• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan embrio

Dalam dokumen Pendidikan Budidaya Perairan Tawar (Halaman 43-47)

PEMELIHARAAN EMBRIO DAN LARVA

5.4 Perkembangan embrio

Perkembangan embrio (embryo development) adalah suatu proses yang berlangsung terus-menerus dari generasi ke generasi. Secara individu awal perkembangan dimulai pada saat pembuahan (fertilisasi), penyatuan sel gamet betina (ovum) dan sel gamet jantan (sperma) yang membentuk zigot, kemudian tumbuh berkembang menjadi mahluk yang berpotensi untuk bereproduksi menurunkan generasi selanjutnya dan akhirnya mati (Effendie, 2004).

Proses perkembangan yang berlangsung dari gametogenesis sampai dengan pembentukan zigot disebut progenesis. Proses selanjutnya yang mencakup pembelahan sel zigot. (cleavage), blastulasi, gastrulasi, dan neurulasi disebut embriogenesis. Proses berikutnya disebut organogenesis, yakni pembentukan organ-organ tubuh. Setiap stadium proses embriogenesis memiliki ciri khas tersendiri.

Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi sampai organogenesis sebelum menetas atau lahir. Urutan periode perkembangan ikan secara umum terdiri atas embrio dini (early embrionic), embrio transisi (larva) dan pasca embrio (Effendie, 2002).

Embrio dini dimulai pada saat pembuahan telur oleh sperma dan berakhir pada saat semua sistem organ terbentuk. Embrio transisi mencakup transformasi sistem organ dan bentuk badan embrio dini menjadi sama seperti pada individu dewasa. Bentuk badan yang tetap (definitif) tercapai pada akhir atau menjelang akhir fase tersebut.

Selama fase ini terbentuk dua macam larva, bergantung pada jenis ikan, yakni larva yang hidup bebas mempunyai bagian (alat) pelindung embrio untuk hidup di luar dan larva yang tidak hidup bebas menyele- saikan bentuk peralihannya di dalam cangkang telur atau dalam tubuh induknya.

Beberapa jenis ikan yang perkembangannya tidak langsung antara lain metamorfosa dan terkadang dengan selesainya metamorfosa tersebut, maka berakhir pula fase tersebut. Pada beberapa jenis ikan, fase embrio akhir mencakup perubahan perkembangan yang terjadi setelah bentuk badan definitif muncul.

Adapun jenis ikan yang dilahirkan langsung oleh induk perkembangan tersebut berlangsung di dalam saluran reproduksi induk. Pada ikan yang menghasilkan larva hidup bebas, bentuk dewasa akan dicapai segera setelah menetas atau setelah melewati beberapa fase (stadia) perkembangan pada fase ikan-ikan muda mempunyai bentuk relatif sama dengan ikan dewasa.

Perkembangan embrio diawali saat proses impregnasi, yaitu pada saat sel telur (ovum) dibuahi oleh sel jantan (spermatozoa). Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik, yakni hanya satu

spermatozoa yang akan melewati mikropil dan membuahi sel telur.

Pada pembuahan ini terjadi percampuran inti sel telur dengan inti sel jantan. Kedua macam inti ini masing-masing mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu set (haploid). Pencampuran inti sel telur dan spermatozoa terjadi dalam sitoplasma telur.

Menyatunya kedua inti (pronuklei) tersebut melengkapi proses pembuahan. Kromosom-kromosom dari sel betina dan jantan bersatu dalam proses yang disebut amfimiksis. Pada telur ikan, pembelahan terjadi hanya pada blastosis, daerah tipis dari sitoplasma yang bebas dari kuning telur yang menutupi atau membungkus telur.

Berlangsungnya pembuahan dengan baik terjadi pada saat sel telur dan spermatozoa dikeluarkan ke dalam air akan menjadi aktif karena sebelumnya sel telur dan sel sperma berada dalam cairan fisiologis yang berada dalam tubuh induk betina dan jantan masih bersifat nonaktif. Spermatozoa yang tadinya nonaktif akan bergerak (motil) dengan menggunakan ekor yang berupa cambuk. Bersamaan dengan pengaktifan spermatozoa dalam air sel telur pun menjadi aktif.

Air yang masuk melalui mikropil menyebabkan terlepasnya sel telur yang dibungkus oleh selaput plasma dari selaput vitelin (karion- karion) karena terbentuk ruang perivitelin di antara kedua selaput tersebut. Selaput vetelin disebut juga selaput pembuahan. Inti sel telur matang yang semula tepat berada di depan mikropil akan bergerak karena dengan adanya ruang perivetelin, kuning telur dan inti yang dibungkus oleh selaput plasma akan lebih mudah bergerak. Masuknya spermatozoa lewat mikropil harus berlangsung dengan cepat sekali agar persatuan kedua inti sel tersebut dapat terjadi karena inti sel telur akan bergerak dan daya gerak (motilitas) sperma sangat terbatas, yaitu 1-2 menit saja. Spermatozoa lainnya yang bertumpuk pada saluran mikropil, ada yang mengatakan akan dilebur dijadikan makanan sel telur yang telah dibuahi (zigot), tetapi ada pula yang menyatakan dibuang, didorong ke luar oleh reaksi korteks. Demikian juga halnya dengan spermatozoa yang menempel pada permukaan korion harus dibuang, karena akan mengganggu proses pernafasan (metabolisme)

zigot yang sedang berkembang. Cara pembuangan atau pelepasan spermatozoa itupun dilakukan dengan reaksi korteks.

Selaput pembungkus telur (korion) yang tadinya kurang tegang dan terdiri atas lekuk-lekukan berisi butir-butir korteks, dengan masuknya air, akan merenggang dan butir-butir konteks tersebut akan meloncat ke luar dari lekukan-lekukan dan mendorong spermatozoa yang menempel tersebut berjatuhan dan mati. Karion menjadi tegang dan keras karena air. Konsentrasi ion Ca menentukan kecepatan pengerasan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi ion Ca, maka proses pengerasan tersebut makin cepat.

Telur isolesital (alesital, oligolesital) adalah telur yang mengandung kuning telur sedikit dan tersebar di seluruh sel telur, sedangkan pada telur telosital jumlah kuning telurnya relatif banyak dan berkumpul pada kutub vegetatif, tetapi pada kutub animal hanya terdapat inti sitoplasma. Telur telosital ini terdiri dari dua macam, politelosital dan sentrolesital. Tipe pembelahan telur politelolesital adalah meroblastik diskoidal, sedangkan pada sentrolesital adalah merobiastik superfisial. Pada tipe yang pertama, blastomer akan dibentuk menjadi cakram (disc) pada kutub animal dan pada yang kedua blastomer akan membungkus kuning telur. Pada pembelahan holoblastik terdapat dua macam, yang sempurna (equal) dan yang tidak sempurna (unequal).

Pada pembelahan yang sempurna, sel-sel anak yang terbentuk relatif berukuran sama besar, sedangkan pada yang tidak sempurna sel-sel anak di kutub animal berukuran lebih kecil (mikromer) daripada yang di sekitar kutub vegetatif karena terdapat banyak kuning telur (makromer). Kecepatan pembelahan sel pada kutub animal lebih cepat sehingga sel-sel anak ini akan bergerak menutupi sel-sel anak di kutub vegetatif. Kecepatan pembelahan inti berbanding terbalik dengan banyaknya kuning telur. Pembelahan sel holoblastik tidak sempurna hampir seperti pada meroblastik, yaitu se1-sel anak yang terbentuk juga akan membungkus kuning telur.

Dari hasil pembelahan sel telolesital ini akan terbentuk dua kelompok sel. Yang pertama adalah kelompok sel–sel utama (blastoderm) yang akan membentuk tubuh embrio disebut sel–sel formatik atau gumpalan sel–sel dalam. Yang kedua adalah kelompok sel–sel pelengkap (trofoblast,periblast, auxilliary cells) yang berfungsi sebagai selaput pelindung dan jembatan penghubung antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.

Dalam dokumen Pendidikan Budidaya Perairan Tawar (Halaman 43-47)

Dokumen terkait