• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Cahaya terhadap Serangga

Dalam dokumen KAJIAN ILMIAH : (Halaman 34-56)

Serangga melihat cahaya dengan spektrum yang berbeda dari manusia. Jika manusia melihat cahaya gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang kisaran 400-800 nanometer, yaitu dari warna violet sampai merah, maka serangga melihat dengan panjang gelombang 300 -650 nanometer, termasuk warna Ultraviolet (Turpin 2021) dan warna- warna biru, hijau. Serangga pada umumnya tertarik pada cahaya ultraviolet (UV). Serangga peka terhadap sinar UV, karena memiliki mata faset yang memiliki sel-sel fotoreseptor yang peka terhadap sinar UV, warna biru, dan warna hijau.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa keberadaan ALAN dapat memengaruhi fisiologi dan perilaku berbagai organisme, dan memiliki dampak pada berbagai komunitas flora dan fauna, termasuk dapat berdampak terhadap dinamika populasi. Perubahan pada komposisi komunitas karena ALAN dapat memiliki dampak yang tak diduga sebelumnya, dan dapat berpengaruh pada fungsi ekosistem dan proses-proses yang terjadi didalamnya.

Ada berbagai respon serangga terhadap cahaya (Shimoda & Honda, 2013):

1 Tertarik (fototaksis positif): serangga akan mendatangi sumber cahaya (Kinoshita &

Arikawa 2000);

2 Menolak (fototaksis negatif), serangga akan menjauh dari sumber cahaya (Kim et al.

2013)

3 Adaptasi. Umum terjadi pada serangga nokturnal karena serangga akan cepat beradaptasi dan selanjutnya menunjukkan perilaku seperti siang hari, ie. mereka akan diam tidak bergerak (Post & Goldsmith 1965; Walcott 1969). Perilaku terbang dan kawin yang umumnya terjadi malam hari akan terganggu pada serangga nokturnal yang terekspos pada sinar

4 Terganggunya circadian rhythm (termasuk terbang, makan, kawin, dan sebagainya) (Bateman 1972; Shimoda & Kiguchi 1995). ALAN telah diketahui dapat mengubah perilaku baik serangga nokturnal maupun diurnal (disebut dengan phase shift) (Okada et al. 1991). ALAN juga dapat menyebabkan temporal disorientation pada serangga nokturnal. Hal ini disebabkan karena berbagai perilaku serangga -misalnya kemunculan harian -( daily emergence time), dan lama waktu makan, perilaku kawin, semuanya dipengaruhi oleh jam biologis (internal) yang dipengaruhi oleh ambient light dan suhu (Saunders, 2009; Tataroglu & Emery, 2014). Pencahayaan yang kuat akan mendisrupsi dan menyebabkan desinkronisasi jam biologis serangga

5 Fotoperiodistas (panjang hari): fase diapause bisa dihentikan pada serangga yang disinari terus menerus dalam periode waktu tertentu (Masaki 1984; Saunders 2012).

Serangga-serangga ini akan terganggu siklus hidupnya karena tidak dapat memasuki fase dorman.

6 Light toxicity, yaitu keracunan sinar, bisa terjadi bila retina dari mata majemuk yang terpapar pada sinar UV dan radiasi sinar biru menjadi rusak (Meyer-Rochow et al.

2002; Stark et al. 1985). Beberapa serangga lain telah terbukti dapat terganggu perkembangannya (Stark et al. 1985; Meyer-Rochow et al. 2002). Pengetahuan ini kemudian digunakan sebagai teknik pengendalian hama menggunakan cahaya.

Respons/reaksi yang berbeda-beda terhadap cahaya tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: intensitas cahaya, panjang gelombang, kombinasi dari panjang gelombang, lama pemaparan, arah datang cahaya, dan kontras antara intensitas sumber cahaya dengan warna serta ambient light. Selain itu pengaruh cahaya pada serangga sangat bervariasi (secara kualitatif dan kuantitatif) tergantung sumber cahaya (apakah lampu biasa atau lampu LED) dan bahan yang dipakai (light-reflecting plate) (Smith 1976; Coombe 1981, 1982; Prokopy & Owens 1983; Matteson et al. 1992; Antignus 2000; Nissinen et al. 2008;

Honda 2011; Johansen et al. 2011).

Beberapa studi telah menunjukkan pengaruh cahaya ALAN terhadap bioekologi serangga sebagai berikut:

1 Penelitian yang dilakukan Knop et al (2017) dengan menggunakan ALAN untuk melihat interaksi komunitas penyerbuk menunjukkan bahwa ALAN berpengaruh negatif terhadap penyerbuk nokturnal (kunjungan penyerbuk nokturnal menurun 62% jika dibandingkan dengan area yang gelap, Gambar 10). Selain itu ALAN juga memengaruhi reproduksi tanaman. Fruit set (pembentukan buah) menurun 13% jika dibandingkan kontrol (area gelap). Penurunan terjadi karena jumlah kunjungan polinator pada bunga menurun, disamping menurunnya kelimpahan dan kekayaan serangga penyerbuk.

Pengaruh negatif ini terjadi karena adanya perubahan perilaku (karena fototaksis positif pada cahaya) dan kemungkinan adanya perubahan fisiologis pada serangga, walaupun hal ini belum banyak diteliti. Selain itu ternyata ada pengaruh negatif pada penyerbuk nokturnal yang juga memengaruhi komunitas pollinator diurnal (cascading effect).

Karena menurunnya reproduksi tanaman, hal ini akan berdampak pada penyerbuk diurnal yang biasanya datang dan mengambil nektar/pollen pada tanaman tersebut.

seksama. Interaksi inilah yang selama ini kurang dipahami. Ada direct and indirect effects yang belum dapat sepenuhnya dipahami oleh sains (Gambar 11).

2 Penelitian Meyer dan Sullivan (2013) mengenai arthropoda pada riparian system dan sungai menunjukkan bahwa cahaya menyebabkan penurunan sebesar 44% dari kepadatan laba-laba Tetragnathidae, yang merupakan penurunan sebesar 16% dari kekayaan famili serangga akuatik (emerging adults), menurunnya ukuran tubuh dari serangga akuatik hingga 76% dan meningkatnya ukuran tubuh serangga terrestrial yang masuk ekosistem perairan (309% meningkat). Hasil riset ini menunjukkan adanya perubahan struktur komunitas serangga dan fungsi ekosistem di Kawasan tersebut sebagai akibat dari berubahnya reciprocal aquatic–terrestrial fluxes of invertebrates 3 Cahaya perkotaan juga telah disebut-sebut sebagai penyebab menurunnya populasi

serangga dan berubahnya struktur komposisi serangga (Eisenbeis & Hänel 2009).

Grubisic et al. (2021) menunjukkan bahwa cahaya ALAN memengaruhi interaksi trofik , interaksi penyerbuk-tanaman, dan interaksi spesies, termasuk komunikasi intra specific (kunang-kunang) (Hagen et al. 2015).

Gambar 10. Pengaruh lampu ALAN pada kekayaan dan kelimpahan Serangga

Gambar 11. Interaksi Jaringan

Implikasi dari Keberadaan Cahaya ALAN pada Serangga di Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor diketahui menjadi tempat refugia dari berbagai serangga seperti lebah, kunang-kunang, berbagai kupu-kupu, kumbang, kepik, dan masih banyak lagi. Data mengenai keanekaragaman serangga di Kebun Raya tidaklah banyak. Ito et al. menemukan 216 spesies semut yang telah diidentifikasi (2 spp di antaranya adalah spesies baru), disamping itu ada Apis dorsata dan Apis cerana yang merupakan agen penyerbuk penting.

Apis dorsata adalah salah satu penghasil madu terpenting di kawasan Asia.

Keberadaannya menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga di desa. Jasa ekosistem yang diberikan oleh A. dorsata bukan hanya madu, tetapi juga fungsi penyerbukan, yang memengaruhi keberhasilan reproduksi berbagai jenis tanaman dan tumbuhan. Laporan ini akan membahas Apis dorsata di Kebun Raya Bogor. Adapun pilihan ini dilakukan karena A.

dorsata adalah agen penyerbuk penting bagi berbagai jenis tumbuhan, dan keberadaannya sangat menentukan keberhasilan pembuahan di kawasan sekitar Bogor, bukan hanya Kebun Raya.

Apis dorsata di Kebun Raya Bogor

Apis dorsata atau biasa dikenal dengan tawon gung atau lebah hutan adalah penyerbuk penting bagi tanaman pertanian maupun tanaman liar di alam. Umumnya A. dorsata bersarang di pohon-pohon besar yang secara umum disebut pohon sialang, yang terdiri dari jenis Ficus, Shorea maupun dipterokarpa lainnya. Apis dorsata diketahui melakukan long- distance seasonal migration (Dingle 1980). Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan telah diketahui mampu terbang sampai sejauh 200 km (Robinson 2012). Dalam penerbangannya, A. dorsata ini dapat istirahat dan berdiam di sebuah tempat/pohon, sebelum melanjutkan perjalanannya. Setelah bermigrasi beberapa lama, biasanya A.

dorsata akan kembali ke pohon asalnya (Koeniger & Koeniger 1980; Reddy 1980; Dyer &

Seeley 1991). Berdasarkan pengamatan Kahono (2021, pers.com), Kebun Raya Bogor merupakan tempat “singgah” bagi beberapa populasi A. dorsata, dan juga merupakan tempat “tinggal” bagi populasi A. dorsata lainnya, sehingga Kebun Raya Bogor merupakan tempat istirahat yang sangat penting bagi lebah-lebah A. dorsata dalam perjalanan migrasinya. A. dorsata juga dilaporkan dapat terbang malam hari, pada saat ada cahaya bulan. Oleh karena itu A. dorsata merupakan penyerbuk penting karena dapat aktif siang dan malam hari (Kahono, 2021, pers com).

Kahono et al. melakukan penelitian di KRB pada tahun 1995 dan 1997 dan menemukan bahwa koloni lebah rata-rata bersarang pada ketinggian 18 meter atau lebih (data yang ada menunjukkan 80% dari sarang berada pada ketinggian ini). Apis dorsata melakukan migrasi dan cenderung kembali pada pohon tempat dia bersarang. Pohon yang menjadi tempat bersarangnya adalah Ficus albipila, tetapi selain itu dapat dijumpai pada pohon merbau Intsia bijuga (Calebr.) dan pohon Artocarpus altissimus J.J. Smith (Moraceae). Selain itu, pohon-pohon yang tercatat sebagai pohon lebah adalah Chisocheton macrophyllus King (Meliaceae) dan Canarium decumanum Baertn. (Burseraceae) Drybalonops arontanlica Gaetn.f. (Dipterocarpaceae). Kedatangan pertama dari koloni lebah ke Kebun Raya Bogor biasanya terjadi pada bulan Mei/Juni. Pada tahun 1995 -1996 tercatat lama koloni/populasi menetap di Kebun Raya Bogor dapat mencapai 165-195 hari. Di Kebun Raya Bogor, lebah hutan ini dapat berkembang biak dan membelah menjadi populasi- populasi baru. Hal ini menunjukkan bahwa Kebun Raya Bogor merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan populasi A. dorsata. Dari data yang ada, lama hari koloni A. dorsata menetap di KRB berbeda-beda, yaitu dari 7 - 195 hari. Lebih dari 50% populasi lebah tinggal di Kebun Raya Bogor selama 57-195 hari (Kahono et al. 1999). Populasi tertinggi dari lebah

hutan terjadi di bulan Agustus dan Oktober yang umumnya bersamaan dengan tingginya curah hujan. Di Kebun Raya Bogor, A. dorsata bisa mendatangi semua jenis tanaman/bunga dan sering dijumpai pada Palmae. Pernah juga terlihat mengunjungi gulma Mimosa pigra dan M. pudica (Leguminosae) serta bunga jagung di Baranangsiang. Lokasi kebun jagung ini 2 km dari Kebun Raya Bogor. Karena tidak ditemukan adanya koloni A. dorsata di sekitar kebun jagung, di duga A. dorsata ini terbang dari Kebun Raya Bogor untuk mendapatkan tambahan pollen/nektar. Pengamatan ini memperkuat dugaan bahwa keberadaan A.

dorsata memegang kunci penting pada penyerbukan berbagai tanaman di luar Kebun Raya Bogor (interaction).

Saat ini jumlah koloni lebah A. dorsata yang ada di Kebun Raya Bogor telah menurun drastis, dengan ukuran populasi yang mengecil (Kahono, pers com). Adapun pohon yang masih digunakan sebagai pohon untuk sarang lebah adalah pohon Shorea bijuga, Ficus albipila (Kahono, 2021, pers com) dan kenari babi (Canarium decumanum). Ada juga A. dorsata di pohon kapur (Dryobalanops aromatica)

Implikasi keberadaan cahaya ALAN pada Apis dorsata

Apis dorsata tertarik pada cahaya (fototaksis positif). Hal ini dapat terlihat ketika dilakukan pemasangan light trap di Kawasan hutan Halimun-Salak, selalu dapat ditemukan A. dorsata dalam koleksi serangga. Selain itu pada percobaan pemasangan lampu Glow di Kebun Raya Bogor beberapa waktu lalu, telah ditemukan juga adanya A. dorsata yang mengerumuni lampu-lampu tersebut. Melihat hal ini dapat diduga bahwa keberadaan Glow mempunyai potensi untuk bisa menjadi “harmful” bagi A. dorsata, karena ketertarikan ini seringkali menjadi faktor kematian bagi serangga karena sifat fototoksisitas dari lampu (ada serangga yang bisa mati karenanya), mati karena ada predator yang memakannya (lebih terekspose pada predator), maupun serangga mengalami disorientasi (Saunders 2009).

Selain itu faktor indirect yang tidak diketahui seperti menurunnya reproduksi tumbuhan, merupakan dampak yang tidak dapat diremehkan karena memiliki dampak langsung pada tumbuhan dalam kebun raya yang mempunyai fungsi konservasi.

Bench Mark di Botanic Garden Lainnya

Hasil penelusuran di internet menunjukkan bahwa wisata malam dengan pencahayaan artifisial telah dilakukan di berbagai tempat (Tabel 4). Paling tidak tercatat 15 Kebun Raya di seluruh dunia yang memiliki wisata semacam ini. Dari 15 kebun raya ini, hanya ada satu tempat dilakukan di negara tropis yaitu Singapura. kebun raya di Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Singapura melakukan acara ini di musim dingin (antara pertengahan November sampai awal Januari) sebagai bagian dari perayaan Natal, kecuali Australia yang dilakukan di bulan Juni-Juli. Satu Kebun Raya di Canada melakukan hal ini di musim gugur.

Pada saat musim dingin, umumnya tumbuhan dorman dan hewan jarang beraktivitas karena migrasi ataupun hibernasi. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang merupakan daerah tropis, hampir tidak ada waktu bagi tumbuhan atau hewan mengalami dorman.

Kegiatan pencahayaan di Singapura dilakukan di Gardens by the Bay, yang kondisinya berbeda dengan Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Singapura juga melakukan kegiatan pencahayaan di masa Natal dengan memasang lampu natal pada beberapa pohon sebagai ornamen. Garden by the Bay cenderung bersifat artifisial dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor.

Tabel 4 Perbandingan aktivitas melibatkan ALAN di Kebun Raya Dunia

Nama Kebun Raya Nama kegiatan Negara Pelaksanaan Keterangan Chicago Botanical

garden

Lightscape USA 12 November 2021- 2

January 2022

Lorong cahaya

sepanjangan 110 kaki Los Angeles County

Arboretum &

Botanical Garden

Lightscape 12 November, 2021 – 16 January, 2022

Morton Arboretum Illumination: Tree Lights

USA 20 November , 2021 – J2 anuary , 2022

150 lampion warna melewati jalur setapak 1 mil dengan musik (17.30 – 20. 45)

Royal botanical garden

Christmast Light at Rock Garden

Canada Jum'at sampai Minggu dari 6 Desember 2021 sampai 5 Januari 2022 dari jam 18.00 – 21.00

Atlanta Botanical Garden

Garden Lights, Holiday Nights

USA 13 November 2021 – 15 Januari 2022

Nama Kebun Raya Nama kegiatan Negara Pelaksanaan Keterangan Denver Botanic

Garden

Blossoms of Light

USA 19 November 2021 – 8 Januari 2021 (Tutup 25 November dan 25 Desember), 16. 30 – 21.00 .

Huntsville Btanical Garden

Galaxy of Lights USA 11 November 2021 – 1 January 2022

Jardin Botanique, Montreal

Gardens of Light

Canada 3 September sampai 31 October 2021

17.00. – 21.30

Naples garden Johnsonville Night Lights in the Garden

USA 26 November 26 sampai 1-2 January 2022

Norflok Botanical Garden

Million Bulb Walk USA 12 November 2021 — 2 January 21021

17.00 – 21.30

Royal Botanic Garden Edinburg

Christmas at the Botanic

UK

Royals Botanic Garden Victoria

Lighscape Australia Ditangguhkan pada 2021 (khusus musim dingin)

Kew Garden Christmas at Kew UK 17 November 2021 –9 January 2022

16.00 – 22.00

Gardens by the Bay Garden Rhapsody

Singapore 20 Agustus 2021 dengan 2 pertunjukan cahaya dan suara per hari, Pukul 19.45 sampai 18.45.

Khussu peringatan hari Natal , 26 November 2021 samapi dengan 31 Desember 2021.

Supertree Lights Dancing”

Singapore Botanical Garden

Christmas light-up Lampu pada beberapa

pohon (2014)

Analisis Situasi

Pengaruh cahaya ALAN pada flora fauna di kebun raya tidak bisa dilihat secara linier dan sederhana sebagai “ada/tidak ada” pengaruh dari cahaya ALAN pada serangga/tanaman/satwa lainnya. Melihat hubungan linier memang perlu, tapi tidak berhenti disitu saja. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi yang kompleks (interconnectedness) antara komponen biotik-abiotik dalam ekosistem. Adanya cascading effect sehingga pengaruh ALAN pada serangga nokturnal ternyata membawa dampak pada penyerbuk diurnal. Hal ini merupakan contoh kuat tentang interconnectedness ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang kita miliki masih terbatas, dan penggalian-penggalian ilmu pengetahuan untuk dapat memahami kompleksitas fenomena ALAN ini perlu dijalankan dengan penuh kearifan. Walaupun sudah ada yang kita ketahui, masih banyak yang tidak kita ketahui, dan ekstrapolasi pengetahuan perlu dilakukan secara hati-hati.

Dari Kajian Ilmiah yang kami lakukan terhadap berbagai hasil penelitian ilmiah, kajian ekologi dan fisiologi tumbuhan dan hewan/satwa, sejauh ini fakta menunjukkan bahwa penggunaan ALAN di Kebun Raya Bogor akan menjadi ancaman terhadap kelestarian ekosistem Kebun Raya Bogor dan berpotensi merusak kekayaan keanekaragaman hayati yang telah tumbuh dan bersinergi selama lebih dari 200 tahun. Keberadaan ALAN sebagai wisata popular yang dikembangakn Kebun Raya Bogor secara ekologi dapat mengubah ritme-ritme jam biologi (circadian rhythm) organisme khususnya tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Giavi et al. (2021) menyatakan bahwa adanya ALAN dapat juga mengganggu interaksi antara tumbuhan dengan polinatornya.

Secara fisiologi, keberadaan ALAN saat malam hari yang seharusnya gelap, justru menyebabkan peristiwa fotosintesis akan terjadi pada siklus waktu yang tidak seharusnya, sehingga menurunkan laju alokasi fotosintat. Di sisi lain, fotosintat dibutuhkan oleh titik tumbuh untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sehingga bila ada penurunan laju alokasi fotosintat maka akan menurunkan laju pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Apabila ALAN terjadi dalam jangka panjang, maka dapat menyebabkan gangguan metabolisme dalam sel-sel tumbuhan yang salah satu indikasinya adalah kerontokan daun yang tidak sewajarnya yang dapat berujung pada kematian. Bennie et al.

(2016) menyatakan bahwa ada spesies-spesies pohon yang peka terhadap ALAN dengan menunjukkan kerontokan daun dalam beberapa bulan terkena ALAN.

Dampak yang nyata terhadap tanaman di taman Meksiko, salah satu taman tempat instalasi ALAN terjadi pada sukulen. Bila sukulen terkena ALAN saat malam hari, maka stomata akan menutup, sehingga tidak terjadi pengikatan CO2. Dampak yang terjadi adalah tidak terbentuk asam malat dan tidak ada CO2 yang terurai dari asam malat yang akan digunakan untuk fotosintesis. Dampak akhir dari peristiwa ini adalah terhambatnya pertumbuhan kaktus (sukulen). Di sisi lain, laju pertumbuhan kaktus pada kondisi alami sangat lambat dan diperkirakan ada pertambahan 1-3 cm/tahun (Snyman 2013). Selain sukulen yang mempunyai pola fotosintesis CAM, kelompok tumbuhan anggrek juga demikian halnya bila terkena ALAN saat malam hari. Bila wisata Glow diberlakukan, maka pengikatan CO2 udara saat malam hari menjadi berkurang, karena tumbuhan kelompok sukulen terkena ALAN.

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan level fungsi KRB sebagai jasa lingkungan berupa pengurangan CO2 udara melalui pengikatan CO2 oleh tumbuhan. Sodani et al. (2021) membuat kaitan dampak cahaya buatan di malam hari (ALAN) pada proses sirkadian dan eko-fisiologis tumbuhan (Gambar 12). Gambar ini menunjukkan adanya beberapa gangguan yang terjadi karena ALAN.

Gambar 12 Dampak cahaya buatan di malam hari (ALAN) pada proses sirkadian dan eko-fisiologis tanaman (Sodani et al. 2021)

Dengan adanya ALAN di Kebun Raya Bogor pada jangka panjang sangat dimungkinkan muncul ekspresi sifat yang sebelumnya tidak pernah ada, karena ALAN menjadi faktor lingkungan yang menyebabkan tumbuhan stress. Penelitian yang dilakukan oleh Kwak et

tahun menunjukkan adanya radikal bebas pada sel-sel daun sebagai indikasi tumbuhan tersebut mengalami stres.

Semua hal ini menunjukkan bahwa pengaruh cahaya ALAN tidak dapat dianggap remeh.

Untuk mendapatkan data yang akurat, perlu dilakukan kajian yang mendalam mengenai pengaruh ALAN pada komunitas flora fauna di Kebun Raya Bogor , seperti yang tengah dilakukan LIPI/BRIN saat ini. Selain itu perlu juga diingat bahwa ada pengaruh cahaya ALAN yang tidak langsung yaitu dampak perubahan yang terjadi di dalam Kebun Raya Bogor terhadap ekosistem kawasan Bogor diluar Kebun Raya Bogor, seperti misalnya dapat terjadi melalui gangguan ecosystem service oleh kelelawar, lebah dan satwa lain, terhadap Kawasan pertanian di sekitar Bogor. Keadaan ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam Kebun Raya Bogor dapat memiliki dampak pada kawasan di luar Kebun Raya Bogor.

Interconnectedness ini tidak mudah dibaca oleh masyarakat awam.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa upaya pelestarian Kebun Raya Bogor dan stabilitasnya tak hanya cukup dilakukan dengan menata dan mengelola dalam kawasan Kebun Raya Bogor saja tetapi juga harus dikaitkan dengan wilayah lain di sekitarnya yang mendukung eksistensi Kebun Raya Bogor. Bagi Kota Bogor dan wilayah sekitarnya, Kebun Raya Bogor bukan hanya sebagai RTH yang indah dan membanggakan saja tetapi juga dapat memperkaya biodiversitas wilayah dan memperbaiki kualitas lingkungan secara signifikan. Kebun Raya Bogor diharapkan menjadi referensi untuk penataan ruang dan pengembangan kota dan wilayah. Isu Kebun Raya Bogor yang merupakan aset budaya bangsa dan Negara, dapat dijadikan momentum untuk membenahi total tata ruang kawasan sekitarnya dan yang mempengaruhinya.

Bogor sudah menjadi kota besar saat ini, tapi sepertinya juga tidak harus menghiraukan sesuatu yang telah setia mendampingi dan memberi manfaat sejak 204 tahun yang lalu.

Kelestarian Kebun Raya Bogor di tengah kondisi kota yang semakin berkembang, menjadi hal yang sangat penting bahkan prioritas. Di tengah bertambahnya jumlah penduduk dengan segala dampak yang ditimbulkannya, maka bertambah juga ruang yang ditempati.

Hal ini juga berdampak dengan semakin tingginya aktifitas yang ditimbulkan. Kebun Raya kemudian semakin terhimpit kondisi yang sama sekali tidak mendukung. Hal ini berpotensi negatif, karena letak kebun raya di pusat kota yang dikelilingi berbagai aktifitas dan fasilitas kota yang malah mengancam kelestarian Kebun Raya Bogor.

Jika demikian, lalu bagaimana dengan kondisi air tanah di dalam dan sekitar Kebun Raya Bogor. Juga dengan kondisi udara dan iklim yang saat ini ada. Semua kenyataan memaksa Kebun Raya Bogor harus berjuang sendirian. Tak ada penyangga yang mampu menjadi pendukung keberadaan dan kelestariannya. Padahal luas Kebun Raya Bogor adalah 87 ha, berada di tengah-tengah Kota Bogor yang memiliki luas sekitar 11.850 Ha. Suatu kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang cukup luas memang, tapi tetap tidak cukup untuk mendukung luas Kota Bogor, sedangkan kondisi ideal RTH sebuah kota menurut Undang- undang Penataan Ruang, adalah 20% dari luas kota. Jika dikalkulasikan, maka dibutuhkan sekitar 27 kebun raya lagi untuk mendukung luasan Kota Bogor.

Selain itu, jika kita mengacu pada arahan kebijakan pembangunan pemerintah pusat, saat ini rencana pembangunan setiap kota-kota besar harus mewakili keberadaan kawasan budaya di dalamnya. Hal ini termasuk juga Kota Bogor yang mempunyai tinggalan benda cagar budaya baik yang berdiri sendiri maupun dalam bentuk kawasan. Setiap kota besar seperti Bogor harus menentukan lokasi-lokasi kawasan budaya dan menentukan aturan dalam upaya pelestariannya. Dengan perjalanan sejarah dimiliki dan segala aset yang berada di dalamnya, Kebun Raya Bogor bukan hanya menjadi warisan budaya Kota Bogor saja, tapi levelnya sudah menjadi bagian dari warisan dunia. Sehingga jelas bagaimanapun berkembangnya Kota Bogor, banyak sekali alasan yang hadir untuk menjaga kelestarian Kebun Raya Bogor. Tidak hanya saat ini, tapi juga untuk tahun ke depan untuk generasi- generasi yang akan datang.

“Dr. David G Fairchild (1869-1954), a great botanist from USDA, yg mengunjungi Kebun Raya Bogor pada tahun 1896 menulis pada buku tamu: "I feel deeply indebted for the privilege granted me of spending eight months in

the most complete and the best equipped of Botanical Gardens in the world. I say this only after visiting over thirty-five of the best-known gardens in Europe and the East. I look forward to the time when they shall become

the great international centrum for biological investigation in the tropics."

Dalam dokumen KAJIAN ILMIAH : (Halaman 34-56)

Dokumen terkait