BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 34-70
G. Pengujian Keabsahan Data
Setelah peneliti selesai mengumpulkan data, maka tahap berikutnya yaitu menguji keterpercayaan data atau menggabungkan data (triangulasi data), dengan kata lain triangulasi merupakan sebuah proses melakukan pengujian kebenaran data dan cara yang paling umum digunakan dalam penjaminan validitas data dalam penelitian kualitatif.18 Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa, triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecakan data atau sebagai pembanding terhadap data. Adapun teknik triangulasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber yakni untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Peneliti menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan apa yang dikatakan
17Suharmisi Arikunto, Prosedur Penelitian, suatu Pendekatan Praktek (Jakarta:Rineka Cipta, 2002), h. 252 .
18Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet. II; Jakarta : Misaka Galiza, 2003), h. 137
Kepala Sekolah, Guru dan siswa mengenai kegiatan pembinaan yang diberikan guru kepada peserta didik apakah sudah membentuk akhlak peserta didik.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik atau metode berarti untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Penulis menggunakan triangulasi teknik ini untuk membandingkan dan mengecek apakah hasil data yang diperoleh dari ketiga teknik pengumpulan data tersebut di atas sama atau berbeda-beda, jika memiliki kesamaan maka data tersebut sudah kredibel, jika memiliki perbedaan maka peneliti akan melakukan sebuah diskusi lebih lanjut kepada sumber data. Seperti halnya hasil wawancara dibandingkan atau dicek dengan hasil observasi dan dokumentasi.
3. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu adalah digunakan untuk menguji kredibilitas suatu data dengan cara menguji dan mengecek data dapat dilakukan dengan menggunakan waktu tertentu melalui wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Adapun jika hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka harus dilakukan secara berulang sampai ditemukan sebuah kepastian datanya.19
19Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Cet. XXV; Bandung: Alfabeta, 2017), h. 274
50 BAB IV
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA AKHLAK PESERTA DIDIK SMA ANGKASA LANUD SULTAN
HASANUDDIN KABUPATEN MAROS
A. Akhlak Peserta Didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros
Akhlak sering juga disebut tingkah laku yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Dari perbuatan yang dilakukan oleh seseorang inilah yang akan menunjukkan bahwa akhlak seseorang itu baik atau buruk.
Seseorang yang rajin melaksanakan salat 5 waktu, rajin bersedekah, menolong sesama dan yang lainnya maka dapat dikatakan seseorang itu memiliki akhlak yang baik, namun sebaliknya jika seseorang itu tidak mengerjakan sholat, suka menghina sesama manusia, malas – malasan dan melakukan perbuatan tidak terpuji lainnya maka dapat dikatakan bahwa seseorang itu memiliki akhlak yang buruk.
Adapun pada bagian ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian tentang akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, dimana data yang diperoleh dilakukan dengan menganalisis hasil observasi dan wawancara dari peserta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin.
1. Akhlak kepada Allah Swt.
Akhlak kepada Allah Swt. yaitu tingkah laku manusia dengan taat terhadap perintahNya, dan menjauhi laranganNya. Contohnya dengan melaksanakan salat wajib 5 waktu dalam sehari. Adapun di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini sebelum masa pandemi terjadi, ketika sudah masuk waktu
salat, para peserta didik melaksanakan sholat berjamaah di masjid yang ada di sekolah.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Aditya Eka Saputra seorang peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin bahwasanya dulu sebelum masa pandemi, sebelum pulang sekolah dia melaksanakan sholat dhuhur berjamaah terlebih dahulu, akan tetapi di masa pandemi sekarang ini jadwal pulang sekolah lebih cepat tepatnya pukul 11.00 WITA, dan adanya aturan untuk jaga jarak sehingga tidak lagi melaksanakan sholat berjamaah. Namun dia tetap melaksanakan sholat dhuhur saat sudah berada di rumah.1
Adapun dari Muhammad Sandi Prayoga mengatakan bahwa dirinya juga rajin melaksanakan sholat baik saat berada di sekolah maupun saat berada di rumah. Namun dirinya juga mengakui bahwa, dia pernah tidak melaksanakan sholat di sekolah karena dia fokus mengerjakan tugasnya.2
Kemudian dari Siska Mahariana mengatakan bahwa dirinya rajin melaksanakan salat, namun kadang juga tidak melaksanakan salat dikarenanakan alasan tertentu sehingga terhalang untuk melaksanakan ibadah salat.3
Dilihat dari hasil wawancara tersebut bahwasanya peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini memiliki akhlak yang baik kepada Allah Swt. karena para peserta didik rajin melaksanakan ibadah sholat berjamaah, sebelum terjadinya masa pandemi covid 19, ketika masuk waktu sholat dhuhur, para peserta didik melaksanakan sholat berjamaah. Namun di kondisi pandemi saat ini tidak lagi ada sholat berjamaah di mesjid, karena adanya himbauan untuk jaga jarak dan jadwal pulang sekolah lebih cepat dari hari
1Aditya Eka Saputra (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
2Muhammad Sandi Prayoga (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
3Siska Mahariana (17 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (19 November 2021)
– hari biasanya. Namun ada beberapa siswa yang juga tidak melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di sekolah, karena memiliki alasan tertentu.
2. Akhlak terhadap diri sendiri
Akhlak terhadap diri sendiri merupakan sikap seseorang terhadap dirinya pribadinya sendiri baik itu dari segi jasmani maupun rohani. Adapun peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini memiliki akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, karena para peserta didik membiasakan dirinya unuk disiplin terhadap waktu dan mentaati aturan – aturan yang berlaku di lingkungan sekolah.
Sebagaimana hasil wawancara kepada Nazwa Aulia yang merupakan salah satu peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini menerangkan bahwa dirinya tidak pernah datang terlambat ke sekolah, beliau datang pada pukul tujuh pagi sebelum proses pembelajaran dimulai, dan menggunakan pakaian yang lengkap, mulai dari topi, dasi, serta menggunakan hijab saat datang kesekolah.4
Kemudian dari Muhammad Alfa Rheza mengatakan bahwa dirinya selalu tepat waktu datang ke sekolah, akan tetapi dia juga mengakui bahwa dirinya pernah datang terlambat ke sekolah karena telat bangun pagi. Pakaian yang digunakan ke sekolah lengkap akan tetapi pernah juga tidak menggunakan seragam lengkap datang ke sekolah sehingga mendapatkan teguran dari guru.5
Kemudian dari Siska Mahariana mengatakan bahwa.dirinya selalu tepat waktu datang ke sekolah dan tak pernah terlambat. Terkait seragam, dirinya selalu menggunakan seragam yang lengkap saat ke sekolah. Adapun soal tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru pernah tidak dikerjakan dikarenakan
4Nazwa Awalia (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (19 November 2021)
5Muhammad Alfa Rhesa (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (19 November 2021)
masalah kuota dan jaringan, akan tetapi guru memberikan keringanan untuk mengerjkan tugas ketika sudah memiliki kuota.6
Dilihat dari hasil wawancara terhadap beberapa peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, para peserta mematuhi peraturan yang ada di sekolah terkait kedisiplinan dan tata tertib, namun masih ada juga beberapa peserta didik yang tidak mengindahkan aturan tersebut dikarenakan alasan tertentu.
Di sisi lain terkait akhlak terhadap diri sendiri, di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini masih terdapat sebagian peserta didik yang memiliki akhlak yang kurang baik terhadap dirinya sendiri, karena masi terdapat beberapa peserta didik yang merokok. Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Sandi Prayoga bahwa dia pernah melihat peserta didik merokok saat pulang sekolah, Peserta didik yang merokok tersebut masih menggunakan atribut sekolah dari SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini.7
Menurut pengakuan dari Iksan Septiansyah bahwa dia memiliki sekitar dua orang teman kelas yang merokok, dan biasanya mereka merokok di luar lingkungan sekolah.8
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini terdapat sebagian peserta didik yang merokok dengan menggunakan atribut sekolah. Merokok sendiri merupaka salah satu bentuk akhlak yang buruk terhadap diri sendiri karena dengan menghisap rokok sama dengan menghisap racun yang akan menimbulkan berbagai penyakit kepada diri sendiri dan juga akan merugikan orang lain.
6Siska Mahariana (17 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (19 November 2021)
7Muhammad Sandi Prayoga (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
8Iksan Septiansyah (17 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
3. Akhlak terhadap guru
Kemudian terkait akhlak kepada guru, peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini memiliki akhlak yang baik terhadap gurunya, dengan menghormati dan bersikap baik kepada gurunya dan tidak berkata kasar.
Sebagaimana yang di katakan oleh Aditya Eka Saputra bahwa dirinya tidak pernah berkata kasar dengan gurunya, mendengar dan memperhatikan gurunya saat proses pembelajaran, begitupun dengan teman – temannya bahwa dirinya tidak pernah melihat teman – temannya berkata kasar terhadap gurunya.9
Begitupun yang dikatakan oleh Nazwa Awalia bahwa dirinya menghargai dan mendengar arahan dari gurunya, tidak pernah berkata kasar terhadap gurunya.
Dirinya juga tidak pernah melihat teman – temannya memiliki masalah dengan gurunya.10
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini memiliki akhlak yang baik kepada gurunya dengan menghargai dan menghormati serta mendengar apa yang di ucapkan oleh gurunya.
4. Akhlak terhadap sesama teman
Akhlak terhadap sesama teman maksudnya adalah sikap seseorang dan cara berperilaku serta berinteraksi dengan temannya. Adapun akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini memiliki sifat yang baik, karena pada pergaulan mereka, para peserta didik saling menghargai sesama temannya dan memiliki sikap toleransi yang baik.
9Aditya Eka Saputra (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
10Siska Mahariana (17 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (19 November 2021)
Sebagaimana yang di ucapkan oleh Jalil Pratama salah peseta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin bahwa hubungan dengan teman – temannya sangat baik, saling berinteraksi sesama teman, dan tidak saling bermusuhan.11
Adapun yang diutarakan oleh Aditya Eka Saputra bahwa tidak ada rasis di antara teman – teman mereka, mereka saling menghargai perbedaan antar agama diantara mereka, dan tidak pernah berdebat terkait masalah keyakinan.12
Namun menurut Muhammad Sandi Prayoga pernah melihat peserta didik yang lain saling berkelahi, disebabkan karena adanya kesalahpahaman diantara kedua peserta didik yang berkelahi tersebut, dan ada juga yang berkelahi disebabkan karena alasan perempuan.13
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa hubungan sesama teman di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin memiliki hubungan yang baik, saling menghargai sesama teman dan saling toleransi atas perbedaan. Namun dibalik itu masih terdapat juga beberapa peserta didik yang berkelahi dikarenakan permasalahan – permasalahan tertentu.
B. Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros
1. Guru pendidikan agama Islam berperan sebagai suri teladan
Peran guru pendidikan agama Islam sangatlah penting, selain mengajarkan ilmu agama, guru pendidikan agama Islam juga berperan dalam membina akhlak peserta didik. Melalui pembinaan akhlak, peserta didik diharapkan memiliki akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk.
11Jalil Pratama (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
12Aditya Eka Saputra (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
13Muhammad Sandi Prayoga (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
Guru pendidikan agama Islam berperan aktif dalam membina akhlak agar para peserta didik sadar atas apa yang mereka lakukan dalam keseharian mereka, apakah yang mereka lakukan itu merupakan hal yang baik atau merupakan hal yang buruk.
Guru pendidikan agama Islam memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam melahirkan generasi masa depan yang unggul, cemerlang, dan berakhlakul karimah, oleh karena itu guru harus mampu memberikan contoh dan teladan yang baik bagi peserta didik.
Dalam mengefektifkan upaya pembinaan akhlak peserta didik guru pendidikan agama Islam dituntut untuk menjadi model dan teladan yang baik bagi peserta didik dan dituntut untuk menjadikan pembelajaran sebagai pengaplikasian semua kepribadian sejati seorang guru, karena pandangan peserta didik terhadap nilai suatu kebaikan akan lebih besar terekam dan cenderung dicontoh oleh peserta didik apabila terlihat langsung pada pola sikap dan perilaku gurunya.
Adapun peran guru pendidikan agama Islam sebagai teladan di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros yaitu dengan memberikan contoh yang baik kepada peserta didik seperti disiplin waktu, melaksanakan salat wajib, bertutur kata yang sopan dan lemah lembut, berpakaian rapi, dan lain sebagainya.
Dengan keteladanan seorang guru inilah yang akan membuat peserta didik akan meniru perbuatan gurunya. Menurut Ibu Hijrah, S.Pd. bahwa pihak sekolah menuntut peserta didik untuk disiplin, oleh karena itu seorang guru harus memberikan contoh yang baik, yaitu harus disiplin juga, sehingga peserta didik dapat mengikuti perilaku dari gurunya.14
14Hijrah (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (18 November 2021)
a. Metode guru pendidikan agama Islam sebagai suri teladan di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros
1) Metode Keteladanan
Dalam membina akhlak peserta didik metode keteladanan menjadi hal utama yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam. Sebagaimana suri teladan yang baik dari diri Rasulullah saw. yang patut dicontoh. Rasulullah saw.
memberikan contoh yang baik kepada umatnya tentang bagaimana beliau menjalani kehidupannya sehari – hari.
Dalam menerapkan metode ini, seorang guru pendidikan agama Islam memberikan contoh yang baik kepada peserta didik. Pada dasarnya peserta didik memiliki sifat peniru, jadi sudah sewajarnya seorang guru terkhusus guru pendidikan agama Islam memberikan contoh yang baik kepada peserta didik.
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Hijrah, S.Pd. selaku guru pendidikan agama Islam dalam proses wawancara mengatakan bahwa :
“Menurut saya pribadi yaitu, memberikan contoh terhadap peserta didik dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya siswa kan dituntut untuk memakai pakaian yang sesuai dengan syariat islam, jadi begitupun dengan guru PAI, jadi kita harus memberikan contoh kepada siswa.”15
Senada dengan hal tersebut, Ibu Sriyani, S.Pd. juga selaku guru pendidikan agama Islam di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin mengemukakan bahwa memberikan contoh kepada peserta didik dengan cara berprilaku baik, contohnya berbicara yang baik, berlemah lembut, contoh yang lain yaitu dengan cara melaksanakan salat dan juga mengajak peserta didik juga untuk ikut salat.16
Guru pendidikan agama Islam di SMA Angkasa juga menanamkan sifat toleransi antar umat beragama di lingkungan SMA Angkasa Lanud sultan
15Hijrah (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (18 November 2021)
16Sriyani (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (17 November 2021)
Hasanuddin. Sifat ini sangat penting dimiliki seorang guru karena dapat diketahui bahwa para guru dan peserta didik dilingkungan SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini mempunyai agama yang berbeda – beda. Oleh sebab itu seluruh guru, terkhusus guru pendidikan agama Islam menanamkan sifat toleransi antar agama, sehingga para peserta didik juga meniru sifat dari gurunya.
Menurut Bapak Jusuf, S.Pd, bahwa di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin terdapat beberapa macam agama diantaranya Islam, Nashrani, dan ada juga yang beragama Hindu. Hubungan antara sesama guru, sesama siswa, dan hubungan antara guru dan siswa sangat baik, mereka saling menjaga dan menanamkan sifat toleransi antar umat beragama dilingkungan sekolah.17
Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa guru pendidikan agama Islam di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini menerapkan metode keteladanan atau contoh yang baik kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mencontoh prilaku atau perbuatan yang dilakukan oleh gurunya.
2) Pembiasaan
Selain metode keteladanan, dalam menjalankan perannya sebagai suri teladan yang baik guru pendidikan agama Islam juga menggunakan metode pembiasaan. Metode pembiasaan merupakan salah satu metode yang digunakan guru pendidikan agama Islam di SMA Angkasa Lanud Sutan Hasanuddin dalam membina akhlak peserta didik, dengan menerapkan metode pembiasaan ini dapat membentuk kepribadian peserta didik.
Dalam penerapan metode pembiasaan ini dijelaskan oleh Ibu Hijrah, S.Pd.
selaku guru pendidikan agama Islam yang mengatakan bahwa :
17Jusuf (49 tahun), Kepala Sekolah SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (23 November 2021)
“Kalau di SMA Angkasa sendiri disini, setiap harinya itu ada namanya literasi Al-Qur’an, jadi untuk membiasakan peserta didik untuk membaca Al-Qur’an. Kemudian disini juga di sekolah kita juga sudah terapkan yang namanya 5S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun, jadi setiap bertemu dengan guru harus salam.”18
Melalui penerapan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) ini dapat membiasakan siswa untuk berprilaku yang baik, dilihat dari keseharian siswa yang senantiasa menyapa dan memberikan salam saat bertemu dengan gurunya, serta sopan santun kepada gurunya saat berbicara.
Adapun pembiasaan melalui literasi sebelum wabah covid 19, pembiasaan literasi Al-Qur’an ini dilaksanakan tiap harinya di sekolah kecuali hari senin.
Pembiasaan literasi ini bukan hanya berlaku bagi peserta didik yang Muslim saja akan tetapi peserta didik yang Non Muslim juga diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini, sebagaimana yang di ungkapkan oleh Bapak Jusuf, S.Pd. bahwa:
“Setiap pagi sebelum terjadinya wabah covid 19, kami adakan literasi bagi yang Muslim dan yang Non Muslim. Kalau yang Nasrani itu misalnya baca Al-Kitab, kalau yang Muslim baca Al-Qur’an, setiap hari kecuali hari senin, namun untuk saat ini karena situasinya kurang memungkinkan jadi biasanya dipindahkan kerumah untuk yang online.19”
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa metode pembiasaan diterapkan oleh guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin. Namun untuk saat ini pembiasaan literasi ini tidak dilaksanakan di sekolah karena situasi wabah Covid 19, sehingga pembiasaan literasi tersebut dipindahkan ke rumah masing – masing peserta didik secara online.
18Hijrah (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (18 November 2021)
19Jusuf (49 tahun), Kepala Sekolah SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (23 November 2021)
Selain dari pembiasaan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dan literasi, peserta didik juga dibiasakan untuk melaksanakan salat berjamaah di sekolah. Seperti yang di ungkapan oleh Ibu Hijrah, S.Pd. bahwa:
“Kita terlebih dahulu menanamkan pembiasaan, pembiasaan salat itu saya lakukan dengan metodenya itu dengan mengabsen, jadi masing – masing ketua kelas itu mengabsen temannya yang ikut salat. Sebenarnya ini pemaksaan, pemaksaan untuk membiasakan salat berjamaah.20
Dengan pembiasaan tersebut para peserta didik terdorong untuk melaksanakan salat berjamaah di sekolah, walaupun adanya bentuk pemaksaan, tapi pemaksaan itu untuk menanamkan pembiasaan salat berjamaah kepada peserta didik agar mereka terbiasa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
b. Faktor pendukung dan penghambat guru sebagai suri teladan yang baik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanddin Kabupaten Maros
1) Faktor pendukung
Faktor pendukung guru sebagai teladan dalam membina akhlak peserta didik yaitu Seorang guru merupakan sosok yang harus ditiru dan juga merupakan panutan bagi peserta didiknya, sehingga perkataan, perbuatan, dan perilakunya selalu diikuti dan dicontoh oleh peserta didiknya. Oleh sebab itu guru harus berperilaku baik dan menajdi teladan yang baik pula bagi peserta didiknya.
Guru di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin ini telah memiliki perilaku yang baik kepada peserta didiknya, dengan memberikan contoh teladan kepada para peserta didik seperti melaksanakan ibadah tepat waktu, menggunakan pakaian yang rapi, disiplin terhadap waktu, dan bertutur kata yang lemah lembut.
Dari perilaku yang baik dari seorang guru inilah yang dapat mendorong pembentukan akhlak peserta didik dan juga membuat peserta didik merasa
20Hijrah (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (18 November 2021)
nyaman untuk belajar, seperti yang diakui oleh salah satu para peserta didik yang bernama Aditya Eka Saputra bahwa dia merasa nyaman dan damai bersekolah di SMA Angkasa ini, karena guru – guru yang ada di SMA Angkasa ini baik dan tidak ada yang kasar menurutnya.21
Selain itu pendidikan orang tua juga menjadi faktor pendukung guru sebagai teladan yang baik di sekolah. Orang tua yang mendidik anaknya dengan baik di rumah akan berpengaruh positif bagi peserta didik di sekolah, sehingga akhlak baik yang dimiliki anak tersebut akan terbawa ke sekolah. Hal tersebut dapat memudahkan dan mendorong guru pendidikan agama Islam dalam membina dan membimbing akhlak peserta didik di sekolah.
Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anaknya, sehingga peran orang tua sangat berpengaruh dalam pembentukan akhlak peserta didik. Orang tua yang mendidik anaknya dengan baik akan mendorong kepribadian anak untuk menjadi baik, sehingga kepribadian yang baik tersebut akan dibawah sampai ke lingkungan sekolah. 22
2) Faktor penghambat
Adapun faktor penghambat guru sebagai teladan yang baik dalam membina akhlak peserta didik yaitu Pergaulan. Teman merupakan orang yang dapat mempengaruhi kepribadian seorang anak. Teman yang baik akan memberikan dampak positif. Begitupun sebaliknya, teman yang buruk akan berdampak negatif bagi seorang anak. Hal ini disebabkan karena teman adalah orang yang selalu berada didalam keseharian seorang anak.
Pengaruh buruk teman tentu akan menghambat pembentukan akhlak peserta didik jika peserta didik tersebut terpengaruh oleh temannya. Namun
21Aditya Eka Saputra (16 Tahun), Siswa SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (22 November 2021)
22Hijrah (26 Tahun), Guru pendidikan agama Islam SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Wawancara, (18 November 2021)