BAB I PENDAHULUAN
A. Kajian Pustaka
3. Pengertian Buruh
Buruh, pekerja, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainnya kepada pemberi kerja atau pengusaha atau majikan.
Pada dasarnya, buruh, pekerja, tenaga kerja maupun karyawan adalah sama. namun dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, tenaga kerja dan
karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu pekerja. hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia.
Buruh dibagi atas 2 klasifikasi besar:
1. Buruh profesional - biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja
2. Buruh kasar - biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja.
Komunitas buruh adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, di mana mereka menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada pemberi kerja atau pengusaha atau majikan.
Faktor utama yang menjadi penyebab alih fungsi lahan adalah kebutuhan ekonomi selain faktor-faktor lainnya. pertanian di bidang tambak dinilai lebih menguntungkan serta cepat mendatangkan hasil ketimbang sektor pertanian padi.
Hal tersebut yang pada akhirnya membuat para pemuda meletakkan cangkul mereka. Beberapa daerah sentra pertanian yang pernah saya datangi menunjukan minimnya para pemuda yang terjun ke sawah dan ladang. Padahal mereka berasal dari keluarga petani yang mungkin akan mewariskan usaha tani orang tuanya.
Bahka ketika pemerintah menawarkan program magang bagi pemuda tani di Jepang hanya sedikit dari mereka yang tertarik untuk berangkat. Kurangnya
tenaga kerja menyebabkan pengelolaan usaha tani kurang maksimal tidak hanya pemuda, kaum ibu yang merupakan wanita tanipun kini sudah mulai beralih profesi. Mereka lebih memilih profesi sebagai buruh cuci, penjaga kantin atau tukang bersih-bersih yang menurut mereka lebih layak penghasilannya ketimbang bertani. Alhasil, tenaga kerja pada bidang pertanian yang dalam hal ini petani tanaman pangan menjadi berkurang, sehingga sangat mempengaruhi produktivitas yang dihasilkan. Beberapa petani yang saya jumpai bahkan sudah patah arang dan membiarkan sawah ladangnya terbengkalai tak terurus hingga akhirnya tergiur untuk menjual lahan mereka.
Pemerintah daerah sebenarnya sudah melakukan berbagai macam cara untuk menganggulangi hal tersebut, misalnya dengan memberikan jaminan sertifikat kepemilikan lahan secara gratis dengan syarat lahan pertanian tersebut tidak boleh dijual seumur hidupnya. Nyatanya fasilitas yang dianggap meringankan beban petani ini ditolak mentah-mentah oleh petani karena mereka memahami harga jual tanah tiap tahun meningkat dan akan lebih menguntungkan untuk menjual tanah mereka ketimbang bertani yang hasilnya sulit diprediksi.
Kemudian bantuan subsidi pupuk yang bertujuan meringankan beban petani dalam budidaya ternyata tidak membuat beberapa petani benar-benar mengoptimalkan lahan mereka. Belum lagi bantuan alsintan (alat mesin pertanian) untuk menanggulangi permasalahan kurangnya tenaga kerja pada daerah-daerah tertentu rupanya juga belum mampu meningkatkan penghasilan petani yang lagi- lagi menggiurkan beberapa petani untuk menjual sawah ladang mereka.
Petani kecil yang tersebar pada daerah yang bukan merupakan sentra produksi umumnya merupakan petani gurem (bertani untuk mencukupi kebutuhan sendiri) yang keberadaannya memegang cukup andil bagi ketahanan pangan nasional. Bahkan di Asia Afrika ketergantungan kepada petani kecil lebih tinggi dengan perkiraan sekitar 80% konsumsi pangan dihasilkan petani kecil. Oleh karena itu keberadaan mereka sebagai penyedia pangan seharusnya diprioritaskan.
Pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan mulia karena belum tentu semua orang mau serta bisa melakukan profesi yang satu ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan petani akhirnya beralih profesi atau mengalih fungsikan lahan mereka diantaranya:
1. Kondisi cuaca
Apabila dulu musim di Indonesia dapat dibagi menjadi musim kering dan musim hujan pada bulan-bulan yang sudah pasti, kini hal tersebut tidak terjadi lagi. Pergeseran iklim akibat fenomena global warming membuat petani sulit memprediksi musim tanam mereka khususnya bagi petani padi yang tergantung akan kebutuhan air. Pada beberapa daerah yang dulunya ditanami padi karena kesulitan untuk menjangkau air kini lebih banyak ditanam oleh palawija atau komoditas hortikultura. Perubahan iklim ini turut serta membuat serangan hama penyakit tanaman kian merajalela yang membuat produktivitas menurun dan merugikan petani. Maka tak jarang beberapa petani akhirnya pasrah sehingga enggan untuk menanam kembali pada musim berikutnya.
2. Lemahnya permodalan
Lemahnya permodalan juga menjadi permasalahan yang utama.
Banyak dari para petani yang akhirnya terjebak pada rayuan tengkulak.
Mereka tidak bisa menaikan harga jual kepada tengkulak karena si tengkulak inilah yang mengatur harga lantaran telah “berjasa”
meminjamkan modal kepada petani. Meskipun pemerintah sudah membantu melalui subsidi pupuk ternyata hal tersebut tidak cukup meringankan beban petani.
3. Penghasilan
Uang mungkin faktor terbesar untuk membuat Anda berpikir ribuan kali untuk beralih profesi. Kebutuhan hidup terutama bagi yang sudah menikah sangatlah penting. Tekad atau niat adalah modal utama untuk maju. Jangan pernah menyerah dengan keadaan karena itu hanya bersifat sementara. Dengan mengalih fungsikan lahan pertanian mereka ke lahan tambak ikan akan meningkatkan mutu kualitas penghasilan mereka jauh lebih besar pada saat mereka masih bertani.
4. Lingkungan
Lingkungan juga mempengaruhi. Dengan pemanfaatan lahan di desa kalibone masyarakat di sana berinisiatif untuk menggunakan atau memanfaaatkan sumber air dari sungai yang tidak jauh dari lahan mereka, untuk melakukan pengairan sebelumnya mereka harus mengubah lahan kering itu dengan menggunakan alat-alat yang bisa menggali untuk menjadikan lahan tambak ikan.
Buruh tambak ikan disini merupakan sekelompok atau sekumpulan orang-orang yang mempunyai satu kepentingan atau tujuan yang saling peduli satu sama lain dimana mereka menggunakan tenaga, kemampuannya untuk mendapatkan balas jasa berupa pendapatan berupa uang untuk kelangsungan hidup dan untuk biaya pendidikan bagi anak dan keluarganya demi kesejahteraan hidup untuk masa depan. Untuk memasuki abad ke-21 pendidikan bagi mereka sangatlah penting dalam menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogianya berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi dan mampu merubah nasib kedepan para buruh-buruh yang ada di desa Kalibone kabupaten Pangkep adalah pendidikan.