• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peralatan Produksi

Dalam dokumen LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI (Halaman 42-45)

BAB III URAIAN PROSES PRODUKSI

3.4 Mesin dan Peralatan Produksi

3.4.2 Peralatan Produksi

k. Nama Mesin : Metal detector

Fungsi Mesin : Mendeteksi keberadaan metal dalam bandela

Model : Metron 20 - C series

Power : 85 sampai 245 V AC 60 Hz Temperatur : 0°C - 60°C

Kelembapan : 100% Conveyor Detector

Panjang : 3190 mm

Tinggi : 450 mm

Lebar : 700 mm

Motor : Moto Vasio T 80, 0,75 Kw, 1420 rpm, 280 V – 50 Hz

Diameter : 1400 mm

Panjang : 2800 mm

Bahan : Mild steel plate 12 mm Kapasitas : 1,25 ton

c. Nama Alat : Trolley

Fungsi Alat : Sebagi tempat untuk mengeringkan biscuit pada mesin dryer.

Panjang : 4880 mm Fungsi Alat :1450 mm Lebar

Tinggi : 850 mm

Bahan : Alumunium

d. Nama Alat : Tangga Pengangkatan crumb biscuit Fungsi Alat : Membantu pekerja dalam pengangkatan

crumb biscuit

Panjang : 4880 mm

Lebar : 670 mm

Tinggi : 37 mm

Bahan : Alumunium

e. Nama Alat : Meja penumpukan crumb biscuit

Fungsi Alat : Penumbukan sementara crumb biscuit untuk proses pendinginan

Panjang : 4880 mm

Lebar : 124 mm

Tinggi : 700 mm

Bahan : Kayu

f. Nama Alat : Pisau crumb biscuit

Fungsi Alat : Memotong crumb biscuit untuk

penimpangan maupun untuk pengambilan sampel

Panjang : 600 mm

Lebar : 10 mm

Bahan : Stainless steel

g. Nama Alat : Gancu

Fungsi Alat : Menarik biscuit dari trolley

Panjang : 500 mm

Bahan : Besi

BAB IV

UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH 4.1 UTILITAS

Bahan pendukung atau utilitas pabrik merupakan sebutan atau istilah untuk penamaan bahan-bahan pendukung untuk kelancaran proses produksi dipabrik guna berlangsungnya proses produksi dipabrik yang sifatnya sangat berpengaruh pada :

 Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya kerja peralatan proses.

 Bahan-bahan yang diperlukan untuk berlangsungnya jalan operasi proses pada peralatan pengolahan.

4.2 SUMBER AIR

Untuk memenuhi kebutuhan air di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate berasal dari 2 sumber yaitu dari mata air Sumber Sere dan hasil recycle water. Air recycle digunakan untuk proses precleaning dan pencucian bahan baku.

4.3 TENAGA LISTRIK

Unit ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik diseluruh area pabrik. Pemenuhan kebutuhan listrik dipenuhi oleh PLN dan sebagai cadangan adalah generator set untuk menghindari gangguan yang mungkin terjadi pada PLN. Adapun kebutuhan listrik dapat dibagi menjadi 5 bagian sebagai berikut :

1. Listrik untuk keperluan proses.

2. Listrik untuk utilitas.

3. Listrik untuk penerangan dan pendingin ruangan.

4. Listrik untuk laboratorium dan bengkel.

5. Listrik untuk instrumentasi.

4.4 BAHAN BAKAR

Dalam proses produksi pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate, alat yang digunakan untuk memasak adalah burner pada dryer.

Bahan bakar yang digunakan untuk alat tersebut yaitu solar.

4.5 PENGOLAHAN LIMBAH

Di alam, unsur oganik diuraikan oleh mikroorganisme. Mekanisme cara penguraian oleh mikroorganisme terbagi dua

1. Penguraian secara aerob, yaitu dengan memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air maupun yang ada di udara.

2. Penguraian secara anaerob, yaitu dengan mengambil oksigen dari senyawa ion sulfat, nitrat, air atau unsur organik lain.

Di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate menggunakan lumpur aktif sebagai pengolahan limbah cair. Proses lumpur aktif adalah suatu sistem yang menguraikan senyawa organik dengan menggunakan bakteri/mikroba pengurai yang bersifat aerob dengan perbandingan keduanya dikontrol agar selalu tetap. Dalam, proses penguraian senyawa organik dengan lumpur aktif dibuat bersinggungan dengan waktu yang memadai sambil diberikan pasokan udara (oksigen). Dari proses ini senyawa organik akan mengalami oksidasi atau terurai.

Dalam sistem lumpur aktif, berbagai macam bakteri, fungi, protozoa, dan metazoan hidup di dalamnya. Kumpulan mikroba ini membentuk struktur piramida rantai makanan. Dalam proses lumpur aktif yang berada pada piramida level bawah adalah bakteri dan fungi, di atas bakteri dan fungi terdapat kumpulan protozoa dan di atasnya lagi terdapat nematode dan rotatoria. Makhluk hidup pada level atas pemakan makhluk hidup pada level di bawahnya sehingga membentuk struktur piramida rantai makanan. Air limbah dibersihkan oleh kumpulan mikroba-mikroba yang membentuk piramida seperti ini, Jenis mikroba yang hidup pada lumpur aktif berbeda-beda bergantung tingkat kebersihan dari airya.

Sistem lumpur aktif merupakan cara penguraian dan oksidasi senyawa

(dalam kolam aerasi) dari bakteri aerob. Bakteri aerob melakukan aktivitasnya (memperbanyak sel, melakukan metabolisme biołogis) berdasarkan energi yang diperoleh dari penguraian dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO) dan senyawa organik dalam air limbah yang sedang diurai.

Sebagai hasil aktivitas biologis seperti ini, air limbah menjadi bersih dengan kualitas air yang dipengaruhi oleh; waktu tinggal, perbandingan jumlah bakteri, senyawa organik, dan aktivitas bakteri (kondisi dalam aerasi dan sebagainya). Adapun proses pengolahan limbah cair pabrik dengan ASETS yaitu sebagai berikut :

a. Final Rubber Trap dan De-Watering Screen

Air limbah dari masing-masing rubber trap pabrik, dihomogenkan ke rubber trap akhir melalui dewatering screen untuk memisahkan limbah padat (plastik, sampah, tatal, dll) yang masih terkandung dalam air limbah.

b. Aeration Tank

Tangki aerasi berfungsi menguraikan senyawa organik (COD, BOD) air limbah dengan memanfaatkan reaksi biologis bakteri aerob dalam tangki aerasi, Bakteri aerobik melakukan aktivitas (menggandakan sel, metabolisme biologis) dengan energi yang berasal dari dekomposisi dan oksidasi dengan menyerap oksigen terlarut (DO: 1,5 2 ppm) dan senyawa organik dalam air limbah.

c. De-Nitrification Tank

Pada bagian ujung tangki aerasi sebelum masuk ke tangki pengendapan terdapat Tangki Denitrifikasi. Tangki denitrifikasi berfungsi untuk mengubah nitrogen oksida (NO) menjadi gas N2

untuk mengurangi kandungan nitrogen total dalam air olahan. De- Nitrification Tank berkurangnya suplai oksigen (DO < 0,5 ppm)

memungkinkan kondisi anaerobic sehingga rantai oksigen akan terlepas pada nitrogen oksida dan nitrogen oksida akan berubah menjadi gas N2.

d. Settling Tank Outlet dan Return Sludge

Settling tank berfungsi untuk memisahkan air hasil olahan dengan lumpur. Air hasil olahan dialirkan ke tangki indikasi dan lumpur kembali ke tangki aerasi. Dengan adanya sintesis sel bakteri dan akumulasi Suspended Solids anorganik yang mengalir ke ASETS menyebabkan MLSS di tangki aerasi akan meningkat, sehingga sludge perlu dibuang secara berkala.

e. Indication Tank

Sebagai indikator kualitas air olahan, kualitas air diperiksa setiap hari secara internal dan eksternal setiap bulan. Dalam tangki indikasi ini ditempatkan ikan air lawar (goldfish) sebagai indikator visual kualitas air yang diolah. Pada tangki indikasi terdapat pompa air daur ulang yang berfungsi untuk mengembalikan air olahan ke pabrik sekitar 70%.

f. Outlet Of WWTP

Air olahan yang tidak digunakan oleh pabrik dibuang ke sungai sesuai dengan peraturan yang berlaku.

g. Sludge Thickening

Kelebihan lumpur dipompa melalui 2 unit tangki dewatering lumpur dengan kapasitas 30 m/unit yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur. Di tangki dewatering lumpur lumpur akan diendapkan dan air jernih dikembalikan ke ASETS Sedangkan hasil endapan lumpur akan dibuang melalui Drying Bed.

h. Sludge Drying Bed

Sludge drying bed berfungsi untuk mengeringkan kelebihan lumpur, sebelum digunakan sebagai pupuk. Terdapat 8 unit jemuran dengan kapasitas 16 m'/unit.

Adapun flowchart sistem pengolahan air limbah di PT.

Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut :

Waste Water From Factory NB1, NB2, And Factory FM

Rubber Trap And De-Watering Screen

Sludge Drying Bed

Gambar 4.1 Flowchart Pengolahan Limbah Start

Waste Water From Factory DM, DX, and Pre-Cleaning Waste Water From

New Pre-Cleaning

Aeration Tank

De-Nitrification Tank

Indication Tank

Sludge Excess

Setling Tank Outlet And Return Sludge

Outlet Of Waste Water Treatment Process Waste Water Inlet Tub

Sludge Sludge

BAB V TUGAS KHUSUS

MENGANALISA KOMPOSISI BAHAN BAKU TERHADAP KUALITAS PRODUK PADA SIR 20 CV DI PT BRIDGESTONE SUMATRA RUBBER

ESTATE 5.1 TUJUAN TUGAS KHUSUS

Pada Pabrik PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate sumber bahan baku ada 3 yakni : BSRE Lump (karet dari kebun sendiri milik PT. BSRE), Out Purchase Lump C1 (karet bongkahan yang dibeli dari masyarakat), dan Out Purchase Lump C2 (karet mangkuk yang dibeli dari masyarakat). Kualitas dari sumber bahan baku tersebut berbeda-beda, kualitas karet terbaik secara berturut- turut dimiliki oleh BSRE Lump, kemudian Out Purchase Lump C1, dan yang terakhir Out Purchase Lump C2.

Bahan baku yang masuk ke pabrik tidak selalu jumlahnya sama, kadang jumlah Out Purchase Lump C1 dan Out Purchase Lump C2 lebih banyak ketimbang BSRE Lump. Sementara permintaan Crumb Rubber oleh konsumen tetap ada. Untuk menyiasati hal tersebut pabrik melakukan pencampuran antara ke-3 sumber bahan baku tersebut namun dengan syarat tetap menghasilkan produk Crumb Rubber yang memenuhi mutu kualitas yang ada

Oleh sebab itu pada tugas khusus kali ini kami akan menganalisa beberapa komposisi pencampuran dari ke-3 sumber bahan baku karet pada pabrik PT.

BSRE apakah memenuhi baku mutu produk yang ada atau tidak?. Hasil analisa ini akan menjadi bahan pertimbangan pabrik untuk melakukan pencampuran dengan komposisi tertentu namun dengan syarat tetap menghasilkan produk Crumb Rubber yang memenuhi mutu kualitas yang ada.

5.2 TINJAUAN PUSTAKA

Karet remah (crumb rubber) harus sesuai dengan Standar Indonesia Rubber (SIR) supaya dapat dijadikan sebagai bahan baku dan dapat melalui proses selanjutnya yakni bahan jadi. Standar Indonesia Rubber (SIR) memiliki beberapa mutu diantaranya SIR 3 CV, SIR L, SIR 3 WF, SIR 5, SIR 10, SIR 20, SIR 20

CV, dan lainnya. Perbedaan dari beberapa jenis standar mutu tersebut terletak pada tingkat kadar kotorannya dan bahan olahan yang digunakan. SIR 3 CV, SIR L dan SIR 3 WF terbuat dari bahan lateks sedangkan SIR 5, SIR 10 dan SIR 20 terbuat dari bahan koagulum lateks.

Dalam kuliah praktik industri ini, penulis fokus untuk menganalisa mutu SIR 20 CV. Dengan alasan tingginya permintaan masyarakat dan industri pengolahan terhadap mutu jenis tersebut.

Adapun produk/output yang dihasilkan dari mutu SIR 20 CV ini antara lain automotive tire, tube, dan flap.

5.2.1 KUALITAS

Pengertian atau definisi kualitas mempunyai cakupan yang sangat luas, relatif, berbeda-beda dan berubah-ubah, sehingga definisi dari kualitas memiliki banyak kriteria dan sangat bergantung pada konteksnya terutama jika dilihat dari sisi penilaian akhir konsumen dan definisi yang diberikan oleh berbagai ahli serta dari sudut pandang produsen sebagai pihak yang menciptakan kualitas. Konsumen dan produsen itu berbeda dan akan merasakan kualitas secara berbeda pula sesuai dengan standar kualitas yang dimiliki masing-masing. Begitu pula para ahli dalam memberikan definisi dari kualitas juga akan berbeda satu sama lain karena mereka membentuknya dalam dimensi berbeda. Oleh karena itu definisi kualitas dapat diartikan dari dua perspektif, yaitu dari sisi konsumen dan sisi produsen. Namun pada dasarnya konsep dari kualitas sering dianggap sebagai kesesuaian, keseluruhan ciri-ciri atau karakteristik suatu produk yang diharapkan oleh konsumen.

5.2.2 KADAR KOTORAN (DIRT CONTENT)

Kadar kotoran menjadi dasar pokok dan kriteria terpenting dalam spesifikasi, karena kadar kotoran berpengaruh terhadap ketahanan retak dan kelenturan karet. Kotoran yang dimaksud ialah benda asing yang tidak larut dan tidak dapat melalui saringan 325 mesh (Telaumbanua, dkk., 2013). Kadar kotoran ditentukan dengan menghitung hasil pengendapan setelah produk direaksikan dengan larutan turpentine dan curio TS msg dan dipanaskan selama 1,5-2,5 jam

5.2.3 KADAR ABU (ASH CONTENT)

Abu umumnya berhubungan dengan kotoran dan sering kali berada dalam bentuk tanah, pasir atau bahan lain yang digunakan pada proses penggumpalan lateks. Kotoran ini tidak hilang langsung pada pemanasan 5500C.

Bahan-bahan tersebut apabila terdispersi ke dalam karet akan sulit untuk dihilangkan. Penentuan bahan-bahan lain ke dalam karet baik sebelum diolah maupun pada waktu pengolahannya perlu dilakukan (Hidayako dan Okta, 2014).

Abu di dalam karet terdiri dari oksida, karbonat dan fosfat dari kalium, magnesium, kalsium, natrium dan beberapa unsur lain dengan jumlah yang berbeda-beda. Abu dapat pula mengandung silikat yang berasal dari karet atau benda asing yang jumlah kandungannya bergantung pada pengolahan bahan mentah karet. Abu dari karet memberikan sedikit gambaran mengenai jumlah bahan mineral di dalam karet (Telaumbana, dkk., 2013). Beberapa bahan mineral di dalam karet yang meninggalkan abu dapat mengurangi sifat ketahan retak dan kelenturan (flex cracking resistance) dari karet. Kadar abu ditentukan dengan menghitung hasil pengabuan atau sampel karet setelah dipijarkan selama 2 jam pada suhu 5500C di dalam furnace (SOP QCD PT. BSRE, 2020).

5.2.4 NILAI PLASTISITAS AWAL (PO)

Plastisitas awal (Po) adalah ukuran plastisitas karet secara tidak langsung memperkirakan panjangnya rantai polimer karet dan molekul karet.

Plastisitas awal menggambarkan kekuatan karet (Marlina dan Hari, 2017). Nilai plastisitas di dapat dari pengujian sampel dengan alat Wallace Rapid Plastimeter (SOP QCD PT. BSRE, 2020).

5.2.5 NILAI PLASTICITY RETENTION INDEX (PRI)

Plasticity Retention Index (PRI) merupakan satuan yang menunjukkan ketahanan karet terhadap degradasi oleh oksidasi, salah satunya melalui pemanasan dengan suhu tinggi (Salama, 2010). Nilai PRI berkaitan dengan ketahanan karet serta mudah atau tidaknya karet tersebut dilunakkan pada saat proses pemanasan oleh alat Wallace Rapid Plastimeter. Nilai PRI di dapat dari perbandingan nilai plastisitas sebelum dan sesudah pengusangan dengan oven dengan suhu 1400C selama 30 menit (SOP QCD PT. BSRE, 2020).

5.2.6 MOONEY VISCOCITY (VISKOSITAS MOONEY)

Viskositas Mooney dilakukan untuk menunjukkan panjangnya rantai molekul karet atau berat molekul serta derajat pengikatan silang rantai molekulnya (Telaumbana, dkk., 2013). Viskositas karet pada umunya diuji dengan alat mooney pscometer yang prinsip kerjanya adalah memutarkan sebuah rotor yang berbentuk silinder di dalam karet tersebut. Makin besar viskositas karet, makin besar pula perlawanan yang diberikan oleh karet tersebut kepada rotor. Besarnya forak yang di alami oleh sumbu rotor di ukur oleh sebuah pegas yang berbentuk silinder dan di hubungkan dengan mikrometer yang mempunyai skala 0-100 (SOP QCD PT. BSRE, 2020).

5.3 WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS

Adapun Waktu dan Tempat pelaksanaan tugas khusus yakni sebagai berikut:

Tempat : Laboratorium Quality Control Department (QCD) PT. BSRE Waktu : Rabu, 10 November 2021.

5.4 OBJEK TUGAS KHUSUS

Pada tugas khusus ini penulis mengambil data analisa dari laboratorium Quality Control Department di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Objek yang digunakan untuk tugas khusus ini adalah komposisi bahan baku (HG, C1, dan C2).

5.5 METODOLOGI TUGAS KHUSUS

Metode yang digunakan dalam penyelesaian tugas khusus ini adalah metode langsung, dimana penulis menganalisa langsung kadar kotoran, kadar abu, nilai PO/PRI dan Mooney Viscocity yang terdapat pada campuran komposisi yang berbeda-beda.

5.5.1 ALAT DAN BAHAN 5.5.1.1 ALAT-ALAT

1. Gunting

2. Timbangan Digital 3. Oven

4. Erlenmeyer 5. Saringan 6. Desikator 7. Hot plate

8. Wallace Rapid Plastimeter 9. Talam aluminium

10. Viskometer 11. Wallace punch 12. Muffle Furnace 5.5.1.2 BAHAN-BAHAN

1. Homeground

2. Out Purchase Lump C1 3. Out Purchase Lump C2 4. Turpentine

Analisa komposisi bahan baku pada 3 komposisi yang berbeda dengan setiap komposisi bahan baku berat total yaitu 300 gram:

 Standar komposisi

Slab 1 (HG dan C1 = 10-60%) Slab 2 (C2 = 40-90%)

 Komposisi 1 (HG 25%; C1 15%; dan C2 60%) (10/11/2021)

 Komposisi 2 (HG 15%; C1 15%; dan C2 70%) (10/11/2021)

 Komposisi 3 (HG 10%; C1 10%; dan C2 80%) (10/11/2021)

5.5.2 PROSEDUR KERJA

Komposisi bahan baku yang di gunakan adalah bahan baku yang melewati pengovenan dan penggilingan pertama sebanyak 6 pass untuk menghomogenkan komposisi pada bahan baku yang akan di analisa.

 Analisa Kadar Kotoran (Dirt Content)

1. Setiap bahan komposisi di gunting seberat 20-25 gram lalu tipiskan sampel sebanyak 2 pass (0,33 ± 0,1 mm) lalu lipat 2

2. Lalu timbang dengan berat 10 gram ± 0,1 mg

3. Sampel dipotong kecil menjadi 12-15 bagian (untuk mempercepat pelarutan)

4. Isi erlenmeyer dengan turpentine 250 ml dan curio TS masing-masing 2 tetes

5. Masukkan sampel ke dalam erlenmeyer yang telah berisi turpentine dan curio TS lalu dipanaskan ke dalam hot plate sambil di guncang sekali sekali selama 2-3 jam dengan temperatur 120 ± 50C

6. Saringan yang akan digunakan sebelumnya di oven dan didinginkan di desikator sampai mencapai suhu ± 300C

7. Setelah suhu mencapai ± 300C saringan di bawa ke ruangan dirt content untuk melakukan penyaringan pada work station

8. Setelah sampel larut sempurna, larutan di lakukan penyaringan di work station

9. Lalu dilakukan pembilasan sebanyak 2 kali dengan 30-50 ml dengan cara pembilasan turpentine panas di semprotkan ke dalam erlenmeyer agar kotoran terbawa dalam larutan turpentine

10. Setelah dilakukan penyaringan, larutan turpentine di masukkan oven dengan suhu 1000C selama 1 jam

11. Setelah 1 jam keluarkan penyaringan dari oven, lalu masukkan ke dalam desikator hingga suhu mencapai ± 300C

12. Lalu timbang dan input data Rumus Dirt Content

Dirt Content = 𝐴−𝐵 𝑥 100% (1.1)

𝐶

Dimana

A = Berat saringan + kotoran B = Berat saringan kosong

 Analisa Ash Content

1. Setiap sampel di potong menggunakan gunting seberat 5 gram ± 0,1 gram

2. Timbang dan keringkan cruicible di dalam oven lalu masukkan di desikator hingga mencapai suhu ± 300C

3. Keluarkan cruicible lalu masukkan sampel ke dalam cruicible lalu bawa ke ruang ash content untuk dilakukan pemijaran

4. Pijarkan sampel di atas hot plate hingga tidak lagi mengeluarkan asap 5. Keluarkan sampel tadi lalu masukkan ke dalam muffle furnace dengan

temperature 550 ± 200C untuk memijarkan sampel hingga menjadi abu selama ± 2 jam dengan menggunakan penoeph cruicible

6. Setelah dipijar, keluarkan cruicible yang berisi sampel lalu masukkan ke dalam desikator ± 30 menit

7. Keluarkan dari desikator lalu timbang Rumus menghitung Ash Content

Ash Content = 𝐴−𝐵 𝑥 100% (1.2)

𝐶

Dimana

A = Berat cruicible + kotoran B = Berat cruicible kosong

 Analisa PO/PRI

1. Setiap sampel di potong menggunakan gunting dengan berat 50 gram 2. Lalu di setiap sampel ditipiskan sebanyak 2 pass (0,33 ± 0,1 mm) lalu

lipat 2 lalu di gunting menjadi ukuran yang sesuai SOP 3. Lalu sampel di bawa ke ruangan Po untuk dilakukan analisa

menggunakan alat plastimeter 4. Lalu di dapatkan nilai Po

5. Untuk nilai PRI sampel di timbang lalu dimasukkan oven dengan suhu 140 ± 0,20C selama 30 menit

6. Lalu analisa sama dengan Po Rumus PRI

PRI = 𝑃𝑎 𝑥 100% (1.3)

Dimana

PRI = Plasticity retention index Pa = Plastisitas pengusangan Po = Plastisitas original

 Analisa Nilai Mooney Viscocity

1. Setiap sampel di potong dengan berat 20-25 gram setiap sampel nya di potong menjadi 2 bagian

2. Lalu di bawa ke ruangan mooney viskositas untuk di analisa nilai mooney viskositasnya menggunakan alat viscometer

3. Sampel di masukkan pada batang rotor dan di atas rotor lalu di lapisi plastik yang bertujuan menjaga alat tetap bersih

4. Lalu masukkan ke dalam alat viscometer lalu tutup stator dengan tekan tombol standby lalu tekan tombol samping bersamaan

5. Untuk nilai mooney viskositasnya tunggu sampai 5 menit 6. Lalu catat nilai mooney viskositasnya

5.6 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.6.1 Hasil Pengamatan

Hasil yang diperoleh dari data pengamatan analisa komposisi bahan baku pada laboratorium di PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Analisa Komposisi Bahan Baku SIR 20 CV Sampel HG

(%)

C1 (%)

C2 (%)

Dirt (%)

Ash

(%) Po PRI

(%) ML1+4

1 25 15 60 0,096 0,20 29 72 59,8

2 15 15 70 0,098 0,19 28 71 58,1

3 10 10 80 0,103 0,19 27 67 56,1

(Sumber: Analisa Dirt, Ash, Po/PRI, ML1+4 di PT. BSRE, 2021)

Tabel 5.2 Nilai Standar Indonesia Rubber Untuk SIR 20 Standar Indonesia Rubber

Nilai Standar

Dirt (%)

Ash

(%) Po PRI

(%) ML1+4 0,200

max

1,00 max

0 min

50

min 50-64 (Sumber: Standar Indonesia Rubber)

5.6.2 Pembahasan

Dari hasil pengamatan dan analisa data di lapangan, penulis menyajikan dalam bentuk tabel pada tabel 5.1 Hasil Analisa Pada Komposisi Bahan Baku untuk mempermudah pembaca. Adapun perbandingan komposisi yang digunakan menunjukkan pengaruhnya terhadap beberapa kualitas produk. Pengaruh komposisi terhadap kualitas juga didukung terhadap temperatur yang digunakan dan waktu yang digunakan pada saat analisa. Temperatur yang digunakan pada analisa sebesar 1400C dan waktu yang digunakan 60 menit.

Pada analisa SIR 20 CV dengan uji kualitas seperti dirt content, ash content, nilai Po/PRI, dan mooney viskocity dilakukan untuk melihat kualitas yang diperoleh dari masing-masing bahan baku pada ketiga sampel yang berbeda komposisinya. Dengan komposisi bahan baku antara HG, C1, dan C2 yang digunakan adalah berbeda pada setiap sampel. Dimana pada SIR 20 CV dilakukan perlakuan perendaman terhadap sampel dengan menggunakan cairan WP25 guna mempertahankan viskositas (Constant Viscocity) sampel.

Analis pertama pada jenis SIR 20 CV, bahan yang digunakan dengan komposisi bahan homeground 25%; C1 15%; dan C2 60%, analisa menunjukkan pada kadar kotoran sebesar 0,096% yang menunjukkan kadar kotoran masih memenuhi Standard Indonesia Rubber (SIR) dimana standar pada Dirt Content yaitu 0,200. Lalu untuk kadar abu dimana kadar abu yang diperoleh sebesar 0,20% yang menunjukkan bahwa kadar abu pada komposisi pertama masih memenuhi Standar Indonesia Rubber dimana standar untuk Ash Content yaitu

1,00. Lalu pada nilai plastisitas originalnya (Po) mendapatkan nilai 29 dan masih memenuhi standar, dimana standar untuk nilai Po minimal 0 dan maksimal tidak ada, yang menunjukkan semakin tinggi nilai Po maka semakin bagus kualitas pada komposisi bahan bakunya. Lalu untuk nilai Plasticity Retention Index (PRI) mendapatkan nilai 72 dimana nilai standar minimum untuk PRI yaitu 50 dan tidak menentukan nilai maksimal terhadap nilai PRI nya. Untuk nilai mooney viskositas, nilai yang didapatkan pada saat analisa adalah 59,8 dimana nilai ini memenuhi nilai standar yang ditetapkan. Nilai yang ditetapkan untuk nilai Mooney Viscocity adalah 50-64.

Analisa kedua pada jenis SIR 20 CV, dimana komposisi yang digunakan adalah homeground 15%; C1 15%; dan C2 70%. Pada analisa nilai kadar Dirt Content nilai yang didapatkan sebesar 0,098%. Untuk nilai Ash Content yang didapatkan sebesar 0,19% dimana untuk nilai Dirt Content dan Ash Content masih memenuhi standar. Untuk Plasticity Original (Po) yang didapatkan pada analisa kedua masih memenuhi standar yaitu sebesar 28 dan untuk nilai Plasticity Retention Index (PRI) yang didapat sebesar 71 dan juga masih memenuhi Standard Indonesia Rubber (SRI). Untuk nilai mooney viskositas yang didapat untuk analisa kedua sebesar 587,1 dimana masih memenuhi standar Indonesia Rubber dengan standar 50-64 untuk nilai mooney viskositas.

Analisa ketiga pada jenis SIR 20 CV, menggunakan komposisi bahan baku dengan komposisi yang digunakan 10% homeground, 10% C1, dan 80% C2.

Untuk nilai Dirt Content yang diperoleh sebesar 0,103, untuk nilai Ash Content sebesar 0,19, untuk nilai Plasticity Original (Po) sebesar 27, untuk nilai Plasticity Retention Index (PRI) sebesar 69 dan untuk nilai Mooney Viscocity yaitu 56,1.

Untuk analisa ketiga semua nilai yang didapatkan masih memenuhi standar untuk Standar Indonesia Rubber.

Dalam dokumen LAPORAN KULIAH PRAKTIK INDUSTRI (Halaman 42-45)

Dokumen terkait