PENDAHULUAN
Fokus Penelitian dan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Manfaat bagi akademisi yaitu sebagai bahan kajian perkembangan ilmu di bidang Antropologi dan Sosiologi Budaya khususnya bidang seni pertunjukan Luambek di Nagari Kepala Hilalang. Menyediakan data bagi lembaga pendidikan seni seperti STSI Padang Panjang dan jenis pendidikan seni lainnya, serta menjadi dokumentasi dan inventaris STSI Padang Panjang untuk digunakan pada saat dibutuhkan. Bagi peneliti lain yang berminat dapat menggunakannya sebagai bahan perbandingan dan referensi dalam penelitian selanjutnya dengan memperluas permasalahan yang bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan.
KAJIAN PUSTAKA
Eksistensi
Seni Pertunjukan
I Made Bandem (2004: 1) menjelaskan bahwa seni pertunjukan tradisional merupakan bagian integral dari kehidupan sosial budaya-keagamaan masyarakat, yang ditunjukkan dalam berbagai upacara ritual keagamaan, yang merupakan semacam kekuatan sosial dalam menciptakan masyarakat tradisional. . Seni pertunjukan Luambek merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakatnya, yang ditunjukkan dalam berbagai upacara ritual yang melahirkan semacam kekuatan sosial masyarakat tradisional. Secara konseptual, kesenian Luambek merupakan jenis seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang hidup dan berkembang di kawasan budaya Pariaman (Rantau Pesisir Minangkabau).
Pengertian Luambek
Randai Luambek adalah komposisi tari pencak yang dibawakan oleh tujuh sampai sebelas pemain laki-laki dimana formasi penyajiannya menggunakan pola lantai melingkar. Luambek adalah jenis gerakan pencak yang dilakukan oleh dua pemain pria yang saling berhadapan. Satu pemain berperan sebagai Palalu (penyerang) dan yang lainnya berperan sebagai paambek (petarung).
Sosio dan Budaya …
Raymond William dalam sosiologi budaya terdapat tiga jenis komponen utama, yaitu pranata budaya (institusi), isi budaya (content) dan efek budaya (effek). Institusi budaya akan menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang menguasainya dan bagaimana pengendalian itu dilakukan; konten budaya menanyakan apa yang diproduksi atau simbol apa yang dicoba; sedangkan efek budaya akan menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan dari proses budaya tersebut. Honigmann dalam Koentjaraningrat, membedakan antara tiga “gejala budaya” (manifestasi budaya), yaitu: (1) manifestasi budaya sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, aturan dan sebagainya; (2) wujud kebudayaan sebagai pola kompleks kegiatan atau tindakan manusia dalam masyarakat; (3) wujud kebudayaan sebagai benda yang dibuat oleh manusia.
Fungsionalisme Struktural
Davis dan Moore menganggap stratifikasi sosial sebagai realitas yang universal dan diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup suatu masyarakat. Mereka memusatkan perhatian mereka pada posisi dari berbagai prestise dalam masyarakat daripada pada individu yang menduduki posisi tertentu. Hal ini berkaitan erat dengan stratifikasi sosial dalam masyarakat Nagari dan stratifikasi sosial dalam organisasi Luambek itu sendiri.
Interaksi Sosial
Interaksi yang terjadi antar individu, kelompok dan kelompok berkembang melalui simbol-simbol yang diciptakannya. Interaksi simbolik juga terdapat dalam kesenian Luambek berupa simbol-simbol antara lain suntiang niniak mamak, pajangan anak, alek pauleh, laga-laga/pauleh, mamakan bungo pinang, pasambahan, dan, ambek, alang-alang, yang kesemuanya memiliki arti bagi rakyat.
Makna Simbolis
Karena objek simbolik dan kelompok manusia yang menggunakan simbol cenderung mewakili hubungan yang terkoordinasi dalam situasi tertentu (Pelly, 1984: 84). Melalui simbol atau lambang seluruh kebudayaan manusia dapat terungkap, yang perlu ditangkap adalah makna dari suatu objek tertentu. Frondizi mengatakan bahwa sebuah pertunjukan memiliki nilai dan makna dan hanya ada dalam situasi tertentu dan khusus.
Penelitian yang Relevan
Namun demikian, semua tulisan tersebut sangat membantu peneliti untuk membahas keberadaan seni pertunjukan Luambek dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang. Pendekatan teori yang digunakan dalam membahas keberadaan seni pertunjukan Luambek dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang adalah teori fungsionalisme struktural. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti berusaha mengungkap dan memahami realita di lapangan mengenai eksistensi seni pertunjukan Luambek dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang.
Sawah dan perkebunan karet merupakan sumber ekonomi utama dalam kehidupan masyarakat Nagari Kepala Hilalang. Upacara Mandir Drop merupakan kegiatan masyarakat Nagari Kepala Hilalang yang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari. Dari segi faktor internal, keberadaan seni pertunjukan Luambek di Nagari Kepala Hilalang dapat dilihat dari tingkatannya.
Luambek berperan dalam konteks alek nagari; (3) Peran struktur sosial masyarakat nagari dan organisasi Luambek dalam pengelolaan seni pertunjukan Luambek. Kegiatan utama sehari-hari dalam kehidupan masyarakat Nagari Kepala Hilalang adalah bercocok tanam (petani padi dan petani garapan). Unsur-unsur yang dimaksud berkaitan dengan struktur sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang.
Luambek sebagai seni pertunjukan tradisional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat Nagari Kepala Hilalang. Seni pertunjukan Luambek masih ada dalam kehidupan masyarakat Nagari Kepala Hilalang dan fungsional dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam masyarakat Nagari, Kepala Hilalanga Kapalo Mudo merupakan tokoh utama dalam pengelolaan dan pelestarian Luambek.
Berfungsinya struktur sosial masyarakat nagari dan struktur organisasi Luambek memastikan bahwa seni pertunjukan Luambek tetap eksis dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang. Masyarakat Nagari Kepala Hilalang diharapkan dapat melestarikan tradisi seni pertunjukan Luambek, khususnya dalam konteks alek nagari atau alek pauleh.
Kerangka Berfikir
Lokasi Penelitian
Selain itu pemilihan lokasi juga karena dalam kehidupan masyarakat Nagari Kepala Hilalang, seni pertunjukan Luambek ada dan berfungsi dalam kegiatan helat nagari atau alek paulehi seperti pelantikan kepala suku, pelantikan adat, penunjukan Kapalo Mudo, penunjukan puncak menara, peresmian pasar dan lain-lain. Di desa ini terdapat empat permainan/pauleh sebagai tempat latihan Luambek dan tempat pertunjukan Luambek yaitu di Korong Tarok satu buah, Korong Pincuran Tujuh satu buah, Korong Pasa Balai Kamih satu buah dan Korong Pasa Limau satu buah. Dalam hal ini berarti keberadaan kesenian Luambek di daerah ini cukup fungsional dalam kehidupan masyarakatnya.
Informan Penelitian
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, masyarakat Nagari Kepala Hilalang seperti masyarakat Minangkabau lainnya menganut ajaran Islam. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa keberadaan pertunjukan Luambek dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang dapat dilihat dari aspek struktur sosial masyarakat Nagari dan struktur organisasi masyarakat Luambek. Pembahasan keberadaan seni pertunjukan Luambek dalam kehidupan masyarakat Nagari Kepala Hilalang dilakukan dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut struktur sosial masyarakat Nagari dan struktur organisasi masyarakat Luambek.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
- Observasi
- Wawancara
- Dokumentasi
Teknik Penjaminan Keabsahan Data
- Perpanjangan Keikut Sertaan
- Ketekunan Pengamatan
- Triangulasi Data
Untuk menjamin keabsahan data, peneliti dalam penelitian ini lebih mengacu pada standar kredibilitas, karena standar ini lebih cocok dan lebih mudah dianalisis, sehingga data penelitian lebih akurat. Penyelidikan ini memakan waktu lama, karena peneliti harus menunggu upacara terkait. Teknik ini dilakukan dengan memaparkan hasil antara dan hasil akhir yang diperoleh berupa percakapan analitis dengan rekan kerja.
Teknik Analisis Data
- Reduksi Data
- Penyajian Data
- Penarikan Kasimpulan
- Tinjauan Geografi Nagari Kep. Hilalang
- Tinjauan Kebudayaan Masyarakat Nagari
Di Nagari Kepala Hilalang, akad nikah biasanya dilakukan di masjid dan dipimpin oleh seorang kadi nagari (pengurus KUA). Dengan demikian, dilihat dari kegiatan kesenian masyarakat Nagari Kepala Hilalang, sudah pasti dipengaruhi oleh dua budaya Minangkabau (Rantau dan Darek). Struktur sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang meliputi seluruh anggota suku yang ada di Nagari Kepala Hilalang, kepala suku masing-masing beserta panungkek, labai dan urang tu masing-masing suku dalam masyarakat tersebut.
Mengenai hal ini D.Dt. Lelo Panjang menjelaskan bahwa secara tradisional pengelolaan kesenian Luambek di Nagari Kepala Hilalang terutama melibatkan strata sosial masyarakat nagari yang berbeda atau melibatkan struktur sosial masyarakat di dalam nagari. Berkaitan dengan hal tersebut, keberadaan seni pertunjukan Luambek pada masyarakat Nagari Kepala Hilalang sangat bergantung pada bagaimana kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sosialnya dan hubungan masyarakat dengan lingkungan budayanya. Artinya keberadaan seni pertunjukan Luambek dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang sangat erat kaitannya dengan keberadaan manusia dalam lingkungan sosialnya dan berkaitan dengan bagaimana kesadaran manusia terhadap lingkungan budayanya.
Struktur sosial masyarakat yang dibahas dalam konteks tulisan ini adalah struktur masyarakat yang berkaitan dengan keberadaan kesenian Luambek sebagai salah satu kesenian tradisional Minangkabau yang ada di masyarakat Nagari Kepala Hilalang hidup dan berkembang. Karena keberadaan Luambek dalam masyarakat nagari di daerah rantau Pariaman, khususnya Nagari Kepala Hilalang merupakan simbol status nagari masing-masing. Sehingga dapat dilihat bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang, Luambek dipandang oleh masyarakatnya sebagai kesenian dengan tingkat adat yang tinggi.
Sebagai seni pertunjukan tradisi rakyat, Luambek merupakan bagian integral dari kehidupan sosial budaya masyarakat Nagari Kepala Hilalang pada khususnya dan nagari daerah Pariaman pada umumnya. Keberadaan seni pertunjukan Luambek, baik karena faktor internal maupun eksternal dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Kepala Hilalang, sangat bergantung pada berfungsinya struktur sosial masyarakat dan struktur organisasi Luambek itu sendiri. Struktur sosial masyarakat nagari dan struktur sosial organisasi Luambek harus tetap menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing, terutama dalam membina dan mengelola seni pertunjukan Luambek.
Temuan Khusus
- Eksistensi Seni Pertunjukan Luambek
- Makna Pertunjukan Luambek
Pembahasan
- Makna Pertunjukan Luambek Bagi Masyarakat
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
146 seni pintonan Luambek, lantaran ieu kasenian téh kacida muatanana ajén-inajén, norma jeung harti pikeun masarakat. Dagangna henteu saé, éta saé, éta saé, éta saé. Dodok jaknga ngamang, ngamang oi tajolak, ngong ngong ngolah, oi lui jolehkan ei alah, "A ntah-, oi antah".
Aku arep bolak-balik, aku arep bolak-balik, aku arep mili ing antarane, "Antah-antah, oi antah". Dagang oi ora ngong ngoyah, alun barakngak ngalun, oi kumpai rakngang ngalun ok ngongolah, "Iyo alah, ok nganga yo, ok ngono hai". Nuwun sewu, nuwun sewu, nuwun sewu, nuwun sewu.
Dagang oi yok ngong ngong ngoyah, anyik silonggok ngodang oi tabiang daknganga ai yak ngongolah," "Ya Allah, o nganga yo, okngongohai. Aku ora ngerti apa, aku ora ngerti carane nindakake. Nuwun sewu kulo nyuwun pangapunten Dodok nyuwun pangapunten kulo nyuwun pangapunten.
Ai ngok ngongok ai yak ngak ai dak nganga ai ton oi, olai yoi ladakngak ngampeang oi.