• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK SAMPLING

Dalam dokumen BUKU AJAR (Halaman 172-181)

BAB I HAKIKAT PENELITIAN

BAB 7 SUBYEK PENELITIAN

B. TEKNIK SAMPLING

Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki sittuasi sosial tertentu, yang dapat berupa lembaga pendidikan tertentu, melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Hasil penelitian tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena pengambilan sampel tidak diambil secara random. Hasil penelitian dengan metode penelitian kualitatif hanya berlaku untuk kasus situasi sosial tersebut. Hasil penelitian tersebut dapat ditransferkan atau diterapkan ke situasi sosial (tempat lain), apabila situasi sosial tersebut memiliki kemiripan atau kesamaan dengan situasi sosial yang diteliti.

Gambar 7.4.b. Model Generalisasi penelitian Kualitatif. Sampel Purposive, hasi dari A dapat ditransferkan hanya ke B, C, D. (Sugiyono, 2017)

siswa yang ada dalam kelas tersebut, bukan untuk kelompok siswa yang lebih besar.

Akan tetapi, dalam kebanyakan penelitian, karena adanya berbagai alasan (misalnya efisiensi tenaga, waktu, dan biaya) tidak selalu mungkin atau perlu untuk melibatkan semua individu yang ada dalam kelompok sebagai subyek penelitian. Dengan demikian, penelitian tersebut hanya melibatkan sebagian individu (sampel) yang dipilih dari kelompoknya (populasi) untuk menjadi subyek. Hasil penelitian terhadap kelompok individu yang menjadi sampel tersebut juga berlaku bagi individu lain yang termasuk dalam kelompok populasi. Oleh karena tidak semua individu dalam populasi dilibatkan, maka perlu adanya proses pemilihan sampel dari populasi. Pemilihan sampel disebut juga sampling. Ada beberapa jenis sampling, diantaranya sebagai berikut:

1) Probability Sampling (Random Sample)

Probability sampling adalah metode pengambilan sampel secara random atau acak. Dengan cara pengambilan sampel ini.

Gambar 7.5. Probability sampling

Seluruh anggota populasi diasumsikan memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Dibawah ini disajikan macam-macam probability sampling yaitu:

a) Simple Random Sampling

Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Pengambilan sampel acak sederhana dapat dilakukan dengan cara undian, memilih bilangan dari daftar bilangan secara acak, dsb. Teknik ini ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 7.6. Teknik simple Random sampling b) Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus Si = 45, 82 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bab ini. Teknik ini ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 7.8. Teknik Stratified Random Sampling c) Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan 83, 4 orang lulusan S2, 90 orang Si ,800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan 83 dan empat orang 82 itu diambil semuanya sebagai sampel, karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok Si, SMU, dan SMP.

d) Cluster Sampling (Area Sampling)

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampel ditetapkan secara bertahap dari wilayah yang luas (negara) sampai ke wilayah terkecil (kabupaten). Setelah terpilih sampel terkecil, kemudian baru dipilih sampel secara acak.

Misalnya di Indonesia terdapat 30 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 15 propinsi, maka pengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi- propinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.

Propinsi di Indonesia ada yang pendudukanya padat, ada yang tidak; ada yang mempunyai hutan banyak ada yang tidak, ada yang kaya bahan tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu diperhatikan sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat ditetapkan. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 7.9. Teknik Cluster Sampling

Diambil secara sistematis 2) Non-Probability Sampling (Non-Random Sample)

Non-Probability Sampling teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Dibawah ini disajikan macam-macam non-Probability Sampling yaitu:

a) Sampling sistematis

Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100. Lihat gambar berikut.

Gambar 7.10. Sampling Sistematis. No populasi ketipatan tiga yang diambil (3,6,9 dst)

Populasi 1 1 31 31 2 2 32 32 3 3 33 33 4 4 34 34 5 5 35 35 6 6 36 36 7 7 37 37 8 8 38 38 9 9 39 39 10 10 40 40

Sampel 3 24 6 27 9 30 12 33 15 36 18 39 21 Gambar 7.10. Non-Probability Sampling

b) Sampling Kuota

Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dan populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin Mendirikan Bangun (IMB). Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.

Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 orang anggota sampel.

c) Sampling Insidential

Sampling Insidential adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa sapa yang secara kebetulan insidential bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

d) Sampling Purposive

Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah ahli politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian- penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

e) Sampling Jenuh

Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f) Snowball Sampling

Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula- mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena

dengan dua orang ini masih belum merasa lengkan terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Teknik pengambilan sampel ditunjukan pada gambar 7.11.

Gambar 7.11. Snowball Sampling

Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung ukuran sampel bertambah (emergent sampling design). Caranya yaitu, peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan;

selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Praktek seperti inilah yang disebut sebagai "serial selection of sample units" (Lincoln dan Guba, 1985), atau dalam kata-kata Bogdan dan Biklen (1982) dinamakan "snowball sampling technique". Unit sampel yang dipilih makin lama makin banyak dan terarah sejalan dengan makin terarahnya fokus penelitian. Proses ini dinamakan Bogdan dan Biklen (1982) sebagai "continuous adjustment of 'focusing' of the sample".

Dalam proses penentuan sampel seperti dijelaskan di atas, berapa besar sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Dalam sampling purposive besar sampel ditentukan oleh pertimbangan informasi. Seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985) bahwa "If the purpose is to maximize information, then sampling is terminated when no new information is forth-coming from

newly sampled units; this redundancy is the primary criterion". Dalam hubungan ini Sugiyono (2008) menjelaskan bahwa penentuan unit sampel (responden) dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf

"redundancy" (datanya telah jenuh, ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti.

Teknik pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif yang bersifat purposive dan snowball itu dapat digambarkan seperti Gambar 7.12 berikut.

Gambar 7.12. Proses pengambilan sampel sumber data dalam penelitian Kualitatif, Purposive dan Snowball

Berdasarkan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam proposal penelitian, peneliti telah merencanakan A sebagai orang pertama sebagai sumber data. Informan awal ini sebaiknya dipilih orang yang bisa membukakan pintu untuk mengenali keseluruhan medan secara luas (mereka yang tergolong penjaga gawang dan informan yang cerdas). Selanjutnya oleh A peneliti disarankan menemui ke B dan C. Jika dari B dan C, peneliti belum memperoleh data yang lengkap, maka peneliti menemui D dan G. Kalau dari D dan G peneliti juga masih belum memperoleh data yang akurat, maka peneliti pergi ke F kemudian ke E, selanjutnya ke H, ke I dan terakhir ke J. Setelah sampai J data sudah jenuh, sehingga sampel sumber data sudah mencukupi, dan tidak perlu menambah sampel yang baru.

Faisal (1990) dengan mengutip pendapat Spradley mengemukakan bahwa, situasi sosial untuk sampel awal sangat disarankan suatu situasi sosial yang di dalamnya menjadi semacam muara dari banyak domain lainnya sehingg

sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang memenuhi kriteria sebagai berikut.

1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayatinya.

2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti.

3. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi.

4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil

"kemasannya" sendiri.

5. Mereka yang pada mulanya tergolong "cukup asing" dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau nara sumber.

6. Kapankan penambahan sampel ini berhenti? Penambahan sampel itu dihentikan, manakala datanya sudah jenuh. Dari berbagai informan, baik yang lama maupun yang baru, tidak memberikan data baru lagi.

Bila pemilihan sampel atau informan benar-benar jatuh pada subyek yang benar-benar menguasai situasi sosial yang diteliti (obyek), maka merupakan keuntungan bagi peneliti, karena tidak memerlukan banyak sampel lagi, sehingga penelitian cepat selesai. Hal yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah "tuntasnya" perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data.

Contoh:

Seorang peneliti, ingin memasukan gaya belajar anak yang berbakat di Sekolah Dasar. Berdasarkan hal tersebut maka langkah-langkah penentuan sampel sumber data adalah sebagai berikut.

1. Melakukan penjelajahan umum berbagai sekolah SD untuk mencari adakah siswa yang berbakat. Penjelajahan dengan memilih kepala sekolah dan guru, serta dokumen sebagai sumber data awal, untuk mengetahui ada tidaknya anak berbakat apa pada SD yang dipimpinnya.

(sampel sumber data dipilih kepala sekolah, guru, dokumen).

2. Setelah ada informasi dari kepala sekolah, guru, dan dokumentasi nilai- nilai pelajaran, selanjutnya dapat diketahui jumlah anak berbakat pada setiap kelas, misalnya setiap kelas ditemukan ada dua siswa yang berbakat. Dengan demikian untuk satu SD ada 12 siswa yang berbakat

(2 x 6 kelas). Di sini sampel sumbe data kepala sekolah, guru dan dokumentasi.

3. Berdasarkan 12 siswa tersebut, selanjutnya dapat diidentifikasikan nilai rapor dari berbagai pelajaran, ranking di kelas, penghargaan yang telah diperoleh, bakan spesifik yang dimiliki, latar belakang sosial dan ekonomi keluarga dan orang tua siswa (sumber data siswa dan dokumentasi).

4. Mulai melakukan penelitian terhadap murid-murid yang terpilih tersebut dengan sampel sumber data pesera didik yang bersangkutan dalam berbagai aktivitasnya, guru-guru, orang tua dan teman.

Pengumpulan dilakukan secara triangulasi.

Dalam dokumen BUKU AJAR (Halaman 172-181)