BAB IV PENAKLUKAN KALIMANTAN
B. Sejarah Berdirinya Kerajaan Banjar
Dalam sejarah Banjar pada perkembangan Kerajaan Banjar secara garis besarnya ada tiga tahapan: Pertama, masa masuknya Islam, dimana Pangeran Samudera beserta seluruh kerabat Kraton dan penduduk Banjar menyatakan diri masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri, setelah masuk Islam diberi nama Sultan Suriansyah, yang dinobatkan sebagai Sultan pertama Kerajan Islam Banjar. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1526 M.118 Kedua, masa kejayaan wilayah Kerajaan Banjar meliputi seluruh daerah Kalimantan Selatan dan kota Waringin sampai ke pulau laut, terjadi sekitar abad ke-17 sampai akhir abad ke- 18. Ketiga, masa kemunduran yang terjadi pada abad ke-18 sampai abad ke-19.119 Sebelum Kerajaan Banjar mengalami masa kemunduran, Kerajaan Banjar berkembang sebagai negara merdeka dan kerajaan maritim utama sampai dengan akhir
H a s n a n i S i r i | 141 abad ke-18.120 Perekonomian Kalimantan Selatan mengalami kemajuan yang signifikan karena Banjarmasin dengan pelabuhan lautnya menjadi kota dagang tradisional, ini yang menjadi penyangga utama perekonomian Kerajaan Banjar.
Kalimantan Selatan memiliki perairan yang strategis sebagai lalu lintas perdagangan. Perdagangan di Banjarmasin pada permulaan abad ke-17 dimonopoli golongan Tionghoa.
Kuatnya penarikan lada dari mereka untuk perdagangan ke Tiongkok mengakibatkan penanaman lada di Banjarmasin mengalami kemajuan, dan lagi pada abad ke-17 dominasi politiknya berkembang ke Kalimantan Timur, kota Waringin di Kalimantan Tengah dan Sambas di Kalimantan Barat. Orientasi perdagangannya ditunjukkan ke Jawa Timur, Ujung Padang, Banten, Sumatera sampai dengan Aceh dan Siam.121 Perdagangan Banjar berkembang dengan sangat pesat setelah Bandar utama pantai Jawa Utara dikuasai Mataram dan banyak sekali pedagang Jawa yang pindah untuk bermukim ke Banjar.
Dorongan utama datang dari eksport Lada Banjar yang merubah perdagangan lokalnya menjadi perdagangan dunia, selain pedagang-pedagang Nusantara juga pedagang-pedagang Barat, seperti Belanda, Inggris, Perancis, Portugis datang dan memilih untuk bermukim di Banjar.Perdagangan dan segala macam monopolinya yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan tersebut, membawa kekayaan dan kekayaan-kekayaan baru, bahkan menimbulkan konsentrasi-konsentrasi kekuasaan yang baru.
142 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l
Masuknya pengaruh-pengaruh asing dalam istana dipermudah akibat konflik-konflik kepentingan kelompok dalam istana ini dengan segala macam akibat yang ditimbulkannya,122 seperti yang terjadi pada abad ke-18 adanya pertentangan di kalangan para bangsawan mengenai kedudukan Sultan, yaitu antara Pangeran Nata dengan Pangeran Amir, untuk mempertahankan kedudukannya Pangeran Nata meminta bantuan kepada Belanda. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan Belanda, dengan bantuan dari Belanda, akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap dan dibuang ke Ceylon. Akan tetapi Pangeran Nata sebagimana disebutkan dalam perjanjian tanggal 13 Agustus 1787, harus menyerahkan sebagian wilayah kesultanan kepada Belanda seperti daerah Tanah Bumbu, Pegatan, Kutai, Bulongan, dan Kotawaringin.
Sedangkan wilayah lain tetap dikuasai oleh Sultan tetapi sebagai wilayah pinjaman.123 Abad ke-19 kedudukan Kerajaan Banjar semakin terdesak, tambang batu arang yang terdapat di tanah Kerajaan sangat diinginkan Belanda, untuk mendapatkan konsensi ini, agar seluruh tanah tambang tersebut bisa dikuasai Belanda, maka diangkatlah menjadi putera mahkota yang tidak disukai baik oleh rakyat, para ulama dan kaum bangsawan yaitu pangeran Tamjidillah.124 Di kalangan rakyat sudah lama terpendam rasa tidak senang karena persoalan pajak dan kerja wajib yang memberatkan. Pajak yang semakin berat ini berhubungan dengan semakin kecilnya daerah kekuasaan kesultanan.
H a s n a n i S i r i | 143 Penyempitan daerah Banjar dari waktu ke waktu berdasarkan perjanjian dengan Belanda, berpangkal pada adanya hasil tertentu di daerah kesultanan yang dapat diperdagangkan. Hasil tersebut yaitu lada, rotan, damar, emas, dan intan. Hasil-hasil inilah yang membuat orang asing seperti Belanda dan Inggris datang ke tempat ini. Rasa tidak senang dalam hal campurtangan Belanda dalam urusan intern dimulai tahun 1851, yaitu ketika Mangkubumi meninggal dunia. Timbul perbedaan pendapat mengenai penggantinya. Sultan Adam menginginkan Prabu Anom, ia adalah putranya yang ke-4, sebagai pengganti, sedangkan Belanda tidak menyetujui dan kemudian yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah selain karena Pangeran Tamjidillah, ia adalah putra dari kakak Prabu Anom, yaitu Raja Muda Abdurrakhman dengan Nyai Aminah, dan juga ia sangat menghina agama Islam. Pengangangkatan Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan menimbulkan kekecewaan baik dikalangan bangsawan maupun dikalangan rakyat.
Kekecewaan itu disebabkan Pangeran Tamjidillah adalah anak Sultan Muda, Pangeran Abdurrakhaman dengan Nyai Aminah, turunan Cina. Ia amat dibenci baik oleh golongan kraton maupun rakyat. Kebiasaan mabuk menyebabkan ia dimusuhi oleh golongan agama. Sedangkan Pangeran Hidayat adalah seorang yang sebenarnya berhak atas tahta, karena sebelum ia lahir telah dijanjikan oleh Sultan Sulaiman dan Sultan Adam untuk naik tahta sesuai perjanjian antara Sultan berdua dengan
144 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l
Mangkubumi Nata ayah Ratu Siti sebelum ibu Pangeran Hidayat kawin dengan Sultan Muda.
Menurut tradisi, hanya Sultan yang ibunya seorang turunan yang boleh naik tahta. Selain itu, Pangeran Hidayat mempunyai sifat yang baik, yaitu rendah hati, ramah tamah dan karena itu dia disenangi oleh rakyat dan yang terakhir adanya surat wasiat dari Sultan Adam bahwa dialah yang akan menggantikannya. Kekecewaan dikalangan rakyat di Batang Balangan memperoleh saluran setelah Penghulu Abdulgani dengan terang-terangan mengecam pengangkatan Pangeran Tamjidillah, suatu pengangkatan seseorang yang tidak berhak menjadi raja dipandang dari adat sebagai tanda kemerosotan Kerajaan. Mereka lebih menaruh simpati kepada Pangeran Hidayat. Sebaliknya Belanda memandang pengangkatan Pangeran Tamjidillah lah yang lebih menguntungkan bagi pihaknya. Kericuhan ini dijadikan Belanda untuk mencampuri urusan dalam Kerajaan Banjar. kemudian datanglah Kolonel Andresen, utusan pemerintah Belanda di Batavia, datang ke Banjarmasin untuk menyelidiki dari dekat apa sebab-sebab kericuhan. Andresen kemudian berkesimpulan bahwa Pangeran Tamjidillah yang tidak disenangi oleh rakyat adalah sumber dari kericuhan itu. Kemudian Sultan Tamjidillah diturunkan dari tahta dan kekuasaan Kerajaan Banjar diambil alih kekuasaan Kerajaan oleh pihak Belanda. Penentangan rakyat terhadap Sultan Tamjidillah kemudian beralih kepada pemerintah Belanda. Dalam situasi ini Pangeran Hidayat akhirnya condong
H a s n a n i S i r i | 145 kepada rakyat untuk mengambil kembali kekuasaan Kerajaan Banjar. Politik inilah yang kemudian menyebabkan pecahnya perang Banjardalam Kerajaan Banjar pada tahun 1859-1905 M.125 C. Sebab Terjadinya Perang Banjar
1. Penyebab Perang banjar secara Umum
Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan dan Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan. kemudian Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena di daerah ini ditemukan pertambangan batubara, lebih tepatnya ditemukan batubara di kota Martapura. Belanda telah merencanakan untuk memindah ibukota kesultanan ke kota Negara, bekas ibu kota pada zaman Hindu.126
2. Secara Khusus
Secara khusus Adapun yang menjadi sebab terjadinya perang banjar Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan. Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan. Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena di daerah ini ditemukan pertambangan batubara, lebih tepatnya ditemukan batubara di kota Martapura. Belanda telah merencanakan untuk memindah ibukota kesultanan ke kota Negara, bekas ibu kota
146 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l
pada zaman Hindu. Selain itu penyebab perang Banjar karena Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar tidak disetujui oleh Belanda yang kemudian mengangkat Pengeran Tamjidillah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. Kemudian setelah Belanda mencopot Tamjidillah dari kursi sultan, Belanda membubarkan Kesultanan Banjar. Dalam perang Banjar terdapat beberapa tokoh Banjar yang menjadi penglima melawan Belanda, salah satunya adalah Demang Lehman yang berasal dari Martapura.
Ia merupakan Panakawan dari Pangeran Hidayatullah, oleh karena kesetiaan, kecakapan, dan jasa besarnya maka ia diangkat Pangeran Hidayatullah menjadi kepala Distrik di Riam Kanan.127
Pada saat Perang Banjar meletus, Demang Lehman mendapat tugas dari Pangran Antasari untuk memimpin perlawanan di daerah Martapura dan Tanah Laut bersama Kiai Langkang dan Penghulu Buyasin. Di mata Belanda, Demang Lehman termasuk pejuang Banjar yang sangat ditakuti dan berbahaya dalam menggerakkan kekuatan rakyat sebagai tangan kanan Pangeran Antasari dan Pengeran Hidayatullah. Pangeran Antasari merupakan pencetus Perang Banjar. Pengeran Antasari masih mempunyai ikatan darah dengan para raja-raja Banjar. Ia masih keturunan Sultan Tahmidillah yang memerintah Kerajaan Banjar pada tahun 1801-1825. Pangeran Antasari adalah tokoh perang Banjar yang memiliki kedudukan sebagai petinggi Panglima Pangeran Banjar. Pangeran Antasari memberikan
H a s n a n i S i r i | 147 tugas kepada Demang Lehman untuk menjadi pemimpin perang di beberapa daerah. Demang Lehman beberapa kali berhasil mengalahkan Belanda dalam pertempuran.
Kepiawaian Demang Lehman dan pasukannya dalam menghadapi Belanda tidak dapat dianggap remeh. Belanda melakukan berbagai usaha untuk menangkap Demang Lehman, namun tetap gagal. Perlawanan Demang Lehman justru semakin kuat ketika dirinya menjadi orang yang paling dicari Belanda. Semangat dan dukungan rakyat terhadap dirinya mengalir terus-menerus. Setiap melakukan perlawanan di daerah-daerah, ia mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
Demang Lehman menolak berunding dengan Belanda, damai bagi Demang Lehman berarti angkat kaki dari bumi Banjar.
Sikap keras menjadi tekad Demang Lehman untuk mengusir penjajah Belanda, sampai titik darah penghabisan. Pada tanggal 06 Oktober 1861, ia dan pasukannya diminta Belanda datang ke Banjamasin untuk berunding.128 Belanda meminta supaya Demang Lehman mau tinggal di Banjarmasin, hal ini dilakukan Belanda untuk membuat Demang Lehman ikut bergabung dengan Belanda. Residen Belanda berusaha memikat Demang Lehman dengan janji memberi biaya tiap bulan kepada Demang Lehman apabila dapat membujuk Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari ke Banjarmasin. Belanda berjanji apabila Pengeran Hidayatullah kembali ke Banjarmasin akan membebaskan rakyat untuk tinggal dimana saja. Setelah Pangeran Hidayatullah ke Banjarmasin, Belanda mengingkari
148 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l
janji. Pangeran Hidayatullah ternyata diasingkan Belanda ke Pulau Jawa, tepatnya Cianjur. Demang Lehman merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda dan berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Pangkal, Batulicin.129 Akan tetapi, Belanda telah membuat rencana untuk melakukan penangkapan terhadapnya. Sehabis shalat subuh ia ditangkap dan pemerintah Belanda memutuskan hukuman gantung kepada Demang Lehman. Pada tanggal 27 Februari 1862 Demang Lehman dihukum gantung dan kepalanya dipenggal.
Kepala Demang Lehman dibawa ke Belanda dan disimpan di Museum Leiden. Kerajaan Banjar adalah kelanjutan dari Negara Daha yang bercorak Hindu telah berdiri menjadi Kerajaan Islam Banjar pada tahun 1526 M di Banjarmasin. Wilayah Kerajaan Banjar adalah seluruh daerah Kalimantan Selatan dan Banjarmasin sebagai ibukota seluruh Kerajaan Banjar, yang sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat penyiaran agama Islam dan mata rantai baru menghadapi penetrasi dari negara luar di laut Jawa. Dan Sultan Suriansyah sebagai raja pertama Kerajaan Banjar sekaligus raja pertama yang memeluk agama Islam. Perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda mulai berkobar di daerah-daerah Kerajaan Banjar yang telah diambil alih kekuasaan oleh pihak Belanda. Perang ini berlangsung dari tahun 1859-1863 M. Kerajaan Banjar sendiri telah dihapuskan oleh pemerintahan Hindia-Belanda pada tanggal 11 Juni 1860 M. Sejak itu Kerajaan Banjar langsung diperintah oleh seorang residen Hindia Belanda. Tetapi
H a s n a n i S i r i | 149 perlawanan rakyat tetap berlangsung meskipun terputus-putus dan berakhir pada tahun 1905 M dengan tewasnya Muhammad Seman dalam pertempuran itu. Berakhirnya perjuangan Muhammad Seman menandai berakhirnya rakyat Banjar untuk merebut kembali tanah Kerajaan Banjar.
Berakhirnya Perang Banjar mengakibatkan berbagai dampak bagi Kerajaan Banjar khususnya dalam bidang sosial- politik: Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintahan kolonial Belanda, dan dihapuskannya negara Kesultanan Banjar, kekuasaan beserta susunan ketatanegaraannya diambil alih oleh pemeritahan Belanda, gugurnya para pejuang dan bangsawan telah menandai hilangnya harapan-harapan untuk mengembalikan kekuasaan Kerajaan Banjar, dan penghapusan tanah apanas. Dalam bidang penddidikan: sistem pendidikan tradisional masyarakat Banjar telah berubah menjadi sistem modern Belanda, dan didirikan sebuah sekolah khusus untuk anak-anak Eropa yaitu Europese Legere School (ELS). Dalam bidang sosial-ekonomi: dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan, bangsa Banjar yang sebelumnya adalah bangsa merdeka turun derajatnya menjadi bangsa jajahan dan hanya dikenal sebagai orang Banjar dari penduduk Hindia-Belanda, pedagang Banjar sebagai kelas menengah dengan perdagangan yang kuat kini kedudukannya merosot karena mereka adalah golongan yang diatur tata ekonominya oleh Belanda. Dalam bidang budaya: hilangnya kraton Banjar menyebabkan
150 | S e j a r a h a P e r g e r a k a n N a s i o n a l
berkurangnya perkembangan budaya asli (Kraton) dan kesenian klasiknya, budaya Banjar bertemu dengan budaya penguasa maka berlakulah hukum kekerasan, dan dengan cepat sekali merubah bentuk desa, kota, dan masyarakat tradisioL
H a s n a n i S i r i | 151