• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam

Dalam dokumen di Jalan Hayam Wuruk Tanjung Karang Timur) (Halaman 35-41)

BAB II LANDASAN TEORI

D. Etika Bisnis Islam

3. Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam

Bagi orang muslim dalam melakukan aktivitas bisnis harus taat pada prinsip yang digariskan oleh Al-Qur’an, karena prinsp-prinsi yang telah digariskan oleh Al-Qur’an akan memberi keadilan dan keseimbangan yang dibutuhkan dalam bisnis dan akan menjaga aktivitas bisnis ke jalan yang benar.

Prinsip-prinsip etika bisnis dalam islam antara lain:

a. Keesaan

39. Ahmad Amin, Etika (ilmu akhlak), (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), cet. 8, h. 6-7.

Berhubungan dengan konsep tauhid. Berbagai aspek dalam kehidupan manusia yakni politik, ekonomi, sosial, dan keagaman membentuk suatu homogen, yang bersifat konsisten dari dalam, dan integrasi dengan alam semesta secara luas. Ini adalah dimensi vertikal islam. Prinsip utama etika bisnis Islam dan yang membedakan dengan etika bisni konvensional adalah konsep ketuhanan atau ketauhidan.

Ismail Raji al Faruqi menegaskan bahwa untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, adalah meyakini bahwa Ia sendirilah Sang pencipta yang memberikan wujud kepada segala sesuatu.40 Setiap tingkah laku dan perbuatan manusia tidak akan pernah luput dari ketentuan Allah SWT.41 Seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Hadid (57): 4.

         

  

          

    

          

Artinya: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya. Yang dimaksud dengan yang naik kepada-Nya antara lain amal-amal dan do´a-do´a hamba.”42

40. Muhammad, Aspek Hukum dalam Muamalat, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), Edisi Pertama, Cet. 1, h. 82.

41. Gemala Dewi, et al., Hukum perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana 2005), Ed. 1, Cet Ke 2, h. 30.

42. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan. h. 538.

“Kita sebagai orang yang mempercayai adanya Allah diharuskan untuk tidak merasa takut di mana pun berada. Karena Allah selalu bersama kita dan selalu mengawasi tindakan kita. Di dunia ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena semuanya tidak terlepas dari pengawasan dan kekuasaan Allah. dalam sebuah hadis disebutkan, “keimanan seseorang yang paling utama adalah ia mengetahui bahwa Allah SWT bersamanya dimana pun ia berada.”

Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dari ayat ini menjelaskan bahwa, Allah SWT melihat semua perbuatan manusia dimana saja manusia berada. Lafal ini adalah suatu perumpamaan bahwa ilmu Allah SWT itu meliputi semua apa yang diperbuat manusia, walaupun dimana saja berada. Allah SWT senantiasa memperhatikan semua perbuatan dan senantiasa melihat perbuatan manusia. Tidak ada satupun yang tersembunyi bagi-Nya.43

b. Keseimbangan

Keseimbangan atau keadilan menggambarkan dimensi horizontal ajaran Islam, dan berhubungan dengan harmoni segala suatu di alam semesta. Hukum dan keteraturan yang kita lihat di alam semesta merefleksikan konsep keseimbangan yang rumit ini. Sifat keseimbangan ini lebih dari sekedar karakteristik kalam, ia merupakan karakter dinamik yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim dan kehidupannya.

43. Taufik Damas, Toyib Arifin, A.Zulifikar, Al-Qur’an Tafsir Jalalain Perkata., h. 538.

Prinsip etika bisnis Islam yang kedua yaitu keseimbangan atau keadilan, dimana diartikan sebagai perbuatan yang berlaku adil dan berbudi luhur, bersedia untuk mengakui kesalahan dan perlihatkan komitmen keadilan, persamaan perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, tidak bertindak melampaui batas atau mengambil keuntungan yang tidak pantas dari kesalahan atau kemalangan orang lain.44 Adil adalah merupakan salah satu sifat Allah SWT yang sering disebut di dalam Al-Qur’an. Bersikap adil Allah SWT tekankan kepada manusia dan melakukan perbuatan, karena adil menjadikan manusia lebih dekat taqwa kepada Allah SWT.45 Keseimbangan atau adl menggambarkan hubungan ajaran Islam, dengan segala sesuatu di alam semesta.46

Prinsip-prinsip ini mengajarkan bahwa dalam melakukan tindakan bisnis harus selalu memikirkan keadilan bagi orang lain dan lingkungan, tidak boleh memikirkan keuntungan sendiri sedangkan ada pihak-pihak yang dirugikan dari kegiatan tersebut.

c. Kehendak Bebas

Selanjutnya, prinsip etika bisnis Islam yang ketiga adalah kehendak bebas. Muhammad memberikan arti bahwa kehendak bebas

44. Mudjiarto dan Aliaras Wahid, Membangun Karakter dan Keperibadian Kewirausahaan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), Ed, Pertama, Cet. 1, h. 62.

45. Gemala Dewi, et al., Hukum Perikatan Islam di Indonesia., h. 33.

46. Rafiq Issa Bekun, Etika BisnisEtika Bisnis Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2004), h. 37.

yang mengantar manusia meyakini bahwa Allah SWT tidak hanya memiliki kebebasan mutlak, tetapi Ia juga dengan sifat rahman dan Rahim-Nya menganugrahkan kebebasan manusia kepada manusia untuk memilih jalan yang terbentang, antara kebaikan dan keburukan.47 Kemampuan manusia untuk bertindak tanpa tekanan eksternal dalam ukuran ciptaan Allah SWT dan sebagai Khalifah Allah SWT di muka bumi ini.48

Namun perlu dipahami bahwa pada tingkat tertentu. Manusia diberikan kehendak bebas untuk mengendalikan kehidupannya sendiri, tapi tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa ia sepenuhnya dituntun oleh hukum yang diciptakan oleh Allah SWT.49

Artinya adalah kebebasan yang diberikan oleh Allah SWT tidaklah mutlak, sepanjang tidak terbentang dengan syariah Islam, maka kegiatan apapun boleh dilaksanakan. Manusia bebas menentukan pilihan, tapi yang menentukan hukumnya adalah Allah SWT.

d. Tanggung Jawab

Kehendak bebas harus diimbangi dengan adanya tanggung jawab. Tanggung jawab merupakan suatu hal yang harus diterima atas segala perbuatan yang dilakukan. Allah SWT menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan membuatnya bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan. Adapun

47. Muhammad, Aspek Hukum Dalam Muamalat., h. 83.

48. Rafiq Issa Bekun, Etika Bisnis Islam., h. 33.

49. Ibid., h. 37.

pertnggung jawaban itu adalah kepada beberapa pihak, antara lain sebagai berikut:

1) Kepada dirinya sendiri, atau dalam etika kepada nuraninya yang mungkin setiap saat menuntut pertanggung jawaban atas segala yang telah dilakukannya.

2) Kepada orang-orang yang mempercayakan seluruh kegiatan bisnis dan manajemen kepadanya.

3) Kepada pihak-pihak yang terlibat bisnis dengannya dalam urusan bisnis.

4) Kepada pihak ketiga, yaitu masyarakat seluruhnya yang secara tidak langsung terkena akibat dari keputusan dan tidndakan bisnisnya.50

Berdasarkan semua tanggung jawab yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa yang paling mendasar adalah tanggung jawab kepada Allah SWT yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Karena jika manusia memiliki rasa tanggung jawab kepada Allah SWT, maka secara otomatis akan bertanggung jawab pula kepada pihak-pihak lain setelahnya.

e. Kebajikan

Kebijakan (ihsan) atau kebaikan terhdap orang lain didefinisikan sebagai “tindakan yang menguntungkan orang lain lebih dibandingkan orang yang melakukan tindakan tersebut dan

50. Burhanuddin Salam, Etika Sosial Atas Moral dalam Kehidupan manusia, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2002), Cet. 1, h. 161.

dilakukan tanpa kewajiban apa pun”.51 kebajikan itu lahir dari dalam diri sendiri tanpa permintaan atau paksaan dari orang lain, kesadaran untuk berbuat baik terhadap orang lain lahir sebelum orang lain memintanya.

Prinsip di atas dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip tersebut sangat berkaitan erat dalam melakukan bisnis, keesaan harus direalisasikan nyata di lapangan diiringi dengan keseimbangan, kehendak bebas, serta tanggung jawab dan kebajikan yang juga menjadi prinsi dan etika dalam berbisnis.

Karena perjalanan bisnis tidak selalu mulus akan ada permasalahan yang timbul. Dalam penyelesaian masing-masing pihak dituntut untuk memiliki prinsip-prinsip tersebut karena hal itu penting b agi pebisnis muslim sebagai antisipasi terjadinya konflik. Selanjutnya diharapkan agar manusia dapat berpedoman pada prinsip-prinsip tersebut, sehingga aktivitas yang dijalankan manusia tidak akan terlepas dari norma-norma Islam yang diridhai oleh Allah SWT.

Dalam dokumen di Jalan Hayam Wuruk Tanjung Karang Timur) (Halaman 35-41)

Dokumen terkait