• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyehatan Perumahan

Dalam dokumen Survei Kesehatan Dasar di Sulawesi Tengah (Halaman 54-103)

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.4 Penyehatan Perumahan

45

46

angsa) Berikut ini akan ditampilkan distribusi responden menurut ketersediaan jamban keluarga dan ventilasi yang memadai.

Indikator lain yang digunakan untuk menilai kesehatan perumahan diantaranya adalah ventilasi dan keadaan rumah yang secara tidak langsung juga dikaitkan dengan kesehatan lingkungan dan kesehatan keluarga. Di Sulawesi Tengah pada tahun 2000 rumah tangga yang menempati rumah dengan luas lantai kurang dari 20 meter persegi dan yang menempati rumah dengan luas lantai kurang dari 50 meter persegi masih 50,8%

(termasuk 3,60%) dengan luas lantai kurang dari 20 meter persegi dan yang menempati rumah dengan luas lantai 100 meter persegi atau lebih hanya 10,66% dan 36,94% rumah tangga

47

menempati rumah dengan luas 50-59 meter persegi (Profil Kesehatan Dasar 2000).

Jika dilihat jenis lantai yang ditempati persentase rumah tangga yang menempati rumah berlantai semen/bata sebesar 60,38%, dan 3,86% berlantai ubin/tegel, 18,83% berlantai kayu, 13,65% berlantai tanah, 2,81% berlantai mamer/keramik, 0,91%

berlantai bumbu dan 0,16% berlantai lainnya. Sebagian besar RT di Sulawesi tengah tercatat 55,21% bertempat tinggal di rumah yang beratap seng/asbes, kabupaten/kota Palu yang terendah adalah Kab Banggai. Jneis dinding rumah yang ditempati rumah tangga 52,90% dinding dan lainnya 1,11% dan sumber penerangan di rumah sebagian besar RT (63,9%) bersumber dari listrik termasuk 3,84% bersumber dari lampu petromax, dan tersedianya ventilasi di rumah dapat dilihat pada tabel berikut.

Informasi yang ditampilkan pada gambar 9 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar (79,8%) responden telah memiliki ventilasi rumah yang sesuai dengan standar kesehatan dan masih sebesar 20,2% belum memiliki ventilasi rumah yang memadai. Keadaan demikian nampaknya sering dengan keberhasilan promosi kesehatan , hal tersebut dikuatkan dengan hasil penelusuran lapang yang menunjukkan bahwa sebagian besar (72,7%) responden pernah mendengarkan tentang cara

48

hidupn sehat. Walaupun demikian masih sebesar 14,5% persen responden teramati tidak tahu tentang cara hidup sehat bahkan bahkan sebesar 12,8% persen responden tidak pernah mendengar informasi tentang hidup sehat. Hal ini menguindikasikan bahwa kegiatan promosi kesehatan sudah cukup berperan namun blum mencapai tingkat optimal dalam merubah perilaku hidup sehat masyarakat. Informasi tentang hidup sehat dapat ditampilkan pada gambar berikut:

Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat sebesar 136 orang responden mendapatkan informasi hidup sehat. Kondisi ini semakin menunjukkan fakta bahwa perilaku masyarakat yang

diharapkan adalah yang bersifat pro aktif untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah terjadinya resiko penyakit, melindungi dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan peningkatan kesehatan , sebanyak 24 responden tidak pernah mendengarkan informasi hidup sehat dan bahkan sebanyak 28 orang tidak mengetahui informasi

49

tersebut. Hal ini disebabkan karena kurangnya penuluhan kesehatan kedaerah-daerah pedesaan.

Terkait dengan informasi penyakit menular diperoleh bahwa dari 188 responden sebanyak 129 orang atau 68,6%

yang tahu tentang informasi penyakit mneular dan 59 orang atau 31,4% yang tidak tahu tentang informasi penyakit menular.

Besarnya jumlah persentase responden yang mengetahui informasi penyakit menular , semakin menguatkan pandangan bahwa sebagian besar masyarakat sudah dapat merasakan keberhasilannya. Hal ini dapat dilihat dengan semakin menurunnya angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas) seperti penyakit malaria, penyakit demam berdarah , rabies, schitomiasis, filariasis, ISPA, penyakit diare, Penyakit kelamin, AIDS, Syipilis, infeksi , Gondok, TB Paru dan Hepatitis (Lihat Profil Kesehatan Sulawesi Tengah, 2005).

Berdasarkan data sekunder dari Hasil Laporan Subdin Bina P2 Dinkes Sulawesi Tengah (2004). bahwa penyakit menular terbagi atas dua bagian yaitu penyakit menular bersumber dari binatang dan penyakit menular langsung.

Demikian pula dengan informasi tentang HIV/AIDS .Hasil penelitian menunjukkan dari 188 orang atau sebnayak 109 orang (58%) tahu tentang informasi HIV/AIDS, 37 orang (19,7%) tidak tahu, dan 41 orang (21,9%) tidak paham informasi tentang

50

HIV/AIDS. Kondisi ini disebabkan kurangnya petugas kesehatan memberikan penyuluhan HIV/AIDS dan pencegahannya, hal ini sesuai dengan kondisi bahwa letak geografis Sulawesi Tengah sangat memungkinkan terjadinya penularan penyakit kelmain, karena Sulawesi Tengah terdapat beberapa pelabuhan laut yang meghubungkan dengan daerah lain disamping sebagai daerah tujuan wisata.

51

Disamping itu melalui kerjasama dengan instansi terkait Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah perlu digalakkan kampanye sadar HIV/AIDS.

3.5. Perilaku Sehat

Program perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat bertujuan memberdayakan individu, keluarga masyarakat dalam bidang kesehatan untuk memelihara , meningkatkan dan melindungi kesehatan lingkungan sendiri menuju masyarakat sehat mandiri dan produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 188 responden atau 41,5% memiliki perilaku sehat yang baik , dan 21 responden atau 11,2% perilaku sehat keluarga yang buruk.

Kondisi demikian disebabkan karena faktor tekanan ekonomi keluarga yang meliputi tingkat pendpatan rendah , pendidikan rendah sehingga dapat dikatakan bahwa kualifikasi yang dimilikinya tergolong dalam unskilled labour. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1. Gambaran Perilaku Sehat Keluarga Perilaku Sehat Jumlah Persen (%)

Sangat buruk 11 5,9

52

Baik 78 41,5

Biasa Saja 78 41,5

Buruk 21 11,2

Jumlah 188 100,0

Sumber: Hasil Survei Lapangan tahun 2004

Apabila perilaku sehat keluarga dapat dihubungkan dengan tingkat pendapatan masyarakat . Hal ini dilihat dari tingkat pendapatan responden pada tabel 4.2. berikut.

Pendapatan Jumlah Persen (%)

Pendapatan total

rendah 78 5,9

Pendapatan total

sedang 52 41,5

Pendapatan Total

Tinggi 58 41,5

Jumlah 188 11,2

Rata-Rata

Pendapatan Minimum= Rp. 50.000 Maksimum = Rp. 350.000

100,0

Sumber: Hasil Survei Lapangan tahun 2004

53

Dilihat dari distribusi pendapatan rendah ternyata sebagian besar responden sebanyak 78 orang atau 41,5% berpenghasilan rendah yaitu rata-rata pendapatan total minimum Rp. 50.000 per bulan dan berpenghasilan tinggi sebanyak 58 orang atau 30,9% dengan maksimum pendapatan total rata-rata Rp. 3.500.000 per bulan, sedngkan berpenghasilan sedang 52 orang atau 27,7%

menerima penghasilan rata-rata Rp. 50.000 hingga Rp. 3.500.00 per bulan.

Berpenghasilan rendah esarnya jumlah persentase terendah 41,5% disebbakan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan , seperti sekolah dan aktivitas transportasi yang tidak lancar, lahan pertanian sempit dan kondisi alam sangat mempengaruhi jenis pekerjaan yang mereka miliki, rendahnya penyediaan lapangan usaha , lingkungan kurang mendukung untuk mendapatkan pekerjaan. Kondisi lingkungan bila dikaitkan dengan pendapatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3. Keadaan Lingkungan Menurut Tingkat Pendapatan Total

Tingkat Pendapatan Total Keadaan

Lingkungan Rendah Sedang Tinggi Total Baik (Layak

Lingkungan) 15 (19,2%)

14 (26,9%)

27 (46,6%)

56 (29,8%

54 Sedang (Tidak

ada Drainase) 40 (51,3%)

28 (53,8%)

30 (51,7%)

98 (52,2%) Buruk

(Banyak sampah dan

tidak berjamban

20 (25,6%)

9 (17,3%)

1 (1,7%)

30 (15,9%)

Sangat Buruk

(Tidak Layak) 3 (3,8%)

1 (1,9%)

0 (0,%)

4 (2,1%)

Jumlah 78

(100%)

52 (100%)

58 (100%)

188 (100,0)

Sumber : Kesehatan Dasar di Sulawesi Tengah tahun 2004

Dari data tersebut tampak bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara lingkungan menuurt tingkat pendapatan yaitu dari 188 total responden sebanyak 15 responden atau 19,2%

berpendapatan tinggi yaitu maksimum Rp. 3.500.000 dan mempunyai lingkungan yang baik. Dan dari 40 responden atau 51,3% berpendapatan rendah dan 51,7% berpendapatan tinggi dengan lingkungan sedang tetapi tidak ada drainase. Sedangkan yang mempunyai lingkungan yang buruk rata-rata berpenghasilan rendah minimum Rp. 50.000 sebanyak 25,6%

dan tidak layak huni 3,8% dengan pendapatan rendah Rp.

50.000 per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keadaan

55

lingkungan cukup berpengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat.

Di Propinsi Sulawesi tengah dengan semakin baik keadaan lingkungan maka semakin tinggi tingkat pendapatnnya, selebihnya semakin buruk keadan lingkungan mencerminkan semakin rendah tingkat pendapatannya. Hal ini dapat tercermin pada perilaku masyarakat tentang hidup sehat. untuk melihat keadaan informasi hidup sehat menurut tingkat perilaku hidup sehat masyarakat yang tergambarkan pada tabel berikut.

Tabel. 4.4 Informasi Tentang Hidup Sehat Menurut Tingkat Perilaku Sehat

Tingkat Perilaku Sehat Keadaan

Lingkungan

Baik Biasa Buruk Total

Tidak Pernah

5 (5,7%)

15

(19,2%) 4

(18,2%) 24

(12,8%)

Pernah 74

(84,0%) 52

(66,7%) 10

(45,5%)

136 (72,3%)

Tidak Tahu 9 11 8 28

56

(10,2%) (14,1%) (36,4%) (14,9%) Jumlah 88

(100%) 78

(100,0%) 22

(100,0%) 188

(100,0%) Sumber: Hasil Survei Lapangan Tahun 2004

Perilaku kesehatan adalah hak-hak yang dilakukan oleh manusia yang didasari oleh pengetahuan sikap dan kemmapuan yang berdampak positif atau negatif terhadap kesehatan.

Dari hasil wawancara dilapangan ditemukan bahwa distribusi perilaku sehat berdasarkan informasi hidup sehat tampak bahwa sebagian besar res[onden sebanyak 74 responden (84%) berperilaku sehat baik karena mendapat informasi hidup sehat dan 18,2% perilaku sehat buruk karena tidak pernah mendapatkan informasi hidup sehta. Perilaku hidup sehat masyarakat dapat dilihat dari jumlah tatanam rumah yang merupakan perilaku hidup sehat bersih dan sehat . Berbagai upaya promosi kesehatan masih menyebabkan agar masyarakat berperilaku sehat telah dilakukan melalui kegiatan-kegiatan antara lain meliputi, advokasi untuk menghasilkan kebijakan perilaku hidup , pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan gerakan hidup sehat, bersih

57

dan terhindar dari berbagai jenis penularan penyakit seperti HIV dan AiDS . Untuk melihat salah satu indikator tentang HIV/AIDS dapat dilihat melalui informasi dibawah ini.

Informasi Tentang Hidup Sehat Menurut Tingkat Pendidikan

Penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan berdasarkan Kepres No. 36 tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS di Sulawesi Tengah telah dibentuk Pokja penanggulangan AIDS secara lintas sektor baik di Provinsi maupun 8 Kabupaten / Kota . Dismaping itu melalui kerjasama dengan BKKBN telah digalakkan kampanye keluarga sadar HIV/AIDS. Berdasarkan hasil kegiatan oleh Subdin Bina P2 telah ditemukan sebanyak 3 (tiga) orang penderita HIV, oleh karena itu pengamatan pada kelompok risiko tinggi (WTS, NAPI) Waria, dan petugas panti pijat) dengan pemeriksaan HIV harus dilakukan secara intensif.

Berdasarkan data distribusi frekuensi informasi tentang HIV/AIDS menuurt tingkat pendidikan dapat dilihat gambar berikut:

58

Dari hasil penelitian ternyata dari 188 responden sebanyak 62 orang dengan tingkat pendidikan sedang, tahu tentang informasi HIV/AIDS, dan 19 orang tidak tahu informasi tentang HIV dan AIDS selebihnya 16 orang tidak paham HIV/AIDS dengan tingkat pendidikan rendah yaitu pendidikan SD ke bawah. Dari data tersebut diatas terdapat perbedaan signifikan antara informasi HIV/AIDS menurut tingkat pendidikan .

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap informasi HIV/AIDS

59

diamna semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tahu tentang informasi HIV./AIDS selebihnya semakin rendah tingkat pendidikan rendah semakin tidak tahu dan tidak paham tentang informasi HIV/AIDS. Rendahnya pemahaman tentang HIV/AIDS disebabkan oleh karena rendahnya petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat tentang pennaggulangan dan cara pencegahannya karena HIV/AIDS salah satu penyakit yang mudah menular dan salah satu penilaian indikator perilaku sehat masyarakat. Kondisi baik dan buurknya kesehatan masyarakat tergantung pada perilaku hisup sehat dan tingkat pendapatan masyarakat. (S Soemantri, 2002).

3.6. Perilaku Hidup Sehat Menurut Tingkat Pendidikan Perilaku hidup sehat danlingkungan kesehatan merupakan garapan utama informasi eksehatan. Diakui bahwa untuk melakukan perawatan kesehatan atau pengobatan diperlukan biaya yang mahal. Oleh sebab itu perilaku untuk menjaga waktu sehat, dan merawat apabila sakit diperlukan biaya tersendiri, karena kesehatan sangat mahal dan merupakan prioritas yang diutamakan oleh masyarakat dan sangat tergnatung pada tingkat pendapatan masyarakat.

60

Distribusi perilaku hidup sehat responden menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5. Perilaku Sehat Responden Menurut Tingkat Pendapatan

Kategori Pendapatan Total Perilaku

HIdup Sehat

Rendah Sedang Tinggi Total

Sangat

Baik 3

(3,8%)

0 (0.0%)

3 (5,2%)

3 (5,2%)

Baik 45

(57,7%)

23 (46,23%)

33 (56,9%)

102 54,3%) Sedang 21

(11,5%)

23 (44,22%)

19 (32,19%)

63 (33,5%)

Buruk 9

(11,5%)

5 (9,6%)

3 (5,2%)

17 (9,0%) Jumlah 78

(100,0)

52 (100%)

58 (100,0%)

188 (100%) Sumber: Hasil Survei Lapangan tahun 2004

Dari hasil tabel diatas tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hidup sehat berpengaruh pada tingkat pendapatan dari total responden 188 sebanyak 45 responden atau 57,7% dengan pendapatan terendah minimum Rp.

61

50.000 berperilaku hidup sehat yang baik, dan 33 responden atau 56,9% mempunyai pendapatan total tinggi (maksimum ) rata-rata Rp. 3.500.000 berperilaku hidup sehat.

3.7 Informasi Tentang Cara Cegah Penyakit Menular Di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat 133 puskesmas dari 9 kabupaten/kota menunjukkan bahwa pada pelayanan pemberantasan penyakit menular telah ditemukan 1616 orang menderita TB Paru, yang telah diobati sebanyak 1925 orang dan dinyatakan sembuh sebanyak 985 orang. Data menunjukkan Bahwa pada pelajaran pemberantasan penyakit menular telah diobati 31.871 orang, sedangkan yang telah diperiksa 7.498 orang dan penderita positif malaria 401 orang (Profil Kesehatan Sulawesi Tengah 2005 ) dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.6. Informasi Pemahaman Cara Cegah Penyakit Menular

INFORMASI PENYAKIT MENULAR Pemahaman

Cara Cegah Tidak Tahu Tahu Total

Tidak Tahu 51

(91,5%) 41

(31,8%) 94

(50,5%)

Tahu 5

(8,5%) 87

(67,4%) 92

(48,9%)

Tidak Paham 0 1 1

62

(0%) (0,8%) (0,8%)

Jumlah 59

(100%) 129

(100%) 188

(100%) Sumber : Hasil Survei Lapangan tahun 2004

Dari tabel diatas tampak bahwa dari 188 responden sebanyak 51 orang atau 91,5,5% tidak tahu informasi penyakit menular dan tidak tahu cara pencegahannya dan 92 orang atau 48,9%

tahu tentang penyakit menular dan cara penanggulangannya, sedang 0,8% tidak paham informasi penaykit menular dan cara pencegahannya.

Besarnya persentase ketidaktahuan penyakit menular dan cara penanggulangan disebabkan oleh karena kurangnya petugas kesehatan memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang penyakit menular dan pemahaman tentang cara cegah, sehingga jumlah sebahagian penderita penyakit menular semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil laporan (Subdin Bina P2 Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah 2004 )

1. Diare

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Sulawesi Tengah. Dan sering menimbulkan kejadian luar biasa. Pada tahun 2002 jumlah penderita penyakit diare di puskesmas meningkat sebanyak 28,278, dirumah sakit

63

sebanyak 6.090 sehingga total menjadi 34,368 penderita (3,63%).

Berdasarkan laporan dari kabupaten di Sulawesi Tengah pada tahun 2002 telah terjadi KLB Diare, DHF, AFP, Campak, Tetanus,Gizi, difteri menyerang 4 kabupaten dengan jumlah penderita meningkat sebanyak 90 jiwa (ATTAC rate = 1,56%) dengan kematian 18 (CFR=

1,98%).

2. Kusta

Pervalensi kusta di Sulawesi Tengah cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 1990 prevalensi kusta 1,2% dan menurun tahun 1998 menjadi 0,33%. Pada tahun 2002 jumlah penderita kusta yang terobati dipuskesmas terjadi penerimaan sebesar 30,99% bila dibandingkan dengan tahun 2000 yaitu 342 orang pada tahun 2002.

3. Frambusia

Pemberantasan penyakit frambusia bertujuan untuk menurunkan angka kematian penderita menular sampai 0,01% dan sekaligus memutuskan mata rantai penularan pada 1998 penderita yang ditemukan sebanyak 15 penderita menular dan bahkan dikota palu dan kanupaten Buol, Toli-Toli telah terbebas dari penyakit frambusia pada tahun 1999 jumlah penderita yang ditemukan sebanyak 41

64

orang dan tahun 2000 penyakit frambusia ditemukan 15 orang di kabupaten Morowali.

4. Malaria

Upaya pemberantasan penyakit malaria dilakukan melalui (1) penemuan dan pengobatan penderita yaitu penemuan penderita secara aktif (acd) = active case detection. Pemberantasan vector yang dilakukan dengan penyemprotan rumah dengan insektisida, pemakaian kelambu yang dicelup dengan insektisida, penebaran akan pemakaian jentik nyamuk, di Sulawesi Tengah pada tahun 2002 terdapat penderita malaria klinis 57,299 orang dan positif 6,269 orang dengan angka kesakitan meningkat 2.699,86.

5. Tuberkulosis

Sulawesi Tengah merupakan daerah uji coba P2 TB Pary terhadap dan menyebabkan penyakit menular. Pada tahun 1997/1998 penderita 15.550 dengan angka kesembuhan 87,2%. Sementara pada tahun 1998/1999 penderita yang diobati meningkat 1651 (106,5%) penderita paru 1650 sementara pada tahun 2000 diobati 596 penderita dengan angka kesembuhan (Profil Dinas Keshatan Sulawesi Tengah, 2005).

65

3.8. Air Bersih

Salah satu faktor untuk melihat perilaku sehat masyarakat yaitu penyediaan air bersih. Didalam penyediaan air bersih terdiri dari 2 (dua) aspek yang harus diperhatikan yaitu.

Kategori perilaku sehat air minum dimasak terdiri dari dua aspek yaitu pertama : kualitas penyediaan air bersih dapat dilihat dari cakupan penggunaan sarana air bersih (SAB) kedua: secara kualitas ditentukan oleh kualitas air serta tingkat pencemaran sarana air bersih.

Menurut data Susenas. 1999 cakupan penggunaan sarana air bersih memiliki syarat kesehatan di masyarakat tidak jauh berbeda dengan angka Susenas yaitu 60,08%.

Sedangkan pada tahun 2001 persentase KK yang mempunyai SAB adalah 73,33%. Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi terhadap 43,376. SAB pada tahun 2000, meningkat bahwa masih terdapat 31,67% SAB yang tingkat resiko pencemarannya tinggi dan amat tinggi. Menurut laporan dari SST pada tahun 2000 cakupan penyediaan air bersih terhadap penduduk sebesar 66,19%, berdasarkan kualitas, pemeriksaan fisik SAB yang memmiliki syarat sebesar 93,4%, berdasarkan

66

pemeriksaan kimiawi yang memiliki syarat sebesar 96,4%

sedangkan berdasarkan pemeriksaan bakteriologis yang memenuhi syarat sebesar 62,6%. Hasil penelitian menunjukkan air minum sehat dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.7 Kategori Perilaku Sehat Air Minum Dimasak AIR MINUM

Kategori Perilaku Sehat

Dimasak Tidak di Masak Total Perilaku

sehat baik 88

(47,6%) 1

(33,3) 89

(47,3%) Perilaku

sehat biasa 77

(41,6%) 1

(33,3%) 78 (41,5%) Perilaku

sehat buruk 20

(10,8%) 1

(33,3%) 21 (11,21%)

Jumlah 85

(100,%) 3

(100%) 188 (100%) Sumber : Hasil Survei Lapangan tahun 2004

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa besarnya persentase air minum di masak yaitu dari 180 orang responden sebanyak 88 orang atau 47,6% air minum dimasak dengan kategori perilaku sehat (baik) artinya masyarakat berperilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari

67

ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat yang kepeduliannya berperilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan 33,3% air minum tidak dimasak persentasenya relative kecil 33,3%. Dengan kategori perilaku sehat buruk yaitu berbagai aspek lingkungan yang membutuhkan perhatian tersedianya air minum dimasak, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat sehingga menyebabkan berperilaku sehat yang baik dan mengkonsumsi makanan yang bergizi sesuai dengan standar kesehatan empat sehat lima sempurna.

3.9. Status Gizi

a. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR 2500 gram)

Secara umum provinsi Sulawesi Tengah belum mempunyai angka untuk BBLR yang diperoleh berdasarkan survey. Pada tahun 2002 provinsi BBLR diketahui berdasarkan laporan dariu kabupaten yang sifatnya kasar karena hanya 8 kabupaten/kota yang melaporkan kasus BBLR dengan jumlah 419 kasus (1,53%) dengan kisaran terendah 0,12% (Banggai Kepulauan) dan tertinggi 3,98% (Toli-Toli).

b. Status Gizi Balita

68

Dari hasil pemantauan status gizi (PSG) pada 34.651 Balita di provinsi Sulawesi Tengah tahun 2000 terlihat bahwa 638 (1,83%) yang mengalami gizi buruk 5.534 (15,97%), gizi kurang 27,960 (80,69%), gizi baik dan 591 (1,50%) balita yang mempunyai gizi lebih. Pada tahun 2002 diper

Tabel 4.8 Status Gizi Balita Menurut Kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Tengah

Laporan dari Kabupaten/Kota sebagai berikut.

No Kab Kota Gizi Buruk

Gizi Kurang

Gizi Baik

Gizi Lebih 1 BanggaiKepulauan 84 499 2.247 18

2 Banggai 14 414 1,592 0

3 Morowali 49 276 1.520 3

4 Poso 120 493 2.282 52

5 Donggala 141 941 5.901 87

6 Parigi Moutong 62 561 8.704 63

7 Toli-Toli 58 815 2.237 90

8 Buol 25 388 2.965 49

9 Palu 35 344 1.356 46

10 Propinsi 574 4317 27.212 418 Sumber: Laporan PSG Kabupaten/Kota

69

C. Gizi Kurang Pada Anak Baru Masuk Sekolah

Akibat dari tingginya BBLR dan kurang gizi pada balita berkelanjutan pada anak usia baru masuk sekolah, gizi kurang pada anak baru masuk sekolah tidak dapat meningkat karena tidak ada data yang mendukung. Hasil data primer tentang informasi pemberian gizi pada bayi, balita dan anak (Tabel 17 dibawah ini)

Tabel 4.9 Informasi Tentang Pemberian Gizi Bayi/Balita dan Anak Menurut Pendidikan

Tingkat Pendidikan

Informasi Tentang

Pemberian Gizi Anak Rendah Sedang Tinggi Total

1.Tidak 32

(55,2%) 30 (29,4)

3 (11,5)

65 (34,9%)

2.Ya 26

(44,8%) 72 (70,6%)

23 (88,5%)

121 (65,1%)

Jumlah 58

(100%)

102 (100%)

26 (100%)

188 (100%) Sumber : Hasil Survei Lapangan tahun 2004

Berdasarkan indeks pembangunan manusia (IPM) menurut Asplund, Indonesia sebenarnya sudah mengalami kemajuan dalam upaya mengurangi jumlah orang miskin sejak 13 tahun yang lalu. Namun, untuk indicator lainnya seperti penurunan angka kasus kekurangan gizi di Sulawesi Tengah masih

70

terlambat bahkan secara proporsional tingkat keparahan kekurangan gizi pada anak meningkat, sehingga menyebabkan kualitas manusia relative rendah.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan ternyata tingkat pendidikan berpengaruh pada informasi tentang pemberian gizi pada bayi balita dan anak, dari 188 total responden dari 72 orang atau (70.6%) dengan rata-rata berpendidikan sedang mengetahui cara pemberian gizi bayi, balita dan anak dan (55,2%) responden tidak mengetahui cara pemberian gizi yang baik pada bayi/balita dan anak, dengan rata-rata berpendidikan rendah.

Di dalam indeks pembangunan manusia (IPM) perbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja. Rendahnya tingkat gizi kesehatan bayi, balita dan anak disebabkan oleh rendahnya tingkat penghasilan, pengetahuan dan informasi pemberian gizi. Hal ini tercermin dalam tingkat pengeluaran dan penghasilan yang rendah serta tingkat upah yang rendah, menyebabkan produktifitas kerja rendah sehingga mencerminkan memburuknya kualitas manusia di Sulawesi Tengah.

71

3.10. Faktor Penentu Kesehatan Dasar

Beberapa faktor penentu kesehatan dasar masyarakat pada studi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan regresi logistic. Pendekatan ini mampu mengestimasi faktor yang menentukan variabel bebas dengan skala nominal.

Hosmer dan Lemeshow (1989) serta Bhisma, Murti (1997) mengisyaratkan bahwa dalam membangun model yang baik pada regresi logistic perlu dilakukan analisis univariat dalam penyaringan awal, variabel-variabel bebas yang dapat digunakan dalam membentuk model yang baik adalah variabel dengan kemaknaan statistic yang cukup besar (P = 0,25).

Berdasarkan hasil kajian univariat untuk menentukan faktor penentu variabel bebas (Outcome) yang relevan terhadap kesehatan dasar mmasyarakat, berikut akan disajikan beberapa variabel yang diduga relevan sebagai predictor kesehatan dasar masyarakat.

72

Tabel 4.10 Komponen Variabel Penentu Kesehatan Dasar Masyarakat Di Sulawesi Tengah Tahun 2004

No. Nama Variabel p Statistik 1 Tingkat Pendidikan responden 0,009

2 Umur Responden 0,024

3 Jenis Pekerjaan Responden 0,000 4 Preferensi terhadap kesehatan 0,156

5 Pengeluaran kesehatan 0,002

6 Preferensi tentang Nilai Sehat 0,000 7 Keadaan Rumah Tempat Tinggal

Responden 0,007

8 Ketersediaan Air Bersih 0,082

9 Keadaan Ventilasi 0,012

10 Ketersediaan Jamban Keluarga (WC) 0,027 Sumber : Hasil Survei Lapangan Tahun 2004

Data Diolah dengan menggunakan program SPSS versi 11.5

Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah tingkat pendidikan formal terakhir yang ditamatkan oleh responden. Tingkat pendidikan ini, diukur dalam tiga kategori, yaitu pendidikan tinggi, pendidikan rendah dan lainnya. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat

73

pendidikan responden maka semakin baik pula keadaan kesehatan dasar.

Umur responden terbagi atas tiga kategori, yaitu umur tua, umur muda dan lainnya. Hasil univariat menunjukkan ada hubungan positif antara kategori umur dengan keadaan kesehatan dasar responden. Pada responden yang tergolong umur tua cenderung memiliki kesehatan dasar yang baik.

Demikian pula halnya dengan jenis pekerjaan, responden terpilah dalam kategori bekerja pada pekerjaan formal, pekerjaan pertanian dan lainnya. Kesehatan dasar cenderung lebih baik pada responden yang bekerja sebagai pekerja formal dibandingkan responden yang bekerja pada sektor pertanian (Non Formal) dan lainnya.

Preferensi terjadap kesehatan dalam studi ini adalah pandangan responden akan pentingnya kesehatan. Preferensi ini terbagi atas dua pilihan yaitu, kesehatan dianggap sebagai hal yang penting dan bukan sebagai hal penting dalam kehidupan keluarga kesehatan dasar cenderung lebih baik pada responden yang memiliki pandangan bahwa kesehatan menjadi hal penting dalam kehidupan keluarga dibandingkan responden yang tidak menganggap kesehatan adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan keluarga. Sementara preferensi nilai sehat terbagi atas tiga kategori, yaitu kesehatan mempunyai nilai yang mahal,

Dalam dokumen Survei Kesehatan Dasar di Sulawesi Tengah (Halaman 54-103)

Dokumen terkait