Selama perawatan di rumah, fungsi perawatan kesehatan anggota keluarga sangat penting dalam upaya melakukan perawatan kepada klien pasca stroke, meningkatkan kemampuan klien untuk mandiri, meminimalkan kecacatan yang sering terjadi, melakukan edukasi serta mencegah terjadinya serangan ulang stroke. Proses pemulihan dirumah ini membutuhkan pemahaman keluarga tentang apa yang perlu dilakukan oleh keluarga dan pengasuh mengenai masalah yang mungkin dapat ditimbulkan oleh akibat stroke dan cara keluarga untuk mengatasinya.
Berikut ini berbagai masalah yang akan dialami pasien pasca stroke dan cara keluarga untuk mengatasinya.
2.4.1 Kelumpuhan/kelemahan
Sekitar 90 % pasien stroke mengalami kelemahan atau kelumpuhan separuh badan. Kelemahan ini sering kali masih dialami pasien sewaktu keluar dari rumah sakit, dan biasanya terjadi pada bagian tangan dan kaki. Apabila klien jika pulang ke rumah lakukan atau aturlah posisi klien senyaman mungkin, tidur terlentang atau miring ke salah satu sisi dengan memberikan perhatian khusus pada posisi tangan dan kaki yang mengalami kelemahan. Posisi tangan dan kaki yang lemah sebaiknya diganjal dengan bantal. Baik pada saat berbaring atau pada saat duduk untuk memperlancarkan arus balik peredaran darah ke jantung dan mencegah terjadinya edema pada tangan dan kaki.
41
Keluarga dan pengasuh dapat melakukan latihan gerak sendi sebaiknya dilakukan minimal 2 kali sehari tujuannya untuk mencegah terjadinya kekakuan pada tangan dan kaki dan untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot harus dilakukan oleh fisioterapi 3-4 kali dalam seminggu.
Keluarga dan pengasuh juga dapat membantu klien berlatih berjalan contohnya berdirilah di sisi yang lemah atau di belakang klien untuk memberikan rasa nyaman, aman pada klien dan menggunakan alat bantu berjalan jika diperlukan.
2.4.1.1 Mengaktifkan Tangan Yang Lemah
Pada klien yang masih mengalami kelemahan pada tubuh gerak bagian atas, beri dukungan kepada pasien untuk mengaktifkan tangan yang lemah tersebut. Anjurkan klien latihan makan, minum, mandi dan melakukan kegiatan sehari- hari lainya menggunakan tangan atau anggota tubuh bagian atas yang masih lemah dengan pengawasan keluarga.
Tujuannya untuk memberikan stimulasi kepada sel-sel otak untuk berlatih kembali aktivitas yang dipelajari sebelum sakit.
2.4.1.2 Gangguan Sensibilitas (Pasien Mengalami Rasa Kebas Atau Baal)
Sering kali klien pasca stroke mengalami gangguan sensibilitas atau hilang rasa separuh badan, untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya keluarga berbicara dengan klien disisi tubuh yang lemah. Saat berkomunikasi keluarga menyentuh dan menggosok dengan lembut tangan yang mengalami kelemahan.
Keluarga dianjurkan memberikan motivasi dan dukungan agar menggunakan tangan atau kaki yang lemah sesering mungkin terutama dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, berjalan dan menjauhkan dari hal yang dapat
42
membahayakan keselamatan klien misalnya dari nyala api, benda tajam, air panas dan benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan klien dalam melatih bagian tangan dan kakinya yang lemah.
2.4.1.3 Gangguan Keseimbangan
Pada saat latihan mobilisasi sering kali klien pasca stroke mengalami gangguan keseimbangan pada saat duduk, berdiri, atau berjalan berikut ini cara melatih keseimbangan pada pasien.
a. Melatih keseimbangan duduk
Penolong duduk disisi yang lemah, bila diperlukan penolong lainya berada disisi yang sehat. Letakan tangan Anda yang dekat pada belakang punggung klien demikian pula tangan penolong yang satunya. Tarik bersama-sama klien ke arah duduk yang tegak.
Bila pasien telah mampu menjaga keseimbangan waktu duduk letakan bantal pada belakang kepala, leher dan bahu yang lemah, letakan juga satu bantal di bawah tangan yang lemah. Cara lain melatih klien duduk adalah penolong duduk disisi yang lemah, satu tangan penolong menopang pergelangan tangan klien dan tangan yang satunya menopang lengan atas.
Selanjutnya penolong membimbing lengan klien ke sisi yang lemah dengan tujuan memindahkan berat badan ke sisi yang lemah. Dengan demikian terjadinya keseimbangan beban badan antara sisi yang sehat dan sisi yang lemah. Gerakan ini dapat dilakukan berulang kali sampai klien mampu mempertahankan keseimbangan duduknya.
43
b. Melatih Keseimbangan Berdiri
Untuk melatih keseimbangan berdiri, keluarga dapat menyediakan cermin besar supaya pasien dapat melihat apakah berdirinya sudah tegak atau belum, bila keadaan memungkinkan beri kesempatan klien untuk berusaha sendiri semaksimal mungkin.
Keluarga berada di samping sisi tubuh klien yang lemah untuk memberikan yang lemah. Idealnya, pada saat latihan berjalan klien tidak menggunakan alat bantu seperti tongkat, tripod, ataupun Walker. Tetapi apabila keadaan tidak memungkinkan berikan alat bantu yang direkomendasikan oleh fisioterapi yang sesuai dengan kebutuhan klien.
2.4.1.4 Gangguan berbicara dan gangguan berkomunikasi
Hal yang harus dipahami oleh keluarga adalah klien dengan gangguan berbicara tetap membutuhkan kesempatan untuk mendengarkan pembicaraan orang lain secara normal. Bila keluarga mengabaikan klien stroke mengalami afasia, misalkan mendiamkan atau menganggap seolah-olah klien tidak memahami pembicaraan keluarga, klien akan merasa frustrasi dan sakit hati.
Pada saat berbicara dengan klien kesulitan bicara usahakan agar wajah menghadap lurus ke arah klien, hal ini membantu klien melihat gerak bibir dan ekspresi wajah gerak bibir.
Usahakan untuk mempergunakan kalimat pendek dan memberikan tekanan pada kata-kata penting.
Jika memungkinkan gunakan ekspresi wajah, gerakan tangan, tubuh dan irama suara sehingga klien dapat memahami kata- kata kita. Anjurkan dan beri kesempatan klien untuk berbicara dan usahakan keluarga tetap mendengarkan dengan cermat
44
walaupun klien mengatakan kata-kata yang kurang jelas.
Apabila tebakan keluarga tidak tepat usahakan untuk minta maaf dan minta kembali klien untuk mengulang kata-katanya.
Keluarga sebaiknya menggunakan kalimat verbal ketika melakukan kegiatan. Misalnya saat menyisir rambut klien keluarga dapat mengatakan “ibu, saya akan menyisir rambut ibu, ini sisir bolehkah saya menyisir rambut ibu ?”. untuk membantu klien memahami pembicaraan orang lain, usahakan untuk berbicara dengan intonasi suara yang normal, jangan berteriak, bicara yang perlahan, tenang, tunjukan sikap peduli kepada klien, gunakan bahasa yang mudah, kalimat pendek dan jelas dan berikan rangsangan visual kepada klien jika diperlukan.
2.4.1.5 Gangguan menelan
Gangguan menelan merupakan salah satu masalah kesehatan akibat serangan stroke biasanya klien menunjukkan gejala tersedak pada saat minum dan makan, keluar nasi dari hidung, klien terlihat tidak mampu mengontrol air liurnya dari mulut atau mengiler, memerlukan waktu lama untuk makan, tersisa makanan dimulut setelah makan. Sehingga memerlukan penanganan khusus untuk mengatasi hal ini. Bila memungkinkan klien harus duduk pada saat makan dan minum. Bila saat di tempat tidur klien didudukkan tegak 60- 90 derajat.
Ketika menelan dianjurkan klien untuk menekuk leher dan kepala untuk mempermudah menutup jalan nafas ketika klien menelan. Pergunakan sendok kecil dan tempatkan makanan pada posisi yang sehat. Pastikan makanan telah tertelan semua sebelum memberikan suapan berikutnya dan pastikan makanan tidak tersisa makanan di mulut pasien. Bersihkan
45
sebelum dan sesudah makan untuk menjaga dan menghindari infeksi jamur dan gigi berlubang.
2.4.1.6 Gangguan penglihatan
Gangguan penglihatan pada klien pasca stroke bervariasi, mulai dari pandangan dobel, kabur, pandangan gelap, seperti tertutup layar lebar sebelah mata, atau berkurangnya lapang pandang. Bila klien mengalami gangguan lapang pandang, pada saat klien makan letakan nampan makanan pada sisi yang dapat dilihat oleh klien. Orientasikan klien tempat barang yang ada di sekitar klien terutama pada sisi yang tidak dapa dilihat, sebaiknya keluarga berada pada sisi yang mengalami gangguan lapang pandang.
2.4.1.7 Gangguan buang air kecil
Sekitar 80 % pasien pasca stroke mengalami inkontinensia urin tanda dan gejalanya antara lain pasien tidak dapat menahan berkemih, urin keluar tampa disadari oleh klien, dengan frekuensi yang meningkat. Bagi klien yang mengalami gangguan afasia, keluarga dianjurkan untuk menyediakan bel atau penanda lainya yang mudah dijangkau oleh klien.
Pada siang hari berikan klien minum satu gelas setiap dua jam dan hindari minum pada malam hari. Untuk menguantifikasi agar klien tidak mengompol, keluarga dapat menawarkan untuk berkemih secara teratur setiap dua jam sekali atau sesuai dengan pola buang air kecil sebelumnya atau Sebaiknya tersedia urinal yang mudah di jangkau oleh klien. Terutama pada malam hari.
2.4.1.8 Gangguan buang air besar
Masalah buang air besar (BAB) pada klien pasca stroke bervariasi, seperti konstipasi (sulit buang air besar), diare, dan buang air besar tidak terasa. Masalah yang sering ditemukan
46
adalah konstipasi. Banyak hal yang menyebabkan konstipasi adalah akibat tirah baring lama, kurang aktivitas fisik, asupan kurang serat, kurang minum air, dan akibat efek samping obat.
Keluarga dapat membantu klien agar tidak mengalami konstipasi dengan cara memotivasi klien untuk bergerak aktif, mengonsumsi makanan tinggi serat, minum air putih minimal 2 liter atau delapan gelas sehari. Dan membiasakan untuk duduk di kloset setiap harinya.
2.4.1.9 Kesulitan mengenakan pakaian
Berpakaian dengan mandiri merupakan salah satu kegiatan yang harus dipelajari kembali oleh pasien pasca stroke.
a. Cara menggunakan kemeja
Masukan dulu lengan yang lemah ke dalam lengan kemeja, kemudian tarik lengan kemeja ke atas sampai bahu serta putar kemeja ke lengan yang sehat dari belakang dan masukan lengan yang sehat ke lengan yang satunya.
b. Cara menggunakan celana
Masukan kaki yang lemah terlebih dahulu dari lengan yang lemah terlebih dahulu dari ke dalam celana yang lemah setelah itu masukan masukan kaki yang sehat ke dalam celana. Jika keseimbangan berdiri klien telah baik tarik celana klien langsung ke atas. Jika berdiri klien belum baik klien di anjurkan untuk berbaring dahulu baru celana di tarik ke atas.
2.4.1.10 Gangguan memori
Klien pasca stroke kadang juga mengalami gangguan fungsi memori atau gangguan daya ingat. Keluarga dapat melatih daya ingat klien dengan melihat foto album keluarga, teman, kerabat,
47
gambar-gambar yang pernah dikenal klien, selain itu keluarga juga dapat meorientasikan kembali pemahaman pasien pada tempat, waktu dan orang.
Sebagai contoh, keluarga dapat mengatakan “ selamat pagi bapak/ibu, hari ini hari Senin, tanggal 12 Februari tahun 2022, yuk kita jalan-jalan yuk mumpung udara cerah, sinar mataharinya terang supaya badan bapak/ibu menjadi segar.
Secara tidak langsung, sambil berkomunikasi, keluarga sudah melatih daya ingat klien mengenai waktu dan cuaca.
2.4.1.11 Perubahan kepribadian dan emosi
Sebagian besar klien pasca stroke dapat mengalami perubahan kepribadian dan emosi. Hal ini terjadi pada klien stroke dengan afasia. Klien dengan kesulitan bicara tidak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan, sehingga sering kali merasa frustrasi, marah, kehilangan harga diri dan emosi klien menjadi labil.
Keadaan ini menyebabkan klien menjadi depresi. Emosi labil ditandai dengan klien mudah sekali menangis, kadang mudah tertawa, sedangkan tanda dan gejala depresi antara lain bicara klien menjadi lambat, pelan, klien menolak minum obat, tidak memiliki motivasi, pasien menjadi sensitif, mudah tersinggung, dan tidak percaya diri.
Untuk mengatasi hal tersebut keluarga melakukan dukungan secara mental dan selalu meorientasikan pasien pada Realita.
Keluarga dan pengasuh juga secara bersama-sama sebaiknya mengenal dan membuat daftar mengenai hal-hal atau keadaan yang membuat klien merasa jenuh, bosan, frustrasi, dan bagaimana mengantisipasinya. Salah satunya melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga baik di dalam rumah dan diluar rumah.
48
Jika memungkinkan mengikutserta klien dalam kegiatan keluarga atau acara keagamaan. Bila diperlukan lakukan konsultasi oleh psikolog atau berikan obat anti depresan sesuai anjuran dokter yang merawat.
Keluarga sebaiknya membuat buku harian yang berisi kondisi klien, masalah yang terjadi, obat-obatan dan menu yang di komsumsi, serta kegiatan lainya yang dilakukan oleh klien bersama pengasuh dan keluarga. Cacatan harian sebaiknya berisi kemajuan dan respons emosi klien. Keluarga harus bersikap optimis dan tidak salahnya merayakan bersama klien tentang kemajuan yang terjadi walaupun kemajuannya kecil.
2.4.1.12 Gangguan seksual
Banyak klien pasca stroke dan pasangannya mengalami penurunan fungsi seksual, baik penurunan libido, dan berkurangnya gairah seksual. faktor utama penyebab penurunan fungsi seksual ini adalah faktor psikis, faktor fisik, dan sosial.
Selain itu pendapat umum tentang seksualitas berpengaruh, antara lain; takut mengalami impotensi, tidak dapat berdiskusi tentang masalah seksual dan tidak mampu berpartisipasi dalam berhubungan seksual. Tetapi sekitar 10 % klien pasca stroke mengalami peningkatan libido dan kepuasan bertambah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena bertambah eratnya relasi antar pasangan atau terjadinya perubahan elemen psikis ke arah yang lebih baik.
Klien pasca stroke dan pasangan membutuhkan konsultasi seksual dari tim kesehatan yang kompeten. Tetapi sebagian besar pasangan tidak dapat menyampaikan secara verbal, sehingga dokter dan tim kesehatan lainya harus aktif menanyakan secara langsung kepada klien masalah gangguan seksual ini.
49
Klien pasca stroke diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Sering kali klien pasca stroke membutuhkan waktu untuk mampu melakukan hubungan seksual. Hal ini merupakan dari dampak stroke, misalnya kelumpuhan, atau kekakuan yang mempersulit klien mengatur posisi.
Tetapi masalah ini dapat diatasi dengan bantuan konsultasi dari tim stroke. Beberapa klien mengatakan tidak mampu mempertahankan ereksi. Hal ini penyebabnya antara lain oleh penyakit stroke itu sendiri yakni seperti penyakit diabetes melitus, perokok, dan efek samping obat yang dikonsumsi oleh klien. Akan tetapi hal tersebut tidak perlu kuatir sudah bisa ditangani oleh dokter dan tim stroke.
2.5 Prinsip Merawat Klien Stroke Di rumah (Ns Enny Mulyastsih, dkk. 2008) 2.5.1 Menjaga kesehatan punggung pengasuh atau Keluarga
Merawat klien stroke merupakan sesuatu proses perawatan jangka panjang yang memerlukan waktu. Pada waktu mengangkat klien, keluarga atau pengasuh harus mempertahankan posisi punggung tetap lurus untuk mencegah pengasuh sakit punggung dikemudian hari. Yang harus diperhatikan pada waktu mengangkat klien antara lain pertahankan punggung tetap lurus, tekuk lutut, jangan punggung, renggangkan kedua kaki dekatkan badan ke klien pegang punggung klien, serta pastikan klien mengetahui apa saja yang perlu dikerjakan dan perlu di instruksikan.
2.5.2 Mencegah terjadinya luka di kulit pasien akibat tekanan
Pada waktu pulang ke rumah kadang beberapa klien pasca stroke belum mampu untuk bergerak sendiri. Pada klien ini berisiko mengalami luka di kulit akibat tekanan, sehingga keluarga sangat penting untuk mencegah terjadinya luka ini. Pengasuh harus berubah posisi tidur pasien setiap 2-3 jam. Perhatikan daerah yang berisiko terjadinya luka,
50
seperti tumit, bokong, siku, punggung, telinga, khususnya pada sisi tubuh yang mengalami kelemahan, pada saat merubah posisi klien.
Upaya lain oleskan pelembab atau minyak kelapa pada daerah tertekan.
Bila sering mengompol keluarga harus memperhatikan kebersihan daerah kemaluan dan mempertahankan supaya tetap kering.
2.5.3 Mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi.
Untuk mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi, keluarga dan pengasuh dapat melakukan latihan gerak sendi lengan dan tungkai secara pasif dan aktif bila memungkinkan 2 kali sehari. Latihan gerak sendi lengan meliputi gerak sendi bahu, gerakan menekuk dan meluruskan siku, dan memutar pergelangan tangan. Latihan gerak sendi tungkai meliputi gerakan menekuk dan meluruskan pangkal payah, gerakan menekuk dan meluruskan lutut gerakan menjauh dan mendekati badan dan gerakan memutar pergelangan kaki.
2.5.4 Mencegah terjadinya nyeri bahu
Nyeri bahu yang sering dialami pasien stroke sering kali terjadi akibat kurang tepatnya keluarga dalam memberlakukan bahu pasien.
Terutama pada sisi yang lemah. Untuk mencegah terjadinya hal ini.
Beri perhatian khusus pada bahu pasien setiap kali mengatur posisi atau mengangkat pasien. Hindari menarik lengan atau bahu yang lemah.
Pada saat mengangkat pasien, jangan meletakan tangan pada ketiak pasien tetapi letakan kedua tangan penolong pada badan atau punggung pasien. Gunakan penyangga bahu jika diperlukan.
2.5.5 Memulai Latihan Dengan Mengaktifkan Batang Tubuh Atau Torso Selain berlatih menggerakkan anggota gerak atas dan bawah, pasien juga harus berlatih menggerakkan batang tubuh, dengan kata lain menggerakkan sisi yang lemah dan sisi yang sehat bersamaan, seperti menekuk kedua lutut dan mengangkat bokong seperti buang air di pot atau bridging, menekuk kedua lengan disusul menekuk leher, serta
51
memindahkan berat badan dari kiri ke kanan atau sebaliknya baik saat duduk berdiri dan berjalan.