E. Persoalan LHK Riau
Di antaranya, daerah XIII Koto Kampar, jalur Taluk Kuantan- Perbatasan Sumbar,. Kemudian jalur Rengat -Tembilahan, jalan lintas perbatasan Riau-Jambi.
2. Karhutla
Jikalahari juga mengumpulkan informasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi disepanjang 2022 melalui media cetak Riau Pos dan Tribune Pekanbaru. Total sepanjang 2022 ada 43 berita terkait karhutla yang dikabarkan.
Sejak Januari hingga Maret 2022, karhutla mencapai 168,66 hektare yang tersebar di 11 kota/kabupaten di Provinsi Riau. Diantaranya Kabupaten Rokan Hulu 3 ha, Rokan Hilir 3 ha, Dumai 5,1 ha, Bengkalis 74,2 ha, Kepulauan Meranti 6 ha, Pelalawan 22,7 ha, Siak 4,28 ha, Indragiri Hulu 6,75 ha, Indragiri Hilir 32,5 ha, Pekanbaru 3,13 ha, dan Kampar 8 ha.
Berdasarkarkan hal tersebut, Pemprov Riau mengkhawatirkan karhutla akan semakin meluas, maka pada 21 Maret 2022, Gubernur Riau
menetapkan status siaga karhutla lewat Surat Keputusan Nomor 653/III/2022. Hal tersebut di sampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal.
Kepala BPBD Riau menyebutkan kendala yang kerap dihadapi tim Satgas dalam upaya pemadaman api akibat kondisi alam dan track menuju titik api yang sulit di jangkau serta cuaca angin kencang hingga minimnya sumber air. Namun, tim satgas mengatakan, saat beroperasi di lapangan ada kemajuan karena kesadaran masayarakat dalam mencegah karhutla sudah semakin baik.
Himbauan secara masif juga dilakukan tim satgas kepada masyarakat terkait pencegahan karhutla yang salah satu upayanya mengingatkan masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan pembukaan lahan dengan cara bakar yang dapat memicu karhutla. Pada 30 November 2022, status siaga karhutla dicabut sebab Riau telah memasuki musim penghuja.
Total lahan yang terbakar sejak setahun terakhir selama 2022 mencapai sekitar 1.245,97 ha di 12 kabupaten/kota se-Provinsi Riau. Paling luas terbakar berada di Kabupaten Rohul dengan luas 336 ha dan di Rohil dengan luas 202,5 ha.
di Bengkalis dan 114,20 ha di Pelalawan, seluas 85,50 ha terbakar di Inhil, 79,25 ha terbakar di Inhu. Kemudian, seluas 52,45 ha terbakar di Dumai, Kepulauan Meranti seluas 32,35 ha, Siak 18,56 ha, 19,38 ha di Pekanbaru dan di Kuansing 0,50 ha.
Dimana luas terbakar pada tahun 2022, 1.245,97 ha mengalami penurunan di bandingkan yang terjadi pada 2021. Berdasarkan data yang di himpun BPBD Riau, kebakaran pada 2021 seluas 1.400,08 ha.
Artinya terdapat penurunan seluas 149.11 ha.
3. Illog
Ilegal logging atau pembalakan liar terus terjadi di Riau, terlebih di kawasan hutan lindung dan konservasi. Berbagai operasi pengamanan dan penegakan hukum juga kerap dilakukan. Namun tak juga
menghentikan langkah dan perbuatan mereka untuk merusak alam dan lingkungan.
Jikalahari melakukan pemantauan dan merangkum berita terkait ilegal logging melalui media cetak Riau Pos dan Tribune Pekanbaru maupun media online yang ada di Riau sepanjang 2022.
Pada Maret 2022, pembalakan liar merajalela di kawasan hutan lindung yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi yang menghabiskan hutan seluas 45 ha, seluas 12 ha yang hanya bisa di selamatkan. Hal tersebut di katakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, Makmun Murod.
Para pembalak liar merambah hutan lindung dengan menggunakan alat berat yang ada di Kuantan Singingi. Jajaran penegak hukum membuat tim terpadu, dalam aktifitasnya, telah melakukan penangkapan dan melakukan penyitaan seluruh kayu, serta
mengamankan kilang-kilang illegal, dua alat berat jenis ekskavator dan bulldozer.
Pembalakan liar juga terjadi pada Agustus 2022 di wilayah Siak Kecil, Bengkalis, daerah Pulau Padang, dan juga di pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, daerah tersebut merupakan daerah pesisir di Riau.
Hasil pembalakan liar di kirim di sejumlah daerah di Riau dan di pulau Bengkalis, terdapat 4 gerobak angkutan kayu melintas di jalan lintas
Pada Oktober 2022, patroli tim gabungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Polda Riau, Korem 031/Wira Bima, dan Batalyon Arhanudse 13 Pekanbaru menemukan kawasan hutan Suakamargasatwa (SM) Giam Siak Kecil sudah digundul dengan alat berat.
Dua orang pelaku perambahan hutan berinisial PS dan SUP di tangkap dalam operasi tersebut, selain itu tim patroli gabungan juga menyita satu unit eskavator yang di gunakan untuk merambah hutan.
Sementara pemodal perambah hutan itu belum berhasil ditangkap.
Kasus lain, perambahan hutan di Taman Nasional (TN) Tesso Nilo secara masif, kegiatan operasi gabungan pengamanan hutan TN Tesso Nilo oleh Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Balai TNTN dan Korwas PPNS Polda Riau pada 31 Maret 2022, berhasil menangkap dan
mengamankan 4 (empat) orang pelaku perambah hutan, beserta 1 unit eksavator di kawasan TNTN, Para pelaku telah mendapat vonis berupa hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan dan denda 500 juta subsider 3 bulan penjara.
Pada 14 November 2022, tim gabungan tersebut juga berhasil menangkap salah satu pemodal perambah Kawasan Hutan TNTN dengan inisial S (40), di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
“upaya ini merupakan bagian dari pengamanan dan pemulihan kawasan konservasi yang merupakan komitmen KLHK. Dalam
beberapa tahun ini, Gakkum LHK telah membawa 1.334 perkara pidana dan perdata ke pengadilan baik terkait pelaku kejahatan korporasi maupun perorangan. KLHK juga telah menerbitkan 2.549 sanksi administratif dan melakukan 1.884 operasi pencegahan dan pengamanan hutan, 720 diantaranya operasi pemulihan keamanan kawasan hutan,” ungkap Dirjen LHK RI, Rasio Ridho Sani.
Tersangka S (40) dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) huruf c Undang- Undang Nomor 18 tahun 2013, tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Perusakan Hutan sebagaimana telah diubah dengan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja jo.
Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP jo. Pasal 94 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15
4. Konflik (satwa dan sosial)
Konflik satwa dengan manusia kerap terjadi di Riau, catatan Direktorat Jenderal Penegkan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia yang di muat dalam media online antaranews.com telah terjadi kasus konflik satwa dan manusia sebanyak 55 kasus sepanjang Januari – Agustus 2022 di Provinsi Riau.
Sebelumnya konflik juga terjadi sejak 2018 yang mengakibatkan 9 orang meninggal dunia. Konflik satwa dan manusia serta perburuan satwa liar akan mengancam potensi keanekaragaman hayati di Riau khususnya satwa yang hidup di landscape Provinsi Riau, seperti Harimau dan Gajah.
Sepanjang 2022, Jikalahari merangkum berita dari media cetak maupun media online terkait konflik satwa dan sosial yang ada di Riau.
Pada 6 Februari 2022, seorang pekerja penebang pohon akasia milik PT Satria Perkasa Agung di Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau di temukan tak bernyawa, ia tewas mengenaskan di dalam hutan dan diduga dimangsa Harimau Sumatera.
Korban bernama Tugiat (42), ditemukan dengan kondisi tidak utuh dan mengenaskan, kaki terluka hingga menyisakan tulangnya saja, bahkan bagian wajah sudah tidak Nampak lagi.
Beberapa bulan kemudian kasus konflik satwa kembali terjadi yang menimpa Indra yang merupakan seorang pemburu, warga Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, tewas mengenaskan di dalam hutan pada 6 April 2022.
Korban ditemukan sudah dalam kondisi tak bernyawa dengan kepala dan badan sudah terpisah, di bahu juga ditemukan bekas cakaran dan di sekitaran lokasi korban juga terdapat jejak harimau.
Selain itu seorang karyawan berjenis kelamin Wanita yang bekerja di perusahaan hutan tanaman industry (HTI), PT Peranap Timber di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan juga di temukan tewas diterkam dan di seret oleh harimau pada 19 Agustus 2022.
konsesi HTI saat sedang duduk di pinggir kanal depan barak perusahaan.
Kejadian sama juga dialami oleh Adi Saputra (37) yang merupakan pekerja kontraktor PT Arara Abadi di Distrik Merawang, Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalwan.
Korban sempat melakukan perlawanan dengan harimau di dalam camp. Serangan harimau tersebut membuat kepala korban tercakar dan robek sehingga mendapatkan 20 jahitan.
Menurut Sustyo Iriyono, Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan KLHK, konflik satwa terjadi karena habitat yang telah terdegradasi dan terfragmentasi akibat perusakan kawasan hutan dan konversi hutan sehingga mengakibatkan ruang hidup manusia dan satwa saling tumpeng tindih.
Ia juga menjelaskan, pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan apabila memiliki ijin pemerintah dan pemegang perizinan harus menaati aturan yang telah ditetapkan seperti mengalokasikan penyediaan areal Nilai Konservasi Tinggi (NKT)/High Conservation Value (HCV) untuk koridor satwa.
5. Pencemaran Lingkungan
Sepanjang 2022, Jikalahari merangkum berita dari media cetak ataupun media online terkait pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan masih sering terjadi di Provinsi Riau, baik itu dari limbah rumah tangga maupun limbah perusahaan.
Seperti di masyarakat yang berada di Desa Sering, Kabupaten Pelalawan yang resah melihat Sungai Suak Tigo, Parit Limbah yang tercemar akibat pembuangan limbah PT RAPP. Akibatnya ikan banyak ikan mengapung dan membusuk di sungai.
Hal sama terjadi di Desa Kiyab Jaya, Kecamatan Bandar Sekijang.
Pencemaran Sungai Kiyab oleh limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) PT Sri Indrapura Sawit Lestari.
Pencemaran sungai yang ditengarai karena janjang-jangjang sawit kosong yang terdapat di sekitaran sungai mengakibatkan ikan-ikan
Sebelumnya juga Bupati Pelalawan, H Zukri Misran turun langsung ke lapangan melihat langsung kondisi sungai Kiyab di Kecamatan Bandar Sikijang diduga tercemari oleh limbah pabrik PT SISL.
Pencemaran lain terjadi di Kota Dumai, saluran drainase kota tercemar oleh limbah PT Nagamas Palmoil Lestari (NPL). Tim DLH Kota Dumai telah turun dan mengambil sampel pada 11 Agustus 2022.
Pencemaran lingkungan di ketahui karena limbah domestik hasil perbaikan steam coil tangki atau pembersihan tangki CPO merembes ke saluran drainase. Berdasarakan hal tersebut, PT NPL Dumai terancam tindak pidana pencemaran lingkungan.
IV.
Upaya Jikalahari dalam Memerangi Kejahatan LHK
epanjang 2022, Jikalahari melakukan berbagai upaya untuk memerangi kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan yang terjadi di Riau. Mulai dari mempublikasikan rilis-rilis yang berkaitan dengan isu LHK serta
memberikan kritik maupun saran terhadap kebijakan terbaru hingga melakukan pemantauan langsung di lapangan untuk melihat kondisi eksisting hutan di Riau serta pelanggaran yang terjadi.
Jikalahari jugha melakukan pendampingan kepada masyarakat yang sedang berkonflik dengan korporasi dan berjuang memperoleh ruang kelolanya, mendampingi masyarakat Menyusun usulan perhutanan sosial, melakukan penanaman mangrove serta melakukan kajian terkait perhutanan sosial dan mangrove di Riau.
Upaya-upaya diskusi terkait kebijakan juga dilakukan Jikalahari bersama KLHK dan BRGM dengan membahas temuan-temuan di lapangan dikaitkan dengan kebijakan pemerintah serta hasil dari kajian yang dilakukan Jikalahari. Untuk selengkapnya, berikut upaya yang Jikalahari lakukan: