• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penuntutan

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA - UIR (Halaman 79-83)

PRA PENUNTUTAN DAN PENUNTUTAN

B. Penuntutan

Pengertian penuntutan sebagaimana menurut Pasal 1 angka 7 KUHAP, bahwa ”Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang Pengadilan”.

Wirjono Prdjodikoro memberikan definisi penuntutan, cuma perbedaanya bahwa KUHAP tidak menyebutkan secara tegas ”terdakwa”, sedangkan Wirjono Prodjodikoro disebutkan secara tegas, lebih lebih lengkapnya1, yaitu ”Menuntut seorang terdakwa di muka hakim pidana adalah menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas perkaranya kepada hakim dengan permohonan supaya hakim memeriksa dan kemudian memutuskan perkara pidana itu terhadap terdakwa”

Yang berwenang melakukan penuntutan sebagaimana menurut Pasal 137 KUHAP, bahwa ”Penuntut umum berwenang melakukan penuntutan terhadap siapapun yang didakwa melakukan suatu tindak pidana dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke pengadilan yang berwenang mengadili”.

Setelah penyidik melengkapi berkas perkara sebagaimana dimaksud pada Pasal 138 ayat (2) KUHAP, selanjutnya menurut Pasal 139 KUHAP, yaitu ”Setelah penuntut umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik, ia segera, menentukan apakah berkas perkara itu sudah memenuhi persyaratan untuk dapat atau tidak dilimpahkan ke pengadilan”. Jadi apabila penuntut umum berpendapat

”ya”, maka menurut Pasal 140 ayat (1) KUHAP, yaitu ”Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan, ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan”.

Namun sebaliknya, apabila penuntut umum berpendapat lain, maka menurut Pasal 140 ayat (2) KUHAP, yaitu:

66 Hukum Acara Pidana

1 Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum, penuntut umum menuangkan hal tersebut dalam surat ketetapan.

2 Isi surat ketetapan tersebut diberitahukan kepada tersangka dan bila ia ditahan, wajib segera dibebaskan.

3 Turunan surat ketetapan itu wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum, pejabat rumah tahanan negara, penyidik dan hakim.

4 Apabila kemudian ternyata ada alasan baru, penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka.

Jadi mengenai wewenang penuntut umum untuk menutup perkara demi hukum, seperti tersebut dalam Pasal 140 ayat (2) huruf a KUHAP, pedoman pelaksanaan KUHAP memberi penjelasan bahwa ”perkara ditutup demi hukum” diartikan sesuai dengan Buku I KUH Pidana Bab VIII tentang hapusnya hak menuntut tersebut dalam Pasal 76, 77 dan 78 KUH Pidana.

Namun demikian, menurut Pasal 140 ayat (2) huruf d KUHAP, bahwa “Apabila kemudian ternyata ada alasan baru, penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka”. Dalam ketentuan ini bahwa ketetapan penuntut umum untuk menyampingkan suatu perkara (yang tidak didasarkan kepada oportunitas) tidak berlaku asas non bis in idem.

Jadi apabila penuntut umum akan melakukan penuntutan kembali terhadap tersangka, maka dilakukan penyidikan kembali, dan menurut Pedoman pelaksanaan KUHAP 3, bahwa yang melakukan penyidikan dalam hal ditemukannya alasan baru tersebut adalah ”penyidik”.

Apabila hasil penyidikan penyidik telah diterima oleh penuntut umum, maka menurut Pasal 143 ayat (1) KUHAP,bahwa Penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan”.

Selanjutnya menurut Pasal 143 ayat (4) KUHAP, bahwa Turunan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan disampaikan kepada tersangka atau kuasanya atau penasihat hukumnya dan penyidik, pada saat yang bersamaan dengan penyampaian surat pelimpahan perkara tersebut ke pengadilan negeri”.

Bab 5 | Pra Penuntutan dan Penuntutan 67 Penuntutan dimaksud di atas adalah pelimpahan berkas perkara sudah dianggap lengkap dari penyidik (P21), maka penuntut umum telah menerima berkas perkara dan tersangka serta barang bukti lainnya sebagai bagian dari tanggung jawab atau kewenangan penyidik ke penuntut umum, namun sebaliknya apabila berkas perkara menurut penuntut umum masih dianggap belum lengkap dari penyidik, maka berkas perkara dikembalikan oleh penuntut umum ke penyidik untuk segera dilengkapi berdasar catatan-catatan dari penuntut umum dan disebut sebagai prapenuntutan atau pemeriksaan tambahan (P19).

Prapenuntutan adalah tindakan jaksa untuk memantau perkembangan penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dan penyidik, mempelajari atau meneliti kelengkapan berkas perkara hasil penyidikan yang diterima dari penyidik serta memberikan petunjuk guna dilengkapi oleh penyidik untuk dapat menentukan apakah berkas perkara tersebut dapat dilimpahkan ke pengadilan atau ke tahap penuntutan.

Dimaksud prapenuntutan sebagaimana Undang -undang RI No. N016 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, Pasal 30 ayat (1) yang berbunyi, bahwa ”Di bidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: huruf a ”melakukan penuntutan; dan huruf e yang berbunyi

”melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik”.Di dalam Penjelasannya huruf a yang berbunyi “Dalam melakukan penuntutan, jaksa dapat melakukan prapenuntutan”.

Dalam penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf a, yang berbunyi “Dalam melakukan penuntutan, jaksa dapat melakukan prapenuntutan.

Prapenuntutan adalah tindakan Jaksa untuk memantau perkembangan penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dan penyidik, mempelajari atau meneliti kelengkapan berkas perkara hasil penyidikan yang diterima dari penyidik serta memberikan petunjuk guna dilengkapi oleh penyidik untuk dapat menentukan apakah berkas perkara tersebut dapat dilimpahkan atau tidak ke tahap penuntutan.

Sedangkan dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf e, yang berbunyi: Untuk melengkapi berkas perkara, pemeriksaan tambahan dilakukan dengan rnemerhatikan hal-hal sebagai berikut:

68 Hukum Acara Pidana

1. tidak dilakukan terhadap tersangka;

2. hanya terhadap perkara-perkara yang sulit pembuktiannya, dan atau dapat meresahkan masyarakat, dan/atau yang dapat membahayakan keselamatan Negara;

3. harus dapat diselesaikan dalam waktu 14 (empat belas) harus setelah dilaksanakan ketentuan Pasal 110 dan 138 ayat Undang- undang Nomor 8 Tahun l981 tentang Hukum Acara Pidana;

4. prinsip koordinasi dan kerjasama dengan penyidik.

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA - UIR (Halaman 79-83)