ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan,
ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan, dan tidak untuk dikomersialk 5.3.4 Pengambilan contoh tanah
5.3.4.1 Kategori kelas pengambilan contoh tanah
Contoh tanah harus mencakup seluruh kandungan materi dari lapisan tanah yang diambil.
Contoh tersebut tidak boleh terkontaminasi oleh material dari lapisan lain atau dari bahan tambah (aditif) yang digunakan dalam prosedur pengambilan contoh tanah.
Metode pengambilan contoh tanah dibagi dalam tiga kategori seperti dibawah tergantung dari kelas kualitas yang diinginkan (lihat Tabel 3 untuk kualitas contoh tanah):
a) Kategori A: untuk memperoleh contoh tanah kualitas kelas 1 sampai 5;
b) Kategori B: untuk memperoleh contoh tanah kualitas kelas 3 sampai 5;
c) Kategori C: hanya untuk memperoleh contoh tanah kualitas kelas 5.
Metode pengambilan Kategori A harus digunakan untuk memperoleh contoh tanah berkualitas kelas 1 atau 2, di mana tidak ada atau hanya sedikit gangguan struktur tanah dalam prosedur pengambilan contoh atau dalam penanganan (handling) contoh tanah.
Kadar air dan angka pori tanah masih sesuai dengan yang ada di lapangan. Tidak terjadi perubahan dalam konstituen material atau komposisi kimia dari tanah.
Metode pengambilan Kategori B boleh digunakan untuk memperoleh contoh tanah berkualitas kelas 3 sampai 5, yang masih mengandung semua konstituen material dari tanah di lapangan dalam proporsi asli dan masih mengandung kadar air alami. Susunan umum atau komponen dari lapisan tanah yang berbeda masih dapat diidentifikasi walaupun struktur tanah telah terganggu.
Metode pengambilan Kategori C hanya digunakan untuk memperoleh contoh tanah berkualitas kelas 5, dimana struktur tanah telah berubah secara keseluruhan. Gambaran umum atau komponen telah beubah sehingga lapisan tanah di lapangan tidak dapat diidentifikasi secara akurat. Kadar air sudah tidak mewakili kadar air alami dari lapisan tanah yang diambil contohnya.
Contoh tanah untuk pengujian laboratorium dibagi dalam lima kelas kualitas berkaitan dengan sifat-sifat tanah yang diasumsikan tetap dan tidak berubah selama pengambilan contoh, transportasi dan penyimpanan. Tabel 3 merangkum Kelas kualitas dan kategori metode pengambilan contoh tanah yang digunakan.
5.3.4.2 Identifikasi tanah
Identifikasi pada pemeriksaan contoh tanah harus mengikuti SNI 03-6797-2002.
5.3.4.3 Perencanaan pengambilan contoh tanah
Perencanaan pengambilan contoh tanah harus mengikuti persyaratan-persyaratan berikut:
a) Kelas kualitas dan jumlah contoh tanah yang akan diambil harus didasarkan pada tujuan penyelidikan tanah, geologi setempat, dan kompleksitas struktur geoteknik dan konstruksi yang akan dirancang.
b) Dua strategi yang berbeda dapat diikuti untuk pengambilan contoh tanah pada pengeboran.
Pengeboran yang bertujuan memperoleh contoh tanah secara lengkap sampai dasar lubang bor dengan menggunakan alat pengambil (sampler) khusus.
ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan,
Pengeboran yang dirancang untuk memperoleh contoh tanah hanya pada beberapa kedalaman yang telah ditentukan, misalnya diseling dengan melakukan uji penetrasi secara bergantian.
c) Kategori metode pengambilan contoh tanah harus dipilih berdasarkan kelas kualitas uji laboratorium yang diinginkan (lihat Tabel 3), jenis tanah yang diharapkan, dan kondisi air tanah.
d) Persyaratan SNI 03-4148.1-2000 harus diikuti, untuk pemilihan metode pengeboran atau penggalian dan peralatan yang memadai untuk kategori metode pengambilan contoh tanah yang ditetapkan.
e) Untuk proyek tertentu, alat pengambilan contoh tanah dan metode yang khusus mungkin diperlukan dalam kategori metode pengambilan contoh tanah yang didefinisikan dalam 5.3.4.1. Misalnya, apabila modulus deformasi (kekakuan) pada regangan kecil harus ditentukan pada contoh tanah tidak terganggu.
f) Ukuran contoh tanah yang diperoleh harus sesuai dengan jenis tanah serta jenis dan jumlah uji yang akan dilakukan (lihat 5.5).
g) Contoh tanah harus diambil pada setiap perubahan lapisan dan pada interval tidak lebih dari 3 m. Pada tanah yang tidak homogen, atau jika data yang sangat rinci dari kondisi tanah diperlukan, pengambilan contoh tanah secara menerus harus dilakukan atau melakukan pengambilan contoh tanah dengan interval yang sangat dekat.
5.3.4.4 Penanganan, pengiriman dan penyimpanan contoh tanah
Penanganan, transportasi dan penyimpanan contoh harus dilakukan sesuai dengan SNI 03- 4148.1-2000.
5.3.5 Pengambilan contoh batuan
5.3.5.1 Kategori kelas pengambilan contoh batuan
Pengambilan contoh batuan harus mengikuti persyaratan-persyaratan berikut:
a) Contoh batuan harus mencakup seluruh unsur mineral dari lapisan batuan yang diambil.
Contoh tersebut tidak boleh terkontaminasi oleh material dari lapisan lain atau dari bahan tambah yang digunakan dalam prosedur pengambilan contoh batuan.
b) Diskontinuitas dan material pengisi (infilling) yang terdapat di massa batuan seringkali mengontrol karakteristik kekuatan dan deformasi material secara keseluruhan. Oleh karena itu, informasi tersebut harus didefinisikan secara rinci selama pengambilannya.
ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan, dan tidak untuk dikomersialk kadar air, kepadatan, porositas dan permeabilitas masih sesuai dengan yang asli di lapangan. Tidak terjadi perubahan kandungan material atau komposisi kimia dari massa batuan.
e) Metode pengambilan Kategori B digunakan untuk memperoleh contoh batuan yang masih mengandung semua kandungan material dari massa batuan di lapangan dalam proporsi asli, yaitu batuannya masih mempertahankan kekuatan, sifat deformasi, kadar air, kepadatan, dan porositas. Susunan umum dari diskontinuitas pada massa batuan masih dapat diidentifikasi. Struktur massa batuan dan juga kekuatan dan sifat deformasi, kadar air, kepadatan, porositas dan permeabilitas untuk massa batuan itu sendiri telah terganggu.
f) Metode pengambilan Kategori C hanya digunakan untuk memperoleh contoh batuan, saat struktur dari massa batuan dan kontinuitas telah berubah secara keseluruhan.
Material batuan telah hancur. Perubahan kandungan atau komposisi kimia dari material batuan dapat terjadi. Jenis batuan serta matriks, tekstur dan struktur masih dapat diidentifikasi.
5.3.5.2 Identifikasi batuan
Identifikasi batuan secara visual harus didasarkan pada pemeriksaan massa batuan dan contoh batuan termasuk semua pengamatan terhadap dekomposisi dan diskontinuitas.
Identifikasi harus sesuai dengan EN ISO 14689-1.
Klasifikasi pelapukan harus dikaitkan dengan proses geologi dan harus mencakup peringkat (grade) antara batuan segar dan batuan yang telah lapuk dan terurai menjadi tanah.
Klasifikasi harus sesuai dengan SNI 2436:2008 (EN ISO 14689-1).
Diskontinuitas seperti bidang pelapisan (bedding planes), retakan (joint), rekahan (fissures), celah (cleavages) dan patahan/sesar (faults) harus dikuantifikasi terhadap pola, jarak dan kemiringan menggunakan istilah yang tidak ambigu. Kuantifikasi harus sesuai dengan SNI 2436:2008 (EN ISO 14689-1).
Tingkat kualitas batuan (Rock Quality Designation - RQD), perolehan inti batuan keseluruhan (total core recovery - TCR), dan perolehan inti batuan yang utuh (solid core recovery - SCR), harus ditentukan sesuai SNI 2436:2008 (EN ISO 22475-1).
5.3.5.3 Perencanaan pengambilan contoh batuan
Karakteristik dan jumlah contoh batuan yang akan diambil harus didasarkan pada tujuan penyelidikan lapangan, geologi setempat, dan kompleksitas struktur geoteknik dan konstruksi yang akan dirancang.
Kategori metode pengambilan contoh batuan harus dipilih sesuai dengan karakteristik batuan yang harus dipertahankan, seperti yang dijelaskan dalam 5.3.5.2, serta kondisi batuan dan air tanah yang diharapkan.
Pemilihan metode pengeboran atau galian dan alat pengambilan contoh batuan harus mengikuti SNI 03-6802-2002.
Untuk proyek tertentu, alat pengambilan contoh batuan dan metode tertentu mungkin diperlukan sesuai kategori metode pengambilan contoh batuan yang didefinisikan dalam 5.3.5.1.
ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan, 5.3.5.4 Penanganan, pengiriman dan penyimpanan contoh batuan
Untuk proyek tertentu, alat pengambilan contoh batuan dan metode tertentu mungkin diperlukan sesuai kategori metode pengambilan contoh batuan yang didefinisikan dalam SNI 03-6802-2002 (EN ISO 22475-1).
5.3.1 Perancangan dan pelaksanaan pengukuran
Pengukuran muka air tanah dan pengambilan contoh air tanah harus dilakukan sesuai dengan SNI 03-6802-2002 (EN ISO 22475-1).
Perancangan pengukuran muka air tanah harus mengikuti persyaratan-persyaratan berikut:
a) Jenis peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran air tanah harus dipilih sesuai dengan jenis dan permeabilitas tanah, tujuan pengukuran, waktu pengamatan yang diperlukan, fluktuasi air tanah yang diharapkan dan waktu respon peralatan dan tanah.
b) Terdapat dua sistem pengukuran tekanan air tanah: sistem terbuka dan sistem tertutup.
Dalam sistem terbuka, tekanan air tanah (piezometric head) diukur dengan sumur pengamatan, biasanya menggunakan dengan pipa terbuka. Dalam sistem tertutup, tekanan air tanah pada titik yang dipilih diukur secara langsung dengan alat pembaca tekanan (pressure transducer).
c) Sistem terbuka hanya boleh digunakan untuk tanah dan batuan dengan permeabilitas relatif tinggi (akuifer dan akuitar), misalnya pasir, kerikil atau batuan bercelah tinggi (highly fissured rock). Sistem terbuka dapat memberikan interpretasi yang keliru untuk tanah dan batuan dengan permeabilitas rendah disebabkan oleh jeda waktu dalam mengisi dan mengosongkan pipa terbuka. Penggunaan saringan (filter) yang terhubung dengan pipa berdiameter kecil dalam sistem terbuka dapat mengurangi jeda waktu.
d) Sistem tertutup boleh digunakan pada semua jenis tanah atau batuan. Sistem ini harus digunakan pada tanah dan batuan dengan permeabilitas sangat rendah (aquicludes), misalnya lempung atau batuan bercelah rendah (low fissured rock). Sistem tertutup juga harus digunakan ketika berhadapan dengan artesis bertekanan air tinggi.
e) Apabila akan memantau air pori yang bervariasi dengan durasi sangat pendek atau berfluktuasi cepat, rekam data secara menerus harus dilakukan dengan mengunakan pembaca tekanan dan alat pencatat data (data logger) untuk berbagai jenis tanah dan batuan.
f) Apabila terdapat air terbuka pada atau dekat dengan daerah pengukuran air tanah, ketinggian air terbuka tersebut harus dipertimbangkan dalam interpretasi pengukuran air tanah. Ketinggian air di sumur, munculnya mata air dan air artesis juga harus dicatat.
g) Jumlah, lokasi dan kedalaman titik pengukuran harus dipilih berdasarkan tujuan dari pengukuran, topografi, stratigrafi dan kondisi tanah, terutama permeabilitas tanah atau
ndardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Sub Komite Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan, dan tidak untuk dikomersialk k) Jumlah dan frekuensi pembacaan dan durasi pengukuran untuk proyek tertentu harus
direncanakan berdasarkan tujuan dari pengukuran dan durasi untuk mencapai kestabilan.
l) Kriteria yang dipakai harus diatur kembali setelah pengukuran awal, sesuai dengan variasi yang terpantau dari bacaan yang diamati.
m) Jika tujuannya pengukuran dimaksudkan untuk mencari fluktuasi air tanah, pembacaan data harus dilakukan pada interval yang lebih kecil dari pada fluktuasi alami yang akan dicari dalam jangka waktu yang cukup panjang.
n) Selama proses pengeboran, pengamatan muka air yang dilakukan pada akhir hari dan awal hari berikutnya (sebelum pengeboran dilanjutkan) merupakan indikasi yang baik dari kondisi air tanah dan harus dicatat. Setiap rembesan air mendadak (sudden inflow) atau kehilangan air (loss of water) selama pengeboran harus dicatat, karena dapat memberikan informasi tambahan yang berguna.
o) Pada fase pertama penyelidikan tanah, dapat dipasang pipa perforasi terbuka yang dilindungi dengan filter pada beberapa lubang bor. Pembacaan muka air yang diperoleh pada hari-hari berikutnya dapat memberi indikasi awal kondisi air tanah, namun harus memperhatikan batasan pada persyaratan di butir c. Masalah bahaya kontaminasi yang terkait dengan terhubungnya akuifer yang lain dan peraturan lingkungan yang relevan harus diperhitungkan.
5.3.2 Evaluasi hasil pengukuran muka air tanah
Evaluasi hasil pengukuran air tanah harus memperhitungkan persyaratan-persyaratan berikut ini:
a) Kondisi geologi dan geoteknik lapangan, keakuratan setiap pengukuran, fluktuasi tekanan air pori terhadap waktu, durasi periode observasi, musim pengukuran dan kondisi iklim selama dan sebelum periode tersebut.
b) Hasil evaluasi pengukuran air tanah harus mencakup ketinggian maksimum dan minimum muka air yang diamati, atau tekanan air pori, serta periode pengukurannya.
c) Batas atas dan bawah dari kondisi ekstrim dan normal harus diperoleh dari data yang terukur, dengan menambah atau mengurangi fluktuasi yang diharapkan atau bagian dari fluktuasi, terhadap kondisi ekstrim atau normal yang bersangkutan. Kurangnya data yang dapat dipercaya untuk selang waktu setelah pengukuran mengharuskan kehati-hatian dalam penggunaan data pengukuran yang diperoleh dari informasi tersedia yang terbatas.
d) Kebutuhan untuk membuat pengukuran lebih lanjut atau memasang stasiun pengukuran tambahan harus dipertimbangkan selama penyelidikan lapangan dan dituangkan dalam laporan penyelidikan tanah.
5.4 Uji lapangan pada tanah dan batuan