BAB I PENDAHULUAN
E. Defenisi Oprasional
7. Perilaku menyimpang
Fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan. Sisi yang menarik bukan saja karena pemberitaan tentang berbagai perilaku manusia yang ganjil itu dapat mendongkrak oplah media massa dan rating dari suatu mata acara distasion televisi, tetapi juga karena tindakan-tindakan menyimpang dianggap dapat menggangu ketertiban masyarakat. Kasus-kasus pelanggaran norma sosila dan berbagai tindakan criminal yang ditanyakan oleh berbagai stasion televisi, atau gosip-gosip gaya hidup selebriti yang terkesan jauh berbeda dengan kehidupan nyata masyarakat, meskipun dicari penontonya karena dapat memenuhi hasrat ingin tahu mereka, juga sering kali dicaci karena perilaku yang dianggap tak layak. Perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma social yang berlaku. Secara sederhana kita memang dapat mengatakan, bahwa seseorang berperilaku menyimpang apabila menurut anggapan sebagian masyarakat (minimal disuatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan tersebut diluar kebiasaan, adat
istiadat, aturan nilai-nilai, atau norma social yang berlaku. Menurut Narkowo dan bagong suyanto(2011:99) tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tidak selalu berupa tindakan kejahatan besar, seperti merampok, korupsi, menganiaya, atau membunuh. Melainkan bisa pula Cuma berupa tindakan pelanggaran kecil-kecilan, semacam berkelahi dengan teman, suka meludah disembarang tempat, berpacaran hingga larut malam, makan dengan tangan kiri dan sebagainya.
a. Perilaku yang digolongkan sebagai menyimpang
Secara umum yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang, antara lain adalah:
1) Tindakan yang nonconfrom, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang ada. Contoh tindakan nonconfrom itu, misalnya memakai sandal butut kekampus atau ke tempat-tempat yang formal. Membolos atau meninggalkan pelajaran pada jam-jam kuliah dan kemudian titip tanda tangan pada teman, merokok di area dilarang merokok, membuang sampah bukan di tempat yang semestinya, dan sebagainya.
2) Tindakan yang anti social atau asocial, yaitu tindakan yang melawan kebiasan masyarakat atau kepentingan umum. Bentuk tindakan asocial itu antara lain: menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, keinginan untuk bunuh diri, minum minuman keras, menggunakan pelacuran, penyimpangan seksual (homoseksual dan lebianisme), dan sebagainya.
3) Tindakan-tindakan criminal, yaitu tindakan yang nyata telah melanggar aturan-atuaran hokum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Tindakan criminal yang sering kita temui itu misalnya: pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi, perkosaan, dan sebagai bentuk tindak kejahatan lainya, baik yang tercatat di kepolisian maupun yang tidak karena tidak dilaporkan masyarakat, tapi nyata-nyata mengancam ketentraman masyarakat.
Terjadinya perilaku menyimpang, sebagaimana juga perilaku yang tidak menyimpang (conform), dipastikan selalu ada dalam setiap kehidupan bermasyarakat. Lebih-lebih pada masyarakat yang bersifat terbuka atau mungkin permisif (serba boleh atau control sosialnya sangat longgar). Pada masyarakat yang sudah semakin modern dan gaya hidup warganya semakin komfleks berbagai penyimpangan perilaku berseiring dengan prilaku normal, seperti halnya ada sifat baik dan buruk, ada hitam dan putih, atau surga dan neraka.
b. Definisi tentang perilaku menyimpang
Menurut (Clinard dan Meier,1989:4-7), defenisi tentang perilaku menyimpang yang di kemukakan di sini adalah hasil rumusan para ahli yang telah melakukan studinya di berbagai kelompok masyarakat. Berdasarkan studi-studi tersebut, maka perilaku menyimpang dapat didefinisikan secara berbeda berdasarkan empat sudut pandang.
Pertama, secara statistical. Defenisi secara statistical ini adalah sala satu yang paling umum dalam pembicaraan awam. Adapun yang di maksud
dengan penympangan secara statistical adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan. Pendekatan ini berasumsi, bahwa sebagian masyrakat dianggap melakukan cara-cara dan tindakan yang benar. Defenisi ini sulit untuk di terima, karena dapat mengarah pada beberapa kesimpulan yang membingungkan. Misalnya, ada kelompok-kelompok minoritas yang memiliki kebiasaan berbeda dari kelompok mayoritas, untuk kelompok- kelompok tersebut dianggap sebagai orang-orang menyimpang. Jadi bagi siapa yang tidak perna menggunakan mariyuana atau sabu-sabu, yang tidak perna minum-minuman beralkohol, tidak perna melakukan hubungan seksual premarital (sebelum menikah) atau ekstramarital (diluar lembaga pernikahan, seperti perselingkuhan), mungkin dianggap atau di pertimbangkan penyimpang apabila kelompok mayoritasnya melakukan tindakan-tindakan tersebut.
Kedua, secara absolute atau mutlak. Defenisi perilaku menyimpang yang berasal dari kaum absolutis ini berangkat dari aturan-aturan social yang dianggap sebagai sesuatu yang mutlak atau jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu, serta berlaku tampa terkecuali, untuk semua warga masyarakat.
Kelompok absolutis berasumsi, bahwa aturan-aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan anggota-anggotanya harus menyetujui tentang apa yang disebut sebagai penyimpang dan bukan. Itu karena standar atau ukuran dari suatu perilaku yang dianggap conform sudah ditentukan terlebih dahulu, begitu pula dengan apa yang disebut menyimpang juga sudah
ditetapkan secara tegas. Dengan demikian diharapkan setiap orang dapat bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap benar dan menghindari perilaku yang dianggap menyimpang. Contoh penerapan definisi menyimpang secara absolute, pada umumnya terjadi dikomunitas serta nilai- nilai tradisional. Kehidupan bergotong royong dan saling membantu masih sangat kental di lingkungan pedesaan, apabila ada sala satu warga yang tidak mau membantu tetangganya atau enggan diajak bergotong royong ketika dikomunitasnya sedang ada hajatan atau kerja bakti, maka dapat dipastikan dia akan dicap menyimpang dari warga masyarakat lainya.
Ketiga, secara reaktif. Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis bila berkenaan dengan reaksi masyarakat atau agen control ada reaksi dari masyarakat atau agen control social dan kemudian mereka member cap atau tanda (labeling) terhadap sipelaku, maka perilaku itu telah di cap menyimpang, demikian pula sipelaku juga dikatakan menyimpang.
Menurut Becker (dalam Clinard dan Meier,1989:5), penyimpangan adalah sesuatu akibat yang kepada siapa cap itu telah berhasil diterapkan; perilaku menyimpang adalah perilaku yang dicapkan kepadanya atau orang lain telah memberi cap kepadanya. Dengan demikian apa menyimpang dan apa yang tidak, tergantung dari ketetapan-ketetapan (atau reaksi-reaksi) dari anggota masyarakat terhadap suatu tindakan. Kaum reaktifis menolak anggapan, bahwa apa yang dipertimbangkan menyimpang tergantung dari kualitas pembawaan lahir seseorang atau tindakan-tindakan yang dianggap sebagai pembawaan lahir seseorang. Artinya mereka menolak pendapat dari para ahli
biologi yang mengatakan bahwa ciri-ciri fisik tertentu dari seseorang dapat menjadi penanda khas seorang penjahat, misalnya bentuk kepala dan rahang yang besar, hidung bengkok, rambut keriting, kulit pucat, dan sebagainya.
Kaum reaktivis juga menolak anggapan bahwa perilaku menyimpang adalah turunan atau warisan genetis orang tuanya. Kritik untuk penganut reaktivis ini tertuju terutama pada defenisi tentang penyimpangan yang mereka tetapkan. Meskipun interaksi antara si penyimpang dengan agen-agen control social adalah sesuatu proses penting, tetapi hal itu belum tentu merupakan suatu upaya mendefinisikan penyimpangan. Salah satu contoh yang tidak logis dari perspektif ini dapat di gambarkan dari suatu kasus, di mana seseorang melakukan suatu tindakan perampokan atau pembobolan bank, dan kemudian orang dan tindakanya tidak dapat di buktikan secara hukum, dengan demikian ia tidak dianggap sebagai orang yang berperilaku menyimpang.
Keempat, secara normative. Sudut pandang ini didasarkan atas asumsi, bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma social. Norma dalam hal ini adalah suatu standar tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya di pikirkan, dikatakan, atau dilakukan oleh warga masyarakat pada suatu keadaan tertentu. Pelanggaran-pelanggaran terhadap suatu norma, sering kali diberi sanksi oleh penonton sosialnya.
Sanksi-sanksi tersebut merupakan tekanan dari sebagian besar anggota masyarakat yang merasa konform dengan norma-norma tersebut. Ada dua konsepsi umum tentang norma, yaitu: (1) sebagai suatu evaluasi atau
penilaian dari tingkah laku, yaitu penilaian terhadap perilaku yang dianggap baik atau tidak seharusnya terjadi. (2) sebagai tingkah laku yang di harapkan atau dapat diduga, yaitu menunjuk pada aturan-aturan tingkah laku yang didasarkan pada kebiasan atau adat istiadat masyarakat.
Konsep mengenai penyimpangan perilaku dari kaum normative ini dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari kaum reaktivis. Ada dua argument yang menarik, yaitu: (1) dengan dasar atau landasan apa orang-orang memberikan reaksi dari suatu tingkah laku. (2) jika suatu penyimpangan memang diidentifikasi melalui reaksi orang lain, bagaimana atau dengan apa orang tersebut bereaksi atau mencap/memberi label terhadap suatu kejadian atau tingkah laku tersebut. Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah norma-norma social. Dengan demikian, kaum reaktivis dan normative memiliki konsepsi yang sama, yaitu berlandaskan pada norma yang ada. Karena dalam setiap norma, disediakan dasar atau landasan untuk melakukan reaksi pada suatu penyimpangan (dimana reaksi social terjadi apabila norma-norma telah ditetapkan dan penyimpangan telah diindentifikasikan). Secara keseluruhan, maka definisi normative dari suatu perilaku menyimpang adalah tindakan atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma, dimana tindakan-tindakan tersebut tidak disetujuih atau dianggap tercelah dan akan mendapatkan sanksi negative dari masyarakat.
c. Ciri-ciri perilaku menyimpang
Ciri-ciri sebab terjadinya penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1) Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
2) Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu
a) Ketidak sanggupan menyerap norma-norma kebudayaan.
Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak(broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga. Proses belajar yang menyimpang.
Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang.
b) Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan
perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
c) Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
d) Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang) Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang,
d. Jenis-jenis perilaku menyimpang
Berdasarkan kekerapan atau berat-ringannya penyimpangan
1) Penyimpangan Primer (Primary Deviation) Ciri-cirinya : a) Bersifat sementara / temporer
b) Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang c) Masyarakat masih mentolerir / menerima
Contoh: pegawai negeri yang membolos kerja, banyak minum alkohol pada waktu pesta, siswa yang membolos atau menyontek saat ujian dan pelanggaran lalu lintas.
2) Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviation) Ciri-cirinya : a) Bersifat permanen / tetap
b) Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang
c) Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang tersebut.
Contoh: pembunuhan, perjudian, perampokan dan pemerkosaan.
e. Dampak perilaku menyimpang
1) Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat akan membawa dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan masyarakat pada umumnya memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan, dapat menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan, Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa, Perbuatan yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
2) Dampak Bagi Orang Lain/Kehidupan Masyarakat
Perilaku penyimpangan juga membawa dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketidak harmonisan dalam masyarakat, merusak tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat, menimbulkan beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku, merusak unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan masyarakat, dampak yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif. Demikian pula, menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan masyarakat.