• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persebaran Naskah-naskah Abdussamad Al-Palembani Naskah-naskah karya Abdussamad sudah tersebar di

Dalam dokumen Kata Komentar | i (Halaman 71-76)

PERSEBARAN, DAN TRANSFORMASI

III. Persebaran Naskah-naskah Abdussamad Al-Palembani Naskah-naskah karya Abdussamad sudah tersebar di

berbagai tempat di wilayah Nusantara dan di luar Nusantara, khusuusnya di hampir seluruh wilayah Sumatera. Terdapat tiga model persebaran dan pemanfaatan naskah karya Abdussamad di wilayah diaspora. Pertama, pengguna cenderung memanfaat-

56 | Moderasi Beragama Dari Hati

kannya sebagai bahan bacaan dalam tarekat dan pengajian. Kedua, pengguna menjadikannya sebagai rujukan ketika menulis, sehingga pengetahuan di dalam ktiab Abdussamad terserap dengan baik ke dalam kitab yang sedang ditulis. Ketiga, pengguna mentranfer knowledge dengan meleburkannya ke dalam tradisi dan budaya tulis lokal.

Pemanfaatan karya Abdussamad Al-Palimbani dengan cara membaca dan mengamalkan isinya ditemukan hampir di seluruh wilayah yang menjadi tempat persebaran ajarannya, yaitu wilayah Jambi, Riau, Padang, Medan, Aceh, dan Betawi. Di provinsi Jambi, misalnya, ditemukan tiga orang guru tarekat Samaniyah yang masing-masing mengajarkan dua buah kitab karya Al- Palimbani yaitu Hidayatus Salikin fi Suluki Maslakil Muttaqin dan Sirrus Salikin ila Ibadah Rabbil Alamin kepada murid-muridnya. Ketiga orang guru tersebut berasal dari daerah yang berbeda-beda, yaitu pertama, guru Abd al-Qadir yang berada di Desa Terusan Kabupaten Batang Hari adalah asli orang Batang Hari, Kedua, Haji Muhammad yang berada di Kota Jambi yang berasal dari Kalimantan. Ketiga, Imam Abd ar-Rahman yang tinggal di perkampungan transmigrasi Spontan Desa Tangkit Kabupaten Muaro Jambi yang berasal dari Sulawesi. (Quzwain 1985) Pada tataran lain, dua buah kitab di atas masih banyak dibaca dalam pengajian-pengajian untuk umum di provinsi Jambi di antaranya adalah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di kota Jambi di bawah bimbingan H. Abdul Latif dan Tarmizi Sibawaihi dan HM Yusuf, dan di Kota Kuala Tungkal di bawah bimbingan Syekh H.

Ali. (Abbas 2014: 45)

Di wilayah Riau, terdapat sejumlah buku panduan yang disusun oleh mursyid atau guru tarekat untuk dijadikan pedoman. Namun di antara buku/kitab para syekh tersebut, terdapat kitab karya Abdussamad al-Palembani. Adapun buku-

57

Karya Abdussamad, Persebaran, dan Transformasi |

buku yang digunakan dalam tarekat yang berkembang di Riau antara lain:

1. Syarhul Hikām, Ibn Atha‟illah digunakan oleh Syekh Tarekat Syattariyah di Pekanbaru.

2. Kasyful Asrār, berbahasa Melayu, merupakan terjemahan dari karya Syekh Muhammad Sholeh Al Minangkabawy.

Kitab ini digunakan oleh Syekh Bahauddin di Muara Nikom.

3. Fatā Aqidah Tauhid, berbahasa Melayu, karya Syekh Imanuddin Yahya, Langkat.

4. Jawami„ul Musannafat, karya Syekh Ismail bin Abdul Muthalib, merupakan himpunan Hidayatul Awam, Farā‟idul Qur‟an, Kasyful Kirām, Takhlīsul Falāh, Syifā‟ul Qulūb, Mawā„idul Badī„ah, Dawā‟ul Qulūb, dan kitab I„lām al Muttaqīn.

5. Hidayatus Salikin, karya Syekh Abdussamad Al Palimbani.

Kitab ini dimiliki oleh beberapa orang Syekh dan Mursyid.

6. Sirrus Salikin kitab berbahasa Melayu karya Abd as Samad Al Palimbani, yang merupakan terjemah dan saduran dari Ihya Ulumuddin juz ke-1 sampai ke-4. Kitab ini dimiliki oleh beberapa orang syekh mursyid.

Kitab dari nomor 3 sampai nomor 6 terdapat di surau suluk Istiqamah Syekh Wan Nurdin, yang merupakan cucu dari Syekh Abdul Wahab Rokan.

7. Ilmu Suluk, Ilmu Rohani, Ilmu Ma‟rifah, buku berbahasa Indonesia, karya Syekh H. Mhd Basir Haity, Mursyid Tarekat.

Buku ini sebagian ditulis dengan huruf Arab Melayu dan lainnya ditulis dengan huruf Latin, dilengkapi dengan gambar-gambar posisi dzikir serta nama-nama dzikir.

8. Ikhtisar Adab-adab Tarikat Sufiyah/Tarikat Naqsyabandiyah karya Syekh Muhammad Ibn Araby Hasibuan. Buku ini dimiliki oleh Syekh H. Muhammad Basir Haity, surau Baitul Amal Pasir Paraian.

58 | Moderasi Beragama Dari Hati

9. Tarikat Naksabandiah Jalan Makrifat Pertama karya Haji Yahya bin Laksamana Al Khalidi Naksyabandi Rumbah.

10. Risalatul Mi‟raj/Mir‟atus Salikin merupakan terjemahan dari kitab ad Dardir, kisah Isra Mi‟rajnya Nabi Muhammad Saw.

Kitab ini dimiliki oleh Syekh H. Safaruddin Surau Desa Kumu.

11. Lisanu Naqsyabandiyah karya Haji Yahya bin Laksamana.

Kitab ini dimiliki oleh Syekh H. Safaruddin Surau Desa Kumu.

12. Thariqah Naqsabandiyah Jalan Ma‟rifah seri 1 sampai 6, kita berbahasa Melayu dengan tulis Arab Jawi karya Haji Yahya bin Laksamana. Kitab ini dimiliki oleh Syekh H. Safaruddin Surau Desa Kumu.

13. Tanwīrul Qulūb karya Syekh Muhammad Amin Al Kurdy.

Kitab ini dimiliki oleh Syekh Buya Alaiddin Athory Al Adairus, Kabun.

14. Menempuh Jalan Ma„rifah, karya Syekh Drs. H. Asyari Nur, SH, MM.

Di antara 14 kitab rujukan tarekat yang sempat tercatat di Provinsi Riau, dua di antaranya adalah karya Abdussamad Al Palimbani, Sirrus Salikin dan Hidayatus as Salikin Salikin. Kedua kitab ini dicetak dan diterbitkan Penerbit Toha Putra di Semarang dan Maktabah as Siqafiyah, Surabaya. Hampir semua Syekh tarekat mengetahui kedua kitab itu, namun tidak semua memiliki dan menjadikannya sebagai rujukan. Di antara Syekh yang memiliki dan membaca kitab tersebut adalah Syekh Buya H.

Alaidin Athory Al Adairusy, Syekh H, Wan Nurdin, Syekh Asyari Nur, dan Syekh H. Mhd. Basir Kaity.

Wilayah Sumatera Utara, penerimaan Tarekat Naqsyabandi dengan tarekat Saman semakin diperkuat dengan diajarkannya Kitab Sirrus Salikin kepada jamaah. Kitab tersebut merupakan

59

Karya Abdussamad, Persebaran, dan Transformasi |

kitab bacaan wajib yang terus menerus diajarkan kepada para jamaah yang terlibat di tarekat. Kitab tersebut dalam beberapa sumber disebutkan merupakan salah satu di antara kitab yang pernah dicetak masa di Kampung Besilam pada saat tarekat ini memiliki percetakan sendiri. (Said 1983) Dalam pengalamannya kitab ini dibaca dua kali seminggu, yaitu malam jumat dan malam minggu. Pilihan pelaksanaan pembacaan dua kali seminggu selain menunjukkan pentingnya kitab ini, juga berkaitan dengan banyaknya pembahasan dari kitab ini yang relevan dengan aktivitas spiritual yang dilakukan dalam tarekat. Pembacaan kitab tersebut dipimpin oleh seorang khalifah, yang telah ditunjuk Tuan Guru untuk melakukan pendampingan kepada seluruh jamaah setelah melaksanakan salat magrib hingga menjelang pelaksanaan salat „Isya.23 Pengajian kitab ini dilakukan di masjid atau Madrasah Besar dalam istilah lokal yang diikuti secara antusias oleh para jamaah yang terlibat dalam proses suluk berlangsung, baik kalangan laki-laki ataupun perempuan. Walaupun demikian pengajian kitab ini juga terbuka untuk umum. Masyarakat dari berbagai kalangan secara aktif terlibat dalam proses pengajian yang dilangsungkan. Kitab Sirrus Salikin terus menerus dibaca dan dipertahankan hingga saat ini. Jika pembacaan selesai, maka akan diulang kembali dari awalnya, begitu seterusnya. Dalam pelaksanaan pembacaannya pemimpin yang membaca kitab tidak hanya membacakan isi teks kitab, tetapi juga melengkapinya dengan penjelasan terkait isi dari kitab tersebut.

Pengajian kitab Sirrus Salikin dilaksanakan dengan model ceramah sambil membacakan isi teks yang terkandung di dalam kitab. Adapun para jamaah hanya sebagai pendengar saja. Tidak ditemukan adanya tanya jawab antara pimpinan pengajian

23Wawancara dengan Zikmal Fuad, Kampung Besilam-Langkat, 22 September 2020.

60 | Moderasi Beragama Dari Hati

dengan jamaah, sehingga pengajian yang dilaksanakan lebih bersifat satu arah saja. Sedangkan para jamaah umumnya juga silih berganti karena memang para jamaah suluk yang datang silih berganti, maka para jamaah yang terlibat di dalam pengajian kitab Sirrus Salikin tidak pernah ada yang sempat mengkhatamkan kitab tersebut. Namun, upaya penguatan pengetahuan berbasis pada kitab Sirrus Salikin merupakan bagian yang dianjurkan untuk dilanjutkan secara mandiri atau berkelompok di tempat masing- masing. Pilihan pengajian model disebut terkait dengan keadaan para jamaah umumnya adalah orang tua yang memang lebih senang mendengar dari pada mencatat atau sejenisnya.

Dalam dokumen Kata Komentar | i (Halaman 71-76)