PEOPLE POWER DAN ANOMALI NIR-
dakwah. Kedua, metode people power akan menimbulkan kekacauan luar biasa yang bisa mengorbankan hak milik umum, negara dan kepentingan rakyat, serta bisa memicu konflik horisontal. Ketiga, cara ini berbahaya, karena seperti pada kasus di Suriah (kudeta IM pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an pen.), upaya yang dilakukan IM akhirnya menimbulkan stigmatisasi dan generalisasi pada hal-hal yang berbau Islam. Dengan demikian, kata Hafidz Abdurrahman upaya people power harus dicegah.3 Hafidz Abdurrahman melanjutkan pembahasan tentang people power ini pada majalah Al-Wa’ie edisi berikutnya dengan mempertajam kesalahan people power menurut syariah. Salah satu kesalahan yang dibahas oleh pemimpin DPP HTI adalah sekalipun people power bisa menekan ahl al-nusrah agar mau mendukung dakwah, tetapi dukungan akibat tekanan adalah semu, bukan hakiki. Padahal menegakkan syariah membutuhkan keyakinan dan pemahaman, bukan paksaan.4
Paradoksnya, kerusuhan di Libya yang menjadikan Khaddafi terguling justeru setelah Khaddafi terbunuh, Hizbut Tahrir Libya mengucapkan selamat atas tumbangnya penguasa yang dianggap tiran tersebut.5 Demikian juga dalam kisruh di Suriah, Hafidz Abdurrahman yang pada tahun 2008 melarang people power justeru menggelorakan semangat konfrontasi di Suriah. Hafidz Abdurrahman menjelaskan, revolusi Suriah berbeda dengan revolusi rakyat di Tunisia, Mesir, Bahrain, Libya, Yaman dan beberapa wilayah yang lain. Ciri yang membedakan Revolusi Suriah dengan Revolusi di Dunia Arab lainnya adalah sifat
3 Hafidz Abdurrahman, “Bagaimana ‘People Power’Menurut Syariah Islam? “, 33-35.
4 Hafidz Abdurrahman, “Mengapa ‘People Power’ Salah Menurut Syariah? “, Al- Wa’ie no. 97 tahun XI (September-2008), 48.
5 http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/leaflet/libya/1007.html (5 Maret 2018).
keislamannya. Jika Revolusi di dunia Arab lainnya menuntut ditumbangkannya rezim boneka, maka Revolusi Suriah menuntut diterapkannya syariah dan tegaknya khilafah.
Hizbut Tahrir memobilisasi para kombatan di sana untuk menandatangani Mithaq al-‘Amal li Iqamat al-Khilafah. Hizbut Tahrir juga telah menyiapkan RUUD negara khilafah yang siap kapan saja diterapkan. Mereka juga telah menyiapkan para aktivis terbaiknya untuk menjalankan roda pemerintahan.6 Nalar Hafidz Abdurrahman yang melarang people power ini bertentangan dengan pendapat juru bicara HTI, Ismail Yusanto. Yusanto menjelaskan bahwa khilafah hanya mungkin tegak jika terpenuhi tiga syarat sekaligus: adanya inividu yang memiliki otoritas sebagai khalifah; ada wilayah sebagai tempat otoritas itu bisa dijalankan; ada dukungan dari rakyat.7 People power adalah dukungan nyata dari rakyat. Tentu pendapat para petinggi HTI yang bertentangan ini adalah absurd dan naif, hal yang sangat urgen dan mendasar untuk menegakkan khilafah ternyata masih belum terformulasi dengan baik, buktinya sesama pengurus pusat HTI berbeda pandangan.
Tidak hanya masalah people power saja terjadi silang sengkarut, menurut Hizbut Tahrir, perjuangan untuk penegakan khilafah adalah nir-kekerasan. Namun dalam kasus perang di Suriah membuktikan banyak aktivis Hizbut Tahrir Suriah ikut memerangi Bashar al-Assad, bahkan Bahrun Naim mantan anggota HTI ikut perang di Suriah.
Hal tersebut diakui oleh juru bicara HTI sewaktu menggelar acara konferensi pers pada saat berlangsungnya Muktamar
6 http://hizbut-tahrir.or.id/2013/01/06/detik-berdirinya-khilafah-kian-dekat/ (8 No- vember 2014).
7 Jubir HTI, M. Ismail Yusanto, “Menegakkan Khilafah Perlu Tiga Syarat,“ Al- Wa’ie, nomor 108 tahun IX (Agustus-2009), 98.
khilafah di stadion Gelora Bung Karno, tapi dengan alasan,
“Secara personal, anggota Hizbut Tahrir terlibat dalam jihad di Suriah, karena dalam kondisi seperti di Suriah secara fardhu ain, jihad menjadi wajib bagi seseorang ketika diserang.”8 Tentu alasan Ismail Yusanto tersebut dapat dipatahkan.
Semua paham, pemerintahan Assad di Suriah adalah absah dan bukan penjajah. Kemudian terjadi pemberontakan, dan HT Suriah menunggangi huru-hara yang terjadi sekaligus terlibat peperangan untuk menegakkan khilafah. Yusanto akan lebih tidak berkutik bila disodorkan dokumen politik Hizbut Tahrir Suriah yang secara resmi menjelaskan perang Suriah sebagai peperangan hidup dan mati untuk menjatuhkan rezim diktator, dan mendirikan khilafah. Berikut penggalan redaksi dokumennya dengan diambil poin pertama dan keenam,
“…Setelah kita mengokohkan titik tolak keimanan kita, yang dengannya, kita masuk ke medan peperangan hidup mati ini, maka tidak tersisa lagi melainkan menentukan langkah-langkah kerja utama yang wajib dilakukan dan yang bisa mengantarkan kita sesuai kehendak Allah SWT pada apa yang kita harapkan, yaitu jatuhnya rezim kediktatoran dan menegakkan pemerintahan Islam di Damaskus Syam. Pendeklarasian dengan gamblang oleh semua orang revolusioner, para komandan mereka, orang-orang berpengaruh secara sosial dan tokoh-tokoh masyarakat, bahwa proyek kita bukanlah negara sekuler, juga bukan negara sipil demokratis dengan referensi islami, juga bukan sembarang pemerintahan islami …akan tetapi khilafah, khilafah, khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian. Orang-orang revolusioner yang mukhlis di dalam brigade-brigade dan resimen-resimen harus mencampakkan komando militer mereka yang terikat dengan pihak luar. Lalu menggantinya dengan komando yang bersih, yang berjalan bersama dengan orang-orang mukhlis ke arah keridhaan Allah SWT.”9
8 http://www.globalmuslim.web.id/2013/06/ismail-yusanto-anggota-hizbut- tahrir.html (3 Maret 2018).
9 https://web.archive.org/web/20140811175701/http://hizbut-tahrir.or.id:80/2014/
06/09/dokumen-politik-kedua-hizbut-tahrir-untuk-warga-syam-kaum-mukminin- yang-terus-berjaga/ (2 Maret 2018). Akses pertama pada 27 November 2014 di http://hizbut-tahrir.or.id/2014/06/09/dokumen-politik-kedua-hizbut-tahrir-untuk- warga-syam-kaum-mukminin-yang-terus-berjaga/