BAB I HAKIKAT PENELITIAN
BAB 7 SUBYEK PENELITIAN
D. PENETAPAN UKURAN SAMPEL
Penetapan ukuran sampel tergantung pada karakteristik populasinya.
Populasi pada kumpulan benda, darah, sirup, makanan, obat, bahan makanan yang berasal dari sumber yang sama bersifat homogen. Jumlah sampel untuk populasi yang bersifat homogen tidak berpengaruh pada kesimpulan sehingga meskipun jumlah sampel yang diambil hanya sedikit, hasil penyelidikan dapat memperoleh kesimpulan yang sama. Sebagai contoh: seorang peneliti mengambil hanya 1 cc darah untuk menge- tahui kadar kolesterol pada tubuh A.
Jumlah darah tersebut sudah mewakili meskipun peneliti hanya mengambil 1 cc karena darah bersifat homogen.
Populasi pada manusia cenderung bersifat heterogen dan tersebar mendekati distribusi normal. Besar sampel dari populasi yang sebarannya berdistribusi normal diambil secara proporsional. Untuk populasi seperti ini, besar proporsi ukuran sampling dari populasinya berbanding terbalik. Semakin besar jumlah sampel dari jumlah populasinya maka semakin kecil peluang kesalahan kesimpulan hasil penelitian yang akan digeneral- isasi. Sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel dari populasinya, maka semakin besar kesalahan kesimpulan hasil penelitian yang akan digener- alisasi. Ukuran sampel yang harus diambil tergantung pada tingkat keteli- tian atau kesalahan yang dikehendaki. Tingkat ketelitian yang dikehenda- ki sering tergantung pada sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia.
Penetapan ukuran sampel dapat mengacu dari berbagai referensi. Masing- masing referensi menetapkan ukuran sampel dengan proporsi yang berbeda.
Berikut ini ada beberapa cara penetapan ukuran sampel (Mulyatiningsih, 2011) yang diambil dari berbagai referensi, misalnya:
1 Issac dan Michael
Isaac dan Michael (1984) telah menghitung ukuran sampling dari jumlah populasi 10 sampai 1.000.000. Hasil penghitungan ukuran sampel tersebut telah dirangkum pada tabel 7.1. Ukuran sampel ditetapkan pada taraf kesalahan 1%. 5% dan 10%. Sebagai contoh, apabila terdapat jumlah populasi (N) sebanyak 100, pada taraf kesalahan 1% diperlukan jumlah sampel (s) sebanyak 87 sedangkan pada taraf kesalahan 5% diperlukan jumlah sampel sebanyak 78 (lihat tabel 7.1).
Tabel 7.1. Penentuan Ukuran Sampel Menurut Isaac dan Michael
N
Siginifikasi
N
Siginifikasi
1% 5% 10% 1% 5% 10%
10 10 10 10 280 197 155 138
15 15 14 14 290 202 158 140
20 19 19 19 300 207 161 143
25 24 23 23 320 216 167 147
30 29 28 28 340 225 172 151
35 33 32 32 360 234 177 155
40 38 36 36 380 242 182 158
45 42 40 39 400 250 186 162
50 47 44 42 420 257 191 165
55 51 48 46 440 265 195 168
60 55 51 49 460 272 198 171
65 59 55 53 480 279 202 173
70 63 58 56 500 285 205 176
75 67 62 59 550 301 213 182
80 71 65 62 600 315 221 187
85 75 68 65 650 329 227 191
90 79 72 68 700 341 233 195
95 83 75 71 750 352 238 199
100 87 78 73 800 363 243 202
110 94 84 78 850 373 247 205
120 102 89 83 900 382 251 208
130 109 95 88 950 391 255 211
140 116 100 92 1000 399 258 213
150 122 105 97 1100 414 265 217
160 129 110 101 1200 427 270 221
170 135 114 105 1300 440 275 224
180 142 119 108 1400 450 279 227
190 148 123 112 1500 460 283 229
200 154 127 115 1600 469 286 232
210 160 131 118 1700 477 289 234
220 165 135 122 1800 485 292 235
230 171 139 125 1900 492 294 237
240 176 142 127 2000 498 297 238
250 182 146 130 2200 510 301 241
260 187 149 133 2400 520 304 243
270 192 152 135 2600 529 307 245
(Sugiyono, 2009)
2 Harry King
Dalam nomogram yang dibuat oleh Harry King (Sugiyono, 2009), jumlah sampel dapat ditetapkan dengan cara menarik garis lurus dari titik pada garis yang menunjukkan ukuran populasi di sebelah kanan dengan melewati titik-taraf kesalahan yang terdapat pada garis yang berada di tengah. Pada penelitian sosial, taraf kesalahan yang sering digunakan adalah 1% dan 5%.
Gambar 7.13 menunjukkan contoh jika seandainya terdapat 200 populasi dan pada taraf kesalahan 5% maka dengan cara menarik garis lurus, dari angka 200 pada garis populasi, dengan melewati angka 5 pada garis taraf kesalahan akan dapat di- peroleh ukuran sampel sekitar 58% atau 0,58 X 200 = 116. Sedangkan jika jumlah populasi sebanyak 800, pada taraf signifikansi yang sama diperlukan sampel sekitar 27% x 800 = 216.
Persentase jumlah sampel sebesar 58% diambil dari arah anak panah yang berada di antara angka 50 dan 60, karena titik anak panah lebih dekat dengan angka 60 maka dapat diperkirakan titik tersebut berada di sekitar angka 58, sedangkan 27% diambil dari angka yang berada di antara titik ke 20 dan 30. Selanjutnya, proporsi sampel yang telah ditemukan di atas di kalikan dengan multiple factor. Pada contoh di atas, tingkat kesalahan sam- pling yang telah dipilih adalah 5%, oleh sebab itu diperoleh interval kepercayaan 95% yang berasal dari 100 – 5. Hal ini berarti 95% penelitian telah menggunakan prosedur penentuan sampling yang benar. Multiple factor pada interval kepercayaan (confidence interval) 95% adalah 1,195.
Ukuran sampel yang telah menjadi contoh di atas, masing-masing masih perlu dikalikan dengan 1,195. Untuk jumlah populasi 200 maka jumlah sampel yang harus diambil adalah 116 x 1,195 = 138,6 dibulatkan menjadi 139 dan untuk jumlah populasi 800, jumlah sampel yang harus diambil adalah 216 x 1,195 = 258.
Gambar 7.13. Nomogram Harry King (Sugiyono, 2009) 3. Edward L. Vockell
Jumlah populasi sasaran pada wilayah yang luas sulit ditemukan. Bila hal ini terjadi, penentuan ukuran sampel dapat menggunakan batas interval kepercayaan (confidence interval). Vockell (Mulyatiningsih, 2011) memperkirakan interval kepercayaan berbasis pada ukuran sampel yang dapat disimak pada Tabel 7.2. Dalam tabel tersebut terkandung makna, jika ukuran sampel ditetapkan pada interval kepercayaan ±4,9%, maka peneliti mengharapkan hanya ±4,9% kesalahan kesimpulan hasil penelitian yang diakibatkan oleh kesalahan pengambilan sampel.
Tabel 7.2. Perkiraan Taraf Kepercayaan berdasarkan Ukuran Sampel menurut Vockell
Ukuran Sampel
Taraf kepercayaan
Ukuran Sampel
Taraf kepercayaan
5 ±44 175 ±7,4
10 ±31 200 ±6,9
20 ±22 225 ±6,5
30 ±18 250 ±6,2
40 ±16 275 ±5,9
50 ±14 300 ±5,6
60 ±13 400 ±4,9
70 ±12 500 ±4,4
80 ±11 750 ±3,6
90 ±10 1000 ±3,1
100 ±9,8 2000 ±2,2
125 ±8,8 5000 ± 1,4
150 ±8,0
4. Jacob Cohen
Jacob Cohen (Mulyatiningsih, 2011) menetapkan ukuran sampel berdasarkan teknik analisis datanya. Penelitian yang menggunakan analisis statistik inferensial (mengambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis data pada sampel tetapi berlaku untuk seluruh populasi). Jika hipotesis (kesimpulan sementara) penelitian ingin diterima secara signifikan (berarti) maka peneliti sebaiknya menetapkan power yang tinggi.
Keberartian kesimpulan hasil penelitian sosial sangat dipengaruhi oleh jumlah sampelnya. Ada empat faktor yang perlu dilihat dalam penentuan uku- ran sampel agar dapat memenuhi statistic power analysis yaitu sample size, significancy, directionality and effect size. Penjelasan lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang perlu dikendalikan dalam statistic power analysis adalah sebagai berikut:
a. Ukuran sampel (sample size), power akan meningkat secara otomatis dengan meningkatnya ukuran sampel
b. Tingkat signifikansi, yaitu nilai p pada hipotesis nol yang akan di- tolak. Pada penelitian sosial, signifikansi (p) pada umumnya ditetapkan pada tingkat kesalahan 0,05 dan 0,01.
c. Directionality yaitu arah khusus hipotesis penelitian yang dirancang: pada umumnya, arah hipotesis penelitian ditetapkan pada satu arah/one tail: a1(positif atau negatif), atau dua arah/two tail: a2(positif dan negatif)
d. Effect size yaitu estimasi pengaruh ukuran sampel dari populasinya.
Semakin besar jumlah sampel akan semakin kecil efeknya. Ada tiga kriteria penentuan effect size yaitu kecil/small, sedang/medium, dan besar/large. Setiap jenis analisis memiliki effect size yang berbeda.
Ketentuan effect size menurut teknik analisis data dapat dirangkum pada tabel berikut.
Tabel 7.3. Effect Size Menurut Teknik Analisis Data
Teknik Analisis Effect Size
Small Medium Large
t-test d = ,20 d = ,50 d = ,80
Product moment r = ,10 atau r2 =,01
r = ,30 atau r2 =,09
r = ,50 atau r2 =,25
Anova f = ,10 f = ,25 f = ,40
Untuk menetapkan ukuran sampel berdasarkan statistic power analysis, peneliti tinggal membaca ukuran sampel yang telah tertera di tabel. Estimasi ukuran sampel pada contoh di bawah ini tidak mencantumkan effect size: large dengan asumsi bahwa semua peneliti tidak mengharapkan mendapat kesalahan dalam mengambil kesimpulan hasil penelitian yang besar karena ukuran sampelnya kurang memenuhi syarat analisis.
Di bawah ini diberikan beberapa contoh penetapan ukuran sampel menggunakan statistic power analysis.
Tabel 7.4. Estimasi Ukuran Sampel untuk Analisis t-test Power
Arah hipotesis
,70 ,80 ,90
ES = d ES = d ES = d
.20 .40 ,50 .20 .40 ,50 .20 .40 ,50 a1 = ,01 408 103 66 505 127 82 652 290 105 a1 = ,05 236 60 38 310 78 50 429 108 69 a2 = ,01 482 122 79 586 148 95 746 188 120 a2 = 0,5 316 78 50 393 99 64 526 132 85
Contoh pengambilan sampel untuk t-test:
Sebuah penelitian kuasi eksperimen pada dua kelompok sampel ingin menguji hipotesis alternatif (Ha) dua arah: µ1Gµ2 pada taraf signifikansi a2 = 0,05, dengan effect size sedang, (d) = 0.50 dan power sebesar 0,80 maka diperlukan jumlah sampel 64 untuk masing-masing kelompok.
Sebaliknya, apabila peneliti hanya memiliki sampel 50 orang pada masing-masing kelompok, maka hasil penelitian hanya memiliki power 0,70 atau power tetap 0,80 tetapi hipotesis hanya satu arah (a1) pada taraf kepercayaan 0,05.
Contoh ukuran sampel untuk analisis Product Moment ada pada tabel 7.5. Contoh kasus: apabila peneliti ingin menguji hipotesis alternatif dua arah (a2) hubungan antara lama menjadi guru dengan skor penilaian kinerja mengajar pada power 0,90 dan effect size sedang r = 0,30 dan taraf signifikansi a2 = 0,01 maka diperlukan sampel sebanyak 158 orang. Jika peneliti hanya memiliki sampel sebesar 67 orang, peneliti memperoleh dukungan pada effect size yang sama (0,30) tetapi power menurun menjadi 0,70 dan taraf signifikansi a2= 0,05.
Tabel 7.5. Estimasi Ukuran Sampel untuk Analisis Produk-Moment Power
Arah hipotesis
,70 ,80 ,90
ES = r
ES = r
ES = r .20 .30 ,40 .20 .30 ,40 .20 .30 ,40 a1 = ,01 201 88 48 247 108 59 320 139 76 a1 = ,05 117 52 28 153 68 37 211 92 50 a2 = ,01 237 103 56 287 125 68 365 158 86 a2 = 0,5 153 67 37 194 85 46 259 113 62 Contoh ukuran sampel untuk analisis Analisis of Varians ada pada tabel 7.6. Contoh kasus: Jika peneliti ingin menguji hipotesis alternatif (Ha) perbedaan gaya hidup antara PNS yang bekerja sebagai dosen, guru, dan karyawan pada taraf signifikansi 0,05, effect size yang dipilih kecil (f=0,25) dan power 0,80 maka jumlah sampel yang harus diambil adalah 52 orang untuk masing-masing kelompok (dosen, guru, dan karyawan), sampel keseluruhan adalah 52 x 3 = 156 orang.
Tabel 1.8 Estimasi Ukuran Sampel untuk Analisis of Varians
Power Arah
hipotes is
n keompok
,70 ,80 ,90
ES = f
ES = f
ES = f .10 .20 ,25 .10 .20 ,25 .10 .20 ,25 a = ,01 3 387 98 63 464 11 76 58 147 95
7 2
4 326 83 53 388 98 63 48 122 78 3
5 283 72 46 336 80 55 41 105 68 6
6 25 64 41 299 76 49 368 9 60
3 3
3 25 65 42 322 81 52 421 10 68
8 4
a = ,05 4 22 56 36 274 69 45 354 8 58
1 9
5 19 49 32 249 61 39 309 7 50
5 8
6 17 44 29 215 54 35 275 6 45
5 9
Penentuan ukuran sampel untuk mencapai analisis regresi sedikit berbeda dengan cara sebelumnya. Penentuan ukuran sampel dapat menggunakan cara lain yang lebih mudah. Ukuran sampel analisis multivariate seperti, regresi ganda, korelasi parsial dan SEM (Structural Equation Modeling), dapat ditetapkan sekitar 5- 10 x jumlah variabel yang diobservasi (Arief Wibowo, 2004). Jika terdapat 13 variabel yang diobservasi maka ukuran sampel minimal sekitar 65 s/d 130 orang yang berasal dari 5x13 = 65 atau 13 x 10 =130.
5. Borg dan Gall
Peneliti sering mengalami keterbatasan waktu, tenaga dan biaya untuk mengambil sampel dengan jumlah yang besar. Dalam keadaan seperti ini, peneliti dapat mencari dukungan referensi apabila ingin mengambil sampel dalam jumlah yang relatif sedikit tetapi memenuhi syarat pengambilan kesimpulan. Borg and Gall (Mulyatiningsih, 2011) menyatakan bahwa sampel minimal untuk penelitian korelasional adalah 30 kasus, sampel
minimal penelitian causal-comparative dan eksperimen adalah 15-20 kasus untuk tiap-tiap kelompok yang akan dibandingkan. Penelitian survei, sampel minimal adalah 100 orang untuk tiap-tiap sub kelompok mayor dan 20-50 orang untuk setiap sub kelompok minor.
LEMBAR KERJA Merumuskan Masalah
Petunjuk:
Mahasiswa mempelajari kembali teknik sampling, baik secara random maupun nonrandom sampling. Selanjutnya selesaikan soal-soal berikut.
Misalkan penduduk suatu wilayah dikelompkan sebagai berikut:
Tingkat Pendidikan Komposisi Populasi
SD ke bawah 6.000
SLTP 2.500
SLTA 1.000
PT 500
Jumlah 10.000
Tugas:
1. Berapa jumlah sampel sebaiknya diambil peneliti menurut sampel acak proposional berdasarkan tingkat penduduk.
2. Berapa jumlah sampel menurut tingkat pendidikan jika diambil secara tidak proporsional
RANGKUMAN
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
simple random sampling, proportionate
stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, dan area (cluster) sampling (sampling menurut daerah). Nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
Untuk menentukan jumlah sampel minimal yang harus diambil, ada beberapa cara yang diambil dari berbagai referensi, misalnya: Isaac dan Michael, Harry King, Edward L. Vockell, Jacob Cohen, Borg dan Gall.
TUGAS
1. Setelah Anda mempelajari bab ini, Anda ditugaskan kembali ke sekolah tempat Anda menemukan masalah untuk mendata populasi dan sampel penelitian.
2. Jelaskan bagaimana cara Anda mengambil sampel penelitian tersebut!.
3. Dengan meningkatnya jumlah sampel yang representatif sesuai dengan karakteristik populasi, apakah akan meningkatkan akurasinya (ketetapatan pengambilan sampel)? Buatlah dalam bentuk makalah dengan bagian pokok yang harus ada adalah Pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan.
BAB 8
TEKNIK PENGUMPULAN DATA DANPENGUKURAN
engumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data dan pengukuran merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesis yang
dirumuskan. Data dikumpulkan dengan instrumen yang telah di desain sebelumnya dengan cara-cara tertentu. Ada beberapa cara atau teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif, masing- masing teknik tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari yang lain serta mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, peneliti harus mempertimbangkan hal tersebut dalam memlilih teknik agar sesuai dengan tujuan dan desain penelitian. Pada bab ini akan dibicarakan tentang macam- macam teknik pengumpulan data berupa nontes, skala pengukuran, teknik pengukuran data berupa tes, validitas dan reliabilitas instrumen. Kemampuan
P
akhir yang diharapkan setelah mahasiswa mempelajari bab ini yaitu:
1. Merancang dan menyusun instrumen tes sebagai bahan dalam penyusunan proposal penelitian
2. Merancang dan menyusun instrumen angket sebagai bahan dalam penyusunan proposal penelitian
3. Merancang dan menyusun pedoman wawancara terstandar sebagai bahan dalam penyusunan proposal penelitian
4. Melakukan pengukuran menggunakan skala dan instrumen penelitian A. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu, wawancara, angket, observasi, dan studi dokumenter.
1. Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal antara peneliti dengan responden untuk memperoleh informasi tertentu. Peneliti menerima informasi tanpa membantah, mengecam, menyetujui, atau tidak menyetujui. Peneliti berfungsi sebagai instrumen untuk menggali informasi dari responden. Wawancara merupakan alat yang ampuh untuk mengungkapkan kenyataan hidup, apa yang dipikirkan atau dirasakan orang tentang aspek kehidupan. Melalui tanya jawab peneliti dapat memasuki alam pikiran orang lain, sehingga ia memperoleh gambaran tentang dunia mereka. Jadi wawancara berfungsi deskriptif yaitu melukiskan dunia kenyataan seperti dialami orang lain, dari bahan-bahain itu peneliti memperoleh gambaran yang
lebih obyektif tentang masalah yang diselidikinya. Selain berfungsi deskriptif, wawancara dapat pula berfungsi eksploratif, yakni bila masalah yang dihadapi oleh peneliti masih samar-samar, karena belum pernah diselidiki secara mendalam oleh orang lain.
Dalam wawancara terstandar, pewawancara menggunakan pedoman wawancara berisi pertanyaan yang telah dirumuskan dengan cermat kepada subyek untuk mendapatkan respon secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan harus diberikan dengan urutan, prosedur, dan teknik yg sama untuk masing- masing subyek. Meskipun demikian, peneliti harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal yg tidak biasa dan cara penanganannya.
Bentuk (format) pertanyaan yang disusun dalam pedoman wawancara bervariasi tergantung pada arah serta keterbatasan yang ditekankan pada situasi wawancara. Secara garis besar bentuk pertanyaan wawancara dapat dibedakan menjadi:
1) Terstruktur, jika jawaban atas pertanyaan itu telah ditentukan terlebih dahulu secara pilihan berganda.
Misalnya: Bila menghadapi kesulitan belajar di rumah, kepada siapa Anda minta bantuan? Bapak, ibu, kakak?
2) Tidak terstruktur, jika jawaban atas pertanyaan sesuai dgn kehendak responden dan dalam bahasanya sendiri.
Misalnya: Menurut Anda, apa keuntungan dan kerugian adanya penetapakan sekolah tertentu sebagai sekolah unggulan di daerah- daerah?
3) Semi terstruktur, jika pertanyaan diajukan berbentuk terstruktur, lalu berdasarkan respon yg diberikan responden, diajukan pertanyaan terbuka untuk menggali informasi yg lebih mendalam.
Peneliti dapat mengajukan pertanyaan berikut:
- Apakah Anda setuju bila Pendidikan Agama dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal? Berdasarkan respon terhadap pertanyaan ini, peneliti atau pewawancara mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk, menggali alasannya, misalnya:
- Apa yang menjadi dasar pertimbangan atas ketidaksetujuan /persetujuan Anda tersebut?
Wawancara adalah komunikasi social antara dua pihak yaitu peneliti dan responden. Agar wawancara dapat dilakukan, kedua pihak harus dapat bertemu dalam suasana kesediaan berkomunikasi. Peneliti harus memperhatikan hal-hal yang memudahkan komunikasi, seperti:
1) Menciptakan suasana akrab, tidak ada rasa curiga, takut, enggan, atau malu.
2) Memulai dengan ucapan selamat, perkenalkan diri, tunjukkan kartu pengenal, jelaskan tujuan penelitian, dan pentingnya keterangan dari responden bagi penelitian itu.
3) Ungkapkan bahwa intervieu itu bukan ujian atau tes, tidak ada jawaban yang benar/salah, bahwa semua pertanyaan itu mudah dijawab karena berkaitan dengan pengalaman, kehidupan, pikiran, dan perasaannya.
4) Peneliti harus menunjukkan rasa percaya diri, tapi jangan berlebihan karena dapat menimbulkan antipati/antagonis.
5) Suasana akrab jangan membuat peneliti menjadi pendengar saja, jangan membiarkan diri dibawa arus percakapan responden.
6) Lakukan ‘probing’/korek keterangan yang lebih jelas jika jawaban responden kurang jelas atau kurang lengkap, atau jika ia tidak sanggup menjawab, mungkin karena tidak tau atau kurang mengerti.
7) Jangan sampai menuduh/ mempersalahkan responden atas keterangan yang tidak benar.
Salah satu tugas penting yang harus dilakukan peneliti dalam teknik wawancara ialah mencatat hasil wawancara. Dalam pelaksanaannya peneliti dapat membuat catatan langsung, namun ini membutuhkan kemampuan menulis cepat agar butir-butir penting dari respon subyek tidak tertinggal atau tercatat sehingga data yang diperoleh memiliki akurasi yang tinggi. Mencatat hasil wawancara terbuka yang tak terstruktur jauh lebih sulit dari wawancara teratruktur. Tak mungkin pewawancara mengingat segala sesuatu yang diucapkan selama wawancara itu. Hanya sebagain kecil dapat diingatnya walaupun ia mencatatnya segera setelah wawancara selesai. Untuk mengatasi kelemahan di atas, pewawancara dapat menggunakan alat bantu rekaman, seperti tape recorder. Dengan alat ini pewawancara dapat memusatkan perhatiannya pada proses wawancara tanpa harus terganggu untuk mengingat atau mencatat respon yang diberikan oleh subyek.
Tugas peneliti selanjutnya adalah mengakhiri wawancara. Mengakhiri wawancara dalam interview yang singkat dapat dilakukan dengan
mengucapkan terima kasih disertai senyum. Akan tetapi, wawancara yang bersifat kualitatif, intensif, mendalam, makan waktu lama, dan tidak dapat diakhiri begitu saja. Sebelum berpisah, suatu pujian atas lukisan, benda, atau tanaman hias yang indah dapat meninggalkan kesan yang menyenangkan pada responden.
2. Angket
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2017). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.
Bila peneliti dilakukan pada lingkup yang tidak terlalu luas, sehinggga kuesioner dapat diantarkan langsung dalam waktu singkat, maka pengiriman angket kepada responden tidak melalui pos. Dengan adanya kontak langsung antara peneliti dengan responden akan menciptakan suatu kondisi yang cukup baik, sehingga responden dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
Uma Sekaran (Sugiyono, 2017) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai titik pengumpulan data sebagai berikut.
1) Prinsip penulisan angket
Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka-negatif positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.
a) Isi dan tujuan pertanyaan
Yang dimaksud disini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b) Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemapuan berbahasa responden. Jika responden tidak dapat berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun dalam bahasa Indonesia. Jadi bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan frame of reference dari responden.
c) Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negatif.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang suatu hal. Contoh: bagaimanakah tanggapan Anda terhadap iklan di TV saat ini? Sebaliknya pertanyaan tertutup, adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawaban berbentuk data nominal, ordinal, inteval, dan ratio, adalah bentuk pertanyaan tertutup.
Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk angket perlu dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis.
d) Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
Contoh: bagaimana pendapat Anda tentang kualitas dan relevansi pendidikan saat ini? Ini adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekaligus, yaitu kualitas dan relevansi. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua.
- Bagaimanakah kualitas pendidikan?
- Bagaimanakah relevansi pendidikan?
e) Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berpikir berat.
Contoh: bagaimana kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 30 tahun lalu? Menurut Anda, bagaimana cara mengatasi krisis ekonomi saat ini? (kecuali penelitian yang mengharapkan pendapat para ahli). Kalau misalnya umur responden yang diberi angket baru 25 tahun, dan pendidikannnya rendah, maka akan sulit memberikan jawaban.
f) Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja. Misalnya:
bagaimanakah prestasi belajar Anda selama di sekolah dulu?
Jawaban responden tentu cenderung akan menyatakan baik.
Bagaimanakah prestasi kerja Anda selama setahun terakhir?
Jawabannya cenderung akan baik.
g) Panjang pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variabel banyakm sehingga memerlukan instrumen yang banyak, maka instrumen tersebut dibuat bervariasi dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya. Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah antara 20 s/d 30 pertanyaan.
h) Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari hal yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberi pertanyaan yang sulit, atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket yang telah mereka terima. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat tingkat kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi.