BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
yang telah ada.29
peneliti perlu mnegadakan observasi lebih dari satu kali.30 Jadi disini, peneliti memilih triangulasi waktu dikarenakan subjek penelitian yang sangat rentang akan perubahan tiap waktunya, karena yang dilihat oleh penliti kepada subjek ialah perilaku serta perkembangnnya mengenai kontak individunya setiap kali subjek penelitian bertatap muka dengan pihak-pihak yang memiliki budaya berbeda.
G. Tahap – Tahap Penelitian
Tahapan penelitian oleh peneliti dibagi menjadi tiga tahapan. Tiga tahapan yang akan dilakukan dalam proses penelitian31 yaitu :
1. Tahap pra-lapangan atau persiapan penelitian
a) Menyusun rancangan penelitian mulai dari menentukan judul penelitian (meskipun memungkinkan akan berubah menyesuaikan pelaksanaan penelitian, namun tidak merubah isi), membuat latar belakang penelitian, merumuskan rumusan masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, menentukan subjek penelitian pertama, kajian kepustakaan, metode pengumpulan data serta analisis data dan keabsahan data.
b) Menyiapkan perijinan penelitian dengan menghubungi langsung anggota serta pimpinan HMPI.
c) Melihat sekilas kegiatan HMPI.
d) Menyiapkan daftar pertanyaan wawancara, karena metode pengumpulan data menggunakan wawancara semiterstruktur.
30 Bungin, Riset Komunikasi, 72.
e) Menyiapkan peralatan dan perlengkapan penelitian.
f) Mempersiapkan cara berkomunikasi dengan objek penelitian.
2. Tahap pelaksanaan penelitian
a) Memasuki ladang atau lapangan penelitian.
b) Memulai mengumpulkan data melalui observasi partisipan, wawancara semiterstruktur, dan mendokumentasi data.
c) Mulai bersosialisasi dengan objek penelitian.
d) Membangun relasi dengan objek penelitian.
e) Mengembangkan sampling, karena peneliti menggunakan teknik snowball sampling.
3. Tahap paska-penelitian
a) Menganalisis data temuan di lapangan.
b) Menyajikan data dalam bentuk laporan.
c) Serta menyempurnakan laporan dengan revisi.
BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
A. Gambaran Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah mahasiswa Patani yang melakasanakan studi di kampus IAIN Jember, diketahui bahwa mahasiswa Patani pertama kali masuk di IAIN Jember pada tahun angkatan 2012. Hingga saat ini jumlah keseluruhan mahasiswa Patani menurut buku pedoman anggota Himpunan Mahasiswa Patani Indonesia (HMPI) berjumlah 183 orang yang tersebar di lima fakultas IAIN Jember. namun pada penelitian kali ini, jumlah mahasiswa Patani yang terhitung sebagai objek penelitian terhitung mulai dari angkatan 2014 hingga 2018 yang berjumlah 76 orang.32
Kedatangan mahasiswa Patani di Kabupaten Jember adalah untuk melanjutkan studi di IAIN Jember. Sebelum memulai studi khususnya bagi mahasiswa Patani tahun angkatan 2014, mereka akan menerima pembekalan Bahasa Indonesia terlebih dahulu selama dua bulan. Namun, pada tahun 2015 setiap mahasiswa baru IAIN Jember diwajibkan untuk masuk ke Ma’had IAIN Jember termasuk mahasiswa Patani. Sehingga sejak tahun 2015 hingga tahun 2018, mahasiswa Patani akan langsung diletakkan ke dalam Ma’had dan tidak perlu melakukan pembekalan Bahasa Indonesia.
Selama proses studi di IAIN Jember mahasiswa Patani yang memulai studi pada tahun akademik 2015 hingga 2018 akan menetap di Ma’had selama kurang
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari penelitian ini dapat dihasilkan data sebagaimana berikut.
1. Strategi Komunikasi Mahasiswa dengan Masyarakat Kampus IAIN Jember Patani untuk Membangun Hubungan Antarbudaya yang Efektif
Strategi komunikasi mahasiswa Patani yang dilakukan untuk membangun hubungan antarbudaya yang lebih efektif, strategi disini meliputi cara atau usaha apa saja yang telah dilakukan oleh mahasiswa Patani ketika bergabung ke dalam HMPI untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat kampus IAIN Jember. Adapun strategi komunikasi mahasiswa Patani untuk membangun hubungan antarbudaya yang efektif telah diperoleh dan disajikan sebagaimana berikut :
a. Mengenali sasaran komunikan di lingkungan kampus IAIN Jember
Strategi komunikasi yang pertama, mengenali sasaran komunikan oleh mahasiswa Patani dalam membangun komunikasi yang efektif berdasarkan hasil data yang diperoleh dari wawancara semistruktural peneliti oleh peneliti yaitu mahasiswa Patani di lingkungan IAIN Jember ini memiliki kendala untuk mengenali sasaran komunikasi mereka di tempat studi atau di lingkungan IAIN Jember dikarenakan mahasiswa Patani cenderung memiliki sikap tertutup kepada mahasiswa IAIN lainnya.
“kita mahasiswa Patani ketika awal belajar di kelas banyak yang merasa malu untuk memulai berbicara dengan mahasiswa selain orang Patani. Tapi orang Patani juga dasarnya memang punya sikap yang pemalu.”33
Tetapi berbeda dengan pendapat Hilmiyah Mani yang memberikan penjelasan mengenai sasaran komunikan mahasiswa Patani ketika ingin melakukan komunikasi dengan mahasiswa lokal di IAIN Jember :
“kita tidak pilih-pilih untuk ingin berbicara dengan siapapun sehingga kalau kita diajak bicara atau kita ingin menyapa dengan mahasiswa lain, kita spontan langsung berbicara saja dengan orang tersbut. Tidak hanya mahasiswa di IAIN Jember, terkadang ketika kita sedang pergi keluar kampus pun kita juga tidak pilih-pilih untuk berbicara dengan orang lain”.34
Kemudian Fateeha Pohchiseng menambahkan hal yang mendukung pernyataan Hilmiyah Mani :
“kalau menurut Pak Ashari kita juga tidak disarankan untuk pilih- pilih agar dapat bebicara dengan siapapun yang terpenting kita selalu
33 Sakinah Barosidiq, Anggota HMPI angkatan 2014, Mahasiswi IAIN Jember, Selasa 03 Juli 2018, 20:00 WIB.
34 Hilmiyah Mani, anggota HMPI angkatan 2016, Mahasiswi IAIN Jember, Sabtu 09 Juni
bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia selama di IAIN Jember maupun di lingkungan luar.”35
Menurut pernyataan yang disampaikan oleh Sakinah, Hilmiyah Mani dan Fateeha Pohchiseng di atas dapat disimpulkan bahwa tidak adanya strategi yang mereka atur untuk memilih siapa sasaran komunikasi terlebih dahulu sebelum dilakukannya komunikasi. mahasiswa Patani lebih cenderung bebas untuk melakukan komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa lokal di IAIN Jember, hal itu sesuai dari keputusan SPH dari HMPI di dalam buku pedoman organisasi HMPI dalam bentuk AD dab ART yang mengatur untuk anggota dapat berkomunikasi dengan bebas.
“dalam HMPI sendiri, ada program yang mewajibkan anggota untuk berinteraksi dengan orang pribumi. Contohnya saya dulu ketika masih menjadi anggot baru HMPI, saya disuruh untuk dekat dan berinteraksi dengan orang pribumi, bahkan dulu saya ditarget minimal berinterkasi dengan dua orang dalam sehari. Kemudian saya juga harus berfoto dengan orang pribusmi yang saya ajak beintraksi untuk ditunjukkan kepada dosen pembina yaitu bapak Ashari.”36
Namun setiap aturan memiliki kelemahan terhadap masing-masing personal yang memiliki sifat yang tertutup dengan mahasiswa lain.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa program HMPI yang mewajibkan anggotanya atau mahasiswa Patani untuk berinteraksi dengan mahasiswa lokal terkendala karena faktor personal mahasiswa Patani yang cenderung memiliki kepribadian tertutup. Maka, salah satu strategi ini masih mengalami kendala ketika pelaksanaanya.
35 Fateeha Pohchiseng, anggota HMPI angkatan 2015, mahasiswi IAIN Jember, Sabtu 09 Juni 2018, 10:00 WIB.
36 Nur Facthari Yusoch, Anggota HMPI angakatan 2014 mahasiswi IAIN Jember, Kamis
b. Penggunaan media komunikasi mahasiswa Patani
Salah satu program HMPI untuk mewajibkan mahasiswa Patani berinteraksi dengan mahasiswa lokal, dosen Pembina HMPI, Ashari menjelaskan bahwa mahasiswa Patani ini harus lebih sering berinteraksi dengan berkomunikasi secara tatap muka langsung (face to face) dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
“saya menyuruh kepada teman-teman HMPI ini agar lebih banyak berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang Indoensia tentunya.
Meskipun ada anggota yang memiliki kepribadian yang pendiam, saya tegur agar tidak tertutup selama di Indonesia. Kedua, saya meminta teman-teman HMPI untuk tinggal di asrama yang kamarnya berpisah dengan anggota lainnya agar lebih bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia. Terakhir yaitu selalu menkondisikan agar lebih inten untuk berbahasa Indonesia.”37
Berarti media komunikasi yang direkomendasikan oleh dosen pembina mahasiswa Patani dalam HMPI ini ialah lebih menggunakan komunikasi verbal secara langsung. Meskipun dalam melakukan komunikasi mahasiswa Patani mengalami kendala ketika berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia.
Hal tersebut didukung dengan pernyataan Sofeeyadi Mokama :
“kita lebih disuruh untuk berkomunikasi dengan berbicara secara langsung dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ketika berbicara, meskipun sulit di awal untuk mencoba melafalkan Bahasa Indonesia tetapi kita harus mencoba untuk berbicara dengan Bahasa Indonesia”.38
37 Ashari, Dosen Pembina HMPI, Selasa 12 Juni 2018, 12:37 WIB.
38 Sofeeyadi Mokama, Anggota HMPI angkatan 2016, Mahasiswa IAIN Jember, Sabtu 09
Kemudian hal tersebut sependapat dengan Nasroh yang menyatakan bahwa dalam Bahasa Indonesia terdapat kata himbuan yang membuat Bahasa Indonesia menjadi sulit dilafalkan.
“dalam Bahasa Indonesia, selain kosa kata yang kurang, di Bahasa Indonesia itu ada kata tambahan atau himbuan yang dimana saya kurang memahami.”39
Kurangnya pemahaman Bahasa indonesia dan menghafal kosa kata menjadi faktor kunci dari permasalahan mahasiswa Patani untuk berinteraksi. Tidak hanya itu, bagi mereka berbicara menggunakan Bahasa Indonesia itu cukup sulit karena selain harus menghafal banyak kosa kata namun harus memahami kata himbuan dan kata sambung supaya kalimat yang disampaikan jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam berinteraksi.
Selain persoalan bahasa, interkasi mahasiswa Patani juga dipengaruhi oleh persoalan lain yaitu persoalan personal mereka.
Maksudnya disini ialah motivasi dari personal atau individu sendiri untuk memunculkan kemauan dalam melakukan interaksi dengan mahasiswa lokal.
“kalau untuk pengucapan Bahasa Indonesia itu kan bisa benar dan juga bisa salah, jadi semuanya tergantung dari orangnya sendiri untuk mau belajar berbicara menggunakan Bahasa Indonesia.
Kesulitannya dalam mengucapkann Bahasa Indonesia ini dasarnya sama dengan teman-teman HMPI yang lain, yaitu kosa kata dan kata himbuan. Jika salah dalam mengucapkan atau ada pembicaraan yang kurang dimengerti oleh saya, maka saya akan menanyakan kembali kepada orang yang mengajak bicara.”40
39 Nasroh, Anggota HMPI angkatan 2016 mahasiswi IAIN Jember, Selasa 03 Juli 2018, 20:00 WIB.
40 Sakinah Barosidiq, Anggota HMPI angkatan 2014 mahasiswi IAIN Jember, Selasa 03
Kesimpulannya, mahasiswa Patani memiliki persoalan yang cukup berat pada strategi kedua ini yakni persoalan bahasa serta faktor kepribadian mahasiswa Patani yang memotivasi mereka untuk berinteraksi. Strategi komunikasi kedua mahasiswa Patani dapat dikatakan kurang begitu berhasil karena muncul persoalan bahasa dan personal itu tadi.
c. Pengkajian tujuan pesan yang disampaikan
Strategi komunikasi efektif ketiga ialah pengkajian tujuan pesan komunikasi mahasiswa Patani IAIN Jember. Pengkajian tujuan pesan seharusnya akan menjamin hasil dari strategi komunikasi akan berjalan efektif atau tidak, sedangkan pada dua strategi komunikasi sebelumnya mengalami persoalan yang membuat strategi berjalan kurang baik.
Penkajian pesan oleh mahasiswa Patani sebenarnya dapat kita ketahui dari pernyataan M. Roiyan Vaeji :
“ketika saya mau berbicara dengan orang lain, apa saya pikirkan ya akan saya ucapkan. Jadi ketika saya ingin menyapa dengan teman sekelas saya sebelum masuk ke dalam kelas saya akan menyapanya terlebih dahulu kemudian apa yang dibicarakan setelahnya akan mengkuti alur.”41
Sehingga hampir tidak ada pengkajian pesan yang akan disampaikan oleh M. Roiyan Vaeji. Meski terkadang mahasiswa Patani ini masih terhalang untuk dapat berkomunikasi karena memiliki kepribadian yang masih tertutup. Sehingga untuk mengantisipasi hal itu perlu ditanam dalam
41 M. Roiyan Vaeji, Anggota HMPI angkatan 2016, Mahasiswa IAIN Jember, Sabtu 09 Juni
kebiasaan mahasiswa Patani yang pertama agar tidak malu berbicara.
Seperti pendapat bapak Ashari mengenai hal tersebut :
“Meskipun ada anggota yang memiliki kepribadian yang pendiam, saya tegur agar tidak tertutup selama di Indonesia. Kedua, saya meminta teman-teman HMPI untuk tinggal di asrama yang kamarnya berpisah dengan anggota lainnya agar lebih bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia. Terakhir yaitu selalu menkondisikan agar lebih inten untuk berbahasa Indonesia.”42
Pengkajian tujuan pesan mahasiswa Patani ini pada ujungnya tetap pada koridor “harus menggunakan Bahasa Indonesia” dan “tidak malu untuk berbicara dengan mahasiswa selain mahasiswa Patani”. Tetapi, hasil dari pengkajian tujuan pesan mahasiswa Patani menjadi terlalu umum dan tidak akan memberikan efek apapun kepada komunikan dan hanya menjadi pengalaman tersendiri bagi komunikator. Sehingga pada strategi komunikasi efektif ketiga ini, menjadi tidak terlalu baik.
Jadi, pengkajian tujuan pesan mahasiswa Patani IAIN Jember ialah supaya mahasiswa Patani bisa berinteraksi dan tidak lagi tertutup dengan mehasiswa lokal di IAIN Jember. tujuan pesan mahasiwa Patani dengan demikian tidak memiliki tujuan yang signifikan kepada komunikan, hanya sebatas untuk membiasakan mahasiswa Patani agar mau berinteraksi serta terbuka dengan mahasiswa lokal atau siapapun.
d. Peran komunikator dalam komunikasi
Strategi keempat atau strategi komunikasi efektif yang terakhir, ialah peran komunikator dalam komunikasi. komunikator dalam strategi komunikasi efektif ini ialah mahasiswa Patani. Tujuan dari diadakannya
strategi ini ialah agar tujuan strategi komunikasi yang telah dijelaskan dapat terwujud melalui peran komunikator yang lebih aktif daripada komunikan dalam proses komunikasi.
“kalau saya tidak tahu apa yang dibicarakan, saya tanya maksudnya apa. Jika tetap tidak tahu saya akan diam dan melambaikan tangan kalau saya tidak tahu yang dimaksudkan.”43
Pernyataan di atas menggambarkan bahwa, ketika mahasiswa Patani sebagai komunikator sudah tidak lagi memiliki perannya sebagai komunikator maka mereka akan menjadi pasif. Pernyataan di atas ialah dampak dari persoalan bahasa. Bahasa Indonesia yang dikuasai oleh masing-masing personal mahasiswa Patani IAIN Jember tidak selalu sama atau sebanding dengan komunikannya atau mahasiswa lokal.
Sehingga strategi komunikasi efektif mahasiswa Patani yang tergabung dalam HMPI IAIN Jember ini memiliki kesenjangan yang cukup jauh dengan strategi komunikasi efektif ideal yang dipaparkan oleh Onong. Hal tersebut karena setiap strategi komunikasi yang telah dijelaskan tidak berjalan baik ketika diperaktikkan oleh mahasiswa Patani IAIN Jember.
Strategi komunikasi efektif yang ideal menurut Onong ialah komunikasi yang telah mencapai ketiga tujuan strategi komunikasi efektif yaitu komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan, pembinaan terhadap komunikan berjalan rutin serta mampu memotivasi komunikan agar komunikasi dapat terus berjalan. Namun, berdasarkan hasil penyajian data
43 Sakinah Barosidiq, anggota HMPI angkatan 2014, Mahasiswi IAIN Jember, Selasa 12
mengenai strategi yang telah dilakukan oleh mahasiswa Patani belum memenuhi kriteria sebagai strategi komunikasi yang ideal menurut Onong.
Apabila strategi yang telah dipaparkan di atas terhambat karena persoalan komunikasi mahasiswa Patani IAIN Jember pada dasarnya ialah persoalan bahasa, mahasiswa Patani memiliki kosa kata yang kurang dan kemampuan berbahasa Indoensia yang kurang membuat efektivitas komunikasi antarbudaya mahasiswa Patani kurang baik. Sehingga ketika mahasiswa Patani hendak melakukan komunikasi dengan mahasiswa lokal akan menjadi terhambat. Seperti yang dikatakan Sakinah :
“kalau saya tidak tahu apa yang dibicarakan, saya tanya maksudnya apa. Jika tetap tidak tahu saya akan diam dan melambaikan tangan kalau saya tidak tahu yang dimaksudkan.”44
Kemudian Nurulmuminah Sasumenambahkan bahwa :
“terkadang saya juga merasa bingung untuk melanjutkan pembicaraan dengan teman saya, terlebih jika sudah tidak mengerti arah pembicaraan teman saya, maka saya lebih memilih diam dan kemudian pergi saja”.45
Kesempatan lainnya yang juga pernah dirasakan oleh mahasiswa Patani lainnya ketika melakukan komunikasi secara langsung dengan mahasiswa lokal menggunakan tanda melambaikan tangan ketika mereka tidak mengerti karena mereka berpikir bahwa mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Nasroh ketika memberikan penjelasan menganai kendala saat menerima pesan dari mahasiswa lokal :
44 Sakinah Barosidiq, anggota HMPI angkatan 2014, Mahasiswi IAIN Jember, Selasa 12 Juni 2018, 12:37 WIB.
45 Nurulmuminah Sasu, anggota HMPI angkatan 2016, Mahasiswi IAIN Jember, Sabtu 09
“dalam Bahasa Indonesia, selain kosa kata yang kurang, di Bahasa Indonesia itu ada kata tambahan atau himbuan yang dimana saya kurang memahami. Terkadang kalau sudah tidak mengerti saya akan melambaikan tangan kepada mereka dan mengatakan bahwa saya tidak mengerti dengan pembicaraan saya. Begitu juga teman saya ketika tidak mengerti dengan bahasa saya ketika melafalkan Bahasa Indonesia karena mungkin saat itu saya salah menggunakan kata himbuan dan menyusun kosa kata.”46
Pernyataan di atas yang menjadi faktor sehingga tidak ada lagi pembicaraan setelah mahasiswa Patani tidak mengerti pesan yang disampaikan. Mahasiswa Patani yang sulit memahami dikarenakan Bahasa Indonesia bagi mereka sulit dipelajari khususnya bagi mahasiswa Patani yang berasal dari daerah tertentu di Patani yang sedikit berinteraksi menggunakan Bahasa Melayu seperti Naratiwat dan Jala.
“bagi anggota HMPI yang asal daerahnya minim menggunakan Bahasa Melayu, mereka cenderung lebih sulit untuk menguasai Bahasa Indonesia. Mahasiswa Patani yang kesehariannya menggunakan Bahasa Thai ketika di Negara asalnya, mereka juga tidak begitu mengerti dengan Bahasa Melayu, sehingga mereka masih harus belajar untuk memahami Bahasa Melayu terlebih dahulu, atau kebanyakan mahasiswa Patani ini langsung belajar menggunakan Bahasa Indonesia apabila mereka tidak mengerti maka mereka akan bertanya dengan mahasiswa Patani lain menggunakan Bahasa Thai.”47 Sehingga hambatan mahasiswa Patani untuk mempelajari Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka selama studi di IAIN Jember juga dipengaruhi asal daerah mereka di Patani yang bahasa kesahariannya tidak menggunakan Bahasa Melayu. Namun tidak menjadi jaminan bagi mahasiswa Patani di IAIN Jember setelah menguasai Bahasa Indonesia untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Hal tersebut karena pemahaman
46 Nasroh, Anggota HMPI angkatan 2016 mahasiswi IAIN Jember, Selasa 03 Juli 2018, 20:00 WIB.
Bahasa Indonesia juga tergantung personal mahasiswa Patani itu sendiri, seperti contohnya Sakinah.
“berbeda dengan mereka yang berasal dari daerah yang bahasanya biasa menggunakan Bahasa Thai seperti Sakinah. Dia harus memahami Bahasa Melayu dulu, agar bisa berinteraksi dengan teman- temannya dari HMPI, setelah itu baru dia belajar berbahasa Indonesia.
Naumun Sakina ini cendurung lebih cepat belajarnya.”48
Sakinah sebagai salah satu anggota HMPI di IAIN Jember, memang memiliki kecenderungan cepat mempelajari bahasa, namun dia tetap kesulitan untuk berkomunikasi.
“pengucapan Bahasa Indonesia itu kan bisa benar dan juga bisa salah, jadi semuanya tergantung dari orangnya sendiri untuk mau belajar berbicara menggunakan Bahasa Indonesia. Kesulitannya dalam mengucapkann Bahasa Indonesia ini dasarnya sama dengan teman- teman HMPI yang lain, yaitu kosa kata dan kata himbuan.” 49
Indikator lainnya yang dikemukakan oleh De Vito mengenai keterbukaan juga kurang nampak pada Mahasiswa Patani yang cenderung tertutup dan kurangnya bergaul ketika kurang memahami pesan yang mereka terima.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Komunikasi Mahasiswa Patani di Kampus IAIN Jember
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat digambarkan beberapa proses bagaimana komunikasi dilakukan oleh mahasiswa Patani di lingkungan IAIN Jember.
48 Ashari, Dosen Pembina HMPI, Selasa 12 Juni 2018, 12:37 WIB.
49 Sakinah Barosidiq, Anggota HMPI angkatan 2014 mahasiswi IAIN Jember, Selasa 03
a. Faktor penghambat mahasiswa Patani ketika melakukan komunikasi 1) Penggunaan Bahasa Indonesia mahasiswa Patani sebagai alat
komunikasi yang kurang baik
Ketika mahasiswa Patani melanjutkan studi di IAIN Jember, mereka harus segera beradaptasi dengan baik. Hal itu menyebabkan mahasiswa Patani harus bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia. Maka dari itu sebelum proses adaptasi berlangsung, mereka diberi pembakalan berbahasa Indonesia dua bulan sebelum dimulainya hari efektif perkuliahan. Pembekalan tersebut bertujuan supaya mahasiswa Patani pada saat beradaptasi dengan masyarakat kampus IAIN Jember.
Pembekalan Bahasa Indonesia ini tentunya memiliki keterbatasan karena setiap angkatan mahasiswa Patani yang masuk sebagai mahasiswa IAIN Jember tidak selalu mendapat pembekalan Bahasa Indonesia. Jika mahasiswa Patani yang masuk ke IAIN Jember pada tahun angkatan 2014 mereka masih mendapatkan pembekalan Bahasa Indonesia selama dua bulan sebelum hari aktif perkuliahan. Selanjutnya pada tahun angkatan 2015 hingga 2018, mahasiswa Patani tidak lagi mendapatkan pembekalan Bahasa Indonesia melainkan mereka harus ditempatkan di Ma’had IAIN Jember selama satu tahun. Sehingga mahasiswa Patani yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pembekalan Bahasa Indonesia, mereka akan dibimbing langsung oleh mahasiswa Patani yang terlebih dahulu masuk sebagai mahasiswa di IAIN Jember.
Hal tersebut dielaskan oleh Amani, mahasiswa Patani angkatan 2014 :
“mahasiswa Patani yang masuk pada angkatan 2015 sampai 2018, mereka tidak diberi pembekalan Bahasa Indonesia, tetapi mereka langsung dimasukkan ke dalam Ma’had IAIN Jember selama setahun. Ketika mereka di Ma’had, mereka akan langsung berinteraksi dengan mahasiswa IAIN Jember lainnya karena mereka ditempatkan pada kamar yang berpisah dengan mahasiswa Patani lainnya dan tinggal dengan mahasiswa lokal.
Awalnya, memang susah untuk mereka bisa berbicara dengan mahasiswa Indonesia, namun buat kita sebagai kakak tingkat yang sudah terlebih dahulu masuk, kita yang pada akhirnya memberikan pembimbingan Bahasa Indonesia untuk adik-adik kita yang baru ditempatkan di Ma’had.”50
Amani melanjutkan bahwa dalam seperti apa proses pembekalan mahasiswa Patani pada angkatan masuk 2014
“ketika pembekalan kita diajarkan untuk menghafalkan kosa kata, menyusun kalimat dan mempraktikkan langsung untuk berdialog dengan orang Indonesia. Sehingga saat proses pembekalan kita sudah mendapat latihan langsung untuk dapat berbicara Bahasa Indonesia dengan orangnya, tetapi untuk angkatan 2015 dan seterusnya mereka sudah langsung ditempatkan ke dalam Ma’had dan bisa langsung beradaptasi dengan teman sekamar yang berasal dari mahasiswa lokal.”51
Namun penggunaan bahasa mahasiswa Patani dalam proses berlangsungnya komunikasi memiliki permasalahan berupa kurangnya pelafalan kosa kata Bahasa Indonesia dengan baik. Sehingga mahasiswa Patani mengalami hambatan untuk memahami maksud pesan jika bahasa yang digunakan tetap menggunakan Bahasa Indonesia.
Sedangkan apabila mahasiswa Patani harus menerima materi di kelas
50 Amani, Anggota HMPI angkatan 2014, Mahasiswi IAIN Jember, Sabtu 09 Juni 2018, 10:00 WIB.
51 Amani, Anggota HMPI angkatan 2014, Mahasiswi IAIN Jember, Sabtu 09 Juni 2018,