Pengimajinasian ini terlihat pada citraan yang diciptakan. Ada hubungan erat antara diksi, pengimajinasian, dan data konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajinasian dan karena itu kata- kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa.
Baris-baris puisi “Aku” Chairil Anwar menunjukkan adanya pengimajian secara visual (melukiskan sesuatu melalui imaji penglihatan yang dipadu dengan rasa). Memang untuk bisa menangkap pesan, diperlukan bekal sejarah, bahkan paham latar puisi itu dicipta, serta didukung daya kepekaan. Tanpa itu, sulit bisa menangkap gagasan spektakuler Chairil Anwar.
Penanda yang ada, “Aku ini binatang Jalang, dan Dari kumpulannya terbuang”. Kalau pembaca yang tidak memiliki daya pengimajinasian tinggi, saya yakin, mustahil pembaca akan bisa menemukan hakikat makna ‘binatang jalang dari kumpulannya terbuang’.
5. Analisis penggunaan bunyi
Dalam analisis bunyi bahasa puisi, penulis sependapat dengan (Nyoman Kutha Ratna, 2009 : 358-359). Dalam karya sastra, khususnya
puisi pesanlah yang dominan, yang pada gilirannya memicu pengarang untuk melakukan pemilihan terhadap kata-kata yang paling tepat untuk mewakili pesan-pesan tersebut. Ekuivalensi ini tidak terbatas pada sinonim kata-kata, tetapi juga meliputi bunyi, morfologi, sintaksis, dan semantis.
Baris pertama //Kalau sampai waktuku// yang hanya terdiri dari tiga kata jelas mengandung khas seperti di atas. Pesan yang dimaksudkan juga diperoleh melalui pemilihana kata yang khas, di antaranya menemukan makna yang paling optimal di antara kata-kata yang dianggap memiliki sinonim. Kata ‘kalau’ bersinonim dengan kata jika, bila, seandainya, andaikata, seandainya, umpama, misalnya.
Kata yang paling dekat bersinonim dengan kata kalau yaitu jika. Hanya kata jika tidak bersajak, tidak memiliki persamaan bunyi dengan kata- kata yang mengikutinya. Dengan kata lain, secara estetis kata-kata tersebut memiliki kualitas yang berbeda. Dalam puisi, justru aspek terakhir menjadi dominan.
Satu-satunya padanan kata ‘sampai’ adalah ‘tiba’ . Padanan kata ‘waktu’ adalah ‘saat’, ‘masa’, ‘hari’, ;jam’. Padanan kata yang paling dekat adalah ‘saat’ tetapi tidak bersajak. Oleh karena itu, kata yang dipilih ‘waktu’ dan ‘kalau’. Di samping itu, vokal rangkap dalam kata ‘kalau’ /au/ ada persamaannya dengan ‘sampai’ /ai/, juga ada kaitan dengan baris kedua , ‘mau’ /au/ dan baris ketiga ‘kau’ /au/.
Penggunaan ‘ku (dengan apostrof), bukan ‘aku’ dimaksudkan agar ada kaitan dengan ‘kan bukan ‘akan’. Menurut tata bahasa kata ‘tidak’
sesungguhnya tidak tepat, yang lebih tepat adalah ‘bukan’ sebab berkaitan dengan kata benda yaitu ‘kau’.
Dari segi nilai rasa, kata ‘tidak’ terasa lebih tegas, lebih bertenaga di bandingkan kata ‘bukan’. Di samping itu, kata ‘tidak’ juga berkaitan dengan kata ‘tak’. Perubahan kata ‘tidak’ pada baris ketiga menjadi
‘tak’ pada baris keempat di dasarkan atas pertimbangan:
a. Menghindarkan ciri monoton.
b. Mencapai nilai estetis musikalitas dalam kaitan dengan ‘sedu’
demikian juga dengan kata ‘sedan’. Kata ‘tak’ juga berkaitan dengan itu, sehingga kaliamat, “tak perlu sedu sedan itu” menjadi indah, seperti komposisi musik.
Pada umumnya baris kelima, //Aku ini binatang jalang// dan baris terakhir, // Aku ingin hidup seribu tahun lagi // dianggap menamp[ilkan berbagai interpretasi, sebagai klimaks hasil imaginasi, baik kaitannya dengan proses pilihan kata (diksi), maupun penafsiran makna (konotasi) yang berhasil ditimbulkan.
Kalimat-kalimat tersebut melekat pada dalam ingatan pembaca, digunakan sebagai motto. Pilihan kata, baik secara semantik sebagai
superordinat maupun hiponim, antara kata ‘binatang’ dan ‘jalang’.
maupun secara puitis ekuivalensi terasa kuat dan syarat makna.
Keberanian Chairil Sebagai pemberontak dalam berkarya sangat tampak.
Sebagai manusia normal, mendapat cacian makian, chairil tetap merasakan sakit. Ini digambarkan dengan ‘Luka dan bisa kubawa berlari. Sungguh perpaduan kata yang indah ditunjukkan lagi, yaitu
‘luka’ dan ‘bisa’. Ini mengandung rima yang kuat.
Chairil tak menghiraukan ejekan, cemoohan terhadap apa yang dilakukannya, dengan gaya repetisi, chairil terus berlari, dan berlari hingga akhirnya diaanggap bisa. Ahkirnya hilang dengan sendirinya.
Baris penutup juga sebagai pernyataan sikap tegas sekaligus kemenangan terhadap konsep yang diperjuangkan. ‘Aku mau hidup seribu tahun lagi’. Baris tersebut dapat juga berarti, bahwa perjuangannya akan terus diikuti pengarang-pengarang generasi penerusnya. Chairil yakin bahwa apa yang dilakukan akan diikuti oleh Chairil-Chairil yang lain di masa yang akan datang.
C. Penutup
Pada apresiasi sastra, kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.Dari analisis berdasarkan sistem tanda, gaya pemilihan kata, penggunaan bahasa kias, pengimajinasian, dan penggunaan bunyi maka dapat penulis simpulkan bahwa makna puisi tersebut sebagai berikut:
Aku (Chairil Anwar). Kalau sampai waktuku (saatnya, melakukan perubahan, terutama dalam kreativitasnya membuat puisi.
Chairil membuat puisi bebas. Puisi yang tidak lagi terikat, puisi yang tidak lagi mementingkan segi bentuk melainkan lebih mementingkan segi isi). Kumau tak seorang kan merayu (Tidak ada yang bisa mempengaruhi dalam berkarya mencipta karya sastra puisi). Tidak juga kau (Kau dapat diartikan yaitu para pengarang pada waktu itu).
Tak perlu sedu sedan itu ( Apa yang dilakukan Chairil itu tidak perlu disedihkan).
Aku ini binatang jalang (Chairil menamakan dirinya binatang jalang, artinya pengarang yang liar) Dari kumpulannya terbuang (tidak sama dengan pengarang-pengarang lainnya pada waktu itu.
Pengarang yang membuat puisi diikat oleh aturan-aturan bentuk.
Pantun dan syair yang harus dengan syarat-syarat bait, baris, jumlah suku kata, sampiran-isi, dan rimanya ).
Biar peluru menembus kulitku (meskipun ejekan, cacian, makian, dan cemoohan, dirasakan sakit). Aku tetap meradang menerjang (Chairil Anwar tetap tidak mempedulikan, tetap berkarya sebagaimana keinginannya, yaitu membuat puisi tidak lagi mementingkan segi bentuk tetapi lebih mementingkan segi isi).
Luka dan bisa (ejekan, cacian, makian, dan cemoohan yang menyakitkan) kubawa berlari (diabaikan, dianggap tidak ada apa- apa, anjing menggonggong ka lah berlalu). Berlari (terus dan terus diabaikan). Hingga hilang pedih perih (sampai ejekan, cacian, makian, dan cemoohan berhenti dengan sendirinya). Dan aku akan lebih tidak perduli (akhirnya Chairil Anwar tidak menghiraukan lagi, ejekan, cacian, makian, dan cemoohan itu). Aku mau hidup seribu tahun lagi (Chairil Anwar akan terus, dan terus berkarya membuat puisi dengan caranya sendiri, membuat puisi yang tidak hanya mementingkan segi bentuk melainkan lebih mementingkan segi isi).
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Kemdikbud. Kurikulum 2013. http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik- kurikulum-2013-4
Junus, Umar.1989. Stilistika, Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
Maulana, Soni Farid.2012. Apresiasi & Proses Kreatif Menulis Puisi. Jakarta:
Nuansa.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika, Kajian Puitika Bahasa Sastra, dan Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Waluyo, Herman. J. 1987. Teori dan Apresiasi puisi. Jakarta: Erlangga.
Wellek, Rene, dan Warren, Austin. 1993. Teori Kesusasteraan. Jakarta: PT Gramedia.