BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
B. Penyajian Data dan Analisis
Penyajian dan analisis data merupakan bagian yang memuat tentang uraian hasil penelitian di SMP Negeri 7 Jember, dengan menggunakan tekhnik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh disesuaikan dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan yaitu a) implementasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa pada pembelajaran PAI di SMPN 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018, b) implementasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter disiplin siswa pada pembelajaran PAI di SMPN 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018, dan c) implementasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter toleransi siswa pada pembelajaran PAI di SMPN 7 Jember tahun pelajaran
52 Observasi, Jember: 19 Februari 2018
2017/2018. Maka, peneliti akan menyajikan data yang dihasilkan dari penelitian yang telah dilakukan.
Data yang telah diperoleh dideskripsikan sebagai berikut:
1. Implementasi Model Pembelajaran Habit Forming (Pembiasaan) dalam Membentuk Karakter Religius Siswa di SMP Negeri 7 Jember
a. Perencanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa di SMP Negeri 7 Jember
Penerapan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) di SMP Negeri 7 Jember sudah menjadi budaya sekolah, mengingat pentingnya hal tersebut yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, sehingga perlu adanya pembiasaan yang awalnya siswa melakukan dengan keterpaksaan agar menjadi terbiasa kemudian menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak anak-anak, dan juga akan terus berpengaruh pada anak itu sampai hari tuanya.
Sesuai dengan hasil wawancara yang diungkapkan oleh bapak Mukhtar, selaku guru PAI memaparkan bahwa:
Perencanaan dimulai dari pembiasaan dipaksa seperti dipondok pesantren itu yang awalnya terpaksa terus terbiasa jadinya luar biasa. Jadi dari proses pemaksaan itu dalam tanda kutip kita memaksa siswa untuk terbiasa supaya karakter religius siswa itu terbentuk.53
53 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
Yusron selaku guru PAI juga menambahkan bahwa:
“Seluruh aktivitas yang berkaitan dengan agama islam itu sebetulnya sudah membentuk karakter mereka. Jadi pembiasaan yang dilakukan PAI juga termasuk dalam membudayakan agar supaya mereka memiliki karakter religius terutama itu.” 54
Hal tersebut senada dengan hasil observasi yang dilakukan pada saat kegiatan sholat dzuhur berjama’ah yang awalnya diwajibkan sholat dzuhur berjama’ah bergilir tiap kelas karena keterbatasan musholla tidak bisa menampung keseluruhan siswa SMP Negeri 7 Jember. Pembiasaan tersebut lambat laun menjadi terbiasa terbukti dengan adanya beberapa siswa ikut sholat berjama’ah walaupun pada waktu itu adalah jadwal kegiatan sholat berjamaah kelas lain. Bisa di lihat pada gambar 2.1 dalam kegiatan sholat berjama’ah.
Gambar 4.1
Dok. Kegiatan sholat dzuhur berjama’ah giliran kelas VII E
Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumenter dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran habit
54 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018
forming dalam membentuk karakter religius bermula dari perencanaan guru dalam memaksakan siswa untuk mengikuti peraturan yang berlaku disekolah dengan tujuan pemaksaan yang bernilai positif untuk pembentukan karakternya dengan pembiasaan secara berulang-ulang.
b. Pelaksanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa di SMP Negeri 7 Jember
Pembentukan karakter pada siswa membutuhkan bimbingan yang mampu menyentuh setiap segi kepribadian siswa baik fisik, mental, emosional dan sosial. Dalam hal ini sekolah memberi perhatian terhadap pelaksanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa melalui proses bimbingan seperti nasihat dan motivasi yang tiada henti-hentinya dilakukan oleh guru dalam membentuk karakter siswa. Pembiasaan disekolah berkontribusi penuh dalam pembentukan karakter siswa. Hal ini senada dengan pernyataan kepsek bahwa:
Membentuk karakter religius kita fokuskan pada siswa untuk tidak melanggar norma agama. Satu contoh ini kemarin ada yang kemalingan nah itu kita urus sampai tuntas lalu nanti baru kita sampaikan bahwa itu salah, jangan sampai karakter itu tumbuh begitu banyak.
Berikutnya ini sulit ya usia anak ini usia yang menantang yang sulit diatur, berkelompok. Jadi kuncinya kita jangan berhenti ya untuk berbuat, menyuruh, mengajak agar anak- anak itu terbentuk dengan sendirinya. Jadi kita ada tanggung jawab dari semua elemen baik itu guru BK, wali
kelas, kepsek. Jadi pelan-pelan kita mengajak baik itu sholat dan dalam melakukan hal kebaikan lainnya.55
Mukhtar selaku guru PAI mengatakan :
Pemakaian atribut religius tujuannya untuk berbenah dari penampilan terlebih dahulu mulai dari cover insyaallah untuk isinya nanti akan menyusul karna kita upayakan dari dini maka otomatis mereka kan terus berkelanjutan ya nanti insyaallah sampai mereka dewasa ya tetap memakai atribut religius.
Untuk pembiasaan sholat dhuha kita tidak terapkan wajib karna permasalahan pertama yaitu waktu yang kedua kita lakukan pembiasaan itu kita mempunyai 3 jam pelajaran untuk yang kurikulum 2013 pada saat ada satu jam pelajaran yang diisi pembiasaa sholat dhuha atau praktek dari dua jam pelajaran yang kita isi dengan materi.56 Bisa di lihat pada gambar 2.2 dalam pemakaian atribut Islam saat pembelajaran PAI.
Gambar 4.2
Dok. Kegiatan pembelajaran PAI kelas VII D
Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumenter dapat disimpulkan bahwa pemakaian atribut religius menjadi salah satu strategi guru membentuk karakter religius siswa. Guru mengalami kesulitan dalam menerapkan pembiasaan tersebut, karena dalam membentuk karakter tidak mudah. Hal ini senada dengan ungkapan
55 Syaiful, Wawancara, Jember, 19 Februari 2018
56 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
bapak Mukhtar selaku guru PAI yang mendisiplinkan siswa untuk memakai atribut religius saat pembelajarannya berlangsung.
Kesulitan bagi saya mungkin bagi anak-anak merespon apa yang saya beri pada anak-anak yang tidak mengerjakan pr nya tidak menghafalkan asmaul husna ya mungkin disitu letak kesulitannya. Jadi mau gak mau prinsip saya dari dulu yaitu memaksa jadi terpaksa supaya terbiasa karna kita memaksa nya dalam hal positif. 57
Yusron selaku guru PAI juga menambahkan bahwa :
Kalau ada anak yang nakal diserahkan ke guru BK dan PAI, namun lambat laun kepala sekolah menginginkan semua guru bersinergi terhadap tanggung jawab siswa. Entah itu siswa yang nakal ataupun tidak. Supaya kesulitan dalam menghadapi siswa itu bisa dihadapi bersama-sama.58
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas dapat disimpulkan bahwa membentuk karakter siswa menjadi tanggung jawab bersama semua pihak untuk ikut terlibat membangun karakter siswa. Karakter religius siswa adalah cara berfikir dan perilaku/tindakan siswa yang menjadi ciri khas siswa untuk hidup dan bekerja sama baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dengan tujuan agar siswa memiliki karakter religius yang berakhlaqul karimah.
c. Evaluasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa di SMP Negeri 7 Jember
Pengumpulan data dari hasil pengamatan dengan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) untuk menetapkan apakah
57 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
58 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018
terjadi perubahan dalam diri peserta didik dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam karakter peserta didik.
Program pembiasaan dalam membentuk karakter religius memiliki dampak dalam proses pelaksanaannya, karena selama penerapannya guru akan mengawasi siswa. Tujuannya untuk mengetahui keberhasilan kegiatan yang diterapkan dalam pembentukan karakter siswa. Hal ini senada dengan yang dikatakan kepala sekolah bahwa:
Sejauh ini siswa menikmati dan menerima kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolah, baik itu program keagamaan ataupun program lainnya. Karna apa, setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan disekolah adalah kegiatan yang mendukung keberhasilan pendidikan karakter.59
Riki hendriano siswa kelas VIII mengatakan bahwa :
Kegiatan pembiasaan religius di sekolah bagus, saya sendiri merasakan bagaimana dampaknya mengikuti kegiatan di sekolah. Kekurangan-kekurangan yang ada pada diri saya bisa diperbaiki dan lebih mendalami agama Islam seperti mengikuti ekstrakurikuler hadrah dan tartil.60
Dampak positif juga dirasakan oleh siswa lainnya, dan diterapkan pada kegiatan sehari-hari saat berada di rumah yaitu siswa dari kelas IX yang bernama Ayu ambarwati mengatakan bahwa:
Kegiatan pembiasaan religius di sekolah memberikan dampak yang positif. Pembiasaan berdo’a sebelum dan sesudah belajar juga saya terapkan di rumah agar supaya dalam belajar diberi kemudahan dan kelancaran dalam memahami materi pelajaran.
Saya ikut program tahfidz juz 30 di sekolah, alhamdulillah dalam menghafal saya diberikan kemudahan, berkat strategi guru PAI dalam membimbing menghafal al-qur’an.61
59 Syaiful, Wawancara, Jember, 19 Februari 2018
60 Riki Hendriano, Wawancara, 17 Februari 2018
61 Ayu Ambarwati, Wawancara, 15 Februari 2018
Jadi dapat ditarik kesimpulan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas bahwa penerapan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa selanjutnya yaitu pembiasaan do’a setiap pagi dan dihari jum’at sebelum pulang pembacaan surat yasin dipandu oleh guru yang bertugas menggunakan pengeras suara dan dikhususkan pada pembelajaran PAI guru membiasakan berdo’a dan membaca Asma’ul Husna sebelum pembelajaran dimulai.
Kegiatan pembiasaan di sekolah memberikan dampak yang positif untuk siswa dan juga diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam terbentuknya karakter religius. Siswa perempuan hampir keseluruhan sudah berhijab hanya saja ada beberapa siswa yang tidak berhijab kira-kira 10%.62 Guru senantiasa memberi motivasi agar hatinya juga tergugah untuk menutup aurat, karena jika tidak dimulai dari sekarang karakter religius itu sulit terbentuk pada siswa yang semakin bertambah usia dan pengalamannya.
Akan tetapi, dalam prakteknya masih ada siswa yang kurang memperhatikan saat pembelajaran dan berbicara saat berdo’a. Guru memiliki penilaian pada siswa yang tidak tertib dengan peraturan dikelas. Seperti yang diungkapkan oleh pak Mukhtar ialah Indicator
62 Observasi, Kegiatan Pembiasaan (Silvi Qudrun Nadza: Kamis,15 Februari, 2018)
penilaiannya yaitu tadi ada yang hafal ada yang enggak, ketika berdo’a itu khusu’ atau tidak itu masuk dalam catatan.63
Hal ini juga senada dengan pernyataan bu Maria selaku bahwa:
Untuk pembiasaannya saya masukkan pada penilaian aspek sikap siswa, ini siswa sudah bagaimana apa sudah sesuai dengan kriteria penilaian saya atau masih belum sampai pada kriteria ketuntasan penilaian saya. Jika sudah sesuai dengan apa yang saya targetkan itu tinggal bagaimana saya tetap mempertahankan, namun jika belum maka ini tantangan untuk saya bagaimana supaya si anak ini tuntas dalam kriteria tersebut.64
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi diatas dapat disimpulkan bahwa indikator penilaian guru dalam model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter siswa melalui penilaian sikap. Guru memiliki catatan sendiri dalam menilai siswa, dengan catatan itu guru bisa mengetahui tingkat keberhasilannya dalam membentuk karakter religius.
Dapat ditarik kesimpulan dari hasil penyajian data dan analisis pada kegiatan implementasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter religius siswa di SMP Negeri 7 Jember ialah pembiasaan yang diterapkan dengan cara memaksa agar terbiasa memberikan dampak positif membentuk karakter religius siswa. Namun, guru masih dirasa kurang memperhatikan siswa pada penerapan pembiasaan dengan adanya masalah mengenai saat berdo’a siswa masih ada yang bergurau dan berbicara dengan satu sama lain.
63 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
64 Maria, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
Sehingga pelaksanaanya berimbas pada karakter siswa. Dimana tujuan utama kegiatan tersebut dimaksud untuk membentuk karakter religius berakhlakul karimah tetapi karena adanya kurang dukungan guru dalam pengawasan mengakibatkan tujuan tersebut tidak terlaksana dengan baik.
2. Implementasi Model Pembelajaran Habit Forming (Pembiasaan) dalam Membentuk Karakter Disiplin Siswa di SMP Negeri 7 Jember a. Perencanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam
membentuk karakter disiplin siswa di SMP Negeri 7 Jember
Perencanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentukan karakter disiplin siswa di SMP Negeri 7 Jember bahwasannya model pembelajaran habit forming (pembiasaan) harus dimulai dengan upaya sungguh- sungguh untuk memaksakan diri, bahkan bila perlu membuat aktivitas yang dinilai baik dengan tujuan membentuk watak dan karakter peserta didik.
Senada dengan ungkapan bu maria bahwa “Intinya kalau saya pribadi dalam mengajak anak-anak tapi saya bukan hanya mengajak tapi saya juga memaksa kalau sudah saya paksa nanti kalian akan terbiasa. Mereka harus mengikuti aturan yang ada disekolah.”65 Membentuk karakter disiplin sulit diterapkan jika tidak ada dukungan dari keluarga dan lingkungan siswa, karena berperilaku disiplin yang
65 Maria, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
memiliki kontribusi penuh dalam pembentukannya ialah dari bagaimana orangtua mendidik anak.
Dari hasil observasi peneliti banyak menemukan kasus pada siswa yang melanggar peraturan sekolah seperti mengeluarkan bajunya, tidak disiplin untuk mengerjakan tugas, dan masih banyak yang lainnya. Guru berupaya dengan maksimal dalam membentuk karakter disiplin siswa, dengan strategi dan hukuman bagi siswa yang melaggar peraturan sekolah. Kepala sekolah tidak henti-hentinya untuk mengingatkan guru-guru agar selalu mengawasi setiap perilaku siswa dari kesalahan terkecil sampai kesalahan yang berdampak negatif bagi siswa lainnya. 66
Maka disini peran konselor, guru PAI, wali kelas, dan seluruh staf sekolah diharapkan sangat berperan aktif dalam membentuk karakter siswa menjadi baik dan patuh terhadap peraturan sekolah.
b. Pelaksanaan model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter disiplin siswa di SMP Negeri 7 Jember
Membentuk karakter disiplin melalui metode pembiasaan yang ada di SMP Negeri 7 Jember yaitu adanya kegiatan pra pembelajaran sebelum masuk sekolah melalui kegiatan salam pagi. Kegiatan salam pagi dilaksanakan untuk melatih siswa berakhlak baik dengan menghormati gurunya dan sesama temannya. Hal ini senada dengan
66 Observasi, Jember: 19 Februari 2018
ungkapan dari bapak Syaiful selaku kepala sekolah SMP Negeri 7 Jember
Karakter disiplin diawali dari hal sederhana seperti tertib datang dan tertib pulang sekolah. Juga tertib melakukan salam pagi tiap harinya. Makanya saya mengambil langkah bagi siapa yang terlambat dia tidak bisa mengikuti jam pertama pelajaran, tetapi dua kali terlambat orangtuanya yang kita panggil. Nah ini cara mendisiplinkan waktu.67 Bisa di lihat pada gambar 2.3 dalam kegiatan salam pagi.
Gambar 4.3
Dok. Kegiatan salam pagi
Menurut bapak yusron cerminan dari karakter disiplin ialah pada saat upacara bendera, baris berbaris. Pembiasaan mereka sudah dibentuk karakter, dikristalisasi karakternya itu dengan materi PAI dan PKN.68 Pembiasaan selanjutnya diterapkan oleh guru PAI dalam pembelajaran di kelas.
Mukhtar memaparkan bahwa :
Pembiasaannya berhijab pada saat KBM PAI yaitu satu harus displin mereka , jadi misalkan mereka tidak menggunakan itu nilai diplinnya dari sikap kita kurangi. Disiplin tugasnya saya kasih rentan waktu jadi istilahnya kita tidak bisa menghukum anak terlebih dahulu, jadi kita pakek penilaian berjenjang. Jika mereka disiplin dalam mengerjakan dan mengumpulkan tugasnya tepat waktu.69
67 Syaiful, Wawancara, Jember, 19 Februari 2018
68 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018
69 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas dapat disimpulkan bahwa dalam membentuk karakter disiplin dari hal sederhana seperti salam pagi dan hadir tepat waktu , megikuti upacara, memakai hijab pada siswa perempuan saat pembelajaran PAI, mengerjakan tugas selesai tepat waktu, serta patuh pada tata tertib disekolah.
Guru yang bijak akan selalu menampakkan suatu disiplin dalam semua hal terhadap kegiatan siswanya, baik yang mengenai kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan formal yaitu disiplin dalam belajar, disiplin dalam mengerjakan tugas yang berkaitan dengan sekolah maupun disiplin yang berkaitan dengan dirumah.
Strategi guru dalam mendisplinkan siswa bermacam-macam, yang terpenting melalui strategi tersebut tujuannya ke arah yang positif. Syaiful selaku kepala sekolah memaparkan bahwa “Saya selalu memperingatkan kepada guru-guru jangan sampai hal sekecil apapun dibiarkan apalagi hal yang besar kita merangkul mengingatkan bukan dengan cara fisik akan tetapi dipanggil anaknya satu-satu yang bermasalah itu ke ruang guru gak pas di florkan dikelas”70
Yusron menguatkan bahwa :
Harus selalu diingatkan, kepala sekolah sendiri sangat mewanti-wanti kepada guru-guru kita tidak boleh diam dengan kenakalan anak-anak yang ada disekolah, ada baju dikeluarkan dijarno ono arek sepatune yaopo dijarne gak boleh seperti itu selalu harus mengingatkan, kalau mereka mengeluarkan baju
70 Syaiful, Wawancara, Jember, 19 Februari 2018
diluar area sekolah terserah tapi kalau didalam sekolah tidak diperbolehkan. Kalau kita diem aja hanya mengajar ya sama aja karakter itu tidak akan terbentuk.71 Bisa di lihat pada gambar 2.4 dalam kegiatan pembelajaran PAI dengan atribut religius siswi yang disiplin berhijab
Gambar 4.4
Dok. kegiatan pembelajaran PAI dengan atribut religius siswi yang disiplin berhijab
Jadi dapat disimpulkan bahwa semua guru terutama guru agama Islam selalu mengarahkan siswa supaya berprilaku yang baik disiplin dan menjauhi perilaku yang buruk.
Abdul hasan Selaku orangtua siswa kelas IX menambahkan pendapatnya mengenai kegiatan di SMPN 7 Jember :
BK aktif sekali, gak bawa buku saja ditulis dalam buku BK.
Hal sekecil itu, begitu diperhatikan. Anak saya pernah lupa tidak membawa buku. Pada saat pembagian raport, siswa- siswa yang pernah melakukan kesalahan ada dalam buku catatan BK disampaikan saat rapat wali murid. Agar orangtua bisa mengingatkan dan memantau anaknya.72
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas dapat disimpulkan bahwa strategi guru dalam menerapkan pembiasaan untuk membentuk karakter disiplin siswa dengan
71 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018
72 Abdul hasan, Wawancara, Jember, 22 Februari 2018
mengingatkan dan merangkul siswa bersama-sama mentaati peraturan yang berlaku di sekolah. Disiplin merupakan kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan. Sebab dengan membiasakan berperilaku disiplin pada siswa akan membentuk karakter yang berkeyakinan bahwa disiplin memberikan manfaat untuk pribadi siswa itu sendiri.
c. Evaluasi model pembelajaran habit forming (pembiasaan) dalam membentuk karakter disiplin siswa di SMP Negeri 7 Jember
Perkembangan karakter disiplin siswa sangat baik meskipun tidak dapat dinilai dengan cepat, namun perkembangan karakter ditentukan oleh karakter yang melekat pada diri individu tersebut.
mereka mengalami peningkatan, meskipun ada sebagian siswa yang tidak sesui dengan tujuan yang diharapkan sekolah. Kendalanya seperti siswa masih ada yang telat ke sekolah, tidak disiplin dalam memakai baju masih ada beberapa siswa yang mengeluarkan bajunya. Guru dan segenap warga sekolah ikut serta dalam mengingatkan dan menegur siswa supaya berperilaku disiplin.
Mukhtar selaku guru PAI memaparkan bahwa :
Kendalanya itu banyak, akan tetapi guru memiliki strategi sendiri dalam menghadapi siswa yang sulit untuk didisplinkan.
Strategi seperti menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab dan model penilaian menggunakan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik.73
Yusron menguatakan bahwa :
Pembentukan sikap disiplin siswa dapat dilakukan melalui aktifitas intrakulikuler maupun ekstrakulikuler. Kendala-
73 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
kendala yang dihadapi guru dalam mendisiplinkan siswa yaitu siswa harus mentaati tata tertib di sekolah karena dengan dilakukan implementasi tata tertib di sekolah dapat mengurangi tindakan-tindakan negatif dari siswa seperti terlambat datang sekolah atau kebiasaan membolos. 74
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas dapat disimpulkan bahwa setiap kendala-kendala dalam mendisiplinkan siswa dapat dilakukan dengan cara implementasi tata tertib. Tata Tertib merupakan salah satu cara untuk membentuk disiplin siswa. Tata tertib merupakan pedoman bagi sekolah untuk menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman dan tertib sehingga pembelajaran terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Penegakan tata tertib di sekolah sangat penting dilakukan, dengan melakukan penegakan disiplin yang ketat melalui implementasi tata tertib dapat menjadikan siswa untuk terbiasa bersikap disiplin sehingga pelanggaran-pelanggaran di sekolah dapat dikurangi. Oleh karena itu, sekolah harus menjalankan tata tertib dengan konsisten baik dari guru maupun siswa sehingga mampu meningkatkan kualitas tingkah laku siswa.
Menurut mukhtar mengungkapkan bahwa :
Dalam pembelajaran PAI dikelas saya menerapkan punishment dan rewards merupakan salah satu strategi guru dalam mendisiplinkan siswa. Siswa merespon dengan begitu antusias bagi siswa yang mendapatkan rewards. Akan tetapi bagi siswa yang mendapatkan hukuman saya arahkan dan saya luruskan kembali kesalahan-kesalahan itu. Contohnya seperti keluar kelas pada saat jam pelajaran dengan ijin ke kamar kecil tapi ternyata nongkrong dikantin. Jika sudah melanggar seperti itu,
74 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018
saya hukum mereka untuk menuliskan surat al-fatihah sebanyak 10 lembar. Ternyata cara mendisiplinkan seperti itu direspon baik oleh siswa dan itu membekas pada pribadi siswa, untuk melakukan kesalahan yang sama mereka berpikir dua kali.75
Yusron menambahkan pendapat bahwa :
Sebelum pembelajaran dimulai saya membiasakan siswa untuk merapikan baju, karena siswa yang laki-laki ini paling sering mengeluarkan bajunya. Lambat laun setiap pembelajaran saya siswa itu terbiasa rapi bajunya. Dan ini merupakan respon yang positif yang saya rasakan dan juga siswa rasakan.76
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumenter diatas dapat disimpulkan bahwa siswa merespon peraturan di sekolah dengan baik karena pada setiap kegiatan pembelajaran siswa menerapkan disiplin dengan baik hal tersebut dapat meningkatkan prestasi yang dimiliki siswa apabila terjadi pelanggaran langsung ditindak tegas dan diberikan sanksi secara langsung agar siswa tidak melakukan pelanggaran lagi. Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa ditindaklanjuti dengan diberikan sanksi. Sanksi yang diberikan digolongkan sesuai dengan kategori pelanggaran yang dilakukan.
Menurut syaiful selaku kepala sekolah mengungkapkan bahwa:
Indikator penilaian dilihat dari respon siswa terhadap pembiasaan disiplin. Sejauh ini siswa sudah mentaati peraturan yang ada di sekolah. Apa yang ditetapkan dalam peraturan sekolah tidak lain hanya untuk menjadikan siswa lebih baik dan karakternya terbentuk kearah perilaku yang positif. Maka dari itu di SMP Negeri 7 Jember sangat melarang siswa untuk membawa HP. Ini bentuk pendisiplinan siswa agar saat pembelajaran bisa fokus dan menikmati masa-masanya bersosial dengan teman sebayanya, karena apa dijaman yang
75 Mukhtar, Wawancara, Jember, 8 Februari 2018
76 Yusron, Wawancara, Jember, 10 Februari 2018