• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Kesadaran

Dalam dokumen skripsi - IAIN Repository - IAIN Metro (Halaman 36-45)

BAB II Landasan Teori

B. Kesadaran Masyarakat

1. Pengertian Kesadaran

Secara etimologis kesadaran itu berasal dari kata “sadar” yang memiliki arti insyaf, artinya ia merasa tahu dan mengerti, berdasarkan hal tersebut bahwa sikap atau prilaku sadar selalu dilakukan dalam keadaan tahu, mengerti merasa dan insyaf. Secara terminologis kesadaran dapat diartikan sebagai timbulnya sikap mengetahui, memahami, menginsyafi dan menindak lanjuti suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.22 Kesadaran adalah kondisi dimana seorang individu atau kelompok mempunyai dorongan kemauan untuk melakukan sesuatu yang tumbuh dari dirinya sendiri tanpa harus adanya stimulus atau paksaan yang terus menerus. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Widjaja menyatakan bahwa “Kita sadar jika kita tahu, mengerti, insyaf dan yakin tentang

21 Suhairi, Fiqih Kontemporer , (Yogyakarta: Idea Press, 2015), Cet-1, h.57.

22 Mujamil Komar, Kesadaran Pendidikan : Sebuah Penentu Keberhasilan, (Jogjakarta:

Ar-Russ Media, 2012), h. 119.

23

kondisi tertentu”. Kesadaran masyarakat lahir dari masyarakatnya itu sendiri yang lahir dari kebiasaan dalam masyarakat, dipengaruhi oleh lingkungan, peraturan-peraturan dan peranan pemerintahnya.23 Dari ungkapan tersebut dapat dikatakan bahwa kesadaran itu merupakan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, pengalaman, dan proses berpikir serta jiwa seseorang. Kesadaran dan ketidaksadaran merupakan suatu gejala psikologis seseorang.

Menurut Joseph Murphy, kesadaran merupakan suatu keadaan siuman atau sadar akan tingkah laku dimana pikiran sadar mengatur akal dan menentukan pilihan terhadap yang diinginkan misalnya baik atau buruk, indah atau jelek dan sebagainya. Kemudian menurut Hurssel kesadaran adalah pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal.

Pikiran inilah yang menggugah jiwa untuk membuat pilihan baik atau buruk, indah atau jelek, dan lainnya.24

Sedangkan menurut Sigmund Freud, kesadaran juga mencakup dalam persepsi dan pemikiran yang secara samar-samar disadari oleh individu dan lama kelamaan akhirnya perhatian mereka mulai terpusat.25 Pengetahuan sebagai dasar kesadaran dapat diukur dari berbagai segi, yang pertama mengukur persepsi mereka tentang seberapa banyak yang diketahui oleh masyarakat, kedua mengukur seberapa banyak

23 Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 123.

24 Amos Neolaka, Kesadaran Lingkungan, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2008), h. 18.

25 Ibid.,

24

pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan, ketiga mengukur pengalaman tersebut.

2. Tingkatan Kesadaran

Kesadaran seseorang akan tampak terlihat dari sikap dan tingkah lakunya sebagai akibat adanya sebuah motivasi untuk bertindak.

Kesadaran memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan derajat seseorang, tingkatan-tingkatan kesadaran menurut Ny. Bull antara lain26 : a. Kesadaran yang bersifat Anomous, yaitu kesadaran atau kepatuhan yang tidak jelas dasar dan alasannya atau sebuah orientasinya. Karena tidak jelas orientasinya, maka kesadaran ini cenderung tidak relevan dengan fenomena sosial yang ada di masyarakat yang senantiasa berkembang sesuai kemajuan zaman.

b. Kesadaran yang bersifat Heteronomous, yaitu kesadaran atau kepatuhan yang berlandaskan, dasar atau orientasi motivasi yang beraneka ragam atau berganti-ganti, dalam hal ini kekurangannya sangat tidak pas, sebab mudah berubah oleh keadaan dan situasi.

c. Kesadaran yang bersifat sosionomus, yaitu kesadaran atau kepatuhan yang terbaik karena didasari oleh konsep kesadaran yang ada dalam diri seseorang. Orang yang memiliki kesadaran ini biasanya adalah orang yang senantiasa peduli terhadap segala bentuk gejala sosial yang ada di masyarakat.

26 Kosasih Djahiri, Dasar dan Konsep Pendidikan Moral, (Bandung: Rineka Cipta, 2012), h. 24.

25

Dari penjelasan tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa kesadaran memiki beberapa tingkatan. Adapun tingakatan yang terbaik adalah apabila kesadaran atau kepatuhan tersebut sudah jelas dasar dan alasannya atau sebuah orientasinya.

3. Faktor-faktor Pembentuk Kesadaran

Faktor-faktor pembentuk kesadaran adalah sebagai berikut : a. Faktor internal

Faktor internal merupakan faktor yang asalnya dari dalam diri seorang atau individu itu sendiri. Mengutip dari penelitian Malikah dalam jurnal psikologinya, yang membahas tentang faktor pembentuk kesadaran, Soemarmo Soedarsono dalam model visualisasinya menggambarkan :27

Sistem Nilai (value system) Refleksi nurani Harga diri

Takwa kepada Tuhan YME.

Cara Pandang (attitude) Kebersamaan Kecerdasan 1) Sistem Nilai (value system)

Prinsip awal yang dibangun adalah manusia itu berfokus pada faktor-faktor non-material dan hanya bersifat normatif semata.

Artinya dalam prinsip pertama ini, unsur pembentukan kesadaran lebih mengarah kepada unsur kejiwaan (ruhani). Sistem nilai

27 Malikah, “Kesadaran Diri Proses Pembentukan Karakter Islam”, Jurnal Al-Ulum, (Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo, 2013, Vol. 13, No. 1), h. 132.

26

terdapat 3 komponen yaitu : a) Refleksi Nurani

Refleksi hati nurani dalam psikologi identik dengan intropeksi diri atau evaluasi diri yatu menganalisis dan menilai diri lewat data-data dan sumber-sumber yang diperoleh dari dalam diri maupun dari lingkunngan sekitar pribadi, sehingga didapatkan gambaran pribadi.

b) Harga Diri

Mengutip definisi yang disebutkan dalam kamus ilmiah popular, kata harga diri dimaknai sebagai martabat, derajat, pangkat, prestise, gengsi yang dimiliki seorang pribadi dan diakui oleh orang lain (masyarakat) terhadap status dan kedudukan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk penghargaan diri dan penghormatan.

c) Takwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan jalan ruhani yang ditempuh manusia untuk mencapai kesadaran terhadap diri. Menurut M. Iqbal, takwa terhadap Tuhan diartikan dengan taat kepada hukum yang dibawah oleh Nabi Muhammad Saw, artinya, pribadi bersifat hidmat (bijaksana dalam bertindak), nikmat (kerja keras), istiqbal (kuat dan terpadu) dan sabar (menjalankan printah-Nya, menjauhi larangan-Nya dalam

27

menghadapi cobaan yang ada.28

Dari sistem nilai yang tergabung, pribadi akan menentukan sebuah kepercayaan diri yang kuat dalam berkehendak dan berbuat, sehingga manusia, sebagai kesatuan jiwa-badan, mampu menangkap seluruh realitas, materi dan non-materi, karena didalam sistem nilai terdapat potensi epistemologis berupa serapan pancaindra, kekuatan akal dan intiusi yang akan melahirkan kesadaran diri pada diri manusia.

2) Cara Pandang (attitude)

Cara pandang (attitude) menjadi salah satu unsur pembentuk kesadaran. Didalamnya terdapat dua komponen pembentuk berupa kebersamaan dan kecerdasan.

a) Kebersamaan

Sebagai makhluk sosial, unsur kebersamaan dan bermasyarakat harus ada dan tertanam pada setiap individu.

Dalam upaya pembentukan kesadaran, unsur kebersamaan dengan membangun relasi yang baik dengan diri sendiri.14 Didalam kebersamaan yang dilakukan oleh pribadi, didapatkan dua buah unsur pembentu kesadaran berupa : penilaian orang lain terhadap diri (kelebihan dan kekurangan) dan keteladanan dari orang lain. Unsur interaksi sosial yang terjalin di masyarakat dan penilaian orang lain terhadap diri sangat

28 Muhammad Iqbal, Reconstruction in Islam, (Jakarta : Tintamas, 1982), h. 45.

28

mempengaruhi pembentukan kesadaran pada manusia.29 b) Kecerdasan

Dalam upaya pembentukan pribadi yang berkualitas, terdapat landasan diri yang harus dilalui oleh manusia untuk mencapai esensi ketahanan pribadi atau karakter yangkuat yaitu kecerdasan hidup. Indikasi adanya kecerdasan hidup pada diri manusia itu berupa : rasa percaya diri dalam memegang prinsip hidup yang diiringi dengan kemandirian yang kuat dan mempunyai visi untuk lebih mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.30

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa unsur kebersamaan dan kecerdasan yang terdapat dalam faktor cara pandang (attitude) menumbuhkan sebuah gambaran diri yang baik dalam tatanan sosial (kemasyarakatan). Dari sikap pandang baik yang terdapat dalam diri manusia maka masyarakat akan melihat diri sebagai sosok pribadi yang dapat menjalankan fungsi sebenarnya dari hakikat penciptaan manusia di bumi, yaitu makhluk sosial yang memiliki akal budi, naluri dan intuisi yang khas.

29 Antonius Atosokhi Gea, dkk, Relasi Dengan Diri Sendiri, (Jakarta : Elek Media Komputindo, 2002), h. 10.

30 Ibid.,

29

b. Faktor Eksternal

Menurut Sigmund Freud faktor eksternal yang sangat dominan dalam mempengaruhi kesadaran seseorang adalah lingkungan, antara lain:31

1) Situasi dan belajar sosial

Situasi mempengaruhi perilaku kesadaran dan keyakinan seseorang, memberi imbalan terhadap prilaku yang dianggap sesuai dan menghukum atau menghilangkan perilaku yang dianggap menyimpang.

2) Keluarga

Keluarga merupakan faktor terbesar dalam kesadaran diri seseorang. Kehidupan dalam keluarga, pola asuh dan pemahaman keluarga yang tidak dialami oleh anggota keluarga lainnya.

3) Pengaruh teman sepergaulan

Teman tidak kalah penting dalam hal kesadaran diri seseorang.

Karena dengan siapa seseorang berteman akan sangat mudah menentukan tingkat kepekaan dan kesadaran seseorang.

Selain lingkungan budaya juga mempengaruhi kesadaran seseorang. Karena budaya merupakan aturan-aturan yang berlaku bersama dan mengatur prilaku dari anggota suatu komunitas atau masyarakat dan seperangkat nilai, keyakinan dan sikap yang sama

31 Ferdinand Zafiera, Teori Kepribadian Sigmund Freud, (Yogyakarta : Prisma Shopie, 2009), h. 285.

30

dimiliki oleh sebagian besar anggota dari komunitas tersebut.32 Budaya yang sangat mempengaruhi kesadaran seseorang adalah budaya Kolektivitas, yakni budaya di mana diri dipandang sebagai bagian dari hubungan dengan orang lain dan keselaraan dengan kelompok dihargai lebih tinggi dibandingkan tujuan dan keinginan individual.

32 Ibid., h. 186.

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis, logis, dan berencana untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis data, serta menyimpulkan dengan menggunakan metode, atau teknik tertentu untuk mencari jawaban atas permasalahan.1 Tujuan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat.

1. Jenis Penelitian

Penelitian dengan judul faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat pertanian di desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur ini akan dilakukan menggunakan jenis penelitian lapangan (field research), Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci, dan mendalam terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajari sebagai suatu kasus.2

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya jenis penelitian lapangan atau field reserch adalah penelitian yang dilakukan dengan meneliti objek secara langsung di lokasi Desa Bumiharjo yang akan diteliti agar mendapat hasil yang maksimal. Adapun

1 Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2008), h. 37.

2 Uhar Suharputra, Metode Penelitian, (Bandung : PT Refika Aditama, 2012), h. 181

32

objek dari penelitian lapangan ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat pertanian di Desa Bumiharjo.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, penelitian deskriptif diartikan sebagai suatu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu fenomena/peristiwa secara sistematis sesuai dengan apa adanya.3 Penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mencari informasi faktual yang mendetail berdasarkan gejala yang ada.4

Pada penelitian ini yang dimaksud penelitian deskriptif adalah memberikan gambaran dan keterangan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat pertanian di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

B. Sumber Data

Sumber data ialah subjek darimana data diperoleh.5 Penelitian ini menggunakan beberapa sumber data, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan sumber data pokok dalam sebuah penelitian. Sumber data primer adalah yang langsung memberikan data

3 Nyoman Dantes, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2012), h. 51.

4 W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2005), h. 76.

5 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2006), h. 114.

33

pada pengumpul data.6 Dalam penentuan sumber primer ini peneliti menggunakan metode purposive sampling yaitu salah satu teknik sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dalam menjawab permasalahan peneliti.7

Adapun ciri-ciri khusus yang peneliti tetapkan adalah muzakki yang rutin menunaikan zakat petanian, muzakki yang jarang menunaikan zakat pertanian dan muzakki yang tidak menunaikan zakat pertanian serta amil zakat pertanian yang ada di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan metode purposive sampling maka penentuan informan dalam penelitian ini adalah 4 orang muzakki yang rutin menunaikan zakat, 4 orang muzakki yang jarang menunaikan zakat dan 4 orang muzakki yang tidak menunaikan serta 5 orang amil zakat pertanian di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Dari sumber data primer tersebut peneliti mengumpulkan data tentang faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat pertanian.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain ataupun dokumen.8 Sumber data sekunder juga berasal dari sumber-

6 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif , Kualitatif,dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 137.

7 Iibid., h. 173

8 Sugiyono, Metode Penelitian., h. 137.

34

sumber yang telah ada, biasanya diperoleh dari perpustakaan atau laporan-laporan penelitian terdahulu, yang kemudian akan menghasilkan data sekunder atau disebut juga data tersedia. Dengan demikian sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari pihak lain yang tidak terkait dengan sumber primer penelitian. Sumber data sekunder yang digunakan peneliti meliputi kitab-kitab hadist seperti Shahihul Muslim karya Imam Abu Husein Muslim bin Hujjaz al-Qusairi an- Naisaburi, Sunah tirmidzi karya Abi Isa Muhammad bin Isa bin Surah dan Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, juga dari buku-buku tentang zakat diantara adalah Hukum Zakat karangan Yusuf Qardawi, Fiqih Sunnah 3 karangan Sayyid Sabiq, Fiqih Ibadah karangan Abdul Hamid dan Beni Ahmad Saebani,dan Zakat Pajak Asuransi dan Lembaga Keuangan karangan Ali Hasan.Dan perpustakaan ilmiah lainnya yang terkait dengan Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Masyarakat Mengeluarkan Zakat Pertanian di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara atau metode yang digunakan dalam pengumpulan data berupa pencatatan peristiwa, hal-hal, keterangan atau karakteristik dari sebagian atau seluruh elemen masyarakat. Pengumpulan data ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.9

9 W.Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2005), h. 110.

35

Dalam karya ilmiah ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa :

1. Wawancara

Wawancara merupakan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung.10 Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.11

Teknik yang digunakan wawancara terstruktur, dimana pewawancara telah menyiapkan daftar pertanyaan. Wawancara tidak hanya menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif yang dimiliki oleh responden yang bersangkutan.12

Teknik wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang akurat dari sumber data primer yang dibutuhkan untuk penelitian, wawancara akan dilakukan dengan narasumber, untuk mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat pertanian di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Adapun objek dari metode wawancara ini ialah Bapak Busairi, Bapak Solehudin, Bapak Misman, Bapak Mudakir dan Bapak Rustam selaku amil zakat pertanian di Desa Bumiharjo, juga

10 Husaini Usman, Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT.

Bumi Aksara, 2003), h. 57.

11 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 186.

12 W.Gulo, Metodologi Penelitian., h. 119.

36

Bapak Muslikan, Bapak Kusairi, Bapak Zainuri dan Bapak Suwanto selaku muzakki yang rutin menunaikan zakat pertanian, Bapak Mansur, Bapak Marjo, Bapak Hambali dan Bapak Huda selaku muzakki yang terkadang menunaikan zakat pertanian dan Bapak SU, Bapak DI, Bapak SL dan Bapak GU Selaku muzakki yang tidak menunaikan zakat pertanian.

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan tentang berbagai kegiatan atau peristiwa masa lalu yang ditulis atau dicetak mereka berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen.13 Metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.14

Dokumentasi dalam penelitian ini meliputi data hasil pertanian, data amil, data muzakki, data mustahik dan data perolehan zakat pertanian di Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten lampung Timur.

Dokumentasi ini digunakan untuk memperkuat data yang dikumpulkan sebagai bukti nyata guna mendapatkan data yang diperlukan secara maksimal.

13 Ibid., h. 123.

14 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian., h. 231.

37

D. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.15

Teknik analisis data yang peneliti gunakan ialah teknik analisis data kualitatif, penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik bahwa datanya dinyatakan sebagaimana adanya dengan tidak merubah dalam bentuk simbol atau bilangan, sedangkan perkataan penelitian pada dasarnya berarti rangkaian kegiatan atau proses pengungkapan rahasia atau sesuatu yang belum diketahui dengan mempergunakan cara kerja atau metode yang sistematik, terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.16 Adapun analisis data kualitatif pada penelitian ini yaitu mendeskripsikan secara tekstual berupa narasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat menunaikan zakat pertanian di Desa Bumiharjo berdasarkan wawancara dan dokumentasi yang telah di lakukan.

Selanjutnya terkait pendekatan dalam analisis data kualitatif peneliti menggunakan pola berfikir induktif, yaitu berangkat dari teori-teori yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum.17 Metode

15 Sugiyono, Metode Penelitian., h. 244.

16 Moh Kasiram, Metode Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Yogyakarta: UIN Maliki Pres, 2010), h. 355.

17 Ibid., h. 356.

38

tersebut peneliti gunakan untuk menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat menunaikan zakat pertanin secara khusus yang terjadi di masyarakat Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur kemudian menentukan kesimpulannya secara umum berdasarakan landasan teori tentang faktor-faktor pembentuk kesadaran.

39

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Bumiharjo Kecamatan Batanghari 1. Sejarah Singkat Desa Bumiharjo

Desa Bumiharjo merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Desa Bumiharjo didirkan pada tahun 1939 oleh masyarakat kolonisasi yang didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang meliputi daerah Yogyakarta.

Kepala Desa waktu itu bernama Harjo Sudarmo yang dibantu oleh perangkat desanya menjabat sampai tahun 1942.

Pada awalnya jumlah penduduk Desa Bumiharjo sebanyak 276 Kepala Keluarga (KK), akan tetapi seiring berjalannya waktu penduduk desa mengalami pengurangan disebabkan banyak yang meninggal dunia dan pulang ke tanah asalnya (Jawa). Selain itu banyak pula penduduk yang diberangkatkan untuk kerja rodi dan juga merantau mencari nafkah ke daerah lain lalu menetap di daerah tersebut.

Sehingga pada tahun 1942 jumlah penduduk yang tercatat berkurang manjadi 200 Kepala Keluarga (KK). Sebelumnya penduduk desa berkurang.

40

Dengan semakin teraturnya Negara Republik Indonesia maka Desa Bumiharjo ikut berbenah diri dan penduduk yang semakin banyak berdatangan atau yang sengaja didatangkan oleh familinya yang ada di Desa Bumiharjo untuk mengisi kekurangan penduduk.1

Untuk mengatur wilayah dan penduduk Desa Bumiharjo maka dibentuklah bedeng-bedeng atau dusun-dusun menjadi 6 kelompok yaitu :

Tabel.4.1 Bedeng-Bedeng atau Dusun-dusun Desa Bumiharjo2

No. Nama Bedeng Jumlah KK

1 Bedeng 39 A 50

2 Bedeng 39 B1 B2 66

3 Bedeng 39 C 40

4 Bedeng 39 D 60

5 Bedeng 39 Polos 60

Jumlah 276

Tabel.4.2 Nama-Nama Lurah/Kepala Desa Sesudah Berdirinya Desa Bumiharjo3

No. Nama Kepala Desa Periode

1 Harjo Sudarmo 1939-1942

2 Sastro Diharjo 1942-1949

3 Mad Lani 1949-1966

4 Admo Sanjoyo 1966-1967

5 Kusen 1967-1968

6 H. Abd Rahman 1968-1978

1 Dokumentasi Profil Sejarah Berdirinya Desa Bumiharjo, pada tanggal 12 Agustus 2020.

2 Dokumentasi Profil Desa Bumiharjo, tanggal 12 Agustus 2020.

3 Dokumentasi Profil Desa Bumiharjo, tanggal 12 Agustus 2020.

41

7 H. Abd Rahman 1978-1988

8 H. Abd Rahman 1988-1998

9 Husin Jamil 1998-2008

10 Mulyadi 2008-2013

11 Mahfud Sidiq 2013-2019

12 Mahfud Sidiq 2019-Sekarang

2. Visi dan Misi Desa Bumiharjo

Pelaksanaan kegiatan Pemerintahan Desa Bumiharjo yang terselenggara dengan baik dan terarah perlu dicapai dengan rencana Strategis Desa, yaitu ditempuh dengan penyusunan Dokumen dalam bentuk Peraturan Desa Nomor 01 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) Tahun 2014- 2021 dengan penjabaran program dan kegiatan setiap tahun dalam wujud Kegiatan baik fisik maupun nonfisik yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa) tahunan yang ditetapkan dengan Peraturan Desa Nomor 02 Tahun 2019. Visi dan Misi Desa merupakan implementasi dari Visi dan Misi Kepala Desa terpilih dengan beberapa penambahan kegiatan yang disusun/digali berdasarkan musyawarah desa secara partisipatif.

Visi dari Desa Bumiharjo yaitu Terwujudnya Masyarakat Yang Makmur Dengan Peningkatan Sumber Daya Manusia Untuk Menuju Desa Agribisnis. Berdasarkan visi tersebut maka Desa Bumiharjo mempunyai misi sebagai berikut :

42

a. Meningkatkan SDM melalui pendidikan formal maupun informal memperbaiki dan menambah sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

b. Meningkatkan dan menambah kerjasama dengan Dinas terkait khususnya pertanian untuk pengetahuan dan produksi pertanian.

c. Meningkatkan dan menggali serta pemanfaatan usaha pertanian.

d. Meningkatkan dan mengelola Pendapatan Asli Desa.

e. Melaksanakan Spesifikasi wilayah untuk produk unggulan.

f. Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih melalui pelaksanaan otonomi desa.4

3. Letak Geografis Desa Bumiharjo

Gambar. 4.1 Peta Sosial Desa Bumiharjo5

4 Profil Desa Bumiharjo tahun 2020.

5 Dokumentasi Profil Desa Bumiharjo, tanggal 12 Agustus 2020.

43

Secara geografis, Desa Bumiharjo berbatasan dengan wilayah- wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sidodadi Kecamatan Pekalongan

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sumberejo c. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Banjarrejo d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Balerejo

Desa Bumiharjo memiliki luas wilayah 705 Ha yang terbagi menjadi 6 dusun yaitu Dusun Bumi Rahayu, Dusun Bumi Arum, Dusun Bumi Agung, Dusun Bumi Makmur, Dusun Bumi Asri dan Dusun Bumi Asih. Keadaan topografi Desa Bumiharjo yaitu dengan luas kemiringan lahan datar 158,566 Ha yang secara umum Desa Bumiharjo terletak pada ketinggian 50 m di atas permukaan laut. Keadaan topografi yang demikian menyebabkan lahan sangat cocok untuk dijadikan persawahan dengan tanaman utamanya yaitu padi.

Curah hujan di Desa Bumiharjo berkisar 2000/3000 mm, serta kondisi suhu di desa ini berada diantara 27-32°C. Di mana dengan suhu tersebut di Desa Bumiharjo banyak terdapat tanaman budidaya pertanian seperti padi, jagung, kelapa, kopi dan lain-lain. Mayoritas penduduknya bekerja pada bidang pertanian yaitu petani sawah. Di mana luas lahan pertanian sawah irigasi 453,34 Ha dan luas lahan pemukiman 151,84 Ha.

Dalam dokumen skripsi - IAIN Repository - IAIN Metro (Halaman 36-45)

Dokumen terkait