• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. Pengkajian Status Mental Gerontik

4.1 Pengkajian

Pada tahap pengumpulan data penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis telah mengadakan perkenalan dan menjelaskan maksud penulis yaitu untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien secara terbuka, mengerti dan kooperatif.

4.1.1 Identitas pasien

Pada tinjauan Pustaka identitas pasien meliputi nama, jenis kelamin ( Wanita mengalami peningkatan resiko gout arthritis setelah menopause, kemudian resiko meningkat pada usia 45 tahun dengan penurunan level estrogen karena estrogen memiliki urikosurik, hal ini menyebabkan gout arthritis jarang pada wanita muda ) (Widyanto, 2014). Pada tinjauan kasus ditemuka data yaitu nama Ny.M, jenis kelamin perempuan, agama islam, umur 80 tahun. Menurut pendapat penulis tidak terjadi kesenjanagan antara teori dengan tinjauan kasus karena pada data yang didapat saat pengakajian adalah klien berusia 80 tahun.

4.1.2 keluhan Utama

Pada tinjauan Pustaka keluhan utama yang muncul pada klien dengan gout arthritis adalah nyeri dan terjadi peradangan sehingga mengganggu aktifitas

klien (Widyanto, 2014). Pada tinjauan kasus ditemukan data saat pengkajian pada keluhan utama yaitu seluruh tubuhnya sering cekot-cekot atau nyeri.

Menurut pendapat penulis tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan puataka dengan tinjauan kasus.

4.1.3 Riwayat Kesehatan Saat Ini

Pada tinjauan pustaka didapatkan didapatkan adanya keluhan nyeri di otot sendi. Umumnya, sifat dari nyeri tersebut seperti pegal atau ditusuk-tusuk, dirasakan terus-menerus saat beraktifitas, terjadi juga kekakuan sendi, keluhan iasanya sudah lama dirasakan. Pada gout arthtritis kronis dodapatkan adanya benjolan atau tofi pada sendi atau jaringan sekitar. (Widyanto, 2014 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data yaitu Status Kesehatan umum klien selama setahun yang lalu adalah klien mengatakan tidak pernah sakit. keluhan kesehatan utama klien adalah klien mengatakan seluruh tubuhnya sering cekot-cekot atau nyeri. Pada pengetahuan tentang penatalaksaan kesehatan klien mengatakan tidak tahu tentang pengertian asam urat, penyebab, tanda dan gejala. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara teori dan tinjauan kasus.

4.1.4 Riwayat penyakit dahulu

Pada tinjauan Pustaka didapatkan teori yaitu penyakit apa sajakah yang pernah dialami oleh penderita gout arthritis, apakah gout arthtritis sudah lama dirasakan, pertolongan apa yang didapatkan sebelumnya. Biasanya penderita gout arthritis disertai dengan penyakit hipertensi. ( Widyanto, 2014 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data klien tidak memiliki trauma apapun, tidak memiliki riwayat operasi. Klien mengatakan memiliki riwayat hipertensi.

Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka

dan tinjauan kasus karena keduanya sama memiliki data terdapat penyakit hipertensi.

4.1.5 Riwayat Nutrisi

Pada tinjauan Pustaka terdapat teori tentang Riwayat nutrisi yaitu kaji status nutrisi pada klien, apakah klien sering mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi purin. ( Widyanto, 2014). Pada tinjauan kasus ditemukan data klien mengatakan tidak ada pembatasan makanan dan minuman.

Klien sering makan makanan tinggi purin seperti ikan sarden, soto ayam, dan kari ayam. Pola konsumsi makanan klien 3x sehari. Klien sudah tidak bekerja hanya menggantungkan bantuan pemerintah dan tetangga jadi klien jarang mengkonsumsi makanan bergizi. Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dan tinjauan kasus karena pada tinjauan kasus ditemukan data klien sering makan makanan tinggi purin.

4.1.6 Tinjauan sistem 4.1.6.1 Integumen

Pada tinjauan Pustaka didapatkan :

(1) Inpeksi : Pada Lansia mengalami perubahan umumnya pada kulit mengalami atropi,kendur tidak elastis, kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan hingga menjadi menipis dan berbecak. Kekeringan kulit di sebabkan atropi glandula sebasea dan glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit dikenal dengan liver spot ( Kemenkes,2016). Perubahan rambut pada lansia umumnya pertumbuhan menjadi lambat,lebih halus dan jumlahnya lebih sedikit, rambut berubah menjadi warna putih dan banyak yang rontok. Rambut pada alis dan

lubang hidung sering tumbuh lebih Panjang. Perubahan kuku pada lansia pertumbuhannya lebih lambat,kuku menjadi pudar, warna kuku kekuningan, kuku menjadi tebal keras tapi rapuh ( Tamtomo, 2016).

Palpasi : Capillary Refill Time, umumnya ditemukan di ekstremitas bawah ( Udjianti, 2011). Pada tinjauan kasus didapatkan :

Inspeksi : ada lesi dan luka di lutut sebelah kanan, tidak ada pruritas, terdapat perubahan rambut yaitu terdapat uban dan rambut menipis.

Palpasi : Ditemukan perubahan tekstur pada kulit klien yaitu kulit kendur dan tidak elastis. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dan tinjauan kasus.

4.1.6.2 Hemopoietik

Pada tinjauan pustaka didapatkan :

Pada lansia umumnya aliran darah serebralnya menurun menjadi 30cc/100gm/menit. Dapat dikatakan bahwa sirkulasi otak pada orang tua sangat rentan terhadap peubahan-perubahan, baik perubahan posisi tubuh maupun fungsi jantung dan bahkan fungsi otak. Sedangkan pada pembuluh darah perifer yang terjadi arterosclerosis berat akan menyebabkan pasokan darah ke otot-otot tungkai bawah menurun hal ini menyebabkan iskimia jaringan otot yang menyebabkan keluhan kladikasio (Tamtomo, 2016). Pada tinjauan kasus didapatkan data pada saat pengkajian yaitu Pada pemeriksaan hemopoietik tidak ada perdarahan atau memar pada abdomen, tidak ada pembengkakan kelenjar limfa, klien tidak anemia. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat tranfusi darah. Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara

tinjauan Pustaka dan tinjauan kasus karena data yang didapat pada saat pengkajian tidak sama dengan teori yang ada pada tinjauan Pustaka.

4.1.6.3 Kepala

Pada tinjauan Pustaka didapatkan kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu efek berlebihan produksi asam urat didalam tubuh lebih banyak.menurut pendapat penulis di temukan kesenjangan antara tinjauan Pustaka dan tinjauan kasus sehingga klien hanya mengeluhkan sakit kepala

Pada tinjauan kasus didapatkan data pada pemeriksaan kepala klien merasakan sakit kepala muncul pada saat bangun tidur. Tidak ada pusing dan tidak terjadi trauma yang berarti dimasa lalu.

Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus karena keduanya sama ditemukan data terdapat sakit kepala.

4.1.6.4 Mata

Pada tinjauan Pustaka didapatkan : Perubahan mata pada lansia umumnya adalah kekendoran kelopak mata, kulit pada palpebra mengalami atropi dan kehilangan elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan. Pada lansia sering ditemukan

“nerocos” yang disebabkan kegagalan fungsi pompa pada system kanalis lakrimas yang menimbulkan keluhan mata kering yaitu adanya rasa tidak enak seperti terdapat benda asing atau seperti ada pasir. Mata terasa Lelah dan kabur, perubahan kornea terjadi acus senilis yaitu kelainan beberapa infiltrasi lemak berwarna keputihan berbentuk cincin dibagian

tepi kornea, selain itu pada lansia terjadi prespobia, terjadi kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan penurunan kemampuan membedaan warna antara biru dan ungu. Perubahan pada iris mengalami depigmentasi, tampak ada bercak berwarna merah muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal. Perubahan pada pupil yaitu terjadi penurunan kemampuan akomodasi ( Tamtomo, 2016 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data pada saat pengkajian yaitu Inpeksi : Terjadi perubahan penglihatan, klien tidak bisa melihat jarak jauh, klien tidak menggunakan kaca mata, tidak terjadi air mata berlebihan, tidak terjadi gatal diarea mata, tidak terjadi bengkak sekitar mata, dan foto pobia Palpasi : terjadi nyeri pada area mataMenurut pendapat penulis tidak terjadi kesenjangan antara ti njauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.5 Telinga

Pada tinjauan Pustaka secara umum pada lansia terjadi perubahan pendengaran pada telinga terutama terhadap nada/suara yang tinggi dan suara yang tidak jelas atau sulit di mengerti ( Udjianti, 2011 ). Pada tinjauan kasus ditemukan data pada saat pengkajian yaitu pada pemeriksaan telinga tidak terjadi perubahan pendengaran, tidak terdapat alat-alat protesa, tidak ada tininus (telinga berdengung), kebiasaan perawatan telinga klien biasanya membersihkan menggunakan cotton bud. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada saat pengkajian ditemukan data klien tidak mengalami perubahan pendengaran.

4.1.6.7 Hidung

Pada tinjauan Pustaka inpeksi pernapasan cuping hidung, sianosis (Udjianti, 2011). Pada tinjauan kasus pada saat pemeriksaan hidung tidak terjadi rinorea (pilek), tidak terjadi penyempitan pada pernafasan, tidak mendengkur, tidak terjadi nyeri, dan tidak memiliki alergi. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan Pustaka.

4.1.6.8 Mulut dan Tenggorokan

Pada tinjauan Pustaka biasanya ditemukan banyak gigi yang tunggal dan sensitifitas indra pengecap menurun. Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofil papil lidah dan terjadinya fisura-fisura. Sehubungan dengan ini maka terjadi perubahan persepsi terhadap pengecapan. Akibatnya orang tua sering mengeluh tentang kelainan yang dirasakan terhadap rasa tertentu misalnya pahit dan asin. Dimensi lidah biasanya membesar dan akibat kehilangan Sebagian besar gigi, lidah bersentuhan dengan pipi waktu menguyah, menelan dan berbicara ( Tamtomo, 2016 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data pada saat pengkajian yaitu Pada pemeriksaan mulut ditemukan membrane mukosa lembab, klien mengatakan menggosok gigi 2x sehari, tidak ada lesi, tidak ada gigi palsu, tidak terdapat alat protesa, tidak ada riwayat infeksi dan tidak terjadi perubahan suara pada klien. Pada tenggorokan klien mengatakan tidak ada gangguan menelan. Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada saat pengkajian ditemukan data klien tidak mengalami masalah pada pengkajian mulut dan tenggorokan.

4.1.6.9 Leher

Pada tinjauan kasus, inpeksi : Distensi vena jugularis ( Udjianti, 2011) Pada tinjauan Pustaka didapatkan data pada saat pengkajian yaitu tidak terjadi kekakuan dan tidak mengalami keterbatasan gerak dan palpasi tidak terjadi nyeri tekan dan tidak terdapat benjolan .

Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.10 Pemeriksaan payudara

Pada tinjauan kasus pemeriksaan payudara pada lansia perempuan maka akan terjadi pengenduran pada payudara (Udjianti, 2011).

Pada tinjauan kasus ditemukan data pada saat pengkajian yaitu

Pada payudara terjadi pengenduran, tidak ada cairan yang keluar dari puting susu dan tidak mengalami perubahan pada puting susu. Pada payudara tidak mengalami nyeri tekan dan tidak terdapat benjolan.

Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.11 Pernapasan

Pada tinjauan pustaka umumnya terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas total paru tetap tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengkompensasi kenaikan ruang paru, udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan pada otot-otot pernapasan akibat atrofi mengalami kelemahan, kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga pernapasan cepet dan dangkal (Kemenkes, 2016). Pada tinjauan kasus didapatkan data pada saat pengkajian yaitu Klien tidak batuk dan tidak ada sputum. Tidak

ditemukan sesak napas pada klien, tidak terjadi mengi dan tidak memiliki alergi pada pernapasan. Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus karena pada saat pengkajian tidak didapatkan masalah pada pernafasan klien.

4.1.6.12 Kardiovaskuler

Pada tinjauan Pustaka Lansia akan terjadi katub jantun menebal dan menjadi kaku, elastisitas aorta menurun, ventrikel kiri menebal hingga menurunnya kekuatan kontraksi dan kemampuan jantung memompa darah menurun 1% pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

Pada tinjauan kasus didapatkan data yaitu terjadi dipsnea saat klien beraktifitas. tidak terjadi ortopnea (bernafas tidak nyaman saat berbaring) tidak terjadi perubahan warna pada kaki, tidak terjadi varises, dan tidak terjadi kesemutan. Pada sistem kardiovaskuler tidak terjadi nyeri pada dada, tidak mengalami edema. Pada sistem kardiovaskuler tidak ada bunyi jantung tambahan yaitu murmur. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.13 Perkemihan

Pada tinjauan Pustaka bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menurun, sisa urin setelah selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot kandung kemih yang tidak teratur sering terjadi keadaan ini menyebabkan sering berkemih dan kesulitan menahan keluarnya urin.

Pada tinjauan kasus didapatkan data pada sistem perkemihan tidak terjadi disuria, hematuria, poliuria, oliguria, dan nokturia. Klien tidak mengalami nyeri saat berkamih, tidak memiliki riwayat batu saluran kemih, dan tidak terjadi infeksi saluran kemih. Frekuensi berkemih klien antara 4-7 kali dalam sehari. Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus karena pada saat pengkajin tidak terdapat masalah pada system perkemihan klien.

4.1.6.14 Gastrointestinal

Pada tinjauan Pustaka umumnya lansia mengalami perubahan pada : (1) Lambung (Ventriculus)

Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar dan ini menyebabkan sekresi asam lambung. Pepsin dan factor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga daya tampung makanan berkurang. Proses pengubahan protein menjadi pepton terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang rangsang rasa lapar juga berkurang. Absobsi kobalamin menurun sehingga konsentrasi kobalamin lebih rendah.

(2) Usus halus ( Intestium Tenue )

Mukosa usus halus mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang jumlah vili berkurang yang menyebabkan penurunan proses absorbs. Di daerah duodenum enzim yang dihasilkan oleh pancreas dan empedu menurun, sehingga metabolism karbohidrat, protein dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda. Keadaan seperti ini menyebabkan gangguan yang disebut sebagai maldigesti dan mal absorbsi

(3) Pankreas ( Pancreas )

Produksi enzim amylase, tripsi dan lipase menurun sehingga kapasitas metabolism karbohidrat, protein dan lemak juga menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubungkan dengan batu empedu.

Batu empedu yang menyumbat ampula vateri menyebabkan oto-digesti parenkim pancreas oleh enzim elastase dan fosfolipase -A yang diaktifkan oleh tripsi dan/atau asam empedu.

(4) Hati (Hepar)

Ukuran hati mengecil dan sirkulasi portal juga menurun pada usia kurang dari 40 tahun 740 ml/menit, pada usia diatas 70 tahun menjadi 595 ml/menit. Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolism karbohidrat, protein dan lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konyugasi, bilirubin dan lain sebagainya. Dengan meningkatkan usia secara histologic dan anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi Sebagian besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous sehingga menyebabkan penurunan fungsi hati. Hal ini harus di ingat terutama dalam pemberian obat-obatan.

(5) Usus Besar dan Rectum ( Colon dan Rectum )

Pada colon pembuluh darah menjadi ber kelok-kelok yang menyebabkan motilitas colon menurun, berakibat absorbsi air dan elektrolit meningkat sehingga faeses menjadi lebih keras sering terjadi konstipasi (Tamtomo, 2016). Pada tinjauan kasus didapatkan data yaitu pada sistem Gastrointestinal tidak terjadi Disfagia (kesulitan menelan),

Tidak terjadi perubahan nafsu makan pada klien, tidak mengalami nyeri ulu hati, tidak terjadi mual/muntah, tidak terjadi Hematemesis (muntah darah), tidak mengalami nyeri, tidak ada benjolan/ massa, tidak mengalami diare, tidak mengalami konstipasi, tidak terjadi melena, tidak megalami Hemoroid (wasir), tidak menglami perdaran rektum.Menurut pendapat penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan Pustaka karena pada saat pengkajian tidak ditemukan masalah system gastrointestinal pada klien.

4.1.6.15 Reproduksi

Pada tinjauan Pustaka secara umum perubahan reproduksi yang terjadi pada lansia perempuan adalah menciutnya ovarium dan uterus sehingga terkadang lansia perempuan mengalami perdarahan pasca senggama dan nyeri pada daerah pelvis. Sedangkan pada lansia laki-laki testis masih dapat spermotozos, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur sehingga mengakibatkan penurunan Hasrat seksual.

Pada laki-laki juga sering mengalami hipertrofi prostas (Udjianti, 2011). Pada tinjauan kasus didapatkan data yaitu reproduksi tidak ada lesi, tidak terjadi rabas dan nyeri pelvis. Klien tidak memiliki penyakit kelamin dan tidak terjadi infeksi. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.16 Muskuluskeletal

Pada tinjauan Pustaka lansia akan terjadi penurunan suplai darah ke otot sehingga mengakibatkan masa otot dan kekuatannya menurun. Tulang

kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang, persendian membesar kaku, tendon mengkerut dan mengalami selerosis, atropi serabut otot sehingga Gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan tremor (Udjianti, 2011) . Pada tinjauan kasus didapatkan data Pada pemeriksaan muskuluskeletal sering terjadi nyeri pada persendian yang akan menimbulkan dampak pada aktivitas kehidupan sehari-hari karena klien sering kelelahan sehingga aktivitas klien terbatas. Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.17 Sistem saraf

Pada tinjauan Pustaka system saraf lansia akan terjadi penurunan jumlah sel pada otak yang mengakibatkan penurunan reflex dan penurunan kognitif. Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak menurun 10-20 % mengecil syaraf pasca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap dingi rendah, kurang sensitif terhadap sentuhan ( Kemenkes, 2016 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data yaitu saraf pusat klien merasakan sakit kepala, tidak terjadi kejang, tidak terjadi paralisis (hilangnya separuh/seluruh fungsi otot), tidak terjadi paresis (badannya lemah untuk bergerak), tidak terjadi masalah koordinasi, tidak terjadi tremor, tidak terjadi paratesia, tidak terjadi cedera kepala, dan tidak mengalami masalah memori. Menurut pendapat

penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan Pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.6.18 Sistem endokrin

Pada tinjauan Pustaka lansia akan mengalami produksi hormon paratiroid yang menurun yang dapat menurunkan kadar kalsium sehingga dapat terjadi osteoporosis ( Udjianti, 2011 ). Pada tinjauan kasus didapatkan data ada sistem endokrin tidak terjadi goiter (pembengkakan tiroid), tidak terjadi polifagi (banyak makan), tidak terjadi polidipsi (banyak minum), dan tidak terjadi poliuria (sering BAK). Menurut pendapat penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada tinjauan Pustaka adalah Nyeri akut berhubungan dengan Agens Cedera Biologis, Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri persendian, Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit, Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada persendian.

(NANDA, 2015). Diagnosa yang muncul pada tinjauan Pustaka disesuaikan dengan kondisi patologis pasien secara umum, sedangkan diagnose keperawatan pada tinjauan kasus disesuaikan dengan keadaan pasien sacara langsung. Pada tinjauan kasus terdapat 2 diagnosa keperawatan yang muncul, antara lain nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis dan defisitt pengetahuan proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi. Penulis mengangkat dengan problem nyeri akut karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data objektif : Klien mengatakan nyeri pada seluruh ekstermitas. Data subjektif :

Klien tampak menyeringai. Dan problem deficit pengetahuan karena pada saat pengkajian didapatkan data subjektif : Klien mengatakan tidak mengetahui tentang pengertian asam urat, penyebab, tanda dan gejala. Dan data objektif : pada saat ditanya klien mengatakan tidak tahu.

4.3 Perencanaan Keperawatan

Pada perumusan tujuan antara tinjauan Pustaka dan tinjauan kasus tidak ada kesenjangan. Pada tinjauan Pustaka perencanaan menggunakan kriteria hasil yang mengacu pada pencapaian tujuan. Sedangkan pada tujuan kasus perencanaan menggunakan sasaran dalam intervensinya dengan tujuan penulis ingin meningkatkan kemandirian klien dalam pelaksaan asuhan keperawatan melalui peningkatan pengetahuan (kognitif,afektif,dan psikomotor).

4.3.1 Nyeri Akut Berhubungan Dengan Agens Cedera Biologis

Pada intervensi tinjauan Pustaka dilakukan intervensi yang sama pada tinjauan kasus alasannya karena yang didapat setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 2x kunjungan, diharapkan nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil : klien mampu menjelaskan penyebab terjadinya nyeri, klien mamapu mendemonstrasikan Tindakan untuk mengurangi nyeri, klien melaporkan nyeri nya berkurang, skala nyeri 1-3 klien tidak menyeringai.

Diagnosa nyeri akut merupakan diagnosa yang actual karena merupakan masalah yang sering dialami oleh lansia untuk pemulihan etiologi dari masalah keperawatan, nyeri akut berhubungan dengan Agens cedera biologis. Tindakan yang dilakukan penulis untuk mengurangi nyeri adalah mengajarkan kompres air hangat.

Intervensi : Menjelaskan kepada klien tentang penyebab nyeri,

1. anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri,

2. ajarkan klien untuk melakukan Teknik Pereda nyeri nonfarmakologis (Teknik distraksi, relaksasi, kompres air hangat atau dingin, terapi musik ),

3. ajarkan klien untuk mengompres area nyeri dengan air hangat/dingin, 4. observasi skala nyeri, lokasi, kareakteristik dursi, kualitas nyeri.

Rasional :

1. Untuk menambah pengetahuan tentang nyeri pada klien 2. Untuk memantau rasa nyeri nya yang di alami klien

3. Sebagaia penunjang rasa nyeri yang di akami klien

4. Agar mengetahui nyeri yang dialami klien membaik atau semakin buruk

4.3.2 Defisit pengetahuan tentang proses penyakit.

Pada intervensi tinjauan Pustaka dilakukan intervensi pada tinjauan kasus.

Alasannya karena data yang didapat pasien mengatakan tidak tentang penyebab asam urat, dengan data objektif : pasien tampak bingung saat ditanya setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 2x kunjungan pengetahuan klien bertambah dengan kriteria hasil : klien melaporkan bahwa pengetahuan sudah bertambah, klien mampu menjelaskan tentang penyebab masalah klien dapat mendemonstrasikan bagaimana cara untuk mencegah penyakit asam urat karena pengetahuannya sudah bertambah,klien tidak kebingungan Ketika ditanya tentang penyakitnya Tindakan yang dilakukan penulis untuk menambah pengetahuan pasien adalah menjelaskan pada pasien tentang asam urat

Intervensi :

1. Jelaskan tentang pengertian asam urat

2. Jelaskan tentang penyebab penyakit Asam Urat 3. Jelaskan tentang tanda dan gejala Asam Urat

4. Jelaskan tentang penanganan dan pencegahan dari Asam Urat 5. Jelaskan komplikasi penyakit Asam Urat

6. Jelaskan kepada klien tentang kepatuhan diet terhadap Kesehatan 7. Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya

Dokumen terkait