BAB 7. TERBENTUKNYA NASKAH DAN
A. Perkembangan Perilaku Menyimpang
125
perasaan pengalaman awal yang tidak okey dan cenderung putus asa.
PERILAKU MENYIMPANG DAN
PROSES PENYEMBUHAN
126
ingkahlaku yang tidak bermasalah atau tidak menyimpang, merupakan akibat pilihan posisi hidup I am okey, you are okey. Seleksi rencana kehidupan life script, dan perkembangan ego state (kepribadian) tidak secara utuh, tampil dalam ungkapan dan perilaku yang terkontaminasi serta eksklusi, yang dapat diamati dalam bentuk perilaku dan karakteristik sebagai berikut:
1. Perilaku menyimpang (malasuai) dan karakteristiknya a. Posisi kehidupan: Iam not okey (aku tidak mampu),- you are
okey (kau mampu)
Pribadi menyimpang semacam ini tergolong paling ringan.
Individu masih dapat mengarahkan kehidupan yang produktif meskipun tidak membahagiakan, karena ia merasa tidak mampu, atau juga merasa bersalah. Individu pada posisi ini kebanyakan tidak berperilaku dengan cara-cara yang mengarah pada pemenuhan diri (self-fulfilment) yang sebenarnya, pernyataan-pernyataan tingkahlaku tergolong menyimpang, misalnya: “Buset, ujian kemarin membuat saya gugup, pada hal si Thomas begitu tegar”, ‘saya tidak pernah puas dengan prestasi yang saya peroleh, sedangkan teman-teman sekelas gembira karena lulus”.
T
127
b. Posisi hidup: I am okey (saya mampu), you are not okey (kau tidak mampu)
Posisi kehidupan yang membuat individu tidak sehat ini mengarah pada rencana kehidupan yang didominasi oleh pemikiran yang paranoid, dengan menganggap diri benar dan orang lain salah. Individu semacam ini kemungkinan besar bertingkahlaku anti-sosial (antisocial behavior), contoh:
“saya tidak pernah ada kesulitan dalam menghadapi ujian, tidak seperti adik saya, yang selalu mengeluh setiap menghadapi ujian”, atau saya tidak berdosa seperti si Kuset atau Kalis yang suka bercerita tentang kelemahan atau kejelekan orang lain kalau berkumpul”.
c. Posisi hidup: I am okey (saya mampu), you are not okey (kau tidak mampu)
Posisi kehidupan semacam ini membuat individu bermasalah yang pada dasarnya cenderung putus asa, sekalipun tidak menyebabkan orang lain mengalami kesulitan, dan kehidupannya bercirikan kebosanan dan ketidakbahagiaan.
Contoh: “di dunia ini tidak orang yang bisa jujur”.
2. Bentuk Tingkah Laku Menyimpang
128
Selain hal di atas, dari struktur kepribadian (ego state) dapat dilihat bentuk tingkahlaku menyimpang. Ada dua bentuk transaksi perilaku menyimpang, dalam kaitannya dengan interaksi yang terjadi antara dua individu yaitu:
a. Transaksi silang.
Transaksi ini terjadi jika antar stimulus dan respon tidak cocok atau tidak sebagaimana yang diharapkan; biasanya komunikasi ini akan terganggu.
Transaksi bentuk silang:
Orangtua Dewasa Anak
Dalam contoh ini terlihat: individu pemberi pesan pertama mengfungsikan atau menggunakan ego state Dewasa.
Pemberi pesan kedua menggunakan ego state Anak
129
b. Transaksi terselubung. Transaksi terselubung, terjadi jika dua ego state beroperasi bersama-sama. Biasanya dapat dirasakan/meliputi dewasa diarahkan ke dewasa, akan tetapi menyembunyikan suatu pesan yang sebenarnya. Misalnya, ego state dewasa ke ego state anak atau ego state orangtua ke ego state anak
Transaksi bentuk terselubung Orangtua
Dewasa Anak
c. Transaksi Terkontaminasi
Perilaku malasuai ini menunjuk pada, keracunan ego state yang satu dengan ego state lain; biasanya terjadi kontaminasi antara ego state orangtua atau ego state anak dan atau ego state dewasa. Kontaminasi ini terjadi ego state dewasa menyerap keyakinan-keyakinan ego state dewasa.
Kontaminasi ini terjadi ego state dewasa menyerap
130
keyakinan-keyakinan ego state orangtua yang tidak berdasar realita. Kontaminasi dari ego state ini sering kali tampak dalam bentuk prasangka-prasangka yang diperlakukan sebagai fakta. Kontaminasi dari ego state orangtua dialami sebagai halusinasi dan persepsi sensori terhadap benda yang tidak realistis.
Individu yang ego state dewasanya terkontaminasi oleh ego state anak, individu biasanya mengaburkan makna realitas. Kontaminasi ego state anak dapat menyebabkan delusi, yakni: delusi of grandeur (ketidak berdayaan) dan atau persecution (perasaan kualat atau terkutuk) Contoh:
“Saya ternyata mudah belajar sambil mendengar radio, sebab tidak akan salah psikologi belajar” (pernyataan ego state dewasa seolah-oleh demikian).
Tiga bentuk kontaminasi dapat digambarkan sebagai berikut:
P
A
C
131 3. Eksklusi
Di samping kontaminasi, masih ada kekacauan fungsional lain yang menyebabkan kita berbeda satu sama lain:
eksklusi. Eksklusi terjelma dalam suatu sikap yang tetap dan dapat diramalkan. Sifat ini bertahan selama mungkin dalam situasi yang mengancam. Bagian orangtua, bagian dewasa, dan bagian anak yang tetap terjadi terutama karena eksklusi depensif kedua bagian lainnya yang saling melengkapi dalam setiap kasus. Dalam situasi ini di mana bagian orangtua yang mengadakan ekslusi dapat membungkamkan ego state anak, bagian ego state anak yang mengadakan eksklusi dapat membungkamkan bagian orangtua. Hal itu dapat diamati pada:
(1) Orang yang kurang bisa bermain; (2) orang yang kurang memiliki suara hati; (3) ego state dewasa yang tersingkir, (4) Pembungkaman periodik pada penderita manis depresif; (5) orang yang selalu menjemukan.
4. Pribadi Sehat atau Normal
Perkembangan pribadi sehat merupakan hasil pola asuh orangtua terhadap anak (healthy parenting). Pola asuh orangtua
132
yang sehat menjadilan anak memiliki pandangan positif terhadap dirinya dan orang lain. Selain pola asuh orangtua yang menentukan tahap di mana anak membuat putusan tentang posisi kehidupan dasarnya penting pula, yaitu besarnya penentu faktor keluarga, urutan kelahiran, dan nama anak juga mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.
i. Bentuk-bentuk dan karakteristik pribadi sehat/normal 1. Posisi kehidupan: I am okey- You are okey
Perkembangan ini tumbuh sejak lima tahun pertama kehidupan individu dan akan berlangsung bila ia sering memperoleh perlakuan dari orang dewasa yang punya posisi sama. Ciri-cirinya: individu mampu membuat keputusan secara sadar dan mampu membuat pilihan-pilihan.
2. Struktur kepribadian: ego state dewasa
Ego state dewasa berupaya menjalankan ke dua yang lain, yaitu; ego state orangtua dan ego state anak, keduanya berfungsi pada situasi yang tepat atau cocok. Ciri-cirinya:
mampu menguji keputusan awal, mandiri, dan bertanggungjawab terhadap perbuatan dan perasaan
3. Struktur ego state dewasa: fully functioning individual.
Bentuk pribadi sehat ini adalah paling sempurna (puncak).
133
Individu yang berfungsi secara sempurna, ciri-cirinya:
memiliki ego state dewasa yang fleksibel, selalu berubah, mampu mengevaluasi data dan informasi dalam ego state orangtua dan ego state anak untuk diuji kelayakan penggunaannya.
Contoh: Fenny berusia 2 tahun.
Ibu:”Fanny, ayo cuci mulut dulu sehabis makan! (E.O.) Sebetulnya Fenny belum waktunya dilatih disiplin keras, sehingga ia berkata: “ehh… copot-copot… heeeeh” (E.A).
4. Bentuk perilaku normal, bentuk perilaku yang normal ditandai dengan transaksi yang berbentuk komplementer (saling mengisi). Transaksi ini dapat terjadi jika antara stimulus dan respons cocok, tepat dan memang yang diharapkan, sehingga transaksi ini akan berjalan lancer.
Misalnya, pembicaraan antara dua orang yang sama-sama menggunakan ego state dewasa, ego state orangtua, atau ego state anak
ii. Penyebab timbulnya pribadi sehat atau normal 1. Pola asuh layak sebelum kelahiran
Misalnya: ke dua orangtua mengharapkan kehadiran si Upik, ibu yang tenang dan tentram selama kehamilan
134
2. Pola asuh layak semasa kanak-kanak
Misalnya: orangtua memenuhi kebutuhan stroke yang cukup bagi anak
3. Transaksi layak selama perkembangan
Transaksi ego state dewasa yang cukup dikondisikan oleh orangtua dan orang dewasa lainnya dan melatih perkembangan ego state dewasa anak sangat penting, terutama selama dan setelah usia 6 – 12 tahun (Falzett dan Maxwell dalam Corey, 1981)