• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Peran Pendidikan Dalam Membentuk Pemahaman Yang Benar Tentang Gender Dalam Islam

Dalam dokumen Gender dan pemngembangan masyarakat (Halaman 34-39)

1. kesetaraan gender dalam Al-qur’an dan hadist a. prinsip kesetaraan dalam Al-qur’an

Islam menegaskan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT tanpa memandang jenis kelamin, suku, atau status sosial. Hal ini terlihat dalam ayat:

اَهُّيَأَٰٓ َي ساَّنلٱ اَّنِإ م ك َنْقَلَخ ن ِ م رَكَذ ىَثن أ َو َّنِإ ۚ ْم كَم َرْكَأ َدنِع َِّللَٱ ْم ك ىَقْتَأ َّنِإ ۚ ََّللَٱ ميِلَع ريِبَخ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS Al-Hujurat: 13).

Al-Qur'an mengandung beberapa prinsip kesetaraan, di antaranya:

Kesetaraan gender, yaitu laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah:

• Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah18

• Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di bumi

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan ridho dan rahmat Allah

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan balasan yang sepadan atas amal saleh yang dilakukan

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan waris dari orangtua atau kerabat dekat19

Kesetaraan di hadapan Allah, yaitu semua manusia setara di hadapan Allah tanpa memandang suku, warna kulit, atau latar belakang etnis:

• Status seseorang tidak ditentukan oleh faktor-faktor dunia seperti kekayaan, keturunan, atau jabatan

• Yang membedakan seseorang di hadapan Allah adalah ketakwaan mereka.

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh faktor-faktor duniawi seperti kekayaan, status sosial, atau kebangsaan, melainkan oleh tingkat ketakwaan dan amal perbuatannya. saling mengenal dan menghargai, bukan sebagai dasar untuk membeda-bedakan atau merasa lebih unggul dari orang lain. Islam juga menghapuskan konsep diskriminasi yang berbasis warna kulit atau status sosial. Nabi Muhammad SAW menekankan hal ini dalam khutbah perpisahannya (Khutbah Wada’), di mana

beliau bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan ayahmu (Adam)

18 Sarifa Suhra, ‘Kesetaraan Gender Dalam Prespektif Al-Quran Dan Implilasi Terhadap Hukum Islam’, Jurnal Al-Ulum, 13.2 (2018), 373–94.

19 A N Fathoni and A Muti, ‘Konsep Kesetaraan Gender Menurut Al Quran’, Institute for Islamic Studies (IAI) Pangeran Diponegoro Nganjuk East Java Indonesia International Proceeding of ICESS, 2019, 300–317.

adalah satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas orang Arab; tidak pula orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan takwa."

Sabda ini mempertegas bahwa Islam menolak segala bentuk rasisme, diskriminasi, atau supremasi etnis.

Kesetaraan ini juga tercermin dalam pelaksanaan ibadah, seperti shalat dan haji. Dalam shalat berjamaah, semua Muslim berdiri sejajar tanpa memandang status atau kedudukan sosial.20 Dalam ibadah haji, jutaan Muslim mengenakan pakaian ihram yang sama, menanggalkan identitas duniawi mereka, dan hanya menghadap Allah SWT sebagai hamba yang sama di hadapan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa setiap individu, kaya atau miskin, berpengaruh atau tidak, memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.

Namun, kesetaraan di hadapan Allah tidak menghilangkan tanggung jawab masing-masing individu untuk bertakwa dan berbuat baik. Ukuran kemuliaan seseorang ditentukan oleh tingkat ketakwaannya, sebagaimana dijelaskan dalam surat:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun".(QS An-Nisa: 124).

Islam memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu untuk meraih kemuliaan melalui usaha mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah.

b. Hak dan Kewajiban laki-laki dan perempuan

Islam memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam banyak aspek kehidupan, terutama dalam hal ibadah,

20 Mohammad Nawir, Kajian Tentang Hadis-Hadis Relasi Kesetaraan Gender Dalam Fatwa MUI, 2016.

pendidikan, dan peran sosial.21 Kesetaraan ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, yang menyatakan bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya (QS Al-Hujurat: 13).

Dalam hal pendidikan, Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.22 Hadis Nabi SAW yang berbunyi, "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim," (HR.

Ibnu Majah) menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan dan meningkatkan pengetahuan.

Hak perempuan dalam Islam juga mencakup kepemilikan harta, bekerja, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Perempuan berhak memiliki, mengelola, dan menggunakan harta secara mandiri tanpa campur tangan siapa pun. Selain itu, perempuan memiliki kebebasan untuk berkontribusi dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik, sebagaimana yang dicontohkan oleh para tokoh Muslimah dalam sejarah, seperti Khadijah RA, Aisyah RA, dan Rufaidah Al-Aslamiyah.

Di sisi kewajiban, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan melaksanakan ibadah, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang adil dan harmonis, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Meskipun terdapat perbedaan dalam peran dan tanggung jawab tertentu, seperti kepemimpinan keluarga untuk laki-laki dan peran mendidik anak bagi perempuan, perbedaan ini bukanlah bentuk ketidaksetaraan.

Sebaliknya, peran ini dirancang untuk saling melengkapi, menciptakan keseimbangan dalam kehidupan individu dan masyarakat. Islam

21 Tua Dalimunthe, Juni Wati, and Sri Rizki, ‘Kesetaraan Gender Diruang Publik ( Analisis Pesan Dakwah Kesetaraan Gender Pada Youtube Ustadz Abdul Somad )’, 2 (2024), 202–32.

22 Wikhdatun Khasanah, ‘Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam’, Jurnal Riset Agama, 1.2 (2021), 296–307 <https://doi.org/10.15575/jra.v1i2.14568>.

menempatkan kedudukan laki-laki dan perempuan setara sebagai hamba Allah SWT, dengan keadilan sebagai prinsip utamanya.

c. perbedaan gender dan peran gender

Gender merujuk pada konsep sosial yang mengacu pada peran, perilaku, tanggung jawab, dan harapan yang dikaitkan dengan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Gender bukanlah sifat biologis, melainkan konstruksi sosial yang bisa berbeda di setiap budaya, tempat, dan waktu.

Contohnya, anggapan bahwa laki-laki harus bekerja di luar rumah dan perempuan mengurus rumah tangga adalah hasil dari konstruksi sosial, bukan aturan alami atau biologis.

Peran gender, di sisi lain, mengacu pada tugas dan tanggung jawab tertentu yang dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan norma-norma sosial dan budaya. Peran gender sering kali menentukan apa yang "seharusnya" dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, pendidikan, dan keluarga. Sebagai contoh, laki-laki sering dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan diharapkan menjadi pengasuh utama anak-anak.

Perbedaan utama antara gender dan peran gender terletak pada cakupannya. Gender adalah konsep yang lebih luas tentang identitas sosial laki-laki dan perempuan, sedangkan peran gender lebih spesifik, yaitu tentang apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan harapan sosial. Peran gender cenderung lebih fleksibel dan dapat berubah seiring waktu, sementara gender sebagai konsep sosial tetap menjadi kerangka pemahaman identitas dan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Pemahaman yang benar tentang gender dan peran gender penting untuk mengatasi stereotip dan ketidakadilan yang sering kali muncul akibat norma sosial yang bias. Dengan memisahkan peran gender dari identitas gender, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif di mana

individu diberi kebebasan untuk berkontribusi berdasarkan potensi mereka, bukan berdasarkan ekspektasi sosial yang kaku.

H. kontribusi Perempuan dalam Sejarah islam dan perannya dalam

Dalam dokumen Gender dan pemngembangan masyarakat (Halaman 34-39)

Dokumen terkait