BAB V ANALISA DATA
2.3 Pengukuran Kebulatan
89
Gambar 2.5 Lingkaran Daerah Minimum (Arief, D.S. 2021)
90
Gambar 2.6 Pengukuran Kebulatan 2 Sensor (Rochim, 2006)
Pengukuran alat ukur dengan tiga sensor tersebut dapat disetarakan dengan cara pengukuran menggunakan blok-V (V-block dengan sudut 60°) dan jam ukur.
Yang mana dengan menggunakan cara ini, kita dapat mengukur jarak antara permukaan alat ukur dengan tingkat akurasi yang tinggi dan hasil yang lebih konsisten. Hal ini memungkinkan untuk dapat mengevaluasi dan membandingkan alat ukur dengan lebih baik dan memberikan hasil yang lebih akurat
Gambar 2.7 Pengukuran Kebulatan Suatu Benda Menggunakan V-Block (Rochim, 2006)
Pengukuran kebulatan poros dilakukan dengan cara meletakkan pada balok v dan kemudian memutarnya dengan menempelkan sensor jam ukur di atasnya.
Cara yang dipakai itu merupakan cara klasik untuk mengetahui kebulatan. Agar titik pusat benda ukur tidak berpindah, maka benda ukur dapat diputar di antara dua senter, sementara itu sensor jam ukur akan merasakan perubahan permukaan benda
91
ukur. Cara ini dimana pengukuran dilakukan bila benda ukur mempunyai lubang center, sementara itu dengan cara ini ketelitian putaran sangat dipengaruhi oleh posisi center, bentuk center dan ketidakbulatan pada center. Meskipun cara-cara pengukuran kebulatan seperti tersebut di atas memiliki berbagai kelemahan, akan tetapi cara-cara tersebut masih sering dilakukan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar.
Gambar 2.8 Pengukuran Kebulatan Diantara 2 Center (Rochim, 2006)
Keterangan:
1. Ketidakbulatan center.
2. Kesalahan sudut posisi center.
3. Kesalahan posisi center.
4. Kondisi permukaan center.
5. Lenturan benda ukur.
Kebulatan hanya bisa diukur dengan cara tertentu yang menurut persyaratan sebagai berikut:
1. Harus ada sumbu putar dan dianggap sebagai sumbu referensi.
2. Lokasi sumbu putar harus tetap dan tidak dipengaruhi oleh profil kebulatan benda ukur.
3. Pengukuran harus bebas dari sumber-sumber yang dapat menyebabkan ketidaktelitian.
4. Hasil pengukuran diperlihatkan dalam bentuk grafik polar guna menentukan harga parameter kebulatan.
92 2.4 Dial indicator
Dial indicator merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukur kebulatan suatu benda berdasarkan jenis alat ukur. Dial indicator termasuk jenis alat ukur pembanding atau komparator, karena alat ini biasa digunakan untuk pembanding atau komparasi, angka yang ditunjukkan alat ukur ini adalah selisih ukuran benda ukur dengan ukuran benda standar. Hasil pengukuran merupakan jumlah angka yang ditunjukkan pada alat tersebut dengan ukuran benda standar.
Sedangkan menurut proses dari pengukuran geometri dial indicator termasuk proses pengukuran tak langsung titik pengukuran tak langsung yaitu pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur jenis pembanding dan standar serta alat ukur pembanding.
Gambar 2.9 Dial Indicator (Imam, 2013)
Kecermatan pembacaan skala adalah 0,01mm, 0,05mm, dengan kapasitas ukur yang beragam. Untuk kapasitas ukur yang besar biasanya dilengkapi dengan jam kecil pada piringan jam besar,dimana satu putaran penuh jarum yang besar adalah sesuai dengan satu angka jam yang kecil . pada pinggir piringan umumnya dilengkapi dengan dua tanda pembatas yang dapat diatur kedudukannya yang menyatakan batas atas dan batas bawah dari daerah toleransi suatu produk yang hendak diperiksa. Selain itu, piringan skala dapat diputar untuk mengatur posisi nol pengukuran dimulai.
Dial indikator juga merupakan suatu alat ukur yang tidak dapat berdiri sendiri alat ini memiliki alat bantunya sendiri yang dapat disebut sebagai magnetic
93
base ataupun dial base. Fungsi dari magnetic base ini yaitu sebagai alat pemegang dial indicator dan berfungsi untuk mengatur tinggi rendahnya suatu kemiringan pada benda ukur.
Adapun fungsi dial indicator adalah sebagai berikut:
1. Memeriksa karatan dari permukaan benda.
2. Memeriksa penyimpangan yang kecil pada bidang datar, benda bulat dan permukaan benda langsung.
3. Memeriksa penyimpangan eksentris.
4. Memeriksa penyimpangan pembantaian pada poros engkol.
5. Memeriksa kesejajaran permukaan benda.
6. Menyetel ke sentrisen benda pada pencegah mesin bubut.
2. 5 Prinsip Kerja Dial Indicator
Prinsip kerja dari dial indicator adalah mengubah gerak lurus dari spindle menjadi gerak berputar, di mana dapat kita perhatikan melalui gerakan jarum jam yang terlihat pada bagian muka dial indicator. Dial indicator memiliki bentuk yang mirip dengan jam analog yang dilengkapi 2 - 3 jarum tunjuk (1 jarum besar dan 2 jarum kecil) di mana jarum penunjuk kecil akan mencatat gerakan dari jarum penunjuk besar yang dalam satu putaran jarum jam besar akan ke jarum penunjuk kecil lainnya ke angka 1 di mana pengukuran kebulatan dilakukan dengan memutar benda ukur sejauh 360° dan sensor menyentuh permukaan benda ukur yang diukur ke bulatannya. Pengukuran ini dilakukan untuk menemukan penyimpangan kebulatan benda ukur terhadap lingkaran sempurna. Hal tersebut merupakan hal yang sangat esensial dalam kontrol produksi mekanik.
Saat akan digunakan dial indicator tidak dapat digunakan sendiri, akan tetapi memerlukan kelengkapan yang harus diatur sedemikian rupa pada saat pengukuran. Posisi dial indicator harus tegak lurus terhadap benda yang akan diukur. Pada Dial gouge terdapat dua skala yang pertama skala besar (terdiri dari 100 strip) dan yang kedua adalah skala yang lebih kecil. Pada skala yang besar tiap stripnya bernilai 0,01 mm jadi ketika jarum panjang berputar satu kali putaran penuh maka hasil pengukuran tersebut menunjukkan 1 mm. sedangkan skala yang kecil merupakan perhitungan putaran dari jarum panjang pada skala yang besar.
94 2.6 Komponen Dial Indicator
Dalam pengaturan kebulatan ini alat utama yang di gunakan adalah dial indicator, namun dalam pelaksanaan pengukuran dial indicator tidak dapat berperan sendiri.
Gambar 2.10 Bagian – Bagian Dial Indicator (Imam, 2013)
Berikut merupakan komponen-komponen dial indicator yaitu:
1. plunjer adalah komponen yang bersentuhan langsung dengan benda ukur.
2. Spindle, komponen yang berbentuk jarum jam yang terletak pada bagian bawah dial indicator dan berfungsi untuk input ke dial indicator. Ketelitian putaran harus dijaga setinggi-tingginya untuk keberhasilan alat ukur.
3. jarum pendek, jarum penunjuk terletak di bagian dalam yang akan menunjukkan angka 1 saat jarum panjang berputar satu putaran.
4. jarum panjang, jarum penunjuk ini akan bergerak menuju arah angka di sekitar numerik indikator sesuai dengan pergerakan dari spindle.
5. Outer ring, merupakan penyetelan posisi jarum panjang pada angka nol.
6. Sensor, merupakan jarum dari tungsten karbida.
7. Dudukan magnet, merupakan tatakan magnet yang menjaga dial indicator tetap berdiri walaupun dalam keadaan miring.
8. Sekrup penyetel plunjer yang berguna untuk menekan plunjer terhadap benda ukur.
95
9. Switch magnet, berguna untuk mematikan magnet atau kerja sistem magnet dan menghidupkan kerja sistem magnet.
10. Gouge beam lock, untuk menggabungkan penyangga atau pengunci penyangga.
96 BAB III METODOLOGI