Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Prodi Pendidikan Agama Islam
pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar
Oleh :
RAHMAT SYAHRIR 20100116038
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2022
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rahmat Syahrir
NIM : 20100116038
Tempat/ Tgl.Lahir : Maros, 01 November 1997 Jurusan/Prodi : Pendidikan Agama Islam/S1 Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan
Instansi : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Alamat : Jln. Poros Bandara Lama, Kabupaten Maros.
Judul : Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang di peroleh karenanya batal demi hukum.
Samata, 20 September 2022 Penulis
Rahmat Syahrir Nim 20100116038
iii
iv
KATA PENGANTAR
ميحّرلا نحمّرلا الله مسب
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah swt., atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros” dapat diselesaikan. Salawat dan salam tak lupa pula peneliti haturkan kepada Nabiullah Muhammad saw., atas perjuangan dan pengabdiannya yang tulus dalam menyampaikan risalah kebenaran Islam kepada umat manusia sehingga kita dapat merasakan zaman kejayaan Islam.
Ucapan terima kasih yang teramat tulus dari relung hati yang paling dalam peneliti persembahkan kepada ayahanda Syahrir dan ibunda Wiwik Nurmiati yang selalu mendukung setiap langkah peneliti dalam menyelesaikan studi, pemberi motivasi setiap kali jatuh, selalu terlihat tegar meski sebenarnya sedang susah demi melukiskan senyum dan membangkitkan semangat anak- anaknya. Terima kasih juga untuk adikku Afifah Khaira atas segala bantuan dan dukungannya.
Selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari peran dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis berkewajiban menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D selaku Rektor UIN Alauddin Makassar beserta wakil Rektor I Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., wakil Rektor II Dr. H. Wahyuddin, M. Hum., wakil Rektor III Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M. Ag., dan wakil Rektor IV Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.Ag.
v
2. Dr. H. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar beserta wakil dekan I Dr. M.Shabir U., M.Ag., wakil Dekan II Dr. M. Rusdi, M.Ag., dan wakil Dekan III Dr. H.
Ilyas, M.Pd., M.Si.
3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I.
selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Alauddin Makassar.
4. Prof. Dr. H. Muhammad Amri, LC., M.Ag. dan Dr. Usman, M.Pd. selaku pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan arahan serta nasehat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Dr. Salahuddin, M.Ag. dan Dr. Nuryamin, M.Ag. sebagai munaqisy I dan munaqisy II yang telah menguji dan mengoreksi dengan penuh kesungguhan demi kesempurnaan skripsi ini.
6. Segenap dosen dan staf Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah membantu dalam pengurusan berkas-berkas, persuratan, dan lain sebagainya.
7. Kepala Perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar serta seluruh stafnya yang telah menyediakan bahan pustaka (referensi), jasa peminjaman, serta mengolah dan melayani dengan baik.
8. Bapak Jusuf, S.Pd, Selaku Kepala Sekolah SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, beserta Guru, Staff, dan Siswa, yang telah memberikan izin untuk mengadakan sebuah penelitian dan memberikan banyak informasi demi kesempurnaan skripsi ini.
vi
9. Keluarga besar PAI 1.2 angkatan 2016 teman yang menjadi saksi penulis berproses menjadi lebih baik seperti sekarang. Teman – teman PAI 1.2 sebagai teman berbagi suka dan duka selama penulis menjalani perkuliahan yang jauh dari keluarga.
10. Orang-orang terkasih dan keluarga besar yang telah memberikan dorongan dan dukungan baik dalam bentuk materi maupun non materi kepada penulis selama menempuh pendidikan.
11. Teman-teman PPL Nasional Solo, Jawa Tengah tahun 2019 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, terkhusus Posko Bekonang, Bapak Posko Bekonang serta Guru dan Staff MA Muhammadiyah Bekonang, Terima kasih atas doa dan dukungan kalian.
12. Teman-teman KKN angkatan 61 UIN Alauddin Makassar terkhusus Desa Jonjo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian.
Penulis menyadari adanya kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh karena itu sumbangan pemikiran yang sifatnya membangun sangatlah diharapkan dalam rangka menyempurnakan skripsi ini. Semoga semua pihak yang banyak membantu penulis mendapat pahala dari Allah swt. serta semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa UIN Alauddin Makassar.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Samata-Gowa, 20 September 2022 Peneliti,
Rahmat Syahrir NIM. 20100116038
vii DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – LATIN DAN SINGKATAN ... x
ABSTRAK ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1-11 A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 6
C. Rumusan Masalah ... 7
D. Kajian Pustaka ... 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 12-33 A. Peran Guru Pendidikan Agama Islam ... 12
B. Pembinaan Akhlak ... 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34-70 A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 34
B. Pendekatan Penelitian ... 42
C. Sumber Data ... 42
D. Metode Pengumpulan Data ... 43
E. Instrumen Penelitian... 45
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 46
G. Pengujian Keabsahan Data ... 48 BAB IV PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM
MEMBINA AKHLAK PESERTA DIDIK DI SMA ANGKASA LANUD SULTAN HASANUDDIN KABUPATEN MAROS .. 50-64
viii
A. Akhlak Peserta Didik di SMA Angkasa Lanud Sultan
Hasanuddin Kabupaten Maros ... 50 B. Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta
Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros... 55 BAB V PENUTUP ... 71-73
A. Kesimpulan ... 71 B. Implikasi Penelitian ... 72 DAFTAR PUSTAKA ... 74 LA,PIRAN – LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 : Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 6
Tabel 3.1 : Fasilitas Sekolah ... 35
Tabel 3.2 : Prestasi Akademik ... 35
Tabel 3.3 : Prestasi Non Akademik... 36
Tabel 3.4 : Keadaan Guru ... 38
Tabel 3.5 : Jumlah Siswa ... 39
Tabel 3.6 : Tamatan Siswa ... 39
Tabel 3.7 : Rombongan Belajar ... 39
Bagan 3.1 : Struktur Organisasi SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ... 40
x
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN A. Transliterasi Arab-Latin
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
ا Alif
Tidak
dilambangkan Tidak dilambangkan
ب Ba B Be
ت Ta T Te
ث s\a s\ es (dengan titik di
atas)
ج Jim J Je
ح h}a h} ha (dengan titik di
bawah)
خ Kha Kh Ka dan ha
د Dal D De
ذ z\al z\ zet (dengan titik di
atas)
ر Ra R Er
ز Zai Z Zet
س Sin S Es
ش Syin Sy Es dan ye
ص s}ad s} es (dengan titik di
bawah)
xi
ض d}ad d} de (dengan titik di
bawah)
ط t}a t} te (dengan titik di
bawah)
ظ z}a z} zet (dengan titik di
bawah)
ع ‘ain ‘ Apostrof terbalik
غ G G Ge
ف Fa F Ef
ق Qaf Q Qi
ك Kaf K Ka
ل Lam L El
م Mim M Em
ن Nun N En
و Wau W We
ـه Ha H Ha
ء hamzah ’ Apostrof
ى Ya Y Ye
Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (’).
2. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:
xii
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ا Fathah A A
ا Kasrah I I
ا Dhammah U U
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ْ ىَـ fat}ahdanya’
Ai
a dan I
ْ وَـ fathahdanwau
Au
a dan u
Contoh:
ََفـْيـَك : kaifa
ََل ْوـَه : haula
3. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harakat dan Huruf Nama Huruf dan Tanda Nama
ى َْ...ْ|ْا َْ... Fathah dan alif
atau ya’ A a dan garis di atas
ىــــِـ Kasrah dan ya’ I i dan garis di atas
وــُـ Dammah dan wau U u dan garis di atas
xiii Contoh:
ََتاَـم : mata
ىـَم َر : rama
ََلـْيـِق : qila
َُت ْوُـمـَي : yamutu
4. Ta’ marbutah
Transliterasi untuk ta’ marbutah ada dua, yaitu: ta’ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah, transliterasinya adalah [t].
Sedangkan ta’ marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].
Kalau pada kata yang berakhir dengan ta’ marbutah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta’
marbutah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
Contoh:
َِلاَفْطَلأاُةـَض ْو َر : raudah al-atfal
َُةَل ِضاَفْلاَُةـَنـْيِدـَمـْلَا : al-madinah al-fadilah
َُةَمْك ِحلْا : al-hikmah
5. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid (ـّـ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh:
ََانـَـّب َر : rabbana
ََانــْيَـّجـَن : najjaina
َ قَحْلِا : al-haqq
ََمـِـّعُن : nu“ima
xiv
َ وُدـَع : ‘aduwwun
Jika hurufَى ber-tasydid di akhir sebuah kata dan di dahului oleh huruf kasrah (َّىـِــــ), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi i.
Contoh:
َ ىـِلـَع : ‘Ali (bukan ‘Aliyyatau ‘Aly)
َ ىـِـب َرـَع : ‘Arabi (bukan ‘Arabiyyatau ‘Araby)
6. Kata Sandang
Kata sandang dalam system tulisan Arab di lambing kandengan hurufََلا (alif lam ma‘arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia di ikuti oleh huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).
Contoh:
َُسـْمـَّشلَا : al-syamsu(bukanasy-syamsu)
َُةَل َزْل َّزلَا : al-zalzalah (az-zalzalah)
َُةَفَسْلَفْلَا : al-falsafah
َُدَلاـِــبـْـلَا : al-biladu
7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (’) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.
Contoh:
ََن ْو ُرـُمْأَـت : ta’muruna
َُع ْوـَّنــلَا : al-nau‘
xv
َ ءْيـَش : syai’un
َُت ْرـِمُأ : umirtu
8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata al-Qur’an (dari al-Qur’an), alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditransliterasi secara utuh.
Contoh:
Fi Zilal al-Qur’an
Al-Sunnah qabl al-tadwin 9. Lafz al-Jalalah (الله)
Kata “Allah”yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mudaf ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
Contoh:
َِاللهَُنْـيِد dinullah َِللاِب billah
Adapun ta’ marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz al- jalalah, ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:
َِاللهَِةَمـْــح َرَْيِفَْمـُه hum fi rahmatillah
xvi 10. Huruf Kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bilanama diri di dahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR).
Contoh:
Wa ma Muhammadunillarasul
Innaawwalabaitinwudi‘alinnasilallazi bi Bakkatamubarakan SyahruRamadan al-laziunzilafih al-Qur’an
Nasir al-Din al-Tusi Abu Nasr al-Farabi Al-Gazali
Al-Munqiz min al-Dalal
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu (bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagainama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi.
xvii Contoh:
B. Daftar Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:
swt. = subhanahu wa ta‘ala
saw. = sallallahu ‘alaihi wa sallam a.s. = ‘alaihi al-salam
H = Hijrah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
l. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)
w. = Wafat tahun
QS …/…: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS Ali ‘Imran 3: 4
HR = Hadis Riwayat.
PI = Pendidikan Islam
DEPAG = Departemen Agama PAI = Pendidikan Agama Islam
S1 = Strata Satu
S2 = Strata Dua
UU Sisdiknas = Undang-Undamg Sistem Pendidikan Nasional ROHIS = Rohani Islam
REMAS = Remaja Masjid
Abu al-Walid Muhammad ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abu al-Walid Muhammad (bukan: Rusyd, Abu al-Walid Muhammad Ibnu)
Nasr Hamid Abu Zaid, ditulis menjadi: Abu Zaid, Nasr Hamid (bukan: Zaid, Nasr Hamid Abu)
xviii ABSTRAK Nama : Rahmat Syahrir
Nim : 20100116038
Jurusan / Fakultas : Pendidikan Agama Islam / Tarbiyah dan Keguruan Judul : Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina
Akhlak Peserta Didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros
Skripsi ini membahas tentang Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu: 1) Bagaimana akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ?, 2) Bagaimana peran guru pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak peserta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ?
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan berlokasi di JL. Dakota, Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Informan dalam penelitian ini berjumlah 12 orang. Sumber data yang digunakan yaitu data Primer dan data sekunder dan dengan menggunakan pendekatan keilmuan yaitu pendekatan psikologi pendidikan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ini memiliki akhlak yang baik kepada Allah Swt. kepada diri sendiri, kepada guru, dan kepada teman. 2) Dalam membina akhlak peserta didik, guru pendidikan agama Islam berperan sebagai suri teladan yang baik dengan memberikan contoh perbuatan yang baik kepada peserta didik, Guru pendidikan agama Islam berperan sebagai penasihat yaitu dengan memberikan nasihat - nasihat kepada peserta didik dalam menyelasaikan permasalahan yang dihadapi, dan guru pendidikan agama Islam berperan sebagai motivator yaitu memberikan motivasi kepada peserta didik agar menjadi pribadi yang baik..
Implikasi dari penelitian ini adalah mendorong para pembina serta orang tua untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan serta lebih aktif dalam mendidik, membina, mengawasi, serta mengasuh peserta didik.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Peran pendidikan pada era globalisasi seperti sekarang ini yang tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan saja akan tetapi peningkatan pendidikan dalam spiritual juga perlu dikembangkan agar selain unggul dalam prestasi akademik juga mampu membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia meliputi etika, budi pekerti dan moral dimana hal tersebut sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Peningkatan potensi spiritual sendiri meliputi pengenalan dan pemahaman nilai-nilai keagamaan. Pendidikan agama Islam diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah swt. yang bertujuan menghasilkan manusia yang jujur, adil, budi perkerti yang baik, saling menghormati dan menghargai, baik secara personal maupun sosial.
Pendidikan merupakan salah satu elemen pembentuk kepribadian terhadap suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang layak dan memadai, dapat dikatakan bahwa suatu bangsa tergolong terbelakang. Dalam menghadapi persaingan di era globalisasi maka seluruh negara berupaya untuk beradaptasi pada arus globalisasi.
Oleh karena itu, setiap negara diharapkan mampu membuat suatu tatanan yang kuat dengan memiliki sistem pendidikan yang baik guna menghadapi persaingan di era global saat ini. Salah satu akibat dari tidak terjangkaunya penerapan pendidikan yang diakibatkan buruknya sistem pendidikan yang dimiliki oleh suatu
negara adalah terjadinya krisis akhlak sehingga akan menimbulkan mafia kantor yang menguras habis kekayaan negara untuk kepentingan pribadi.1
Krisis akhlak saat ini sering terjadi pada pelajar baik dari kalangan siswa hingga mahasiswa yang tiap harinya terjadi tawuran, melakukan aksi yang anarkis, dan masih banyak lagi kejadian – kejadian yang dilakukan oleh para pelajar yang tidak menampakkan akhlak yang baik sehingga akan terasa sulit untuk memajukan suatu bangsa. Untuk memajukan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan kualitas sumber daya manusia itu tergantung pada kualitas pendidikan yang dimiliki. Maka dari itu peran pendidikan sangat penting dalam membentuk masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis, terlebih lagi peran pendidikan Agama Islam dalam menciptakan sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.
Pendidikan agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pemahaman Agama yang benar dan tepat. Pemahaman agama yang benar sejak dini sangat penting bagi perkembangan akhlak peserta didik.
Pemahaman agama yang keliru akan menyebabkan timbulnya perilaku beragama yang menyimpang.2
Agar peserta didik terhindar dari perilaku yang menyimpang maka peserta didik harus dibekali dengan pendidikan akhlak. Dengan bekal pendidikan akhlak yang kuat diharapkan akan lahir anak–anak masa depan yang memiliki keunggulan kompetitif yang ditandai dengan kemampuan intelektual yang tinggi
1E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Cet. VII; Bandung: Rosdakarya, 2008), h. 4
2Mahfud Junaedi, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam, Edisi I (Depok : Kencana, 2017), h. 246.
dan diimbangi dengan penghayatan nilai keimanan, akhlak, psikologis, dan sosial yang baik.3
Berhasilnya pendidikan yang Islami ini akan sangat ditentukan oleh faktor tenaga guru. Kualitas dan kemampuan seorang guru akan berdampak pada tinggi atau rendahnya mutu pendidikan itu sendiri. Seorang guru harus menjadi teladan dan memiliki kewibawaan agar dapat berdampak positif pada pembentukan kepribadian seorang anak. Melihat cara Rasulullah saw. dalam mendidik umatnya yaitu dengan cara menjadi teladan yang baik. Sebagaimana Allah swt. berfirman dalam QS Al-Ahzab/33: 21.
) 21( ْا ـاِرَيَْْهٰللّاَْ َيَذَوَْ ِخه لۡاَْم وَـا لاَوَْهٰللّاْاوُج َـيَْناَيْ نَمِٰلٌْةَنَسَحٌْةَو سُاِْهٰللّاِْل وُسَرْ ِفِْ مُكَلَْناَيْ دَقَل
Terjemahnya:
Sesungguhnya ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.4
Seorang guru pendidikan agama Islam harus menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya, sebagaimana Rasulullah saw. telah mendidik umatnya dengan menjadi contoh atau suri teladan yang baik. Seorang peserta didik akan mengikuti tingkah laku dari pendidiknya, maka sebab itulah seorang guru hendaknya memberikan contoh perilaku yang baik kepada peserta didiknya.
Gerak–gerik, perilaku, serta karakter guru akan selalu diteropong dan sekaligus dijadikan cerminan oleh murid–muridnya. Kebaikan, kejujuran,
3Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet. II; Jakarta : Misaka Galiza, 2003), h. 9.
4Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung : Cordoba, 2020), h. 420.
keadilan, kesopanan, ketekunan, ketulusan, dan sifat–sifat yang baik lainnya akan selalu dilihat oleh murid–muridnya dan dalam batasan tertentu mereka akan mengikuti perbuatan tersebut. Demikian juga sebaliknya, kejelekan–kejelekan guru akan ditiru, dan biasanya lebih mudah dan cepat diikuti oleh murid–
muridnya.5
Setiap perilaku dari guru akan ditiru oleh peserta didiknya, jika seorang guru menampakkan sikap baik, lemah lembut dan penyayang kepada peserta didiknya maka peserta didik akan termotivasi dan mengikuti perbuatan tersebut, begitupun sebaliknya jika seorang guru menampakkan sikap yang tidak baik kepada muridnya, maka peserta didikpun akan mengikuti perbuatan tersebut, karena di dalam diri setiap manusia pasti memiliki potensi kebaikan dan keburukan.
Sebagaimana Allah swt. menerangkan dalam kitab-Nya tentang hal tersebut dalam QS Asy – Syams/91: 7 – 10.
اَها َّسَد ْ نَمَْباَخْ دَقَوْ)9(ْاَهاَّيَزْ نَمَْحَل ـفَأْ دَقْ)8(ْاَهاَو قَـتَوْاَهَروُجُفْاَهَمَ لَْأَفْ)7(ْاَهاَّوَسْاَمَوٍْس فَـنَو )10(
Terjemahnya:
Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.6
Didalam diri setiap orang ada potensi kebaikan, sebagaimana juga ada potensi keburukan. Jika orang–orang yang masih berperilaku buruk itu dididik,
5Mahfud Junaedi, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam, Edisi I (Depok : Kencana, 2017), h. 255.
6Departemen Agama, Al – Qur’an dan Terjemahannya, h. 595
dibina dengan baik, maka potensi kebaikan didalam dirinya itu akan muncul kepermukaan, sebaliknya potensi keburukannya semakin tertekan atau tertutupi, lalu kebaikan – kebaikan yang mulanya kecil, lama kelamaan semakin besar dan terus membesar, lalu mendominasi hati dan perilakunya, dan jadilah ia sebagai orang yang baik.7
SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin merupakan sekolah menengah atas yang beralamatkan di Jl. Dakota, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Salah satu tujuan dari sekolah ini adalah menghasilkan lulusan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, serta menghasilkan lulusan yang memiliki karakter akhlak mulia.
Peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin memiliki akhlak yang baik, akan tetapi masih terdapat beberapa peserta didik yang belum memiliki akhlak yang baik terserbut seperti masih ada yang datang terlambat, tidak mengerjakan tugas, bahkan masih terdapat beberapa peserta didik yang bolos sekolah, merokok dan juga perkerlahian antar peserta didik pernah terjadi.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam terkait peran guru pendidikan guru agama Islam dalam membina peserta didik. Walaupun guru memiliki teori yang cukup baik namun tidak didukung oleh tehnik dan metode yang baik, akan menyebabkan kekacauan. Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan sebuah penelitian dengan judul “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros”.
7Muhammad Rusli Amin, Rasulullah Sang Pendidik; Menyingkap Rahasia – Rahasia Pendidikan Karakter Dari Sirah Nabi Muhammad SAW, (Cet. I; Jakarta Selatan : AMP Press, 2013), h. 18.
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus 1. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dimaksudkan agar pembahasan tidak keluar dari pokok permasalahan, oleh karena itu calon peneliti memfokuskan penelitian ini pada Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros. Lebih jelasnya, dalam penelitian ini calon peneliti ingin mengetahui bagaimana peran guru pendidikan agama Islam serta faktor pendukung dan penghambat dalam membina akhlak peserta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros.
2. Deskripsi Fokus
Berdasarkan pada fokus penelitian di atas, dapat dideskripsikan bahwa penelitian ini dibatasi pada Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros.
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami maksud dari penulisan ini, maka penulis terlebih dahulu mengumumkan pengertian judul sebagai berikut:
Tabel 1.1 : Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus
No Fokus Peneliitian Deskripsi Fokus
1 Peran guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik.
Peran guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik disini ialah keterlibatan guru pendidikan agama Islam dalam mendidik siswa dengan cara membimbing dan membina peserta didik agar mempunyai akhlak yang baik.
Dalam membina akhlak peserta didik dimulai dari mengajarkan hal yang baik yaitu :
a.Membiasakan mengucapkan salam, senyum, sapa, sopan dan santun
b. Sholat 5 waktu c. Membaca Al-Qur’an
d. Kewajiban menutup aurat bagi peserta didik perempuan yang beragama Islam
e. Toleransi dan menghargai perbedaan keyakinan.
Pembinaan akhlak yang dimaksud peneliti adalah langkah awal yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam kepada peserta didik dilihat dari metode yang digunakan, seperti :
a. Keteladanan b. Pembiasaan c. Penasihat d. Motivator
`
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah judul skripsi, yaitu “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten
Maros”. Selanjutnya, untuk dapat mengarahkan pembahasan sebagai suatu karya ilmiah, maka akan disajikan kedalam beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ?
2. Bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik di SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros ?
D. Kajian Pustaka
Pada bagian ini akan disebutkan beberapa penelitian sebelumnya yang terdapat hubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa pokok permasalahan yang akan diteliti dan dibahas pada penelitian ini belum pernah diteliti dan dibahas oleh penulis sebelumnya.
Karena tidak layak menulis sebuah skripsi yang pernah ditulis oleh orang lain.
Atas dasar tersebut, beberapa penelitian terdahulu perlu dihadirkan. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Marlina Asis dengan judul “Korelasi antara Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Peserta Didik di SMPN 23 Simbang Kabupaten maros”. Penelitian ini membahas tentang
hubungan aktivitas belajar pendidikan agama Islam dengan akhlak peserta didik. Adapun hasil penelitian mengenai hubungan antara aktivitas belajar pendidikan agama Islam dengan Akhlak peserta didik menunjukkan bahwa variabel X dan variabel Y berada pada kategori tinggi. Hal ini disebabkan ketika peserta didik aktif dalam proses pembelajaran pendidikan agama
Islam maka akan berdampak pada akhlaknya, mereka akan senantiasa menerapkan apa yang telah diperoleh dari pembelajaran tersebut.
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional.8
2. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dengan judul “ Urgensi Pendidikan Islam dalam Membina Akhlak Mulia Peserta Didik kelas VIII MTs di Pondok Pesantren Ulil Albab Simpasai Lambu Kabupaten Bima. Adapun bahasan dalam penelitian ini yaitu hubungan pendidikan agama Islam dalam membina akhlak mulia peserta didik kelas VIII dengan hasil pendidikan agama Islam semakin baik dengan demikian akhlak mulia peserta didik semakin tinggi. Hal ini tercermin dari persamaan regresi yang diperoleh Y = 73,78 + 0,152 X. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif (Pengaruh/Hubungan) variabel independen dan dependen yang bersifat pengkorelasian, yaitu proses penelitian yang bersifat penggabungan antara X dan Y.9
3. Haidir, dengan judul “Pembinaan Akhlak dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Kel. Bontolerung Kec.Tinggimoncong Kab.Gowa”
studi yang lakukan menjelaskan tentang Upaya Pembinaan Akhlak untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja di kelurahan Bontolerung dengan hasil
8Marlina Asis, yang berjudul Korelasi antara Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Peserta didik di SMPN 23 Simbang Kabupaten maros, Skripsi (Makassar : Alauddin University Press: 2010).
9Sahlan, yang berjudul Urgensi Pendidikan Islam dalam Membina Akhlak Mulia peserta didik kelas VIII MTs di Pondok Pesantren Ulil Albab Simpasai Lambu Kabupaten bima” Skripsi (Makassar : Alauddin University Press: 2013).
yang pertama harus dimulai dari kesadaran peserta didik itu sendri yang kedua kesadaran para guru untuk selalu membimbing dan mengontrol peserta didik sehingga terjadi interaksi antara murid dan guru.10 Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian yang penulis lakukan berbeda dengan penelitian sebelumnya atau penelitian terdahulu. Penelitian yang sudah ada hanya menitik beratkan pada pembahasan seputar hubungan atau korelasi pendidikan agama Islam terhadap akhlak peserta didik dan belum ada satu pun yang membahas secara spesifik mengenai “Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik”. Sedangkan dalam penelitian ini ditujukan pada peran guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dapat disimpulkan tujuan penelitian yaitu:
a. Untuk mengetahui peran guru pendidikan agama Islam dalam pembinaan akhlak peserta didik SMA angkasa lanud sultan hasanuddin kabupaten Maros.
b. Untuk mengetahui metode yang digunakan guru pendidikan agama Islam dalam pembinaan akhlak peserta didik SMA Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros.
c. Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung dalam membina akhlak peserta didik SMA angkasa lanud sultan hasanuddin kabupaten Maros.
10Haidir, yang berjudul Pembinaan Akhlak dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja di Kel. Bontolerung Kec. Tinggimoncong Kab.Gowa, Skripsi (Makassar: Alauddin University press:
2017)
2. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan terkait peranan guru pendidikan agama Islam dalam membina akhlak peserta didik. Secara praktis, dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Untuk ikut serta membantu dalam memecahkan segala bentuk permasalahan yang dihadapi oleh guru SMA angkasa lanud sultan hasanuddin kabupaten Maros.
b. Sebagai bahan informasi dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membedakan yang baik dan buruk berdasarkan syariat Islam maupun norma sosial.
c. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lainnya yang ingin meneliti topik atau permasalahan yang sama terkait peran guru dalam membina akhlak peserta didik.
12 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Peran Guru Pendidikan Agama Islam.
Peran dapat dimaknai sebagai perilaku atau perbuatan yang diatur serta diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu.1 Menurut Syaiful Bahri menyatakan bahwa, peran adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak orang lain agar menerima pengaruh itu sendiri. Selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud tertentu dan tujuan tertentu.2 Peran merupakan perangkat tingkah yang diharapkan dapat dimiliki oleh orang yang berkedudukan di dalam suatu masyarakat.3
Kata guru dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sansekerta yang memiliki arti sebagai orang yang digugu atau orang yang dituruti fatwa dan perkataannya. Pada masa lalu seorang guru atau pendidik telah menjadi panutan dan teladan bagi muridnya sehingga katanya selalu dituruti dan perbuatan serta perilakunya menjadi teladan bagi murid-muridnya.4
Secara umum guru adalah seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik, sementara secara khusus pendidik dalam sudut pandang pendidikan Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan
1Veithzal Rivai dan Dedi Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta:
Rajawali Pres, 2013), h. 156
2Syaiful Bahri Djamarah, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2010), h. 117
3Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Etika Profesi Keguruan, Cet. 3, (Jakarta: PT Balai Pustaka, 2005), h. 854
4Kadar M. Yusuf, TafsirTarbawi, (Cet. II; Yogyakarta: Zanafa Publishing, 2010), h.80
peserta didik dengan menggupayakan perkembangan seluruh potensinya, baik potensi kognitif, efektif, dan psikomotorik yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.5 Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi berbagai bidang yakni bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada peserta didik.
Guru adalah seseorang yang dapat membuat orang lain tahu dan mampu untuk melakukan sesuatu, serta memberikan pengetahuan atau keahlian. Adapun menurut Zakiah Daradjat menyatakan bahwa, guru adalah seseorang yang memiliki kemampuan atau pengalaman yang dapat memudahkan melaksanakan peranannya membimbing muridnya.6
Dalam teori tersebut terdapat dua konsep yang perlu dijabarkan yakni guru pendidikan agama Islam dan pembinaan akhlak yaitu sebagai berikut:
Menurut Ahmad, pendidik Islam atau guru agama adalah orang yang memiliki tanggung jawab mengarahkan dan membimbing anak didik berdasarkan hukum-hukum agama Islam.7
Menurut M. Arifin Guru agama adalah hamba Allah yang mempunyai cita-cita Islami, yang telah matang rohaniah dan jasmaniah serta memahami
5Bukhari Umar, HaditsTarbawi Pendidikan dalam Perspektif Hadits, (Yogyakarta:
Amzah, 2012), h. 68
6Zakiah Daradjat, dkk., Metode Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara,1996), h. 266
7Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), h. 98
kebutuhan perkembangan siswa bagi kehidupan masa depannya, ia tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik akan tetapi juga memberikan nilai dan tata aturan yang bersifat islami ke dalam pribadi peserta didik tersebut sehingga menyatu serta mewarnai perilaku mereka yang bernafaskan Islam.8
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan adalah orang yang mendidik. Sedangkan mendidik itu sendiri artinya adalah memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.9
Menurut Zuhairini mengenai guru Pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa, guru agama Islam adalah seseorang yang mengajar dan mendidik agama Islam dengan membimbing, menuntun, memberi teladan serta membantu mengantarkan anak didiknya ke arah kedewasaan jasmani dan rohani. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan agama yang ingin dicapai yaitu membimbing anak agar menjadi seorang muslim yang sejati, beriman, teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia, serta dapat berguna bagi masyarakat, agama dan Negara.10
Berdasarkan pengertian para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian peran guru pendidikan agama Islam adalah orang yang mengajarkan bidang studi agama Islam untuk mengajarkan bidang studi agama Islam agar dapat mengarahkan, membimbing dan mendidik siswa berdasarkan hukum-hukum Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.
2. Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar pendidikan merupakan masalah yang sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, dikarenakan dasar merupakan penentu corak serta isi dari
8M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiliner), Ed. Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 193
9Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h.291
10Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Aksara, 2010), h. 45
pada tujuan pendidikan itu sendiri.11 Sedangkan fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Dasar pendidikan agama Islam sangat identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad Saw. Kemudian dasar terserbut dikembangkan oleh para ulama dalam bentuk sebagai berikut:
a. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman hidup manusia, bagi yang membacanya merupakan suatu bentuk ibadah dan mendapat pahala.
Berdasarkan pengertian di atas dapat penulis pahami bahwa, Al-Qur’an adalah kitab suci umat manusia sebagai pedoman hidup bagi manusia sebagai petunjuk dalam kehidupan manusia yang disampaikan oleh Malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.
b. As-Sunnah
Dasar yang kedua selain Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah. Firman Allah QS Al-Ahzab/33:21.
) 21( ْا ـاِرَيَْْهٰللّاَْ َيَذَوَْ ِخه لۡاَْم وَـا لاَوَْهٰللّاْاوُج َـيَْناَيْ نَمِٰلٌْةَنَسَحٌْةَو سُاِْهٰللّاِْل وُسَرْ ِفِْ مُكَلَْناَيْ دَقَل
Terjemahnya:
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.12
11M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiliner), Ed. Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 193
12Departemen Agama, Al – Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Cordoba, 2020) h.
420
Berdasarkan ayat di atas, maka Nabi Muhammad saw. adalah sebagai suri teladan bagi umatnya, sebagai cerminan akhlak mulia untuk kemuliaan di dunia dan akhirat. dengan bertaqwa kepada Allah swt. dan meneladani Rasulullah, niscaya kita semua akan memperoleh kemenangan dan keuntungan.
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah formal meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan dari pendidikan agama Islam yaitu menanamkan ketaqwaan dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka untuk membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran agama Islam.
Menurut Bukhari Umar Tujuan pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu, baik berkaitan dengan cita - cita pembangunan suatu bangsa, tugas dan suatu badan, atau lembaga pendidikan bakat dan kemampuan peserta didik seperti memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik untuk bekal hidupnya setelah ia tamat, dan sekaligus merupakan dasar persiapan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.13
Sedangkan menurut Ramayulis Tujuan pendidikan agama Islam yang diajarkan di sekolah yaiitu untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.
serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan jenjang yang lebih tinggi.14
Menurut Sohari Sahri Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan telah selesai.
13Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2011), h. 57
14Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012 ), h. 22
Pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap - tahap dan tingkatan - tingkatan, tujuannya melalui proses bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang bentuknya tetap dan statis, akan tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.15 Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa, agar tujuan pendidikan agama Islam, baik tujuan umum maupun tujuan khusus maka yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah masalah keimanan, agar anak sejak kecil memiliki landasan yang kuat, dengan demikian akan tumbuh ketaatan untuk menjalankan kewajiban di dalam agama.
4. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Pada dasarnya guru pendidikan agama Islam dan guru umum memiliki peran yang sama, yaitu sama-sama berusaha untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang ia miliki kepada anak didiknya, agar mereka lebih banyak memahami dan mengetahui ilmu pengetahuan yang lebih luas. Akan tetapi peran guru pendidikan agama Islam selain berusaha memindahkan ilmu (transfer of knowledge), ia juga harus menanamkan nilai-nilai agama Islam kepada anak didiknya agar mereka bisa mengaitkan antara ajaran-ajaran agama dan ilmu pengetahuan.
Perlu diketahui bahwa, guru memiliki banyak peran, secara umum tugas guru sangatlah berat, karena guru dalam profesinya dituntut harus mampu memahami akan karakteristik yang dimiliki oleh peserta didiknya. Tugas guru sebagai profesi meliputi, mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik memiliki arti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada peserta didik.
Adapun mengajar memiliki arti meneruskan serta mengembangkan ilmu
15Aat Syafaat, Sohari Sahri dan Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), h. 33
pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada peserta didik.
Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal dalam Basic Principles of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspedition, perencanaan, supervisor, motivator, penanya, evaluator, dan konselor.
Berikutnya tugas atau peran guru dalam pendidikan Islam yang paling utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati dan jiwa manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.16
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa, peran guru pendidikan agama Islam adalah mengajarkan, membimbing, dan mengarahkan siswa ke arah yang lebih baik, serta mengajarkan siswanya agar tidak menyimpang dari syari’at - syari’at agama Islam. Peran guru sangatlah penting dalam dunia pendidikan, karena guru adalah sosok yang memiliki segudang keahlian dalam mendidik seorang anak didik, dan juga memiliki cara bagaimana agar anak didik giat dalam belajar pun guru mampu memberikan motivasi kepada anak didik, maka perang guru sangat penting demi keberhasilan pendidikan terutama dalam pembinaan Akhlak.
5. Macam-macam Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Guru Pendidikan Agama Islam sebagai seorang pendidik memiliki banyak peran dalam usaha membina akhlak siswa, peran guru PAI tidak bisa dinafikan,
16Dzakiyah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 266
sebab guru Agama merupakan figur sentral yang paling bertanggung jawab dalam proses pembinaan akhlak siswa. Oleh karena itu setiap orang yang mempunyai tugas sebagai guru harus mempunyai akhlak khususnya guru agama, dan seorang guru agama memiliki tugas yang lebih berat jika dibandingkan dengan guru pada umumnya. Sebab di samping ia harus membuat pandai siswa secara akal (mengasah kecerdasan IQ) guru juga harus menanamkan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang mulia.
Berikut adalah peran guru yang dapat dikelompokkan menjadi 8 bagian yaitu:
a. Guru sebagai pengajar yaitu guru bertugas memberikan pengajaran di sekolah, menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan.
b. Guru sebagai pembimbing yaitu guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, dan menyesuaikan sendiri dengan lingkungannya.
c. Guru sebagai pemimpin yaitu guru berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar murid, mengatur kedisiplinan di dalam kelas secara demokratis.
d. Guru sebagai ilmuan yaitu guru dipandang sebagai seorang paling berpengetahuan, dan bukan saja berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu terus menerus menumpuk pengetahuan yang telah dimilikinya, akan tetapi guru harus mengikuti dan menyesuaikan diri dengan teknologi yang berkembang secara pesat.
e. Guru sebagai pribadi yaitu harus memiliki sifat yang disenangi oleh peserta didiknya.
f. Guru sebagai penghubung yaitu guru sebagai pelaksana.
g. Guru sebagai pembaharu yaitu guru berperan sebagai pembaharu di masyarakat.
h. Guru sebagai pembangun yaitu guru baik sebagai pribadi maupun sebagai guru profesional dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membantu berhasilnya pembangunan masyarakat.17
Selain itu ada yang pendapat lain menyatakan bahwa ,ada beberapa peran guru, yakni sebagai berikut:
17Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 124
a. Korektor, guru sebagai korektor yaitu guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, kedua nilai yang berbeda itu harus betul-betul dipahami oleh guru dalam kehidupan di masyarakat dan juga di sekolah;
b. Inspirator, guru sebagai inspirator yaitu guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik, persoalan belajar adalah masalah utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik;
c. Informatory, guru sebagai informatory yaitu guru harus bisa memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum, informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru;
d. Organisator, guru sebagai organisator yaitu peran yang diperlukan guru memiliki pengelolaan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik dll;
e. Motivator, guru sebagai motivator yaitu hendaknya guru dapat menjadi pendorong bagi siswanya agar bergairah dan aktif dalam belajar;
f. Inisiator, guru sebagai inisiator yaitu guru harus menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan belajar mengajar demi perkembangan kemajuan pendidikan;
g. Fasilitator, guru sebagai fasilitator yaitu menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas;
h. Pembimbing, guru sebagai pembimbing yaitu membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap;
i. Pengelolaan Kelas, guru sebagai pengelola kelas, sebaiknya guru harus mampu mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun anak didik dalam kegiatan belajar;
j. Evaluator, guru sebagai evaluator dituntut untuk menjadi penilai yang baik dan jujur dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan instrinsik;18
Adapun menurut E. Mulyasa menyebutkan bahwa peran penting dari seorang guru pendidikan agama Islam yaitu :
a. Guru sebagai pendidik, guru yang kapasitasnya sebagai seorang pendidik, yang menjadi publik figur, teladan dan panutan bagi peserta didik, dan juga bagi lingkungan dimana guru itu berada, dengan demikian guru harus memiliki kompotensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
b. Guru sebagai model dan teladan, keberadaan guru dalam kegiatan belajar mengajarmerupakan salah satu figur yang akan menjadi teladan untuk semua peserta didik dan juga akan menjadi teladan bagi elemen masyarakat yang berinteraksi dengannya.
c. Guru sebagai Penasihat, guru adalah seorang penasihat bagi peserta didik, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasihat dan
18Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2009), h. 31
dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasihati orang. Menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi menjadi penasihat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran pun meletakkannya pada posisi tersebut.19
Adapun menurut Djamarah bahwa:
“Guru sebagai motivator adalah mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar, sebagai motivator guru dituntut dapat kreatif dalam membangkitkan motivasi belajar siswa dalam situasi atau kondisi yang kurang baik agar hasil belajar siswa tetap optimal.”20
Adapun cara menumbuhkan motivasi belajar menurut Sudirman A.M salah satunya yaitu pemberian pujian dan hukuman.
1. Pemberian pujian kepada murid atas hal – hal yang telah dilakukan dengan berhasil, besar manfaatnya sebagai pendorong belajar. Dengan pemberian pujian akan menimbulkan rasa senang dan puas.
2. Hukuman salah satu cara meningkatkan motivasi belajar siswa. Hukuman sebagai reinforcement yang negatif apabila secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh sebab itu, guru harus betul – betul memahami prinsip – prinsip hukuman.21
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa, guru memiliki peranan penting dalam pendidikan, yang mana sebagai seorang guru harus memiliki motivasi yang tinggi dalam menjalankan perannya sebagai seorang pendidik bagi siswa. Sebagai upaya mensukseskan pendidikan di masa yang akan datang.
B. Pembinaan Akhlak
1. Pengertian Pembinaan Akhlak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pembinaan memiliki arti usaha, tindakan dan kegiatan yang diadakan secara berdaya guna dan berhasil
19E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 37
20Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2009), h. 45
21 Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), h.92
guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.22 Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa pembinaan yaitu suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan apa yang sudah ada kepada yang lebih baik melalui pemeliharaan dan bimbingan terhadap apa yang telah ada, serta juga dengan mendapatkan hal yang belum dimilikinya yaitu pengetahuan dan kecakapan yang baru.
Pembinaan merupakan upaya pendidikan formal maupun non formal yang dilakukan secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggung jawab dalam rangka untuk memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar - dasar kepribadiannya seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat, kecenderungan/keinginan serta kemampuan-kemampuannya sebagai bekal, untuk selanjutnya atas perkasa sendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesamanya maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan yang optimal dan pribadi yang mandiri.23
Dalam suatu pembinaan menunjukkan adanya suatu kemajuan peningkatan, atas berbagai kemungkinan peningkatan, unsur dari pengertian pembinaan ini merupakan suatu tindakan, proses atau pernyataan dari suatu tujuan dan pembinaan menunjukkan kepada “perbaikan” atas sesuatu istilah pembinaan hanya diperankan kepada unsur manusia, oleh sebab itu pembinaan haruslah mampu menekan dalam hal-hal persoalan dari manusia.
Menurut Mangunhardjana, proses pembinaan setidaknya ada tiga
22Santoso, Kamus Bahasa Indonesia, (Surabaya: Pustaka Agung Harapan 2010), hal. 387.
23Simanjuntak, Pasaribu, Membina dan Mengembangkan Generasi Muda (Bandung:
Tarsito, 1990), h. 84.
pendekatan yang harus diperhatikan oleh seorang pembina, antara lain sebagai berikut:
a. Pendekatan informative (informative approach), yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara melaksanakan program pembinaan dengan menyampaikan sebuah informasi kepada peserta didik. Dalam hal ini Peserta didik dianggap belum paham dan tidak punya pengalaman.
b. Pendekatan partisipatif (participative approach), yaitu pendekatan dimana peserta didik dimanfaatkan sehingga lebih ke situasi belajar bersama.
c. Pendekatan eksperiansial (experienciel approach), dalam pendekatan ini menempatkan peserta didik dimana mereka langsung terlibat di dalam suatu pembinaan, ini disebut sebagai belajar yang sejati, karena pengalaman pribadi dan langsung terlibat dalam situasi tersebut.24
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpiulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses belajar dalam upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap peserta didik yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik tersebut.
Yang perlu diketahui bahwa pembinaan tidak hanya dilakukan dalam keluarga dan dalam lingkungan sekolah saja, akan tetapi diluar dari keduanya juga dapat dilakukan sebuah pembinaan. Dimana Pembinaan dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler yang ada di sekolahan dan lingkungan sekitar agar para peserta didik dapat memperoleh pengalaman dalam proses pembinaan. Pembinaan terhadap siswa mempunyai arti khusus, yaitu usaha atau kegiatan dalam memberikan bimbingan, arahan, pemantapan, peningkatan arahan terhadap pola pikir, sikap mental, serta perilaku, minat dan bakat dalam mendukung program ekstra-kurikuler untuk keberhasilan program kurikuler.
Sedangkan tujuan dari proses pembinaan peserta didik diantaranya:
24Mangunhardjana, Pembinaan, Arti dan Metodenya (Yogyakarta:Kanimus, 1986), h. 17.
1. Mengusahakan agar peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
2. Meningkatkan peran serta dan inisiatif para peserta didik untuk menjaga dan membina sekolah sebagai wiyatamandala, sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh yang bertentangan dengan kebudayaan nasional.
3. Menumbuhkan daya tangkal pada diri siswa terhadap pengaruh negatif yang datang dari luar maupun dari dalam lingkungan sekolah.
4. Memantapkan kegiatan ekstrakurikuler dalam menunjang pencapaian kurikulum.
5. Meningkatkan apresiasi dan penghayatan diri.
6. Menumbuhkan sikap berbangsa dan bernegara.
7. Meneruskan dan mengembangkan jiwa semangat serta nilai-nilai 45.
8. Meningkatkan kesegaran jasmani dan rohani.25
Dari beberapa poin di atas dapat ditarik pengertian tentang pembinaan yakni usaha yang dilakukan oleh seorang pembina yang bertujuan untuk mengubah sebuah pola kebiasaan dengan melalui berbagai tahapan-tahapan yang terstruktur untuk mencapai target yang diinginkan.
Kata Akhlak berasal dari bahasa arab قلاخأ yang merupakan bentuk jamak dari kata “Khuluq” قلخ , yang berasal dari kata kerja اقلخ– قلخي– قلخ yang berarti membuat atau menjadikan, adapun kata akhlak itu sendiri berarti perangai.26 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau tingkah laku.27
Ajaran agama Islam mempunyai tiga fondasi pokok yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Akidah berkenaan dengan keimanan. Syari’ah berkenaan dengan aturan-aturan yang harus dilaksanakan manusia dalam rangka mengabdikan diri pada Allah swt. Sedangkan akhlak merupakan perilaku yang
25Wahjosumijdjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjuauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003) h. 241- 242.
26Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, (Ciputat: Mahmud Yunus Wa Dzurriyah, 2010), h. 120.
27Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 178.
ditampilkan seseorang dalam kesehariannya dalm hal ini berkaitan dengan hubungan dengan Allah, maupun sesama manusia.
Secara terminologis ada beberapa definisi tentang akhlak menurut para ahli, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Menurut Ahmad Amin akhlak merupakan kebiasaan kehendak, ini berarti bahwa kehendak itu apabila telah melalui proses membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu disebut akhlak.28
b. Menurut Abuddin Nata akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mendalam dan tanpa pemikiran, namun perbuatan tersebut telah mendarah daging dan melekat dalam jiwa, sehingga saat melakukan perbuatan tidak lagi memerlukan pertimbangan dan pemikiran29
c. Menurut al Ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang dan tanpa memerlukan pemikiraan dan pertimbangan. Jika sifat itu tertanam dalam diri manusia maka tentu akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syari’at.30 d. Sedangkan menurut Dzakiah Darajat mengartikan akhlak sebagai sedikit
lebih luas yaitu kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara nurani, piliran, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.31 Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan dalam melakukannya karena telah mendarah daging dalam diri manusia.
Akhlak atau budi pekerti yang mulia adalah jalan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan di akhirat kelak serta mengangkat derajat manusia ke tempat yang mulia sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang berbahaya
28Ahmad Amin, Ilmu Akhlak, terj. Farid Ma'ruf, Ethika (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h.
62.
29Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo, 1997), h. 5.
30Muhammad bin Muhammad al Ghazali, Ikhya’ ‘Ulum al Din, jilid 3 (Beirut-Libanon:
Dar al Fikr, 1994), h. 58.
31Dzakiah Darajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah (Jakarta : Ruhama, 1993), h. 10.
serta merupakan sumber keburukan yang akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah swt. Sekaligus merupakan penyakit hati dan jiwa yang akan merusak arti hidup yang sebenarnya.
1. Akhlak Kepada Allah swt.
Seluruh alam dan seisinya ini memiliki pencipta dan pemelihara yang diyakini adanya yakni Allah swt. Dialah yang memberikan rahmat dan menurunkan adzab kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, oleh sebab itu manusia wajib ta’at dan beribadah hanya kepada-Nya sebagai bentuk rasa terima
kasih terhadap segala apa yang telah dianugerahkan Allah swt. kepada manusia.
Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS An-Nahl/53.
) 53(ْ نوُرَأ َتَِْه اَلِإَفُّْ ُّضلاُْمُكَّسَمْاَذِإَُّْثَُِّْْۖللّاَْنِمَفٍْةَم عِنْ نِمْ مُكِبْاَمَو
Terjemahnya:
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNyalah kamu meminta pertolongan.32
Manifestasi dari manusia terhadap Allah swt. antara lain : cinta dan ikhlas kepada Allah swt. takwa (takut berdasarkan kesadaran mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Allah swt.), bersyukur atas nikmat yang diberikan, tawakkal (menyerahkan persoalan kepada Allah swt.), sabar dan ikhlas.
2. Akhlak Kepada Diri Sendiri.
Akhlak terhadap diri sendiri yang dimaksud adalah bagaimana seseorang menjaga dirinya (jiwa dan raga) dari perbuatan yang dapat menjerumuskan
32Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 272.