BAB II KAJIAN TEORI
B. Kajian Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian penulis diantaranya yaitu:
1. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Lailatul Munafidah yang berjudul “Peranan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Dalam Membentuk Karakter Sosial siswa Kelas VIII di MTSN 1 Pasuruan”.
Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah, peranan organisasi OSIS dalam membentuk karakter peduli siswa kelas VIII di MTsN 1 Pasuruaan yaitu: OSIS merupakan wadah bagi siswa untuk belajar dan mencari pengalaman berorganisasi, bekerja sama dan menyalurkan bakat dan minat siswa agar lebih kreatif. Bentuk kegiatan OSIS dalam mebentuk karakter peduli sosial siswa yaitu saling kerja sama, gotong royong, saling membantu terhadap sesama dalam bentuk bakti sosial, gugur gunung.
Kendala OSIS dalam membentuk karakter peduli sosial siswa adanya
45 Wildan Zulkaranain, Manajemen Layanan Khusus Di Sekolah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2018), 107.
beberapa anggota pengurus OSIS yang melakukan pelanggaran karena tidak melakukan piket harian yang terjadi mengingat karakter tiap siswa berbeda karena pembentukan karakter berasal dari dalam diri sendiri.46
Berdasarkan deskripsi tersebut, terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Penelitian tersebut memfokuskan pada peranan OSIS dalam membentuk karakter siswa. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti memfokuskan pada pelaksanaan manajemen kesiswaan dalam peningkatan mutu OSIS. Persamaan penelitain tersebut dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama membahas mengenai OSIS.
2. Kedua, Rina Andriany yang berjudul “Implementasi Manajemen Kesiswaan Dalam Pemberdayaan Organisasi Siswa Intra Sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Rimba Melintang”. Hasil penelitian tersebut adalah, implementasi manajemen kesisaan dalam pemberdayaan Organisasi siswa Intra Sekolah di SMAN 2 Rimba Melintan didasarkan pada aspek analisis kebutuhan, rekrutmen, seleksi, oreintasi, penempatan, pembinaan dan pengembangan siswa serta pencatatan dan pelaporan.
Faktor penghambat pemberdayaan OSIS antara lain, biaya, waktu, kemampuan, atau kompetensi penyelenggara, dan lain-lain. Sedangkan pendukungnya adalah dukungan, partisispasi siswa, dukungan guru-guru dan semangat kerja atau motivasi dari para pengurus OSIS.47
46 Lailatul Munafidah, Peranan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Dalam Membentuk
Karakter Sosial siswa Kelas VIII di MTSN 1 Pasuruan. (Skripsi UIN Malang, 2020)
47 Rina Andriany, Implementasi Manajemen Kesiswaan Dalam Pemberdayaan Oganisasi Siswa Intra Sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Rimba Melintang, (Skripsi UIN Syarif Kasim Riau, 2020)
Berdasarkan deskripsi tersebut, terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian tersebut adalah tujuan dari penelitian tersebut untuk mengetahui implementasi manajemen kesiswaan dalam memberdayakan OSIS, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti untuk peningkatan mutu OSIS. Adapun persamaanya adalah sama-sama meneliti tentang pelaksanaan manajemen kesiswaan dan OSIS.
3. Ketiga, Ayu Ulis Noviyanti, yang berjudul “Manajemen Kesiswaan Dalam Peningkatan Etos Kerja Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di MA Negeri 1 Jetis”. Hasil penelitian tersebut adalah, perencanaan kesiswaan dalam peningkatan etos kerja OSIS di SMA Negeri 1 Jetis dilakukan dengan mengadakan rapat koordinasi terlebih dahulu dengan Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan, Pembina OSIS, dan Pengurus OSIS untuk melakukan komunikas rencana kerja dan menyusun program kerja yang akan direncanakan. Membentuk panitia atau tim untuk melaksanakan program kerjanya. Membuat pelaporan hasil akhir dari program kerja yang telah dilaksankan. Kegiatan pengembangan dan pelatihan kesiswaan dan peningkatan etos kerja di SMA Negeri 1 Jetis diantaranya dengan mengadakan LDKS dan LDKL, mengikutsertakan pengurus OSIS dalam OSIS Kabupaten (HIMO).Dampak manajemen kesiswaan dalam peningkatan etos kerja di OSIS SMA Negeri 1 Jetis yakni terjalinnya kerja sama yang solid antara kepala sekolah, Waka Kesiswaan, Pembina dan
Pengurus OSIS. Pengurus OSIS lebih semangat dalam melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan.48
Berdasarkan deskripsi tersebut, terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Perbedaanya, penelitian tersebut memfokuskan pada peningkatan etos kerja OSIS, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti memfokuskan pada peningkatan mutu OSIS. Dan penelitian tersebut menggunakan jenis field research sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti studi kasus. Adapun persamaanya sama-sama meneliti tentang manajemen kesiswaan dan OSIS.
4. Kempat, artikel jurnal Metha Fatmalia Arnal, Happy Fitria dan Alfroki Martha yang berjudul “Manajemen Kesiswaan dalam Meningkatkan Mutu Organisasi”. Dari hasil penelitian yang dilakukan mereka mendapatkan hasil a) Manajemen kesiswaan di SMP Muhammadiyah Kota Prabumulih tidak hanya dilaksanakan oleh Waka Kesiswaan saja tetapi dengan beberapa pihak lain seperti wakil kepala sekolah bagian kurikulum. b) Manajemen Kesiswaan di SMP Muhammadiyah Kota Prabumulih mempunyai 2 cara untuk meningkatkan organisasi siswa yaitu: sebelum menjadi pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), siswa yang terpilih mengikuti pembekalan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Dan setelah menjadi pengurus IPM mengadakan kumpul rutin yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali, setiap satu bulan sekali pada
48 Ayu Ulis Noviyanti, Manajemen Kesisaan Dalam Peningkatan Etos Kerja Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS) di MA Negeri 1 Jetis, (Skripsi IAIN Ponorogo, 2022)
akhir tahun dan siswa diberi kepercayaan untuk mengelola kegiatan organisasinya. Faktor pendukung dalam dalam upaya meningkatkan organisasi siswa di SMP Muhammadiyah Prabumulih adalah tingginya koordinasi Waka Kesiswaan dengan Pembina IPM berdampak pada program-program manajemen kesiswaan berjalan dengan lancar. Adapun faktor penghambat dalam pelaksanaan organisasi adalam kurangnya komunikasi antara Waka kesiswaan dengan Pembina IPM karena padatnya kegiatan mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap sistem monitoring dan evaluasi program yang telah dilaksanakan.49
Berdasarkan deskripsi tersebut, terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Persamaan artikel tersebut dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama tentang manajemen kesiswaan dalam meningkatkan mutu organisasi. Adapun perbedaanya penelitian tersebut meneliti organisasi IPM sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti adalah OSIS.