Shinta 1) Shinta 1) , Bhisma Murti 2) , Nunuk Suryani 3)
5. Pengaruh antara pekerjaan dengan kualitas hidup
seseorang dapat memperbaiki dalam segi SDM, dan pola berfikir untuk lebih baik.
Sebagian responden juga berpendapat bahwa ODHA yang memiliki penghasilan lebih, maka mereka dapat menikmati hidupnya, walau ada sebagian tidak menikmati hidup tapi bagi mereka faktor finansial merupakan hal yang penting untuk kelangsungan hidupnya. Mereka berfikir ODHA adalah orang yang sakit dan kebutuhan mereka lebih banyak.
5. Pengaruh antara pekerjaan dengan kualitas hidup
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara positif antara pekerjaan dengan kualitas hidup tetapi secara statistik tidak signifikan dengan nilai p 0.41 hal ini terjadi dikarenakan kemungkinan kurangnya sampel yang digunakan, jika sampel penelitiannya ditambah kemungkinan besar dapat signifikan karena untuk nilai OR nya bagus yaitu 0.62 dengan rentang (0.16-2.36) yang artinya walau tidak signifikan tetapi memiliki nilai OR yang bagus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ODHA yang bekerja memiliki kualitas hidup yang baik dibandingkan dengan ODHA yang tidak bekerja.
Penelitian yang dilakukan oleh Nazir (2006) menyebutkan bahwa pekerjaan mempengaruhi kualitas hidup ODHA, yang berarti ODHA yang bekerja mendapatkan kualiats hidup yang baik, dikarenakan ODHA yang bekerja lebih memiliki harga diri dibandingkan dengan ODHA yang tidak bekerja sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya. Pekerjaan bagi ODHA sangat penting dikarenakan mereka tetap
membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya.
Kesimpulan dari penelitian ini dalah Menurut teori kualitas hidup yang disampaikan oleh Ventegodt (2003) menyebutkan bahwa kebahagiaan, dan kepuasaan, kepuasaan, kesejahteraan seseorang mempengaruhi kualiats hidup.
Variabel-varuabel diatas merupakan variabel yang dapat mempengaruhi kualitas hidup, yang dapat merubah dari aspek- aspek domain kualitas hidup.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang tidak signifikan antara sosio demografi dengan kualitas hidup, tetapi untuk nilai ORnya dikategorikan bagus dan mempunyai rentang yang tidak jauh, sehingga dapat disimpulkan bahwa mungkin sampel yang digunakan kurang, sehingga dengan penambahan sampel penelitian dapat menjadi signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Greff M, Uys L.R, Wantland D, Makoea L, Chirwa M, Dlamini P, et al. (2009).
Perceived HIV stigma and life satisfaction among persons living with HIV infection in five African countries : A longitudional Study.
International Journal Nursing Studies. www.elsevier.com/ijns/pdf . Accessed tanggal 24 Juli 2016.
Kemenkes RI. (2011). Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV Dan
Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa. Diunduh pada 25 Juni 2016.www.aidsindonesia.or.id
Komisi Perlindungan AIDS. (2010).
Strategi
Nasional Penanggulangan AIDS. ht tp://aids ina.org/modules.php?name
=News&file=article&sid=72.
Accessed tanggal 24 Juni 2016 Kosim N, Istiyani N, Komariyah G (2015).
Faktor yang mempengaruhi Kualitas Hidup Penduduk di Desa Sentul Kecamatan Sumbersuko Kabupaten Lumajang. Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015.
Michele G, Fitzgerald A, Bautista L, (2000). Risk factors for HIV among housewifes San Salvador : AIDS &
Antropology Buletin 12 (1).
Murti B. (2013). Desain Dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Di Bidang kesehatan. Surakarta: Gadjah Mada University Press.
Nazir KA. (2006). Penilaian Kualitas Hidup Pasca Bedah Pintas Koroner yang Menjalani Rehabilitas Fase III dengan Menggunakan SF-36 Jakarta: UI
Nojomi M, Anbary K. (2008). Health- Related Quality of Life in Patients with HIV/AIDS. Archives of Iranian Medicine. Vol 11 (6).
Accessed tanggal 24 Juli 2016.
Profil Kesehatan Profinsi Jawa Timur Tahun 2016 tentang Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS, dan Infeksi Menular Seksual lainnya menurut Jenis kelamin dan Kabupaten/Kota.
Uvikacansera S, (2010). Setiap Menit Lima Orang Terinfeksi HIV/AIDS. Diun duh pada tanggal 15 Juli 2016 dari bataviase.co.id.content.setiap- menit.
Ventegodt, A.J. (2003). Quality of Life Theory I. The IQOL Theory: An Integrative Theory of The Global Quality of Life Concept. Research Article. The Scientific World Journal 1030 1040. ISSN 1537 744 X; doi 10.1100/tsw.2003.82.
WHO (2015). Global Summary of The AIDS
Epidemic 2015. www.who.int.hiv.d ata.epi core 2016.png. Diakses tanggal 8 November 2016.
Zango A, Dube´ K, Kelbert S, Meque I, Cumbe F, et al. (2013).
Determinants of Prevalent HIV Infection and Late HIV Diagnosis among Young Women with Two or More Sexual Partners in Beira, Mozambique.
PloS ONE 8(5): e63427. doi:10.137 1/journal.pone.0063427
PENGARUH FAKTOR PSIKOLOGI DAN NUTRISI SELAMA KEHAMILAN TERHADAP KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA Yespy Anna Wahyu Nurindahsari1) Bhisma Murti2) Eti Poncorini Pamungkasari3)
1STIKes Guna Bangsa Yogyakarta, [email protected]
2Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected]
3Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected]
ABSTRAK
PENDAHULUAN Sepertiga jumlah kematian anak di dunia dikarenakan kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh faktor psikologi, LLA, pertumbuhan janin dan BBLR terhadap gizi buruk balita. Studi ini meneliti faktor-faktor sepanjang hayat yang menyebabkan gizi buruk.
METODOLOGI PENELITIAN studi ini analitik observasional. Variabel meliputi faktor psikologis, LLA, pertumbuhan janin, BBLR dan status gizi buruk. Sampel dipilih secara fix exposure sampling sejumlah 150 dengan perbandingan 1:2. Teknik pengumpulan data menggunakan keusioner, dan rekam medis (buku KIA).
HASILada pengaruh psikologis (b= 1.60; CI= 0.53 sampai 2.66; p= 0.003), LLA (b= - 3.35; CI= -4.40 sampai -2.31; p= <0.001), pertumbuhan janin (b= 5.95; CI= 3.88 sampai 8.03; p= <0.001) dan BBLR terhadap gizi buruk pada balita (b= 2.26; CI=
1.33 sampai 3.19; p= <0.001).
DISKUSIgizi buruk disebabkan dari masa. Kondisi tidak menguntungkan selama kehamilan dapat berakibat gizi buruk lima tahun pertama pertumbuhan balita.
KESIMPULAN ada pengaruh faktor psikologi, LLA, pertumbuhan janin dan BBLR terhadap gizi buruk pada balita.
Kata Kunci; faktor psikologis, nutrisi, gizi buruk
PENDAHULUAN
Sepertiga dari jumlah kematian anak di dunia dikarenakan kekurangan gizi (Kemenkes, 2015a). Usia anak dibawah lima tahun merupakan tahapan perkembangan anak yang rentan terhadap penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan kekurangan atau kelebihan asupan nutrisi (Kemenkes, 2015b).
Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009, salah satu indikator yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan masyarakat adalah angka status gizi. Status gizi balita diukur dengan prevalensi angka stunting (tinggi badan menurut umur), underweight (berat badan menurut umur) dan wasting (berat badan menurut tinggi badan) (Dewan Ketahanan Pangan, 2015).
Stresor dan lingkar lengan atas kurang dari 23.5 cm yang dapat mempengaruhi kehamilan. Stres yang dialami oleh ibu hamil dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin. Stres yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin.
Janin akan lahir dengan berat badan rendah ditunjang dengan asupan nutrisi yang tidak mencukupi saat balita maka akan terjadi malnutrisi (National Institute for Health, 2007).
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh faktor psikologi, lingkar lengan atas (LLA), pertumbuhan janin dan berat badan lahir rendah terhadap kejadian gizi buruk pada balita.
METODE PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini adalah malnutrisi pada balita. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan case control. Penelitian
dilaksanakan di Kabupaten Klaten.
Variabel pada penelitian ini adalah paparan stress pada masa kehamilan, lingkar lengan atas (LLA), pertumbuhan janin, berat badan lahir rendah dan gizi buruk pada balita.
Sampel dipilih secara fix exposure sampling, dengan perbandingan 1: 2 untuk subjek kasus dan kontrol, sejumlah 150 subjek. Teknik pengumpulan data menggunakan keusionerdan rekam medis (buku KIA). Data dianalisis menggunakan Analisis Regresi Logistik dengan pendekatan Analisis Jalur menggunakan program STATA 13. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Klaten. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini : 1. Gizi buruk pada balita adalah status
gizi anak usia 0- 60 bulan kurang dari normal pada berdasarkan indikator berat badan menurut umur.
2. Faktor psikologis saat kehamilan adalah dukungan pasangan atau keluarga, kondisi lingkungan tempat tinggal dan budaya yang mengganggu keadaan psikologis ibu hamil.
3. Lingkar lengan atas (LLA) adalah besar lingkar lengan atas ibu semasa hamil yang diukur dengan melingkarkan pita lila pada pertengahan akromnion (ujung bahu) dan oliganon (siku) dalam satuan sentimeter. Data besar lingkar lengan atas dilihat dalam catatan rekam medis ibu (buku KIA) selama kehamilan.
4. Pertumbuhan janin adalah pertumbuhan janin dilihat dari tafsiran berat badan janin berdasarkan umur kehamilan.
5. Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah berat badan saat bayi dilahirkan kurang dari 2500 gram.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengolahan data analisis jalur menggunakan program STATA-13 diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Spesifikasi model
Spesifikasi model menggambarkan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Penelitian ini memliki variabel eksogen yaitu faktor psikologi dan lingkar lengan atas serta variabel endogen yaitu pertumbuhan janin, berat badan lahir rendah dan gizi buruk (BB/U).
2. Identifikasi model
Tahap ini dilakukan dengan penghitungan degree of freedom (df) yang menunjukkan apakah penelitian
tersebut dapat dianalisis menggunakan analisis jalur atau tidak. df harus bernilai ≥0. Penelitian ini memiliki:
a. Variabel terukur : 5 b. Variabel eksogen : 2 c. Variabel endogen :3 d. Parameter penelitian : 4
Rumus degree of freedom (df) adalah sebagai berikut :
df = ( jumlah variabel terukur x ( jumlah variabel terukur + 1) / 2 – ( variabel endogen + variabel eksogen + jumlah parameter)
df = (5x6)/2 – ((3+2+4) = 15-9
= 6 3. Kesesuaian model dengan estimasi parameter
Gambar 1Model struktural dengan estimatimasi koefisien jalur Gambar 1 menunjukkan model structural
setelah diolah menggunakan STATA 13 dan didapatkan nilai seperti tertera dalam gambar tersebut. Indikator yang
menunjukkan kesesuaian model analisis jalur dapat dilihat dalam tabel 1 seperti berikut.
bbu_dik
binomial
logit -2.5
bbl_dik
binomial
logit -2.1
tfu_dik
binomial
logit .43
psikoNew
binomial
logit
lla_dik
binomial
logit
2.3 6 1.6
-3.4
Tabel 1 Hasil analisis jalur gizi buruk pada balita
Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa : a. Ada pengaruh langsung positif antara
berat badan lahir rendah dengan gizi buruk pada balita dan secara statistik signifikan. Anak balita dengan berat badan lahir rendah (BBLR) rata-rata memiliki logodd gizi buruk (BB/U) 2.26 poin lebih tinggi daripada balita dengan berat badan lahir normal (b=
2.26; CI= 1.33 sampai 3.19; p=
<0.001). Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh langsung antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan gizi buruk pada balita. Balita dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram rentan terkena penyakit diare dan ISPA, saat balita sedang sakit nafsu makan menjadi berkurang serta terjadi dehidrasi yang menyebabkan balita kekurangan berat badan. Asupan nutrisi yang optimal mempengaruhi pertumbuhan fisik balita. Asupan nutrisi yang sesuai dengan angka kecukupan gizi dapat menurunkan kejadian malnutrisi.Balita yang mengalami infeksi saluran pencernaan dapat mengalami gangguan pencernaan
dan absorbsi makanan. Hal ini dapat berpengaruh pada jumlah kalori yang mampu diserap oleh tubuh, jumlah kalori yang tidak dapat mencukupi aktivitas tumbuh kembang menyebabkan terjadinya malnutrisi (Aquino, 2011).
b. Ada pengaruh tidak langsung positif antara pertumbuhan janin dengan gizi buruk pada balita melalui berat badan lahir rendah (BBLR) dan secara statistik signifikan. Pertumbuhan janin yang tidak sesuai umur kehamilan rata- rata memiliki logodd berat badan lahir rendah 5.95 poin lebih tinggi dari pada ibu hamil dengan pertumbuhan janin yang sesuai umur kehamilan. (b= 5.95;
CI= 3.88 sampai 8.03; p= <0.001).
Anak balita dengan berat badan lahir rendah rata-rata memiliki logodd gizi buruk (BB/U) 2.26 poin lebih tinggi daripada balita dengan berat badan lahir normal (b= 2.26; CI= 1.33 sampai 3.19; p= <0.001). Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh antara pertumbuhan janin dengan kejadian gizi buruk pada balita Penelitian ini
Variabel Koef Jalur
CI (95%) Batas Bawah Batas P
Atas Pengaruh Langsung
Gizi buruk BBLR 2.26 1.33 3.19 <0.001
Pengaruh Tidak Langsung
BBLR TFU < umur kehamilan 5.95 3.88 8.03 <0.001
TFU < umur kehamilan
Stres saat kehamilan 1.60 0.53 2.66 0.003
LLA > 23.5 -3.35 -4.40 -2.31 <0.001 Likelihood = -157.59
AIC = 329.17 BIC = 350.24
sejalan dengan penelitian Black et al (2008), janin yang kekurangan nutrisi akan mengalami keterlambatan pertumbuhan. Keterlambatan pertumbuhan menyebabkan bayi lahir dengan BBLR sehingga terjadi peningkatan kejadian asfiksia dan penyakit infeksi. Bayi yang mengalami penyakit infeksi berpengaruh kuat terhadap kejadian malnutrisi.
c. Ada pengaruh tidak langsung positif antara stres saat kehamilan dengan gizi buruk pada balita melalui pertumbuhan janin serta berat badan lahir rendah (BBLR) dan secara statistik signifikan.
Ibu yang mengalami stres saat kehamilan rata-rata memiliki logodd tinggi fundus uteri (TFU) yang tidak sesuai dengan umur kehamilan 1.60 poin lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengalami stres saat kehamilan (b= 1.60; CI= 0.53 sampai 2.66;
p=0.003). Pertumbuhan janin yang tidak sesuai umur kehamilan rata-rata memiliki logodd berat badan lahir rendah 5.95 poin lebih tinggi dari pada ibu hamil dengan pertumbuhan janin yang sesuai umur kehamilan (b= 5.95;
CI= 3.88 sampai 8.03; p=
<0.001).Anak balita dengan berat badan lahir rendah rata-rata memiliki logodd gizi buruk (BB/U) 2.26 poin lebih tinggi daripada balita dengan berat badan lahir normal (b= 2.26; CI=
1.33 sampai 3.19; p= <0.001). Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh antara faktor psikologis saat kehamilan dengan kejadian gizi buruk pada balita.
Penelitian Evans et al (2001), juga menyatakan bahwa perubahan fisik dan emosi semakin meningkat pada
trimester III. Trimester ini menyebabkan ibu harus beradaptasi dengan keluhan-keluhan fisik yang semakin meningkat sehingga meningkatkan pula keluhan psikis seperti rasa cemas, resah dan takut akan kehamilannya. Ibu yang mengalami kecemasan akan meningkatkan hormon oksitosin yang dapat memacu persalinan preterm (Araujo et al, 2007).
d. Ada pengaruh tidak langsung negatif antara lingkar lengan atas (LLA) normal dengan pertumbuhan janin yang kurang dari umur kehamilan dan secara statistik signifikan. Ibu dengan lingkar lengan atas (LLA) normal rata-rata memiliki logodd TFU yang tidak sesuai umur kehamilan 3.35 lebih rendah dibandingkan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) (b= - 3.35; CI= -4.40 sampai -2.31; p=
<0.001).Anak balita dengan berat badan lahir rendah rata-rata memiliki logodd gizi buruk (BB/U) 2.26 poin lebih tinggi daripada balita dengan berat badan lahir normal (b= 2.26; CI=
1.33 sampai 3.19; p= <0.001). Hasil studi menunjukkan ada pengaruh antara lingkar lengan atas dengan gizi buruk pada balita. Ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) ditandai dengan hasil pengukuran lingkar lengan atas < 23.5 cm.
Penyebab KEK adalah asupan energi dan protein yang tidak mencukupi saat kehamilan. Ibu hamil dengan KEK beresiko melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah karena selama dalam kandungan janin akan mengalami keterlambatan pertumbuhan. Bayi yang terlahir
dengan BBLR dapat menyebabkan gangguan perkembangan dan pertumbuhan salah satunya adalah malnutrisi (Kemenkes, 2016).
4. Respesifikasi model
Model dalam penelitian ini sudah sesuai dengan data sampel sebagaimana ditunjukkan oleh model saturasi dan koefisien regresi logistik yang bernilai lebih dari nol, maka tidak perlu dibuat ulang model analisis jalur yang lain.
KESIMPULAN
Ada pengaruh antara faktor psikologi, lingkar lengan atas (LLA), pertumbuhan janin dan berat badan lahir rendah (BBLR) terhadap gizi burukpada balita dan secara statistik signifikan. Faktor yang paling berpengaruh yang menyebabkan gizi buruk pada balita adalah pertumbuhan janin yang lebih kcil dari umur kehamilan (IUGR).
REFERENSI
Araujo DM, Pereira NL, Kac G (2007).
Anxiety during pregnancy, prematurity, and low birth weight:
A Systematic Literature Review.
Cad Saude Publica.
De Aquino RC, Phillippi ST. Identification of malnutrition risk factors in hospitalized patients. Review Association Medical Bras. 2011;
57(6): 623-9.
Dewan Ketahanan Pangan, World Food Programe (2015). Peta Ketahanan Pangan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2015. Jakarta: Dewan Ketahanan Pangan.
Institute of Medicine (2005). Dietary Reference Intake for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids. A Report of the Panel on Macronutrients, Subcommittees on Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of Dietary Reference Intakes, and the Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes. Washington DC: National Academic Press.
Kemenkes RI (2015) a. Situasi dan Analisis Gizi. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
_____________(2015) b. Situasi Kesehatan Anak Balita di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
_____________(2016) . Situasi Gizi di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementrian Kesehatan RI (2009). Undang- undang No.36 Tahun 2009 tentang kesehatn. Jakarta.
Robert E Black, Lindsay H Allen, Zulfiqar A Bhutta, Laura E Caulfield, Mercedes de Onis, Majid Ezzati, Colin Mathers, Juan Rivera (2008).
Maternal and child undernutrition:
global and regional exposures and health consequences. Maternal and Child Undernutrition 1. The lancet.
HAMBATANDAN MANFAAT DALAM PROGRAM SKRINING INFEKSI ENULAR SEKSUAL DENGAN VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING BAGI NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN
WANITA KLAS II A KOTA MALANG
Rosyidah Alfitri1), Argyo Demartoto2), Eti Poncorini Pamungkasari3
1) Diploma III Kebidanan Poltekkes RS dr Soepraoen Malang
2) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta
3) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta [email protected]
ABSTRAK
Permasalahan IMS dan HIV ini merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang sangat penting. Berdasarkan penelitian prevalensi HIV dan Sifilis pada narapidana pria 1,1% dan 5,1% sedangkan pada narapidana perempuan lebih tinggi yaitu mencapai 6% dan 8,5%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplor hambatan dan manfaat dalam program skrining IMS dengan VCT bagi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Kota Malang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan kunci dalam penelitian ini adalah petugas kesehatan poliklinik LP Wanita Klas II A Kota Malang yang kemudian mengarahkan kepada tim IMS mobile Puskesmas Arjuno Kota Malang dan narapidana yang mengikuti skrining. Cakupan rata-rata dalam setiap bulannya 21 WBP yang mengikuti VCT, belum semua WBP mengikuti tes HIV. Hambatan dalam pelaksanaan program skrining IMS dengan VCT ini terdiri dari keterbatasan sarana prasarana, tenaga kesehatan, dan waktu pelaksanaan. Manfaat dari program ini diantaranya aspek kasus, pengobatan, efisiensi dan skill.Hasil temuan ini didapatkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam kepada informan kunci, utama dan pendukung.
Hambatan dariprogram skrining IMS dengan VCT di LP Wanita Klas II A Kota Malang terdiri dari sarana praarana, tenaga kesehatan dan waktu. Manfaat dari program ini diantaranya aspek kasus, pengobatan, efisiensi dan skill.
Kata Kunci: hambatan, skrining IMS dengan VCT
PENDAHULUAN
Infeksi menular seksual merupakan rangkaian penyakit dengan berbagai etiologi infeksi, dimana penularan melalui hubungan seksual berperan utama dalam epidemiologi, meskipun terkadang penularannya melalui cara yang berbeda seperti dari ibu ke anak melalui darah dan transfer jaringan. Risiko penularan IMS yang tidak diketahui oleh kelompok yang berisiko, serta rendahnya kesadaran dalam pemeriksaan secara sukarela, dengan demikian kasus Acquired Immuno- deficiency Syndrome masih banyak ditemukan pada stadium lanjut di Rumah Sakit. Untuk memperkuat upaya pengendalian IMS dan HIV AIDS di Indonesia, kita dapat menggunakan cara dengan memadukan upaya pencegahan dengan perawatan dimana keduanya merupakan cara yang efektif yang saling melengkapi (Kemenkes, 2011; Diez et al, 2011).
Pelaporan dan pemeriksaan IMS secara rutin tidak hanya dilakukan pada masyarakat umum saja namun di Lembaga Pemasyarakatan juga sangat diperlukan.
Karena warga binaan dalam hal ini narapidana maupun tahanan menghadirkan persoalan dan tantangan tertentu bagi pihak petugas Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas dikarenakan latar belakang maupun profil dan penyebab dipenjarakan para penghuni Lapas yang beragam. Kesalahan- kesalahannya sebagian besar adalah pengguna narkoba dengan cara suntik adalah pengguna narkoba suntik atau berlatarbelakang pekerja seksual yang jumlahnya tidak sedikit. Ketika mereka berada dalam Lapas tentunya membutuhkan dukungan psikologis,
perawatan dan kesehatan serta sosial yang berbeda bentuk penangannya dari penghuni Lapas laki-laki (UNAIDS, 2008).
Prevalensi HIV dan Sifilis pada narapidana pria adalah 1,1% dan 5,1%, sedangkan pada narapidana wanita lebih tinggi yaitu mencapai 6% dan 8,5%
(Kemenkes RI & Kemenkumham RI, 2012). Di Kota Malang orang dengan HIV terdapat penurunan pada 3 tahun terakhir, pada tahun 2014 adalah 466 orang, tahun 2015 adalah 304.
Penyediaan fasilitas pelayanan kese- hatan yang terjangkau dan dapat diman- faatkan secara efektif merupakan hal yg utama dalam upaya pemberantasan dan penanggulangan IMS. Di negara maju maupun berkembang, pemeriksaan IMS dapat dipilih oleh pasien IMS dengan kemungkinan tiga pilihan diantaranya:
pengobatan yang dilakukan Klinik Pemerintah (bila di Indonesia, diberikan oleh Rumah Sakit Pemerintah atau Puskesmas), Klinik Swasta atau sektor informal. Dalam menjamin terlaksananya program IMS perlu untuk diketahui bahwa pasien IMS akan mencari kombinasi dari ketiga tempat pemeriksaan. Dalam pere- ncanaan program yang paripurna perlu dilaksanakan kegiatan dalam meningkatkan kompetensi petugas kesehatan agar mampu memberikan pelayanan IMS yang baik (Kemenkes, 2011).
Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai hambatan dan manfaat dari program skrining IMS dengan VCT di LP Wanita Klas II A Kota Malang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Peneliti menggali informasi kepada informan mengenai hambatan- hambatanserta manfaaat atas pelaksanaan skrining IMS dengan VCT di LP Wanita Klas II A Kota Malang. Informan tersebut dari petugas kesehatan dan pejabat lapas, tim IMS Mobile Puskesmas Arjuno Kota Malang dan Narapidana.
Informan dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria pelaksana pro- gram baik dari lapas maupun Puskesmas dan narapidana yang telah mengikuti skrining IMS dan VCT. Informan terdiri dari informan kunci, yaitu petugas kese- hatan Lapas yang mengarahkan kepada informan utama dan triangulasi. Informan utama terdiri dari tim IMS mobile puskes- mas Arjuno Kota Malang dan narapidana yang mengikuti skrining. Informan tri- angulasi dalam penelitian ini merupakan pejabat LP Wanita Kota Malang.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi.
Peneliti menggunakan instrumen berupa panduan wawancara, dan instrumen lain menggunakan alat perekam suara serta kamera, catatan lapangan hasil observasi.
Dari data penelitiankemudian dianalisis, dilakukan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang didapatkan dilakukan triangulasi untuk memastikan informasi yang didapatkan (Idrus, 2009; Miles dan Huberman, 2014).
HASIL
Hambatan dalam program skrining IMS dengan VCT di LP Wanita Klas II A Kota Malang terdiri dari beberapa diantaranya:
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, hambatan pada kegiatan skrining IMS dengan VCT itu terletak pada sarana prasarana Lapas terkait tidak adanya Laboratorium dan tenaga analis laborat, selain dari pihak Lapas, hambatan juga muncul pada pihak tim IMS/
VCT mobile Puskesmas Arjuno Kota Malang diantaranya adalah tidak ada tim khusus untuk layanan Mobile, sehingga tenaga kesehatan dalam tim mempunyai peran yang juga penting dalam menjalankan layanan kepada masyarakat dalam Puskesmas dan menjalankan masing- masing program yang menjadi tanggung jawab mereka. Sehingga hal ini membuat jadwal pelaksanaan juga tidak dapat dipastikan atau sesuai dengan kesepakatan awal yaitu hari Jumat minggu ketiga setiap bulannya. Dari hambatan-hambatan tersebut juga menyebabkan pada jumlah keikutsertaan WBP tidak dapat maksimal.
Berdasarkan wawancara mendalam yang dilakukan pada para informan Hambatan dalam program skrining IMS dengan VCT di LP Wanita Klas II A Kota Malang pada sarana prasarana yang dimiliki oleh poliklinik LP Wanita Kota Malang yaitu tidak tersedianya laboratorium dan tenaga laboran. Kemudian jadwal IMS mobile dari Puskesmas Arjuno Kota Malang hanya satu bulan sekali karena tidak adanya petugas khusus yang bertugas di IMS mobile sehingga menyesuaikan waktu kegiatan di dalam Puskesmas, kemudian tenaga laboran Puskesmas hanya satu, sehingga bila skrining IMS Mobile dilaksanakan maka