PENDAHULUAN
Pertanyaan Penelitian
Bagaimana strategi dakwah yang efektif dalam pembinaan narapidana di lapas kelas II B Gunung Sugih. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat perkembangan narapidana di Lapas Kelas II B Gunung Sugih.
Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Secara otomatis yang penulis maksud adalah bahwa skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan sumbangsih pemikiran bagi upaya pengembangan dawat yang efektif dan profesional bagi para aktivis yang melakukan kegiatan dakwah di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS). Secara praktis memberikan gambaran bagi para lapas, para napi secara pribadi dan kelembagaan, mengenai metode dakwah dalam pengasuhan para napi, untuk mengajak mereka ke jalan kebenaran.
Penelitian Relevan
Sedangkan penelitian ini lebih banyak membahas tentang metode dakwah dalam perawatan narapidana di Lapas, serta menggunakan pendekatan psikologis dan pendekatan bimbingan. , Kabupaten Gowa. Muhazzab Said, Dakwah untuk Lembaga Pemasyarakatan (Studi Kasus Narapidana di Lapas Palopo) (Disertasi Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2012).
Berdasarkan hasil beberapa kajian dan buku-buku yang telah disebutkan di atas, keduanya sama sekali berbeda, baik dari segi kajian maupun dari segi metodologi, karena penelitian ini difokuskan pada strategi dakwah dalam pendidikan narapidana di kelas. Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) II B Gunung Sugih, Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis, pendekatan instruksional dan pendekatan psikologis. Dan tidak ada yang menyebut Strategi Dakwah dalam Pembinaan Narapidana di Lapas Kelas II B (LAPAS) Gunung Sugih.
LANDASAN TEORI
Pengertian Strategi Dakwah
Menurut al-Bayanuni, dakwah menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang, mengajar mereka dan menerapkan ajaran Islam dengan cara mereka sendiri. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa dakwah adalah kegiatan menyampaikan pesan-pesan agama Islam kepada orang lain agar mereka menerima, mengetahui dan memahami ajaran Islam tersebut serta melaksanakannya dengan baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial untuk kebahagiaan dunia. dan akhirat. Menurut ensiklopedia Islam, tabligh menyampaikan ajaran Islam yang benar yang bersumber dari Al-Qur'an atau hadits, ditujukan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Proses transmisi atau transfer ajaran Islam dari da’i sebagai sumber kepada mad’u agar mereka bertindak dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diterimanya. Yakni, proses mewujudkan ajaran Islam tatbiqu al-tasyri atau penerapan hukum Islam (tatbiqu al-ahkam) dalam tatanan kehidupan manusia, baik kehidupan individu maupun sosial. Proses mewujudkan ajaran Islam dalam bidang kehidupan manusia dengan strategi, metodologi dan sistem yang memperhatikan dimensi agama, sosial, psikologis individu atau masyarakat sehingga tercapai tujuan yang maksimal.
Tanpa rencana, tidak ada dasar untuk melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan dakwah. Perumusan dan pelaksanaan berbagai aturan dalam proses undangan merupakan bagian dari strategi undangan karena strategi pada hakekatnya adalah perencanaan dan pengelolaan untuk mencapai tujuan.
Dasar Hukum Dakwah
Berdasarkan beberapa definisi di atas, penulis berpendapat bahwa strategi dakwah merupakan perpaduan antara perencanaan, metode dan taktik untuk mencapai tujuan dakwah. Untuk mencapai tujuan tersebut pemikiran yang matang, baik teknik maupun taktik sangat dibutuhkan oleh seorang da'i untuk mencapai tujuan dakwahnya. Namun ada juga yang menyatakan bahwa berdakwah adalah wajib kifayah (farhdu kifayah), yang berarti wajib bagi setiap orang untuk melakukan dakwah.
Dengan demikian, dapat diartikan bahwa tidak semua umat Islam wajib berdakwah jika sudah ada beberapa umat Islam yang melakukan dakwah. Dari pandangan di atas, penulis sependapat bahwa hukum dakwah adalah fardu kifayah, karena dakwah harus memiliki kemampuan ilmu dan pengetahuan, sehingga tujuan dakwah dapat tercapai dan tujuan dakwah pada saat itu. jalan yang benar dapat dicapai dan benar, jauh dari keraguan dan kesalahan. Dakwah bisa menjadi fardu'ain jika di suatu tempat tidak ada yang melakukan dakwah, sedangkan kejahatan sangat tinggi dan kebodohan merajalela, serta jumlah pendakwah masih sedikit, maka dakwah fardu'ain bagi setiap individu menurut terhadap kemampuannya.
Tujuan Dakwah
Menurut Dirjen Pemasyarakatan (2001), salah satu tujuan pembinaan keagamaan adalah memberikan kemudahan dan pedoman kehidupan beragama agar narapidana menyadari kesalahannya, memperbaiki diri agar tidak mengulangi perbuatan pidana, dan berakhlak mulia. . 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembinaan Warga Binaan Masyarakat, disebutkan bahwa pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan ketuhanan Yang Maha Esa, intelektualitas, sikap dan perilaku profesional, serta kesehatan dan spiritualitas narapidana. Lembaga penahanan ingin mendidik para tahanan agar mereka dapat kembali ke masyarakat dan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang.
Oleh karena itu, pada pembukaan rapat kerja terbatas Direktorat Jenderal Pembinaan Warga Tunanetra pada tahun 1976, Menteri Kehakiman Republik Indonesia menegaskan kembali prinsip-prinsip pembinaan dan pengembangan sistem pemasyarakatan yang dirumuskan pada tahun 1964. Conference of Institutions yang terdiri dari sepuluh formulasi. Prinsip pembinaan dan pembangunan adalah: (1) Orang yang hilang harus dilindungi dengan bekal untuk hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat (2) penjatuhan pidana bukan merupakan tindakan balas dendam oleh negara. Upaya ini diperlukan untuk membangun kepercayaan mereka, terutama untuk memastikan pemahaman sehingga petugas pemasyarakatan memahami konsekuensi dari kesalahan.
Upaya ini dilakukan melalui P4, termasuk menumbuhkan kesadaran di antara mereka agar dapat menjadi warga negara yang baik yang dapat berbakti kepada bangsa dan negaranya. Pembinaan kesadaran hukum narapidana dilakukan dengan pemberian nasihat hukum, yang bertujuan untuk mencapai kesadaran hukum yang setinggi-tingginya agar mereka sebagai anggota masyarakat sadar akan hak dan kewajibannya untuk ikut serta dalam pemeliharaan hukum dan keadilan. , perlindungan harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketenteraman, keamanan, hukum dan pembentukan perilaku setiap warga negara Indonesia yang taat hukum.
Metode dakwah
Dijelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Qur'anul Adim bahawa hikmah Bi Tharikil adalah jalan yang benar yang Allah berikan kepada semua manusia iaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, kemudian dijelaskan pula bahawa al-hikmat. ialah bercakap dan bercakap dalam bahasa yang difahami oleh orang yang diajak bicara. Dijelaskan dalam tafsir al-Muyassar bahawa “al-mauzatil khazanah” ialah memberi nasihat yang baik supaya manusia mencintai kebaikan dan menjauhi kemungkaran, manakala tafsir al-Qur’anul Adhim menjelaskan bahawa “al-mauizatil khazanah ialah memberi nasihat. menggunakan perasaan hati dan memahami situasi konteks sehingga mereka takut kepada azab Allah swt.” Maka dengan memahami situasi dan psikologi mereka, seorang da’i akan terlebih dahulu mengambil kira kata-kata yang sepatutnya diberikan, yang sepatutnya. diberi dan yang tidak patut diberikan.
Sedangkan pengertian "wajadilhum billati hiya ahsan" dalam tafsir Qur'anul Adhim ialah jika ada sesiapa yang bertelingkah atau mengajak perdebatan hendaklah berlawan dengan muka yang manis, budi pekerti dan tutur kata yang baik. Kesaksian ini menjadi pelajaran bagi para pendeta: jika di tengah-tengah khutbah ada orang yang membantah dan mengundang perdebatan, mereka harus berdebat dengan baik, berbicara dengan baik, lemah lembut, dan berwajah baik. Kerana tidak semua orang yang didakwah mengikut kata-kata pendakwah, kadang-kadang ada perselisihan dan perselisihan faham.
Selain kaedah dakwah yang diajarkan oleh al-Quran, Baginda Muhammad juga mengajarkannya. Kata-kata Rasul di atas jelas dalam konteks kemungkaran, tetapi jangan dinafikan untuk seorang dai.
RUANG LINGKUP NARAPIDANA
- Pengertian Narapidana
- Faktor – Faktor Terjadinya tindakan pidana
- Tujuan Pembinaan Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan
Dalam pendidikan narapidana, lembaga pemasyarakatan bertugas mempersiapkan narapidana untuk reintegrasi yang sehat ke dalam masyarakat sehingga mereka dapat memerankan kembali perannya sebagai narapidana. Penelitian dengan judul Strategi Dakwah Dalam Pembinaan Narapidana di Lapas Kelas IIB Gunung Sugih merupakan jenis penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif yaitu prosedur penelitian lapangan yang menghasilkan data deskriptif, berupa tulisan atau lisan. data dari orang-orang dan penelitian yang diamati. Jenis penelitian ini dimana pengumpulan data dilakukan di lapangan, misalnya pada masyarakat, lembaga dan organisasi sosial serta lembaga pendidikan.37 Penulis akan melakukan penelitian dengan mengumpulkan data dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih.
Penelitian ini bersifat deskriptif, bertujuan untuk mendeskripsikan, merekam, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi yang sedang atau ada di Lapas Kelas II B Gunung Sugih. Teknik observasi yang digunakan adalah observasi non partisipan yaitu melakukan observasi di Lapas Kelas II B Gunung Sugih. Dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa riwayat penjara kelas II B Gunung Sugih, susunan pengurus, visi misi, jumlah narapidana.
Metode deskriptif juga digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa tentang strategi dakwah dalam perawatan narapidana di Lapas Kelas II B Gunung Sugih. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diinterpretasikan secara ringkas dan bermakna. Penjara II B di Gunung Sugih. Profil Lapas Kelas IIB (LAPAS) Lapas Gunung Sugih (disingkat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk memberikan pengajaran kepada narapidana dan siswa pemasyarakatan di Indonesia.
Lembaga Pemasyarakatan adalah unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Kementerian Kehakiman). Pejabat yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di Lapas disebut Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu dikenal dengan Petugas Lapas Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman. Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Gunung Sugih yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus Juli 2012 oleh Menteri Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Lapas Kelas III Gunung Sugih diresmikan pada tanggal 11 April 2014 oleh Gubernur Provinsi Lampung. Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Gunung Sugih pada awalnya berkapasitas 250 (dua ratus lima puluh) orang dengan luas lahan kantor ± 60.000 m2. Lapas Kelas IIB Gunung Sugih memiliki total luas bangunan 4.256 m2 dan luas bangunan 4.256 m2 digunakan untuk gedung perkantoran, empat blok apartemen dan bangunan penunjang kegiatan lainnya.
Daya tampung Lapas Kelas III Gunung Sugih menurut luas bangunan adalah 350 (tiga ratus lima puluh) orang. Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannya program pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunung Sugih. Dakwah yang dilakukan dalam tiga bentuk sebagai upaya menampung narapidana di Lapas Kelas IIB Gunung Sugih sejauh ini berjalan lancar dan cukup efektif.
Kegiatan dakwah dalam bentuk tulisan di Rutan Kelas IIB Gunung Sugih dilakukan dengan mengenalkan huruf arab, huruf hijaiyah dan huruf sambung, seperti yang dicontohkan ustadz, dengan tujuan agar mereka bisa membaca, menulis, memahami dan mengamalkannya.