• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 PENGOLAHAN JAGUNG

4.2.3 Diagram Alir

4.2.3.7 Pengemasan

Pengemasan adalah teknik perlindungan atau pengawetan produk olahan bahan pangan maupun non-pangan. Pengemasan berfungsi sebagai pelindung produk dari factor eksternal seperti suhu, kelembapan dan benturan serta mengurangi resiko kerusakan akibat oksidasi produk. Pengemasan berfungsi lain sebagai identitas produk sehingga produk mudah dikenal oleh konsumen.

Pengemasan harus sesuai dengan karakteristik produk yang meliputi keamanan, ukuran, bentuk, berat, dan operasional (Safnowandi et.al., 2022).

Olahan Jagung siap oven 28,80 Kg

Olahan Jagung siap kemas

27 Kg Uap 1,8 liter Oven

120 menit

Gambar 4.2.3.6 a Pengovenan Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pengemasan menggunakan plastik Polyetilene bertujuan untuk menjaga kerenyahan olahan Jagung. Plastik Polyetilene mencegah udara lingkungan merusak olahan Jagung karena plastik Polyetilene bersifat kaku dan memiliki ketahanan yang tinggi. Proses pengemasan disajikan pada Gambar 4.2.3.7 a sebagai berikut:

Pada olahan bahan pangan jagung, pengemasan. Olahan bahan pangan yang telah dikemas diseller untuk menjaga kualitas produk agar tetap renyah. Pada kemasan olahan bahan pangan dipasang label yang berfungsi sebagai identitas produk olahan. Olahan Jagung siap kemas sebanyak 27 Kg dikemas dilakukan dengan menggunakan plastic Polyetilen ukuran 250 gram dan 100 gram. Hasil yang diperoleh pada kemasan 0,25 Kg adalah 58 pcs, dan kemasan 0,1 Kg adalah 12 pcs dengan sisa 0,5 Kg. Neraca massa proses pengemasan disajikan pada Gambar 4.2.3.7 b sebagai berikut:

Olahan Jagung yang dihasilkan berdiameter 1 cm dengan panjang rata-rata 2 cm. Pada olahan Jagung yang dihasilkan terdapat perbedaan ukuran panjang yang disebabkan ketidaksamaan pemotongan oleh pisau potong pada mesin extruder. Olahan Jagung dengan ukuran pendek didapatkan saat proses berlangsung 7 menit sehingga panas mesin belum merata. Gambar olahan Jagung disajikan pada Gambar 4.2.3.7 c sebagai berikut:

Gambar 4.2.3.7 a Pengemasan Sumber: Dokumentasi Pribadi

Olahan Jagung siap kemas 27 Kg

Kemasan 0,25 Kg 58 pcs Kemasan 0,1 Kg

12 pcs Olahan cacat

0,5 Kg Gambar 4.2.3.7 b Neraca Massa Proses Pengemasan

Gambar 4.2.3.7 C Olahan Jagung Sumber: Dokumentasi Pribadi

BAB V

KINERJA MESIN EXTRUDER 5.1 Mesin Extruder

5.1.1 Prinsip Kerja

Mesin extruder bekerja dengan prinsip pemberian tekanan dan suhu tinggi pada bahan yang diolah. Tekanan tinggi berfungsi untuk pembentukan bahan yaitu beras Jagung. Tekanan tinggi pada screw merubah bahan beras Jagung menjadi bentuk gelaten. Bentuk tersebut dipengaruhi oleh suhu yang tinggi sehingga terjadi perekatan antar partikel. Ukuran bahan saat didalam mesin adalah 0,5 cm yang keluar dari mesin extruder melalui saluran die dan dipotong oleh pisau pemotong sehingga menghasilkan ukuran 1 cm. Perubahan ukuran disebabkan perbedaan tekanan dan suhu antara mesin extruder dan ruang operasi.

Menurut Yuzan (2021) Mesin extruder adalah mesin pengolah material yang merubah bentuk material. Bentuk material yang dapat dirubah menggunakan mesin extruder antara lain adalah perubahan bentuk padat menjadi cair, padat menjadi padat dengan tingkat elastisitas yang berbeda. Proses perubahan bentuk material pada mesin extruder disebut proses ekstrusi. Pada proses ekstrusi terjadi pemanasan material hingga mencapai titik leleh dan melebur karena panas gesekan dalam mesin. Hasil leburan tersebut dialirkan pada cetakan oleh screw sehingga menghasilkan perubahan bentuk material yang sesuaii bentuk lubang atau die. Pada proses ekstrusi terjadi pindah panas yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus Q = m.∆T.

Menurut Nurirmala (2014) Proses ekstrusi pada bahan pangan dapat berlangsung pada bahan pangan dengan kandungan pati yang tinggi seperti Jagung. Ekstrusi bahan pangan merupakan proses pembentukan bahan pangan dengan cara pemaksaan bahan pangan untuk mengalir pada pengaruh satu ataupun lebih kondisi. Kondisi pada proses ekstrusi meliputi pencampuran (mixing), oemanasan dan pemotongan (shear) yang melalui cetakan. Proses ekstrusi umumnya mengandung kadar protein yang rendah. Bahan baku yang digunakan pada proses ekstrusi umumnya berupa biji-bijian. Pada proses ekstrusi Jagung menghasilkan olahan yang renyah karena Jagung brsifat mudah puffing.

Menurut Santoso dan Pajar (2020) Ekstrusi adalah proses yang melibatkan pencampuran kering, granulasi basah. Proses ekstrusi merupakan proses shaping dengan penerapan tekana tinggi yang menggunakan peralatan dengan desain khusus. Pada proses ekstrusi dilakukan pemanasan pendahuluan yang bertujuan untuk memanaskan elemen peralatan. Pada proses ekstrusi terjadi perubahan pada olahan yang meliputi gelatinisasi pati dan denaturasi protein. Olahan yang diolah melalui proses ekstrusi diijinkan dengan atau tanpa melalui proses penggorengan. Hal tersebut karena olahan yang melalui proses ekstrusi mengembang dari bentuk semula yang berupa biji-bijian.

Menurut Rudini dan Fitriyono (2013) Bahan yang diolah melalui proses ekstrusi umumnya memiliki kandungan amilosa yang tinggi. Kandungan amilosa yang tinggi menghasilkan olahan mengembang dan renyah. Olahan ekstrudat menghasilkan warna memudar dari warna bahan baku akibat proses peleburan dan pengembangan bahan.

5.1.2 Spesifikasi

Mesin extruder yang digunakan dalam pengolahan Jagung di BPSIP Jawa Timur diproduksi di Kediri Jawa Timur pada tahun 2007. Transmisi daya pada mesin extruder terjadi pada motor bersumber arus listrik. Dalam memproduksi 25 Kg beras Jagung berlangsung selama 30 menit dimana 5 menit mesin dipanaskan dan 25 menit mesin beroperasi mengolah beras Jagung. Bagian yang berpengaruh terhadap kinerja mesin extruder adalah screw, barrel, dan die.

Adapun spesifikasi dari mesin Extruder meliputi dimensi, daya, kecepatan putar, penggerak, jumlah ulir, jenis ulir, dan diameter die. Spesifikasi mesin extruder disajikan pada Tabel 5.1.2 sebagai berikut:

Tabel 5.1.2 Spesifikasi Mesin Extruder

Spesifikasi Keterangan

Dimensi 1,1 m x 0,8 m x 1,6 m

Daya 7 HP

Kecepatan putar 2600 rpm

Penggerak Motor listrik Nanyang Electric Machine Jumlah ulir 19 ulir

Jenis ulir Ulir tunggal Diameter die 0,5 cm

Screw adalah komponen mesin extruder yang berfungsi sebagai pendorong, pemotong dan pengaduk bahan baku proses ekstrusi. Screw terletak di dalam barrel. Diameter pada screw berpengaruh terhadap laju aliran proses ekstrusi.

Pemilihan diameter screw didasarkan pada rasio perbandingan (L/D). Pada proses ekstrusi bentuk olahan sulit didapatkan dimensi yang akurat akibat kecepatan putar screw dan tinggi tekanan serta suhu yang digunakan sehingga sering menghasilkan olahan yang cacat dengan dimensi yang berbeda-beda (Suryana, 2019). Screw pada mesin extruder di BPSIP Jawa Timur disajikan pada Gambar 5.1.2 a sebagai berikut:

Barrel adalah ruang pemanas yang memberikan tekanan dan suhu tinggi pada bahan baku proses ekstrusi. Pada barrel terdapat screw yang berputar menekan bahan baku. Barrel berfungsi sebagai tempat proses plastisisasi. Pada barrel mesin extruder terjadi perpindahan panas dari dinding barrel ke bahan baku.

Panas pada barrel merupakan panas yang dihasilkan oleh mesin dengan sumber daya listrik (Yuzan, 2021). Pada barrel terdapat die yang menekan bras jagung.

Adapun gambar barrel pada mesin extruder disajikan pada Gambar 5.1.2 b Gambar 5.1.2 a Screw

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Die adalah lubang keluaran pada mesin extruder. Diameter die berbeda-beda pada setiap mesin extruder yang disesuaikan dengan kebutuhan proses ekstrusi.

Die berbentuk piringan atau silinder dengan lubang cetakan. Fungsi die adalah sebagai pembentuk atau pencetak bahan pada proses ekstrusi. Die merupakan komponen mesin extruder pada proses paling akhir. Die dilengkapi dengan saringan yang berfungsi sebagai penahan olahan agar tidak tercecer (Ikam, 2016).

Gambar die pada mesin extruder di BPSIP Jawa Timur disajikan pada Gambar 5.1.2 c sebagai berikut:

5.1.3 Bagian-bagian Mesin

Bagian-bagian mesin extruder disajikan pada Gambar 5.1.3 sebagai berikut:

Gambar 5.1.3 Bagian-bagian mesin Extruder 1 2

6 5

8

9

7 4

Gambar 5.1.2 b Barrel Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 5.1.2 c Die Sumber : Dokumentasi Pribadi

10

3

Adapun fungsi bagian-bagian dari mesin extruder adalah sebagai berikut:

1. Hopper, berfungsi sebagai tempat pemasukan bahan pengolahan.

2. Screw, berfungsi sebagai penekan dan pemecah bahan.

3. Die, berfungsi sebagai jalan keluar bahan yang telah terbentuk.

4. Motor, berfungsi sebagai penggerak screw.

5. Tuas, berfungsi sebagai pengatur kecepatan screw.

6. Jaring penahan, berfungsi sebagai penahan olahan bahan dari die.

7. Rangka, sebagai penyangga dan penopang mesin.

8. Listrik, sebagai sumber energi.

9. Pengunci, sebagai pengunci dan penguat komponen mesin extruder.

10. Barrel, sebagai tempat perpindahan panas.

5.2 Ekstrusi Jagung 5.2.1 Bahan Baku

Bahan yang digunakan dalam ekstrusi bahan adalah beras Jagung. Jagung yang digunakan adalah Jagung dengan kualitas rendah. Penggunan Jagung dengan kualitas rendah bertujuan untuk meningkatkan nilai guna Jagung tersebut.

Jagung kualitas rendah memiliki ukuran yang lebih kecil sehingga bernilai rendah saat dijual. Jagung kualitas rendah disebabkan kurangnya nutrisi dalam pembudidayaan dan pengaruh hama penyakit tanaman. Jagung kualitas rendah memiliki kandungan karbohidrat yang masih tinggi sehingga dapat diolah menjadi olahan bahan pangan.

Jagung memiliki kandungan gizi utama berupa pati sebesar 72-73% dengan kandungan amilosa sebesar 25-30% serta amilopektin sebesar 70-75%. Kadar karbohidrat jagung adalah 63,6 gram per 100 gram sehingga jagung banyak diolah menjadi makanan ringan. Jagung yang hendak diolah pada proses ekstrusi melalui proses grit dengan ukuran 20 mesh. Grit Jagung memudahkan screw pada mesin extruder untuk menekan dan mengolah Jagung sehingga proses berlangsung dengan cepat (Rudini dan Fitriyono, 2013).

Beras Jagung yang akan diolah dibersihkan melalui proses sortasi dan pencucian. Bahan tambahan yang digunakan dalam ekstrusi adalah tepung tapioca dan air siap konsumsi. Penambahan tepung tapioca dan air bertujuan agar campuran bahan merekat antar partikel sehingga menghasilkan hasil olahan yang berkomposisi seimbang. Campuran bahan tersebut dimasukan dalam hopper

Gambar 5.2.1 Beras Jagung Sumber : Dokumentasi Pribadi

setiap tahap berlangsung selama 10 menit. Adapun hasil yang didapatkan adalah olahan Jagung jadi sebanyak 27,02 Kg, olahan Jagung tersangkut pada screw sebanyak 0,86 Kg dan olahan Jagung tercecer di lantai sebanyak 0,12 Kg.

5.2.2 Proses Ekstrusi

Proses ekstrusi meliputi persiapan bahan baku, pemanasan mesin extruder dan proses ekstrusi di dalam mesin extruder. Bahan baku yang digunakan adalah beras Jagung bersih. Proses ekstrusi disajikan pada Gambar 5.2.2 sebagai berikut:

Gambar 5.2.2 Proses Ekstrusi

Pada proses ekstrusi dipersiapkan bahan baku berupa beras Jagung bersih.

Beras Jagung bersih diperoleh melalui proses grit Jagung. Tahap berikutnya adalah menyalakan mesin extruder yang bertujuan untuk memanaskan mesin.

Pemanasan mesin exruder berlangsung selama 5 menit. Setelah 5 menit pemanasan maka beras Jagung bersih dimasukan pada hopper secara bertahap.

Proses bertahap bertujuan untuk mengurangi gagal produksi akibat overload pada mesin extruder. Beras Jagung yang berada pada hopper mengalir menuju screw pada ruang barrel. Screw memberikan tekanan pada beras Jagung sehingga

Beras Jagung bersih

Dimasukan ke hopper

Olahan Jagung

Nyalakan mesin extruder

Bahan mengalir ke screw

Pembentukan bahan oleh screw

Keluar melalui die

Tekanan tinggi Suhu tinggi Gelatenisasi

terjadi penggumpalan beras Jagung. Bersamaan dengan proses penggumpalan terjadi proses pindah panas pada barrel dimana suhu berpindah dari dinding barrel menuju beras Jagung. Proses penggumpalan dan pembentukan disebut proses gelatinisasi yang dipengaruhi oleh faktor suhu dan tekanan yang tinggi. Beras Jagung yang telah menggumpal dan berubah bentuk mengalir keluar melalui die.

Hasil keluaran akan mengembang akibat perbedaan suhu dan tekanan di dalam mesin extruder dengan suhu dan tekanan lingkungan.

5.2.3 Data Hasil Ekstrusi

Proses ekstrusi dilakukan sebanyak 3 tahap dimana. Pada setiap proses berlangsung selama 10 menit. Hasil proses ekstrusi berupa olahan jagung jadi dan rendemen berupa olahan jagung tersangkut dan olahan jagung tercecer. Adapun hasil ekstrusi disajikan pada Tabel 5.2.3 sebagai berikut:

Tabel 5.2.3 Data Hasil Ekstrusi No Ekstrusi

ke-

Massa Bahan (Kg)

Waktu (menit)

Hasil Olahan

Jagung jadi (Kg)

Olahan Jagung tersangkut

(Kg)

Olahan Jagung tercecer (Kg)

1. 1 9,5 10 9,21 0,29 0

2. 2 9,5 10 9,00 0,3 0,2

3. 3 9,3 10 8,81 0,32 0,17

Total 27,02 0,91 0,37

Rata-rata 9,0066 0,3033 0,1233

Berdasarkan Tabel 5.2.3 yaitu data hasil ekstrusi, pada ekstrusi tahap ke 1 dengan massa bahan 9,5 Kg selama 10 menit didapatkan olahan Jagung jadi sebanyak 9,21 Kg dengan olahan Jagung tersangkut sebanyak 0,29 Kg serta olahan Jagung tercecer 0 Kg. Pada ekstrusi tahap ke 1 tidak terjadi ceceran Jagung yang tercecer karena plastik penampung telah dipasang dibawah die mesin extruder. Pada ekstrusi tahap ke 2 dengan massa bahan 9,5 Kg selama 10 menit didapatkan olahan Jagung jadi sebanyak 9.00 Kg dengan olahan Jagung tersangkut sebanyak 0,3 Kg serta olahan Jagung tercecer 0,2 Kg. Pada ekstrusi tahap ke 2 terdapat olahan Jagung tercecer akibat plastic penampung terlepas dari tali pengait dibawah die mesin extruder. Pada ekstrusi tahap ke 3 dengan massa bahan 9,3 Kg selama 10 menit didapatkan olahan Jagung jadi sebanyak 8,81 Kg dengan olahan Jagung tersangkut sebanyak 0,32 Kg serta olahan Jagung tercecer sebanyak 0,17 Kg. Rata-rata olahan Jagung jadi adalah 9,0066 Kg sedangkan rata-rata olahan Jagung tersangkut adalah 0,3033 Kg serta rata-rata olahan Jagung tercecer adalah 0,1233 Kg.

Pada ekstrusi tahap ke 3 terdapat olahan Jagung yang tercecer akibat kapasitas plastik yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan. Pada setiap tahap ekstrusi terdapat olahan Jagung yang tersangkut pada screw akibat prinsip kerja tekanan dan suhu yang tinggi sehingga terdapat olahan Jagung yang lengket dan mengendap di screw. Setelah proses ekstrusi selesai dilakukan pembersihan

menghilangkan sisa olahan Jagung yang mengendap pada elemen. Endapan olahan Jagung yang tidak dibersihkan menyebabkan gangguan terjadi saat proses ekstrusi seperti terhenti saat mesin extruder beroperasi dan menghambat olahan Jagung keluar dari die.

5.2.4 Analisa Biaya Operasional

Berdasarkan spesifikasi awal, mesin extruder dapat menghasilkan olahan Jagung sebanyak 27 Kg/30 menit dengan daya 7 HP. Hasil analisa adalah sebagai berikut :

a. Hasil ekstrusi = 27 Kg b. Waktu esktrusi = 30 menit

= 0,5 jam

Energi listrik = 5,2199 x 0,5 jam

= 2,60995 kWh

Biaya listrik = 2,60995 kWh x Rp.1.699,53/kWh

= Rp.4.435,6883235 ≈ Rp.4.400,- 5.2.5 Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan ekstrusi adalah dapat menghasilkan olahan dalam satu kali proses.

Berdasarkan prinsip ekstrusi yaitu penggunaan tekanan dan suhu yang tinggi sehingga dalam proses ekstrusi terjadi pembentukan, gelatinisasi, pemotongan, dan pencampuran secara langsung. Proses yang berlangsung dalam satu kali tahap tersebut lebih efektif dibandingkan proses yang dilakukan secara terpisah.

Proses ekstrusi menghasilkan olahan yang tahan lama karena bersifat kering, namun harus dioven untuk meningkatkan kerenyahan dan mengurangi kadar air yang terkandung dalam olahan.

Kekurangan ekstrusi adalah penggunaan mesin yang membutuhkan daya tinggi. Disisi lain, proses ekstrusi dengan mesin extruder menghasilkan suara yang bising sehingga mengganggu lingkungan operasional apabila bertempat di area sibuk. Penggunaan mesin extruder pada proses ekstrusi memerlukan operator dengan asumsi 2 orang. Tugas operator adalah melakukan pengoperasian yang meliputi persiapan bahan hingga pembersihan atau maintenance. Proses maintenance dilakukan dengan pembongkaran mesin extruder dan pembersihan screw serta die. Pembongkaran mesin extruder dilakukan oleh operator laki-laki karena pekerjaan tersebut pekerjaan yang berat sehingga memerlukan K3 yang tepat.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

1. Balai Penerapan Standarisasi Instrumen Pertanian (BPSIP) Jawa Timur adalah lembaga pemerintahan dibawah naungan Badan Standarisasi Instrumentasi Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian yang menaungi perakitan dan pengkajian teknologi pertanian di Jawa Timur. Terapan ilmu bidang Teknik Pertanian dan Biosistem yang diterapkan di BPSIP Jawa Timur adalah mekanisasi pertanian yang meliputi pra panen hingga pasca panen. BPSIP Jawa Timur terletak di Karangploso, Malang, Jawa Timur dengan jumlah pegawai sebanyak 146 pegawai. Salah satu terapan ilmu di BPSIP Jawa Timur adalah bidang pasca panen pada pengolahan Jagung menggunakan mesin extruder.

2. Pengolahan Jagung berkualitas rendah di BPSIP Jawa Timur berlangsung dengan menggunakan mesin extruder sehingga menghasilkan proses ekstrusi. Pengolahan Jagung tersebut melalui proses sortasi, pencucian, pencampuran, esktrusi, pemberian rasa, pengovenan dan pengemasan.

3. Penggunaan mesin extruder pada pengolahan Jagung menggunakan prinsip tekanan dan suhu yang tinggi dengan daya sebesar 7 HP selama 30 menit.

4. Kinerja mesin extruder pada pengolahan Jagung di BPSIP Jawa Timur memiliki efisiensi yang rendah. Rata-rata olahan Jagung jadi yang diperoleh adalah 9,0066 Kg dengan olahan Jagung tersangkut adalah 0,3033 Kg dan olahan Jagung tercecer adalah 0,1233 Kg. Mesin extruder yang digunakan memiliki efisiensi yang rendah dan menimbulkan suara kebisingan.

6.2 Saran

Alangkah baiknya dilakukan perawatan berkala seperti pembersihan elemen- elemen pada mesin extruder. Selain itu diperlukan pemanasan mesin extruder secara berkala agar performa mesin extruder stabil dan mengurangi kerusakan saat beroperasi. Berdasarkan pengujian dan studi literatur, diperlukan modifikasi perubahan tekanan dan suhu pada mesin extruder untuk meningkatkan performa mesin extruder saat beroperasi. Modifikasi lain yang diperlukan adalah penambahan tempat penampung hasil samping, sehingga hasil samping proses ekstrusi tidak tercecer dilantai.

DAFTAR PUSTAKA

Amin M, dan Muhammad S. 2018. Pelatihan Pembuatan Makanan Ringan Ekstrudar Jagung Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat 2(1) : 43-46.

Budi FS, Purwiyanto H, Slamet, B, dan Dahrul S. 2017. Kristalinitas dan Kekerasan Beras Analog Yang Dihasilkan Dari Proses Ekstrusi Panas Tepung Jagung. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan 28(1): 46-54.

Habib A. 2013. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Jagung.

Jurnal Agrium 18(1) : 79-88.

Joko T, dan Ferry W. 2017. Perancangan Alat Sortasi Buah Tomat Berdasarkan Warna Menggunakan Arduino. Jurnal Informatika Amikom 2(4) : 1-4.

Naim M, Aziz A, Ika S, dan Muhammad T. 2019. Rancang Bangun Oven Kue Dengan Dua Sumber Panas. Jurnal Ilmiah Teknik Mesin 10(2) : 40-46.

Nalandari R, Atim H, dan Megandhi, G. 2022. Implenetasi Scre Extruder Untuk Usaha Getuk Singkong Di Kecamatan Tegakdlimo Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) 6(3) : 97-102.

Nazaruddin N, dan Sulaiman. 2019. Design And Manufacturing Of A Fish Pellet Machine With A Screw Extruder Method Capacity Of Batter 2.35 Tons/Hour. International Journal of Machine Engineering 2(3) : 1-5.

Nurirmala M, Pipih S, Yugha S, dan Taufik H. 2014. Pemanfaatan dan Fortifkasi Ikan Patin Pada Snack Ekstrusi. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 17(2) : 175-185.

Rahman S. 2015. Analisis Nilai Tambah Agroindustri Chips Jagung. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 4(3) : 108-112.

Rasyid R, Anisa N, dan Humaira, F. 2014. Pengaruh Lama Pencucian Terhadap Kadar Vitamin B1 Pada Beras Putih dan Beras Merah Secara Spektrofotometer Visibel. Jurnal Farmasi Higea 6(2): 157-161.

Rudini B. 2013. Kadar Protein, Serat, Triptofan dan Mutu Organoleptik Kudapan Ekstrusi Jagung Dengan Subsitusi Kedelai. Skripsi.Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Safnowandi, Zainal A, Ika, ND, Ismail E, dam Septiana DU. 2022. Pelatihan Pengolahan Jagung Bagi Masyarakat Dusun Senyiur Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2(1) : 14-21.

Santoso R, dan Pajar R. 2020. Pengaruh Mode Ekstrusi-Sferonisasi Dalam Pembuatan Pelet. Jurnal IKRA-ITH Teknologi 4(3) : 49-56.

Sari FA, dan FuadH. 2022. Strategi Pemasaran Snack Mi Jagung KWT Bunga Anggrek Di Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep. Jurnal Agriscience 2(3) : 479-495.

Suryana T. 2019. Desain Modifikasi Screw Extruder Untuk Meningkatkan Outflow Yang Optimal Dan Meminimalkan Cacat Produk Pada Plastik. Jurnal Ilmiah Teknobiz 9(1) : 19-27.

Syifa QN, dan Harijono. 2018. Pengembangan Snack Ekstrusi Berbasis Jagung, Kecambah Kacang Tunggak Dan Kecambah Kacang Kecipir Dengan Linear Programming. Jurnal Pangan dan Agroindustri 6(2) : 74-85.

Utama RS, Rilma N, dan Nela E. 2021. Penerapan Teknologi Pengolahan Jagung Manis Pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Di Kenagarian Andaleh, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota. Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat 5(2) : 230-235.

Yuzan MG. 2021. Pengaruh Perpindahan Panas Tabung Barrel Pada Mesin Extruder Plastik. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Teknik 1(3) : 1-8.

Lampiran 1. Lokasi BPSIP Jawa Timur

Lampiran 2. Laboratorium Pasca Panen BPSIP Jawa Timur

Lampiran 3. Produk Olahan BPSIP Jawa Timur

Lampiran 4. Pengambilan Data (Wawancaea)

Lampiran 5. Kegiatan Lain-lain (Pembuatan Pentol Jamur)

Lampiran 6. Logbook Kegiatan PKL

Lampiran 7. Lembar Penilaian Lapang

Lampiran 8. Surat Keterangan Pelaksanaan PKL

Dokumen terkait