• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peperangan jilid kedua

Dalam dokumen Sejarah Pergerakan Nasional (Halaman 71-81)

BAB II PERANG PADERI PERANG PADERI

E. Peperangan jilid kedua

Setelah habisnya perang diponegoro dan pulihnya daya belanda di jawa, Hal ini paling didasari oleh kehendak kuat bagi penguasaan penanaman kopi yang sedang meluas di daerah pedalaman Minangkabau (darek). Sampai zaman ke-19, komoditas perdagangan kopi merupakan salah satu produk andalan Belanda di Eropa. Christine Dobbin mengatakannya lebih kepada perang dagang, hal ini seiring dengan dinamika perubahan sosial masyarakat Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pesisir pantai barat atau pantai timur. Sementara Belanda pada satu sisi bersedia mengambil alih atau monopoli. Yang belakang sekali bagi melemahkan daya lawan, Belanda melanggar akad yang telah dibuat sebelumnya dengan menyerang nagari Bijak Sikek yang merupakan salah satu daerah yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api.

Yang belakang sekali bagi memperkuat kedudukannya, Belanda membangun benteng di Bukittinggi yang dikenali dengan nama Fort de Kock.Pada awal bulan Agustus 1831 Lintau sukses ditaklukkan, menjadikan Luhak Tanah Datar berada dalam kemudi Belanda. Namun Tuanku Lintau sedang tetap melakukan perlawanan dari daerah Luhak Limo Puluah. Sementara ketika Letnan Kolonel

72 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l

Elout melakukan bermacam serangan terhadap Kaum Padri selang tahun 1831–1832, beliau memperoleh tambahan daya dari pasukan Sentot Prawirodirdjo salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang telah membelot dan berdinas pada Pemerintah Hindia-Belanda setelah usai perang di Jawa. Namun yang belakang sekali Letnan Kolonel Elout berpendapat, kehadiran Sentot yang ditaruh di Lintau justru menimbulkan masalah baru. Beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga yang belakang sekali Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa. Di Jawa, Sentot juga tidak sukses menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya, dan Belanda pun juga tidak bersedia beliau tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal sampai mati sbg orang buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan yang belakang sekali direkrut kembali menjadi tentara Belanda.

Pada bulan Juli 1832, dari Jakarta dikirim pasukan infantri dalam jumlah akbar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger, bagi mempercepat penyelesaian peperangan. Dengan tambahan pasukan tersebut pada bulan Oktober 1832, Luhak Limo Puluah telah berada dalam kekuasaan Belanda bersamaan dengan meninggalnya Tuanku Lintau. Yang belakang sekali Kaum Padri terus melakukan konsolidasi dan berkubu di

H a s n a n i S i r i | 73 Kamang, namun seluruh daya Kaum Padri di Luhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang pada penghabisan tahun 1832, sehingga kembali Kaum Paderi terpaksa mundur dari daerah luhak dan bertahan di Bonjol.

Yang belakang sekali pasukan Belanda mulai melakukan penyisiran pada beberapa daerah yang sedang menjadi basis Kaum Paderi. Pada awal Januari 1833, pasukan Belanda membangun kubu pertahanan di Padang Mantinggi, namun sebelum mereka dapat memperkuat posisi, kubu pertahanan tersebut diserang oleh Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Rao yang mengakibatkan jumlah korban di pihak Belanda. Namun dalam pertempuran di Cairan Bangis, pada tanggal 29 Januari 1833, Tuanku Rao menderita luka berat akhir suatu peristiwa dihujani peluru. Yang belakang sekali beliau ditingkatkan ke atas kapal bagi diasingkan. Belum lama berada di atas kapal, Tuanku Rao menemui ajalnya. Diduga jenazahnya yang belakang sekali dibuang kelaut oleh tentara Belanda. Sejak tahun 1833 mulai muncul kompromi selang Kaum Hukum budaya dan Kaum Padri.

Di ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803–1823), dapatlah dituturkan sbg perang saudara melibatkan sesama etnik Minang dan Batak. Pada tanggal 11 Januari 1833 beberapa kubu pertahanan dari garnisun Belanda diserang secara mendadak membuad keadaan

74 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l

menjadi kacau. dituturkan mempunyai sekitar 139 orang tentara Eropa serta ratusan tentara pribumi terbunuh. Sultan Tangkal Dunia Bagagar yang sebelumnya ditunjuk oleh Belanda sbg Regent Tanah Datar, ditangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Elout pada tanggal 2 mei 1833 di batu sangkar atas tuduhan penghianatan. Yang belakang sekali Belanda mengasingkannya ke Jakarta, walau dalam catatan Belanda Sultan Tangkal Dunia Bagagar menyangkal keterlibatannya dalam penyerangan beberapa pos Belanda, namun pemerintah Hindia Belanda juga tidak bersedia mengambil risiko bagi menolak laporan dari para perwiranya. Kedudukan Regent Tanah Datar yang belakang sekali diberikan kepada Tuan Gadang di Batipuh. Menyadari hal itu, kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Paderi saja, tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Maka Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1833 mengeluarkan pengumuman yang dikata "Plakat Panjang" berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud menguasai negeri tersebut, mereka hanya datang berjual dan berdagang dan menjaga keamanan, masyarakat Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Yang belakang sekali Belanda berdalih bahwa bagi menjaga keamanan, membuat jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka masyarakat diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda.

H a s n a n i S i r i | 75 Benteng Bonjol terletak di atas bukit yang hampir tegak lurus ke atas, dikenali dengan nama Bukit Tajadi. Tidak begitu jauh dari benteng ini mengalir Batang Alahan Panjang, sebuah sungai di tengah lembah dengan arus yang deras, berliku-liku dari utara ke selatan. Benteng ini berwujud bidang empat panjang, tiga sisinya dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Di selang kedua lapis dinding dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Dinding luar terdiri dari batu-batu akbar dengan tehnik pembuatan hamper sama dengan benteng-benteng din eropa dan di atasnya ditanami bambu berduri panjang yang ditanam paling rapat sehingga Kaum Paderi dapat mengamati bahkan menembakkan meriam kepada pasukan Belanda. Melihat kokohnya Benteng Bonjol, pasukan Belanda mencoba melakukan blokade terhadap Bonjol dengan tujuan bagi melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Paderi. Blokade yang dilakukan ini ternyata tidak efektif, sebab justru kubu-kubu pertahanan pasukan Belanda dan bahan perbekalannya yang jumlah diserang oleh pasukan Kaum Paderi secara gerilya. Di saat bersamaan seluruh pasukan Kaum Paderi mulai berdatangan dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda, yaitu dari bermacam negeri di Minangkabau dan sekitarnya. Seluruh bertekad bulat bagi mempertahankan markas akbar Bonjol sampai titik darah penghabisan, hidup luhur atau mati syahid.

76 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l

Usaha bagi melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilakukan kembali setelah bala bantuan tentara yang terdiri dari pasukan Bugis datang, maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilakukan terhadap kubu- kubu pertahanan Kaum Paderi yang berada di Bukit Tajadi, dan pasukan Bugis ini berada pada anggota depan pasukan Belanda dalam merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Paderi yang berada disekitar Bukit Tajadi. Namun sampai awal September 1835, pasukan Belanda belum sukses menguasai Bukit Tajadi, malah pada tanggal 5 September 1835, Kaum Paderi keluar dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat sekitar Bukit Tajadi. Setelah serangan tersebut, pasukan Kaum Paderi segera kembali masuk ke dalam Benteng Bonjol.

Pada tanggal 9 September 1835, pasukan Belanda mencoba menyerang dari arah Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus, namun hasilnya gagal, bahkan jumlah menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Letnan Kolonel Bauer, salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi yang belakang sekali posisinya digantikan oleh Mayor Prager.Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri, membangkitkan semangat keberanian rakyat sekitarnya bagi memberontak dan menyerang pasukan Belanda, sehingga pada tanggal 11 desember 1835 rakyat simpan dan alahan siap mati mengankat senjata dan menyerang kubu-

H a s n a n i S i r i | 77 kubu pertahanan Belanda. Pasukan Belanda kewalahan mengatasi perlawanan ini. Namun setelah datang bantuan dari serdadu-serdadu Madura yang berdinas pada pasukan Belanda, perlawanan ini dapat diatasi.

Hampir setahun mengepung Bonjol, pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap Benteng Bonjol, sbg usaha terakhir bagi penaklukan Bonjol. Serangan dahsyat ini mampu menjebol sebagian Benteng Bonjol, sehingga pasukan Belanda dapat masuk menyerbu dan sukses membunuh beberapa keluarga Tuanku Imam Bonjol. Tetapi dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi Kaum Padri kembali sukses memporak-porandakan musuh sehingga Belanda terusir dan terpaksa kembali keluar dari benteng dengan meninggalkan jumlah sekali korban jiwa di masing-masing pihak. Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kebijaksanaan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Jakarta yang waktu itu telah dipegang oleh Dominique Jacques de Eerens, yang belakang sekali pada awal tahun 1837 mengirimkan seoarang panglima perangnya bernama Mayor Jenderal Cochius bagi memimpin langsung serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol bagi kesekian kalinya. Cochius merupakan seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang Benteng Stelsel.

Yang belakang sekali Belanda dengan intensif mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam

78 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l

bulan (16 Maret–17 Agustus 1837) dipimpin oleh jenderal dan beberapa perwira. Pasukan gabungan ini sebagian akbar terdiri dari bermacam suku, seperti Jawa, Madura, Bugis dan Ambon.

Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, termasuk di dalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda tersebut di selangnya yaitu Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Mayor Prager, Kapten MacLean, Letnan Satu van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz, dst-nya. Yang belakang sekali mempunyai juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, Merto Poero dan lainnya. Dari Jakarta didatangkan terus tambahan daya tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, sejumlah orang Eropa dan Sepoys, serdadu dari Afrika yang berdinas dalam tentara Belanda, direkrut dari Ghana dan Mali, terdiri dari 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs, serta dipimpin oleh Kapitein Sinninghe.

Serangan yang bergelombang serta berturut-turut dan hujan peluru dari pasukan artileri yang bersenjata Meriam- meriam akbar, yang terus berdatangan. Pada tanggal 3 agustus 1837 di pasukan bekanda di pimpin oleh letnam kolonel Michiels sebagai komando lapangan terdepan mulai sedikit demi sedikit

H a s n a n i S i r i | 79 menguasai keadaan, dan penghabisannya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837, Bukit Tajadi jatuh, dan pada tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol secara semuanya dapat ditaklukkan. Namun Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri keluar dari benteng dengan ditemani oleh beberapa pengikutnya terus menuju daerah Marapak. Dalam pelarian dan persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, namun sebab telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan sedang siap bagi bertempur kembali.

Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang bagi mengajak berunding. Yang belakang sekali Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan. Perundingan itu dituturkan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlangsung.

Tuanku Imam Bonjol dipersilakan bagi datang ke Palupuh, tempat perundingan, tanpa membawa senjata. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda bagi menangkap Tuanku Imam Bonjol, peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan yang belakang sekali Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi yang belakang sekali terus dibawa ke Padang, bagi yang belakang sekali diasingkan. Namun pada tanggal 23 Januari 1838, beliau dipindahkan ke Cianjur, dan

80 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l

pada penghabisan tahun 1838, beliau kembali dipindahkan ke Ambon. Yang belakang sekali pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado, dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya, pada tanggal 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol menghembuskan nafas terakhirnya.

Meskipun pada tahun 1837 Benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol sukses ditipu dan ditangkap, tetapi peperangan ini sedang berlanjut sampai penghabisannya benteng terakhir Kaum Padri, di Dalu-Dalu (Rokan Hulu), yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada 28 Desember 1838. Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya pindah ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, dan penghabisannya peperangan ini dianggap berakhir yang belakang sekali Kerajaan Pagaruyung dikuatkan menjadi anggota dari Pax Neerlandica dan wilayah Padangse Bovenlanden telah berada di bawah pengawasan Pemerintah Hindia-Belanda.

Pengaruh dari peperangan ini menumbuhkan sikap patriotisme kepahlawanan bagi masing-masing pihak yang terlibat. Selepas jatuhnya Benteng Bonjol, pemerintah Hindia- Belanda membangun sebuah monumen bagi mengenang tuturan peperangan ini. Yang belakang sekali sejak tahun 1913, beberapa lokasi tempat terjadi peperangan ini ditandai dengan tugu dan dimasukan sbg daerah wisata di

H a s n a n i S i r i | 81 Minangkabau.[31] Begitu juga selepas kemerdekaan Indonesia, pemerintah setempat juga membangun museum dan monumen di Bonjol dan dinamai dengan Museum dan Monumen Tuanku Imam Bonjol. Perjuangan beberapa tokoh dalam Perang Padri ini, mendorong pemerintah Indonesia yang belakang sekali menetapkan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai sbg Pahlawan Nasional.

Dalam dokumen Sejarah Pergerakan Nasional (Halaman 71-81)