• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan

Dalam dokumen GUNUNG SUGIH (Halaman 43-121)

BAB II LANDASAN TEORI

B. RUANG LINGKUP NARAPIDANA

3. Tujuan Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan

kepenjaraan dari sistem pemasyarakatan dapat diharapkan terjadinya proses perubahan seseorang yang menjerumus kepada kehidupan yang positif selama ia selesai menjalani pidana, karena ketika ia menjalani pidana ia merasakan adanya bekal tertentu dari hasil pembinaan yang telah diterimanya.

Dengan demikian, sistem pemasyarakatan Indonesia merupakan proses pemidanaan yang memerhatikan kegiatan dengan pendekatan suatu sistem dalam upaya pembinaan untuk memasyarakatkan kembali narapidana yang diakui sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, sehingga sistem pemasyarakatan menjadi suatu sistem terbuka

32 Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji. Metodologi Dakwah Pada Narapidana (Proyek Penerangan Bimbingan dan Dakwah/Khutbah Agama Islam Pusat,1994),h. 45

(open system) di mana narapidana sebagai bahan masukan, komponen narapidana dalanm proses narapidana menjadi warga masyarakat yang berguna sebagai hasilnya.

Sehubungan dengan itu, Mentri Kehakiman RI dalam pembukaan rapat kerja terbatas Direktorat Jenderal Bina Tunawarga tahun 1976, dalam sambutannya menyebutkan sepuluh prinsip untuk bimbingan dan pembinaan sebagai tujuan pemayarakatan, yaitu:

a. Orang yang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga yang baik dan berguna dalam masyarakat.

b. Penjatuhan pidana adalah bukan tindakan balas dendam kepada Negara.

c. Rasa taubat tidaklah dapat dicapai dengan menyiksa, melainkan dengan bimbingan.

d. Negara tidak berhak membuat seorang narapidana lebih buruk atau lebih jahat dari sebelum ia masuk penjara.

e. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, narapidana harus dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.

f. Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi waktu atau hanya diperuntukkan bagi kepentingan lembaga atau Negara saja, tetapi ditujukan kepada pembangunan Negara.

g. Bimbingan dan didikan harus berdasarkan asas Pancasila

h. Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, meskipun ia telah tersesat, tidak boleh ditunjukan kepada narapidana bahwa ia adalah penjahat.

i. Narapidana itu hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan.

j. Sarana fisik bangunan lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan sistem pemasyarakatan.33

Bab II pasal 5 Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan disebutkan bahwa sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas :

a. Pengayoman;

b. Persamaan Perlakuan dan Pelayanan;

c. Pendidikan;

d. Pembimbingan;

e. Penghormatan harkat dan martabat manusia;

f. Kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan;dan g. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan

orang-orang tertentu.34

uraian di atas, jelaslah bahwa tujuan pembinaan narapidana di rumah tahanan negara (rutan) jauh berbeda dari tujuan sistem kepenjaraan yang berlaku sebelumnya, kalau dalam sistem kepenjaraan menganut pandangan kejahatan harus diberantas sampai keakar-akarnya dengan

33 Bambang Poernomo, Pelaksanaan Pidana Penjara Dengan Sistem Pemasyarakatan, h.

142.

34 Departemen Kehakiman RI, Bahan pokok penyuluhan hukum (Ditjen Hukum dan Perundang- Undangan, 1997), h.46.

mengenyampingkan sendi perikemanusiaan sehingga dalam prakteknya terdapat tindakan yang bengis yang menyerupai kejahatan itu sendiri.

Maka dalam sistem pemasyarakatan sebagai proses tujuan pembinaan, terkandung semua aspek yang berlaku dalam masyarakat, dengan tidak boleh lagi menganggap bahwa narapidana sebagai penjahat. Akan tetapi hendaklah dianggap bahwa pada diri mereka terdapat unsur ketidakmampuan didalam pergaulannya sehari-hari dengan anggota masyarakat lainnya sehingga ia melakukan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma dan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di masyarakat.

Karena itu, para tersangka yang melakukan pelanggaran hukum perlu dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh pihak kepolisian, penuntutan oleh pihak kejaksaan, dan penentuan pidana oleh pihak pengadilan negeri. Dan terakhir kalau benar-benar bersalah ia harus dimasukkan kedalam Lembaga Pemasyarakatan untuk mendapatkan pembinaan dan bimbingan menurut kebutuhan agar setelah selesai menjalankan masa pidananya dapat kembali ke masyarakat dengan keadaan yang stabil, sebab memang pada prinsipnya tujuan pemasyarakatan ialah “tercapainya integritas narapidana dengan masyarakat sekitarnya sehabis menjalani pidananya.35

Karena itu, setiap kegiatan pemasysrakatan harus diarahkan kepada tercapainya integritas pribadi narapidana dengan masyarakat sekitarnya

35 Syaroeni., “Majalah Bina Tuna Marga” (Jakarta; Ditjen Bina Tuna Marga Departemen Kehakiman No. 7 Tahun 1972), h. 23.

sesudah menjalani pidananya dan narapidana harus sudah dalam kehidupan berintegritas, sudah harus memiliki rasa tanggung jawab dan siap untuk kembali kemasyarakat, dan masyarakat pun harus bersedia menerimanya sebagai anggota masyarakat yang tidak terkecilkan.

Pembinaan narapidana mempunyai arti memperlakukan seseorang yang berstatus narapidana untuk dibangun agar bangkit menjadi orang yang baik. Atas dasar pengertian pembinaan yang demikian itu sasaran yang perlu dibina adalah pribadi dan akhlak narapidana yang didorong untuk membangkitkan rasa harga diri pada diri dan orang lain serta mengembangkan rasa tanggung jawab untuk menyesuaikan diri pada diri yang tenteram dan sejahtera dalam masyarakat, dan selanjutnya berpotensi untuk menjadi manusia yang berpribadi luhur bermoral tinggi.

Sistem pemasyarakatan dengan inti pembinaan seperti tersebut di atas, memerlukan kemampuan dan keterampilan khusus dari semua unsur yang terlibat dalam proses pembinaan, kelengkapan sarana dan prasarana, serta fasilitas yang diperlukan. Sehubungan dengan itu, berikut ini dikemukakan bentuk-bentuk kegiatan bimbingan yang seyogianya diprogramkan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, yang meliputi beberapa hal yang disesuaikan dengan keadaan narapidana itu sendiri:

1. Bimbingan mental, yang diselenggarakan dengan pendidikan agama, kepribadian, budi pekerti, dan pendidikan umum yang

diarahkan untuk membangkitkan sikap mental baru sesudah menyadari akan kesalahan masa lalu

2. Bimbingan sosial yang dapat diselenggarakan dengan memberikan pengertian akan arti pentingnya hidup bermasyarakat, dan pada masa-masa tertentu diberikan kesempatan untuk asimilasi serta integrasi dengan masyarakat di luar.

3. Bimbingan keterampilan, yang dapat diselenggarakan dengan kursus, latihan kecakapan tertentu sesuai dengan bakatnya, yang nantinya menjadi bekal hidup mencari nafkah di kemudian hari.

4. Bimbingan untuk memelihara rasa aman dan damai, untuk hidup dengan teratur dan belajar menaati peraturan .

5. Bimbingan lainnya yang menyangkut perawatan kesehatan, seni budaya, dan sedapat-dapatnya dipekernalkan akan segala aspek kehidupan bermasyarakat dalam bentuk masyarakat kecil selaras dengan lingkungan sosial yang terjadi di luarnya.36

Bertitik tolak dari uraian yang telah dikemukakan, baik dari segi tujuan maupun wujud pembinaannya, maka pembinaan narapidana dengan sistem pemasyarakatan di lakukan untuk membekali mereka dalam berbagai aspek sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dengan bekal itu dia mampu hidup secara baik di tengah-tengah masyarakat setelah selesai menjalani masa pidananya.

36 Bambang Poernomo, Pelaksanaan Pidana Penjara Dengan Sistem Pemasyarakatan, h.188.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) agar narapidana dapat insyaf dan sadar dari kekeliruan yang telah diperbuatnya, diharapkan agar dengan pembinaan itu mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri dan keluarganya maupun terhadap bangsa dan negaranya dan terhadap Tuhannya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan sifat penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian dengan judul Strategi Dakwah Dalam Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih merupakan jenis penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif, yaitu prosedur penelitian lapangan yang menghasilkan data deskriptif, yang berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan penelitian yang diamati. Jenis penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan di lapangan, seperti di lingkungan masyarakat, lembaga-lembaga dan organisasi kemasyarakatan serta lembaga pendidikan.37 Penulis akan melakukan penelitian dengan mengumpulkan data dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB gunung Sugih..

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih. Dengan kata lain penelitian deskripsi ini bertujuan untuk memperoleh informasiinformasi

37 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h. 4.

mengenai keadaan saat ini dan melihat kaitan antara variabel-variabel yang ada.

B. Sumber Data

Data merupakan hasil pencatatan penulis, baik berupa fakta ataupun angka. Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh, merupakan hasil pencatatan baik yang berupa fakta dan angka yang dijadikan bahan untuk menyusun informasi.38 Penelitian yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih, menggunakan dua sumber data, yaitu:

1. Data Primer

Sumber data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data untuk tujuan penelitian. Sumber data primer merupakan sumber data langsung yang memberikan data kepada pengumpul data. Data yang diperoleh langsung dari sumber utamanya.39

2. Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah bahan-bahan atau data yang menjadi pelengkap atau penunjang dari sumber data primer.40 Data ini diperoleh dari pihak-pihak yang tidak berkaitan langsung dengan penelitian, tetapi berhubungan dengan objek penelitian. Merupakan data

38 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi IV, (Yogyakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h.129.

39 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, cet 12, (Bandung:

Alfabeta, 2011), h. 224.

40 Cik Hasan Bisri, Penuntun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h.32

yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian yang berwujud laporan, buku harian, majalah, koran, makalah, artikel dan lain sebagainya yang berhubungan dengan strategi dakwah dalam pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Wawancara

Wawancara merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan lisan yang dijawab dengan lisan pula.41 Wawancara adalah kegiatan pengumpulan data primer yang bersumber langsung dari responden, penelitian di lapangan (lokasi), dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan berdasarkan ciri-ciri tertentu.42 Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti,

41 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h. 91.

42 Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung: CV Alfabeta, 2010), h. 68.

dan untuk mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dengan jumlah responden yang sedikit.43

Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara terpimpin, yaitu wawancara yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya oleh penulis dalam bentuk APD (Alat Pengumpul Data), supaya pertanyaan yang diberikan lebih terkonsep dan terarah.

2. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penulisan.44 Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena- fenomena yang diselidiki.45 Secara sederhana observasi berarti bagian dalam pengumpulan data langsung dari lapangan.

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Teknik observasi yang digunakan yaitu observasi non partisipan yaitu mengadakan pengamatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih.

3. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk

43 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 137.

44 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 158.

45 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian., h. 187.

memperoleh informasi dari sumber-sumber tertulis atau dokumen- dokumen, baik berupa buku-buku, majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.46

Dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu berupa sejarah sejarah lembaga pemasyarakatan kelas II B Gunung sugih, struktur pengurus, visi dan misi, jumlah Narapidana.

D. Teknik Penjamin Keabsahan Data

Penelitian yang kredibel memerlukan penjamin keabsahan data agar data yang ada dipertangungjawabkan. Demi terjaminnya keakuratan data penelitian kualitatif, maka penulis akan melakukan keabsahan data.

Data yang salah akan menghasilkan penarikan kesimpulan yang salah, demikian pula sebaliknya, data yang sah akan menghasilkan kesimpulan hasil penelitian yang benar.

Penelitian ini, penulis menggunakan triangulasi yakni mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber.47 Penulis dalam hal ini menggunakan triangulasi dengan sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.48 Teknik triangulasi dengan sumber, penulis membandingkan data hasil wawancara yang diperoleh dari masing-

46Ibid., h.145.

47 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, ( Bandung: Alfabeta, 2016), cet 24, h. 241.

48Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), cet 32, h. 330.

masing sumber atau informan penelitian sebagai pembanding untuk mengecek kebenaran informasi yang didapatkan.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.49

Menganalisis data, penulis akan menggunakan teknik analisis kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan terhadap data baik berupa data kualitatif maupun data kuantitatif. Terhadap data kualitatif dalam hal ini dilakukan terhadap data yang berupa informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya, sehingga memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran yang sudah ada dan sebaliknya. Jadi bentuk analisis ini dilakukan merupakan penjelasan- penjelasan, bukan berupa angka-angka statistik atau bentuk angka lainnya.50 Berdasarkan penelitian yang akan dilakukan, maka teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Metode Deskriptif

49 Sugiyono, Metode Penelitian., h. 246.

50 P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Rineka Cipta, 2011), h. 106.

Metode deskriptif digunakan untuk menghimpun data aktual.

Metode deskriptif dilakukan oleh peneliti yang menggunakan metode kualitatif. Setelah menyusun perencanaan penelitian, peneliti lalu ke lapangan (field) tidak membawa alat pengumpul data, melainkan langsung melakukan observasi atau pengamatan, sambil mengumpulkan data dan melakukan analisis. Metode deskriptif juga digunakan untuk menggambarkan peristiwa tentang strategi dakwah dalam pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih.

2. Metode Analisis

Metode analisis adalah sekumpulan aktivitas dan proses. Salah satu bentuk metode analisis adalah merangkum sejumlah data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti.51 Metode analisis digunakan untuk menganalisa data yang didapat dari penelitian strategi dakwah dalam pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Gunung Sugih.

51 Moh. Kasiram Metodologi Penelitian., h. 355.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas IIB Gunung Sugih

1. Profil Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas IIB Gunung Sugih Lembaga Pemasyarakatan (disingakat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut disebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jendral Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman).52

Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim.

Pegawai negeri sipil yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan disebut dengan Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih dikeal dengan istilah Sipir Penjara Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman

52 Dokumen lapas kelas IIB gunung sugih, dicatat tanggal 15 oktober 2019

Saharjo Pada Tahun 1962, dimana disebutkan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana kedalam masyarakat.

a. Sejarah Berdirinya Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih

 Pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Ham RI Nomor : M.HH-10.OT.01.01 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih, Warung Kiara, Tanjung, Lembata, Lapas Wanita Kupang, Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Samarinda serta Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas III Mataram.53

 Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih yang diresmikan pada tanggal 17Agustus Juli 2012 oleh Menteri Kementerian Hukum dan Ham Republik Indonesia.

 Pengoperasian Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih diresmikan pada tanggal 11 April 2014 oleh Gubernur Provinsi Lampung.

 Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih di awal oprasional memiliki kapasitas 250 (Dua Ratus Lima Puluh) orang dengan luas tanah perkantoran ± 60.000 m2

53 Ibid

Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih beralamatkan Jl. Raya Kota Gajah Desa Buyut Udik Kec. Gunung Sugih Kab. Lampung Tengah 34161.54

Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Gunung sugih memiliki Luas Bangunan seluruhnya yaitu : ± 60.000 m2 dan bangunan seluas 4.256 m2 digunakan untuk Bangunan Kantor, Empat Blok Hunian dan bangunan lainnya sebagai penunjang kegiatan. Daya tampung Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih sesuai dengan luas bangunan adalah sejumlah 350 (tiga ratus lima puluh) orang.

Data Sesuai dengan Daftar Inventaris Barang Tidak Bergerak yaitu Tanah.

Rincian Data Bangunan:

Gedung kantor 2 lantai : 300 m2

Blok Hunian : 1000 m2 x 4 bangunan Pos Jaga : 4 m2 x 4 bangunan Pos Jaga Dalam : 4 m2

Poliklinik : 150 m2

Masjid : 300 m2

Dapur : 216 m2

Rumah dinas type c : 70 m2 Rumah dinas type d : 50 m2

54 ibid

Fasilitas yang ada di UPT terkait pelayanan dengan warga binaan a) Masjid

b) Aula

c) Wartelsuspas

d) Poli Klinik Kesehatan

Indikator Napi/Tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB gunung Sugih adalah Lapas Umum

Selain mendapat fasilitas Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) juga mendapatkan sebuah pelatihan pembinaan berupa : a) SPNF SKB (Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan

Belajar) Paket A, B dan C;

b) Kegiatan Latihan Pramuka;

c) Industri bowel closet;

d) Pasukan Merah Putih;

e) Peternakan kambing dan ayam;

f) Salon Betik Lapas;

g) Gunung Sugih Tailor;

h) Perkebunan sayuran;

i) Pertukangan las dan kayu;

j) Pondok Pesantren Al Furqon Lapas Klas III Gunung Sugih;

k) Perikanan;

l) Senam SKJ setiap hari Sabtu;

m) Seni kerajinan Tapis Lampung;55 n) Variasi Service Mobil;

o) Seni Musik dan marawis.

b. Struktur organisasi lembaga pemasyarakatan kelas IIB Gunung Sugih

55 ibid

KEPALA

SYARPANI, A.Md.IP., S.H., M.H NIP. 197909262000121001

KEPALA URUSAN TATA USAHA HARJONO, SH.

NIP. 196201151988031001

KASUBSI ADMISI& ORIENTASI PEBRI SADAM, A.Md.I.P., S.H.

NIP. 199102052009121001

KASUBSI PEMBINAAN YULIANTO, SH.

NIP. 197302101992031001

KASUBSI

KEAMANAN & KETERTIBAN Hi. A. MARSANJAYA, S.Sos., MM.

NIP. 196401131990011001

Jumlah Pegawai

Lembaga Pemasayarakatan Klas III Gunung Sugih Memiliki Jumlah Pegawai Sebanyak 66 Pegawai Terdiri Dari :

DAFTAR PENGHUNI

LAKI-LAKI PEREMPUAN

63 3

Jumlah Tenaga Pengamanan JUMLAH

PEGAWAI

PEJABAT STRUKTURAL

JUMLAH STAF

PENGAMANAN

66 5 19 42

c. Visi dan Misi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih

1) Visi

Pulihnya kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan warga binaan Pemasyarakatan sebagai individu, anggota masyarakat dan mahluk tuhan YME 1. Misi

Melaksanakan perawatan tahanan, pembinaan dan pembimbingan warga binaan pemasyarakat serta

pengelolaan benda sitaan negara dalam kerangka penegaan hukum, pencegahan dan penanggulangan kejahatan serta pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia.56

2. Jumlah Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunung Sugih.

Warga Binaan Pemasyarakatan yang ada di Lapas Kelas IIB Gunung Sugih, yaitu:

a. Narapidana Pria berjumlah 450 orang b. Narapidana Wanita 6 orang

c. Tahanan Pria 153 orang

Sehingga pada saat ini total warga binaan pemasyarakatan di lapas kelas IIB Gunung Sugih berjumlah 609 orang. Hal ini perlu adanya pembinaan yang baik terhadap sekian banyak warga binaan pemasyarakatan. Perlu adanya strategi dakwah yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwah serta pengetahuan yang lain.

3. Penggolongan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Gunung Sugih

Klasifikasi adalah pengelompokan atau penggolongan berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan kepentingannya. Hal ini

56 ibid

sebagai upaya untuk memudahkan pencatatan data/dokumen dari masing-masing penggolongan atau klasifikasinya. Klasifikasi dalam hal ini dilakukan berdasarkan; umur, jenis kelamin, lama pidana, jenis kejahatan dan kreteria lainnya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pembinaan.

Pembinaan terhadap Narapidana di Lapas Kelas II A Metro dilakukan penggolongan atas dasar.57

a. Umur

b. Jenis kelamin

c. Lama pidana yang dijatuhkan d. Jenis kejahatan

e. Kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan

Pembinaan Narapidana Wanita di LAPAS dilaksanakan di LAPAS Wanita.

Standar Registrasi dan Klasifikasi Narapidana dan Tahanan yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor: Pas- 170.Pk.01.01.02 Tahun 2015 tentang Standar Registrasi dan Klasifikasi Narapidana dan Tahanan, penggolongan narapidana berdasarkan umur terdiri atas:

57 ibid

a. Anak, (12 s.d. 18 tahun) b. Dewasa, (di atas 18 th)

Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kelamin terdiri dari:

a. Laki-laki b. Wanita

Penggolongan narapidana berdasarkan lama pidana, terdiri atas:

a. Pidana 1 hari sd 3 bulan ( Register B.II b )

b. Pidana 3 bulan sd 12 bulan 5 hari (1 tahun) (Register B.II a) c. Pidana 12 bulan 5 hari (1 tahun keatas ) (Register B.I) d. Pidana Seumur Hidup (Register Seumur Hidup) e. Pidana Mati (Register Mati)

Penggolongan narapidana berdasarkan jenis kejahatan terdiri atas:

a. Jenis kejahatan umum b. Jenis kejahatan kusus

Penggolongan berdasarkan kriteria lain nya sesuai dengan kebutuhan perkembangan pembinaan.

B. Strategi Dakwah Dalam Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih

Salah satu upaya untuk memasyarakatkan kembali warga binaan yang sudah terkena masalah hukum dan menjadi masyarakat yang baik.

Maksud dan tujuan bukan karena memberi hukuman seperti orang – orang yang di penjara, tetapi membuat narapidana tersebut dapat di

Dalam dokumen GUNUNG SUGIH (Halaman 43-121)

Dokumen terkait