• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Kajian Teori

3. Pengertian Masyarakat

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan- hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain).

Defenisi masyarakat menurut Horton dan Hunt ( 1982 : 47 ) dikutip Elly M.

Setiadi, dkk ( 2007 : 82-83 ) yaitu : Kelompok manusia, Sedikit banyak memiliki kebebasan dan bersifat kekal, Menempati suatu kawsan, Memiliki kebudayaan, Memiliki hubungan dalam kelompok yang bersangkutan.

Sedangkan menurut Fikr Rausyan (2012: 5) “sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengalami kehidupan yang kolektif”. Diantara istialh (konsp) masyrakat yang telah di kemukakan diatas, tidak ada perbedaan ungkapan yang mendasar, justru yang ada yaitu mengenai persamaannya. Yang utama, masyarakat itu merupakan kelompok atau kolektivitas manusia yang melakukan antara hubungan, sedikit banyak bersifat kekal, berlandaskan perhatian dan tujuan bersama, serta telah melakukan jalinan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama. Berdasarkan pengamatan dan penghayatan, kita setuju bahwa manusia sejak lahir sampai mati ia selalu terikat dengan masyarakat. Sepanjang hayat dikandung badan, kita tidak akan lepas dari masyarakat, mencari nafkah,

17

serta menerima pengaruh dari lingkungan sosial yang disebut masyarakat. Karena tiap orang ada dalam konteks sosial yang di sebut masyarakat, ia akan mengenal orang lain, dan paling utama mengenal diri sendiri selaku anggota masyarakat.

Kepientingan yang melekat pada diri masing-masing menjadi dasar interaksi sosial yang mewujudkan masyarakat sebagai wadahnya. Masyarakat pada dasarnya adalah proses perubahan menuju pada suatu kondisi yang lebih baik.

Kondisi kehidupan yang lebih baik tersebut secara lebih konkrek sering disebu juga dengan peningkatan taraf hidup dapat pula dianggap sebagai tujuan yang hendak dicapai melalui proses pembangunan masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena untuk menilaai seberapa jauh suatu proses setelah dianggap membawa hasil yang di harapkan akan di tentukan seberapa jauh proses tersebut telah mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Disamping itu muncul pula anggapan, bahwa sebagai upaya peningkatan taraf hidup, proses pembangunan hendaknya memberi perhatian yang lebih besar kepada lapisan masyarakat yang berada para taraf hidup paling rendah. Lapisan masyarak yang demikian biasa disebut dengan lapisan masyarakat miskin. Oleh sebab itu, kemudian dikenal konsep garis kemiskinan sebagai batas untuk mengklasifikasikan kelompok miskin tersebut. Maka disini perlu yang namanya pemanfaatan sumberdaya manusia.

“Pemanfaatan sumberdaya manusia dalam proses pembangunan masyarakat pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu (1) peningkatan serta pengembangan kualitas dan ( 2) pemanfaatannya melalui berbagai peluang, aktivitas dan usaha

18

dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan peningkatan taraf hidup masyarakat”

(Soetomo, 2012: 221).

Ukuran yang diangap tepat untuk menentukan garis batas tersebut adalah dari sudut pendapat khususnya pendapat setiap rumah tangga. Walaupun demikian, menggunakan pendapatan setiap rumah tangga sebagai ukuran untuk menentukan tingkat kemiskinan ini pun tidak terlepas dari beberapa masalah dalam penerapannya. Beberapa masalah tersebut terutama berkisar pada penentuan standar pendapatan untuk menentukan kemiskinan dan kesulitan untuk memperoleh informasi yang akurat pada setiap rumahtangga tentang jumlah pendapatan rilnya. Masyarakat yang mengarah pada peningkatan taraf hidup ,maka sumber daya pembangunan merupakan faktor yang sangat penting pada hal, sumber daya yang tersedia potensi yang dapat manfatkan bagi memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Sumber daya yang sebetulnya cukup potensial menjadi tidak dapat banyak di petik manfaatnya bagi masyarakat karena cara pemanfaatan yang kurang cepat. Dengan demikian, masalah pendekatan yang digunakan dalam rangka pemanfaatan sumber daya ini merupakan permasalahan yang sangat urgen dalam proses pembangunan masyarakat.

Masyarakat yang di dalamnya ada unsur perubahan dan pembaruan, paling tidak ada dua pihak yang peran. Yang pertama adalah pihak dari luar masyarakat yang terjadinya pembaruan. Dalam pengertian yang pertama ini salah satunya pihak pemerintah dengan berbagai instansi dan lembaga yang dimiliki melalui program-program pembangunan. Yang kedua adalah masyarat itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena dalam pembangunan masyarakat, peran, inisiatif,

19

kriativitas dan partisipasi dari masyarakat sendiri sangat diharapkan. Dengan adanya dua pihak ini, variasi pendekatan pembangunan dalam masyarakat termasuk juga dalam rangka pendaya gunaan sumber-sumber pembangunan dapat dilihat dari proporsi pranan dari pihak luar kominitas dan dari dalam kominitas sendiri.

4. Perekonomian Masyarakat Desa Nanga Mbaur

Soekartawi(2002: 14) pada awalnya aspek penting yang dimaksutkan dalam klasifikasi sumberdaya pertanian adalah aspek alam (tanah), modal dan tenaga kerja. Namun demikian, karna perkembang ilmu pengetahuan, di tuntut adanya aspek lain yang dianggap penting dalam pengelolaan sumberdaya produksi tersebut yaitu aspek manajemen. Hal ini dapat dimengerti walaupun sumberdaya tersedia dalam jumlah yang memadai, namun tampa adanya kemampuan untuk mengelola yang baik, maka penggunaan sumberdaya tersebut tidak akan lebih efisien. Begitulah yang terjadi di dalam pengelolaan pertanian di Desa Nanga Mbaur Kecamatan Sambirampas Kabupaten Manggarai Timur. Penghasilan masyarakat desa nanga mbaur tidak dapat di tebak karena mereka mengandalkan hasil pertanian dan perkebunannya. Namun rata-rata petani desa nanga mbaur masuk dalam kelas menengah dengan penghasilan yang cukup lumayan tinggi dalam pengolahan pertanian yang tidak hanya di tanam satu jenis tanaman, supaya mampu untuk menghidupi keluarganya setiap hari dan untuk menabung. hal tersebut karena petani dalam pengolahan pertaniannya lebih di fungsikan untuk kebutuhan lapisan, yaitu untuk pemenuhan kebutuhan harian, bulanan, tahunan dan tabungan. Kebutuhan untuk sehari-hari, lebih condong untuk dimakan sendiri

20

dan untuk dijual di pasar kemudian untuk membeli makanan di pasar atau jajan serta untuk uang saku anaknya, petanai memanfaatkan lahannya dengan cara ditanami sayur-sayuran yang mampu untuk di panen setiap hari. Misalnya, bayam, tomat, terong dan kacang-kacangan hijau. Biasanya tanaman yang di fungsikan untuk kebutuhan harian bersifat tanaman merambat.

Untuk kebutuhan bulanan atau sekitar 3 bulan sekali petani lebih memanfaatkan hasil pertanian yang sengaja di tanam dengan umur kisaran 3 sampai 4 bulan, selaian di fungsikan untuk melengkapi kebutuhan yang tergolong besar seperti membeli motor, baju. Juaga di fungsikan untuk simpanan ketika mau menanam kembali pertaniannya. Hasilnya pun diatas dengan tanaman yang di panen setiap hari. Untuk kebutuhan tahunan, petani juga memanfaatkan pertanian dan kebun mereka untuk kebutuhan tahunan, dari tanaman yang di fungsikan untuk simpanan tahunan biasanya berupa padi, jagung atau pohon-pohon yang nantinya diambil kayunya untuk di jual, selain untuk tabungan pohon tersebut juga di manfaatkan cabang-cabang yang sudah kering untuk memasak atau tungku penghangat karena cuaca yang dingin dan pohon di kebun juga di fungsikan untuk berteduh bagi para petani. Kebun untuk tabungan atau kebutuhan sewaktu-waktu yang mendadak, dalam kebutuhan yang terkadang membutuhkan uang secepat mungkin petani tidak akan bisa hanya mengandalkan hasil utuh pertanian padi atau tanaman dari kebun, petani menyiasati dengan menernak sapi, kambing, kerbau di rumhnya, entah itu hanya 1 ekor atau lebih. Dan petani hanya menanam rumput untuk makan sapi di pinggir kebunnya, hal tersebut dilakukan petani untuk menabung sepertihalnya menabung dengan rumput, kalau pun rumput tersebut di

21

jual hanya seribu atau tiga ribu, akan berbeda jika untuk makanan sapi sendiri yang bisa di jual nyampe dengan puluhan juta ketika ada kebutuhan yang mendadak. Jenis pertanian yang sering ditanam oleh petani Masyarakat desa nanga mbaur adalah padi, jagung, tomat, sawi, terong, cabe. Namun, diantara tanaman tersebut yang palibg sering ditanam adalah padi dan jagung karena memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Namun disisi lain perawatannya yang harus ekstra susah untuk menghindari hama-hama penyakit dengan cara di semprot menggunakan tengki samprot dan pupuk urea supaya terhindar dari serangan penyakit hama. Untuk memaksimalkan serta memberi kenyamanan bagi para petani, hasil pertaniannya masyarakat pagenteran harus memiliki strategi dalam pertaniannya. Strategi dalam menghadapi musim, strategi dalam pengolahan lahan pertanian dan perkebunanya, strategi dalam pemanennya, strategi dalam menghidupi keluarganya dalam pertanian dan berkebun dan lain-lain.

Soetomo (2012:187-188) salah satu sumberdaya pembangunan yang cukup penting yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat adalah sumber daya alam. Sejarah perkembangan manusia sejak masa kehidupan nomaden sampai jaman industrialisasi menunjukan, bahwa salah satu cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya adalah dengan memanfaatkan alam. Perbedaannya, dalam masa kehidupan nomaden manusia memanfaatkan alam secara langsung artinya memenuhi kebutuhan dengan jalan mengambil apa saja yang disediakan alam.

Sistem Ijon merupakan salah satu strategi petani pada masyarakat Desa Nanga Mbaur dalam pemanenan hasil pertaniannya. Sistem ijon merupakan

22

penjualan hasil tanaman dalam keadaan hijau atau masih belum dipetik dari batangnya di ladang dengan secara borongan. Sedangkan tukang ijon dinamai dengan “pemilik modal” merekalah yang menguasai hasil produksi tani di Desa Nanga Mbaur. Masyarakat Desa Nanga Mbaur mayoritas masih umum melakukan sistem ijon dalam memanen dan bertransaksi, karena teramasuk dianggap tidak ribet, tinggal duduk uang sudah bisa kita dapat dan cepat mendapatkan uang.

a. Tipikal Petani Dalam Pelaksana Sistem Ijon

Dalam berjalanya sistem ijon hampir seluruh masyarakat Desa Nanga Mbaur Kecamatan Sambirampas Kabupaten Manggarai Timur masih menggunakan sistem ijon dengan tidak memandang stratifikasi sosial dalam petani. Stratifikasi sosial petani yang terhitung tingkat atas mempunyai luas persawahan diatas 2-3 hektar, serta stratifikasi sosial petani yang tergolong menengah ialah petani yang mempunyai luas kebun setengah hektar dan stratifikasi sosial kelas bawah yang mempunyai luas hanya sekitar ¼ hektar, mereka semua mayoritas masih menggunakan sistem ijon dalam pemanennya.

b. Berjalannya Sistem Ijon

Berjalannya praktek sistem ijon memiliki perbedaan antara petani dengan stratifikasi sosial yang tinggi dan yang stratifikasi sosial dengan kelas bawah.

Petani dengan stratifikasi sosial yang tinggi tidak terlalu terikat dengan pemilik modal, karena mereka tidak ada kaitan utang atau kontrak dengan pemilik modal, mereka hanya mencari pemilik modal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga yang tinggi dan sesuai pasaran. Petani dengan stratifikasi sosial tinggi melakukan sistem ijon bertujuan supaya tidak terlalu cape dalam pemanenanya,

23

mereka hanya menerima uang saja dan terserah tengkulak mau memanen kapan karena petani sudah tidak mengurusi hasil pertaniannya lagi. Namun, petani mulai menawarkan ketika umur 84 hari atau kurang lebih empat bulan yaitu ketika padi mulai panen atau sayurannya dan ketika sudah disetujui oleh salah satu pemilik modal, petani tersebut sudah tidak merawat padinya lagi, karena sudah tidak ada ikatan utang dengan pemilik modal, petani pun meminta untuk di bayar sekaligus ditempat dengan sesuai harga pasar, karena ketika membayarnya nanti atau separo, bisa saja ketika saat panen atau pemetikan tiba dan harga padi turun maka akan terjadi pemotongan harga.

Akan berbeda dengan kelas petani yang stratifikasi sosialnya rendah, mereka memiliki keterkaitan antara pemilik modal dengan petani, petani dengan stratifikasi sosial rendah tidak mempunyai modal sebanyak petani yang stratifikasi sosialnya tinggi sehingga mereka sebelum pembibitan mereka sudah terlibat hutang terlebih dahulu dengan pemilik modal untuk produksi penyiapan lahan, pembibitan dan perawatan. Sehingga nanti ketika panen petani harus menyerahkan hasil kebunnya untuk di beli oleh pemilik modal yang menghutanginya, namun ketika pembelian petani diharuskan membayar hutang pada saat pembibitan awal atau modalnya dengan bunga cukup tinggi. Disitulah letak kerugian petani yang mereka kurang sadari karena mereka mengharapkan cepat mendapatkan uang dari hasil kebunnya.

c. Permainan otak pemilik modal dan petani dibalik sistem ijon

Untuk mendapatkan untung yang besar dikedua belah pihak antara petani dan pemilik modal yang saling bertolak belakang, yaitu petani menginginkan hasil

24

yang besar dengan kerja yang santai walaupun hasil pertaniannya kurang baik dan tengkulak juga menginginkan hasil yang besar dengan membeli hasil pertanian yang murah dan kualitas bagus sehingga mampu untuk dijual kepasar dengan harga yang lebih tinggi. Permainan otak yang sering dilakukan oleh petani terhadap pemilik modal yaitu dengan cara menjualkan hasil panen nya setengah dari semua hasil pertaniannya yang di garapnya, hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi harga pertanian ketika pemotongan biasanya sering terjadi ketika pemotongan harga padi melambung tinggi, ketika harga padi melambung tinggi maka petani menjual sendiri setengah hasil panennya yang belum terjual dengan harga yang tinggi juga. Akan tetapi jika harga sayurannya ternyata merosot sangat drastis maka hasil kebung yang separo tersebut di jual terhadap tengkulak untuk mengantisipasi kerugian yang sangat banyak. Tidak hanya itu, ketika sudah terlanjur hasil panennya terbeli semua dan harga pasar maka petani tersebut mengambil sebagaian hasil pertaniannya di kebunnya sendiri, biasanya dilakukan ketika akan penimbangan, ketika pengawas pemotongan padi pulang maka hasil panen yang sudah selsai dibawa pulang dengan cukup banyak untuk di jual sendiri oleh petani demi mendapatkan keuntungan yang besar. Permainan otak dari pemilik modal biasanya terlihat dari permainan harga padi di pasaran, tengkulak lebih menguasai harga di pasaran. Selain itu tengkulak lebih bermain pada petani yang stratifikasi sosialnya berada dibawah karena modal dari petani kecil di hutangi oleh tengkulak sehingga tengkulak mampu bermain harga dengan murah.

Dan yang paling membuat petani geram adalah ketika pemilik modal membeli murah hasil perkebunan dan ternyata harga pasar tersebut tinggi mereka tidak

25

bilang serta langsung menjualkannya lagi kepemilik modal lain, jadi pemilik modal pertama bertugas semacam calo, hal tersebut diketahui ketika masa pemotongan dari hasil pertaniannya. Dari berbagai permainan otak yang sudah sering dilakukan kedua belah pihak terkadang sudah bisa diminimalisir walaupun tidak sepenuhnya mampu dihilangkan, hanay petani dan pemilik modal yang berpengalaman lah yang mampu untuk meminimalisir terjadinnya kecurangan- kecurang yang tiap kali dilakukan oleh keduanya. Pengalaman lah yang menjadi benteng pertahanan dari permainan otak.

d. Sudut Pandang Antara pemilik modal Dan Petani

Sudut pandang yang sering terjadi pada kedua belah pihak terkadang menganggap rendah salah satunya, dengan mengunggulkan kelebihan yang mereka kuasai untuk menjatuhkan kedua belapihak. Sudut pandang dari pemilik modal menganggap bahwa petani itu kurang memahami dan bisa dipermainkan, karena petani tidak bisa menguasi harga pasaran hasil pertanian, dari pandangan tersebut membuat pemilik modal mampu berbuat semana-mena dan berbuat curang terhadap petani, dan membuat lebih tertarik untuk melaksanakan sistem ijon, padahal menurut pemilik modal sendiri ketika memanen sendiri dan paham harga jual di berbagai wilayah petani tersebut akan mendapatakan hasil yang besar, atau dalam peminjaman uang modal petani seharusnya meminjam uang koprasi atau bank maka mereka tidak terikat dengan pemilik modal serta mendapatkan bunaga yang cukup rendah. Kalau menggunakan sistem ijon petani lebih di rugikan dengan pembelian murah dan mendapatkan untung yang kecil,

26

untung yang besar adalah pemilik modal. Berkat dari adanya pertentanggan kelas maka.

Karl Marx dalam bukunya Muhammad dan Karl Marx tentang masyarakat tampa kelas (2008: 197), bahwa setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai melalui revolusi sebagai perjuangan kelas tertindas melawan penindas... pertama, perlawanan individu dari kaum buruh yang suda tidak tahan ditindas oleh majikannya. Kedua, pemogokan yang dilakukan di pabrik oleh mayoritas pekerja...Ketiga, dengan semakin berkembangnya industri, kaum buruh pun berkembang baik dalam pengalaman organisasi kerjanya maupun dalam perspektifnya tentang pergerakan.

5. Teori yang relevan a) Teori sumberdaya manusia

Keynes (2003:5-6) menyatakan kaum klasik percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada kekuatan mekanisme pasar akan selalu menuju keseimbangan (equilibrium). Dalam posisi keseimbangan, kegiatan produksi secara otomatis akan menciptakan daya beli untuk membeli barang- barang yang dihasilkan. Daya beli tersebut diperoleh sebagai balas jasa atas fakto-faktor produksi seperti upah, gaji, suku bunga, sewa dan balas jasa dari fakto-faktor dari produksi lainnya. Pendapatan atar fakto-faktor produksi tersebut seluruhnya akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang yang dihasilkan perusahaan. Ini yang dimaksud Say bahwa pemasaran akan selalu berhasil menciptakan permintaan sendiri. Dalam posisi keseimbangan tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan permintaan. Kalaupun terjadi ketidak

27

seimbangan (disequilibrium), misalnya pasokan lebih besar dari permintaan, kekurangan konsumsi, atau terjadinya pengangguran, maka keadaan ini dinilai kaum kelasik sebagai suatu “tangan tak kentara” yang akan membawa perekonomian kembali pada posisi keseimbangan. Kaum kelasik juga percaya bahwa dalam keseimbangan semua sumber daya, termasuk tenaga kerja, akan digunakan secara penuh. Dengan demikian dibawa sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar tidak ada pengangguran. Kalau tidak ada bekerja, daripada tidak memperoleh pendapatan sama sekali, maka mereka bersedia bekerja dengan tingkat upah yang lebih rendah. Kesedian untuk bekerja dengan tingkat upa lebih rendah ini akan menarik perusahaan untuk memperkerjakan merepa lebih banyak. Jadi, dalam pasar persaingan sempurna mereka yang mau bekerja pasti akan memperoleh pekerjaan. Pengecualian, berlaku bagi mereka yang “pilih-pilih” pekerjaan, atau tidak mau bekerja dengan tingkat upah yang diatur oleh pasar. Tetapi kalau tidak ada yang bekerja karena kedua alasa yang disebutkan diatas, mereka ini oleh kaum kelasik tidak digolongkan pada pengangguran sukarela.

b) Adam Smith (2003:1) menganggap bahwa manusialah sebagai faktor produksi utama yang menentukan kemakmuran bangsa-bangsa. Alasannya, alam tanah tidak ada artinya kalau tidak ada sumberdaya manusia yang pandai mengolanya sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Smith juga melihat bahwa alokasi sumberdaya manusia yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi.

Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik) baru dimulai dibutuhkan

28

untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumberdaya manusia yang efektif merupakan syarat perlu bagi pertumbuhan ekonomi.

c) Sedangkan menurut teori malthus dalam bukunya yang berjudul ekonomi sumberdaya manusia (2003): manusia berkembang jauh lebih cepat dibandinkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur dari 2 ke 4,8,16,32 dan seterusnya, sedangkan pertumbuhan produksi makanan hanyan meningkat sesuai dengan deret hitung dari 2 ke 4,6,8 dan seterusnya. Karena perkembangan jumlah manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi hasil-hasil pertanian, maka malthus meramal bahwa suatu ketika akan terjadi malapetaka yang akan menimpa umat manusia.

Malthus tidak percaya bahwa teknologi mampu berlomba dengan penduduk.

Malthus juga berpendapat bahwa jumlah penduduk yang tinggi pasti mengalami turunya produksi per kepala. Ia menguraikan bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari malapetaka adalah dengan melakukan kontrol atau pengawasan atas pertumbuhan penduduk. Beberapa jalan keluar yang malthus tawarkan adalah menunda usia perkawinan dan mengurangi jumlah anak (KB).

Pembatasan seperti ini disebut malthus sebagai pembatasan moral.

d) Teori Kebutuhan dan Tekanan (Need and Stress), Tiap-tiap individu mempunyai kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi. Apabila tekanan yang dirasakan oleh seorang individu masih dalam batas toleransi mungkin individu tersebut tidak akan pindah dan tetap di daerah asal dan berusaha menyesuaikan kebutuhannya dengan lingkungan yang ada, namun bila tekanan yang dirasakan

29

oleh seorang individu di luar batas toleransinya maka individu tersebutakan mempertimbangkan untuk pindah ke tempat dimana dia merasa kebutuhan kebutuhanyang diperlukannya dapat terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu, biasa dikatakan bahwa seseorang akan pindah dari tempat yang memiliki nilai kefaedahan tempat (place utility) rendah ke tempat yang memiliki nilai kefaedahan tempat yang lebih tinggi agar kebutuhannya terpenuhi (Mantra, 2011).

B. Kerangka Pikir

Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka pikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting. Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dibahas di atas, maka peneliti selanjutnya diajukan kerangka pikir dan hubungan antar masing-masing variabel dalam penelitian ini. Sesuai dengan ruang lingkup penelitian yaitu tentang paradigma masyarakat tentang ijon dalam kegiatan perekonomian (studi kasus di Desa Nanga Mbaur Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai .Timur). Keseluruha faktor tersebut mempunyai kaitan yang sangat erat antara variabel satu dengan variabel lainnya.

30

BAB III

Gambar 2.1 Krangka Pikir Desa Nanga Mbaur

Paradigma

Masyarakat

Ijon Ekonomi

Transaksi

Positif Negatif

Dampak

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang bermaksut untuk mendapatkan kebenaran. Penelitian ada dua macam yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksut untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong,2007:6). Alasan penelitian menggunakan penelitian kualitatif adalah karena dalam penelitian ini peneliti tidak menguji teori atau konsep, tetapi lebih memaparkan kondisi nyata berkaitan dengan aktivitas sosial yang berada di Desa Nanga Mbaur Kecamatan Sambirampas Kabupaten Manggarai Timur. dengan cara pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat penelitian dilakukan dengan ditetapkan lokasi, akan dapat lebih mudah untuk mengetahui dimana tempat

31

Dokumen terkait