• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewenangan Pengelolaan Pertambangan

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 41-47)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Konsep Pertambangan

2. Kewenangan Pengelolaan Pertambangan

Kewenangan pengelolaan pertambangan sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Mengenai kewenangan pengelolaaan pertambangan oleh pemerintah kabupaten sepenuhnya di atur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 8 Ayat 1, yaitu: “Kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara lain, adalah:

a. Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;

b. Pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil;

c. Pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil;

d. Penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian, serta eksplorasi dalam rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara;

e. Pengelolaan informasi geologi, informasi potensi mineral dan batubara, serta informasi pertambangan pada wilayah kabupaten /kota;

f. Penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada wilayah kabupaten/kota;

g. Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;

h. Pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha pertambangan secara optimal;

i. Penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian, serta eksplorasi dan eksploitasi kepada Menteri dan gubernur;

j. Penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada Menteri dan gubernur;

k. Pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan

l. Peningkatan kemampuan aparatur pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.”

Menurut penulis, kewenangan pengelolaan pertambangan juga dilaksanakan oleh daerah. Terkait penelitian ini bahwa pengawasan dan penegakan hukum merupakan bagian dari kewenangan pengelolaan pertambangan oleh pemerintah daerah sehingga penambangan illegal dapat dicegah.

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Adapun deskripsi fokus penelitian, yaitu:

1. Peran pemerintah daerah dimaksudkan mencari solusi terhadap dampak dan pengaruh pertambangan illegal yang ada di desa Julukanaya. Setidaknya peran tersebut terwujud ke dalam dua hal sebagaimana yang digambarkan dalam kerangka berfikir yaitu pengawasan dan penegakan hukum.

2. Pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengendalikan atau menjamin dan mengarahkan agar suatu tugas atau pekerjaan berjalan dengan semestinya. Dalam hal ini, upaya pengendalian, menjamin dan mengarahkan dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Gowa sehingga peneliti dapat menganalisis upaya-upaya tersebut. Adapun indikator untuk mengetahuinya, antara lain:

a. Pembentukan Tim Terpadu. Pembentuka Tim Terpadu dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Gowa untuk melakukan pengawasan pada penambang pasir Illegal, khususnya di Desa Julukanaya.

b. Rutinitas turun lapangan dalam sebulan. Rutinitas yang dimaksud adalah berapa kali Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa turun lapangan dalam mengawasi penambang pasir illegal di Desa Julukanaya dalam sebulan.

c. Model-model pengawasan yang dilakukan dalam upaya penanggulangan penambang pasir illegal di Desa Julukanaya.

d. Sanksi

e. Pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan pengawasan terhadap penambang pasir illegal di Desa Julukanya.

3. Penegakan hukum adalah upaya-upaya menanggulangi penambang pasir illegal melalui tindakan hukum yang tentunya bekerja sama dengan pihak kepolisian Kabupaten Gowa. Adapun indikator-indikator untuk mengetahuinya, antara lain:

a. Model penegakan hukum dan sanksinya.

b. Kasus-kasus yang telah ditangani di Desa Julukanaya.

4. Faktor pendukung adalah hal-hal yang mendukung jalannya upaya penanggulangan penambang pasir illegal di Desa Julukanaya baik dalam bentuk pengawasan maupun penegakan hukum. Adapun indikator untuk mengetahuinya, antara lain:

a. Keterlibatan warga Desa Julukanaya.

b. Keaktifan Pemerintah Desa Julukanaya.

5. Faktor penghambat adalah hal-hal yang menghambat jalannya upaya penanggulangan penambang pasir illegal di Desa Julukanaya baik dalam

bentuk pengawasan maupun penegakan hukum. Adapun indikator untuk mengetahuinya, antara lain:

a. Keterlibatan Beberapa Oknum Aparat.

b. Kondisi perekonomian masyarakat Desa Julukanaya.

6. Terkendalinya penambang pasir illegal adalah dengan menganalisis upaya pengawasan dan penegakan hukum serta faktor-faktor penghambat maupun pendukung, maka dapat diketahui apakah penambang pasir illegal di Desa Julukanaya sudah terkendali atau belum.

G. Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENANGGULANGI PENAMBANG PASIR ILLEGAL DI DESA JULUKANAYA

KABUPATEN GOWA

FAKTOR PENDUKUNG a. Keterlibatan

Warga Desa b. Keaktifan

pemerintah dalam melakukan sosialisasi

FAKTOR PENGHAMBAT a. Oknum

Dibelakang Penambang Illegal b. Mata

Pencaharian Yang

Menjanjikan

TERKENDALINYA PENAMBANG PASIR

ILLEGAL Peran Pemerintah Daerah

Dalam Menaggulangi Penambang Pasir Illegal

Factor yang mempengaruhi pemerintah dalam menaggulangi penambang

illegal

ASPEK PENGAWASAN a. Pembentukan

TIM TERPADU b. Rutinitas Turun

Langsung c. Model

Pengawasan d. Sanksi

ASPEK PENEGAKAN

HUKUM a. Model

Penegakan Hukum b.Penyelesaian

Kasus Yang Berlangsung

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Gowa, Kantor Kecamatan Pallangga dan di Desa Julukanaya yang menjadi tempat penambangan illegal. Dipilihnya Desa Julukanaya sebagai lokasi penelitian karena di desa ini jumlah penambang pasir illegal semakin bertambah, sementara informasi di berbagai media baik cetak, elektronik maupun internet sangat minim keberadaan penambang pasir illegal di Desa Julukanaya. Selain itu, penambang pasir di Desa Julukanaya sebagian besar adalah masyarakat Desa Julukanaya sendiri. Bahkan penambang pasir illegal menjadi penghasilan utama bagi sebagian masyarakat Desa Julukanaya. Hal ini tentunya menjadi menarik untuk diteliti secara ilmiah.

B. Tipe dan Jenis Penelitian 1. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian ini yaitu menggunakan tipe penelitian kualitatif. Menurut Iskandar (2009:1), penelitian kualitatif merupakan proses kegiatan mengungkapkan secara logis, sistematis dan empiris terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita untuk direkonstruksi guna mengungkapkan kebenaran bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan ilmu pengetahuan.

36

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan secara jelas kondisi penambang pasir illegal dalam kaitannya dengan peran pemerintah daerah di Desa Julukanaya Kabupaten Gowa. Peran pemerintah daerah terdiri dari pengawasan dan penegakan hukum sehingga tergambarkan efektifitas penanggulangan penambang pasir illegal yang terdiri dari faktor pendukung dan faktor penghambat.

C. Informan Penelitian

Informan yang diwawancarai dalam penelitian ditentukan secara purposive (bertujuan), dengan melihat kesesuaian antara calon informan dengan informasi yang dibutuhkan. Artinya, informan yang akan dipilih adalah mereka yang betul-betul terkait dalam usaha penambangan illegal dan pihak atau instansi terkait. Secara garis besar informan dalam penelitian ini terdiri dari Kepala Dinas Pertambangan dan Energi beserta perangkatnya, Kepala Desa Julukanaya, Kepala Kecamatan Palangga, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kecamatan Palangga serta penambang pasir liar di Desa Julukanaya yang dianggap mampu memberikan informasi mengenai penelitian ini.

D. Sumber Data

Untuk mendukung validitas penelitian ini, ada dua jenis data yang hendak dikumpulkan untuk selanjutnya menjadi bahan analisis yakni:

1. Data primer merupakan data utama dalam penelitian ini. Data primer diperoleh secara langsung dari sumber data baik sebagai responden maupun informan melalui hasil wawancara dan observasi.

2. Data sekunder berupa data-data dan informasi tidak langsung yang diperoleh dari dokumen laporan-laporan, naskah peraturan/kebijakan, leaflet/brosur, dan situs-situs yang relevan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif pada umumnya menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi (Iskandar, 2009:120-121). Dengan demikian, tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan memperoleh data yang memenuhi standar yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi Teknik wawancara, observasi (pengamatan) dan studi dokumentasi yang kesemuanya terkait dengan peran pemerintah daerah dalam menanggulangi penambang pasir liar di Desa Julukanaya. Adapun penjelasan ketiga teknik pengumpulan data, yaitu:

1. Wawancara (Interview)

Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data kualitatif dengan menggunakan instrumen yaitu pedoman wawancara. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan subyek penelitian yang terbatas (Iskandar, 2009: 129). Wawancara dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan keterangan, pendapat

informan terhadap peran pemerintah daerah dalam menanggulangi penambang pasir liar di Desa Julukanaya Kabupaten Gowa. Untuk itu, model wawancara yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

a. Wawancara Terstruktur

Model wawancara terstruktur di sini dimaksudkan dimana peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya berbentuk pedoman wawancara, walaupun tidak harus diikuti secara sistematis, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam wawancara yang dapat berkembang di lapangan. Untuk wawancara terstruktur dilakukan pada tokoh masyarakat yaitu Kepala Dinas Pertambangan dan Energi beserta perangkatnya, Kepala Kecamatan Pallangga, Kepala Kepolisian Sektor Palangga, dan Kepala Desa Julukanaya.

b. Wawancara Tidak Terstruktur

Model wawancara tidak terstruktur, pertanyaan tidak disussun secara sistematis, akan tetapi pertanyaan bersifat situasional. Dalam prakteknya kedua model wawancara tersebut pada umumnya tidak dibatasi semata pada gejala yang akan diamati. Oleh karena itu, wawancara tidak terstruktur ditujukan pada penambang pasir illegal di Desa Julukanaya Kabupaten Gowa.

2. Observasi (Observation)

Observasi merupakan teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Kegiatan observasi meliputi pengamatan, pencatatan secara

sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung peneitian yang sedang dilakukan (Iskandar, 2009:

121).

3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan kredibilitas hasil penelitian kualitatif ini akan semakin tinggi jika melibatkan/ menggunakan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen baik yang berada di tempat penelitian ataupun yang berada di luar tempat penelitian, yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilakukan (Iskandar, 2009: 134).

F. Teknik Analisis Data

Menurut Payton dalam bukunya Moleong (2000:103), “analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar”. Selanjutnya Bogdan menyatakan “analisis data adalah

proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain” (Sugiyono, 2011: 334). Jika

dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menekankan pada maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah pengoraganisasian data, sedangkan yang kedua lebih menekankan pada maksud dan

tujuan analisis data adalah pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif untuk melihat peran pemerintah daerah dalam menanggulangi penambang pasir illegal di Desa Julukanaya Kabupaten Gowa dalam bentuk reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

G. Pengabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari kesahihan (validitas) dan keterandalan (reliabilitas). Penelitian merupakan kerja imiah, untuk melakukan ini maka mutlak dituntut secara obyektivitas, untuk memenuhi kriteria ini dalam penelitian maka kesahihan (validitas) dan keterandalan (reliabiitas) harus dipenuhi (Iskandar, 2009: 151). Adapun teknik penjamin keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu triangulasi.

Lexy J. Moleong (2002:178) berpendapat bahwa “Triangulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk pengecekan atau sebagai bahan pembanding terhadap data itu”.

Menurut Patton yang dikutip oleh HB. Sutopo (2002:78) menyatakan bahwa ada 4 macam teknik trianggulasi, yaitu :

1. Triangulasi Data (date triangulation), artinya data yang sama atau sejenis akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang

berbeda. Dengan demikian apa yang diperoleh dari sumber yang satu bisa lebih teruji kebenaranya jika dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber lain yang berbeda.

2. Triangulasi Metode (methodological triangulation), jenis triangulasi ini bisa dilakukan oleh seorang peneliti dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda.

Hal ini dimaksudkan untuk menguji kemantapan informasi yang diperoleh.

3. Triangulasi Peneliti (investigator triangulation), hasil penelitian baik data atau simpulan mengenai bagian tertentu atau keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti. Dari informasi yang berhasil digali diharapkan dapat terjadi kesepakatan pendapat yang sama dari beberapa peneliti.

4. Triangulasi Teori (theoretical triangulation), triangulasi ini dilakukan peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Misalkan dalam membahas suatu permasalahan tertentu, peneliti menggunakan beberapa teori seperti teori sosial, teori budaya dan sebagainya. Dari perspektif teori yang berbeda tersebut peneliti akan memperoleh pandangan yang tidak hanya sepihak tetapi lebih lengkap hingga akhirnya bisa dianalisis dan ditarik kesimpulan lebih utuh dan menyeluruh.

Namun dalam hal ini peneliti hanya menggunakan triangulasi data.

Triangulasi data adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat (participant obervation),

dokumen tertulis, arsif, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi dan gambar atau foto. Tentu masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti. Berbagai pandangan itu akan melahirkan keluasan pengetahuan untuk memperoleh kebenaran handal.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Julukanaya 1. Kondisi Geogarfis

Kondisi geografis Desa Julukanaya termasuk dalam wilayah dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 25 meter di atas permukaan air laut, terletak di bagian Selatan Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, dengan jarak tempuh 9 km dari Cambaya (Ibu Kota Kecamatan Pallangga), 11 km dari Sungguminasa (Ibu Kota Kabupaten Gowa) dan 15 km dari Makassar (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan).

Desa Julukanaya termasuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Pallangga dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Julubori Kecamatan Pallangga.

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Julupa’mai Kecamatan Pallangga.

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Maradekaya Kecamatan Bajeng.

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Panakkukang Kecamatan Pallangga.

Keadaan ikilim Desa Julukanaya sama dengan keadaan iklim desa lainnya di Kabupaten Gowa khususnya desa-desa dalam wilayah Kecamatan Pallangga, dimana setiap tahun terjadi 3 (tiga) musim, yaitu: Musim pancaroba terjadi pada Bulan Maret sampai dengan Bulan Mei, Musim

44

kemarau terjadi pada Bulan Juni sampai dengan Bulan September dan Musim hujan terjadi pada Bulan Oktober sampai Bulan Pebruari dengan curah hujan rata-rata dalam pertahun sekitar 400 mm dan suhu udara antara 20 derajat celcius sampai 35 derajat celcius.

Desa Julukanaya memiliki luas wilayah 3.080 Ha, terdiri atas tanah basah (sawah) dan tanah kering (kebun dan perumahan). Luas wilayah dibagi dalam 4 (empat) dusun yaitu : Dusun Pancana, Dusun Biringbalang dan Dusun Cambaya dan Dusun Ta’banga.

2. Kondisi Demografi

Jumlah penduduk Desa Julukanaya berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 yang dilaksanakan pada Bulan Mei 2010 sebanyak 4.380 Jiwa terdiri dari laki-laki 2.099 jiwa (47,92%) dan perempuan 2.281 jiwa (52,08) atau 1.005 KK terdiri dari Kepala Keluarga Laki-laki 917 orang (91,24%) dan Kepala Keluarga Perempuan 88 orang (8,76%), dengan mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani, yaitu mencapai 92,84% (RPJM-Desa Julukanaya, 2011).

Berdasarkan hasil pemetaan Rumah Tangga Miskin (RTM) yang dilaksanakan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat pada bulan Pebruari 2010 (RPJM-Desa Julukanaya, 2011), dari jumlah penduduk tersebut diantaranya adalah warga miskin sebanyak 3.273 Jiwa (74,73%) terdiri dari laki-laki 1.640 jiwa (50,11%) dan perempuan 1.633 Jiwa (49.89%) atau 765 KK

(76,12%) terdiri dari Kepala Keluarga Laki-laki 701 orang (91,63%) dan Kepala Keluarga Perempuan 64 orang (8,37%).

Adapun jumlah penduduk berdasarkan dusun menunjukkan bahwa dusun yang terbanyak penduduknya adalah Dusun Biringbalang yaitu 1.344 jiwa (30,69%) atau 311 KK (30,95%), kemudian Dusun Cambaya sebanyak 1.185 jiwa (27,05%) atau 275 KK (27,36%) , selanjutnya Dusun Pancana sebanyak 1.154 jiwa (26,35%) atau 256 KK (25,47%) dan dusun yang paling kurang penduduknya adalah Dusun Ta’banga sebanyak 697 jiwa (15,91%)

atau 163 KK (16,22%).

Selain data jumlah penduduk, Desa Julukanaya juga memetakan jumlah penduduk miskin, yaitu; jumlah penduduk miskin Desa Julukanaya sebanyak 3.273 Jiwa terdiri dari laki-laki 1.640 Jiwa (50,11%) dan perempuan 1.633 Jiwa (49,89%), atau 765 KK terdiri dari KK Laki-laki 701 orang (91,63%) dan KK Perempuan 64 orang (8,37%) yang tersebar pada 4 (empat) wilayah dusun. Dusun yang terbanyak penduduk miskinnya adalah Dusun Cambaya sebanyak 957 Jiwa (29,24%) terdiri dari laki-laki 455 Jiwa dan perempuan 502 Jiwa, atau 234 KK (30,59%) terdiri dari KK Laki-laki 214 orang dan KK Perempuan 20 orang, kemudian Dusun Biringbalang sebanyak 954 Jiwa (29,15%) terdiri dari laki-laki 454 Jiwa dan perempuan 500 Jiwa atau 213 KK (27,84%) terdiri dari KK Laki-laki 197 orang dan KK Perempuan 16 orang, selanjutnya Dusun Pancana sebanyak 886 Jiwa (27,07%) terdiri dari laki-laki 465 Jiwa dan perempuan 421 Jiwa atau 211 KK (27,58%) terdiri dari KK

Laki-laki 190 orang dan KK Perempuan 21 orang, serta dusun yang paling kurang penduduk miskinnya adalah Dusun Ta’banga yaitu 476 Jiwa (14,54%)

terdiri dari laki-laki 266 Jiwa dan perempuan 210 Jiwa atau 107 KK (13,99%) terdiri dari KK Laki-laki 100 orang dan KK Perempuan 7 orang (RPJM-Desa Julukanaya, 2011).

Jika dibandingkan data jumlah penduduk per dusun dengan data jumlah penduduk miskin per dusun, maka dapat disimpulkan bahwa Desa Julukanaya termasukng desa yang memiliki tingkat kemiskinan penduduk yang tinggi.

Hal ini tentunya berpengaruh pada penduduk yang kesulitan mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, maraknya penambangan pasir illegal di desa ini tidak terlepas kemiskinan penduduk Desa Julukanaya.

Jika dilihat dari tingkat pendidikan penduduk Desa Julukanaya (RPJM- Desa Julukanaya, 2011) sebagian besar hanya tamat SD/Sederajat, yaitu sebanyak 1.189 orang (27,15%), kemudian yang tamat SLTP/Sederajat sebanyak 915 orang (20,89%) dan yang tamat SMA/sederajat sebanyak 712 orang (16,26) serta yang tamat Perguruan Tinggi (Diploma dan Sarjana) hanya 50 orang (1,14). Selanjutnya masih ada penduduk yang tidak tamat SD/Sederajat sebanyak 478 orang (10,91%) dan yang tidak pernah sekolah sebanyak 678 orang (15,48%) serta usia belum sekolah (Balita) sebanyak 358 orang (8,17%).

Jika dilihat dari tingkat pendidikan penduduk desa ini, dapat dikatakan bahwa daerah termasuk daerah yang minim sosialisasi pendidikan. Terlihat banyaknya penduduk yang hanya tamatan SD. Hal tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Desa Julukanaya agar senantiasa mensosialisasikan pentingnya pendidikan bagi masyarakatnya.

Desa Julukanaya sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Pengelompokan penduduk berdasarkan mata pencaharian didapatkan bahwa jumah penduduk yang bermata pencaharian sebagai PNS/Pensiunan sebanyak 21 orang, TNI/Polri sebanyak dua orang, karyawan swasta sebanyak 20 orang, wiraswasta/pedagang sebanyak 20 orang dan petani sebanyak 933 orang (RPJM-Desa Julukanaya, 2011).

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Julukanaya adalah petani sekitar 92,84%. Hal ini juga sesuai dengan kondisi geografis desa ini yang memak cocok untu bertani.

3. Keadaan Statistik Sosial Budaya Desa

Keadaan statistik sosial budaya Desa Julukanaya, sebagaimana desa lain di Kabupaten Gowa khususnya dalam wilayah Kecamatan Pallangga masih kental dengan budaya Makassar yang sesuai dengan nilai/norma yang berlaku di masyarakat sebagai perekat kebersamaan dan persatuan baik dalam pelaksanaan pembangunan di desa maupun kegitan sosial budaya lainnya.

Hal ini dapat dilihat dengan tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan di desa, baik pembangunan yang dibiayai

pemerintah maupun pembangunan prasarana dan sarana umum yang dilaksanakan secara swadaya, partisipasi dan gotong royong seperti perintisan/pembangunan jalan desa/dusun, pengadaan tanah pekuburan dan pembangunan/rehabilitasi masjid. Namun bentuk partisipasi yang dilaksanakan secara gotong royong sudah mulai bergeser dari kerja bakti (tenaga) menjadi materi. Hal ini disebabkan pada umumnya masyarakat Desa Julukanaya sibuk dengan kegiatan usaha mata pencaharian masing-masing.

Kegiatan sosial budaya lainnya yang masih berkembang dan dilestarikan masyarakat dapat dilihat pada penyelenggaraan acara pesta hajatan khitaman dan pernikahan, dimanan masyarakat Desa Julukanaya masih menjadikan tradisi ini sebagai wahana mempererat kebersamaan dan menjalin persatuan antar keluarga dan kerabat.

Keadaan statistik sosial budaya Desa Julukanaya juga berkaitan erat dengan agama. Agama mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dan menjadi strategi terutama sebagai landasan spiritual, moral dan etika pembangunan. Masyarakat Desa Julukanaya 100% memeluk Agama Islam, maka dalam rangka mewujudkan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, dilakukan pengembangan lembaga dan pendidikan Agama Islam, serta peningkatan sarana dan prasarana Agama Islam.

Pengembangan lembaga dan pendidikan Agama Islam dapat dilihat dengan dilakukannya pendirian dan pembinaan TK-TPA sebanyak 5 unit, berkembangnya pengajian yang dilakukan oleh Majelis Taklim, pencerahan

qalbuJum’at Ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Peningkatan sarana dan prasarana Agama Islam dapat dilihat dengan tingginya partisipasi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sebanyak 5 buah masjid.

B. Profil Informan

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu dengan melihat kesesuaian antara calon informan dengan informasi yang dibutuhkan. Adapun informan yang berhasil dirampungkan berdasarkan teknik pemilihan informan di atas, antara lain untuk Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Gowa digantikan oleh Kepala Bidang Pertambangan Umum Distamben Kab. Gowa, Kapolsek Kec.

Pallangga digantikan oleh Kanit Pidsus (Pidana Khusus)/Tipikor Polres Kab.

Gowa, Kepala Desa Julukanaya, dan lima orang penambang pasir illegal di Desa Julukanaya.

Dari semua informan yang disebutkan di atas, peneliti perlu memberitahukan beberapa hal, antara lain, pihak kecamatan Pallangga sewaktu ditemui oleh peneliti tidak bersedia memberikan informasi mengenai tambang pasir illegal di Desa Julukanaya, pihak Polsek Kec. Pallangga setelah ditemui peneliti menyatakan bahwa untuk urusan penambang pasir illegal, pihak Polres Kab. Gowa telah mengambil alih sehingga pihaknya menyarankan untuk melakukan penelitian di Polres saja. Berikut profil singkat dari informan yang didapatkan dalam penelitian ini:

Dalam dokumen skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 41-47)

Dokumen terkait