PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Mobilitas sosial dalam masyarakat selalu melibatkan perubahan, pergeseran, kenaikan atau penurunan status dan peran anggota masyarakat. Perubahan status sosial dan peranan seseorang atau sekelompok orang, baik ke atas maupun ke bawah (vertikal) atau ke arah horizontal (horizontal) disebut dengan mobilitas sosial.
RumusanMasalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian 1. Secara Teoretis
Kajian Pustaka
- Pengertian Mobilitas Sosial
- Pengertian Komunitas
- Pengertian Buruh
Kata sosial yang melekat pada kata mobilitas menekankan bahwa istilah mobilitas sosial mengandung makna pergerakan atau keterlibatan seseorang atau sekelompok warga negara dalam masyarakat. Perubahan status sosial dan peranan suatu individu atau kelompok sosial dalam masyarakat, baik ke atas dan ke bawah (vertikal) maupun ke arah horizontal (horizontal) disebut dengan mobilitas sosial. Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau kelompok sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak setara.
Berdasarkan arahnya, mobilitas sosial vertikal dibedakan menjadi mobilitas sosial vertikal ke atas (social ascent) dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social immersion). Sorokin, ada beberapa prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam pergerakan vertikal mobilitas sosial, yaitu sebagai berikut. Mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu kelompok ke kelompok sebaya lainnya.
Jika terjadi mobilitas sosial ke atas maka individu yang mengalaminya akan memasuki lingkungan sosial yang lebih tinggi. Berdasarkan fenomena yang terjadi pada kalangan buruh tani padi dimana mereka beralih pekerjaan menjadi buruh tambak, terjadilah mobilitas sosial vertikal dimana perpindahan dari jabatan yang lebih rendah ke jabatan yang lebih tinggi dinilai dari segi pendapatan.
Kerangka Pikir
Pekerja tambak disini adalah sekelompok atau sekumpulan orang yang mempunyai satu kepentingan atau tujuan yang saling peduli dimana mereka menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan kompensasi berupa pendapatan berupa uang untuk kelangsungan hidup dan untuk biaya pendidikan bagi mereka. anak dan keluarga demi kesejahteraan. hidup untuk masa depan. Untuk memasuki abad 21, pendidikan sangat penting bagi mereka untuk menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dalam penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas dan merupakan satu-satunya platform yang dapat dilihat dan harus difungsikan sebagai alat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. mampu mengubah nasib masa depan pelajar Para pekerja di Desa Kalibone, Kabupaten Pangkep, bergerak di bidang pendidikan. Dalam teori nilai lebih Karl Marx disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih disebut pemberi kerja dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih disebut pekerja.
Terkait kepemilikan modal dan aset produksi, dapat kita tarik benang merahnya, bahwa pekerja tidak sedikit pun terlibat dalam kepemilikan aset, sedangkan pemberi kerjalah yang memiliki aset tersebut. Pekerja bisa saja bekerja untuk dirinya sendiri dan juga menggaji dirinya sendiri, contoh pekerja tersebut antara lain adalah petani, nelayan, dokter, yang dalam prosesnya pekerja tersebut memperoleh nilai tambah dari proses penciptaan nilai tambah yang mereka ciptakan sendiri. Istilah buruh dipopulerkan oleh pemerintahan Orde Baru untuk menggantikan kata buruh yang mereka anggap beraliran kiri dan radikal.
Batasan masa kerja pekerja/pegawai diatur secara jelas dalam pasal 1 angka 2 undang-undang no. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang menyatakan: “Pegawai adalah setiap orang yang bekerja dan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”.
Jenis Penelitian Kualitatif
Harold Garfinkel memperkenalkan istilah etnometodologi dalam bidang penelitian sosial pada pertengahan tahun 1950-an, yang menginspirasi lahirnya sosiologi fenomenologis. Menurut Bagong Suyant dan Sutinah (2007) dalam buku “Metode Penelitian Sosial, Berbagai Pendekatan Alternatif”, secara sederhana apa yang diperhatikan peneliti ketika berada di masyarakat yang menjadi sasaran perhatiannya, yaitu , apa yang dilakukan sekelompok orang (perilaku budaya). , apa yang mereka ketahui tentang dunia di sekitar mereka dan dunia di luar lingkungan tempat mereka berada (pengetahuan budaya), dan benda apa yang dibuat dan digunakan (artefak budaya). Pengumpulan data melalui wawancara mendalam akan menggali seluruh permasalahan kehidupan sehari-hari dalam bentuk wawancara percakapan terbuka.
Setiap wacana percakapan dianalisis, dikembangkan sesuai konteks kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Variabel Penelitian
Fokus Penelitian
Instrumen Penelitian
Populasi dan Sampel
Teknik ini digunakan apabila sampel dipilih secara spesifik berdasarkan tujuan penelitian dengan persyaratan tertentu. Informannya adalah orang-orang yang sudah lama tinggal di tempat tersebut, karena kriteria sampel yang diperoleh benar-benar sesuai dengan penelitian yang akan kami lakukan. Informan dalam penelitian ini adalah warga Desa Kalibone dan bertugas memberikan informasi tentang.
Berdasarkan ketiga kriteria tersebut, jenis data yang diungkap dalam penelitian ini adalah 'skematis dan naratif'. Sumber data primer yaitu dari informan, data diperoleh langsung dari lapangan seperti Kepala Desa Kalibone dan Pekerja Tambak Tambak. Sumber data sekunder berupa observasi, catatan lapangan, laporan media cetak atau internet, buku, artikel, dokumen dan foto-foto yang relevan dengan kajian penelitian ini.
Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara mendalam yaitu dengan mengumpulkan sejumlah data dari para informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang mengacu pada pedoman wawancara yang disusun secara sistematis agar data yang ingin diperoleh lebih lengkap dan lebih banyak lagi. berharga. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan dan langsung (tatap muka) kepada informan dengan didukung pedoman wawancara.
Keabsahan Data
HASIL PENELITIAN 1. Keadaan Geografis
- Keadaan Penduduk
- Mata pencaharian
- Profil Petani Tambak
Secara harfiah, kata “Minasate’ne” (bahasa Makassar) berasal dari dua kata yang disatukan yaitu Minasa dan Te’ne. Masyarakat Desa Kalibone mempunyai jumlah penduduk yang terdiri dari 3 orang Ketua RT. Menurut data, jumlah penduduk masyarakat Desa Kalibone berjumlah sekitar 841 jiwa. Jumlah penduduk Desa Kalibone sebanyak 841 jiwa, terdiri atas 3 Ketua RT (Rukun Tetangga), terdiri dari RT 01 berjenis kelamin laki-laki sebanyak 69 orang dan perempuan sebanyak 70 jiwa, penduduk RT 02 sebanyak 185 jiwa laki-laki dan perempuan sebanyak 146 jiwa, kemudian jumlah penduduk RT 03 berjumlah 184 laki-laki dan 187 perempuan yang mempunyai pemerintahan desa yaitu Burhan M.S, Sos dan staf desa lainnya.
Pembangunan pemukiman tersebar di tiga ketua RT, dua di antaranya berada dalam posisi saling berhadapan, yaitu masyarakat RT01 dan masyarakat yang tinggal di RT 02. Sarana dan prasarana yang tersedia di Desa Kalibone sangat terbatas, hal ini disebabkan karena Kawasan ini merupakan pusat pengelolaan desa, yang hanya menggunakan angkutan umum jika ingin melakukan aktivitas lain di luar desa. Pada bidang kesehatan terdapat 2 posyandu yang difasilitasi oleh 2 orang tenaga kesehatan dan satu pustu asisten pustu untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat Desa Kalibone.
Di desa Kalibone juga terdapat pasar umum yang berada di pinggir jalan raya, pasar umum ini digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan mereka juga memanfaatkan pasar tersebut untuk menjual hasil tambaknya. Masyarakat desa Kalibone sudah mempunyai alat transportasi sendiri seperti sepeda, sepeda motor bahkan ada yang mempunyai sultan yang digunakan untuk mengangkut hasil panen para pekerja di desa tersebut.
Karakteristik Informan
Pemilik tambak adalah pihak yang menguasai sejumlah tambak yang dikelola oleh orang lain dengan sistem bagi hasil. Pemilik yang juga penggarap tambak adalah mereka yang tergolong petani bagi hasil dimana mereka mempunyai sejumlah tambak yang mereka garap sendiri dan selain itu menggarap tambak milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Pekerja sawi/bendungan adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki bendungan, mereka hanya bekerja untuk menerima upah.
Gambaran awal diperlukan untuk memahami pembahasan mobilitas sosial yang terjadi khususnya di Desa Kalibone dan juga membantu untuk menguraikan permasalahan lebih lanjut yang akan ditemukan. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 10 orang dengan kelompok umur masyarakat berkisar antara 35 sampai dengan 60 tahun, yang dapat mewakili warga masyarakat di Desa Kalibone dalam memberikan penjelasan mengenai bentuk-bentuk mobilitas sosial yang terjadi di Desa Calibone. . Lamanya masyarakat tinggal di Desa Kalibone berkaitan dengan landasan seseorang dalam melakukan mobilitas sosial di masyarakat.
Dari tabel diatas terlihat 4 responden sudah tinggal di Desa Kalibone selama 26 sampai 30 tahun atau 40%, 3 responden sudah tinggal 21 sampai 25 tahun atau 30%. Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan tertinggi responden adalah mereka yang tamat sekolah menengah atas sebesar 50%.
Pembahasan
Wajar saja, dengan latar belakang pekerjaan tersebut, mereka tidak hanya mengalami kendala dalam berganti pekerjaan sebagai buruh tambak, mereka pun bisa lebih menunjang kehidupannya, bahkan anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan hingga ke perguruan tinggi. Responden sebelum bekerja sebagai buruh tambak memberikan gambaran mengenai mobilitas kerja buruh tambak tersebut. Seperti wawancara berikut yang dilakukan kepada salah satu anak pekerja tambak mengenai pekerjaannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendukung mobilitas sosial pengusaha barang bekas adalah latar belakang pekerjaan dan masa kerja sebagai pengolah tambak. Senada dengan pembahasan sebelumnya diatas mengenai latar belakang pekerjaan responden sebelum bekerja sebagai tukang kolam ikan. Penulis menilai lamanya waktu bekerja sebagai buruh tambak merupakan salah satu faktor terjadinya mobilitas sosial pada buruh tambak.
Faktor penghambatnya adalah kondisi yang tidak memberikan peluang mobilitas, terutama kondisi yang dialami oleh pekerja di kolam ikan. Gambaran rendahnya pendidikan di atas menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat mobilitas sosial, khususnya bagi pekerja tambak.
Perubahan yang dialami para Buruh Tambak di Desa Kalibone
Pendapatan yang diperoleh dari bekerja bertahun-tahun sebagai tukang tambak mempengaruhi status seseorang. Status sosial mereka dalam masyarakat meningkat karena pada umumnya mereka telah menaikkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi. Perubahan lainnya, peningkatan pendapatan usaha, dapat membawa perubahan besar bagi setiap karyawan. Sebab, pendapatan yang diperoleh bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Dari pendapatan yang diperoleh, setiap anak terdiri dari kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah yang berbeda-beda, selain biaya pembelian bibit dan pakan juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Simpulan
Faktor pendukung mobilitas sosial buruh tani: latar belakang pekerjaan, lama bekerja sebagai buruh. Sedangkan faktor penghambat mobilitas sosial adalah: rendahnya tingkat pendidikan pekerja, adanya faktor sosial budaya, dan faktor permodalan. 3. Perubahan yang dialami oleh pekerja tambak di desa Kalibone adalah perubahan taraf hidup dari segi peningkatan status sosial dan juga peningkatan pendapatan yang diperoleh dengan bekerja sebagai buruh. Selain perubahan tersebut, hubungan sosial antara pemilik Lady dan pekerja juga berjalan baik karena adanya saling pengertian dan kerjasama yang terjadi.
Saran
Http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten-Pangkajene-dan-kepuasan-sumber gambar asuransi kesehatan pada 8 Januari 2015.