Wiryanto 1) Farida Nailufar 2)
D. Perilaku Mahasiswa Terhadap Produk Bakso
Perilaku konsumen merupakan tindakan yang terlibat langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk didalamnya proses keputusan yang mendahului ataupun menyusul tindakan ini.
Pembelian suatu produk dapat dipengaruhi oleh orang lain melalui berbagai cara seperti lisan, perbuatan maupun tulisan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 19 persen responden mengambil keputusan sendiri untuk membeli produk bakso tidak ada pengaruh dari teman, 28 persen responden menyatakan bahwa keputusan untuk membeli bakso dipengaruhi oleh temannya dan sebanyak 53 persen menyatakan kadang-kadang keputusan membeli bakso dipengaruhi oleh teman. Keadaan ini menyatakan bahwa mahasiswa tidak mandiri dalam mengambil keputusan pada saat pembelian produk bakso.
Buku Prosiding
Seminar Nasional & Call For Papers
Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim 2017 46
Loyalitas merek merupakan sikap menyenangi terhadap suatu merek tertentu yang direpresentasikan dalam pembelian yang tidak pernah berubah terhadap merek tersebut sepanjang waktu (Setiadi, 2003). Dari data penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 54 persen responden tidak mengalih ke warung yang lain (loyal), 17 persen mahasiswa yang akan beralih kepada merek lain karena pemasaran (tidak loyal) dan 29 persen mahasiswa yang lain lagi yang kadang-kadang akan mencoba beralih ke warung yang lain meskipun tidak menutup kemungkinan mereka akan beralih kembali membeli produk bakso pada warung yang dulu (kurang loyal). Keadaan ini menggambarkan terdapat kesesuaian dengan karakter mahasiswa pada umumnya yaitu bersifat mencoba-coba, dan sifat penasaran, ingin tahu kepada hal-hal yang baru yang sangat ingin mereka ketahui.
Konsumen memiliki alasan yang bervariasi dalam memilih atau memutuskan melakukan pembelian atau mengkonsumsi suatu produk. Alasan tersebut antara lain kehalalan produk, rasa produk, harga jual produk, merek produk dan lain sebagainya.
Pencantuman lebel halal menjadi sangat penting dan diutamakan oleh konsumen yang beragama Islam. Berdasarkan hasil survey yang diselenggarakan bersama situs indohalal.com, Yayasan Halalan Toyyibani dan LP POM MUI pada akhir tanun 2002 sebanyak 77,60 persen responden menjadikan jaminan kehalalan sebagai pertimbangan pertama dalam berbelanja produk makanan, kosmetik, dan restoran. Tetapi dari hasil penelitian 46 persen responden yang menyukai produk bakso karena kehalalan, 47 persen responden yang menyukai karena rasanya, 7 persen responden yang suka karena harga dan tidak ada responden yang menyukai produk bakso karena mereknya. Seharusnya berdasarkan data tahun 2012 Indonesia adalah Negara yang berpenduduk dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan mencapai 81,50 persen yang seharusnya kesadaran terhadap produk halal setara dengan data tersebut. Keadaan ini menggambarkan tingkat pemahaman agama Islam di tengah-tengah masyarakat Islam masih kurang.
Pengetahuan konsumen mengenai produk makanan dapat diperoleh melalui informasi yang disampaikan produsen lewat media cetak, maupun media sosial elektronik. Informasi juga dapat diperoleh melalui orang tua, teman, saudara dan lain-lain. Hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 4 diketahui bahwa 7 persen responden mendapat informasi produk bakso disekitar Kampus Poltekkes Kemenkes Kaltim Balikpapan melalui media sosial pertemanan berupa gambar penyajian produk bakso dari whats up pada saat istirahat di kantin. Sebesar 36 persen mendapat informasi dari orang tua dan 57 persen mendapatkan informasi dari teman. Berdasarkan hasil tersebut pada penelitian ini, berarti media yang
Buku Prosiding
Seminar Nasional & Call For Papers
Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim 2017 47
paling efektif untuk memasarkan produk bakso disekitar kampus Poltekkes Kemenkes Kaltim di Balikpapan adalah melalui pertemanan.
Gambaran yang diperoleh dari hasil penelitian diketahui bahwa 68 persen responden menyatakan rasa bakso enak, 27 persen responden menyatakan rasa bakso biasa saja dan hanya 5 persen responden menyatakan rasa bakso tidak enak. Keadaan ini berarti pada umumnya bakso disukai oleh banyak konsumen dan hampir semua sudah pernah mengkonsumsi produk bakso.
Harga merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan pembelian. Harga penjualan bakso di pasaran untuk 1 porsi antara Rp.6.000,- sampai dengan Rp.10.000,- diatanggapi oleh konsumen dengan berbagai ragam tanggapan. Dari hasil penelitaian yang ada pada Tabel 4 dapat dilihat sebanyak 57 persen adalah harga yang murah, 39 persen responden menyatakan itu adalah harga yang biasa dan 4 persen responden mengatakan harga demikian adalah harga yang mahal. Responden pada umumnya lebih menyukai memilih memilih posri bakso sendiri dengan harga satuan dan variasi dari yang paling murah sampai yang paling mahal daripada membeli satuan porsi yang sudah ditentukan oleh warung sebelumnya. Keadaan demikian ini adalah dalam rangka untuk memudahkan konsumen dan melancarkan penjualan usaha produk bakso mereka.
Kuantitas pemakaian produk bakso terdiri empat kelompok konsumen berdasarkan pemakaiannya yaitu pecandu, pemakai rata-rata, pemakai ringan, dan bukan pemakai.
Berdasarkan penelitian hasil yang diperoleh tidak bias mengikuti pembagian tersebut karena responden yang mengisi kuesioner seluruhnya menyukai produk bakso dan bukan merupakan makanan pokok. Dati Tabel 4 dapat dilihat 5 persen responden yang mengkonsumsi bakso 3 kali dalam seminggu, 8 persen responden mengkonsumsi bakso 2 kali dalam seminggu, 60 persen responden hanya sekali mengkonsumsi bakso dalam seminggu dan terdapat 27 persen yang menyatakan tidak menentu untuk mengkonsumsi bakso dalam seminggu. Keadaan ini berarti rata-rata setiap minggu pada umumnya mahasiswa mengkonsumsi bakso.
Tempat dimana pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang adalah pasar. Tetapi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa, penukaran barang tidak lagi hanya terbatas di pasar namun mahasiswa juga bias memperoleh sesuatu yang diinginkan di Supermarket, warung dan lainnya yang bisa diakses secara mudah di sekitar Poltekkes Kemenkes Kaltim Balikpapan. Lokasi pembelian bakso yang dilakukan oleh mahasiswa sebanyak 18 persen mahasiswa membeli di kantin, 75 persen responden
Buku Prosiding
Seminar Nasional & Call For Papers
Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim 2017 48
membeli bakso di warung dan 7 persen responden membeli bakso pada Pedagang Kaki Lima (PKL). Gambaran ini menunjukkan hal yang sangat potensial bagi warung bakso menjajakan produknya yang aman dan halal karena ternyata banyak mahasiswa yang memilih makan di warung dibandingkan yang makan di PKL. Artinya mahasiswa lebih tahu bahwa warung merupakan lokasi yang lebih aman dapat dipertanggung jawabkan dibandingkan dengan PKL. Selain itu juga warung produknya relatif lebih murah jika dibandingkan bila membeli produk bakso di Supermaket.