dijalin dengan tali nilon yang sengaja dibuat tujuh baris jalinan yang disebut ‘balek’. Dalam permainan Luambek, baris jalinan bagian tengah merupakan garis batas antara pemain yang lalu (menyerang) dengan pemain yang maambek (menangkis).

Makna denotatif dari managakkan laga-laga atau pauleh adalah suatu kegiatan masyarakat nagari dalam mendirikan pentas khusus untuk penampilan kesenian tradisional Luambek yang termasuk bagian dari struktur pelaksanaan alek nagari atau alek pauleh. Kegiatan mendirikan laga-laga/pauleh ini melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam kegiatan gotong royong yang dikoordinir oleh Kapalo Mudo.

Kegiatan managakkan laga-laga/pauleh tidak saja membuat bangunan laga-laga baru, adakalanya membenahi bangunan laga-laga/pauleh yang sudah ada. Bangunan laga- laga/pauleh baru adalah bangunan laga-laga/pauleh yang dibuat khusus untuk alek nagari dan dibongkar kembali setelah helat selesai. Sedangkan membenahi bangunan laga-laga/pauleh yang sudah ada adalah memperbaiki atau mengganti bagian-bagian bangunan yang rusak dan tetap berdiri setelah helat selesai.

Hilalang akan mengadakan helat nagari atau disebut juga Alek Pauleh, selalu membuat sambungan di sekeliling bangunan laga- laga dengan ukuran lebih kurang 2 meter. Pauleh ini sengaja dibuat untuk tempat duduk Anak Mudo baik untuk Anak Mudo Pangka (anak mudo yang mengadakan helat) maupun untuk tempat duduk Anak Mudo Alek yang datang dari berbagai nagari yang diundang.

Pemahaman dari sudut makna konotatif, bahwa pauleh bermakna mengulas atau menyambungkan silaturrahmi antara Niniak Mamak dengan anak kemenakannya, dengan sesama penghulu, dan seluruh masyarakat nagari-nagari yang terlibat dalam kegiatan Alek Pauleh tersebut. Laga-laga secara harafiah berarti berlaga atau adu keterampilan atau adu kekuatan, dan secara fisik laga-laga berarti bangunan tempat berlaga.

3) Memasang Pakaian Laga-laga/ Pauleh

Menurut ketentuan adat, setiap bangunan Laga-laga/Pauleh yang telah selesai harus dilengkapi pula dengan pakaian laga-laga (perlengkapan-perlengkapan dan perhiasan/pernak pernik). Adapun perlengkapan-perlengkapan yang harus ada di laga-laga adalah berupa kasur, tikar, lapiak balambak, carano, camin (kaca).

Selain itu, pakaian laga-laga yang harus dipasang ialah berupa perhiasan-perhiasan dan pernak-pernik, seperti tabia, tirai

cancang, tirai kolam, marawa. Di halaman bangunan laga- laga/pauleh juga diberi hiasan sesuai ketentuannya, seperti tabuah larangan, payuang panji (di dalam terdapat keris, jangguik janggi, tapuang pua, perisai). Semua perlengkapan dan pakaian laga- laga/pauleh ini ditetapkan oleh niniak mamak yang telah diwarisi secara turun temurun.

Di samping aturan tentang perlengkapan dan pakaian tersebut di atas, juga ada atruran atau ketentuan yang berkaitan dengan tempat duduk di laga-laga/pauleh yaitu:

a) Pada bagian depan tempat duduk Niniak Mamak Pangka (NMP)

b) Pada bagian belakang tempat duduk Niniak Mamak Alek (NMA)

c) Pada bagian tengah kiri dan kanan tempat duduk Janang (JN) d) Pada bagian depan, kiri dan kanan sambungan laga-

laga/pauleh tempat duduk Anak Mudo Alek (AMA)

e) Pada bagian belakang sambungan laga-laga/pauleh tempat duduk Anak MudoPangka.

(Wawancara dengan Nazaruddin Majolelo [57 tahun] pada tanggal 28 April 2010 di nagari Kepala Hilalang).

Gambar 6

Tempat Duduk Di Pauleh/Laga-laga Keterangan:

NMP : Niniak Mamak Pangka

NMA : Niniak Mamak Alek

AMP : Anak Mudo Pangka

AMA : Anak Mudo Alek

JN : Janang

: CARANO

Sehubungan hal di atas, bahwa makna denotatif dari ‘mamasang pakaian laga-laga/pauleh’ ialah suatu kegiatan untuk memberi dekorasi laga-laga/pauleh dengan aneka perlengkapan dan perhiasan, serta pernak-

     

AMA: VII KOTO‐NAN SABARIH 

 

      AMA:

                      

AMA: 

               

       AMP          NMA 

******************************************* 

 

******************************************** 

 

JN******************* ********************JN*    

                     

******************************************** 

 

******************************************** 

NMP

penik yang berbagai bentuk sehingga menambah indahnya bangunan pisik laga-laga/pauleh tersebut.

Pada sisi lain, makna konotatif dari ‘mamasang pakaian laga- laga/pauleh’, yaitu suatu kegiatan untuk menunjukkan rasa suka-cita masyarakat nagari dalam melaksanakan helat nagari, sekaligus menghormati para ninik-mamak dan pemain Luambek/Dampeang Luambek dengan perlengkapan, perhiasan dan pernak-pernik yang memiliki nilai secara adat.

b. Makna Denotatif dan Konotatif Prosedur Pelaksanaan Alek Pauleh Selanjutnya dalam pelaksanaan Alek Pauleh, ditemui aturan tentang urutan kegiatan dalam pelaksanaan Alek Pauleh yang dapat dilihat dari urutan berikut ini.

1) Menyongsong Tamu

Secara denotatif bahwa ‘menyongsong tamu’ adalah suatu tata cara menerima tamu dalam konteks helat nagari yang menampilkan tradisi seni pertunjukan Luambek. Etika atau aturan menyongsong tamu dalam aktivitas Alek Luambek atau Alek Pauleh harus sesuai dengan ketentuan adat. Tamu yang datang biasanya dalam bentuk rombongan kelompok nagarinya masing-masing yang terdiri dari Niniak Mamak, Urang Tuo, dan Anak Mudo.

Rombongan tersebut memberi tahu kedatangannya dengan suatu tanda yang disebut ‘sorak dampeang ayo-u’, dan dibalas oleh pihak

Mudo Pangka atau pihak pelaksana helat, langung datang menyongsong tamu dengan menyuguhkan ‘siriah paga’ atau sirih selengkapnya dalan carano dengan cara ‘pasambahan’ (Pidato adat) antara Kapalo Mudo Pangka dengan Kapalo Mudo Alek. Setiap rombongan tamu (alek yang datang) selalu dinanti dengan cara yang sama (Bakhtaruddin menyongsong tamu ketika Pengangkatan Penghulu Dt. Rky. Mulie tanggal 30 September 2010).

Selanjutnya Kapalo Mudo Pangka membawa rombongan tamu yang datang ke laga-laga/pauleh ke tempat duduk yang telah ditentukan sesuai dengan strata masing-masing tamu tersebut.

Dari tatacara penyambutan tamu sebagaimana telah dikemukakan di atas, terkandung makna konotatif yang secara simbolis menggambarkan sikap dan tingkah laku suatu masyarakat dalam menghargai dan memuliakan tamunya.

2) Minta Izin Memainkan Randai Luambek

Permohonan izin untuk memainkan Randai Luambek disampaikan dalam bentuk pasambahan (pidato adat) oleh seorang Kapalo Mudo si pangka (pihak pelaksana helat nagari). Unsur yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Kapalo Mudo Pangka, Nimiak Mamak Pangka, dan Niniak Mamak Alek yang datang memenuhi panggilan helat nagari tersebut.

Proses minta izin memainkan Randai Luambek dimulai oleh Kapalo Mudo Pangka menyampaikan keinginan segala anak muda untuk memainkan Randai Luambek, karena ini mohon izin dari Niniak Mamak. Berikut ini dapat dilihat struktur pasambahan minta izin memainkan Randai Luambek:

a) Kapalo Mudo Pangka mendatangkan sambah kepada Niniak Mamak Pangka memohon izin agar diperbolehkan memainkan Randai Luambek.

b) Niniak Mamak Pangka menyampaikan rundingan atau keinginan Kapalo Mudo Pangka kepada Niniak Mamak Alek.

c) Niniak Mamak Alek menyampaikan rundingan tersebut kepada sesama Niniak Mamak Alek yang datang dari berbagai nagari.

Niniak Mamak Alek minta minta kepada Niniak Mamak Pangka untuk memusyawarahkan rundingan tersebut pada semua niniak mamak yang hadir melalui ungkapan kata-kata pasambahan.

Setelah bermusyawarah, niniak mamak yang hadir memperoleh kesepakatan untuk memberi izin kepada Anak Mudo untuk memainkan Randai Luambek dan yang akan menyampaikan kesepakatan itu diserahkan kepada niniak mamak pangka kepada Kapalo Mudo Pangka.

Niniak mamak pangka menyampaikan bahwa seluruh Niniak Mamak yang hadir telah sepakat memberi izin untuk memainkan randai Luambek. Dengan demikian barulah dapat

dengan urutan kedatangan kelompok Randai nagari yang bersangkutan.

Pada kesempatan ini Kapalo Mudo Pangka juga meminta kerelaan kepada seluruh Alek yang datang melalui Niniak Mamak Alek (niniak mamak yang datang dari nagari-nagari yang diundang), kalau sekiranya kelompok randai nagari-nagari yang datang cukup banyak pada malam itu sehingga tidak sempat tampil memainkan Randai Luambek karena keterbatasan waktu, maka pihak sipangka minta kerelaan dan maaf kepada seluruh Alek yang datang.

Perutnjukan Randai Luambek berlangsung sekitar pukul 10 malam sampai menjelang subuh. Proses pasambahan ini dapat dilihat dari skema berikut:

KMP NMP NMA

NMA I

NMA II

NMA III

Gambar 7

Proses Pasambahan Minta Izin Memainkan Randai Luambek

Dilihat dari sudut makna denotatif bahwa ‘permohonan izin untuk memainkan Randai Luambek’ merupakan sebuah etika seorang pemuda yang diberi legalitas sebagai pemain Luambek yang kepemilikan kesenian ini dipegang oleh ninik-mamak, karena kesenian Luambek tidak bisa ditampilkan sebelum mendapat izin dari si pemilik kesenian.

Kemudian, bila dipandang dari sudut makna konotatifnya, bahwa aktivitas ‘permohonan izin untuk memainkan Randai Luambek’ yang disampaikan oleh Kapalo Mudo kepada ninik-mamak merupakan sebuah simbol ketinggian nilai sosial yang dikandung oleh seni pertunjukan Randai Luambek yang penampilan diproses melalui tata cara yang santun pula.

3) Penyajian Randai Luambek

Sesuai dengan ketentuannya, penyajian Randai Luambek dilakukan pada malam hari. Randai Luambek terbangun dari gerak pencak silat yang dimainkan oleh 7 sampai 11 orang pemain laki-laki dengan pola lantai melingkar, dan satu orang di antaranya bertugas sebagai ‘tukang aliah’. Dia sekaligus bertindak memberi aba-aba untuk menukar pola gerak yang telah dimainkan sebelumnya dengan pola gerak berikutnya, kemudian diikuti oleh semua pemain randai.

Gerak-gerak Randai Luambek tersebut diiringi oleh musik vokal dampeang.

Luambek melambangkan rangkaian persatuan, dan tukang aliah melambangkan seorang imam yang diikuti oleh makmumnya. Kedua perlambang ini menunjukkan makna denotatif yang dikandung oleh Randai Luambek tersebut. Sedangkan dari sisi maknanya yang lebih dalam (makna konotatif), bahwa pertunjukan Randai Luambek merupakan simbolis dari sikap dan tingkah laku masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat yang mengutamakan rasa persatuan dan kesatuan dan mematuhi aturan-paturan dari pemimpinnya.

4) Minta Izin Memainkan Luambek

Permohonan izin untuk memainkan Luambek dilaksanakan sekitar pukul 10 pagi bertempat di Laga-laga/Pauleh. Permohonan izin untuk memainkan Luambek juga disampaikan dalam bentuk pidato adat Pasambahan yang dimulai oleh Kapalo Mudo Pangka. Unsur yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Kapalo Mudo Pangka, Nimiak Mamak Pangka, dan Niniak Mamak Alek yang tadang.

Kapalo Mudo Pangka mendatangkan sambah kepada Niniak Mamak Pangka tentang ‘ randai nan bajalan malam sudah selasai, dan karena hari sudah siang, maka ia ingin meminjam suntiang niniak mamak atau memainkan Luambek. Selanjutnya Niniak Mamak Pangka menyampaikan dan memusyawarahkan permohonan tersebut kepada Niniak Mamak Alek yang hadir. Karena Niniak Mamak Alek yang hadir cukup banyak, maka Niniak Mamak Alek sesama Niniak Mamak Alek

melakukan musyawarah mencarai kata sepakat untuk menjawab permohonan Kapalo Mudo Pangka, kegiatan ini disampaikan melalui ungkapan tradisi dengan kata-kata ‘pasambahan’.

Setelah diperoleh kesepakatan oleh seluruh Niniak Mamak Alek yang hadir, maka salah seorang dari Niniak Mamak Alek menyampaikan kesepakatan tersebut kepada Niniak Mamak Pangka dan menyerahkan untuk menyampaikan kesepakatan tersebut kepada Niniak Mamak Pangka.

Selanjutnya Niniak Mamak Pangka menyampaikan kesepakatan bahwa Niniak Mamak yang hadir telah sepakat meminjamkan ‘suntiang niniak mamak’ kepada Kapalo Mudo Pangka. Seluruh Niniak Mamak yang hadir sepakat untuk dapat meminjamkan suntiang niniak mamak dengan syarat; ‘manyalang mangumbalikan, manjapuik maantakan’. Kapalo Mudo Pangka menjawab “dengan insya allah kami kumbalikan” (Wawancara dengan A.R. Dt. Bungsu [75 tahun] pada tanggal 28 April 2010 di nagari Kepala Hilalang).

Suatu kesepakatan untuk menampilkan Luambek dalam helat nagari tidak bisa disimpulkan secara gampang tanpa melalui musyawarah kepada semua pimpinan adat yang hadir dalam pelaksanaan acara tersebut. Artinya makna denotatif yang penting dalam konteks permohonan izin untuk menampilkan kesenian Luambek ini adalah pelaksanaan penampilan Luambek dalam helat nagari selalu menjunjung tinggi azas musyawarah sehingga legalitas

segala pihak.

Bagitu juga bila dipandang dari sudut makna konotatifnya, bahwa aktivitas ‘permohonan izin untuk memainkan Luambek’ yang disampaikan oleh Kapalo Mudo kepada ninik-mamak merupakan sebuah simbol ketinggian nilai sosial yang dikandung oleh seni pertunjukan Luambek yang penampilannya diproses melalui tata cara yang santun dan beretika tinggi.

5) Memilih Janang

Sebelum penyajian Luambek dimulai, terlebih dahulu Niniak Mamak Pangka musyawarah kecil dengan Niniak Mamak Alek untuk mencari kesepakatan menunjuk Janang (wasit) untuk mengawasi jalannya penyajian Luambek. Janang adalah orang yang bertugas sebagai juri atau hakim permainan dan memilik hak untuk menegur pemain Luambek yang melakukan kecurangan dalam bermain.

Janang terdiri dari dua orang pria yang telah memenuhi syarat- syarat sesuai dengan ketentuan adat helat nagari dengan Luambek. Satu orang dipilih dari kelompok penyelenggara helat dan satu orang lagi dari kelompok peserta yang diundang.

Dalam konteks pertunjukan Luambek, orang yang dipilih menjadi janang tidak bisa sembarangan, harus memiliki syarat berupa sifat-sifat yang dalam ungkapan tradisional Minangkabau sebagai berikut:

a) tahu ereang jo garendeang, artinya mempunyai firasat yangn tajam terhadap gerak-gerik yang salah, dan tajam perasaan dalam memperhatikan sikap dan gtidak tanduk orangm lain;

b) tahu jo salah dengan siliah, artinya mengetahui kesalahan yang sengaja dan yang tidak sengaja;

c) tahu jo hino dengan mulie, artinya dapat membedakan sesuatu yang memberi malu dan yang memberi kemuliaan, atau tahu mengenai apa yang dapat merendahkan atau meninggikan kampung dan nagari;

d) tahu jom ombak nan kabasabuang, artinya arif menilai sesuatu kejadian yang membahayakan dalam pertunjukan mLuambek;

e) tahu jo karam nan kamanonggok, artinya arif dalam mengetahui sesuatu yang dapat mencelakakan diri, kampung atau nagari;

f) bamato tajam, batalingo nyariang, artinya mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam dan waspada;

g) kok manyapo urang indak buliah barek sabalah, artinya bersifat adil dan tenggang rasa serta berani menegakkan keadilan dan kebenaran;

h) kok tajadi silang jo salisiah, manitiak dari langik mambusek dari bumi, malang indak dapek ditulak mujue indak dapek diraiah, kok tasuo jo nan malang dilarai jo deta sarato siriah paga di tangahnyo, artinya bila terjadi pertengkaran atau silang sengketa dalam pertunjukan Luambek baik berupa protes dari penontgon atau dari pihak panitia dan pemain Luambek, maka janang harus sanggup bertindak sebagai hakim untuk mengatasi agar perdamaian dapat tercapai (Wawancara dengan D. Dt. Lelo Panjang [48 tahun] pada tanggal 25 April 2010 di nagari Kepala Hilalang).

Selanjutnya perlu dipahami bahwa apabila terjadi perselisihan dalam pertunjukan Luambek, penonton tidak boleh menginjak lantai laga-laga/pauleh, karena hanya janang dan Niniak Mamak silang nan bapangka yang mutlak berhak untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Bagi siapa saja yang melanggar peraturan yang berlaku dalam kesenian Luambek dikenakan denda sebesar seratus liter beras dan satu ekor kerbau.

Setelah janang yang dipilih memenuhi semua persyaratan yang berlaku, maka barulah boleh ditampilkan Luambek yang rentangan

Dalam dokumen eksistensi seni pertunjukan luambek (Halaman 116-159)

Dokumen terkait