BAB IV HASIL PENELITIAN
10. Penyajian Hasil Penelitian
b. Dampak poligami terhadap perkembangan jiwa anak di kecamatan seluma selatan kabupaten seluma
Poligami adalah ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama. Laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatakan bersifat poligami.43
Dalam hal ini poligami boleh dilakukan oleh suami, yang mana suami boleh memiliki lebih dari satu istri dalam waktu yang bersamaan, adapun menurut sejarah, dibolehkannya poligami karena untuk memenuhi sebuah tanggung jawab atas banyaknya para janda , istri syuhada yang gugur dalam perang membela islam, sehingga tidak mungkin dapat terlindungi kecuali dengan poligami.44
Wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tak terstruktur terhadap 6 (enam) orang narasumber yang dilakukan di Seluma Selatan. Narasumber yang berhasil diwawancarai yaitu istri dari suami yang melakukan praktek poligami.
Wawancara dengan istri narasumber pada hari Rabu 23 Desember 2020.
43 Sithi Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 43
44 Abd. Hamid Kisyik, mengapa islam membolehkan poligami? (Jakarta Selatan:
Penerbit Hikamah, 2000), h.2
Data yang tak terungkap melalui wawancara, dilengkapi dengan data hasil observasi langsung secara partisipatif yang dilakukan pada bulan Desember sampai Febuari.
Dalam hal ini banyak yang beranggapan poligami adalah suatu hal yang sah-sah saja atau menjadi sunah, padahal pada dasarnya, seseorang yang melakukan poligami ini mereka harus memiliki alasan yang kuat, misalnya saja ketika istri sakit dan tidak mampu untuk melayani suami, menyelamatkan janda yang suaminya meninggal karena membela agama dan lain sebagainya.
1. Nama : Turiah
Pekerjaan : Petani Alamat : Padang Rambun
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“karena anak merasa sakit hati, sehingga yang tidak mampu bersikap ramah ”
2) Mengapa anak yang keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“karena anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“karena anak ingin bermain dan membaur dengan teman- temanya, tetapi anak malah tidak mendapatkan hak bermain seperti temannya yang lain”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“karena orang yang dia harapkan mampu menghiburnya menjadi sosok yang paling ia kagumi tidak ia dapatkan, malah di dapatkan bukan dari ayanya ”
5) Apa yang membuat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“karena dengan cara tersebut anak dapat selalu mengingat orang yang ia senangi”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“karena di dalam lingkungan sosialnya dia kurang di anggap, sehingga membuatnya merasa dijauhi oleh lingkungannya”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain ?
“karena anak tidak mendapatkan sosok yang dia harapkan dari orang tuanya sehingga anak merasa sanggat bergantung dengan orang yang memperdulikannya baik sekecil apapun perhatiannya”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“ya, karena anak yang lahir dalam keluarga poligami kasih sayang dan perhatian orang tua tehadapnya kurang didapatkan apalagi perhatian dan kehangatan sosok ayah”
2. Nama : Mistina
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga Alamat : Rimbo Kedui
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“ya gimana ya.... gimana mau ramah, ayahnya saja tidak memberi contoh bagaimana bersikap ramah kok”
2) Mengapa anak yang keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“ya tidak pernah diperhatikan, jadi dia acu aja gitu”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“karena dia ingin menghibur dirinya sendiri”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“ya karena bagi dia lingkungan yang ada dirumahnya tidak diterima”
5) Apa yang membuat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“karena orang itu baik menurut dia, sama aja kayak kita mbak, kalau dia baik menurut kita pasti kita secara spontan suka niru dia”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“karena dia tau dalam masyarakat dia akan dikucilkan”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain?
“karena baginya sumber kebahagiannya berasal dari orang lain”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“ya, sangat sangat membutuhkan karena anak poligami tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtunya”
3. Nama : Yuni
Pekerjaan : Petani
Alamat : Padang Rambun
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“karena kurang dan hilangnya rasa kasih sayang, timbulnya rasa benci terhadap orang tua dan timbulnya rasa ketidak percayaan pada anak itu”
2) Mengapa anak yang keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“karena tidak mendapatkan rasa kasih sayang dari orang tuanya, jadi dia tidak tau dirinya itu penting atau tidak”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“karena dia ingin memiliki hak bermain juga mbak, kayak anak yang lain”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“ya orang itu jelas-jelas bisa buat dia bahagia mbak, jadi dia selalu ingin bersama orang tersebut”
5) Apa yang memb”uat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“karena didalam keluarga, tidak ada contoh yang baik untuk ditiru, dan dia merasa orang lain itu baik”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“ya gimana mau semangat kalau dikucilkan terus, ya gak mau lah mbk”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain ?
“karena baginya sumber kebahagiaannya berasal dari orang lain yang bukan ayahnya”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“oh jelas sangat mebutuhkan, bapaknya gak jelas gimana”
4. Nama : Sepi
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga Alamat : Rimbo Kedui
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“karena anak yang berpoligami ini kurang kasih sayang dari orangtuanya”
2) Mengapa anak yang keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“kalo saya perhatikan mungkin karena anak poligami ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, jadi dia mengaanggap acuh terhadap dirinya sendiri”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“biasanya anak poligami ini kan dia ingin menghibur dirinya sendiri, soalnyakan dia pengen juga bisa bermain dengan teman- temannya tanpa dikucilkan”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“mungkin gini ya dengan keadaan orang tuanya yang sering bertengkar, jadi dia suka main”
5) Apa yang membuat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“karena sebenarnya didalam memang tidak ada hal baik patut untuk ditiru, saya saja sering bertengkar dengan ayahnya, jadi dia mungkin tidak nyaman, dan dia mendapatkan rasa nyaman itu dari orang tersebut”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“krena dia tau dalam masyarakat dia akan dikucilkan, sering dicaci maki oleh teman-temannya”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain?
“mungkin karena baginya sumber kebahagiannya ada disana berasal dari orang lain, bukan dari dirinya sendii ataupun keluargannya tadi”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya terutama ayahnya, saya aja boro-boro mau ngurusin anak saya saja sering ribut dengan ayanya”
5. Nama : Turasih Pekerjaan : Petani
Alamat : Padang Rambun
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“tidak kok, anak saya bersikap rama, karena sudah diajarkan sejak kecil bagaimana cara bersikap dengan baik”
2) Mengapa anak yang keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“anak saya mengurus dirinya dengan baik kok, dia tau dia mau seperti apa”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“ya jelas mau, karena kan sebagian hidupnya ada di lingkungan masyarakat. Mana ada anak-anak yang tidak mau bermaian dengan temannya”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“ya karena itu tadi orang tersebut bisa membuat dia bahagia, siapapun bisa buat kita bahagia otomatis kita bahagia otomatis kita senangkan”
5) Apa yang membuat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“ya bagaimana ya, dengan cara meniru tersebut anak akan selalu teringat dengan dia”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“tidak ah... anak saya malah senang sekali”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain?
“kalau menurut saya bukan ketergantungan ya lebih ke senang aja jika menurut dia orang itu busa membantunya kenapa tidak”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“kalau saya gimana ya, anak saya tidak seperti itu. Dia tidak haus dengan perhatian karena ibu-ibunya dan ayahnya sama- sama sayang kok”
6. Nama : Annisa
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga Alamat : Batuan
1) Mengapa anak yang orang tuanya berpoligami tidak bisa bersikap ramah ?
“saya tidak mengetahui bagaimana sebenarnya anak saya, tetapi dari pengamatan saya selama ini semua itu terjadi karena pola asuh yang diterapkan ayahnya kepadanya tidak menunjukkan bagaimana cara besikap yang baik dengan orang lain”
2) Mengapa anak yg keluarganya berpoligami tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri ?
“bisa jadi semua karena bentuk kekecewakan terhadap ayahnya yang tidak perduli dengan dirinya, sehingga membuat anak saya seperti itu”
3) Mengapa seoarang anak sangat ingin diterima oleh kelompok sosial terutama teman sebayanya ?
“karena pada dasarnya anak usia dini seperti dia, masih sangat membutuhkan teman dan hak dalam bermain itu yang dia harapkan dari teman sebayanya, bermain dan diterima, tidak seperti sekarang di kucilkan karena kesalahan orang tuanya, jadi barang tentu dia sangat ingin diterima dengan teman sebayanya”
4) Mengapa anak pasca poligami lebih ingin menghabiskan waktunya dengan orang lain yang dianggap bisa menghiburnya?
“dengan cara tersebut anak dapat melupakan kesdihan yang tidak dapat dia ungkapkan dengan orang tuanya, sehingga ketika ia menemukan kebahagiaan dari orang lain yang bukan orang
tuanya ia sangat senang dan sampai lupa waktu ketika bermain bersama”
5) Apa yang membuat anak cenderung lebih suka meniru orang lain yang dianggapnya baik ?
“karena dengan meniru semua tingkah laku dan perkataan nya seorang anak akan selalu mengingatnya, kan anak usia dini senang mengikuti dan sangat pengingat”
6) Mengapa anak yang pasca poligami tidak terlalu bersemangat dalam bersosialisasi ?
“karena lingkungan tempatya tidak menganggap keberadaannya, di usia ini anak sangat rentan akan berbagai hal, mudah mennagis dan sebagainya, karena emosi yang masih sangat labil”
7) Apa yeng membuat anak ketergantungan dengan bantuan orang lain?
“ketergantuan dalam artian anak akan selalu dan menginginkan kehadiran seseorang yang dapat membantu dan mengerti dia dalam segala hal, karena tidak mendapatkan semua dari ayahnya”
8) Apakah poligami yang menyebabkan anak sangat membutuhkan kasih sayang ?
“jelas sangat membutuhkan, karena anak yang lahir dalam pernikahan poligami ini ia kurang sekali mendapatkan apa yang
seharunya didapatkan oleh anak. Sehingga anak hasil poligami ini sangat membutuhkan kasih sayang lebih dari orang lain”
B. Interpretasi Hasil Penelitian 1. Penyebab Terjadinya Poligami
Berdasarkan hasil dari temuan penelitian, jumlah pelaku poligami di kecamatan Seluma Selatan yang diketahui 10 KK.
Pernikahan poligami di Kecamatan Seluma Selatan ini terjadi disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor kurang kesadaran dalam arti pernikahan, sering terjadinya percekcokkan sehingga terjadinya poligami.
Sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1974 mengatakan adanya persetujuan dari istri atau istri-istri bagi suami yang bermaksud ingin menikah lagi dengan wanita lain (berpoligami) adalah salah satu syarat untuk mengajukan permohonan izin berpoligami kepengadilan Agama (Pasal 4 ayat (1) dan pasal 5 ayat (1) huruf a UU Nomor. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Dengan demikian jika menikah tanpa persetujuan dari istri maka pernikahan itu tidak sah.
Pengadilan Agama sebagai pelaksana kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan bagi yang beragama Islam mengenai perkara Perdata tertentu, berwenang mengabulkan/mengizinkan atau tidak mengabulkan/tidak mengizinkan permohonan izin poligami yang diajukan oleh seorang suami (Pasal 10 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dan Pasal 49 UU No. 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama serta Pasal 4 Undangundang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ). Pengadilan Agama akan mmberikan izin kepada seorang suami untuk berpoligami apabila terbukti bahwa :
d. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.
e. Istri mendapat cacat badan atau tidak dapat disembuhkan.
f. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Para pelaku poligami menganggap pernikahan ini menjadi hal biasa baginya. pengetahuan pelaku poligami tentang pernikahan masih sangat rendah sehingga menyebabkan pelaku poligami ini mengandalkan egonya dalam melangsungkan pernikahan dengan istri barunya tanpa persetujuan atau izin dari istri pertama.
2. Perkembangan Jiwa Anak
Perkembangan jiwa anak adalah perubahan perilaku nyata oleh anak yang dilakukan secara berkesinambungan yang meliputi tindakan yang tidak dapat diamati dan tindakan yang dapat diamati secara langsung diluar dirinya.
Perkembangan jiwa anak orang tuanya berpoligami yang menjadi fokus penelitian ini yaitu mengenai cara menjalin hubungan dengan kelompok sosial dan perilaku yang digunakan nya, anak yang tinggal di Kecamatan Seluma Selatan kebanyakan belum bisa menjalin dengan masyarakat dengan baik.
Banyak sekali anak yang orng tuanya berpoligami memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan indikator perkembangan jiwa anak, sosialnisasinya masi sangat kurang, cara mereka meminta tolong kepada
orang lain belum sesuai, sering mengeluarkan kata-kata yang kasar, belum bisa mengendalikan amarahnya dengan baik, sering berkelahi dan mengganggu teman yang tidak mengganggu dia. Menurut peneliti hal ini di karenakan anak menirukan keseharian orang tua nya dirumah yang kurang baik, dari cara nya berperilaku dan pola asuh yang mereka terapkan. karena keluarga lah yang paling utama mempengaruhi perkembangan anak.
Tabel VI
Interperensi hasil penelitian
NO Indikator Fakta Temuan
Peneliti
Interpretasi Hasil Penelitia 1 Anak yang tidak
bisa bersikap ramah
Orang tuanya sendiri yang tidak pernah memberikan contoh bagaimana bersikap ramah
Yang mendasari perkembangan anak adala apa yang
didapatkan nya di dalam keluarga dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua itu sendiri 2 Anak kurang
mementingkan dirinya snediri
Orang tua tidak pernah
memperhatikan dan memperdulikan anaknya
Keinginan anak tidak selalu sama dengan keinginan orang tua/
orang dewasa, orang tua harus ada kompromi dan mengajak anak untuk bersikap terbuka supaya tau apa yang anak inginkan
3 Yang diinginkan anak diterima di kelompok sosial terutama teman sebayanya
Teman sebaya dan masyarakat
mengucilkan dan enggan bermain bahkan melarang anaknya bermain dengannya
Tidak ada anak yang mau dilahirkan oleh keluraga yang
melakukan poligami, semua anak ingin memiliki 1 ayah dan 1 ibu yang keluarganya rukun, sebagai orang tua dan masyarakat harus bersikap terbuka dan
memberikan peluang pada anak bermain dan merangkul anak supaya mereka tidak merasakan sendiri.
4 Anak
mengahbiskan waktu dengan orang yang bisa menghiburnya
Sebagian anak di Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma yang orang tuanya berpoligami sering sekali menghabiskan waktunya dengan orang yang
dianggapnya dapat menghibur dirinya
Sebagai mahluk sosial, semua anak itu sama hanya saja
perkembangan emosi mereka itu tergantung dengan orang tua dan seperti pola asuh orang tua dalam keluarga, ketika dalam keluarga memberi anak
kebahagian maka ia tidak akan
menghabiskan atau mencari-cari perhatian orang
5 Meniru orang yang dianggapnya baik
Sebagian besar anak usia dini yang orang tuanya berpoligami tinggal di
Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma cenderung senang meniru orang yang
Meski memiliki keluarga namun anak cenderung senang meniru orang yang dianggapnya baik untuknya daripada meniru ayahnya
menurutnya baik 6 Kurang dalam
sosialisasi
Anak besosialisasi dengan tergantung dengan suasana hatinya
Dalam mendidik dan menyikapi anak usia dini kita butuh ekstra sabar dan harus bisa memahami keadaan si anak, agar anak mampu bersosialisi dengan baik sejak dini
7 Ketergantungan dengan bantuan orang lain
Anak tidak
mendapatkan kebahagian dan sosok ayah dari orang tua nya dan itu diadaptkan dari orang lain bukan orang tuanya
Anak usia dini masih sangat bergantung dengan orang tuanya, Dalam mendidik dan menyikapi anak usia dini kita butuh ekstra sabar dan harus bisa memahami keadaan si anak, sebagai orang tua seharunya menjadi pusat perhatian anak bukan orang lain
8 Anak haus akan kasih sayang
Anak di Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma yang orang tuanya berpoligami tidak pernah
mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya terutama
Sebagai orangtua yang baik seharusnya anak adalah point utama dalam berkuarga tidak terkecuali untuk yang melakukan poligami, seharusnya anak
tetaplah harus
diperhatikan diberi kasih
ayahnya sayang yang penuh tanpa di beda-bedakan, karena baik buruknya
anak tergatung
bagaimana cara pola asuh dan didikan dalam keluarga
75 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Faktor-faktor yang melatar belakangi orang melakukan poligami adalah sebagai berikut: istri tidak bisa memberikan keturunan, istri sering menekan suami, seringnya terjadi percekcokan/pertengkaran, akibat perjodohan yang berujung perceraian, faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran akan pentingnya suatu perkawinan.
2. Dampak poligami terhadap perkembangan jiwa anak yaitu: Banyak sekali anak yang orang tuanya berpoligami memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan indikator perkembangan jiwa anak, sosialisasinya masih sangat kurang, cara mereka meminta tolong kepada orang lain belum sesuai, sering mengeluarkan kata-kata yang kasar, belum bisa mengendalikan amarahnya dengan baik, sering berkelahi dan mengganggu teman yang tidak mengganggu dia. Menurut peneliti hal ini di karenakan anak menirukan keseharian orang tuanya dirumah yang kurang baik, dari caranya berperilaku dan pola asuh yang mereka terapkan. karena keluargalah yang paling utama mempengaruhi perkembangan anak.
B. Saran
1. Diharapka kepada pelaku poligami untuk lebih adil dalam memberi perhatian dan kasih sayang kepada keluarganya, agar keluarga menjadi lebih harmonis
2. Sebaiknya orang tua yang melakukan praktek poligami lebih memperhatikan perkembangan jiwa anaknya
3. Kepada para masyarakat sekitar hendaknya jangan menjauhi atau mencela isteri dan anak hasil poligami, berbaurlah dan berilah nasihat yang baik untuk keluarga mereka agar mereka tidak merasa terkucilkan dimasyarakat 4. Kepada pemerintah setempat untuk mengadakan sosialisasi tentang
bahayanya poligami bagi anak
77
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. 2005 Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Athar , Abdul Nasir Taufiq Al. 1976 Polygami Ditinjau Dari Segi Agama, Sosial Dan Perundang-Udangan .Jakarta: Bulan Bintang.
Departemen Agama RI. 2009. Yayasan Penyelenggara/Pentafsir Al-Qur’an. Al- Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya : CV Penerbit Fajar Mulya.
Drajat, Zakiah. 1972. Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak. Jakarta: Bulan Bintang.
D.Y. Witanto. 2012. Hukum Keluarga Hak Dan Kedudukan Anak Luar Kawin Pasca Keluarga Putusan MK Tentang Uji Material UU Perkawinan .Jakarta: Pustakaraya.
Faizah dan Efendi, Lalu Muchsin. 2009. Psikologi Dakwah. Jakarta: Kencana.
Habibi, Muazir. 2015. Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini Buku Ajar S1 PAUD.
Yogyakarta: Deepublish Publisher
“Hamka Abbas”. Pengertian Jiwa Menurut Psikologi. Artikel diakses pada 18 Juli 2019 dari http:// hamkaabbas. blogspot.com /2014/02/ pengertian jiwa menurut psikologi. html.
Hasnida. 2015. Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Luxima Metro Media.
Jean Piaget dan Barbel Inhelder. 2010. Psikologi Anak The Psychology of the Child. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
Kisyik, Hamid. 2000. Mengapa Islam memperbolehkan Poligami. Jakarta Selatan:
Penertbit Hikmah.
Mulia, Siti Musdah. 2004. Islam Memggugat Poligami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Ridwan Jamal. “Hukum Poligami Menurut Undang-Undang Perkawinan dan Fikhi” artikel diakses pada 16 Juli 2019 dari https:// media/ publications /240303 hukum poligami menurut undang undang per f87dee48, pdf.
Sejarah Singkat Seluma Selatan.https://portal.selumakab.go.id
Santoso, Hargio. Cara Memahami & Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus.
Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Sujianto, Agus. Lubis, Halim dan Hadi Taufik. 2009. Psikologi Kepribadian.
.Jakaarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
ALFABETA, cv.
Sukardi, Dewa Ketut. 1986. Psikologi Populer Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Jakarta: GHALIA INDONESIA.
Susanto, Ahmad. 2011. Perkemabangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana.
Purnama, Sigit dan Aulya Fitriyani. 2018. 20 Permainan Out Bound Kids.
Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Yogyakarat.
Tutik, Titik Triwulan. 2007. Poligami Prespektif Perikatan Nikah Telaah Kontekstual Menurut Hukum Islam & Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahum 1974. . Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Tim Penyusun Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu. 2015. Pedoman Penulisan Skripsi.
Winarni, Endang Widi. 2018. Teori dan Praktik Penelitian Kuantitaif Kualitatif Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Research and Develoment (R&D).
Jakarta: Bumi Aksara.