• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSETUJUAN PENGGUNAAN KAPAL ASING (PPKA)

Dalam dokumen A. LATAR BELAKANG (Halaman 47-54)

BAB 4 ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI

A. PERSETUJUAN PENGGUNAAN KAPAL ASING (PPKA)

Di dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri yang berlaku asas cabotage, terdapat pengecualian terhadap penerapan aturan asas cabotage tersebut. Pengecualian ini dilakukan untuk kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2011 yang ditetapkan sebagai perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan. Di dalam PP No. 22 Tahun 2011 disebutkan bahwa “kapal asing dapat melakukan kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri di wilayah perairan Indonesia sepanjang kapal berbendera Indonesia belum tersedia atau belum cukup tersedia”.

Penggunaan kapal asing untuk kegiatan yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang secara lebih lanjut diatur dalam beberapa Peraturan Menteri Perhubungan. Sejak bulan Mei 2011 hingga saat ini, telah ditetapkan 8 (delapan) Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) yang mengatur hal tersebut. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. Daftar Peraturan Menteri Perhubungan yang Menjadi Dasar

Periode Nomor Permenhub Keterangan

2011 - 2014 PM 48 Tahun 2011 Dicabut

2014 - 2016 PM 10 Tahun 2014 jo. PM 79 Tahun 2014 jo. PM

10 Tahun 2015 jo. PM 200 Tahun 2015 Dicabut 2016 - 2018 PM 100 Tahun 2016 jo. PM 115 Tahun 2017 Dicabut

2018 - sekarang PM 92 Tahun 2018 Masih berlaku

Sumber: JDIH Kementerian Perhubungan

Selama tahun 2018, penggunaan kapal asing untuk kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri terbagi dalam 2 periode, yaitu periode Januari – September 2018 dan periode Oktober – Desember 2018. Aturan penggunaan kapal asing pada 2 (dua) periode tersebut sedikit berbeda karena terdapat pergantian Peraturan Menteri Perhubungan yang menjadi dasar pelaksanaannya.

Pada periode Januari – September 2018, penggunaan kapal asing untuk kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 100 Tahun 2016 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 115 Tahun 2017. Di dalam Peraturan Menteri Perhubungan ini, penggunaan kapal asing dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu:

1. Untuk tipe kapal yang tercantum dalam Lampiran Permenhub No. PM 100 Tahun 2016 sebagaimana telah diubah dengan Permenhub No. PM 115 Tahun 2017, penggunaan kapalnya dilakukan berdasarkan Izin dari Menteri Perhubungan.

2. Untuk tipe kapal yang tidak tercantum dalam Lampiran Permenhub No. PM 100 Tahun 2016 sebagaimana telah diubah dengan Permenhub No. PM 115 Tahun 2017, penggunaan kapalnya dilakukan berdasarkan kebijakan dari Menteri Perhubungan.

Berdasarkan kedua Peraturan Menteri Perhubungan tersebut di atas, tipe kapal asing yang dapat diajukan untuk mendapatkan izin melakukan kegiatan di perairan Indonesia adalah:

1. Jack up rig/jack up barge/self elevating drilling unit; 2. Semi submersible rig;

3. Deepwater drill ship.

Pada periode Oktober – Desember 2018, penggunaan kapal asing untuk kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 92 Tahun 2018. Di dalam Peraturan Menteri Perhubungan ini, penggunaan kapal asing dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan penggunaan kapal asing (PPKA) yang ditetapkan oleh Menteri.

Tipe kapal asing yang dapat diajukan untuk mendapatkan persetujuan penggunaan kapal asing (PPKA) berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 92 Tahun 2018 adalah:

A. Untuk jenis kegiatan pengeboran, tipe kapalnya :

3. Deepwater Drill Ship; 4. Tender Assist Rig.

B. Untuk jenis kegiatan konstruksi lepas pantai, tipe kapalnya :

1. Derrick/Crane, Pipe/Cable Laying/Barge/Vessel/Sub Sea Umbilical Riser Flexible (SURF) dengan Dynamic Position paling sedikit DP1;

2. Anchor Handling Tug Supply Vessel paling sedikit 10.000 BHP;

3. Pilling Barge memiliki hydraulic impact hammer paling sedikit dengan kekuatan 200 ton;

4. Work Barge dengan kapasitas crane paling sedikit 150 ton Safety Working Load (SWL);

5. Diving Support Vessel (DSV) dengan Dynamic Position (DP2/DP3);

6. Semi Submersible Accommodation Barge.

C. Untuk jenis kegiatan survei minyak dan gas bumi, tipe kapalnya :

1. Survei Seismik yang memiliki electromagnetic/broadband triple source; 2. Survei Geofisika;

3. Survei Geoteknik.

D. Untuk jenis kegiatan pengerukan, tipe kapalnya :

1. Cutter Suction Dredger (CSD), dengan cutter head paling sedikit 30 inci;

2. Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) dengan kapasitas bak penampung material keruk (hopper) paling sedikit 3.700 m3;

3. Multicat memiliki crane berkekuatan paling sedikit 100 ton.

E. Untuk jenis kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air, tipe kapalnya : 1. Floating Crane dengan kapasitas crane paling sedikit 300 ton;

2. Survey Salvage/Cable Ship/Barge dengan dynamic position paling sedikit DP1;

3. Diving Support Vessel (DSV) dengan dynamic position paling sedikit DP2.

F. Untuk jenis kegiatan penunjang operasi lepas pantai, tipe kapalnya : 1. Liquid Natural Gas (LNG) Storage;

2. Floating Storage Offloading / Floating Production Storage Unit.

G. Untuk jenis kegiatan power plant (kapal pembangkit listrik), tipe kapalnya : - Power Plant.

H. Untuk jenis kegiatan konstruksi pembangun dermaga, tipe kapalnya : 1. Concrete Deep Mixing (CDM) Barge;

2. Concrete Pipe Mixing (CPM) Pneumatic Pumping Barge; 3. Concrete Pipe Mixing (CPM) Cement Supply Barge; 4. Concrete Pipe Mixing (CPM) Cement Placing Barge; 5. Concrete Pipe Mixing (CPM) Anchor Boat.

Berdasarkan penjelasan di atas, terjadi penambahan jumlah tipe kapal asing yang dapat digunakan di wilayah perairan Indonesia untuk melakukan kegiatan lain selain mengangkut penumpang dan/atau barang pada tahun 2018. Penambahan jumlah tipe kapal asing dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 32. Perkembangan Jumlah Tipe Kapal Asing yang Dapat Digunakan di Wilayah Perairan Indonesia untuk Kegiatan Lain Selain Mengangkut Penumpang dan/atau Barang

Sumber: Permenhub No. PM 100 Tahun 2016 jo. PM 115 Tahun 2017 dan Permenhub No. PM 92 Tahun 2018 Jumlah izin / kebijakan / persetujuan penggunaan kapal asing yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan selama tahun 2018 adalah sebanyak 100. Komposisinya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

3

27

Jumlah Tipe Kapal Asing (Periode Jan - Sept 2018 berdasarkan Permenhub No. PM 110 / 2016 jo. PM 115

/ 2017)

Jumlah Tipe Kapal Asing (Periode Okt - Des 2018 berdasarkan

Permenhub No. PM 92 / 2018)

Gambar 33. Jumlah Izin/Kebijakan/Persetujuan Penggunaan Kapal Asing untuk Kegiatan Lain Selain Mengangkut Penumpang dan/atau Barang Tahun 2018

Sumber: Sub-Direktorat Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Sebanyak 68% atau 68 izin dan kebijakan penggunaan kapal asing yang dikeluarkan selama periode Januari sampai dengan September 2018 oleh Kementerian Perhubungan, dengan jumlah masing-masing 13 izin penggunaan kapal asing dan 55 kebijakan penggunaan kapal asing. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 80 atau 88% penggunaan kapal asing di wilayah perairan Indonesia dilakukan oleh kapal-kapal yang tipe kapalnya tidak tercantum dalam Lampiran Permenhub No. PM 100 Tahun 2016 sebagaimana telah diubah dengan Permenhub No. PM 115 Tahun 2017. Data jumlah izin dan kebijakan penggunaan kapal asing yang dikeluarkan selama periode Januari – September 2018 dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini.

Tabel 5. Jumlah Izin dan Kebijakan Penggunaan Kapal Asing di Wilayah Perairan Indonesia

No. Tipe Kapal Jumlah Izin /

Kebijakan

Jumlah

Kapal Keterangan

1 Jack Up Rig 7 6 Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA)

2 Self Elevating Jack Up Rig 1 1 Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA) 3 Selft Elevating Drilling Unit 4 2 Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA)

4 Semi Submersible Rig 1 1 Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA)

5 Anchor Handling Tug Supply 1 1 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing 6 Cable Laying/Cable Laying

Barge/Cable Laying Vessel 14 7 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

7 Cutter Suction Dredger 3 3 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

8 Floating Storage Offloading 2 2 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

9 LNG Carrier 5 3 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

68%

32% Jumlah izin / kebijakan / persetujuan

(Periode Jan - Sept 2018 berdasarkan Permenhub No. PM 110 / 2016 jo. PM 115 / 2017)

Jumlah izin / kebijakan / persetujuan (Periode Okt - Des 2018 berdasarkan Permenhub No. PM 92 / 2018)

No. Tipe Kapal Jumlah Izin / Kebijakan

Jumlah

Kapal Keterangan

10 Multicat 4 4 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

11 Multipurpose Vessel 1 1 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

12 Power Plant Vessel 9 5 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

13 Spraying Barge 1 1 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

14 Survey Research Vessel 6 4 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing 15 Trailing Suction Hopper

Dredger 9 8 Kebijakan Penggunaan Kapal Asing

Sumber: Sub-Direktorat Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut

Gambar 34. Jumlah Izin dan Kebijakan Penggunaan Kapal Asing di Wilayah Perairan Indonesia Sumber: Sub-Direktorat Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Pada periode Oktober – Desember 2018, penggunaan kapal asing mengacu pada peraturan baru yaitu Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 92 Tahun 2018. Di dalam peraturan ini, terdapat 27 tipe kapal asing yang dapat digunakan di wilayah perairan Indonesia. Selama periode Oktober – Desember 2018, terdapat 32 persetujuan yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan untuk penggunaan 15 tipe kapal. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini.

7 4

1 1

14

9 9

6

5 4

3 2

1 1 1

0 2 4 6 8 10 12 14

JACK UP RIG SELFT ELEVATING DRILLING UNIT SELF ELEVATING JACK UP RIG SEMI SUBMERSIBLE RIG CABLE LAYING/CABLE LAYING BARGE/CABLE LAYING VESSEL POWER PLANT VESSEL TRAILING SUCTION HOPPER DREDGER SURVEY RESEARCH VESSEL LNG CARRIER MULTICAT CUTTER SUCTION DREDGER FLOATING STORAGE OFFLOADING ANCHOR HANDLING TUG SUPPLY MULTIPURPOSE VESSEL SPRAYING BARGE

Tabel 6. Jumlah Persetujuan Penggunaan Kapal Asing (PPKA)

No. Tipe Kapal Jumlah

Persetujuan Jumlah Kapal

1 Anchor Boat 1 1

2 Anchor Handling Tug Supply 3 3

3 Cable Laying Vessel 3 2

4 Cement Pipe Mixing 2 2

5 Deep Cement Mixing 3 2

6 Dp3 Ice Class Special Service Vessel/Diving Support 1 1

7 Self Elevating Jack Up Rig Drilling Unit 6 6

8 LNG Carrier 2 2

9 Offshore Geotechnical Vessel 1 1

10 Pipe Laying Barge 3 3

11 Plant Barge 1 1

12 Power Plant 1 1

13 Semi Submersible Drilling Rig 1 1

14 Survey Research Vessel 2 2

15 Trailing Suction Hopper Dredger 2 2

Sumber: Sub-Direktorat Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut

Gambar 35. Jumlah Persetujuan Penggunaan Kapal Asing (PPKA)

Sumber: Sub-Direktorat Angkutan Laut Khusus dan Usaha Jasa Terkait, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut 6 3

3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1

0 2 4 6

SELF ELEVATING JACK UP RIG DRILLING UNIT ANCHOR HANDLING TUG SUPPLY CABLE LAYING VESSEL DEEP CEMENT MIXING PIPE LAYING BARGE CEMENT PIPE MIXING

LNG CARRIER SURVEY RESEARCH VESSEL TRAILING SUCTION HOPPER DREDGER

ANCHOR BOAT DP3 ICE CLASS SPECIAL SERVICE VESSEL/DIVING SUPPORT

OFFSHORE GEOTECHNICAL VESSEL PLANT BARGE POWER PLANT SEMI SUBMERSIBLE DRILLING RIG

Persetujuan penggunaan kapal asing menjadi salah satu komponen dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Berikut merupakan jumlah PNBP pada tahun 2017 – 2018. Jumlah penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari penerbitan PPKA pada tahun 2018 sebesar Rp 525 juta. Nilai tersebut meningkat sebesar 36,4% dari tahun 2017 (Rp 385 juta).

Gambar 36. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penerbitan PPKA Tahun 2017-2018 (Rupiah)

Sumber: Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut

Dalam dokumen A. LATAR BELAKANG (Halaman 47-54)