Koleksi tumbuhan di Kebun Raya Bogor dan pengaruh cahaya buatan pada malam hari (ALAN) 15 tumbuhan, satwa liar dan pengaruh adanya cahaya buatan pada malam hari (ALAN) 23 Pengaruh jenis cahaya dan variasi cahaya (ALAN) pada nokturnal satwa 24. Merupakan Kebun Raya Bogor (KRB) yang telah lama menjadi paru-paru Kota Bogor dengan berbagai fungsi dan keanekaragaman hayati. Kebun Raya Bogor juga mendistribusikan tanaman ini ke seluruh wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.
Kekayaan hayati dan plasma nutfah di Kebun Raya Bogor tidak bisa dipungkiri lagi. Dari segi pola ruang, Kebun Raya Bogor dan hutan CIFOR diklasifikasikan sebagai kawasan konservasi alam. Kebun Raya Bogor-lah yang sejak lama menjadi paru-paru Kota Bogor dengan berbagai fungsi dan keanekaragaman hayati.
Kelestarian Kebun Raya Bogor di tengah kota yang berkembang terlalu penting untuk diprioritaskan. Kebun Raya Bogor sebagai pusat kota dikelilingi oleh berbagai aktivitas dan fasilitas kota yang mengancam kelestariannya. Berkurangnya spesies satwa di Kebun Raya Bogor juga menjadi masalah yang sulit dipecahkan.
Keberadaan program wisata Glow di Kebun Raya Bogor selama ini menuai kritik pro kontra.
Koleksi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor dan Pengaruh Artificial Light at Night (ALAN)
ALAN), karena ALAN dapat mengubah irama jam biologis (ritme sirkadian) organisme khususnya tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Pada siang hari tumbuhan melakukan fotosintesis dan respirasi, dan pada malam hari tumbuhan bernafas dan mengeluarkan hasil fotosintesis (fotosintesis) pada malam hari. Jika ALAN pada malam hari yang seharusnya gelap, maka fotosintesis dapat terjadi sehingga mengurangi laju alokasi fotosintat.
Berdasarkan penelitian Kwak et al. 2018) pada pohon poplar kuning (Liriodendron tulipifera L.) yang diberikan ALAN 2 jam/hari selama 4 bulan pada periode malam gelap, ditemukan penurunan biomassa yang mengakibatkan penurunan. Selain mengurangi fotosintesis, pengobatan dengan ALAN pada poplar kuning juga terbukti menyebabkan stres. Jika sukulen terpapar ALAN pada malam hari, stomata menutup, sehingga CO2 dari udara tidak tertangkap.
Sebelum adanya program wisata Glow, ekosistem Kebun Raya Bogor dengan kumpulan tanamannya yang beragam mampu menyerap CO2 di udara pada siang dan malam hari. Jika Glow tour dilaksanakan, maka fiksasi CO2 udara pada malam hari akan berkurang karena tanaman sukulen terpapar ALAN. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan tingkat fungsional Kebun Raya Bogor sebagai jasa lingkungan berupa pengurangan CO2 udara melalui pengikatan CO2 oleh tumbuhan.
Keberhasilan Kebun Raya Bogor sebagai habitat konservasi ex-situ 1.500 jenis tumbuhan tidak lepas dari proses adaptasi koleksi tumbuhan di sana. Dengan demikian, adaptasi juga mengubah genetika koleksi tumbuhan generasi baru di Kebun Raya Bogor. Dengan hadirnya ALAN di Kebun Raya Bogor dalam jangka panjang, sangat memungkinkan terjadinya ekspresi sifat-sifat yang sebelumnya tidak ada, karena ALAN merupakan faktor lingkungan penyebab stres tanaman.
Penelitian yang dilakukan oleh Kwak et al. 2018) pada poplar kuning (Liriodendron tulipifera L.) yang diberi ALAN selama 2 jam selama 2 tahun menunjukkan adanya radikal bebas pada sel daun sebagai indikasi bahwa tanaman tersebut mengalami stres. Hal ini memerlukan kajian dari berbagai aspek agar tujuan utama Kebun Raya Bogor sebagai kawasan konservasi ex-situ tetap lestari. Jika ALAN tetap akan diadakan pada Glow Tour di Kebun Raya Bogor, maka perlu dipilih tempat dengan efek ALAN sekecil mungkin.
Tumbuhan, Satwa Liar & Pengaruh Keberadaan Cahaya Artificial LIght at Night (ALAN)
Sembilan spesies kelelawar Megachiroptera merupakan pemakan buah dan nektar, sehingga berfungsi sebagai penyerbuk dan penyebar biji. Spesies ini biasanya memiliki wilayah jelajah yang sempit, sehingga diperkirakan hidupnya di sekitar Kebun Raya. Kalong kapauk (Pteropus vampyrus) merupakan pemakan buah yang memiliki wilayah jelajah lebih luas dan masuk dalam Appendix II CITES.
Pengaruh Jenis dan Ragam Cahaya (ALAN) pada Satwa Nokturnal
Kelelawar ini memiliki kekhasan bertengger di pohon (beristirahat) dan di KRB diketahui hinggap pada 9 individu pohon (Soegiharto et al. 2019). Cahaya yang diarahkan ke bawah akan mempengaruhi serangga yang hidup di tanah, sedangkan cahaya yang diarahkan ke atas (misalnya lampu jalan atau lampu di pohon) akan mempengaruhi jalur terbang serangga (Owens & Lewis 2018). Secara umum, ALAN merupakan salah satu penyebab penurunan populasi serangga dunia (Owens et al. 2020, Stewart 2021).
ALAN meningkatkan daya tarik burung migran terhadap sumber cahaya menyebabkan burung rentan terbentur struktur bangunan, jauh dari hutan gelap, sehingga mempengaruhi kinerja terbang burung dan mempengaruhi rantai makanan di hutan. Sebagai hewan nokturnal, kelelawar merupakan kelompok hewan yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari ALAN. Kelelawar pemakan serangga jenis ini secara tidak langsung akan terpengaruh oleh keberadaan serangga yang terkena cahaya buatan.
Perubahan pola makan kelelawar pemakan buah akan mempengaruhi pola penyebaran benih di alam, sehingga berdampak berkelanjutan terhadap jasa lingkungan. Respons kelelawar terhadap ALAN sangat spesifik terhadap spesies (Rowse et al. 2016), sehingga penelitian spesifik spesies terpisah harus dilakukan untuk menentukan dampak penggunaan lampu buatan pada spesies tersebut. Kesehatan dan Ritme Sirkadian Cahaya memengaruhi banyak proses fisiologis yang memengaruhi kesehatan dan ritme sirkadian.
Pengaruh Cahaya terhadap Serangga
Kedatangan pertama koloni lebah di Kebun Raya Bogor biasanya terjadi pada bulan Mei/Juni. Di Kebun Raya Bogor, lebah hutan ini dapat bereproduksi dan membelah menjadi populasi baru. Selain itu, dalam upaya pemasangan lampu pijar di Kebun Raya Bogor beberapa waktu lalu, ditemukan juga A.
Kegiatan lighting di Singapura dilakukan di Gardens by the Bay yang kondisinya berbeda dengan Kebun Raya Bogor. Keadaan ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam Kebun Raya Bogor dapat mempengaruhi wilayah di luar Kebun Raya Bogor. Kelestarian Kebun Raya Bogor di tengah kota yang semakin berkembang menjadi sangat penting bahkan menjadi prioritas.
Jika demikian, lalu bagaimana dengan kondisi air tanah di Kebun Raya Bogor dan sekitarnya. Meskipun Kebun Raya Bogor memiliki luas 87 ha, namun terletak di pusat kota Bogor yang memiliki luas sekitar 11.850 ha. Jadi jelas bagaimana pun kota Bogor berkembang, banyak alasan untuk melestarikan Kebun Raya Bogor.
Kajian dari berbagai aspek harus dilakukan agar tujuan utama Kebun Raya Bogor sebagai kawasan konservasi ex-situ tetap lestari. Hal ini perlu ditinjau ulang dan dilihat apakah ada lokasi tertentu di Kebun Raya Bogor yang kurang merusak. Bahkan Kebun Raya Bogor juga menjadi tempat singgah hewan migrasi dari Pulau Rambut dan Ujung Kulon.
4 RTRW Kota Bogor menetapkan Kebun Raya Bogor sebagai kawasan konservasi untuk perlindungan plasma nutfah. 430.45-674 Tahun 2020 tentang penetapan satuan ruang geografis Kebun Raya Bogor sebagai kawasan cagar budaya yang dirangking oleh Kota Bogor. Pengelompokan kelelawar pemakan buah dan nektar berdasarkan karakteristik jenis pemakan polen di Kebun Raya Bogor, Indonesia.
Pelestarian Kebun Raya Bogor harus direncanakan lebih luas, sehingga tidak hanya wisata ALAN saja, tetapi berbagai intervensi. Kebun Raya Bogor yang megabiodiversitas tidak boleh dikerdilkan fungsinya sebagai taman rekreasi belaka.