Hutan Nagari Paru dengan daerah lainnya
Pada umumnya masyarakat memanfaatkan bagian akar, kulit, batang, daun, buah, dan biji dari tanaman penghasil HHBK. Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa sebagian besar jenis tanaman yang diidentifikasi pada plot ukur dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan Hutan Nagari Paru sebagai bahan kerajinan (49 jenis). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Juliarti (2013) menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan Cagar Biosfir Giam Siak Kecil-Bukit Batu memanfaatkan 12 jenis tanaman HHBK untuk kerajinan tangan.
Hasil penelitian serupa yang dilakukan oleh Munawaroh, et al. (2011) menemukan bahwa terdapat 18 jenis tanaman yang dimanfaatkan untuk kerajinan oleh masyarakat Malinau.
Sementara itu, Hariyadi (2008) melaporkan bahwa masyarakat Serampas di sekitar kawasan TN Kerinci Seblat menggunakan 60 jenis tanaman untuk bahan kerajinan.
Kawasan Hutan Nagari Paru juga mengandung tanaman yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai penghasil pangan dan obat, yaitu masing-masing sebanyak 34 dan 40 jenis (Tabel 1). Di Malinau, jumlah tanaman hutan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan obat masing-masing sebanyak 15 dan 37 jenis (Munawaroh, et al., 2011). Juliarti (2013) mengungkapkan bahwa terdapat 21 jenis tanaman berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Tasik Betung. Taman Nasional (TN) Kerinci Seblat menyediakan lebih banyak tanaman yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan dan obat, yaitu 73 dan 22 jenis tanaman (Hariyadi, 2008). Namun demikian, perlu
Vol. 17 No. 1, Juni 2020 : 21-33
dicatat bahwa 73 jenis tanaman tersebut bukan hanya ditemukan di hutan, tetapi juga di lahan agroforestry dan ladang padi.
Jumlah tanaman penghasil bahan pewarna, bahan bangunan, dan ritual yang ditemukan di kawasan Hutan Nagari Paru masing-masing adalah tiga, enam, dan satu jenis tanaman (Tabel 1). Penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh, et al.
(2011) berhasil menemukan dua jenis tanaman penghasil bahan pewarna, 60 jenis tanaman untuk bahan bangunan, dan dua jenis tanaman untuk acara ritual di hutan Malinau. Penelitian lain di TN Kerinci Seblat berhasil menemukan 53 jenis tanaman untuk bahan bangunan dan 32 jenis tanaman untuk keperluan ritual.
Jenis tanaman yang dimanfaatkan untuk acara ritual adat di Nagari Paru adalah sicerek (Murraya koenigii (L.) Spreng).
Tanaman ini juga dikenal sebagai daun kari atau daun salam koja. Walaupun kurang populer di sebagian besar wilayah Indonesia, daun kari banyak digunakan sebagai bumbu masakan di wilayah Sumatera. Di beberapa lokasi, tanaman ini dikenal dengan nama ma jiao ye (Cina), garupillai (Malaysia), temurui (Aceh), ki becetah (Sunda), dan dalam bahasa Inggris disebut Curry Leaves. Daun kari mengandung senyawa alkaloid, glikosida, saponin, flavonoid, dan juga berbagai mineral dan minyak atsiri. Selain digunakan untuk keperluan ritual dan bumbu masakan, daun kari juga memiliki manfaat di dunia pengobatan. Daun kari
digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit antara lain diabetes, anemia, kolesterol, darah tinggi, ginjal, diare, antioksidan, antimikroba dan kaya akan zat besi serta sebagai tonik (Wardani, 2018). Perbandingan jumlah jenis tanaman penghasil HHBK di empat lokasi kajian tersebut disajikan pada Gambar 2.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Masyarakat Nagari Paru memanfaatkan berbagai jenis tanaman penghasil HHBK dari hutan lindung atau rimbo larangan secara turun temurun.
Jenis tanaman tersebut secara umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber bahan pangan, obat, kerajinan, pewarna, getah/resin, bangunan, ritual adat, dan kebutuhan lainnya. Sebagian dari HHBK yang diambil tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsistence) dan sebagian lainnya dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga. Hutan Nagari Paru, sebagai hutan lindung yang terjaga dengan dukungan kearifan lokal dan peraturan adat yang kuat, mengandung keanekaragaman jenis tanaman penghasil HHBK yang cukup tinggi. Namun demikian, perlu diperhati- kan bahwa metode pemanfaatan secara ekstraktif tanpa pengaturan/pembatasan jumlah HHBK yang diambil akan menyebabkan menurunnya ketersediaan HHBK di kawasan hutan lindung di kemudian hari.
Tabel (Table) 1. Jumlah jenis tanaman penghasil HHBK berdasarkan manfaatnya di Hutan Nagari Paru (Number of plants’ species producing NTFPs based on their benefits in Paru Village Forest Village)
Nomor (Number)
Kegunaan (Uses)
Jumlah jenis tanaman penghasil HHBK (Number of plants’ species producing NTFPs)
1 Pangan (Food) 34
2 Obat (Medicine) 40
3 Kerajinan (Handicraft) 49
4 Pewarna (Dye) 3
5 Getah/resin (Resin) 3
6 Bangunan (Building material) 6
7 Ritual adat (Ritual) 1
8 Lain-lain (Other) 10
Jenis Tanaman HHBK di Hutan Nagari Paru (Nugroho, P. N. dan Octavia, Dona)
27 Gambar (Figure) 2. Perbandingan jumlah jenis tanaman penghasil HHBK di empat lokasi kajian (Comparison of the number of plant species producing NTFPs at four study sites)
B. Saran
Perlu adanya upaya pengaturan volume HHBK yang dapat diambil oleh masyarakat yang dituangkan dalam peraturan adat. Di samping itu, perlu adanya upaya pembudidayaan di lahan masyarakat untuk jenis tanaman penghasil HHBK yang bernilai ekonomi tinggi, seperti rotan jernang, maupun yang pemanfaatannya dilakukan dengan cara ditebang, terutama untuk jenis tanaman yang dimanfaatkan batang dan akarnya.
Dengan demikian, kelestarian hutan lindung dan ketersediaan HHBK diharap- kan akan senantiasa terjaga dan kesejah- teraan masyarakat dapat meningkat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
“AFoCO Project Component 3:
Facilitating the Participatory Planning of Community-based Forest Management using Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing (RS) Technologies in Forest Resources Management in the Philippines, Indonesia and Thailand” yang telah menyediakan dana untuk penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada tim survei yang telah membantu dalam pengumpulan data di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Angelsen, A., Jagger, P., Babigumira, R., Belcher, B., Hogarth, N. J., Bauch, S., Wunder, S. (2014). Environmental income and rural livelihoods: A global-comparative analysis. World Development, 64, S12-S28. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.worlddev.
2014.03.006
Center for International Forestry Research (CIFOR). (2015). Forests and non- timber forest products. Diakses dari http://www.cifor.org/Publications/Co rporate/FactSheet/ntfp.htm
Food and Agriculture Organization (FAO). (2004). National forest inventory: Field manual template.
Forest Resources Assessment Programme. Working Paper 94/E.
(pp. 84). Rome: Forestry Department, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
Hariyadi, B. (2008). The entwined tree:
traditional natural resource management of Serampas, Jambi, Indonesia (Disertasi Doktor).
University of Hawaii, Manoa.
Juliarti, A. (2013). Pemanfaatan HHBK (hasil hutan bukan kayu) dan identifikasi tanaman obat di areal Cagar Biosfir Giam Siak Kecil, Bukit
Vol. 17 No. 1, Juni 2020 : 21-33
Batu Siak. Jurnal Hutan Tropis, 1(1), 9-16.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2018). Statistik kementerian lingkungan hidup dan kehutanan tahun 2017. Jakarta: Pusat Data dan Informasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional
(BAPPENAS) & Unit Kerja Presiden
Bidang Pengawasan dan
Pengendalian Pembangunan (UKP- PPP) Republik Indonesia. (2015).
Model ekonomi hijau Provinsi Kalimantan Tengah (KT-GEM).
Jakarta: LECB Indonesia.
Lembaga Pengelola Hutan Nagari Paru (LPHNP). (2015). Rencana kerja hutan nagari (RKHN). Sijunjung:
Lembaga Pengelola Hutan Nagari Paru (LPHNP).
Munawaroh, E., Saparita, R., & Purwanto, Y. (2011). Ketergantungan masyarakat pada hasil hutan non kayu di Malinau, Kalimantan Timur: Suatu analisis etnobotani dan implikasinya bagi konservasi hutan. Berkala Penelitian Hayati Edisi Khusus, 7(A), 51-58.
Neil, A., Golar, & Hamzari. (2016).
Analisis ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan bukan kayu pada Taman Nasional Lore Lindu. e-Jurnal Mitra Sains, 4(1), 29-39.
Nugroho, A. C., Frans, T. M., Kainde, R.
P., & Walangitan, H. D. (2015).
Kontribusi hasil hutan bukan kayu bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan (Studi kasus Desa Bukaka).
Cocos, 6(5), 30-41.
Pandey, A. K., Tripathi, Y. C., & Kumar, A. (2016). Non timber forest products (NTFPs) for sustained livelihood:
Challenges and strategies. Research Journal of Forestry, 10, 1-7.
Peraturan Menteri Kehutanan. (2007).
Hasil hutan bukan kayu (Permenhut No. P.35/Menhut-II/2007).
Peraturan Menteri Kehutanan. (2009).
Kriteria dan indikator penetapan jenis hasil hutan bukan kayu unggulan (Permenhut No.
P.21/Menhut-II/2009).
Peraturan Menteri Kehutanan. (2014).
Hutan desa (Permenhut No.
P.89/Menhut-II/2014).
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2016). Perhutanan sosial (Permen LHK No.
P.83/Menlhk/Setjen/Kum.1/10/2016) .
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2017). Perhutanan sosial di wilayah kerja Perum Perhutani (Permen LHK No.
P.39/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2017).
Pohan, R. M., Purwoko, A., & Martial, T.
(2014). Kontribusi hasil hutan bukan kayu dari hutan produksi terbatas bagi pendapatan rumah tangga masyarakat. Peronema Forestry Science Journal, 3(2), 1-9.
Saha, D., & Sundriyal, R. C. (2012).
Utilization of non-timber forest products in humid tropics:
Implications for management and livelihood. Forest Policy and Economics, 14(1), 28-40. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.forpol.201 1.07.008
Siagian, D. P., Affandi, O., & Asmono, L.
(2012). Jenis, potensi dan nilai ekonomi hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar Tahura Bukit Barisan (Studi kasus:
Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran). Peronema Forestry Science Journal, 1(1), 19- 33.
Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat. (2015). Hak pengelolaan Hutan Nagari Paru (SK Gubernur Sumatera Barat No. 522.4-501-2015).
Jenis Tanaman HHBK di Hutan Nagari Paru (Nugroho, P. N. dan Octavia, Dona)
29 Surat Keputusan Menteri Kehutanan.
(2014). Penetapan areal kerja Hutan Nagari Paru (SK Menhut No.
SK.507/Menhut-II/2014).
Tanjung, N. S. (2016). Komunikasi partisipatif dalam pengelolaan hutan nagari di Sumatera Barat (Thesis Master). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
United Nations Office for REDD Coordination in Indonesia (UNORCID). (2015). Forest ecosystem valuation study: Indonesia (pp. 93): United Nations Office for
REDD Coordination in Indonesia (UNORCID).
Wardani, D. M. (2018). Daun kari, peneliti India menyebutnya "tanaman ajaib". Diakses dari http://www.satuharapan.com/read- detail/read/daun-kari-peneliti-india- menyebutnya-tanaman-ajaib
Wibowo, G. D. H. (2013). Analisis kebijakan pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di NTB dan NTT. Jurnal Hukum dan Pembangunan, 43(2), 197-225.
30
Vol. 17 No. 1, Juni 2020 : 21-33
Lampiran (Appendix) 1. Manfaat, bagian yang dimanfaatkan serta jumlah individu penghasil HHBK di kawasan Hutan Nagari Paru (Utility, utilized plant’s part and number of plant producing non timber forest products (NTFPs) in Village Forest area of Paru) No. (No.)Nama Tanaman (Plant’s Name) Nama Ilmiah (Scientific Name) Habitus (Life-form) Manfaat (Utility) Bagian yang Dimanfaatkan (Utilized Plant’s Part) Jumlah Individu (IndividualNumber) 1Akar ampalas- Tumbuhan merambat2Batang (air) 5 2Akar krakatai- Tumbuhan merambat2Batang (air) 1 3Akar karakatuik- Tumbuhan merambat2Batang (air) 3 4AnggrekDendrobium sp. Anggrek3,8Bunga, batang31 5Anggrek batuCalanthe triplicate (Willemet) AmesAnggrek3,8Bunga, batang4 6Anggrek tanahCalanthe sp. Anggrek8Rumpun1 7Bakung/Bunga bakungCrynum asiaticum L.Herba 3Batang, daun8 8Bambu hutan/silabouGigantochloasp. Bambu3,6Batang1 9Baye/Umbuik baye- Palem1,3Batang, buah, umbut 10 10Bira Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don. Herba 1Umbi, daun3 11BombanDonax canniformis (G.Forst.) K.Schum. Herba 2,3Daun, buah, batang21 12Buar/Bunga kuar- Herba 3Daun, batang4 13Bunga lawangIllicium verum Hook.f. Pohon1,2Bunga/buah3 14Cempedak/cubadak hutanArtocarpus sp. Pohon1Buah4 15Damar merantiShoreasp. Pohon5Damar2 16Daun cacingAdina polycephala Benth. Perdu2Daun1 17Durian daun/hutanDurio graveolens Becc.Pohon1Buah8 18Durian tunggalDuriosp. Pohon1Buah1 19Igo-igo- Herba 2Daun2 20Imbang- Herba 2Batang1 21Isi - Herba 1Batang1 22Jamur batang- Jamur 1Batang, tudung1 23Jamur hitam- Jamur 1,2Batang, tudung8 24Jamur putih- Jamur 1,2Batang, tudung10 25Jamur ungu- Jamur 2Batang1 26JelutungDyera costulata(Miq.) Hook.f. Pohon5Getah7 27JilatangPolyosma ilicifolia Bl.Herba 2Akar1 28KabauArchidendron bubalinum (Jack) NielsenPohon1,3Buah97
31
Jenis Tanaman HHBK di Hutan Nagari Paru (Nugroho, P. N. dan Octavia, Dona)
No. (No.)Nama Tanaman (Plant’s Name) Nama Ilmiah (Scientific Name) Habitus (Life-form) Manfaat (Utility) Bagian yang Dimanfaatkan (Utilized Plant’s Part) Jumlah Individu (IndividualNumber) 29Kamumu/Kemumu/talas padangColocasia giganteanHook.f. Herba 1,2,3Daun, batang, tangkai daun22 30KasaiNephelium mutabile Bl.Pohon1Buah44 31Katari hutanCurculigo latifoliaDryand1,2,3Buah24 32Kayu manisCinnamomum burmannii Bl.Pohon1,2,6,8Kulit,batang,daun, ranting5 33KedundungSantiria laevigataBl.Pohon1,3,6Daun, batang, buah5 34Keladi hutanColocasiasp. Herba 8Pohon, batang21 35Kincuang sayur Eltingera elatior (Jack.) RM SmithHerba 1,2Batang, buah13 36Kopi Coffea ArabicaL.Perdu1Buah8 37Kulit ubarGordonia excels(Bl.) Bl.Pohon4Kulit1 38Kumpai- Herba 3Daun2 39Kunyit hutanAlpiniasp. Herba 1,2,3Akar, buah, batang16 40Lada mungul Piper nigrum L.Tumbuhan merambat2Buah1 41LangkokArenga obtusifoliaMart.Palem1,3,6Daun, pelepah, batang39 42Langsat hutanLansium domesticum Corr. Pohon1Buah1 43Lariang/bunga laring- Herba 2,3Daun, buah, batang57 44Limpai/lipaiLicuala pumilaBl.Palem1,3Daun, batang51 45Linjuang hutanCordyline fruticosa(L.) A. Chev. Herba 3Batang, daun7 46Manis mata- Herba 8Bunga1 47Medang kulit manisCinnamomum iners Reinw. ex Bl.Pohon1,2Kulit4 48Motiwar- Herba 2Daun8 49Paku/pakis hutanDiplazium esculentum (Retz.) Sw. Pakis1,2,3,8Pohon/rumpun33 50Paku anggrek- Pakis3Batang1 51Paku gajahAngiopteris evecta(G. Forst.) Hoffm. Pakis2Batang1 52Paku galaCycas rumphii Miq. Pakis3Batang1 53Paku kawat Lycopodiella cernua(L.) Pic. Serm. Pakis2,3Batang2 54Paku lamapai- Pakis1Batang2 55Paku sialang- Pakis2Batang2 56Pandan hutanPandanus tectorius Sol.Perdu3Daun43 57Pandan tindinPandanus sp. Perdu3Daun1 58Panggi-panggi Tristaniopsissp. Perdu2Daun1 59Pasak bumi Eurycoma longifoliaJack. Perdu1,2Akar22 60Paye- 3Batang1 61PetaiParkia speciosaHassk. Pohon1Buah9 62PiladangColeus blumei Benth. Herba 2Daun21 63Pinang-pinangAreca catechuLinn. Palem1,2,3,4,6,8Batang, buah25
32
Vol. 17 No. 1, Juni 2020 : 21-33
No. (No.)Nama Tanaman (Plant’s Name) Nama Ilmiah (Scientific Name) Habitus (Life-form) Manfaat (Utility) Bagian yang Dimanfaatkan (Utilized Plant’s Part) Jumlah Individu (IndividualNumber) 64Pisang hutanMusa brachycarpa BackerHerba 1,3Buah, bunga, batang21 65Pudung telunjukNephelium sp. Pohon1Buah1 66Puwar- Herba 3Buah,daun5 67Rambutan hutanNephelium lappaceum L.Pohon1Buah10 68Rotan lainCalamus sp.Palem3Batang44 69Rotan airCalamus sp. Palem3Batang12 70Rotan batuCalamus odscures Warb. Palem3Batang78 71Rotan buawCalamus sp.Palem3Batang2 72Rotan cincinDaemonorops macrophyllus Becc.Palem3Batang36 73Rotan jernangDaemonorops dracoBl.Palem2,3,4,5Buah60 74Rotan kubinCalamus sp. Palem3Batang8 75Rotan lipaiCalamus sp. Palem3Batang2 76Rotan manauCalamus mananMiq. Palem3Batang42 77Rotan pakuCalamus exilisGriff.Palem2,3Batang13 78Rotan piladeh/palodeCalamusjavensisBl.Palem3Batang2 79Rotan saga/sogoCalamus caesius Bl.Palem3Batang18 80Rotan semut Daemonorops verticilliaris(Griff.) Mart.Palem3Batang, daun, buah119 81Rotan sikaiCalamus sp. Palem3Batang, daun, buah149 82Rotan tikoloCalamus sp. Palem3Batang4 83Rotan tunggalCalamus retrophyllus Becc.Palem3Batang/helai38 84Rotan udangCalamus spectabilis Bl.Palem3Batang/helai, buah114 85SakekAsplenium sp. Pakis3Daun15 86Salak hutanEleiodoxa conferta(Griff.) BurretPalem1Buah8 87SicerekMurraya koenigii (L.) Spreng. Pohon2,7Daun1 88Sigayek- 3Buah1 89Sikai duriFlagellariasp. Tumbuhan merambat3Batang19 90Sikai mancikFlagellaria indica L.Tumbuhan merambat3Batang10 91SilosakNephelium lappacelum L.Pohon1Buah1 92Sirih gajahPiper aduncum L.Tanaman merambat2Daun, bunga21 93Sirih hutanPiper caducibracteum C.DCTanaman merambat2,3,8Daun, batang4 94SitawarCostus speciosus (J. Koenig) SmHerba 2Akar, batang, daun, buah1 95Tabu-tabu/Tebu-tebuDaemonorops sabut Becc.Palem3Batang95 96Tampui Baccaurea deflexa Roxb. Pohon1Buah11
33
Jenis Tanaman HHBK di Hutan Nagari Paru (Nugroho, P. N. dan Octavia, Dona)
No. (No.)Nama Tanaman (Plant’s Name) Nama Ilmiah (Scientific Name) Habitus (Life-form) Manfaat (Utility) Bagian yang Dimanfaatkan (Utilized Plant’s Part) Jumlah Individu (IndividualNumber) 97Tempayang/SempayangHeritiera sp. Pohon1,2,6Biji, buah, batang70 98Yiah- Herba 3Batang2 Keterangan Manfaat (utilitynotes): 1. Pangan (food), 2. Obat (medicine), 3. Kerajinan (handicraft), 4. Pewarna (dye), 5. Getah/resin (resin), 6. Bangunan (building material), 7. Ritual adat (ritual), dan 8. Lain-lain (other)
(2020), 17(1): 35-47 http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHKA
pISSN: 0216 – 0439 eISSN: 2540 – 9689 Akreditasi Kemenristekdikti Nomor 21/E/KPT/2018
Editor: Asep Hidayat, S.Hut, M.Agr, Ph.D
Korespondensi penulis: Andes Hamuraby Rozak* ([email protected])
Kontribusi penulis: AHR: kontributor utama, pelaksana penelitian dan pengambilan data, konseptor tulisan, analisis data, menulis draft naskah KTI, submit naskah KTI; SA: kontributor anggota, pelaksana penelitian dan pengambilan data, memberikan masukan draft naskah KTI; ZM: kontributor anggota, pelaksana penelitian dan pengambilan data, memberikan masukan draft naskah KTI; ES: kontributor anggota, pelaksana penelitian dan pengambilan data, memberikan masukan draft naskah KTI; DW: kontributor anggota, koordinator penelitian, pelaksana penelitian dan pengambilan data, memberikan masukan draft naskah KTI.
https://doi.org/10.20886/jphka.2020.17.1.35-47
©JPHKA - 2018 is Open access under CC BY-NC-SA license
35 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TIGA INDEKS KEANEKARAGAMAN POHON DALAM ANALISIS KOMUNITAS HUTAN: STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, INDONESIA
(The Effectiveness of the Use of Three Diversity Indices in Forest Community Analysis:
A case Study in Mount Gede Pangrango National Park, Indonesia)
Andes Hamuraby Rozak1*, Sri Astutik1, Zaenal Mutaqien1, Endah Sulistyawati2, dan/and Didik Widyatmoko1
1Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jl. Ir. H.
Juanda No. 13, Bogor 16003, Jawa Barat, Indonesia
2Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No. 10, Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia
Info artikel: ABSTRACT Keywords:
Montane forest, biodiversity, species richness, tree,
national park
The analysis of diversity is a fundamental measurement in a forest community. The results of the analysis can be the basis for conservation actions in the management of a forest area.
Several species diversity indices such as the Shannon-Wiener and Simpson's index are very commonly used in the analysis by the ecologist. However, comparative studies on tree diversity indices with continued analysis of the effectiveness of using these indices are still rarely conducted. Using data from 26 plots located at an altitude range of 1.013-3.010 m, a comparison of the effectiveness of the use of the Shannon-Wiener, Simpson's, and rarefied richness index was carried out on woody plants (dbh ≥5 cm). It was grouped into three zones, namely the submontane zone, montane and subalpine. The results showed that rarefied richness index has a good performance and more sensitive than that of Shannon- Wiener and Simpson’s indices. Therefore, we recommend using a rarefied richness index for further research on tree diversity analysis. Converting previous Shannon-Wiener, Simpson’s, or combination of both indices into rarefied richness is widely open. However, linear models show that the equations only capture 61-87% of the total variation of the indices, depend on the independent variable used in the model.
Kata kunci:
Hutan pegunungan, keanekaragaman, kekayaan jenis, pohon, taman nasional
ABSTRAK
Analisis keanekaragaman jenis sangat penting dalam perhitungan keanekaragaman suatu komunitas hutan. Hasil analisis tersebut bisa menjadi dasar untuk aksi-aksi konservasi dalam pengelolaan suatu kawasan hutan. Beberapa indeks keanekaragaman jenis seperti indeks Shannon-Wiener dan Simpson’s sangat umum digunakan dalam analisis tersebut.
Namun demikian, studi perbandingan indeks keanekaragaman pohon disertai analisis lanjutan tentang efektivitas penggunaan indeks tersebut masih jarang dilakukan. Dengan menggunakan data dari 26 plot yang terletak pada rentang ketinggian 1.013-3.010 m, perbandingan efektivitas penggunaan indeks Shannon-Wiener, Simpson’s, dan rarefied richness dilakukan terhadap tumbuhan berkayu (dbh ≥5 cm) yang dikelompokkan dalam tiga zona, yaitu zona submontana, montana, dan subalpine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks rarefied richness memiliki sensitivitas yang baik dibandingkan dengan indeks lainnya. Oleh karenanya, penggunaan indeks tersebut perlu diutamakan dibandingkan dengan indeks lainnya. Konversi indeks Shannon-Wiener, Simpson’s, maupun kombinasinya sangat terbuka untuk dilakukan. Namun demikian, persamaan regresi linear hanya mampu menjelaskan 61-87% dari total varian yang dimiliki dan bergantung pada variabel bebas yang digunakan.
Riwayat artikel:
Tanggal diterima:
18 Desember 2019;
Tanggal direvisi:
30 April 2020;
Tanggal disetujui:
4 Mei 2020
Vol. 17 No. 1, Juni 2020 : 35-47
36
I. PENDAHULUAN
Analisis tentang keanekaragaman jenis merupakan pengetahuan yang sangat mendasar dalam mengukur keaneka- ragaman suatu komunitas hutan. Analisis tersebut adalah cara yang paling sederhana untuk mendeskripsikan kekaya- an biota (Magurran, 2004) dan menjadi tantangan tersendiri bagi ekolog dalam menjelaskan keanekaragaman suatu ka- wasan (Brown, Ernest, Parody, & Haskell, 2001; Palmer, 1994). Dalam per- kembangannya, terdapat beberapa indeks yang bisa digunakan untuk menganalisis keanekaragaman biota suatu kawasan seperti indeks Shannon-Wiener (1963), indeks Simpson’s (1949), maupun indeks yang perhitungannya lebih kompleks yaitu rarefied richness (Heck, van Belle, &
Simberloff, 1975; Simberloff, 1972). Dua indeks pertama sangat umum digunakan di Indonesia (e.g. Arrijani, 2006, 2008;
Larashati, 2004; Mutaqien, & Zuhri, 2011) karena kemudahan dalam proses perhitungannya. Sementara itu, indeks rarefied richness masih jarang digunakan karena kompleksitas perhitungan (Buddle et al., 2005; Chao et al., 2014; Gotelli, &
Colwell, 2001).
Tinjauan tentang penggunaan indeks keanekaragaman telah dimulai sejak beberapa dekade yang lalu (Buddle et al., 2005; Gotelli & Colwell, 2001;
Hurlbert, 1971; Lamb et al., 2009;
Sanders, 1968; Wolda, 1981). Hurlbert (1971) misalnya telah mengkritisi bahwa penggunaan indeks keanekaragaman yang umum dilakukan pada masa tersebut (misalnya indeks Shannon-Wiener) tidak tepat untuk digunakan pada penelitian- penelitian hayati karena tidak memberikan arti yang penting bagi pendeskripsian sifat-sifat biologinya. Sebagai contoh, Hurlbert (1971) berpendapat bahwa indeks Shannon-Wiener hanya memper- hitungkan variabel kelimpahan dan nilai penting suatu jenis terhadap ekosistem yang berarti mengesampingkan kontribusi beberapa jenis yang dikategorikan langka pada suatu kawasan yang dalam beberapa
kasus memainkan peranan penting dalam suatu komunitas. Contoh kasus peng- gunaan indeks keanekaragaman seperti Shannon-Wiener, Simpson’s, Fisher’s alpha, dan rarefied richness telah dijelas- kan dengan baik untuk taksa Artropoda pada berbagai tipe habitat (Buddle et al., 2005). Pada taksa tersebut, Buddle et al.
menyimpulkan bahwa indeks rarefied richness lebih sensitif dibandingkan indeks lainnya dan direkomendasikan untuk digunakan dalam analisis keaneka- ragaman jenisnya.
Sejalan dengan penelitian Buddle et al. (2005), tulisan ini mencoba untuk membandingkan indeks yang umum digunakan, yaitu Shannon-Wiener dan Simpson’s, terhadap indeks rarefied richness dengan contoh kasus yaitu pada komunitas kelas pohon yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Pemilihan tiga indeks tersebut didasarkan bahwa dua indeks pertama sangat umum digunakan di Indonesia dalam menganalisis keanekaragaman pohon pada suatu kawasan hutan dibandingkan dengan indeks rarefied richness yang tidak begitu popular.
Dengan demikian, tujuan tulisan ini adalah untuk (1) mengetahui indeks keanekaragaman pohon di TNGGP; (2) membandingkan tiga jenis indeks keanekaragaman pohon yaitu indeks Shannon-Wiener, indeks Simpson’s, dan rarefied richness; (3) memberikan rekomendasi indeks keanekaragaman yang lebih obyektif dalam menilai suatu kawasan hutan terutama untuk kelas pohon; dan (4) memprediksi korelasi antara indeks Shanon-Wiener, Simpson’s, ataupun kombinasinya terhadap indeks rarefied richness.
II. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian berlokasi di kawasan inti Cagar Biosfer Cibodas yaitu hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Gambar 1). Secara geografis kawasan hutan ini terletak pada 6°10’-6°51’ LS dan