Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.
045/U/2002, kompetensi diartikan sebagai perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksana-kan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu.1
102 Abdullah B.
dikutip oleh Samana bahwa kompetensi adalah kemampuan yang ditampilkan oleh guru dalam melaksanakan kewajibannya memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.3 Oleh karena itu dapat dikatakan pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan dan kecakapan.
Seseorang yang dinyatakan kompeten di bidang tertentu adalah yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dengan kata lain kompetensi merujuk pada kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang dibuktikan dengan sikap dan perilakunya.
Seseorang memiliki kompetensi apabila dapat melakukan sesuatu. Hal ini sesuai dengan pendapat Munandar bahwa kompetensi merupakan daya untuk melakukan sesuatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.4 Pendapat Munandar ini, menginformasikan dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya kompetensi, yakni (a) faktor bawaan, seperti bakat, dan (b) faktor latihan seperti hasil belajar.
3Lebih lanjut baca, menurut Littrell, kompetensi adalah kekuatan mental dan fisik untuk melakukan tugas atau keterampilan yang dipalajari melalui latihan dan praktik. Sedangkan menurut Stephen J. Kenezevich, kompetensi adalah kemampuan-kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi.
Kemampuan menurut Kenezevich merupakan hasil dari kemampuan- kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa pengetahuan, keterampilan kepemimpinan, kecerdasan, dan lain-lain yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuan organisasi. A. Samana, Profesionalisme Keguruan (Yogyakarta: Kanisius, 1994), h. 44.
4Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah (Petunjuk bagi para guru dan orang tua) (Jakarta: Grasindo, 1992), h. 17.
Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah/madrasah karena kompetensi guru pada hakikatnya tidak bisa dilepaskan dari konsep hakikat guru dan hakikat tugas guru. Kompetensi guru mencerminkan tugas dan kewajiban guru yang harus dilakukan sehubungan dengan tugas jabatan guru.
Kompetensi guru bukan merupakan istilah asing dalam dunia pendidikan. Secara sederhana, profesional berasal dari kata profesi yang berarti jabatan.5 Orang yang profesional adalah orang yang mampu melaksanakan tugas jabatannya secara maksimal, baik secara konseptual maupun aplikatif,6 dengan demikian dapat dikatakan guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan yang maksimal dalam melaksanakan tugas jabatan guru.
Bila ditinjau secara lebih detail, ada beberapa karakteristik kompetansi guru. Rebore dalam Kunandar mengemukakan bahwa karakteristik profesionalisme guru bisa ditinjau dari enam komponen, yaitu: (1) pemahaman dan penerimaan dalam melaksanakan tugas, (2) kemauan melakukan kerjasama secara efektif dengan peserta didik, guru, orang tua peserta didik, dan masyarakat, (3) kemampuan mengembangkan visi dan pertumbuhan jabatan secara terus
5M. Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia (Edisi Revisi, Jakarta: Bina Aksara, 2008), h. 128.
6M. Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, h. 128.
104 Abdullah B.
menerus, (4) mengutamakan pelayanan dalam tugas, (5) mengarahkan, menekan dan menumbuhkan pola perilaku peserta didik, serta (6) melaksanakan kode etik jabatan.7
Di sisi lain, Glickman dalam Bafadal memberikan ciri kompetansi guru dari dua sisi, yaitu kemampuan berpikir abstrak (abstraction) dan komitmen (commitment) guru. Guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas.8 Dengan kata lain bahwa komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang didasari dengan rasa penuh tanggung jawab.
Lebih lanjut, Welker dalam Saud mengemukakan bahwa kompetansi guru dapat dicapai bila guru ahli (expert), dalam melaksanakan tugas, dan selalu mengembangkan diri (growth).9 Demikian pula Glatthorm mengemukakan bahwa dalam melihat kompetansi guru, disamping kemampuan dalam melaksanakan tugas, juga perlu mempertimbangkan aspek komitmen dan tanggung jawab (responsibility), serta
7Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah (Petunjuk bagi para guru dan orang tua), h. 114.
8Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah (Petunjuk bagi para guru dan orang tua), h. 69.
9Udin Syaefuddin Saud, Pengembangan Profesi Guru (Bandung:
CV.Alfabeta, 2010), h. 85.
kemandirian (autonomy).10 Bila ditelaah dari unsur-unsurnya, pada dasarnya ada dua aspek yang menentukan tingkat kompetansi guru dalam melaksanakan tugas, yaitu aspek kemampuan dan komitmen. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan komitmen dalam melaksanakan tugas-tugas jabatan. Dengan kata lain, memiliki komitmen dan semangat kerja yang baik dalam melaksanakan tugas. Untuk itu, dalam meningkatkan profesionalisme guru, perlu didukung dengan kemampuan yang baik dan semangat kerja yang tinggi.
Kompetensi guru menurut pakar pendidikan Soedijarto menyatakan, sebagai seorang guru agar mampu menganalisis, mendiagnosis, dan memprognosis situasi pendidikan.11 Lebih lanjut Soedijarto mengemukakan bahwa guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain: (a) disiplin ilmu pengetahuan, (b) bahan ajar yang diajarkan, (c) pengetahuan tentang karakteristik peserta didik, (d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan, (e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model pembelajaran, (f) penguasaan terhadap prinsip-prinsip
10Udin Syaefuddin Saud, Pengembangan Profesi Guru.
11Lebih lanjut baca, kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan) karena itu, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Soedijarto, Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 1993), h. 60.
106 Abdullah B.
teknologi pembelajaran, (g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan pembelajaran, guna kelancaran proses pendidikan.12
Tuntutan atas berbagai kompetensi ini mendorong guru untuk memperoleh informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan dalam kompetensi profesionalnya. Kompetensi guru merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti.13 Dengan demikian, kompetensi guru merupakan kapasitas yang dimiliki guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Tugas profesional guru bisa diukur dari seberapa jauh guru mendorong proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Cooper dalam Sudjana, mengemukakan empat kompetensi guru, yakni (1) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (2) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, (3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, dan teman sejawat, serta (4) mempunyai keterampilan teknik pembelajaran.14 Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Grasser dalam Sudjana, bahwa ada empat hal yang harus
12Soedijarto, Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 2003), h. 61.
13Soedijarto, Memantapkan Sistem Pendidikan, h. 71.
14Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 2009.) h. 116.
dikuasai guru, yakni: menguasai bahan pelajaran, kemampuan mendiagnosis tingkah laku peserta didik, kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, dan kemampuan mengukur hasil belajar peserta didik.15 Sementara itu, Sudjana telah membagi kompetensi guru dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai mengajar, pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang bimbingan penyuluhan, pengetahuan tentang adminsitrasi kelas, pengetahuan tenatang cara menilai hasil belajar peserta didik, pengetahuan tentang kemasyarakatan, serta pengetahuan umum lainnya.
2. Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya, sikap menghargai pekerjaannya, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi terhadap sesama teman profesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaannya.
3. Kompetensi perilaku/performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan/berperilaku, seperti keterampilan dalam membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pembelajaran, bergaul atau berkomunikasi dengan peserta didik, keterampilan menumbuhkan semangat belajar peserta didik, keterampilan menyusun persiapan perencanaan
15Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.
108 Abdullah B.
pembelajaran, keterampilan melaksanakan administrasi kelas, dan lain-lain.16
Ketiga bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain karena ketiga bidang tersebut (kognitif, sikap dan perilaku) mempunyai hubungan hirarkis, artinya saling mendasari satu sama lain, kompetensi yang satu mendasari kompetensi lainnya.