• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Hipotesis

5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

2.7 Pengembangan Hipotesis

keuntungan saham yang akan didapat. Sehingga menyebabkan perbedaan, apabila jumlah kas yang tinggi memberikan kesempatan bagi manajer untuk memanfaatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sementara, jumlah kas yang rendah dapat merugikan perusahaan yaitu likuiditas tidak dapat terjaga. Namun, dalam hal ini pemegang saham (investor) yang sekaligus merangkap sebagai seorang manajer di dalam perusahaan tersebut juga memiliki kekayaan saham dan menginginkan presentase tertentu terhadap keuntungan yang didapat.

Hasil penelitian Nadeem (2015) dan Papaioannou, Strock & Travlos (1992) menunjukkan kepemilikan saham manajerial yang negatif terhadap kepemilikan kas. Hal tersebut terjadi karena manajer mempunyai kesempatan untuk mendorong kebutuhannya dalam penggunaan uang kas perusahaan yang menyebabkan terjadinya informasi asimetris dan menahan lebih banyak cash sehingga likuiditas tidak dapat terjaga. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Bokpin, Isshaq & Aboagye Otchere (2011) yang menunjukkan insider ownership tidak berpengaruh negatif terhadap cash holdings.

Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis pertama pada penelitian ini adalah : H01: Insider ownership tidak berpengaruh negatif terhadap kebijakan likuiditas

perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

Ha1: Insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

2.7.2 Pengaruh Foreign Ownership Terhadap Kebijakan Likuiditas

Foreign ownership adalah persentase kepemilikan saham oleh investor asing (Adelia, 2012). Menurut teori sinyal, pengelolaan kas perusahaan yang baik sebagai sinyal positif yang disampaikan oleh manajer kepada pihak luar (investor) untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut memiliki pengelolaan kas yang baik dan level of cash yang tinggi, dalam pandangan investor asing hal itu mencerminkan bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik di masa mendatang karena menguntungkan bagi investor asing yang berinvestasi dan menguntungkan perusahaan untuk mendapatkan modalnya.

Beberapa peneliti telah menggambarkan hubungan foreign ownership dengan cash holdings. Penelitian yang dilakukan oleh Mangena dan Tauringana (2007) berpendapat bahwa foreign ownership berpengaruh positif terhadap cash holdings. Namun, penelitian mereka tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bokpin, Isshaq & Aboagye Otchere (2011), Hamidullah (2012) dan Luo & Hachiya (2005) yang menyatakan bahwa foreign ownership berpengaruh negatif terhadap cash holdings.

Hal ini berbanding terbalik dengan teori sinyal yang menunjukkan bahwa sinyal positif yang diberikan manajer kepada investor asing memberikan umpan balik bagi perusahaan dimana investor asing merasa yakin untuk menanamkan dananya di perusahaan tersebut. Sehingga, dimanfaatkan oleh pemegang blok (blockholders) yaitu sekelompok pemegang saham asing yang memiliki kekuatan untuk mengejar ekuitas saham yang tinggi di perusahaan tersebut demi mendapatkan keuntungan yang maksimal. Sehingga memberikan sinyal negatif

bagi perusahaan karena merugikan dalam mengurangi uang kas perusahaan untuk pembayaran dividend yang tinggi dan mengorbankan likuiditas.

Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kedua pada penelitian ini adalah : H02: Foreign Ownership tidak berpengaruh negatif terhadap kebijakan

likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

Ha2: Foreign Ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

2.7.3 Pengaruh Board Size Terhadap Kebijakan Likuiditas

Board size merupakan jumlah yang tepat dari dewan komisaris di dalam perusahaan untuk menjalankan tugasnya. Jumlah dewan komisaris harus ditetapkan sedemikian rupa agar pengambilan keputusan dapat berjalan secara efektif, tepat dan independen. Menurut Jensen (1993), jumlah komisaris yang besar akan lebih kecil kemungkinannya untuk berfungsi secara efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bokpin, Isshaq, Aboagye-Otchere (2011) dan Kusnadi (2003) yang berpendapat bahwa board size berpengaruh positif terhadap cash holdings. Hal ini dikarenakan semakin besar dewan komisaris dalam suatu perusahaan dapat memudahkan pekerjaan karena pekerjaan dapat dibagi-bagi kepada banyak orang dan lebih mudah melakukan spesialisasi karena memiliki jumlah dewan yang banyak dan bervariasi sehingga berdampak

hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fajar (2014) yang berpendapat bahwa board size berpengaruh negatif terhadap cash holdings.

Oleh karena itu, semakin banyak jumlah anggota dewan akan memberikan suatu bentuk pengawasan terhadap kepemilikan kas yang berdampak pada tata kelola perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis ketiga pada penelitian ini adalah :

H03: Board Size tidak berpengaruh positif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

Ha3: Board Size berpengaruh positif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

2.7.4 Pengaruh Board Composition Terhadap Kebijakan Likuiditas

Board composition merupakan jumlah dewan komisaris independen dalam perusahaan (Ira, 2012). Menurut pedoman umum Good Corporate Governance Indonesia yaitu Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) tahun 2006 yang mengatakan bahwa jumlah komisaris independen harus dapat menjamin agar mekanisme pengawasan berjalan secara efektif dan memiliki tanggung jawab untuk mendorong diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik melalui pemberdayaan dewan komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan kepada direksi secara efektif juga.

Penelitian yang dilakukan oleh Modolo (2010) berpendapat bahwa board composition berpengaruh positif terhadap cash holdings. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bokpin, Isshaq & Aboagye Otchere (2011) yang menyatakan bahwa board composition berpengaruh negatif terhadap cash holdings. Hal ini terjadi karena keberadaan komisaris independen berkaitan dengan pengambilan keputusan terhadap kas dengan bertambahnya jumlah komisaris independen maka pengawasan terhadap kas akan semakin ketat, hal ini yang menyebabkan kepemilikan kas berkurang. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis keempat pada penelitian ini adalah :

H04: Board Composition tidak berpengaruh negatif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

Ha4: Board Composition berpengaruh negatif terhadap kebijakan likuiditas perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait