• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survei Kesehatan Dasar di Sulawesi Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Survei Kesehatan Dasar di Sulawesi Tengah"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

Tujuan penyusunan buku ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai kesehatan dasar di Sulawesi Tengah, sebagai landasan bagi Pemerintah Daerah untuk menyusun program pembangunan kesehatan khususnya bagi masyarakat luas. Intervensi yang dilaksanakan untuk meningkatkan status kesehatan dasar masyarakat, khususnya masyarakat rentan atau rentan, akan sangat membantu dalam meningkatkan status kesehatan secara keseluruhan. Suatu kebanggaan tersendiri dapat dilaksanakannya penelitian ini dan dituangkan dalam bentuk buku kecil yang diharapkan dapat dibaca oleh para pengambil keputusan, pelaksana program kesehatan, petugas dan bidan kesehatan, pelajar dan masyarakat yang berkepentingan. di bidang kesehatan dasar.

Latar Belakang

Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian, khususnya kematian bayi, dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990, angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup menunjukkan jumlahnya 90 laki-laki dan 74 perempuan, setelah itu pada tahun 2000 angka kematian bayi secara keseluruhan turun menjadi 60 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2005). Untuk itu, upaya penurunan angka kematian bayi masih diperlukan untuk menjamin keberhasilan program pembangunan kesehatan daerah.

Masalah yang dihadapi

Beberapa faktor dasar kesehatan masyarakat dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan regresi logistik. Status kesehatan dasar umumnya lebih baik pada responden yang bekerja sebagai pekerja formal dibandingkan dengan responden yang bekerja di sektor pertanian (informal) dan sektor lainnya. Responden yang berpendapat bahwa kesehatan itu mahal umumnya memiliki kesehatan dasar yang lebih baik dalam keluarganya dibandingkan dengan responden yang tidak menghargai kesehatan.

Responden dengan pengeluaran kesehatan yang relatif tinggi cenderung memiliki layanan kesehatan dasar yang lebih baik dibandingkan responden dengan pengeluaran kesehatan sedang dan rendah. Pelayanan kesehatan dasar keluarga pada umumnya lebih baik pada responden dengan kondisi hidup yang relatif lebih baik dibandingkan pada responden dengan kondisi hidup buruk. Responden yang bekerja sebagai petani mempunyai peluang sepertujuh puluh (lebih kecil) untuk mendapatkan kesehatan dasar yang baik dibandingkan responden yang bekerja di sektor formal.

Responden yang berpendapat bahwa kesehatan itu tidak mahal mempunyai peluang dua puluh lima kali (lebih kecil) untuk mempunyai kesehatan dasar yang baik dibandingkan responden yang menganggap kesehatan itu mahal, setelah dilakukan pengendalian terhadap jenis pekerjaan, pengeluaran kesehatan dan ventilasi rumah. Kondisi suhu udara yang baik pada suatu rumah hunian mempunyai hubungan positif dengan kondisi kesehatan dasar masyarakat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa responden dengan kriteria tersebut di atas mempunyai probabilitas (probabilitas) mempunyai kesehatan dasar yang baik hanya sebesar 14,2%.

Hasil observasi menunjukkan bahwa 94 responden memiliki kesehatan yang buruk, model berhasil memprediksi bahwa 67 responden memiliki kesehatan dasar yang sangat buruk dan sisanya 27 responden diprediksi memiliki kesehatan dasar yang baik. Model prediksi yang dibangun berhasil memprediksi bahwa 74 responden sebenarnya memiliki kesehatan dasar yang baik dan sisanya sebanyak 19 orang diperkirakan merupakan responden dengan kesehatan dasar yang buruk. Oleh karena itu, model tersebut berhasil memprediksi bahwa 79,6% responden sebenarnya memiliki kesehatan dasar yang baik.

Secara keseluruhan model prediksi yang dibangun mampu memprediksi hasil observasi yang menunjukkan bahwa responden yang mempunyai kesehatan dasar sangat baik dan responden yang benar-benar memiliki kesehatan dasar buruk sebanyak 75,4%, hasil tersebut terlihat pada tabel berikut. Jenis pekerjaan, pengeluaran kesehatan, nilai kesehatan dan ketersediaan ventilasi yang memadai di rumah dicatat sebagai faktor penentu status kesehatan dasar responden.

Gambar 1. Model Umum Untuk Studi Faktor Penentu  Kematian Bayi
Gambar 1. Model Umum Untuk Studi Faktor Penentu Kematian Bayi

Harapan Pembahasan

Manfaat yang diharapkan

Perkembangan ini semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses pusat kesehatan, khususnya pusat layanan kesehatan primer. Secara statistik, jenis pekerjaan justru menentukan status kesehatan dasar masyarakat; terdapat perbedaan peran pada kategori jenis pekerjaan. Responden yang rumahnya memiliki ventilasi yang cukup memiliki peluang dua kali lebih besar (lebih besar) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar yang baik dibandingkan dengan responden yang rumahnya tidak memiliki ventilasi yang cukup.

TINJAUAN PUSTAKA

Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pemanfaatan pusat pelayanan kesehatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu yaitu kondisi sosio-demografi dan psikologis masyarakat. Lebih lanjut Notoatmojo (1993) menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan salah satu aspek gaya hidup yang ditentukan oleh lingkungan sosial, fisik, dan psikologis. Masalah utama pada struktur sosial penggunaan layanan kesehatan masyarakat adalah penulis tidak mengetahui mengapa variabel-variabel tersebut mengarah pada penggunaan layanan kesehatan.

Perilaku

Menurut (Notoatmojo, 1993), dalam pelaksanaan program kesehatan, untuk memperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma kesehatan, sangat diperlukan upaya yang konkrit dan positif. Cara ini akan menghasilkan perilaku yang cepat, namun perubahan tersebut belum tentu berlangsung lama, karena perubahan perilaku yang terjadi tidak didasari oleh kesadaran diri sendiri. Hasil dari perubahan perilaku dan strategi akan memakan waktu yang cukup lama, namun perubahan yang dicapai akan bertahan lama karena didasari oleh kesadaran sendiri dan bukan karena paksaan.

Kinerja Petugas Kesehatan

Menurut Hasibuan (2005), ada dua jenis penilaian prestasi kerja, yaitu: penilaian informal dan penilaian formal. Penilaian prestasi kerja merupakan suatu kegiatan formal yang sebaiknya dilakukan oleh setiap organisasi atau lembaga dalam upaya mengukur tingkat pencapaian tujuan suatu organisasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Hasibuan, 2005) yang menyatakan bahwa evaluasi prestasi kerja merupakan prosedur formal yang dilakukan dalam organisasi untuk mengevaluasi pegawai serta kontribusi dan kepentingan pegawai.

Kerangka Teori dan Ukuran-Ukuran

Angka Kematian Bayi (AKB) menunjukkan jumlah kematian bayi per tahun per seribu kelahiran pada tahun yang sama. Secara medis, faktor penyebab kematian akibat penyakit ini dapat diketahui. a) Faktor penyebab kematian bayi (di bawah 1 tahun) antara lain infeksi saluran pernafasan atas, diare, pneumonia, penyakit saluran cerna, gejala kejang, penyakit susunan saraf, infeksi virus, kelainan kongenital dan difteri, serta lain-lain. faktor internal selama kehamilan dan faktor eksternal lainnya.Penyakit menular antara lain tubocolosis, pneumonia, malaria, infeksi saluran pernafasan atau saluran kemih dan organ reproduksi.

Karakteristik Komoditi Kesehatan

Penyakit tidak menular antara lain kanker, penyakit pembuluh darah otak, penyakit jantung iskemik, diabetes, dan sirosis hati. Kesehatan merupakan hasil konsumsi untuk menjaga kesehatan sekaligus modal untuk produksi dan investasi yang lebih baik. Biaya layanan kesehatan meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan, dan penyakit juga dapat mempengaruhi pendapatan (kemampuan bekerja).

Definisi Kesehatan

Hasil observasi belanja kesehatan oleh responden terpilih menunjukkan bahwa belanja kesehatan setiap bulannya bervariasi antara Rp. Artinya dari 188 responden terpilih, sebagian besar mempunyai sejumlah pengeluaran untuk itu. Berdasarkan hasil studi univariat untuk menentukan determinan variabel independen (Outcome) yang relevan dengan baseline kesehatan masyarakat, di bawah ini kami sajikan beberapa variabel yang dianggap relevan sebagai prediktor baseline kesehatan masyarakat.

Preferensi ini terbagi menjadi dua pilihan yaitu kesehatan dianggap sebagai hal yang penting dan bukan hal yang penting dalam kehidupan berkeluarga. Kesehatan dasar cenderung lebih baik pada responden yang berpendapat bahwa kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan berkeluarga dibandingkan dengan responden yang berpendapat bahwa kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan berkeluarga. tidak percaya bahwa kesehatan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan berkeluarga. Hasil perhitungan multivariat dengan metode forward stepwise menghasilkan variabel jenis pekerjaan, pengeluaran kesehatan, nilai kesehatan dan variabel ventilasi yang pada tahap akhir masih menjadi prediktor kesehatan dasar masyarakat. Dari hasil penentuan determinan dasar kesehatan di masyarakat, terdapat dua hal yang mungkin menjadi perhatian bagi puskesmas setempat, yaitu perilaku gaya hidup menuju pola hidup yang lebih sehat walaupun dengan fasilitas yang terbatas.

Oleh karena jenis pekerjaan dan pengeluaran merupakan faktor penentu kondisi kesehatan dasar, maka perlu adanya peningkatan motivasi kerja agar kinerja dapat meningkat yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan keluarga.

Sistem Keehatan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Fertilitas dan Gizi

Hasil SDKI tahun 2003 menunjukkan Angka Kesuburan Total (Total Fertility Rate/TFR) Sulawesi Tengah mengalami peningkatan dibandingkan SDKI tahun 1997. Pada data SDKI tahun 2003, TFR Sulawesi Tengah sebesar 3,2, sedangkan pada hasil SDKI tahun 1997 hanya TFR regional saja. 2.86. Peningkatan TFR ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: Pertama, kelembagaan BKKBN yang gencar memberikan pelayanan terhadap kegiatan program KB, pada tahun 2001 intensitas kegiatan lembaga ini menurun akibat kebijakan otonomi yang diterapkan pada lembaga tersebut. tingkat nasional, sehingga lembaga ini juga didedikasikan untuk daerah, akibatnya keberadaan kegiatan ini dipertanyakan.

Data dan informasi kemiskinan BPS tahun 2003 menunjukkan persentase penggunaan KB di daerah ini pada tahun 2001 sebesar 69.055 dan pada tahun 2002 menurun menjadi 51,06%. Sesuai dengan pernyataan tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak kandung yang dimiliki seorang laki-laki dan perempuan minimal 2 orang, sedangkan jumlah anak kandung dalam satu keluarga maksimal 7 orang. Rata-rata di wilayah ini setiap pasangan suami istri mempunyai 2,84 anak atau median 3 orang.

Namun jika dikelompokkan ke dalam kategori tertentu (banyak, sedang, dan sedikit), maka 47,9% responden tergolong mempunyai anak sedikit, 38,8% tergolong pasangan suami istri yang mempunyai anak sedang, dan 13,3% lainnya tergolong suami istri. pasangan. tergolong mempunyai jumlah anak yang banyak. Bila dilihat dari status gizi masyarakat, data tahun 2002 menunjukkan status gizi anak gizi buruk sebanyak 574 orang, gizi kurang sebanyak 4.137 orang, gizi baik sebanyak 27.212 orang, dan gizi lebih sebanyak 408 orang. Relatif besarnya jumlah anak kecil yang mengalami gizi buruk tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat, hal lain yang juga mempengaruhi gizi anak kecil adalah perilaku hidup sehat ibu yang memiliki anak kecil, hal ini disebabkan oleh dua hal. kemungkinan, yaitu pengetahuan.

Hasil survei menunjukkan bahwa dari 188 responden, sebanyak 34,6% menyatakan tidak mengetahui permasalahan gizi anak, dan sebanyak 65,4% menyatakan mengetahui cara memberikan makanan bergizi kepada anak.

Pengetahuan dan Sikap Terhadap

Besarnya persentase masyarakat yang mengatakan bahwa biaya kesehatan mahal semakin memperkuat pandangan bahwa pelayanan atau pengobatan kesehatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu perilaku menjaga hidup sehat, merawat seseorang ketika sakit melalui jaminan asuransi kesehatan sangat diperlukan. diperlukan, namun persentase penduduk yang mempunyai dana. Jaminan kesehatan masih tergolong rendah sehingga kesehatan menjadi salah satu prioritas yang harus diprogram. Dari uraian di atas, dari 188 responden, sebanyak 142 responden menyatakan kesehatan adalah prioritas utama dan hanya 3 responden yang menganggap kesehatan tidak penting karena masyarakat mengutamakan kebutuhan primer. Penyediaan air bersih dinilai dapat menjadi gambaran salah satu aspek perilaku keluarga sehat. Ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni aspek kuantitas dan aspek kualitas.

Dari segi kuantitas, penyediaan air bersih dapat dilihat dari tahapan penggunaan Sarana Air Bersih (SAB). Masyarakat memahami penggunaan air bersih tanpa kuman dan pencemaran air.

Penyehatan Perumahan

Gambar

Gambar 1. Model Umum Untuk Studi Faktor Penentu  Kematian Bayi
Tabel 4.3. Keadaan Lingkungan Menurut Tingkat Pendapatan  Total
Tabel 4.5. Perilaku Sehat Responden Menurut Tingkat  Pendapatan
Tabel 4.7 Kategori Perilaku Sehat Air Minum Dimasak  AIR MINUM
+5

Referensi

Dokumen terkait

năm 2018 của Bộ Y tế quy định về Thực hành tốt bảo quản thuốc, nguyên liệu làm thuốc, sau khi tiến hành tự thanh tra và đánh giá đạt yêu cầu; cơ sở chúng tôi xin đề nghị với Bộ Y tế Cục

The results of our study demonstrate that Kazakhstani women with a history of recurrent pregnancy loss have higher levels of stress, depression, and anxiety in comparison with women who