• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gender dan pemngembangan masyarakat

N/A
N/A
Salsabila Nada

Academic year: 2025

Membagikan "Gender dan pemngembangan masyarakat"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Gender dan Pengembangan Masyarakat

Dosen Pengampuh: Dr. Nur Syamsiah, M.Pd.I Disusun oleh

Rahmawati 50300122016

Salsabila Qotifatun Nada 50300122020

Mustainah 50300122027

Nur Haerah Sharah 50300122032

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2024/2025

(2)

KATA PENGATAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul "Konsep Gender dalam pandangan Islam ". Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban penulis dalam mengikuti mata kuliah Gender dan Pengembangan Masyarakat pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Alauddin Makassar.

Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya gender dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab di kehidupan bermasyarakat.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk dapat memperbaiki dan menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan menjadi bahan renungan dalam menjalankan profesi dengan penuh integritas dan profesionalitas.

Gowa, 4 Januari 2025

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

BAB I ... 4

PENDAHULUAN ... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan... 5

BAB II ... 7

PEMBAHASAN ... 7

A. Pandangan Islam tentang penciptaan Manusia laki-laki dan Perempuan. ... 7

A. Peran dan tanggung jawab laki-laki dan Perempuan dalam Islam ... 9

B. Bagaimana Islam Memandang Kesetaraaan Gender dan Perbedaan Gender ... 11

C. Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antar Gender Dalam Keluarga dan Masyarakat ... 17

E. Pandangan Islam Terhadap Kekerasan Berbasis Gender ... 26

H. kontribusi Perempuan dalam Sejarah islam dan perannya dalam Pembangunan saat ini ... 39

BAB III ... 42

PENUTUP ... 42

A. Kesimpulan ... 42

B. Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Konsep gender dalam pandangan Islam merupakan topik yang menarik dan relevan di era modern ini. Di tengah maraknya diskusi tentang kesetaraan gender, pemahaman yang mendalam tentang bagaimana Islam memandang peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan menjadi sangat penting.

Perbedaan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam Islam seringkali disalahpahami dan diinterpretasikan secara sempit, sehingga memunculkan berbagai bentuk diskriminasi dan ketidakadilan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana Islam sebenarnya memandang gender? Apakah Islam membenarkan diskriminasi terhadap perempuan?

Di sisi lain, muncul pula gerakan emansipasi perempuan yang mengusung nilai-nilai kesetaraan gender tanpa mempertimbangkan nilai-nilai Islam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya identitas dan nilai-nilai luhur yang dianut oleh umat Islam.

Oleh karena itu, penting untuk merumuskan kembali konsep gender dalam Islam secara komprehensif dan objektif. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang benar tentang peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam Islam, serta untuk menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai Islam dengan realitas sosial yang berkembang.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pandangan Islam tentang penciptaan Manusia laki- laki dan Perempuan?

(5)

2. Apa saja peran dan tanggung jawab laki-laki dan Perempuan dalam Islam?

3. Bagaimana Islam memandang kesetaraan gender dan perbedaan gender?

4. Bagaimana Islam mengatur hubungan antara gender dalam keluarga dan Masyarakat?

5. Apa saja tantangan dalam penerapan konsep gender di era modern?

6. Bagaimana pandangan Islam terhadap kekerasan berbasis gender?

7. Bagaimana peran Pendidikan dalam membentuk pemahaman yang benar tentang gender dalam Islam?

8. Bagiamna kontribusi Perempuan dalam Sejarah Islam dan perannya Dallam Pembangunan saat ini?

C. Tujuan

1. Untuk memahami Pandangan Islam tentang penciptaan Manusia laki-laki dan Perempuan.

2. Untuk mengetahui peran dan tanggung jawab laki-laki dan Perempuan dalam Islam.

3. Untuk menjelaskan pandangan Islam tentang kesetaraan dan perbedaan gender.

(6)

4. Untuk menganalisis pengaturan Islam terhadap hubungan antar gender dalam keleuraga dan masyarakat.

5. Untuk mengidentifikasi tantangan Dallam penerapan konsep gender Islan di era modern.

6. Untuk memparkan pandangan Islam terhadap kekerasan berbasis gender.

7. Untuk menjelaskan peran Pendidikan dalam membentuk pemahaman yang benar tentang gender dalam Islam.

8. Untuk menelaah kontribusi Perempuan dalam Sejarah Islam dan perannya dalam Pembangunan saat ini

(7)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pandangan Islam tentang penciptaan Manusia laki-laki dan Perempuan.

Dalam buku gender, se and society, Gender adalah behavior differences antara laki-laki dan perempuan yang socially differences yakni perbedaan yang bukan kodrat atau ciptaan Tuhan melainkan diciptakan oleh laki-laki dan Perempuan melalui proses sosial dan budaya yang panjang,1 ,di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan asal mula penciptaan manusia laki-laki dan Perempuan.

Di antaranya disebutkan bahwa Allah SWT. menciptakan manusia dari air (Q.S al-Furqon (25): 54), dalam ayat lain disebutkan pula bahwa manusia diciptakan dari tanah liat (Q.S al-An’am (6): 2), dengan beragam tanah seperti tin (Q.S al-Mu’minun (23): 12), tanah liat kering dari lumpur hitam (Q.S al-Hijr (15): 26), dan tanah kering seperti tembikar (Q.S ar-Rahman (55): 14) (Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur’an, 2016). Kemudian generasi setelah Nabi Adam proses penciptaannya melalui reproduksi sebagaimana terdapat dalam (Q.S al-Hajj (22): 5) dan (Q.S al-Mu’minun (23): 13-14), kemudian disempurnakan dengan peniupan ruh (Q.S Shad (38): 72) dan pada akhirnya menjadi manusia terbaik dengan penciptaan yang sempurna (Q.S at-Tin (95): 4).2

Ayat-ayat diatas menggunakan Istilah “al-insan” yang merujuk pada manusia secara umum mencakup laki-laki dan Perempuan.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kedua jenis kelamin memiliki kesetaraan dalam asal penciptaan dari bahan dasar yang sama.Hal ini

1 Nasaruddin Umar Siti Ruhaini Dzuhayatin, Budhy Munawar-Rachman, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender Dalam Islam (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga : Yogyakarta., 2002, 2002).

2 Fitriani Fitriani and others, ‘Proses Penciptaan Manusia Perspektif Al-Qur’an Dan

Kontekstualitasnya Dengan Ilmu Pengetahuan Sains: Kajian Kesehatan Reproduksi’, Jurnal Riset Agama, 1.3 (2021), 30–44 <https://doi.org/10.15575/jra.v1i3.15120>.

(8)

merujuk bahwa tidak ada perbedaan drajat antara laki-laki dan Perempuan dalam pandangan Islam.

Hakikat penciptaan manusia dalam Islam mencakup beberapa aspek yang menjelaskan posisi dan peran manusia dalam kehidupan.

Berikut adalah penjelasan dari beberapa poin penting mengenai hakikat penciptaan manusia:

1. Makhluk Allah yang Paling Sempurna

Manusia diciptakan dengan kesempurnaan dan keunikan, baik secara fisik maupun jiwa. Keistimewaan ini menjadikan manusia berbeda dari makhluk lainnya. Allah bahkan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam karena akal dan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam Surat At-Tin:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS At-Tin: 4).

2. Sebagai Bukti Kekuasaan Allah SWT

Penciptaan manusia menunjukkan kekuasaan Allah. Adam AS sebagai manusia pertama telah mengakui Allah sebagai Tuhannya. Oleh karena itu, manusia diwajibkan untuk beriman kepada Allah. Kehidupan manusia harus mengikuti ajaran Islam yang merupakan pedoman hidup yang diturunkan oleh Allah.

3. Diciptakan Sebagai Hamba Allah

Manusia diciptakan untuk menjadi hamba yang mengabdi dan beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS Adz-Zariyat: 56).

Ibadah manusia terbagi menjadi ibadah khusus seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah umum seperti berbuat amal saleh yang bermanfaat bagi orang lain.

(9)

4. Sebagai Khalifah di Bumi

Manusia juga memiliki tugas sebagai khalifah atau penerus ajaran Allah di bumi. Mereka harus menjaga bumi dan makhluk lainnya, serta akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Hal ini disebutkan dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:

‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’

Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’" (QS Al-Baqarah: 30).3

A. Peran dan tanggung jawab laki-laki dan Perempuan dalam Islam

Mahmud Syaltut, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Min Tawjihat Al-Islam menyatakan bahwa sifat manusia antara laki-laki dan perempuan hampir serupa. Allah telah memberikan kepada perempuan, seperti halnya kepada laki-laki, potensi dan kemampuan yang memadai untuk memikul tanggung jawab dan menjalankan aktivitas-aktivitas umum maupun khusus. Oleh karena itu, hukum- hukum syariat menempatkan keduanya dalam kerangka yang sama.

Laki-laki bisa menjual dan membeli, menikahkan dan menikah, melanggar aturan dan dihukum, serta menuntut dan menjadi saksi, demikian pula perempuan memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan semua hal tersebut.4

3 Dalam Islam, ‘Hakikat Penciptaan Manusia Menurut Pandangan Islam’

<https://dalamislam.com/dasar-islam/hakikat-penciptaan-manusia>.

4 Agustin Hanapi, ‘Peran Perempuan Dalam Islam’, Gender Equality: Internasional Journal of Child and Gender Studies, 1.1 (2015), 15–26.

(10)

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan, al-Qur'an telah banyak membahas topik ini, termasuk hubungan antara keduanya serta keselarasan dan perbedaan mendasar yang ada. Salah satu penegasan Islam terkait kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan tercantum dalam QS al-Hujurat ayat 13. Ayat ini menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama dalam hal hak dan tanggung jawab sebagai ciptaan Tuhan. Dalam kehidupan sosial, pria dan wanita juga memiliki hak yang setara, meskipun peran yang dijalankan masing-masing berbeda sesuai dengan kodrat yang telah diberikan kepada mereka.5

Sebagaimana dijelaskan oleh Amina Wadud dalam karyanya Qur'an and Women, yang dikutip oleh Fatimah Zuhrah6 , al-Qur'an menyoroti perempuan sebagai individu. Dalam konteks ini, terdapat perbedaan antara kedudukan perempuan sebagai individu dengan perannya sebagai anggota masyarakat. Al-Qur'an memperlakukan individu, baik perempuan maupun laki-laki, secara setara dalam hubungannya dengan Allah, tanpa mempertimbangkan terminologi jenis kelamin (sex).

Kedudukan perempuan dalam Islam tercermin dalam beberapa ayat al-Qur'an, antara lain:

1. Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki kewajiban yang sama untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56.

2. Perempuan adalah pasangan bagi laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam QS An-Naba' ayat 8.

3. Perempuan, bersama-sama dengan laki-laki, akan mempertanggungjawabkan perbuatan dan pilihannya secara individu, sebagaimana termuat dalam QS Maryam ayat 93-95.

5 Lopa Baharuddin, Al Quran Dan Hak-Hak Asasi Manusia (Dana Bhakti Prima Yasa, 2008).

6 ‘Tanzimat-Fatimahzuhra.Pdf’.

(11)

4. Sama seperti laki-laki Mukmin, perempuan Mukminat yang beramal saleh dijanjikan kebahagiaan di dunia dan kehidupan abadi di surga, sebagaimana dinyatakan dalam QS An-Nahl ayat 97.

Saat ini banyak yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang kemudian dianggap sebagai alasan untuk menempatkan perempuan pada kedudukan dan status yang lebih rendah. Namun, al-Qur'an tidak secara tegas menyatakan bahwa Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi Adam. Berdasarkan hal ini, prinsip al-Qur'an terhadap laki-laki dan perempuan adalah kesetaraan, di mana hak istri diakui secara adil (equal) dengan hak suami. Dengan kata lain, laki-laki memiliki hak dan kewajiban terhadap perempuan, dan perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap laki-laki.

Fatimah Zuhrah mengutip pemikiran M. Hidayat yang menyatakan bahwa karena alasan inilah al-Qur'an dianggap memiliki pandangan revolusioner terhadap hubungan kemanusiaan, dengan memberikan keadilan hak antara laki-laki dan perempuan.7

B. Bagaimana Islam Memandang Kesetaraaan Gender dan Perbedaan Gender

Kesetaraan bermula untuk menghadapi berbagai aspek, termasuk demokrasi, sosial kemasyarakatan, sekaligus membentuk kesetaraan di antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan bermula dari keluarga, mungkin pendapat ini baru kita dengar, akan tetapi bisa untuk penganalisaan lebih cermat bahwa segala sesuatunya dimulai dari keluarga. Keluarga yang membentuk beberapa aspek sebagai awal dari kepribadian.

7 Loeziana Uce, ‘Keseimbangan Peran Gender Dalam Al-Qur’an’, Takammul : Jurnal Studi Gender Dan Islam Serta Perlindungan Anak, 9.1 (2020), 34–52 <https://jurnal.ar-

raniry.ac.id/index.php/takamul/article/view/12564>.

(12)

1. Kesetaraan gender dalam Islam

Kedudukan di hadapan Allah: Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Keduanya sama-sama sebagai hamba Allah yang wajib menyembah dan patuh kepada-Nya. Hak untuk beribadah: Islam memberikan hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk menjalankan ibadah. Tidak ada perbedaan dalam hal kewajiban beribadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Hak untuk mendapatkan pendidikan: Islam mendorong setiap individu, termasuk perempuan, untuk menuntut ilmu. Pendidikan dianggap sebagai hak yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Hak untuk bekerja: Islam tidak membatasi perempuan untuk bekerja dan berkontribusi dalam masyarakat. Banyak hadis yang menunjukkan peran penting perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Islam memandang perbedaan gender sebagai sebuah kenyataan yang diciptakan oleh Allah SWT. Perbedaan ini bukan untuk menciptakan hierarki atau diskriminasi, melainkan lebih kepada pembagian peran dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan fitrah masing-masing.

2. Perbedaan Gender dalam Perspektif Islam

Fisiologi: Perbedaan fisik yang jelas antara laki-laki dan perempuan, seperti organ reproduksi, kekuatan fisik, dan siklus hormonal, menjadi dasar bagi perbedaan peran dalam kehidupan. Psikologi: Islam mengakui adanya perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan umumnya memiliki sifat lebih lembut, penyayang, dan intuitif, sementara laki-laki cenderung lebih kuat, berani, dan rasional. Perbedaan ini bukan untuk menilai superioritas atau inferioritas, melainkan sebagai komplementeritas. Peran dalam Keluarga: Islam memberikan peran yang berbeda dalam keluarga.

Laki-laki sebagai pemimpin keluarga bertanggung jawab mencari nafkah dan melindungi keluarganya, sementara perempuan sebagai pendamping dan pengatur rumah tangga. Namun, kepemimpinan dalam Islam bukan berarti

(13)

otoritarianisme, melainkan kepemimpinan yang bijaksana dan penuh kasih sayang.

3. Prinsip Keadilan dalam Perbedaan Gender

Meskipun ada perbedaan peran, Islam sangat menekankan prinsip keadilan bagi laki-laki dan perempuan. Keadilan ini tercermin dalam Kesetaraan dalam Hak Dasar: Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk beribadah, mendapatkan pendidikan, dan memperoleh keadilan. Pengakuan atas Kontribusi: Islam mengakui dan menghargai kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, baik di dalam maupun di luar rumah. Perlindungan terhadap Perempuan: Islam memberikan perlindungan khusus kepada perempuan, terutama dalam hal hak-haknya sebagai istri dan ibu.

Miskonsepsi yang Perlu Diluruskan Seringkali terjadi miskonsepsi mengenai pandangan Islam terhadap perempuan. Beberapa di antaranya adalah Perempuan derajatnya lebih rendah: Ini adalah pemahaman yang keliru.

Islam menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Perempuan hanya untuk urusan rumah tangga:

Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkarier dan berkontribusi dalam masyarakat. Perempuan tidak boleh memimpin: Tidak ada dalil yang secara tegas melarang perempuan untuk memimpin. 8

4. Islam tentang Kedudukan Laki-laki dan Perempuan

Yanggo, menjelaskan persamaan kedudukan perempuan dengan laki-laki menurut Al-Qur'an antara lain:

a. Dari segi pengabdian. Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam pengabdian. perbedaan yang jadi ukurannya hanyalah ketaqwaannya.

8 Siti Marhamah Mujib, ‘Pendidikan Islam Dan Kesetaraan Gender’, Muwazah, 2.1 (2012), 20–43

<https://doi.org/10.28918/muwazah.v2i1.15>.

(14)

b. Dari segi status kejadian. Al-Qur'an menerangkan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan Allah dalam derajat yang sama.

c. Dari segi mendapat godaan. Di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa godaan dan rayuan iblis berlaku bagi laki-laki dan perempuan sebagaimana halnya Adam dan Hawa'.

d. Dari segi kemanusiaan. Al-Qur'an menolak pandangan yang membedakan laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

e. Dari segi pemilikan dan pengurusan harta. Al-Qur'an menghapuskan semua tradisi yang diberlakukan atas perempuan berupa larangan atau pembatasan hak untuk membelanjakan harta yang mereka miliki.

f. Dari segi warisan. Al-Qur'an memberikan hak waris kepada laki-laki dan perempuan.

g. Persamaan hukum tentang perceraian.

Dalam hal kepemimpinan, Al-Qur'an menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin. Salah satu kisah yang sangat terkenal dalam Al-Qur'an adalah tentang seorang ratu (Al- Qur'an, an- Naml : ayat 22-23) yang digambarkan sebagai seorang perempuan yang menggunakan kekuasaan dengan sebaik-baiknya untuk membimbing rakyatnya agar patuh pada nabi Sulaiman. Ia adalah Ratu Saba', yang menjadi model peranan amat positif dari seorang perempuan yang menjadi kepala negara.

Dalam Q.s AN-Naml ayat 22-23 Menjelaskan bahwa

"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahui dan kubawa kepadamu dari negeri Saba' suatu berita penting yang diyakini". Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”

5. Contoh kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari

(15)

a. Setara dalam hasil usaha

Tafsir ayat QS. Al-Nisa/Perempuan[4]:32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagiaan kamu lebih banyak dari sebahagiaan yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

b. Setara dalam mendapat pahala

Tafsir ayat QS. Al-Ahzab/Golongan yang bersekutu [33]:35

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki- laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

6. Ketidakadilan Gender (Gender Inequality) Tafsir ayat QS. Al-Najm [53] 19-22

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al- lata dan Al-Uzza, 20 dan manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai

(16)

anak Perempuan Allah)? 21. (anak) Perempuan? 22. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun, yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.

Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang ada.

Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni: Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.

Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah- pisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.

Tidak ada satu pun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting, lebih esensia, dari yang lain. Misalnya, marginalisasi ekonomi kaum perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik (voilence) adalah masalah paling mendasar yang harus dipecahkan terlebih dahulu. 9

9 Aisyah Arsyad Embas, TAFSIR GENDER Telaah Terhadap Ayat-Ayat Bernuansa Gender, 2014.

(17)

C. Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antar Gender Dalam Keluarga dan Masyarakat

Hukum Islam sebagai salah satu pranata sosial memiliki dua fungsi, fungsi pertama sebagai kontrol sosial, yaitu hukum Islam diletakkan sebagai hukum Tuhan, yang selain sebagai kontrol sosial sekaligus sebagai social engineering terhadap keberadaan suatu komunitas masyarakat. Sedang kontrol yang kedua adalah sebagai nilai dalam proses perubahan sosial yaitu hukum lebih merupakan produk sejarah yang dalam batas-batas tertentu diletakkan sebagai justifikasi terhadap tuntutan perubahan sosial, budaya, dan politik.1 Sehingga dalam konteks ini hukum Islam dituntut untuk akomodatif terhadap persoalan umat tanpa harus kehilangan prinsip-prinsip dasarnya.10

Hukum keluarga Islam mencakup aturan-aturan yang mengatur kehidupan rumah tangga, mulai dari pernikahan, perceraian, hingga warisan. Sebagai salah satu cabang penting dalam syariah, hukum keluarga sering kali menjadi cerminan bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam konteks sosial yang konkret. Menurut Hooker (2008), hukum keluarga Islam berasal dari sumber-sumber utama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadis, serta diperkuat melalui ijma' (kesepakatan ulama) dan qiyas (analogi). Ketentuan ini, terutama dalam soal-soal seperti pernikahan, perceraian, dan hak waris, sering kali dilihat sebagai panduan yang tidak hanya mengatur hubungan antarindividu, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai keadilan sosial dalam Masyarakat islam

Emansipasi Perempuan Menurut Pandangan Islam dan Barat Emansipasi berart persamaan hak dalam hukum (kaum wanita sama haknya dengan kaum pria) (Poerwadarminta, 1982: 270). Pengakuan atas kedudukan perempuan yang mulia dalam Islam dibuktikan dengan penghapusan tradisi-tradisi yang bersifat diskriminatif terhadap mereka.

Islam juga telah mengatur peran dan tugas perempuan. Dalam keluarga, seorang perempuan memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang bertugas

10 Hukum Waris, Islam Dipandang, and Maryati Bachtiar, ‘Ilmu Hukum 155’, 59, 2001, 155–65.

(18)

merawat anak dan melayani suami. Selain peran di atas, Islam juga menjamin hakhak perempuan.

Hak-hak itu antara lain adalah 1) hak untuk mendapatkan warisan (seorang anak perempuan mendapat setengah anak laki-laki); 2) hak mendapat pendidikan; 3) dan hak memilih pasangan. Islam datang dengan tugas-tugas syariat yang dibebankan kepada pria dan wanita, dengan hukum- hukum yang menangani berbagai tindakan dan tugas masing-masing. Islam tidak memandang persamaan hak (emansipasi) atau keutamaan antara wanita dan pria, tetapi Islam memandang sebagai suatu problema yang perlu diatasi (Al-Baghdadi, 1997: 17). Masalah emansipasi tidak ada dalam hukum Islam, yang ada hanya hukum syariat mengenai peritiwa yang terjadi atas insan baik pria maupun wanita.11

Islam memberikan panduan yang komprehensif mengenai hubungan antar gender dalam keluarga maupun masyarakat. Panduan ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang harmonis, saling menghormati, dan berdasarkan pada prinsip-prinsip keadilan dan kasih sayang.

Dalam Keluarga:

a) Kesetaraan dalam Ibadah: Islam mengajarkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.

Keduanya memiliki kewajiban yang sama untuk beribadah dan meraih ridho-Nya. Perbedaan hanya terletak pada bentuk ibadah tertentu yang disesuaikan dengan fitrah masing-masing.

b) Peran yang Saling Melengkapi: Islam memberikan peran yang berbeda namun saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Laki-laki umumnya menjadi pemimpin dan pencari nafkah, sedangkan perempuan memiliki peran sebagai pendamping, pengatur rumah tangga, dan mendidik anak-anak. Namun, ini bukan berarti

11 Hamidah Hanim, ‘Peranan Wanita Dalam Islam Dan Feminisme Barat’, At-Tarbawi, 7.2 (2020), 148–61 <https://doi.org/10.32505/tarbawi.v8i2.>.

(19)

perempuan tidak bisa bekerja di luar rumah atau laki-laki tidak bisa membantu pekerjaan rumah tangga.

c) Kasih Sayang dan Kesetiaan: Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang, kesetiaan, dan saling menghormati dalam hubungan suami istri. Suami dituntut untuk berlaku baik kepada istrinya, sedangkan istri dituntut untuk taat kepada suaminya dalam hal yang ma'ruf.

d) Pendidikan Anak: Pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama antara suami dan istri. Islam mengajarkan pentingnya memberikan pendidikan agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak sejak dini.

Dalam Masyarakat:

a) Keadilan dan Persamaan: Islam menjunjung tinggi prinsip keadilan dan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai anggota masyarakat.

b) Saling Menghormati: Islam mengajarkan agar setiap individu saling menghormati satu sama lain, terlepas dari jenis kelaminnya.

Perempuan harus dihormati dan dilindungi, sedangkan laki-laki harus berlaku sopan dan santun kepada perempuan.

c) Kerjasama: Islam mendorong laki-laki dan perempuan untuk bekerja sama dalam membangun masyarakat yang baik. Keduanya memiliki peran yang penting dalam memajukan umat dan bangsa.

Pernikahan dan Kesetaraan Gender

Pernikahan dalam Islam diatur secara ketat dengan hak dan kewajiban yang jelas bagi suami dan istri. Dalam tradisi Islam, suami adalah pemimpin keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anak- anaknya, sementara istri diwajibkan untuk taat kepada suami.

Perceraian dan Hak-Hak Perempuan

(20)

Dalam hukum Islam, perceraian atau talak merupakan hak yang diberikan kepada suami, meskipun perempuan juga dapat mengajukan cerai melalui mekanisme khulu’ atau fasakh. Di Indonesia, Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam memberikan hak kepada perempuan untuk mengajukan cerai dengan alasan-alasan tertentu, seperti ketidakmampuan suami menafkahi atau kekerasan dalam rumah tangga (Nurlaelawati, 2010). Namun, dalam praktiknya, perempuan sering kali menghadapi kesulitan dalam mengakses hak-hak mereka, terutama jika mereka tergantung secara ekonomi pada suami atau mengalami tekanan sosial yang kuat untuk mempertahankan pernikahan.

Warisan dan Kesetaraan Gender

Hukum waris Islam mengatur bahwa anak laki-laki mendapatkan bagian warisan yang lebih besar dibandingkan anak perempuan, yakni dua berbanding satu (An-Nisa: 11). Ketentuan ini sering kali dipandang sebagai salah satu bentuk ketidaksetaraan gender dalam hukum keluarga Islam.

Namun, beberapa ulama dan ahli hukum berpendapat bahwa ketentuan ini harus dilihat dalam konteks tanggung jawab laki-laki untuk menafkahi keluarganya, sehingga bagian warisan yang lebih besar merupakan kompensasi atas tanggung jawab ekonomi tersebut.12

Hak-hak perempuan (isteri) setelah terjadinya perceraian

Isteri yang telah bercerai dari suaminya masih men-dapatkan hak-hak dari mantan suaminya ketika dalam menjalankan masa iddah (waktu tunggu).

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri- isteri yang sudah dithalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak- anak) mu untukmu, maka

12 Holan Riadi, ‘HUKUM KELUARGA ISLAM DAN KESETARAAN GENDER : KAJIAN ATAS PENGALAMAN MASYARAKAT MUSLIM DI INDONESIA’, 11 (2024), 1174–84.

(21)

berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa isteri yang telah bercerai berhak mendapatkan haknya dari mantan suaminnya. Adapun hak yang diterima oleh mantan isteri tersebut dibedakan berdasarkan kondisi isteri, bukan ber- dasarkan pada jangka waktu masa iddah yang dijalani. Menurut ayat tersebut, bahwa isteri yang dicerai baik dalam bentuk thalak raj'i atau ba'in mendapat hak tempat tinggal, dan jika dalam kondisi hamil maka ia dapat hak nafkah juga.

Terhadap ayat tersebut ulama fiqih memberikan interpretasi bahwa hak yang diterima oleh perempuan yang diceraikan suaminya dibedakan berdasarkan bentuk perceraiannya, yaitu:

1. Isteri yang dithalak raj'i mendapatkan hak tempat tinggal dan nafkah.

2. Isteri yang dithalak ba'in baik ba'in sughra maupun kubra dan dalam kondisi hamil mendapatkan hak tem- pat tinggal dan nafkah. Adapun jika ia tidak dalam kondisi hamil, maka ulama berbeda pendapat.

3. Perempuan tersebut mempunyai hak tempat tinggal dan nafakah (pendapat Umar, Ibn Su'ud, dan kebanya- kan dari fuqaha' sahabat dan tabi'in, mazhab Hana-fiyah dan al Thauriy). Pendapat ini didasarkan pada keumuman ayat yang merupakan perintah untuk memberi tempat tinggal bagi semua perempuan yang dithalak, sedang pemberian nafkah itu merupakan imbalan dari adanya kewenangan suami menahan is- teri, baik ia dalam kondisi hamil atau tidak.

4. Perempuan tersebut tidak mendapat tempat tinggal dan nafkah (pendapat Ibn Abbas, Jabir bin Abdullah, Fatimah binti Qais, dan sebagian tabi'in, Ishaq, Dawud, dan Mazhab Ahmad. Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan

(22)

Ahmad dari Fatimah binti Qais: Dari Fatimah binti Qais yang ditalak oleh suaminya dengan talak tiga, maka Rasulullah Saw bersabda: Anda tidak mempunyai hak nafkah dan tempat tinggal.

5. Perempuan yang dithalak ba'in kubra mempunyai hak tempat tinggal saja, tanpa nafkah. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Syafi'i. Hak tempat tinggal dan tidak adanya nafkah didasarkan pada pemahaman atas ayat.

Masalah gender dalam kewarisan Islam

Aturan tentang kewarisan dalam Islam seringkali digu nakan sebagai legitimasi tentang status perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Ayat Alqur'an yang menjelas kan tentang pembagian warisan baik dari segi orang- orang yang berhak menerima harta warisan maupun jumlah yang berhak mereka terima terdapat dalam surat al Nisa' ayat 11, 12, 13, dan 179. Dalam ayat 11 surat al-Nisa' dijelas kan bahwa bagian anak laki-laki adalah sama dengan dua anak perempuan. Pada umumnya, para ulama menyikapi ketentuan tersebut dengan dasar pemikiran bahwa ahli waris/anak laki-laki mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah keluarganya, anak dan isteri walaupun dia memiliki harta yang banyak. Anak perempuan (isteri) tidak berke wajiban membelanjakan hartanya untuk keluarganya, ke cuali atas kerelaannya sendiri. Dengan demikian, tanggung jawab laki-laki satu tingkat lebih berat dibanding seorang perempuan. Jika dasar pemikiran ini yang digunakan, maka sejatinya laki-laki tidak boleh lepas tanggung jawab pada keluarganya, yakni anak, isteri, dan keluarga lain yang menjadi tanggung jawabnya.13

D. Tantangan Dalam Penerapan Konsep Gender Di Era Modern

kesetaraan gender menjadi tantangan bagi perempuan dan laki-laki di zaman sekarang. Kesetaraan gender berarti memberikan kepada keduanya

13 A.Mahfudz N., GENDER Islam Dan Budaya, 2016.

(23)

kesempatan yang sama untuk memanfaatkan hak dan peluang yang sama dalam semua aspek kehidupan. Untuk mencapai pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan tujuan pembangunan berkelanjutan, pemerintah Indonesia berkonsentrasi pada empat sektor utama: pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan pencegahan kekerasan. Salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan adalah pendidikan yang inklusif dan berkualitas tinggi, kesempatan belajar seumur hidup, kesetaraan gender,dan pelindungan yang berkelanjutan.

1. Budaya Patriarki

Budaya patriarki masih menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan konsep gender. Dalam banyak budaya, norma-norma patriarkal mengatur peran dan harapan terhadap laki-laki dan perempuan.

Norma Peran Tradisional: Laki-laki sering dianggap sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan dipandang sebagai pengurus rumah tangga. Hal ini menciptakan tekanan bagi perempuan untuk mengutamakan peran domestik mereka, yang dapat menghambat ambisi karir mereka.

Kekerasan Berbasis Gender: Budaya patriarki juga berkontribusi pada tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual namun enggan melapor karena stigma sosial dan ketidakpercayaan terhadap sistem hukum.14

2. Kesenjangan Upah

Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan merupakan tantangan serius dalam mencapai kesetaraan gender. Meskipun perempuan semakin banyak berpartisipasi dalam angkatan kerja, mereka sering kali

14 Arip Ambulan Panjaitan1 and Charlyna S. Purba, ‘Dogmatic Legal Research )’, 1945.Uud (1945), 70–95.

(24)

menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan rekan laki-laki dengan kualifikasi yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai "pay gap" dan menciptakan ketidakadilan ekonomi yang berkelanjutan. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kebijakan yang mendorong transparansi dalam penggajian dan memperjuangkan upah yang adil.

3. Keterwakilan Perempuan di Posisi Kepemimpinan

Kurangnya keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan menjadi tantangan lain yang signifikan. Meskipun perempuan telah membuktikan kemampuan mereka di berbagai bidang, mereka masih kurang diwakili dalam pengambilan keputusan penting. Stereotip gender, kurangnya dukungan dan mentorship, serta hambatan struktural menjadi faktor yang mempengaruhi keterwakilan ini. Penting untuk menciptakan kesempatan setara dan memperkuat jaringan dukungan bagi perempuan agar dapat mencapai posisi kepemimpinan.

4. Diskriminasi dan Pelecehan

Diskriminasi berbasis gender sering terjadi di lingkungan kerja dan kehidupan publik, membuat perempuan harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan atas prestasi mereka. Pelecehan seksual merupakan ancaman serius bagi keamanan dan kesejahteraan perempuan, dengan banyak kasus yang tidak dilaporkan karena stigma sosial. Mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan sistematis untuk memastikan perlindungan hukum yang memadai dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi semua individu.

5. Ketidakadilan Hukum dan Kurangnya Perlindungan Hukum

Banyak negara telah mengadopsi undang-undang yang melindungi hak- hak perempuan, tetapi seringkali undang-undang tersebut belum diterapkan dengan baik. Beberapa masalah yang muncul termasuk kekerasan berbasis gender. Perempuan masih menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga,

(25)

pelecehan seksual, perdagangan manusia, dan pemerkosaan. Korban seringkali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan keadilan dan dukungan, meskipun ada undang-undang yang melarang hal ini. Perempuan sering menghadapi hambatan dalam mendapatkan keadilan yang adil dan perlindungan yang memadai. Ketiga, kurangnya perlindungan pekerjaan.

Perempuan sering menghadapi diskriminasi ditempat kerja, termasuk dalam hal penggajian yang tidak adil, pelecehan seksual, dan pengabaian hak-hak pekerja. Perlindungan hukum yang kuat diperlukan untuk melindungi hak-hak perempuan di tempat kerja.15

6. Akses Terhadap Pendidikan dan Kesempatan Kerja

Akses terhadap pendidikan berkualitas dan kesempatan kerja merupakan tantangan besar bagi perempuan.

Kesenjangan Pendidikan: Di beberapa daerah, terutama di negara berkembang, akses pendidikan untuk perempuan masih terbatas. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor ekonomi, budaya, atau kekerasan berbasis gender yang menghalangi mereka untuk melanjutkan pendidikan.

Peluang Kerja Terbatas: Setelah menyelesaikan pendidikan, banyak perempuan masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Ini sering kali disebabkan oleh diskriminasi dalam proses perekrutan atau kurangnya jaringan profesional.

7. Stereotip Gender

15 Rijal Pahlevi and Rahimin Affandi Abdul Rahim, ‘Faktor Pendukung Dan Tantangan Menuju Kesetaraan Gender’, Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 3.2 (2023), 259–68

<https://doi.org/10.15575/jis.v3i2.26766>.

(26)

Stereotip gender yang membatasi peran dan ekspektasi terhadap laki- laki dan perempuan dapat mempengaruhi pilihan karir serta pengambilan keputusan individu.

Pengaruh Media: Media sering kali memperkuat stereotip gender dengan menampilkan representasi yang bias tentang peran laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat membentuk pandangan masyarakat tentang apa yang dianggap "layak" untuk masing-masing gender.

Dampak pada Laki-laki: Stereotip tidak hanya merugikan perempuan tetapi juga laki-laki, dengan menempatkan batasan pada ekspresi diri mereka dan mengharuskan mereka untuk memenuhi norma-norma maskulinitas tradisional.

8. Kurangnya Kesadaran dan Edukasi

Kurangnya kesadaran tentang isu-isu gender juga menjadi tantangan besar.

Edukasi Gender: Banyak orang masih kurang memahami konsep kesetaraan gender dan pentingnya penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa edukasi yang memadai, stereotip dan diskriminasi akan terus berlanjut.

Perubahan Sosial: Masyarakat perlu didorong untuk terlibat dalam diskusi tentang kesetaraan gender melalui kampanye edukasi publik dan program-program pelatihan untuk meningkatkan pemahaman tentang isu-isu ini.

E. Pandangan Islam Terhadap Kekerasan Berbasis Gender

Islam, sebagai agama yang menyebarkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia, memandang kekerasan berbasis gender (KBG) sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ajarannya. Kekerasan berbasis gender adalah kekerasan yang dilakukan terhadap seseorang karena perbedaan jenis kelamin atau

(27)

gendernya, yang sering kali menargetkan perempuan, baik dalam bentuk fisik, psikologis, seksual, atau ekonomi. Dalam pandangan Islam, kekerasan terhadap individu—baik laki-laki maupun perempuan—adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang mulia. Oleh karena itu, Islam mendorong perlakuan yang adil dan bermartabat terhadap setiap individu tanpa membedakan gender.

1. Prinsip Keadilan dan Kesetaraan dalam Islam

Pada dasarnya, Islam mengajarkan bahwa seluruh umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, diciptakan oleh Allah dengan martabat yang setara.16 Prinsip ini dapat ditemukan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW. Misalnya, dalam surah Al-Hujurat (49:13), Allah berfirman:

اَهُّيَأاَي ساَّنلا اَّنِإ م كاَنْقَلَخ ن ِ م رَكَذ ىَثن أ َو ْم كاَنْلَعَج َو اًبو ع ش

َلِئاَبَق َو او ف َراَعَتِل َّنِإ ْم كَم َرْكَأ َدنِع َِّاللَ

ْم كاَقْتَأ َّنِإ ََّاللَ

ميِلَع ريِبَخ

"Wahai umat manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu bersuku- suku dan berbangsa-bangsa, agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Ayat ini menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu sumber, yaitu pasangan laki-laki dan perempuan, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam martabat manusia berdasarkan jenis kelamin.

Keadilan dan kesetaraan adalah nilai yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, kekerasan terhadap perempuan, yang didasarkan pada pemahaman yang keliru tentang superioritas gender, jelas bertentangan

16 Mahir Amin, ‘Konsep Keadilan Dalam Perspektif Filsafat Hukum Islam’, Al-Daulah: Jurnal Hukum Dan Perundangan Islam, 4.02 (2015), 322–43 <https://doi.org/10.15642/ad.2014.4.02.322-343>.

(28)

dengan ajaran Islam yang mendasarkan kemuliaan individu pada takwa, bukan jenis kelamin.

2. Kekerasan terhadap Perempuan dalam Islam

Islam dengan tegas melarang segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat jelas mengenai bagaimana seorang laki-laki seharusnya memperlakukan perempuan dengan penuh kasih sayang, hormat, dan perhatian. Salah satu hadis yang menggambarkan hal ini adalah:

"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan wanita"

(HR. Tirmidzi).

Hadis ini menekankan bahwa perlakuan baik terhadap perempuan adalah ciri dari seorang Muslim yang baik. Oleh karena itu, kekerasan dalam bentuk apapun, baik fisik, verbal, atau psikologis, terhadap perempuan adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Dalam konteks ini, Islam tidak hanya melarang kekerasan dalam rumah tangga, tetapi juga mengecam segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan yang menimpa perempuan.

3. Islam dan Keluarga: Peran Suami sebagai Pemimpin Keluarga (Qawwam)

Dalam Islam, peran laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya adalah surah An-Nisa (4:34):

"Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari harta mereka. Maka wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah, menjaga diri ketika suaminya tidak ada, sebagaimana Allah menjaga mereka. Dan wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur,

(29)

dan pukullah mereka. Jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka."

Ayat ini sering dipahami bahwa suami memiliki peran sebagai

"qawwam" atau pemimpin keluarga. Akan tetapi, penting untuk dicatat bahwa makna dari "qawwam" dalam ayat ini tidak memberikan hak kepada suami untuk melakukan kekerasan terhadap istri, melainkan lebih kepada tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melindungi istri serta keluarga dengan adil dan bijaksana. Penggunaan kata "pukul" dalam ayat ini telah banyak disalahpahami, karena dalam konteks ajaran Islam, hal itu mengacu pada tindakan yang sangat terbatas dan hanya digunakan sebagai upaya terakhir dalam situasi tertentu, setelah langkah-langkah yang lebih lembut seperti nasihat dan pemisahan tempat tidur tidak efektif. Bahkan, dalam interpretasi yang lebih kontemporer, banyak ulama yang menegaskan bahwa tindakan tersebut haruslah tanpa menyebabkan cedera fisik atau trauma psikologis, dan sebaiknya dihindari sama sekali.

4. Perlindungan terhadap Perempuan dalam Kasus Perceraian

Islam memberikan hak-hak kepada perempuan dalam konteks perceraian, yang bertujuan untuk melindungi perempuan dari dampak negatif perceraian dan memastikan bahwa mereka tetap memperoleh hak-haknya, baik itu nafkah, tempat tinggal, dan perlindungan. Dalam hal ini, Islam memandang pentingnya keadilan, baik untuk suami maupun istri, sehingga keduanya tidak dirugikan dalam proses perceraian. Misalnya, dalam surah Al- Baqarah (2:241): َنيِقَّت مْلاىَلَعاًّقَح ِفو رْعَمْلاِب عاَتَم ِت َقَّلَط مْلِل َو

"Dan untuk wanita-wanita yang ditalak, hak-haknya adalah setimpal dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf (baik). Ini adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa."

(30)

Ayat ini menunjukkan bahwa perempuan yang bercerai berhak mendapatkan perlindungan dan hak-hak yang layak, dan hal ini merupakan bagian dari prinsip keadilan dalam Islam.

5. Pendidikan dan Kesadaran Sosial dalam Mengatasi Kekerasan Berbasis Gender

Peranan Pendidikan Agama Islam sangatlah mempengaruhi seseorang melakukan pelecehan seksual baik secara langsung maupun secara online.17 baik untuk laki-laki maupun perempuan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa

"menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah), yang mencakup perempuan. Pendidikan yang memadai akan membantu seseorang untuk lebih memahami hak-hak dan kewajibannya, serta bagaimana memperlakukan sesama dengan adil dan hormat.

Selain itu, kesadaran sosial tentang kekerasan berbasis gender sangat penting dalam mencegah dan mengatasi praktik-praktik kekerasan ini.

Pendidikan tentang hak-hak perempuan, serta pemahaman yang benar tentang ajaran Islam, dapat mengurangi ketimpangan gender dan mendorong masyarakat untuk lebih menghargai martabat dan hak-hak perempuan.

6. Peran Masyarakat dalam Mencegah Kekerasan Berbasis Gender

Dalam Islam, masyarakat secara keseluruhan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan berbasis gender.

Masyarakat yang sehat dan harmonis adalah masyarakat yang mendasarkan hidupnya pada prinsip-prinsip Islam, di mana setiap individu diperlakukan dengan martabat dan hak yang setara, tanpa diskriminasi gender. Ini adalah bagian dari upaya mewujudkan maslahat (kebaikan bersama) dalam kehidupan sosial.

17 Munawir Pasaribu, ‘Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Pencegahan Pelecehan Seksual Online Di Kalangan Mahasiswa’, Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11.03 (2022), 869

<https://doi.org/10.30868/ei.v11i03.2558>.

(31)

Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya saling tolong-menolong dalam mencegah kemungkaran dan ketidakadilan.

Dalam konteks kekerasan berbasis gender, ini bisa dimaknai sebagai panggilan untuk seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan penuh kasih sayang.

Penguatan budaya toleransi, saling menghormati, dan menghindari sikap kekerasan harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dan pembinaan di keluarga, sekolah, masjid, dan masyarakat secara umum.

7. Tanggung Jawab Laki-laki dalam Mencegah Kekerasan Berbasis Gender

Dalam Islam, laki-laki tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) tetapi juga sebagai pelindung dan penjaga perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Oleh karena itu, laki- laki dalam Islam dituntut untuk menjadi contoh dalam memperlakukan perempuan dengan penuh rasa hormat, adil, dan penuh kasih sayang.

Kekerasan dalam bentuk apapun, baik fisik, verbal, atau emosional, yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran terhadap ajaran Islam.

Islam mengajarkan bahwa setiap laki-laki adalah ra’is atau pemimpin, baik di rumah tangga, di masyarakat, atau dalam peran sosial lainnya.

Kepemimpinan ini bukan berarti kekuasaan atau dominasi, melainkan tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi perempuan. Sebagai pemimpin keluarga, suami harus menjaga kesejahteraan emosional, fisik, dan mental istri serta anak-anaknya. Rasulullah SAW mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya:

"Tidak ada seorang pun yang lebih mulia di antara kamu di sisi Allah selain yang paling baik dalam berinteraksi dengan wanita." (HR. Ahmad)

(32)

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, sikap penuh kasih dan perhatian terhadap perempuan menjadi indikator kesalehan seorang laki-laki.

Laki-laki yang melaksanakan perannya dengan adil dan tidak melakukan kekerasan akan mencerminkan kebaikan dalam agamanya.

8. Hak Perempuan dalam Islam dan Perlindungannya

Perempuan dalam Islam memiliki hak-hak yang jelas dan tegas untuk diperlakukan dengan adil dan dilindungi dari segala bentuk kekerasan.

Beberapa hak perempuan yang diakui dalam Islam meliputi hak untuk memperoleh pendidikan, hak untuk bekerja, hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, hak untuk memperoleh nafkah yang layak, hak untuk memilih pasangan hidup, hak untuk mendapatkan perlindungan hukum, serta hak untuk hidup bebas dari kekerasan.

Hak-hak ini tertuang dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadis, yang memberikan dasar hukum bagi perempuan untuk memperjuangkan hak- haknya. Sebagai contoh, dalam surah An-Nisa (4:1), Allah mengingatkan manusia untuk menjaga hubungan yang baik dengan perempuan karena mereka adalah bagian dari ciptaan yang mulia dan memiliki hak yang harus dihormati.

Di dalam konteks kekerasan berbasis gender, hak-hak ini memberi perempuan perlindungan yang sah dari kekerasan fisik, psikologis, dan seksual.

Dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, Islam memberikan jalan hukum dan solusi yang adil untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat, dengan memastikan bahwa perempuan tetap memperoleh perlindungan dan hak- haknya setelah perpisahan.

9. Peran Negara dalam Mengatasi Kekerasan Berbasis Gender

Di luar ajaran agama, Islam juga mengajarkan pentingnya penegakan hukum yang adil. Negara atau pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuat dan menegakkan undang-undang yang melindungi individu dari

(33)

segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan berbasis gender. Negara dalam Islam diharapkan untuk menjadi pelindung hak-hak rakyatnya, termasuk hak perempuan, dan untuk menciptakan sistem hukum yang adil yang memberikan perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan.

Sebagai contoh, di beberapa negara dengan mayoritas Muslim, telah diterapkan undang-undang yang memadai untuk melawan kekerasan berbasis gender, baik itu dalam bentuk kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, atau kekerasan di ruang publik. Negara juga memiliki peran penting dalam mendidik masyarakat tentang hak-hak perempuan dan kekerasan berbasis gender, serta dalam menyediakan lembaga perlindungan dan tempat bagi korban untuk melapor dan mendapatkan bantuan.

10. Perlunya Reformasi Sosial dalam Mengatasi Kekerasan Berbasis Gender

Tantangan utama dalam mengatasi kekerasan berbasis gender di kalangan sebagian masyarakat Muslim adalah adanya interpretasi yang keliru terhadap ajaran agama dan budaya patriarki yang telah mengakar lama. Oleh karena itu, reformasi sosial dan agama diperlukan untuk membangun kesadaran kolektif mengenai kesetaraan gender dan menanggulangi kekerasan berbasis gender.

Reformasi ini dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan mengenai kesetaraan gender dalam keluarga, sekolah, masjid, dan komunitas.

Selain itu, penting juga untuk memperkuat peran lembaga-lembaga sosial dan agama dalam mendukung perempuan dan menghilangkan segala bentuk diskriminasi gender. Hal ini juga mencakup perlunya membangun hubungan yang lebih sehat antara laki-laki dan perempuan dengan mengedepankan prinsip saling menghormati, berkasih sayang, dan kerja sama.

Secara menyeluruh, Islam menentang segala bentuk kekerasan berbasis gender dan menekankan pentingnya perlakuan yang adil, penuh

(34)

kasih sayang, dan hormat terhadap perempuan maupun laki-laki. Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang diciptakan dengan martabat yang sama di sisi Allah dan memiliki hak-hak yang setara.

Kekerasan berbasis gender bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang mengutamakan kedamaian, kasih sayang, dan keadilan.

Islam mendorong setiap individu untuk berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi, baik itu di keluarga, masyarakat, atau negara. Upaya untuk melawan kekerasan berbasis gender dalam Islam melibatkan kesadaran sosial yang tinggi, pendidikan yang memadai, dan penegakan hukum yang adil serta reformasi sosial yang memperkuat kesetaraan gender dan perlindungan hak-hak perempuan.

G. Bagaimana Peran Pendidikan Dalam Membentuk Pemahaman Yang Benar Tentang Gender Dalam Islam

1. kesetaraan gender dalam Al-qur’an dan hadist a. prinsip kesetaraan dalam Al-qur’an

Islam menegaskan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT tanpa memandang jenis kelamin, suku, atau status sosial. Hal ini terlihat dalam ayat:

اَهُّيَأَٰٓ َي ساَّنلٱ اَّنِإ م ك َنْقَلَخ ن ِ م رَكَذ ىَثن أ َو َّنِإ ۚ ْم كَم َرْكَأ َدنِع َِّللَٱ ْم ك ىَقْتَأ َّنِإ ۚ ََّللَٱ ميِلَع ريِبَخ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS Al-Hujurat: 13).

Al-Qur'an mengandung beberapa prinsip kesetaraan, di antaranya:

Kesetaraan gender, yaitu laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah:

(35)

• Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah18

• Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di bumi

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan ridho dan rahmat Allah

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan balasan yang sepadan atas amal saleh yang dilakukan

• Laki-laki dan perempuan sama-sama berhak mendapatkan waris dari orangtua atau kerabat dekat19

Kesetaraan di hadapan Allah, yaitu semua manusia setara di hadapan Allah tanpa memandang suku, warna kulit, atau latar belakang etnis:

• Status seseorang tidak ditentukan oleh faktor-faktor dunia seperti kekayaan, keturunan, atau jabatan

• Yang membedakan seseorang di hadapan Allah adalah ketakwaan mereka.

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh faktor-faktor duniawi seperti kekayaan, status sosial, atau kebangsaan, melainkan oleh tingkat ketakwaan dan amal perbuatannya. saling mengenal dan menghargai, bukan sebagai dasar untuk membeda-bedakan atau merasa lebih unggul dari orang lain. Islam juga menghapuskan konsep diskriminasi yang berbasis warna kulit atau status sosial. Nabi Muhammad SAW menekankan hal ini dalam khutbah perpisahannya (Khutbah Wada’), di mana

beliau bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan ayahmu (Adam)

18 Sarifa Suhra, ‘Kesetaraan Gender Dalam Prespektif Al-Quran Dan Implilasi Terhadap Hukum Islam’, Jurnal Al-Ulum, 13.2 (2018), 373–94.

19 A N Fathoni and A Muti, ‘Konsep Kesetaraan Gender Menurut Al Quran’, Institute for Islamic Studies (IAI) Pangeran Diponegoro Nganjuk East Java Indonesia International Proceeding of ICESS, 2019, 300–317.

(36)

adalah satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas orang Arab; tidak pula orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam, atau yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan takwa."

Sabda ini mempertegas bahwa Islam menolak segala bentuk rasisme, diskriminasi, atau supremasi etnis.

Kesetaraan ini juga tercermin dalam pelaksanaan ibadah, seperti shalat dan haji. Dalam shalat berjamaah, semua Muslim berdiri sejajar tanpa memandang status atau kedudukan sosial.20 Dalam ibadah haji, jutaan Muslim mengenakan pakaian ihram yang sama, menanggalkan identitas duniawi mereka, dan hanya menghadap Allah SWT sebagai hamba yang sama di hadapan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa setiap individu, kaya atau miskin, berpengaruh atau tidak, memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.

Namun, kesetaraan di hadapan Allah tidak menghilangkan tanggung jawab masing-masing individu untuk bertakwa dan berbuat baik. Ukuran kemuliaan seseorang ditentukan oleh tingkat ketakwaannya, sebagaimana dijelaskan dalam surat:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun".(QS An-Nisa: 124).

Islam memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu untuk meraih kemuliaan melalui usaha mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah.

b. Hak dan Kewajiban laki-laki dan perempuan

Islam memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam banyak aspek kehidupan, terutama dalam hal ibadah,

20 Mohammad Nawir, Kajian Tentang Hadis-Hadis Relasi Kesetaraan Gender Dalam Fatwa MUI, 2016.

(37)

pendidikan, dan peran sosial.21 Kesetaraan ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, yang menyatakan bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya (QS Al-Hujurat: 13).

Dalam hal pendidikan, Islam menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.22 Hadis Nabi SAW yang berbunyi, "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim," (HR.

Ibnu Majah) menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan dan meningkatkan pengetahuan.

Hak perempuan dalam Islam juga mencakup kepemilikan harta, bekerja, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Perempuan berhak memiliki, mengelola, dan menggunakan harta secara mandiri tanpa campur tangan siapa pun. Selain itu, perempuan memiliki kebebasan untuk berkontribusi dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik, sebagaimana yang dicontohkan oleh para tokoh Muslimah dalam sejarah, seperti Khadijah RA, Aisyah RA, dan Rufaidah Al-Aslamiyah.

Di sisi kewajiban, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan melaksanakan ibadah, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang adil dan harmonis, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Meskipun terdapat perbedaan dalam peran dan tanggung jawab tertentu, seperti kepemimpinan keluarga untuk laki-laki dan peran mendidik anak bagi perempuan, perbedaan ini bukanlah bentuk ketidaksetaraan.

Sebaliknya, peran ini dirancang untuk saling melengkapi, menciptakan keseimbangan dalam kehidupan individu dan masyarakat. Islam

21 Tua Dalimunthe, Juni Wati, and Sri Rizki, ‘Kesetaraan Gender Diruang Publik ( Analisis Pesan Dakwah Kesetaraan Gender Pada Youtube Ustadz Abdul Somad )’, 2 (2024), 202–32.

22 Wikhdatun Khasanah, ‘Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam’, Jurnal Riset Agama, 1.2 (2021), 296–307 <https://doi.org/10.15575/jra.v1i2.14568>.

(38)

menempatkan kedudukan laki-laki dan perempuan setara sebagai hamba Allah SWT, dengan keadilan sebagai prinsip utamanya.

c. perbedaan gender dan peran gender

Gender merujuk pada konsep sosial yang mengacu pada peran, perilaku, tanggung jawab, dan harapan yang dikaitkan dengan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Gender bukanlah sifat biologis, melainkan konstruksi sosial yang bisa berbeda di setiap budaya, tempat, dan waktu.

Contohnya, anggapan bahwa laki-laki harus bekerja di luar rumah dan perempuan mengurus rumah tangga adalah hasil dari konstruksi sosial, bukan aturan alami atau biologis.

Peran gender, di sisi lain, mengacu pada tugas dan tanggung jawab tertentu yang dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan norma-norma sosial dan budaya. Peran gender sering kali menentukan apa yang "seharusnya" dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, pendidikan, dan keluarga. Sebagai contoh, laki-laki sering dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan diharapkan menjadi pengasuh utama anak-anak.

Perbedaan utama antara gender dan peran gender terletak pada cakupannya. Gender adalah konsep yang lebih luas tentang identitas sosial laki-laki dan perempuan, sedangkan peran gender lebih spesifik, yaitu tentang apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan harapan sosial. Peran gender cenderung lebih fleksibel dan dapat berubah seiring waktu, sementara gender sebagai konsep sosial tetap menjadi kerangka pemahaman identitas dan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Pemahaman yang benar tentang gender dan peran gender penting untuk mengatasi stereotip dan ketidakadilan yang sering kali muncul akibat norma sosial yang bias. Dengan memisahkan peran gender dari identitas gender, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif di mana

(39)

individu diberi kebebasan untuk berkontribusi berdasarkan potensi mereka, bukan berdasarkan ekspektasi sosial yang kaku.

H. kontribusi Perempuan dalam Sejarah islam dan perannya dalam Pembangunan saat ini

1. kontribusi Perempuan dalam Sejarah islam

Perempuan dalam sejarah Islam telah memberikan kontribusi besar di berbagai bidang, baik dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun perjuangan.23 Mereka tidak hanya mendukung perkembangan masyarakat Islam, tetapi juga menjadi pelopor dalam berbagai inovasi yang mendukung kemajuan peradaban.

Dalam bidang dakwah, Khadijah binti Khuwailid RA, istri Nabi Muhammad SAW, adalah contoh utama. Beliau memberikan dukungan moral dan finansial yang sangat besar pada masa awal Islam. Selain itu, Aisyah binti Abu Bakar RA menjadi rujukan ilmu agama dengan meriwayatkan ribuan hadis dan memberikan fatwa kepada umat Muslim.

Di dunia pendidikan, perempuan Muslim seperti Fatimah Al-Fihri menjadi pelopor dengan mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin, salah satu universitas tertua di dunia. Ini menunjukkan peran perempuan sebagai penggerak utama pendidikan yang mencetak generasi cendekiawan.

Dalam bidang kesehatan, Rufaidah Al-Aslamiyah dikenal sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam. Beliau memberikan pelayanan medis selama perang dan mendirikan klinik kesehatan, menunjukkan bahwa perempuan juga menjadi ujung tombak dalam pelayanan kemanusiaan.

Perempuan juga aktif dalam bidang ekonomi. Khadijah RA adalah seorang pengusaha sukses yang menjadi teladan dalam membangun

23 Suko Susilo, ‘Kontribusi Perempuan Dalam Pembaharuan Sistem Sosial Di Masa Nabi Muhammad Perspektif Anthony Giddens’, Asketik, 7.1 (2023), 39–62

<https://doi.org/10.30762/asketik.v7i1.1186>.

Referensi

Dokumen terkait

1. Gender sebagai pembagian peran serta tanggung jawab, baik laki-laki maupun perempuan, yang di tetapkan secara sosial maupun kultural. Dalam masyarakat patriarki, pandangan

Hambatan dalam menanggulangi kekerasan terhadap perempuan yang berbasis gender adalah belum adanya peraturan khusus yang mengatur tentang kekerasan terhadap gender,

2009 Pengembangan Buku Panduan Keluarga Adil Gender Untuk Mencegah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Tahun kedua). 2008 Implikasi Kesetaraan Gender dalam Konseling bagi Perempuan

Ber- dasarkan hasil analisis ditemukan bentuk kekerasan verbal berbasis gender berdasarkan posisi subjek objek berupa dominasi perempuan terhadap laki-laki maupun perempuan lain

Menurut Kantor Menneg PP, BKKBN, UNFPA (2001), Gender adalah perbedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk, di buat dan

Ketimpangan akses ekonomi antara perempuan dan laki-laki juga banyak disebabkan karena pembagian peran gender dalam rumah tangga yang lebih banyak merugikan

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, telah dinyatakan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan

Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan mengenai Gambaran Perilaku Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Gender di